Mengatasi Burnout pada Pelajar di Era Digital: Pendekatan Psikologi Pendidikan

21 February 2026 11:55:20 Dibaca : 4

Burnout kini menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi pelajar di era digital. Beban akademik yang berat, tekanan untuk berprestasi, dan distraksi dari teknologi sering kali membuat siswa merasa lelah secara fisik, emosional, dan mental. Burnout tidak hanya menurunkan performa akademik, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan mental mereka. Oleh karena itu, penting untuk memahami fenomena ini dan mencari solusi melalui pendekatan psikologi pendidikan.

Burnout pada pelajar sering kali disebabkan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Secara internal, ekspektasi tinggi yang dipasang oleh diri sendiri atau orang lain dapat memicu stres kronis. Eksternalnya, pembelajaran daring yang melibatkan penggunaan teknologi secara berlebihan juga dapat menyebabkan kelelahan digital atau yang dikenal dengan istilah digital fatigue (Zhang et al., 2021). Dalam situasi ini, pelajar tidak hanya menghadapi tekanan akademik, tetapi juga keterasingan sosial yang memperburuk kondisi mental mereka.

Menurut Maslach dan Leiter (2016), burnout terdiri dari tiga komponen utama: kelelahan emosional, sinisme, dan penurunan pencapaian. Dalam konteks pelajar, ini bisa terlihat dari menurunnya motivasi belajar, rasa putus asa terhadap tugas, dan meningkatnya rasa tidak berdaya. Kondisi ini dapat dicegah dengan pendekatan psikologi pendidikan yang menekankan keseimbangan antara tuntutan akademik dan kebutuhan emosional siswa.

Salah satu strategi yang dapat digunakan adalah mengintegrasikan mindfulness dalam proses pembelajaran. Mindfulness, yang berfokus pada kesadaran penuh terhadap momen saat ini, terbukti efektif dalam mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan mental siswa (Roeser et al., 2013). Guru dan institusi pendidikan dapat memanfaatkan metode ini dengan memberikan jeda singkat selama pembelajaran untuk membantu siswa merelaksasikan pikiran mereka.

Selain itu, penting bagi guru dan orang tua untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan time management yang baik. Siswa yang mampu mengatur waktu dengan efektif cenderung lebih mampu mengelola beban akademik mereka tanpa merasa kewalahan. Pendekatan ini juga dapat dilengkapi dengan menyediakan lingkungan belajar yang mendukung, baik di rumah maupun di sekolah, untuk meminimalkan distraksi digital.

Dukungan sosial juga memainkan peran besar dalam mengatasi burnout. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki hubungan positif dengan teman, guru, atau keluarga cenderung lebih mampu menghadapi tekanan akademik (Salanova et al., 2010). Oleh karena itu, membangun hubungan yang sehat dan memberikan ruang bagi siswa untuk berbicara tentang perasaan mereka adalah langkah penting untuk mencegah burnout.

Di sisi lain, kebijakan pendidikan juga harus berperan dalam mengurangi tekanan pada siswa. Kurikulum yang terlalu padat dan sistem penilaian berbasis kompetisi dapat memperburuk stres siswa. Institusi pendidikan perlu mengevaluasi kembali kebijakan ini dan mengadopsi pendekatan yang lebih ramah siswa, seperti pembelajaran berbasis proyek yang menekankan kolaborasi daripada kompetisi.

Sebagai kesimpulan, burnout pada pelajar di era digital adalah masalah kompleks yang memerlukan perhatian serius. Dengan mengadopsi pendekatan psikologi pendidikan, seperti mindfulness, pengelolaan waktu, dukungan sosial, dan kebijakan yang inklusif, kita dapat membantu siswa mengatasi tekanan akademik dan menjaga kesehatan mental mereka. Menginvestasikan waktu dan sumber daya untuk mendukung kesejahteraan pelajar adalah investasi untuk masa depan generasi yang lebih kuat dan berdaya.

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong