MATODUWOLO

Matoduwolo adalah pemberian pelayanan kepada sivitas akademika UNG dan masyarakat yang ingin mengetahui informasi terkait kegeologian. Program Matoduwolo adalah program di Lab Teknik Geologi “John Ario Katili”, Prodi Teknik Geologi, Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian, FMIPA UNG. Subprogram dari kegiatan Matoduwolo adalah Gemstone Corner yaitu pemberian pelayanan kepada pengunjung yang ingin mengetahui informasi makroskopis dan mikroskopis mineral dan batuan. Program Matuduwolo dan Gemstone Corner diusulkan oleh Kepala Lab Teknik Geologi (Intan Noviantari Manyoe, S.Si., M.T) dan mendapat dukungan besar dari Dekan Fakultas MIPA (Prof. Dr. Evi Hulukati, M.Pd) dan Ketua Jurusan Ilmu dan Teknologi Kebumian (Dr. Sunarty Eraku, M.Pd).

Gambar 1. Kunjungan wartawan media cetak (Gorontalo Post) dan elektronik (TVRI, Trans TV, dan TV One) di Lab Teknik Geologi UNG
Lab Teknik Geologi telah menerima banyak pengunjung dari lingkungan Universitas Negeri Gorontalo maupun masyarakat yang +selengkapnya

Prediksi Curah Hujan Menggunakan Metode Logika Fuzzy

PENDAHULUAN
Unsur iklim yang sering dan menarik untuk dikaji di Indonesia adalah curah hujan, karena tidak semua wilayah Indonesia mempunyai pola hujan yang sama. Diantaranya ada yang mempunyai pola munsonal, ekuatorial dan lokal. Pola hujan tersebut dapat diuraikan berdasarkan pola masing-masing. Distribusi hujan bulanan dengan pola monsun adalah adanya satu kali hujan minimum.
Perubahan frekuensi curah hujan oleh komponen termodinamika dan dinamis. Komponen termodinamika diinduksi oleh perubahan uap air di atmosfer, sedangkan komponen dinamis dikaitkan dengan perubahan gerak vertikal. Dalam kontribusi termodinamika, peningkatan uap air mengurangi besarnya gerak vertikal yang diperlukan untuk menghasilkan kekuatan yang relatif sama dengan curah hujan, sehingga frekuensi curah hujan meningkat. Peningkatan uap air juga mengintensifkan curah hujan akibat peningkatan ketersediaan uap air di atmosfer. Dalam kontribusi dinamis, kondisi lebih stabil dan cenderung mengurangi frekuensi dan intensitas +selengkapnya

Kembangkan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA)

Posted on 21/04/2018 by Nurrijal
Dalam rangka mewujudkan visi pendidikan tinggi yang bermutu serta kemampuan IPTEK dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa, sejak tahun 2014 s/d 2015 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Pembelajaran melakukan rintisan penerapan pembelajaran online melalui program Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT). Seiring dengan perkembangannya, dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018, Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT) mengganti namanya menjadi Sistem Pembelajaran Daring Indonesia atau yang dikenal dengan SPADA Indonesia. Pada tahun ini, SPADA Indonesia akan menambah jumlah mata kuliah daring sebanyak 127 paket.
Menanggapi tantangan ke depan, FMIPA UNG selalu berusaha untuk mempersiapkan tenaga pendidik yang berkualifikasi dan memiliki komitmen terhadap perkembangan dunia pendidikan dengan mengedepankan pengembangan inovasi pembelajaran demi peningkatan kualitas dan output Program Studi di lingkunganFakultas MIPA UNG.Terwujudnya +selengkapnya

Review Simulasi Hidrologi Dengan Menggunakan Model SWAT Dalam Beberapa Penelitian

PENDAHULUAN
SWAT adalah model komprehensif yang memerlukan keragaman informasi dalam menjalankan. Pengguna pemula mungkin merasa sedikit kewalahan oleh keragaman dan jumlah input ketika pertama kali mulai menggunakan model. Namun, ada beberapa dari input yang digunakan untuk mensimulasikan khusus untuk beberapa daerah aliran sungai (DAS) dan tidak digunakan pada daerah aliran sungai (DAS) yang lain Neitsch et al (2002). Sehingga model SWAT dapat dikatakan sebagai model konseptual, hal ini sesuai pendapat yang diungkapkan oleh Ibbitt dan O’Donnel (t.t) bahwa masalah utama yang terkait dengan penggunaan model konseptual yang di bangun hanya cocok untuk suatu DAS tertentu, model konseptual bertolak balakang dengan model matematika, dimana model matematika dapat mensimulasikan respon dari catchment hingga curah hujan dan kejadian meteorologi lainnya memiliki beberapa tingkat realisme fisik Manley (t.t), hal ini berlaku untuk model yang mencakup satu atau lebih dari daerah aliran sungai +selengkapnya

Karakteristik Model HBV

Model konseptual berdasarkan konsep Model HBV disajikan untuk tujuan hidrologi Model HBV dipilih terutama karena pendekatan konseptual di mana proses hidrologi yang disederhanakan untuk algebraic fungsi dan dengan demikian, perhitungan yang diperlukan dapat dengan mudah dilakukan di Excel spreadsheet. Model HBV pada awalnya dikembangkan oleh bagian water balance dari Swedish Meteorological and Hydrological Institute (SMHI) untuk memprediksi aliran air yang masuk pada tahun 1970. Model HBV tersedia sebagai suatu model dalam berbagai versi yang bervariasi. HBV dapat digunakan sebagai suatu distribusi atau model semi-distribusi dengan membagi DAS ke sub-DAS. Dalam model HBV, diasumsikan bahwa daerah kajian (DAS) adalah satu unit tunggal (zona) dan parameter tidak berubah secara spasial di seluruh DAS. Model HBV terdiri dari empat parameter utama: 1) akumulasi curah hujan, 2) kelembaban tanah dan presipitasi efektif, 3) evapotranspirasi, 4) runoff.
Model ini memiliki sejumlah parameter, yang +selengkapnya
About
Planet Blog adalah jendela untuk melihat kegiatan dan aktifitas dosen Universitas Negeri Gorontalo.