KETERAMPILAN-KETERAMPILAN DALAM KONSELING

Gorontalo l Post Views: 552x

Jumadi M. Salam Tuasikal, M.Pd

Setiap tahapan proses konseling membutuhkan keterampilan-keterampilan yang tepat. Disamping itu, Dinamika hubungan konseling ditentukan oleh penggunaan keterampilan yang bervariasi. Dengan demikian proses konseling tidak dirasakan oleh peserta konseling (konselor-klien) sebagai hal yang menjemukan. Akibatnya keterlibatan mereka dalam proses konseling sejak awal hingga akhir dirasakan sangat bermakna dan berguna. Untuk itu ada beberapa keterampilan konseling yang dapat dipelajari, diantaranya:

A. Perilaku Attending (Menghampiri Klien)

Carkhuff (1983) menyatakan bahwa melayani klien secara pribadi merupakan upaya yang dilakukan konselor dalam memberikan perhatian secara total kepada klien. Hal ini ditampilkan melalui sikap tubuh dan ekspresi wajah. Menurut Willis (2009), Attending yang baik ini sangat dibutuhkan karenadapat: a) Meningkatkan harga diri klien, b) Menciptakan suasana yang aman, c) Mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.

Perilaku attending dapat juga dikatakan sebagai penampilan konselor yang menampakkan komponen-komponen perilaku nonverbal, bahasa lisan, dan kontak mata. Karena komponen-komponen tersebut tidak mudah, perlu dilatihkan bertahap dan terus-menerus. Perilaku attending yang ditampilkan konselor akan mempengaruhi kepribadian klien yaitu:

a) Meningkatkan harga diri klien, sebab sikap dan perilaku attendzhg memungkinkan konselor menghargai klien. Karena dia dihargai, maka merasa harga diri ada atau meningkat.

b) Dengan perilaku attendjng dapat menciptakan suasana aman bagi klien, karena klien merasa ada orang yang bisa dipercayai, teman untuk berbicara, dan merasa terlindungi secara emosional.

c) Perilaku attendlhg memberikan keyakinan kepada klien bahwa konselor adalah tempat dia mudah untuk mencurahkan segala isi hati dan perasaannya.

1. Tujuan

Latihan mikro perilaku attendmg (penampilan) bertujuan agar calon konselor dapat memperlihatkan penampilan yang attendlhg di berbagai situasi hubungan interpersonal secara umum, khususnya dalam relasi konseling dengan klien.

2. Tingkat pencapaian

a) Calon konselor dapat mengidentifikasi perilaku atrendr'ng yang baik dan yang kurang baik.

b) Calon konselor dapat menggunakan perilaku attending yang baik di berbagai hubungan interpersonal terutama konseling.

3. Materi

a) Posisi pengawakan badan yang terdiri dari posisi tubuh, jarak konselor-klien, sikap duduk.b) Keadaan muka yaitu keadaan ekspresi wajah, keadaan kontak mata.c) Tangan dan lengan yang terdiri dari variasi gerakan tangan/lengan, menggunakan tangan sebagai isyarat, menyentuh, melakukan gerakan sebagai penekanan.d) Mendengarkan, yaitu bagaimana konselor mendengarkan kepada klien, apakah dia melakukan diam pada saat tertentu, dan bagaimana perhatiannya terhadap klien.

4. Prosedur atau proses latihan

Sebelum diadakan latihan maka prosedur latihan harus dipahami oleh semua pesertaPelatih atau pembimbing memberikan informasi tentang latihan secara rinci, dan kemudian memberikan motivasi kepada para peserta agar mengikuti latihan dengan minat dan perhatian yang sungguh-sungguh.Membentuk pasangan-pasangan peserta, untuk mengadakan permainan peran dalam konseling mikro

Setiap pasangan tadi melakukan kegiatan-kegiatan yang diinstruksikan oleh pelatih yaitu:

a) Pertama, duduk saling membelakangi, kemudian seorang berbicara dan lainnya mendengarkan dengan perhatian. Kemudian dilakukan latihan sebaliknya (memperhatikan keadaan muka, kepala, keadaan kontak mata, posisi tubuh, keadaan tangan, dan bagaimana perhatiannya)

b) Kedua, duduk berhadapan. Seorang berbicara dan yang lainnya mendengarkan dengan perhatian, dengan memperhatikan hal-hal di atas tadi.

