MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN IPA

ABSTRAKPendekatan Kontekstual dapat menciptakan kondisi yang merangsang siswa untuk melakukan berbagai aktivitas belajar. Dengan Pendekatan kontekstual siswabelajar dari sesama teman. Dengan demikian mereka lebih leluasa untuk bertanya, menjawa pertanyaan teman atau guru, mengemukaan pendapat atau menaggapi pendapat teman. Kondisi ini tentu akan membantu mereka memahami materi yang dipelajarinya. Hal lain yang timbul pada diri siswa yang belajar dengan tehnik kontekstual adalah adanya motivasi mereka untuk berusaha memahami materi yang dibahas, hal ini disebabkan pada setiap kegiatan pembelajaran diadakan evaluasi secara individual, disamping adanya penghargaan kepada kelompok. Jadi disamping ada persaingan individual juga ada persaingan kelompok. Keberhasilan pendekatan kontekstual ini tentu tidak lepas dari peranan guru. Guru dituntut untuk menyiapkan materi pelajaran secara tertulis untuk dibahas dalam kelompok. Disamping itu menuntut aktivitas guru untuk memeriksa hasil evaluasi pada setiap pertemuan. Hal ini tentu akan menyulitkan apabila siswa dalam jumlah besar. Namun kondisi ini dapat diatasi dengan menyampaikan hasil evaluasi akan dilakukan pada pertemuan berikutnya. Dengan cara ini maka guru akan mempunyai waktu cukup untuk mengoreksi hasil evaluasi yang telah dilaksanakan.

MANAJEMEN PROGRAM PAKET B SEBAGAI PROGRAM PAUDNI PADA SANGGAR KEGIATAN BELAJAR DI KOTA GORONTALO

Dr. Abdul Rahmat, M.PdDosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontaloemail: infoabdulrahmat@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang manajemen penyelenggaraan Program Paket B sebagai program PAUDNI di SKB Kota Gorontalo.

Desain dari penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologis dan rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui (1) wawancaran mendalam, (2) observasi partisipatif dan (3) studi dokumentasi.

Penelitian ini menghasilkan temuan-temuan sebagai berikut: 1) Manajemen Tahap Identifikasi Kebutuhan. Tahap ini dilaksanakan dengan melakukan pendataan. Hasil yang didapatkan kemudian diverifikasi untuk kemudian ditetapkan sebagai sasaran utama program pendidikan kesetaraan. 2) Tahap Perencanaan. Pada tahap ini data yang telah didapatkan, diolah untuk kemudian dijadikan rekomendasi untuk pengembangan bahan belajar atau kebutuhan lainnya. 3) Tahap Pengorganisasian. Penyelenggara melaksanakan inventarisasi berbagai kebutuhan yang diperlukan. 4) Tahap Implementasi. Penyelenggara menjalin kerjasama dengan berbagai pihak, seperti tutor dan instansi yang terkait. 5) Tahap Pengendalian. Tahap pengendalian ini adalah sebagai salah satu cara untuk menjaga kualitas lulusan. 6) Tahap Evaluasi. Pada tahap ini dilaksanakan penilaian dengan melihat kondisi tutor, seperti jumlah kehadiran, peran dalam mengembangkan proses pembelajaran yang lebih bermakna dan produk inovatif yang dilaksanakan berdasarkan kebutuhan belajar.

Saran adanya tahap tindak lanjut. Tahap tindak lanjut dilaksanakan dengan menjalin kerjasama. Baik dengan instansi pendidikan maupun dengan instansi pemerintah/swasta lainnya.

Kata kunci: program, kualitas, dan pembelajaran non formal

Posted in Jurnal | 9 Comment

PENGEMBANGAN STRUCTURE EXERCISE METHODE (SEM) DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SAINS PADA SISWA DI SEKOLAH DASAR

IRVIN NOVITA ARIFIN DAN ABDUL RAHMAT(Dosen di Universitas Negeri Gorontalo)

ABSTRAKPengembangan structure exercise methode (sem) dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sains pada siswa di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas V SDN 80 Kota Tengah pada pokok bahasan gaya dan meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 80 Kota Tengah pada pokok bahasan Gaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dalam pelaksanaannya dilakukan dalam 2 siklus dengan proses kajian berdaur ulang yang terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hasil yang didapat dalam penelitian ini adalah ditunjukkan dengan aktivitas belajar peserta didik yang pada siklus I hanya 61,25% meningkat menjadi 80,63% pada siklus II. Sedangkan jumlah peserta didik yang mengalami ketuntasan belajar pada siklus I sebanyak 11 orang dan pada siklus II meningkat sebanyak 29 orang dan ketuntasan belajar secara klasikal pada siklus II mencapai 100% pada siklus II, padahal pada siklus I 37,93%. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Structure Exercise Method (SEM) merupakan salah satu alternatif metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar sains peserta didik.

PENGARUH PRILAKU KEPEMIMPINAN TUTOR BK DAN IKLIM BELAJAR TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER PESERTA DIDIK DI SKB LIMBOTO GORONTALO

ABSTRACT

This study aimed to determine the effect of behavioral counseling teacher leadership and school climate on student character development in the SKB Limboto Gorontalo.

The results showed: 1) In accordance with the statistical hypothesis that the relationship between leadership behavior with Character Development using product moment correlation technique ry.1 correlation coefficient = 0.892> rtabel (rtabel = 0.113 at α = 0.05 and 0.148 at α = rtabel = 0,01). Thus H0 is rejected and H1 is accepted, it means that there is a significant positive relationship between Leadership Behaviors (X1) and Character Development (Y). 2) In accordance with the statistical hypothesis that the relationship between the School Climate Character Development using product moment correlation technique ry.2 correlation coefficient = 0.656> rtabel (rtabel = 0.113 at α = 0.05 and rtabel = 0.148 at α = 0.01 ). Thus H0 is rejected and H1 is accepted, it means that there is a significant positive relationship between school climate (X2) and Character Development (Y). 3) In accordance with the statistical hypothesis that the relationship between Leadership Behaviors (X1) and School Climate (X2) together with the Character Development (Y) using the product moment correlation technique ry.2 correlation coefficient = 0.894> rtabel (rtabel = 0.113 at α = 0.05 and rtabel = 0.148 at α = 0,01). Thus H0 is rejected and H1 is accepted, it means that there is a significant positive relationship between Leadership Behaviors (X1) and School Climate (X2) together with the Character Development (Y). Contribution of leadership behavior (X1) and School Climate (X2) together with the Character Development (Y) is calculated based on the coefficient of determination r2 = (ry.1.2) 2 = 0.933. Means leadership behavior variables (X1) and School Climate (X2) form a contribution of 93.33% to the Character Development (Y).

Keywords: climate, leadership and character

Posted in Jurnal | 2 Comment