1 Maret #HariAntiDiskriminasi

02 March 2023 06:05:45 Dibaca : 314

Selamat memperingati Hari Anti Diskriminasi yang jatuh pada tanggal 1 Maret. Mengapa ada Hari Anti Diskriminasi atau Zero Discrimination Day? Hari diskriminasi mengajak masyarakat di seluruh dunia -- bukan cuma di Indonesia saja -- untuk meningkatkan solidaritas dan mencintai orang-orang di sekeliling mereka tanpa memandang ras, suku, dan agama. Pertanyaan yang muncul adalah, apakah benar bahwa lingkungan di dalam kehidupan sehari-hari benar-benar sudah bersih dari diskriminasi? Memangnya, apa makna dari diskriminasi, sehingga terdapat hari yang menentang adanya diskriminasi?

Diskriminasi memiliki sinonim dengan pemisahan dan segregasi. Diskriminasi sering menjadi topik yang dibicarakan oleh orang-orang di Indonesia, maupun di tempat lain di seluruh dunia. Bagaimana tidak, diskriminasi berkaitan dengan warna kulit, ras, etnis, agama, dan orientasi seksual, sehingga tidak ada habisnya untuk dibahas. Di jurnal dan berita internasional, diskriminasi ras bukan lagi barang langka. Rasisme masih ada hingga saat ini, mulai dari rasisme di tempat kerja hingga di ranah sepakbola. Salah satu bentuk diskriminasi pemain sepakbola adalah terdengar peniruan suara monyet di bangku penonton dan tindakan melempar pisang ke lapangan untuk mengejek para pemain sepakbola berkulit hitam. Tak selesai sampai di situ, pada September 2019 silam, pihak penyelenggara Serie A melakukan rilis anti rasis dengan menggambar tiga wajah monyet yang dibuat sejajar. Simone Fugazzotto selaku seniman dari gambar tiga wajah monyet tersebut, sebenarnya melakukan kampanye anti rasisme di dunia sepakbola. Sayangnya, langkah dari Fugazzotto justru mendapatkan kecaman dari berbagai pihak, karena gambar monyet berwarna hitam yang disejajarkan tersebut. Rasisme hanya satu di antara diskriminasi-diskriminasi lainnya yang muncul di dunia ini. 

Pada jurnal karya Avgi Saketopoulou yang berjudul Trauma, Traumatism, Traumatophilia, pembahasan dari jurnal itu menunjukkan bahwa melakukan rasisme ternyata membawa dampak buruk, yaitu trauma pada objek diskriminasi tersebut. Dari jurnal milik Nikolaus Ageng Prathama yang menyinggung tentang negosiasi identitas antara suku Dayak dan Madura yang terlibat konflik pada tahun 2001 silam, dampak dari diskriminasi etnis tertentu ternyata masih membekas, meskipun peristiwa tersebut telah berlalu lebih dari 15 tahun silam. Dampak dari diskriminasi bukan lagi 'sakit hati' yang dapat disembuhkan dengan kata-kata 'sabar ya', 'kuat ya', dan lain sebagainya. Trauma dan stigma buruk terus membekas selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, betapa pentingnya menyadari bahwa hari antri diskriminasi bukan hanya dilakukan pada 1 Maret saja, tetapi dilakukan sepanjang hayat hidup manusia. 

Diskriminasi agama pun menjadi sesuatu yang sering terjadi di Indonesia. Segregasi terhadap agama minoritas terlihat dari fenomena pelarangan ibadah dan pembangunan rumah ibadah. Dilansir dari BBC, diberitakan bahwa pembangunan gereja di Tanjung Balai Karimun ditolak oleh warga meskipun mereka telah mengantongi IMB. Hal ini menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap orang-orang yang beribadah di gereja masih terus terjadi. Aksi intoleransi pun masih terus berjalan. Belum lagi video-video yang viral di media sosial, dimana video tersebut menggambarkan tentang pembubaran orang-orang yang beribadah di rumah atau merayakan hari raya tertentu di rumah. BPIP sendiri pun menyatakan bahwa intoleransi masih terus meningkat setiap tahunnya. Jika intoleransi meningkat, diskriminasi pun masih tertanam di pikiran beberapa, atau bahkan sebagian besar masyarakat di Indonesia. 