c) Ketiga, duduk menyamping, sama dengan di atas.

d) Keempat, duduk berhadapan, sedangkan peserta yang satunya memalingkan mukanya. Bagaimana reaksi peserta kedua?

e) Kelima, duduk berhadapan, saling melakukan kontak mata.

f) Keenam, duduk berhadapan peserta pertama berbicara melakukan kontak mata. dan yang lain mendengarkan, dan memperhatikan.

Keterampilan attending adalah perilaku konselor mengahampiri kllien yang diwujudkan dalam bentuk kontak mata dengan klien, bahasa tubuh, dan bahasa lisan.Ketrampilan attending juga mencermikan bagaimana konselor mengahampiri klien yang diwujudkan dalam perilaku diatas. Proses konseling menututut keterlibatan atau partispasi dari klien. Oleh karena itu, kemampuan attending konselor, akan memudahkannya untuk membuat klien terlibat pembicaraan dan terbuka.

Attending yang baik akan dapat meningkatkan harga diri kllien, menciptakan suasana yang aman, dan mempermudah ekspresi perasaan klien secra bebas. Ciri-ciri attending yang baik adalah:

a. menganggukkan kepala apabila menyetujui peryantaan klien,b. ekspresi wajah tenang, ceria, dan senyum,c. posisi tubuh agak condong kearah klien, jarak antara konselor dengan klien dekat, duduk akrab berhadapan atau berdampingan,d. variasi isyarat gerakkan tangan berubah-ubah untuk menekankan suatu pembicaraan,e. mendengar secara aktif , penuh perhatian, menunggu ucapan klien hingga selesai, diam atau menunggu kesempatan beraksi, dan perhatian terarah pada lawan bicara.

Ciri-ciri peilaku attending (Attending Skill) yang tidak baik adalah:

a. kepala kaku,b. ekpresi muka melamun, tegang, mengalihkan pandangan, tidak melihat klien saat klien berbicara, dan mata melotot,c. posisi tubuh tegak kaku, bersandar dikursi, miring, jarak duduk dengan klien menjauh, duduk kurang akrab dan berpaling,d. memutusakna pembicaraan, berbicara terus tanpa ada teknik diam, tidak memberikan kesempatan kepada klien untuk berbicara,e. perhatian terpecah, mudah buyar dengan gangguan luar.

 

B. Empati

Empati adalah kemampuan koselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berfikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Empati diawali dengan simpati, yaitu kemampuan memahami perasaan, fikiran, keinginan, dan pengalaman klien.Empati sangat erat kaitannya dengan attending.Penulis sengaja menuliskannya terpisah agar memudahkan pembaca untuk lebih memahaminya secara utuh.Secara umum, empati dapat diartikan sebagai kemampuan konselor untuk dapat merasakan dan menempatkan dirinya di posisi klien. Hal ini akan terlihat dengan jelas pada ekspresi wajah dan bahasa tubuh konselor (lihat kembali subbab “attending').

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh konselor sebelum merespons pernyataan klien.Pertama konselor harus mengobservasi tingkah lakunya.Terutama konselor harus memerhatikan postur klien dan ekspresi wajahnya. Konselor harus mendengarkan hati-hati apa yang dikatakan oleh klien. Dan yang lebih penting adalah konselor harus dapat memahami perasaan yang diekspresikan oleh klien.

1. Rasional

Kehidupan dunia dalam klien merupakan rahasia yang sulit untuk ditembus.Bahkan keadaannya begitu berlapis.Klien yang kita hadapi sering tampil hanya dipermukaan saja, dan jarang menampilkan dunia dalam mereka.Kecuali terhadap orang yang sangat dipercayai.

Orang yang dipercayai oleh klien adalah yang memahami dan dapat merasakan perasaan, pengalaman, serta pikiran klien.Konselor yang empati mudah memasuki dunia dalam klien sehingga klien tersentuh dengan sikap konselor. Akhirnya klien akan terbuka dengan jujur terhadap konselor.

