Categories: Klimatologi


Ruang Terbuka Hijau Dan Aplikasi Konsep Blue-Green Network

ABSTRACT

Gorontalo city is located at latitude zero with a height of 0-500 meters above sea level, has a temperature between 23.2 °C - 33 °C and humidity between 61.6% - 93.8% when the city established the comfort index is included in the category of Gorontalo city is less comfortable. THI calculated for 5 years showed that the city of Gorontalo located on the index is quite comfortable. In 2007 and 2008, THI values reached 25.7 and 25.6 °C while in 2009, 2010, and 2011 the value of THI reaches 26.0, 26.2 and 26.0. These results illustrate that in the city of Gorontalo land cover changes with an increase in temperature from year to year but for the comfort index is still in the same range that is quite comfortable. Although the vast green space reaches 60% and 50% Gorontalo City is still in the fairly comfortable index. In its entirety with the addition of wide open green space in the city of Gorontalo to the 80% figure Gorontalo city remains on the index is quite comfortable. It is highly influenced by the Characteristics of the climate, location latitude and longitude. Blue-green network applications can impact the climatological conditions in the city of Gorontalo. Surface energy balance in an environment that implements the blue-green network in contrast to the surrounding area due to differences in land cover and surface characteristics describe the ecology or the environment can alter the structure of vertical and horizontal wind in several ways is changing the style and the pressure that causes the wind.

Key words: Green open space, Blue-green network, management of water resources, temperature

 

PENDAHULUAN

Provinsi Gorontalo merupakan salah satu provinsi pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara yang terletak di bagian utara pulau Sulawesi. Provinsi Gorontalo dideklarasikan pada tanggal 23 Januari tahun 2000. Saat ini, Provinsi Gorontalo berusia 12 tahun memiliki 5 Kabupaten dan 1 Kota. Pusat pemerintahan dan ibu kota Provinsi Gorontalo terletak di Kota Gorontalo. Sebagai ibukota Provinsi Gorontalo, Kota Gorontalo menjadi pusat aktifitas perekonomian bagi masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo (2011) jumlah penduduk kota gorontalo sebesar 119.745 jiwa tahun 1999, pada tahun 2000 jumlah penduduk Kota Gorontalo sebesar 134.931, sedangakan tahun 2010 jumlah penduduk Kota Gorontalo sebesar 180.127 jiwa. Jumlah ini, dapat mendorong pembangunan baik rumah sebagai tempat tinggal masyarakat, infrastuktur seperti jalan, pasar, dan gedung-gedung pemerintahan sehingga akan mendorong peningkatan pelyanan di bidang pemerintahan, pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan serta memberikan kemampuan dalam pemanfaatan potensi daerah.

Salain menjadi pusat perekonomian masyarakat, Kota Gorontalo sebagai pusat tujuan invetasi, baik investor dari luar maupun dari Gorontalo sendiri. Investasi di Kota Gorontalo dalam bentuk perumahan rakyat sehingga penggunaan lahan untuk perumahan semakin meningkat yang akan berdampak pada kodisi iklim di wilayah tersebut. Jika investasi yang dilakukan berorietasi pada perumahan rakyat maka perlu ada intervensi pemerintah dalam mengatur tata guna lahan di Kota Gorontalo yang berkelanjutan. Investasi di bidang perumahan rakyat ini dapat menopang perekonomian di Kota Gorontalo. Namun, hal ini harus sejalan dengan pengembangan di bidang pariwisata melalui pembenahan objek wisata seperti wisata alam, wisata budaya, dan tata ruang kota sehingga dapat menarik wisatawan lokal, nasional, maupun mancanegara seperti yang tertuang dalam Peraturan Daerah (PERDA) Prov. Gorontalo No.4 Thn 2011 tentang rencana tata ruang wilayah tahun 2010-2030 dan UU No. 26 Thn 2007 tentang penataan ruang.

Untuk mendukung terwujudnya PERDA dan UU maka perlu ada solusi yang tepat dalam mewujudkannya. Melihat kondisi Kota Gorontalo yang sering terjadi banjir setiap tahun dan terjadinya pendangkalan danau Limboto yang menjadi tempat pencaharian masyarakat dan sebagai tempat wisata. Di kota-kota besar, ruang terbuka hijau (RTH) telah menjadi trend untuk mengatasi masalah yang berhubugan dengan degradasi lingkungan, konsep ruang terbuka hijau (RTH) menjadi priyoritas utama dari segi lingkungan untuk menciptakan kenyamanan di Kota Gorontalo. Konsep RTH di Kota Gorontalo mendapat dorongan yang kuat dari pemerintah karena RTH merupakan bagian dari penataan ruang perkotaan yang berfungsi sebagai kawasan lindung, taman kota, kawasan hijau rekreasi, kawasan hijau olahraga, terutama dalam hal manajemen sumber daya air.

Mengefisiensikan sumber daya air di Kota Gorontalo perlu menerapkan blue-green network yang memilki keterpaduan substansi dengan ruang terbuka hijau (RTH). Dalam annex report 2011 bahwa blue-green network merupakan pengembangan tata ruang kota dan perencanaan konsep kota tradisional yang bernuansa hijau di sekitar kota. Struktur spasial dari konsep ini di dasarkan pada mengefisiensikan jaringan sungai. Zona di sekitar daerah yang hijau dan di sekitar sungai memberikan kontribusi terhadap perlindungan dan pemeliharaan terhadap ekosistem dalam jaringan tersebut.

Pada kondisi yang dihadapi Kota Gorontalo saat ini, seperti banjir dan pendangkalan danau Limboto, perlu konsep yang dapat mengurangi ancaman-ancaman tersebut dan adaptasi terhadap perubahan iklim, maka ruang terbuka hijau melalui aplikasi blue-green network akan bekontribusi pada aspek sosial dan lingkungan, seperti; 1) meningkatkan jumlah tempat rekreasi, dengan akses yang lebih baik dari setiap bagian kota, memberikan promosi gaya hidup sehat, 2) untuk transportasi individu dan masyarakat dengan menyediakan ruang untuk rute sepeda, pejalan kaki dan trem, 3) menyediakan daerah untuk manajemen stormwater melalui langkah-langkah ecohydrological dan bioteknologi ekosistem, 4) meningkatkan kelembaban, kualitas udara dan iklim mikro di kota itu untuk berkontribusi pada lingkungan yang sehat dan untuk mengurangi jumlah kasus asma dan alergi, 5) perlindungan dan revitalisasi warisan, sejarah lingkungan dan budaya kota, memberikan kontribusi bagi peningkatan daya tarik, estetika dan kualitas hidup.

Tulisan ini bertujuan untuk mengenalkan paradigma baru tentang rancangan ruang terbuka hijau (RTH) melalui konsep blue-green network dalam mewujudkan Kota Gorontalo yang nyaman berdasarkan amanat undan-undang.

 METODOLOGI KAJIAN

Penentuan Luas RTH

Kajian ini di fokuskan pada wilayah Kota Gorontalo untuk menganalisis aplikasi blue-green network untuk kenyamanan kota. Untuk menetukan luas RTH di Kota Gorontalo berdasarkan hubungan antara luas RTH dengan nilai suhu udara yang telah ditentukan oleh Syah (2011), seperti pada tabal di bawah:

Secara kuantitatif kenyamanan dinyatakan sebagai Temperature Humidity Index (THI), suatu indeks untuk menetapkan efek kondisi panas pada kenyamanan manusia, yang secara empiris dirumuskan oleh Nieuwolt (1975) dalam Effendy et al 2006:

Dengan THI, indeks kenyamanan (oC); Ta, suhu udara (oC) dan RH, kelembaban nisbi udara (relatif humidity) dalam %. Emmanuel (2005) dalam Effendy et al 2006, secara empiris menghubungkan nilai THI dan kenyamanan populasi: Nilai THI 21-24: nyaman, Nilai THI 25-27: cukup nyaman, Nilai THI > 27: tidak nyaman. 

 Sumber Data

Data Ta dan RH merupakan data rata-rata tahunan diperoleh dari stasiun cuaca Djalaludin dengan nomor stasiun 970.480 (WAMG) Lintang: 0.51, Bujur: 123.06, Ketinggian: 2 yang dilaporkan ke website (http://www.tutiempo.net). Pengolahan data Ta dan RH untuk menentukan nilai THI dilakukan menggunakan microsoft excel 2010.

Metode Analisis

Analisis dilakukan untuk menelusuri perkembangan ruang terbuka hijau (RTH) berdasarkan nilai THI dan data suhu udara yang diperoleh. Analisis RTH juga dilakukan untuk dapat merumuskan blue-green network sesuai dengan kondisi permasalahan sumber daya air di Kota Gorontalo.

 HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Eksisting RTH di Kota Gorontalo

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rachman (2010) menggunakan hasil citra bahwa kodisi RTH dari segi luasan yaitu 1753,22 ha yang meliputi lahan bervegetasi pohon dari luas wilayah Kota Gorontalo 6479 ha atau sekitar 27%. Jika merujuk pada undang-undang RI No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang pasal 29 bahwa luas minimum RTH adalah 30% berarti perlu penambahan 3% luas RTH di Kota Gorontalo.

Pendugaan Luas RTH di Kota Gorontalo

Pendugaan luas ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Gorontalo di dasarkan pada tabel hubungan antara RTH dan suhu udara yang telah di ditentukan oleh Syah (2011). Sehingga di peroleh hasil seperti pada tabel di bawah ini:

Luas RTH di Kota Gorontalo jika di hubungkan dengan suhu udara seperti yang di kemukakan oleh Syah 2011 maka luas RTH sudah melewati target yang ditetapkan oleh undang-undang yaitu 30%. Secara teoritis hasil ini sudah sesuai, karena dengan adanya pengurang RTH dapat menaikan suhu udara. Namun jika di bandingkan dengan hasil penelitian Rachman 2010 menggunakan citra luas RTH baru mencapai 27%. Perbedaan hasil ini cukup jauh untuk mentukan luasan RTH yang sebenarnya. Berdasarkan tabel 2 di atas walaupun luas RTH mencapai 60% dan 50% Kota Gorotalo masih berada pada indeks cukup nyaman. Secara keseluruhan dengan penambahan luas RTH di Kota Gorontalo sampai pada angka 80 % Kota Gorontalo tetap berada pada indeks cukup nyaman. Hal ini sangat pingaruhi oleh karaktristik iklim, letak lintang, dan bujur.

Penentuan Nilai Temperature Humidity Indeks (THI)

Berdasarkan persamaan 1 penentuan nilai THI yang di peroleh dengan menggunakan data Ta dan RH tahunan selama lima tahun seperti pada tabel 2 di bawah ini:

Dari hasil perhitungan THI selama lima tahun menunjukan bahwa Kota Gorontalo berada pada indeks cukup nyaman. Pada tahun 2007 dan 2008 nilai THI mencapai 25,7 dan 25,6 oC sedangkan pada tahun 2009, 2010, dan 2011 nilai THI Mencapai 26, 26.2 dan 26. Hasil ini menggambarkan bahwa di Kota Gorontalo terjadi perubahan tutupan lahan dengan adanya peningkatan suhu dari tahun ketahun tetapi untuk indeks kenyamanan masih dalam kisaran yang sama yaitu cukup nyaman. Karena pada dasarnya RTH dan THI Pola hubungan terbalik di mana setiap laju pengurangan RTH menyebabkan peningkatan suhu udara dan sebaliknya (Effendy et al., 2006). Indeks kenyamanan di Kota Gorontalo dapat dipangaruhi oleh lintang serta ketinggian wilayah sehingga nilai suhu dan kelembaban akan tetap berada pada rentang indeks cukup nyaman. Walaupun luas RTH belum di ketahui secara pasti namun dengan nilai THI yang diperoleh maka perlu ada tambahan luasan RTH untuk bisa menekan laju kenaikan suhu dengan mengefisiensikan manajemen sumber daya air DAS dan Danau Limboto.

Blue-Green Net Work Sebagai Manajemen Sumber Daya Air

Substansi dari blue-green net work menekan pada masalah manajemen sumber daya air melalui langkah-langkah ekohidrologi artinya jika dilihat secara cermat bahwa pengintegrasian dua variabel yaitu ekologi dan hidrologi, dalam ekohidrologi memiliki banyak aspek yang dapat di jadikan objek kajian yang menarik bagi setiap peneliti. Hal ini sangat tepat dilakukan untuk mengurangi jumlah sedimentasi yang terjadi di danau Limboto yang berakibat terjadinya pendangkalan danau tersebut serta dapat mengefisiensikan air yang berada di DAS yang satiap tahunnya menyebabkan banjir. Seperti yang di peroleh dari google earth bahwa Kota Gorontalo memilki satu DAS dan dua sub DAS yaang sangat berpotensi untuk diterapkan blue-green network serta danau Limboto.

Gambar 2 Kondisi Aliran Sungai Bone di Kota Gorontalo (Sumber Google Earth: 2012)

 

Gambar 3 Kondisi Danau Limboto (Sumber Google Earth: 2012)

Untuk memenuhi kekurangan RTH di Kota Gorontalo bahwa perlu menerapkan blue-green network di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Danau Limboto sehingga RTH di Kota Gorontalo dapat mencapai terget yang telah di tetapkan di dalam undang-undang.

Pengaruh Blue-Green Network Pada Aspek Klimatologi

Aplikasi blue-green network dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi klimatologi di Kota Gorontalo. Neraca energi permukaan pada lingkungan yang menerapkan blue-green network berbeda dengan daerah sekitarnya karena pebedaan tutupan lahan dan karakteristik permukaan yang dapat mengubah struktur angin vertikal dan horizontal dalam beberapa cara yaitu mengubah gaya dan tekanan yang menimbulkan agin. Variasi ketinggian tanaman dapat mengubah kekasapan permukaan memperbesar turbulen sehingga memperkuat konveksi. Ketika angin berhembus kuat, tanaman-tanaman yang terdapat di lingkungan tersebut akan menjadi alasan terhadap variasi dari kecepatan angin tersebut. Tanaman dengan berbagai ketinggian akan memperlambat kecepatan agin sehingga menciptakan variasi angin yang tidak diduga bagi orang yang ada di permukaan. Blue-green network dapat melibatkan peristiwa evaporasi dan transpirasi. Evaporasi menjadi proses penting dalam siklus hidrologi, karena melalui proses evaporasi air di permukaan bumi dapat dikembalikan ke atmosfer dalam bentuk uap air. Kemudian uap air ini akan terkondensasi di atmosfer dan turun kembali sebagai hujan. Dengan mengacu pada definisi dari evaporasi maka blue-green network proses evaporasi cenderung tinggi karena dengan pengelolaan sember daya air yang baik, sehingga siklus hidrologi pada lingkungan tersebut terus terjadi dengan baik dan tentunya akan berdampak pula pada kelembaban udara sekitar menjadi lebih sejuk.

KESIMPULAN DAN SARAN

KesimpulanLuas RTH mencapai 60 % dan 50 % Kota Gorotalo masih berada pada indeks cukup nyaman. Secara keseluruhan dengan penambahan luas RTH di Kota Gorontalo sampai pada angka 80 % Kota Gorontalo tetap berada pada indeks cukup nyaman. Hal ini sangat pingaruhi oleh karaktristik iklim, letak lintang, dan bujur. Pada tahun 2007 dan 2008 nilai THI mencapai 25,7 dan 25,6 oC sedangkan pada tahun 2009, 2010, dan 2011 nilai THI Mencapai 26,0, 26,2 dan 26,0. Hasil ini menggambarkan bahwa di Kota Gorontalo terjadi perubahan tutupan lahan dengan adanya peningkatan suhu dari tahun ketahun tetapi untuk indeks kenyamanan masih dalam kisaran yang sama yaitu cukup nyaman. Karena pada dasarnya RTH dan THI Pola hubungan terbalik di mana setiap laju pengurangan RTH menyebabkan peningkatan suhu udara dan sebaliknya.

Untuk memenuhi kekurangan RTH di Kota Gorontalo bahwa perlu menerapkan blue-green network di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Danau Limboto sehingga RTH di Kota Gorontalo dapat mencapai terget yang telah di tetapkan di dalam undang-undang. Aplikasi blue-green network sangat berpengaruh pada proses evaporasi cenderung tinggi karena dengan pengelolaan sember daya air yang baik, sehingga siklus hidrologi pada lingkungan tersebut terus terjadi dengan baik dan tentunya akan berdampak pula pada kelembaban udara sekitar menjadi lebih sejuk. Evaporasi menjadi proses penting dalam siklus hidrologi, karena melalui proses evaporasi air di permukaan bumi dapat dikembalikan ke atmosfer dalam bentuk uap air.

Saran

Untuk dapat memperoleh luas ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Gorontalo perlu menggunakan pendekatan melalui perhitungan kebutuhan oksigen (O2) dan perhitungan berdasarkan kebutuhan air.

REFERENSI

Annex 4. 2011. Implementation of the Blue-Green Network Concept. SWITCH: Final Demonstration Activity Report, The City of ?ód?, 2006-20011, W.P. 5.3

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2010. Gorontalo Dalam Angka 2011. Gorontalo: BPS Provinsi Gorontalo.

Effendy S. 2010. Peranan Ruang Terbuka Hijau Dalam Mengendalikan Suhu Udara Dan Urban Heat Island Wilayah Jabotabek. J. Agromet Indonesia 20 (1) : 23 – 33

[PERDA] Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo No. 4. 2011. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Gorontalo Tahun 2010-2030. Gubernur Gorontalo.

Rachman. 2010. Perencanaan Hutan Kota Untuk Meningkatkan Kenyamanan di Kota Gorontalo [Tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Syah D.S. 2011. Hubungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Dengan Temperature Humidity Index (THI) Kota Depok [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Tutiempo. 2012. World Weather Local Weather Forecast: www.tutiempo.net/en/

Pemanasan Global, Cuaca dan Iklim Ekstrim

Kondisi cuaca ekstrim terjadi pada tingkat peningkatan yang dibuktikan dengan frekuensi yang lebih tinggi dari badai dan lebih ekstrim curah hujan dan anomali suhu. Kejadian iklim ekstrim yang juga disebut kejadian cuaca ekstrim atau peristiwa meteorologi ekstrim dalam literatur klimatologi dan meteorologi, jarang terjadi atau peluang kejadiannya 5% atau kurang dari waktu yang diukur dari distribusi yang diharapkan dari variabel iklim tersebut (e.g. http://www.emc.ncep.noaa.gov). Namun, sebagian besar ilmuan dan peneliti mengatakan bahwa curah hujan menjadi indikator kejadian cuaca dan iklim ekstrim. Menurut Li et al (2011) kondisi iklim saat ini menghasilkan karakteristik cukup heterogen terhadap respon curah hujan ekstrim dan perubahan iklim di masa depan. Mekanisme pemanasan global yang menyebabkan perubahan frekuensi dan intensitas curah hujan di daerah tropis. Dalam pemanasan global, curah hujan tropis cenderung lebih sering dan ekstrim.

Perubahan frekuensi curah hujan oleh komponen termodinamika dan dinamis. Komponen termodinamika diinduksi oleh perubahan uap air di atmosfer, sedangkan komponen dinamis dikaitkan dengan perubahan gerak vertikal. Dalam kontribusi termodinamika, peningkatan uap air mengurangi besarnya gerak vertikal yang diperlukan untuk menghasilkan kekuatan yang relatif sama dengan curah hujan, sehingga frekuensi curah hujan meningkat. Peningkatan uap air juga mengintensifkan curah hujan akibat peningkatan ketersediaan uap air di atmosfer. Dalam kontribusi dinamis, kondisi lebih stabil dan cenderung mengurangi frekuensi dan intensitas curah hujan Chou et al (2012).

Pemanasan global dan ENSO berdampak pada kondisi meteorologi di suatu wilayah yang dilaluinya. Giorgi et al (2011) mempublikasikan bahwa suatu ukuran dari intensitas hydroclimatic (HY-INT) yang mengintegrasikan antara pengukuran intensitas curah hujan dan musim kering, keduanya memperlihgatkan respon terhadap pemanasan global yang saling berhubungan. Dalam penelitian Giorgi et al (2011) ditemukan bahwa intensitas curah hujan meningkat karena kapasitas air di atmosfer miningkat. Namun, peningkatan curah hujan rata-rata terkait dengan tingkat kenaikan evaporasi lebih rendah daripada kelembaban atmosfer. Hal ini menyebabkan pengurangan jumlah hari basah dan peningkatan jangka waktu musing kering, analisis Giorgi et al (2011) peningkatan intensitas hydroclimatic (HY-INT) sebagai respon terintegrasi kuat dengan pemanasan global.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa curah hujan akan meningkat atau bahakan menjadi ekstrim pada kondisi pemanasan global karena atmosfer dapat menampung lebih banyak uap air sebagai akibat dari pemanasan di permukaan bumi. Dengan pernyataan tersebut terindikasi bahwa pemanasan global dan intensitas curah hujan berkaitan erat. Namun, sejauh mana pola curah hujan akan berubah di masa depan masih belum jelas, walaupun telah banyak metode yang digunakan untuk menskenariokan pola curah hujan di masa depan, hal ini belum menjamin bahwa skenario prediksi curah akan menceminkan pola curah hujan dan pemanasan global dimasa mendatang atau dengan durasi seratus tahun kedepan.

Kejadian pemanasan global dan curah hujan ekstrim haya bisa kita rasakan atau bisa di prediksi dengan pasti dalam jangka waktu kurang lebih 1-5 tahun kedepan. Sehingga penanggulangan risiko dari kejadian tersebut dapat segera dilakukan terutama pada saat terjadinya hujan dan banjir yang berdampak pada beberapa aspek seperti pertanian, transportasi, dll.

Referansi:

Chou C, Chen CA, Ting Chen K, Tan PH. 2012. Mechanisms for Global Warming Impacts on Precipitation Frequency and Intensity. Jouranal Of Climate 25: 3291-3306.

Giorgi F et al. 2011. Higher Hydroclimatic Intensity with Global Warming. Jouranal Of Climate 24: 5309-5324.

Li F, Collins WD, Wehner MF, Williamson DL, Olson JG. 2011. Response Of Precipitation Extremes To Idealized Global Warming In An Aqua-Planet Climate Model: Towards A Robust Projection Across Different Horizontal Resolutions. Dynamic Meteorology And Oceanography 63(A): 876–883.

 

Review: Pola Curah Hujan Indonesia

Banyak penelitian telah menunjukan hubungan erat antara variabilitas curah hujan di wilayah yang sering terkena kejadian El Nino and Southern Oscillation (ENSO). Wilayah yang ada di yang termasuk pada wilyah yang sering terjadi kejadian ENSO berada pada wilayah pasifik tropis seperti Indonesia dan Australia yang selalu konsisten dengan kejadian ENSO. Kejadian El Nino lebih identik dengan kemarau atau musim kering yang ditandai dengan penurunan intensitas curah hujan di wilayah equatorial. Sedangkan kejadian La Nina yang lebih identik dengan musim hujan yang ditandai dengan tingginya intensitas curah hujan, sehingga sangat rentan terhadap kejadian banjir. Sebagian besar peneliti mengatakan variabilitas curah hujan tidak hanya berkaitan dengan kejadian ENSO yang erar kaitannya dengan SST, tetapi juga ada kaitannya dengan fase dari Southern Oscillation index (SOI).

Musim curah hujan di Australia Timur terkait erat dengan SST di Pasifik tengah dan Hindia, serta perairan disekitar Indonesia (Murphy dan Ribbe 2003). Southern Oscillation index (SOI) dan curah hujan di timur laut Australia sangat berhubungan sejak abad ke-20, kecuali selama periode 1930-1945 ketika itu hubungannya terbalik. Selama periode ini suhu rata-rata global permukaan lebih hangat dari pada periode lainnya dan hubungan ENSO dengan curah hujan jauh lebih lemah. Anomali SST di garis lintang bagian tengah samudra Pasifik lebih kuat. Susanti (2009) mengatakan bahwa hubungan yang paling dekat antara indikator iklim global dan curah hujan di Indonesia adalah SST di zona Nino 3.4 dan peralihan (Agustus-November). Korelasi negatif antara SST dan curah hujan menunjukan peningkatan anomali SST yang menyebabkan penurunana curah hujan pada periode Agustus-November.

Terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh Aldrian dan Susanto 2003 yang pada intinya membagi wilayah Indonesia menjadi tiga wilayah curah hujan yang dominan yang dan hubungannya dengan SST, penelitian yang dilakukan Aldrian dan Susanto 2003 dari segi metode yang digunakan sudah tepat dengan menggunakan data curah hujan periode 1961-1990, akan tetapi untuk melihat tiga wilayah curah hujan di Indonesia lebih lengkap jika di hubungkan dengan SOI, karena SOI oleh sebagian besar peneliti berpengaruh terhadap pola curah hujan. Sehingga hasil yang diperoleh dalam mengidentifikasi tiga wilayah curah hujan di Indonesia yaitu wilayah yang sudah sering terjadi kejadian ENSO, wilayah tersebut diantara pulau Jawa dan wilayah-wilayah lain yang jarang terkena kejadian ENSO pola curah hujan yang dihasilkan pun tidak signifikan. Tipe hujan monsun sangat dipengaruhi oleh sirkulasi monsun dengan puncak curah hujan berada pada bulan Desember, Januari, dan Februari dan curah hujan terendah terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus.

Sedangakan pada daerah yang memilki pola wilayah anti monsun berpola kebalikan dengan tipe hujan monsun dalam arti waktu terjadinya periode curah hujan maksimum dan minimun di daerah Sulawesi Tengah bagian timur, Maluku, dan bagian utara Papua. Jika di cermati wilayah-wilayah di daerah anti monsun kurang dipengatuhi oleh SST. Untuk wilyah yang memiliki tipa hujan equatorial memiliki Pola hujan tipe dua puncak terdapat disekitar ekuator dari pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dalam berbagai literatur lebih dominan di pengaruhi oleh DMI (Dipole Mode Index) yang tidak memiliki keterkaitan dengan ENSO dan SOI. Dalam penelitian ini juga tidak diketahui zona nino yang digunakan dalam pewilayahahan curah hujan di Indonesia.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan, dalam membagi wilayah Indonesia menjadi tiga tipe tidak hanya dihubungkan dengan SST, tetapi juga perlu di hubungkan dengan SOI dan DMI, agar dapat diketahui dengan pasti wilayah Indonesia sangat di pengaruhi oleh SST, SOI, atu DMI.