Diskriminasi tidak hanya terjadi pada ras, etnis, dan agama, dimana hal-hal tersebut menyebabkan konflik. Diskriminasi sebenarnya juga terjadi di dalam kehidupan sehari-hari, seperti diskriminasi usia. Sebagai contoh, hal paling sederhana adalah ketika melamar pekerjaan. Pada lowongan pekerjaan, seringkali ditampilkan kalimat “maksimal 25 tahun”. Hal ini menunjukkan bahwa orang tua mendapat diskriminasi usia, dimana orang tua tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan para fresh graduate ketika mencari lapangan kerja. Sementara itu, di luar negeri, para pria maupun wanita yang berusia 50 tahun masih diterima untuk bekerja di suatu perusahaan. Artinya, tidak ada diskriminasi usia, karena semuanya dilihat dari kemampuan individu, bukan lagi berdasarkan usia.

Diskriminasi usia pun kerap terjadi pada anak-anak muda. Di lingkungan kerja, anak-anak muda memperoleh stigma tertentu oleh para karyawan dan pekerja yang berusia di atas 40 tahun. Hal ini terlihat dari jurnal Cheung yang berjudul Age discrimination in the labour market from the perspectives of employers and older workers, dimana anak-anak muda diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang lebih berat daripada tupoksi mereka. Ya, hal itu kerap terjadi di lapangan kerja Indonesia, dengan dalih kata-kata 'kamu kan masih muda'. 

Diskiriminasi lain yang terlihat di Indonesia adalah diskriminasi gender. Bukan kejadian baru lagi jika perusahaan atau instansi lebih mengutamakan untuk menerima laki-laki daripada perempuan di sebuah perusahaan maupun instansi tersebut. Perempuan dinilai sebagai individu yang memiliki emosi labil, tenaga lemah, dan banyak bicara. Dengan demikian, perempuan dinilai sebagai sosok yang tidak cocok menjadi bagian dari perusahaan karena tidak banyak yang bisa dikerjakan, selain administrasi, marketing, dan lain sebagainya. Padahal, tidak ada yang salah dengan perempuan yang memilih untuk bekerja dengan cara turun ke lapangan.

Stigma tentang pekerja perempuan pun bermacam-macam. Stigma tersebut tidak selalu muncul karena berbagai alasan, tetapi stigma tersebut tercipta karena perempuan secara biologi mengalami haid, hamil, dan melahirkan. Perempuan seringkali mengalami diskriminasi karena perempuan memiliki fase biologis yang dialami oleh mereka. Ketika haid, hamil, dan melahirkan, perempuan pun memiliki waktu untuk cuti dalam jangka waktu yang cukup lama. Tentunya, ketika perempuan memilih cuti, tenaga kerja di perusahaan maupun instansi berkurang, sehingg aberdampak pada produktivitas dan penghasilan dari perusahaan tersebut.

Pekerjaan pun secara tak sadar dibagi berdasarkan gender dan usia. Untuk pekerjaan yang berhubungan dengan turun ke lapangan, adalah pekerjaan yang ditujukan untuk laki-laki yang berusia muda. Padahal, individu yang memiliki kekuatan untuk turun ke lapangan hanya laki-laki, tetapi juga perempuan. Pun dengan usia, dimana yang memiliki tenaga bukan hanya mereka yang berusia muda, tetapi orang-orang yang telah menyentuh angka 40 ke atas. Untuk penerimaan karyawan baru pun, bukan tidak mungkin lagi bahwa kemungkinan diskriminasi bisa terjadi. Artinya, hal ini menjadi pekerjaan rumah untuk perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi di seluruh Indonesia untuk memilih tenaga kerja berdasarkan kemampuan masing-masing, bukan lagi berdasarkan usia dan jenis kelamin.  

Hal ini menunjukkan bahwa diskriminasi memang sering terjadi di dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, apa sebenarnya makna diskriminasi? Diskriminasi merupakan tindakan, sikap, atau perilaku yang dilakukan oleh seseorang atau satu golongan untuk menyudutkan golongan lain. Coba ingat kembali quotes yang disampaikan oleh Barack Obama 2010 silam, No Discrimination, That's what we're about as a country. Tidak ada yang salah dengan hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki perbedaan dengan hidup kita. Hidup berdampingan tidak harus selalu dengan orang-orang yang senantiasa memiliki kesamaan dengan diri kita. Terlebih lagi, manusia adalah makhluk sosial, bukan lagi makhuk berdarah dingin atau makhluk patipus atau koala yang kerap memilih untuk hidup sendiri dari kecil hingga akhir hayat. Apalagi, setiap manusia tidak ada yang bisa memilih untuk lahir dari rahimnya siapa atau menjadi anaknya siapa.

Oleh sebab itu, mari menerapkan Hari Anti Diskriminasi, dari 1 Maret hingga seterusnya! Benar-benar bersih dari diskriminasi dan tidak lagi menimbulkan rasa trauma dan rendah diri untuk para korban yang didiskriminasi.

 

*Tulisan ini dimuat di Harian Disway, 2 Maret 2023

 

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong