Monthly Archives: April 2019


Dari Mana Asal Aroma "Khas" Saat Hujan

Musim penghujan masih kerap turun dipertengahan april ini, sekalipun instensitasnya mulai menurun, jika dibandingkan puncaknya pada bulan februari lalu. Saat ini musim sulit diprediksi, BMKG sebelumnya memperediksi akhir musim penghujan di akhir februari. Namun sampai bulan keempat ditahun ini masih tetap saja hujan.

Gambar Panorama hujan di copy dari sini

BMKG menjelaskan hal ini merupakan fenomena global, yang diakibatkan oleh peristiwa El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang bersumber dari wilayah Ekuator Pasifik Tengah. Bacaan mengenai fenomena keanehan musim ini kerap juga saya temukan di Koran kompas, dimana faktor inkonsistensi musim ini lebih disebakan karena rusaknya ekosistem lingkungan kita. Sehingga berimplikasi pada peningkatan suhu bumi.

Kembali ketopik tulisan ini. Terkadang yang membuat kita rindu dengan musim hujan, selain karena suara gemerciknya yang meneduhkan, namun juga karena aroma khas yang ditimbulkan ketika hujan mulai turun membasahi tanah.

Dari mana sebenarnya aroma khas itu muncul?,

Apakah benar air hujan mengeluarkan aroma khas seperti itu?

Saya menemukan sebuah poster menarik yang saya peroleh dari laman compoundchem.com. Poster tersebut memberikan pemapran ilmiah mengenai penyebab timbulnya aroma hujan. Aroma hujan atau yang lebih dikenal dengan "Petrichor" diduga disebabkan oleh 3 faktor ini:

Faktor pertama yang paling sering dihubungkan dengan aroma hujan adalah bakteri. Melimpahnya bakteri Actinomycetes yang ditemukan ditanah, erat kaitannya dengan aroma khas tersebut. Actinomycetes menghasilkan produk metabolit berupa senyawa aromatis yaitu Geosmin. Ketika senyawa Geosmin ini dihidrolis oleh air hujan menyebabkan senyawa tersebut menguap dan menimbulkan aroma khas hujan. Geomsin juga yang diyakini berkontribusi terhadap aroma tanah pada beberpa jenis ikan air tawar, seperti ikan nila dan mujair.

A. Struktur Geomisin. B. Bacteri Actinomycetes. C. Akar tanaman yang menjadi Habitat Actinomycetes.

Faktor kedua yaitu Feromon. Feromon merupakan senyawa khas yang dihasilkan oleh tumbuh-tumbuhan berguna sebagai pertahanan diri. Senyawa ini terdiri dari dua jenis fatty acid saturated (asam lemak jenuh) yakni palmitic acid (asam palmitat) dan stearic acid (Asam stearat). Kedua jenis ama lemak ini masuk dalam daftar keluarga metabolit terpena (Isoprene). Feromon ini diyakini mengeuarkan aroma khas hujan ketika bereaksi dg air hujan.

Struktur Palmitic Acid dan Stearic Acid

Fakor ketiga adalah efek elekrolisis molekul O2 yg diakibatkn listrik (petir) yang menyebabkan terjadinyanya disosiasi molekul O2 mnjadi atom (Oxide). Saat di atmosfer atom ini kembali berikatan dg mol O2 untuk membentuk model allotropinya yakni O3 (Ozon). Proses Ollotropi ini yang diyakini menimbulkan efek aroma khas dari hujan.

Ketiga faktor inilah yang diyakini sebagai asbab aroma khas  yang selama ini kita hirup ketika hujan. Aroma khas tersebut yang menjadi aroma terapi penghilang penat, yang selalu dirindukan kehadirannya terutama saat musim kemarau.

Benarkah Minum Teh dapat Menurunkan Berat Badan

Hidup dengan berat badan berlebih itu memang sangat merisaukan. Sulit untuk bergerak dan beraktivitas. Itulah yang saya alami selama kurang lebih satu dua tahun terakhir ini. Kelebihan berat badan ini saya peroleh pasca saya menikah. (Kadang ke kerabat saya beralasan ‘maklum sudah ada yang masakkan”)

Lambat laun kerisauan ini semakin jenuh, hingga akhirnya saya memutuskan untuk bisa megembalikan berat badan ideal saya yang dulu di rentan 53- 55 Kg (saat ini masih 72 Kg). Dalam tuilisan sederhana ini, sebenarnya saya tidak akan fokus bagaimana proses saya melakukan penurunan berat badan, namun saya akan fokus pada judul dari tulisan ini. 

Benarkah teh dapat menurunkan berat badan?

Kenapa saya fokus pada teh (Camellia sinensis. L), karena dari sekian banyak iklan produk penurun berat badan, yang cukup sering saya temukan iklannya adalah teh. Jenis teh yang dipromosikan didominasi  teh hijau (bukan berarti teh hitam tidak memilki khasiat). Sebenarnya bagaimana cara teh ini bekerja sehingga dapat menurunkan berat badan. Hingga akhirnya saya menemukan artikel yang berjudul “The effects of green tea on weight loss and weight maintenance”. Artikel ini dipublikasikan di Nature. Bisa didownload disini.

Saya memilih artikel ini karena artikel ini mereview 15 journal yang mengkaji tentang efek teh terhadap obesitas. Yang menarik dari kelimabelas journal yang direview  adalah penelitian dengan latar belakang yang menghubungkan efek konsumsi teh dari beragam ras yang ada. Dalam review tersebut dijelaskan bahwa diduga senyawa aktif yang berperan dalam menurunkan berat badan adalah senyawa fenolik golongan flavonoid diantaranya Catechin dan Epigallocatechin Gallate (EGCG). Studi ini melihat pola konsumsi teh dari ras Asian dan ras kaukasia (kulit putih) terhadap efek penurunan berat badan. Berikut beberapa senyawa yang terkandung di dalam teh hijau :

Dari hasil review, memperlihatkan penelitian yang dilakukan pad ras Asian cenderung mengkonsumsi teh dengan konsentrasi caffeine dibawah 300 mg/hari. Berbeda dengan ras kaukasia, yang cendrung caffein holic, mereka cenderung mengkonsumsi teh dengan kadar caffeine diatas 300 mg/hari. Hal ini terkonfirmasi dari tabel di bawah ini.

 

Dari hasil studi tersebut memperlihatkan penelitian yang dilakukan pada ras Asian dan kaukasia masing-masing memperlihatkan ada potensi penurunan berat badan. Dari 11 penelitian kelompok etnis Asian, ada 8 kelompok yang mengkonfirmasi penurunan berat badan. Yang menarik Justru pada kelompok Kaukasia, dari 4 penelitian kelompok Kaukasia, memperlihatkan hanya satu kelompok yang memiliki penurunan berat badan signifikan, mengapa hal ini bisa terjadi?

Pendekatan teoritis yang bisa dilakukan adalah, dari ketiga kelompok ras kaukasia, sebagian besar mengkonsumsi caffeine dengan jumlah berlebih (diatas 300mg/hari). Hal ini memperlihatkan adanya potensi resistensi terhadap caffeine. Karena sudah seringnya kelompok tersebut mengkonsumsi caffeine dalam jumlah berlebih, sehingga sensitifitas terhadap enzim phosporilase menjadi berkurang. Hal ini terkonfirmasi dengan salah satu kelompok kaukasia yang mengkonsumsi caffeine dibawah 300mg/hari, justru memberikan efek penurunan berat badan. Selain dari pada itu, Efek terhadap pemberian katekin (teh) maupun Placebo sama-sama memberikan efek penurunan berat badan. Hal ini belum bisa dijelaskan lebih jauh.

Bagaimana mekanisme senyawa aktif yang terkandung di dalam teh, sehingga dapat menurunkan berat badan?

Kuat dugaan salah satu senyawa yang terkandung dalam teh, yakni katekin menghambat kerja dari catekol metil tranferase (COMT) yang berperan dalam proses penguraian (metabolisme) Norefinerin. Bahasa sederhanya, saat norefinefrin ini tidak diurai menjadi bentuk metilnya, maka akan menstimulasi kita untuk terus aktif beraktifitas. Seperti dijelaskan dalam gambar dibawah ini.

Selain itu pula Cafeein yang diduga berkompetisi dengan ligand yang mengaktivasi enzim Phosporilase, Hal ini akan mengakibatkan respon berupa sinyal untuk meregulasi cadangan makanan yang ada di dalam tubuh berupa Glikogen. Glikogen ini merupakan gugusan rantai panjang (polimer) gula yang akan diubah menjadi bentuk monomernya berupa satu gugus gula. Bisa dilihat melalui gambar dibawah ini :

Respon dilisisnya poliemer gula tadi akan bermuara pada proses pemecahan gula menjadi asetil KOA yang terlebih dahulu menjadi piruvat (akan lebih mudah dipahami jika melalui pendekatan struktrur kimia), sehingga produk dari penguraian tersebetut, menghasilkan energi yang dikonfirmasi dalam bentuk ATP (Adenosine Triphosphate). Proses ini familiar dengan sebutan Krebs Cycle (Siklus Krebs). Untuk memperdalam pemahaman, bisa di lihat pada gambar dibawah ini:

Jadi dari uraian diatas, ada baiknya bagi yang sedang melakukan program diet, sebaiknya lebih mengontrol kuantitas dari jumlah caffeine yang kita konsumsi (baik bagi penikmat teh maupun penikmat kopi). Kasus inipun berlaku bagi mereka yang senang mengkonsumsi teh maupun kopi meskipun tidak terpapar obesitas. Karena ada potensi sensitifitas terhadap enzim phosporilase berkurang, sehingga caffeine tidak memberikan efek untuk memotong rantai gula dari cadangan makannya. Jika hal ini terjadi maka penumpukan-penumpukan cadangan makanan kita akan terus berlangsung, dan berakibat pada obesitas.

Jadi konklusinya, jika melihat peranan dari senyawa aktif yang terkandung didalam teh, muaranya adalah proses glikolis. Melalui proses sederhana inilah hingga akhirnya menstimulasi kita untuk terus beraktifitas, sehingga, produk cadangan makanan kita berupa glikogen (Glikolipid) ini akan dibakar menjadi energi. Sehingga kita akan mengalami penurunan cadangan makanan, sehingga pada akhirnya kita mendapat predikat KURUS.

Posted in Uncategorize | Leave a comment

Berbagi Pengalaman Membangun Website Jurnal OJS Version 2

Selama dua bulan terakhir ini hampir separuh waktu saya habis di depan komputer, baik  saat berada di lab kimia farmasi UNG maupun di rumah. Hal ini terjadi setelah mendapat amanah untuk membuat jurnal prodi, baik yang versi E-tronic maupun cetak. Amanah ini menjadi  pengalaman pertama dan tantangan tersendiri buat saya.

Bulan september 2018, UNG mengadakan pelatihan pengelolaan OJS, namun sayangnya waktu itu tidak ada perwakilan farmasi yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Alhasil Kita memulai membangun website ini mulai dari nol. Disisi lain hampir semua prodi di UNG sudah punya journal online.

Saya memulai dengan mencoba untuk bersilaturahmi berkeliling keteman-teman sejawat yang sempat mengikuti acara tersebut. Alhmamdulillah dari silaturahmi tersebut  bisa sedikit memberikan gambaran mengenai pengelolaan OJS itu sendiri.

Setalah Sekian lama menyurat ke pustikom, akhirnya website jurnal versi OJS milik farmasi bisa selesai dibuatkan. Namun bukan berarti masalah lantas sudah selesai. Website yang diberikan saat itu masih mentah dan memang semua menu serta tampilan website masih standar versi ojs.

Langkah selanjutnya yang saya lakukan adalah mencari video tutorial tentang pengeolalaan OJS melalui internet. Dan saya banyak terbantukan dengan menonton video ini.

Setalah mengikuti video tutorial tersebut, selanjutnya saya memulai membangun rumah OJS tersebut. Berikut gambaran step by step secara umum yang bisa saya rincikan:

  1. Menpelajari setiap menu yang terdapat didalam website tersebut.
  2. Mengolah tampilan website, mulai dari mendesain header, cover jurnal, serta template jurnal (Saran: minimal punya pengetahuan mendesain dengan aplikasi Corel Draw akan sangat terbantukan).
  3. Ikut di forum OJS salah satunya di Relawan Journal Indonesia. (Bisa registrasi melalui link ini)

Alhamdulillah saat ini website ejournal farmasi sudah mulai perlahan-lahan berjalan, walaupun memang tidak bisa dipungkiri masih banyak kekurangannya. Bagi yang berminat silahkan berkunjung kesini

Tampilan terakhir Website Ejournal Farmasi UNG, JOURNAL JSSCR

Perkembangan saat ini masih dalam proses pengurusan ISSN di LIPI. Goal kedepan ini minimal journal ini bisa terakreditasi nasional, serta pengelolaan yang lebih professional. Tentunya dengan mengutamakan asas kebermanfaatan dari konten jornal tersebut, agar kiranya bisa menjadi buletin yang memberikan sumber infromasi riset dan perkembangan tekhnologi di bidang farmasi dan menjadi sumber rujukan penelitian.