Seorang calon konselor harus dilatih agar peka terhadap perasaan klien, memahami pikirannya, dan mampu merasakan perasaan dan pengalaman klien.Untuk mencapai hal tersebut maka dilatihkan teknik empati. Latihan tersebut mencakup ungkapan perasaan konselor mengenai perasaan, pengalaman, pikiran (keadaan dunia dalam klien) baik dengan cara biasa (pn'mazy empatby-PE) maupun dengan cara yang lebih mendalam/ menyentuh (advance accurate empathy-AAE).

2. Tujuan

Latihan empati bertujuan agar calon konselor mampu memasuki &an dalam klien melalui ungkapan-ungkapan empati (PE dan AAE) yang menyentuh perasaan klien. Jika demikian keadaannya maka klien akan terbuka dan mau mengungkapkan dunia dalamnya lebih jauh baik berbentuk perasaan, pengalaman, dan pikiran.

3. Materi

a) Latihan mengosongkan diri calon konselor dari perasaan dan pikiran egoistik, dan masuk kedalam diri klien dengan merasakan apa yang dirasakan klien, berpikir bersama klien, dan bukan merasakan dan memikirkan tentang klien.b) Melakukan empati primer (PE) dengan mengungkapkanSaya dapat merasakan apa yang anda rasakan.Sa ya memahami apa yang telah anda lakukan.Saya mengerti apa yang anda inginkan.c) Melakukan empati tingkat tinggi (AAE) dengan mengatakanSaya ikut terluka dengan penderitaan anda.Namun saya juga bangga dengan kemampuan daya tahan anda.”

4. Proses Latihan

a) Siapkan pasangan-pasangan peserta dalam pengamat. Setiap pasang mempelajari dialog-dialog empati yang sudah di siapkan oleh pembimbing.b) Pelatih/pembimbing menjelasakan materi dan proses latihan.c) Menonton video empati (kalau ada).d) Pasangan-pasangan peserta berperan sebagai konselor dank lien.e) Konselor dan klien melakukan dialog empati.f) Pengamat amengamati perilaku verbal dan nonverbal konselor.g) Di adakan diskusi dan evaluasi bersama hasil pengamatan para pengamat, pembimbing, dan kelas.

Evaluasi berkisar pada aspek perilaku attending (verbal dan nonverbal), kemampuan melakukan teknik empati dan empati tingkat tinggi.Dalam melakukan teknik empati pengamat harussecara tajam mengamati bahas tubuh konselor. Jika bahasa tubuhnya dilakuakn dengan baik, maka akan meneunjang terhadap teknik empati. Selanjutnya akan membatu klien terbuka dan terlibat didalam hubungan konseling.

Empati ada dua macam yaitu:

(1) empati primer atau (primary empathy), yaitu kemampuan konselor memahami perasaan, fikiran, keinginan, dan pengalaman klien.

(2) empati tingkat tinggi (advancet accurate empathy), kemampuan koselor memahami perasaan, fikiran, keinginan, serta pengalaman klien secara lebih mendalam.

Dan menyentuh klien karena konselor ikut dengan perasaan tersebut, ketika koselor berkata:”saya memahami perasaan. Pikiran, dan keinginan anda” berarti konselor bersimpati, tetapi ketika konselor berkata “saya dapat merasaakan apa yang anda rasakan” berarti konselor sedang berempati.

Empati sangat penting dalam proses konseling. Tanpa empat proses konseling tidak akan berjalan secara efektif. Konselor yang tidak mampu berempati tidak akan bisa menjadi pemecaha masalah yang efektif, dalam arti akan mengalami kesulitan membantu mencarikan alternative pemecahan masalah individu (klien).

Melalui keterampilan ini, dalam proses konseling diharapkan klien akan terlibat pembicaraan dan terbuka. Selain itu, berempati klien akan tersentuh dan bersedia serta terbuka untuk mengemukakan isi yang tersimpan dalam lubuk hati yang dalam berupa persaan, pikiran, pengalaman bahkan penderitaanya.

 

C. Refleksi

Refleksi adalah suatu jenis teknik konseling yang penting dalam hubungan konseling.Yaitu sebagai upaya untuk menangkap perasaan, pikiran dan pengalaman klien, kemudian merefleksikan kepada klien kembali.Hal ini harus dilakukan konselor sebab sering klien tidak menyadari akan perasaan, pikiran, dan pengalamannya yang mungkin menguntungkan atau merugikannya.

Jika dia menyadari akan perasaannya, maka klien mungkin akan segera mengubah perilakunya ke arah positif. Namun tidaklah mudah bagi seorang calon konselor untuk menangkap dan memahami perasaan dan pikiran serta pengalaman, lalu mengungkapkannya kembali kepada klien dengan bahasa calon konselor sendiri.Karena itu seorang calon konselof haruslah dilatih secara terus menerus dan bertahap mengenai keterampilan refleksi ini.

Latihan Latihan refleksi bertujuan untuk memberikan kemampuan dai? keterampilan kepada calon konselor agar dia dapat merefleksikan perasaam pikiran, dan pengalaman klien melalui pengamatan perilaku verbal dari nonverbal.

Refleksi adalah keterampilan pembimbingan atau konselor untuk menuturkan kembali kepada klien tentang persaan, pikiran dan pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan nonverbalnya.Refleksi ada tiga macam yaitu:

1) refleksi perasaan, yaitu keterampilan konselor untuk dapat memantulkan (merefleksikan) perasaan klien sebagai hasil pengamatan verbal dan nonverbal terhadap klien2) refleksi pikiran yaitu keterampilan pembimbing atau konselor untuk memantulkan ide, pikiran pendapat klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan nonverbal terhadap klien,3) refleksi pengalaman yaitu keterampilan pembimbing atau konselr untuk merefleksikan penglaman-pengalaman klien terhadap hasil pengamatan perilaku verbal nonverbal klien.Secara lebih sederhana.refleksi dapat didefenisikan sebagai upaya konselor memperoleh informasi lebih mendalam tentang apa yang dirasakan oleh klien dengan cara memantulkan kembali perasaan. pikiran, dan pengalaman klien. Dalam hal ini.seorang konselor dituntut untuk menjadi pendengar yang aktif.

Hal senada juga diungkapkan oleh Bolton (2003) yang mengatakan bahwa mendengar adalah lebih dari hanya mendengar saja. Lebih khusus ia mengatakan dalam proses mendengarkan terdapat unsur menyimak. yang berarti konselor harus memerhatikan sungguh-sungguh pesan yang disampaikan oleh klien. Ada tiga jenis refleksi yaitu:

1) Reflecting feelings (Merefleksi Perasaan)

Pada refleksi perasaan, konselor mencerminkan kembali perasaan yang disampaikan oleh klien.

Contoh:Klien :Saya begitu yakin akan menamatkan sekolah pada usia sekarang. Tetapi saya gagal menyelesaikannya.Saya merasa bodoh.Konselor : jadi, kegagalan itulah yang menyebabkab Anda merasa bodoh?

2) Reflecting meaningsApabila perasaan dan fakta dicampurkan dalam suatu respons yang akurat, hal inilah disebut sebagai refleksi makna.

Contoh:Klien :Ibu guru saya terus-menerus bertanya tentang kehidupan saya. Saya tidak ingin dia melakukan hal itu.Konselor :Anda merasa jengkel karena dia tidak merespek privasi Anda.

3) Summative reflections (Refleksi sumatif)Terjadi suatu refleksi sumatif, bila diungkapkan kembali secara singkat tema dan perasaan utama yang dieksresikan pembicara selama durasi percakapan yang lebih lama dari pada yang terliput oleh bentuk refleksi lainya.

Menurut Bolton (2002), kalimat-kalimat berikut dapat digunakan untuk memulai refleksi sumatif:“Tema yang selalu Anda ulangi seperti adalah …”“Marilah kita melakukan rekapitulasi dari apa yang Sudah kita bicarakan sejauh ini "Saya memikirkan apa yang Anda katakan, Saya malihat suatu pola dan saya ingin mengeceknya.

Ciri-ciri respons refleksi adalah:

a. Tidak menilai (nonjudgmental).b. Refleksi akurat dari apa yang dialami oleh pihak yang lain.c. Ringkasd. Kadang-kadang lebih banyak/dalam dan pada kata-kata yang terucap.

 

D. Eksplorasi

Istilah eksplorasi bisa berarti penelusuran atau pengalian. Ketampilan eksplorasi adalah suatu ketrampilan konselor untuk menggali perasaan, pikiran, dan pengalaman klien.Ketrampilan ini penting karena dalam konseling terkadang klien menyimpan rahasia, menutup diri, dan diam seribu bahasa atau tidak mampu mengemukakan pendapatnnya secara terus terang. Melalui ketramppilan ini, akan memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut, tertekan, dan terancam.Eksplorasi ada tiga macam: yaitu

1) eksplorasi perasaan, yaitu ketrampilan konselor untuk menggali perasaan klien yang tersimpan.2) eksplorasi, pikiran, yaitu ketrampilan atau kemampuan konselor untuk menggali ide, pikiran dan pendapat klien.3) eksplorasi pengalaman, yaitu pengalaman konselor untuk menggali pengalaman-pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan nonverbal klien.Sering klien sulit untuk mengungkapkan perasaan, pikiran.dan pengalamannya kepada konselor karena merasa malu, takut, segan, curiga, tertutup, dan berbagai ganjalan lain. Perlu diingat bahwa faktor budaya sebagai bangsa bekas terjajah banyak anggota masyarakat yang kurang berani bicara terbuka untuk mengeluarkan isi hati dan perasaannya terhadap orang lain termasuk keluarga sendiri.

Disamping itu kepemimpinan yang otoriter di masyarakat, keluarga, dan sekolah membuat seorang merasa takut dan malu jika akan menyatakan pendapat atau perasaan sendiri, apalagi terhadap penguasa. Hubungan konseling seharusnya dapat mengatasi semua kendala di atas.Yaitu berupaya untuk membuat kliennya terbuka, merasa aman, dan berpartisipasi didalam dialog.Salah satu upaya konseling adalah menggunakan teknik eksplorasi yaitu upaya untuk membuat klien mengatakan semua perasaan, pikiran.dan pengalaman kepada konselor secara jujur.

Teknik eksplorasi memungkinkan klien untuk bebas berbicara tanpa rasa takut.tertekan. dan terancam. Sebagaimana refleksi.eksplorasi ada tiga jenis:

1) Eksplorasi Perasaan

EksPlorasi perasaan.yaitu keterampilan untuk menggali perasaan klien yang tersimpan. Konselor dapat menggunakan kalimat-kalimat berikut ini untuk memulai keteramgzoilan eksplorasi perasaan.

-“Bisakah Saudara menjelaskan bagaimana perasaan bingung yang Anda maksudkan?“-"Saya kira.rasa sedih Anda begitu dalam pada peristiwa tersebut. Dapatkah Anda kemukakan perasaan Anda lebih jauh?“

2) Eksplorasi Pengalaman

Eksplorasi pengalaman yaitu keterampilan konselor untuk menggali pengalaman yang dialami oleh klien.

Contoh:-"Saya terkesan dengan pengalaman yang Anda lalui.Namun saya ingin memahami lebih jauh tentang pengalaman tersebut dan pev ngaruhnya terhadap pendidikan Anda.”

3) Eksplorasi Pikiran

Eksplorasi pikiran adalah keterampilan konselor untuk menggali ide.pikiran, dan pendapat klien. Dalam mengoperasikan keterampilan ini konselor dapat menggunakan kalimat berikut ini.

-''Saya yakin Anda dapat menjelaskan lebih jauh tentang apapendapat Anda tentang hadirnya ibu tiri dalam rumah Anda."Saya kira.pendapat Anda mengenai hal itu sangat baik M dapatkah Anda menguraikannya lebih lanjut."

 

E. Menangkap Pesan Utama

Sering terjadi klien sulit mengarahkan pembicaraan dan l'nenekankan tentang pokok-pokok permasalahannya.Hal ini karena dia terlampau emosional atau memang kurang pengetahuan bagaimana memecahkan persoalan sendiri. Untuk mengatasi hal ini perlu ada upaya konselor agar inti pembicaraan klien bisa ditangkap dan dibahasakan dengan sederhana serta mudah dimengerti oleh klien.Karena itu calon konselor perlu dilatih untuk menangkap pesan utama klien atau disebut juga teknik paraphrasing.

Hal ini sangat pentingdan diperlukan karena terkadang klien mengemukakan perasaan.pikiran dan pengalamannya secara berbelit-belit, berputar-putar, atau terlalu panjang. Intinya adalah konselor dapat menyampaikan kembali inti pernyataan klien secara lebih sederhana.

Pada dasarnya ada empat tujuan utama dari teknik pamphrasing. yaitu:

1) Untuk mengatakan kembali kepada klien bahwa konselor benama dia, dan berusaha untuk memahami apa yang dikatakan klien.2) Mengendapkan apa yang dikemukakan klien secara lebih ringkas.3) Memberikan arah wawancara konseling.4) Pengecekan kembali persepsi konselor tentang apa yang dikemukakan klien.

Contoh:“Adakah yang Anda maksudkan adalah bahwa …"“Nampaknya yang Anda katakan adalah ...'

 

F. Bertanya Membuka Percakapan

Keterampilan bertanya adalah suatu kemampuan pembimbing atau konselor mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada sesi konseling.Keterampilan ini penting dimilki oleh setiap konselor. Tanpa keterampilan ini, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan konselor mugkin tidak dipahami klien sehingga ia tidak bisa menjawab (diam). Tanpa keterampilan ini konselor, juga akan mengalami kesulitan membuka sesi konseling.

Keterampilan bertanya ada dua macam yaitu:

1. Keterampilan bertanya terbuka open qui.

Pada keterampilan bertanya terbuka, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka dan klien bebas menjawabnya.

2. Keterampilan bertanya tertutup. Pada keterampilan bertanya tertutup, pertanyaan yang diajukan konselor kepada klien mengandung jawaban yang singkat dari klienPentanyaan-pertanyaan terbuka (open question) sangat diperluktn untuk memunculkan pernyataan-pernyataan baru dari klien. Untuk memulai bertanya sebaiknya jangan menggunakan kata “mengapa' dan “apa sebabnya”. Sebaiknya gunakanlah kata-kata berikut untuk mengawali pertanyaan: apakah, bagaimana, adakah. bolehkah, atu! dapatkah.

Contoh:“Bagaimana perasaan Ibu ketika melihat dia benar-benar kecanduan obat terlarang itu”“Usaha apa yang telah ibu lakukan untuk mengatasi keterangan pada obat terlarang itu?”

 

G. Dorongan Minimal

Klien sering tersendat dalam mengungkapkan emosinya.Hal ini disebabkan rasa tertekan yang kuat.Untuk memudahkan emosi itu keluar, maka teknik memberi dorongan minimal dapat dipergunakan oleh konselor.

Tujuan Latihan Agar calon konselor berlatih menggunakan dorongan minimal dalam rangka memperlancar ucapan-ucapan klien.Menggunakan teknik arrending agar klien lebih mudah berbicara. Upaya utama seorang konselor adalah agar klieannya selalu terlibat dalam pembicaraan dan membuka dirinya (self-disclosing) pada konselor.

Dorongan ini di ucapkan dengan kata-kata singkat seperti oh…ya…terus…lalu…dan… tujuannya adalah membuat klien semakin semangat untuk menyampaikan masalahnya dan mengarahkan pembicaraanagar mencapai sasaran dan tujuan konseling.

 

H. Interpretasi

Keterampilan interpretasi merupakan upaya konselor mengulas pikiran, perasaan, dan pengalaman klien dengan merujuk kepada teori-teori.Sifat-sifat subjektif tidak boleh dimasukan kedalam interpretasi. Untuk menentukan alternatif pilihan dalam mengambil kePutusan, seorang klien sering kebingungan karena kurangnya rujukan atau referensi.Karena itu konselor yang profesional harus menjadi rulukan klien.

Salah satu upaya untuk memudahkan klien merujuk kepada teori “Tita“ pemahaman yang ilmiah adalah dengan menggunakan teknik mterln'etasi. Yaitu konselor mengulas atau menafsirkan pemikiran.Perasaan dan pengalaman klien secara objektif, ilmiah dan atas dasar teori”tenri.Tentu menginterpretasi itu tidak mudah terutama bagi konselor Pemula karena dibutuhkan landasan-landasan teoritis.

 

I. Mengarahkan

Directing adalah kemampuan konselor mengajak dan mengarahkan klien untuk berpartisipasi secara penuh dalam proses konseling. Melalui keterampilan ini, konselor mengajak klien agar berbuat sesuatu atau mengarahkan agar berbuat sesuatu. Kemampuan mengarahkan klien juga menjadi poin penting dalam teknik konseling. Konselor harus memiliki kemampuan ini agar dapat mengajak klien berpartisipasi secara penuh dalam proses konseling. Inti dari tujuan tersebut adalah agar klien bersedia melakukan sesuatu, misalnya menyuruh klien untuk bermain peran dengan konselor, atau mengkhayalkan sesuatu.

Adalah suatu keterampilan konseling yang mengatakan kepada klien agar dia berbuat sesuatu. Sering klien kurang mampu melakukan sesuatu tanpa petunjuk orang lain. Hal ini karena faktor emosional, kurang konsentrasi, atau terlalu banyak ngawur sehingga menyimpang dari pokok pembicaraan.Mengarahkan (directing) merupakan teknik konseling yang akan membuat klien terarah kepada tujuan konseling.

Tujuan latihan Melatih calon konselor agar bisa mengajak/mengarahkan klien dengan sikap attending untuk mampu berbuat sesuatu.Agar calon konselor mampu menyusun kalimat-kalimat yang bernada mengajak atau mengarahkan dengan halus sehingga klien terasa tersugesti untuk berbuat sesuai arahan konselor itu.

 

J. Menyimpulkan Sementara

Keterempilan menyimpilkan sementara adalah suatu kemampuan konselor bersama klien untuk menyampaikan kemajuan hasil pembicaraan, mempertajam atau memperjelas focus wawanvara konseling.

Tujuan keterampilan ini adalah untuk melihat kemajuan wawancara konseling pada setiap tahapannya. Selain itu juga bertujuan untuk:

1. Memberikan kesempatan kepada klien untuk melakukan feed back dari hal-hal yang dibicarakan.

2. Menyimpulkan kemajuan hasil pembicaraan secara bertahap

3. Untuk meningkatkan kualitas diskusi

4. Mempertajam atau memperjelas focus pada wawancara konseling.

Dalam suatu diskusi dengan klien sering banyak butir yang muncul. Sehingga kadang-kadang menyulitkan klien untuk menarik makna dari sana. Karena itu konselor harus mampu membuat kesimpulan sementara bersama klien agar mempertajam masalah.meningkatkan kualitas diskusi, maju ke taraf selanjutnya kearah tujuan, menyimpulkan hal-hal yang dibicarakan, dan klien memperoleh kilas balik dari hasil pembicaraan sehingga dia tahu bahwa konseling makin maju.

Tujuan latihan -Agar calon konselor terlatih membuat kesimpulan-kesimpulan dalam suatu diskusi dengan melibatkan klien. Agar calon konselor mampu menyusun kalimat ajakan terhadap klien untuk membuat kesimpulan sementara dari hasil diskusi.

 

K. Konfrontasi

Adalah suatu teknik konseling yang menantang klien untuk melihat adanya diskrepansi atau inkonsistesi antara perkataan dan bahasa badan (perbuatan), ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan, dan sebagainya.

Adapun tujuan teknik ini adalah untuk:

(1) mendorong klien mengadakan penelitian diri secara jujur, (2) meningkatkan potensi klien, (3) membawa klien kepada kesadaran adanya diskrepansi, konlik, atau kontradiksi dalam diri.

