1. PENDAHULUAN

Sejak awal tahun 2000-an, Provinsi Gorontalo telah memantapkan posisinya sebagai salah satu lumbung jagung nasional strategis melalui implementasi kebijakan program agropolitan (Nurdin, 2011). Kendati kebijakan berbasis komoditas jagung ini berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah secara signifikan, capaian tersebut menyisakan persoalan ekologis yang mendalam di tingkat tapak. Di balik target produksi yang fluktuatif, kebijakan pembangunan sering kali mengabaikan ancaman degradasi lingkungan akibat alih fungsi lahan hulu secara masif. Ekspansi budidaya jagung monokultur meluas tanpa kendali, bahkan merambah wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto yang didominasi oleh topografi dengan lereng curam (Syam et al., 2019).

Akumulasi kerusakan ekosistem di wilayah hulu ini mencapai titik kritis ketika bencana banjir bandang melanda Provinsi Gorontalo pada periode Juni–Juli 2024, yang kemudian tercatat sebagai bencana hidrometeorologi terparah dalam sejarah modern provinsi tersebut. Berdasarkan laporan data sektoral dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam Bahua (2024), wilayah perkotaan mencatat luapan air merendam enam dari sembilan kecamatan di Kota Gorontalo dan berdampak langsung pada 12.487 warga. Dampak yang lebih masif terjadi di wilayah agraris Kabupaten Gorontalo, di mana sebanyak 19.513 jiwa di lima kecamatan terdampak langsung, diiringi satu korban jiwa, kerusakan ribuan unit rumah tinggal, serta kehancuran vegetasi pertanian komoditas semusim seluas 2.765 hektar akibat terjangan material banjir (Bahua, 2024).

 

 

Secara dinamika hidrologi, penyebab instan dari bencana ini dipicu oleh luapan debit puncak dari Sungai Bone, Sungai Bolango, dan Sungai Moloupo, yang diperparah oleh fenomena backwater (aliran balik) akibat keterbatasan kapasitas tampung Danau Limboto (Purnomo dkk., 2021). Walau demikian, tinjauan komprehensif mengindikasikan bahwa akar permasalahan bencana ini bersifat struktural dan antropogenik. Praktik budidaya tanaman semusim khususnya jagung tanpa terasering di lahan miring—telah merusak fungsi tata air (sponge effect) hulu DAS Limboto secara sistemis selama dua dekade terakhir. Ketiadaan tutupan vegetasi permanen mengakibatkan penurunan infiltrasi tanah dan mempercepat laju run-off serta erosi permukaan (Tarigan, 2016).

Berdasarkan latar belakang empiris tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengalisis secara ilmiah korelasi kausalitas antara pola tanam monokultur komoditas semusim di lahan miring terhadap eskalasi intensitas banjir bandang di DAS Limboto. Hasil kajian ini diharapkan mampu memberikan justifikasi teoretis dan saintifik dalam merumuskan kebijakan tata ruang serta pengelolaan lahan hulu yang berbasis mitigasi bencana dan berkelanjutan.

2. KONDISI FISIK DAN HIDROLOGIS DAS LIMBOTO

2.1 Profil DAS Limboto

Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto merupakan kesatuan ekosistem hidrologi strategis yang melintasi wilayah administratif Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo. Cakupan total luasan DAS ini mencapai 90.029 hektar, dengan fakta krusial bahwa seluas 39.203 hektar di antaranya saat ini telah dikategorikan ke dalam status lahan kritis (BPDAS-HL Bone Bolango dalam Cahyono dkk., 2025). Secara morfologi, wilayah hulu DAS Limboto dicirikan oleh karakteristik topografi berbukit hingga bergelombang tajam, dengan dominasi tingkat kemiringan lereng berkisar antara 15% hingga 40% (Surono, 2018). Jaringan hidrologi di kawasan ini berhulu di pegunungan, lalu mengalir dan bermuara ke Danau Limboto, sebelum akhirnya dilepaskan menuju Teluk Tomini melalui sistem Sungai Bone.

Danau Limboto secara alamiah berfungsi sebagai regulator hidrologi utama, bertindak selaku reservoir penampung air alami sekaligus benteng pengendali banjir bagi dataran rendah di wilayah urban Kota Gorontalo (Hasim et al., 2017). Kendati demikian, ekosistem perairan darat ini sedang berada dalam kondisi krisis ekologis yang sangat mengkhawatirkan. Kapasitas retensi dan volume tampung efektif danau mengalami penyusutan drastis akibat akumulasi sedimentasi masif yang dipasok oleh 23 anak sungai (inlet) utama (Project, 2024). Kompleksitas permasalahan di Danau Limboto tidak hanya terbatas pada tingginya laju pendangkalan, melainkan juga mencakup penurunan kualitas air secara kimia-fisika, meluasnya lahan kritis di sekitar koridor tangkapan air, serta lemahnya instrumen pengawasan pemanfaatan ruang di lapangan. Desakan krisis ekologis terintegrasi inilah yang mendasari pemerintah pusat untuk menetapkannya sebagai salah satu danau super prioritas nasional melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional (Kompas, 2024; Sekretariat Negara, 2021).

2.2 Perubahan Tutupan Lahan 2015–2024

Analisis temporal terhadap dinamika spasial di DAS Limboto sepanjang periode 2015–2024 mengonfirmasi terjadinya pergeseran penggunaan lahan yang sangat signifikan. Kawasan yang semula didominasi oleh vegetasi hutan alam dan semak belukar mengalami konversi besar-besaran menjadi zona agraris dan kawasan permukiman. Aktivitas antropogenik ini menempatkan komoditas jagung, kelapa, serta sistem perkebunan campuran sebagai bentuk pemanfaatan ruang yang paling dominan di sebagian besar lanskap DAS, sekaligus mencerminkan tingginya tekanan komparatif sektor pertanian terhadap tutupan hijau alami (Cahyono dkk., 2025). Alih fungsi lahan yang tidak terkendali ini terutama pada wilayah hulu secara langsung mengganggu stabilitas siklus hidrologi di dalam Daerah Tangkapan Air (DTA). Implikasi biofisik yang ditimbulkan meliputi eskalasi laju erosi tanah pada lahan budidaya, percepatan sedimentasi koridor sungai, serta degradasi kapasitas retensi air permukaan (Prasetyo et al., 2020).

Secara makro, tren kehilangan tutupan pohon di tingkat regional terdokumentasi dengan sangat mengkhawatirkan. Data dari Global Forest Watch mengindikasikan bahwa Provinsi Gorontalo telah kehilangan sekitar 140.000 hektar tutupan pohon dalam kurun waktu antara tahun 2001 hingga 2023. Sejalan dengan temuan tersebut, Forest Watch Indonesia (FWI, 2024) melaporkan deforestasi seluas 33.492,76 hektar sepanjang periode 2017–2021 yang didorong oleh legalitas konsesi pertambangan serta ekspansi perkebunan skala besar. Di sisi lain, pembukaan lahan untuk sektor informal dan komoditas rakyat juga memegang andil besar. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Gorontalo (2024) secara tegas mengkritik pembiaran regulasi terhadap deforestasi akibat pembukaan lahan jagung monokultur yang masif di wilayah hulu. Praktik pembersihan lahan secara total (clear cutting) demi penanaman komoditas semusim ini dinilai mengabaikan prinsip daya dukung lingkungan dan menjadi pemicu struktural utama di balik eskalasi bencana banjir bandang di wilayah hilir (Walhi Gorontalo, 2024).

3. POLA TANAM KOMODITAS SEMUSIM PADA LAHAN MIRING

3.1 Dominasi Jagung Monokultur di Kawasan Hulu

Arah kebijakan pembangunan agropolitan berbasis komoditas jagung di Provinsi Gorontalo berdampak langsung pada perluasan wilayah tanam secara eksponensial. Ekspansi agraris ini merambah hingga ke zona tangkapan air di hulu DAS Limboto, sebuah kawasan yang secara biofisik didominasi oleh topografi berbukit dengan konfigurasi lereng yang curam. Potret nyata dari fenomena transisi lanskap ini terdokumentasi dalam studi kasus di Desa Saritani, yang merepresentasikan karakteristik wilayah hulu di Gorontalo. Riset tersebut mengungkap bahwa luas bukaan lahan untuk budidaya jagung melonjak drastis dari 348,30 hektar pada tahun 2013 menjadi 1.138,39 hektar pada tahun 2022; sebuah eskalasi luas spasial yang mencapai 300% hanya dalam kurun waktu satu dekade (Mamangkay dkk., 2023).

Secara agronomi, aktivitas budidaya tanaman semusim seperti jagung pada lahan dengan kemiringan tinggi menyimpan risiko geo-ekologis yang destruktif. Ketiadaan sistem perakaran dalam yang kuat untuk mengikat agregat tanah menyebabkan kawasan ini rentan terhadap bahaya erosi dan kehilangan lapisan topsoil, yang pada gilirannya mendegradasi tingkat kesuburan tanah secara progresif (Mamangkay dkk., 2023). Krisis ini kian terakselerasi oleh maraknya aktivitas pembersihan lahan ilegal (illegal clearing) yang areanya telah mengokupasi batas terluar kawasan konservasi Suaka Margasatwa Nantu. Kondisi tata guna lahan yang hanya dipisahkan oleh koridor sungai ini menjadi indikator kuat bahwa deforestasi struktural telah mengintrusi zona perlindungan inti di hulu DAS (Walhi Gorontalo, 2024).

 

Sejalan dengan kondisi tersebut, kajian dalam Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia menegaskan bahwa faktor topografi—khususnya derajat kemiringan lereng—memiliki korelasi positif yang linear dalam mempercepat laju pencucian tanah (soil detachment). Pada domain lereng yang curam, energi kinetik dari limpasan air permukaan bergerak dengan kecepatan tinggi, sehingga meningkatkan daya kikis terhadap partikel tanah (Mado & Firmansyah, 2024). Praktik penanaman jagung monokultur yang dieksploitasi di atas karakteristik biofisik ekstrem seperti ini, ditambah dengan minimnya implementasi teknik konservasi tanah dan air yang memadai (seperti pembuatan terasering atau rorak), menjadi determinan utama yang menggerakkan roda erosi masif dan sedimentasi katastrofik di sepanjang sistem hidrologi DAS Limboto.

3.2 Dampak Hidrologis: Aliran Permukaan dan Erosi

Secara teoritis, kegagalan fungsi hidrologi suatu DAS dalam mengontrol debit air dipicu oleh ketidakmampuan sistem bentang alam tersebut untuk menampung, meretensi, serta mendistribusikan curah hujan secara proporsional. Dinamika alih fungsi lahan yang dikombinasikan dengan intensitas hujan ekstrem memiliki kecenderungan kuat untuk meningkatkan volume limpasan permukaan secara drastis. Faktor ini diperparah oleh fenomena pemadatan mekanis struktur tanah akibat aktivitas budidaya intensif yang mereduksi kapasitas infiltrasi air ke dalam profil tanah secara signifikan (Indrayati dkk., 2018). Pada domain lahan dengan topografi miring, kegagalan infiltrasi ini menyebabkan energi kinetik air hujan langsung dikonversi menjadi aliran permukaan bebas (overland flow) yang memicu erosi lembar (sheet erosion) hingga erosi parit (gully erosion). Proses ini mengangkut material sedimen tanah serta serasah organik, yang pada akhirnya mengendap dan mendangkalkan dasar saluran drainase alami maupun badan sungai di hilir (Asdak, 2010).

Pergeseran karakteristik bencana hidrologi—dari yang semula hanya berupa genangan air periodik (inundation) menjadi banjir bandang yang destruktif (flash flood)—menjadi indikator kuat telah terjadinya degradasi struktural dalam pengelolaan tata air di dalam sistem DAS. Transformasi tutupan lahan dari vegetasi permanen menjadi lahan pertanian semusim merupakan determinan utama yang menurunkan indeks kualitas DAS, yang secara langsung berimplikasi pada lonjakan debit puncak (peak discharge) aliran permukaan serta perpendekan waktu mencapai debit puncak (time to peak) saat terjadi hujan (Indrayati dkk., 2020). Di lingkup DAS Limboto, anomali respon hidrologi akibat kerusakan ekosistem hulu ini terkonfirmasi secara empiris pada peristiwa bencana banjir bandang katastrofik yang terjadi pada periode Juli 2024, di mana wilayah hilir harus menerima limpasan volume air permukaan yang melampaui ambang batas daya tampung wilayah.