Namun seorang konselor harus melakukan dengan teliti yaitu dengan:

(1) member komentar khusus terhadap klien yang tidak konsisten dengan cara tepat waktu, (2) tidak menilai apalagi menyalahkan, (3) dan dilakukan dengan perilaku ettending dan empati.

Contoh:Klien : “sebenarnya dia tidak menyakiti saya (wajah murung, tangan digenggam, ekspresi sedih).”Konselor : “anda mengatakan bahwa dia tidak menyakiti anda, tapi mengapa saya melihat wajah anda begitu sedih ketika mengatakan itu?”

1. Rasional

Kadang-kadang klien tidak konsisten dalam kata dan perbuatannya, atau dengan bahasa umum tidak konsisten antara aspek verbal dengan nonverbal. Atau terjadi perbedaan antara ucapan pertama dengan berikutnya dalam hal yang sama.Untuk mengatasi hal ini, konselor harus menguasai teknik konfrontasi agar klien dibantu supaya kembali konsisten. Mungkin diskrepansi itu disebabkan karena kelupaan, kesengajaan, atau karena faktor emosional.

2. Tujuan Latihan

a. Agar calon konselor mempunyai daya kritis terhadap faktor diskrepansi atau inkonsistensi dari diri klienb. Agar calon konselor mampu membuat kalimat-kalimat konfrontasi yang baik dan dengan sikap attending

3. Materi Latihan

a. Latihan kritis terhadap sikap diskrepansi klien dan dengan bersikap attending terhadapnya.b. Latihan menyusun kalimat-kalimat konfrontasi.

Contoh:(1) “Apakah saudara merasa bahwa apa yang anda katakan berbeda dengan perasaan anda?”(2) “Saya memperhatikan bahwa anda mengatakan rela, namun di muka saudara terlihat kekecewaan. Apakah anda merasakannya?”

 

L. Fokus

1. Rasional

Klien yang sudah terlihat dan terbuka dalam proses konseling sering bicaranya menyimpang dari pokok pembicaraan. Hal ini disebabkan oleh keadaan emosional, kurang konsentrasi, atau terlalu bersemangat.

Dalam keadaan demikian, seorang konselor harus membantu kliennya agar memusatkan perhatiannya pada pokok pembicaraan. Upaya konselor ini dapat terlaksana jika menggunakan teknik memfokuskan pembicaraan.

2. Tujuan Latihan

a. Agar calon konselor mampu menangkap keadaan klien yang berbicara sudah menyimpang dari pokok pembicaraan.b. Agar calon konselor mampu menyusun kalimat yang memberikan dorongan supaya klien memfokuskan pembicaraannya.

3. Materi Latihan

a. Melatih calon konselor menangkap keadaan klien yang berbicara sudah menyimpang dari pokok pembicaraan. Sehingga calon konselor perlu meneliti fokus mana yang penting untuk dikemukakan apakah tentang materi/topik, diri klien, orang lain, atau fokus pada budayanya.b. Latihan menyusun kalimat yang membantu agar klien dapat memfokuskan pembicaraannya.

Contoh:K1: “Saya menjadi agak pesimis dengan cita-cita saya. Hambatan datang di sana-sini. Tapi dukungan wali kelas cukup saya hargai. Namun saya kecewa sekali dengan ayah saya.”Ko 1: “Bagaimana dengan ayah saudara. Bisa diceritakan hubungan anda dengan dia?” (fokus pada orang lain)Ko 2: “Apakah yang anda maksud dengan hambatan itu?” (fokus pada topik)Ko 3: “Saya memahami perasaan anda. Seberapa jauh anda pesimis?” (fokus pada diri klien)

4. Prosedur Latihan

a. Membentuk pasangan-pasangan peserta yang berperan sebagai konselor dan klien. Dibantu oleh tiga pengamat.b. Mempelajari materi yang telah disiapkan pembimbing dan yang sengaja disusun oleh peserta sendiric. Mendiskusikan hasil latihan dengan masukan dari pengamat, peserta, dan pembimbing. Termasuk memberi penilaian.

BERSAMBUNG... 

 

Posted in MATERI KULIAH BK
Leave a Reply


Name


Website


Comment


Captcha