3.3 Akselerasi Sedimentasi Danau Limboto

Akumulasi material sedimen yang dibawa oleh aliran air dari 23 anak sungai pemasuk (inlet) secara terus-menerus mengendap di dasar danau, sehingga mengakibatkan akselerasi pendangkalan yang drastis. Fenomena pendangkalan ini secara langsung mendegradasi kapasitas tampung efektif Danau Limboto dalam memosisikan dirinya sebagai zona penyangga hidrologi (buffer zone) yang berfungsi mereduksi risiko banjir di wilayah hilir (Project, 2024). Tekanan antropogenik berupa pertumbuhan jumlah penduduk yang disertai dengan konversi tata guna lahan yang tidak terkendali—khususnya transformasi kawasan hutan lindung menjadi areal pertanian semusim—telah memperparah laju erosi pada zona tangkapan air di sekitarnya (Syam et al., 2019).

Hilangnya vegetasi tutupan hutan secara permanen mengeliminasi fungsi perlindungan kanopi dan serasah terhadap agregat tanah dari hantaman langsung energi kinetik air hujan. Akibatnya, permukaan tanah menjadi sangat rentan terhadap proses pengikisan (detachment) dan pengangkutan (transportation). Partikel-partikel tanah yang tererosi ini kemudian tertransportasi bersama limpasan permukaan masuk ke dalam jaringan sungai, lalu mengendap secara masif di badan Danau Limboto. Proses sedimentasi yang terakselerasi ini tidak hanya mempercepat hilangnya luasan permukaan dan kedalaman danau, tetapi juga menciptakan rantai kerusakan ekologis yang menurunkan daya dukung lingkungan wilayah Gorontalo secara keseluruhan.

4.         KORELASI POLA TANAM DAN INTENSITAS BANJIR BANDANG

4.1       Faktor Pola Tanam Semusim sebagai Variabel Kunci

Tanaman semusim seperti jagung hanya memiliki fase vegetatif singkat (90–120 hari) dengan tutupan kanopi yang tidak merata sepanjang tahun. Pada masa pra-tanam dan pasca-panen, lahan terbuka lebar sehingga tanah langsung terpapar benturan tetesan hujan (rain splash erosion). Situasi ini sangat riskan pada lahan miring, di mana energi kinetik hujan secara langsung menggerus lapisan tanah atas yang kaya bahan organik serta zat pengikat agregat tanah. Di DAS Limboto di dominasi jagung monokultur tanpa rotasi tanaman atau tanaman penutup tanah (cover crop) yang memadai menjadikan lahan hulu sebagai penghasil limpasan dan sedimen dalam skala besar.

Studi tentang penggunaan lahan kering di DAS Limboto sejak 2011 sudah menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan 5%, pola tanam tumpang sari mampu mengurangi aliran permukaan dari 43% menjadi 33% dibandingkan dengan monokultur jagung (Slideshare DAS Limboto, 2011). Hal ini menegaskan bahwa pemilihan pola tanam secara langsung mempengaruhi volume aliran permukaan, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap terjadinya banjir.

4.2 Industri Ekstraktif sebagai Faktor Pengali

Di samping sektor pertanian intensif, ekspansi industri ekstraktif turut bertindak sebagai katalis yang memperberat tekanan ekologis terhadap ekosistem DAS Limboto. Berdasarkan laporan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Gorontalo (2024), aktivitas pada industri ekstraktif memberikan kontribusi yang signifikan terhadap tingginya laju deforestasi regional. Salah satu manifestasi nyata dari dampak destruktif ini adalah maraknya aktivitas pertambangan rakyat di kawasan penyangga Kabupaten Bone Bolango. Eksploitasi lahan hulu yang tidak mengindahkan kaidah konservasi tersebut pada akhirnya memicu bencana tanah longsor katastrofik pada Juli 2024 yang merenggut 26 korban jiwa. Tragedi ini menjadi bukti empiris yang menegaskan bagaimana degradasi ekosistem di wilayah hulu oleh aktivitas antropogenik dapat memicu rantai bencana yang bersifat berlapis (compounding disasters) di wilayah hilir (Inhides, 2024).

Efek Domino Ekosistem: Kerusakan mekanis akibat pertambangan di hulu tidak hanya memicu longsor lokal, tetapi juga menghasilkan material sedimen lepas dalam jumlah masif yang langsung mengalir ke jaringan sungai pemasuk Danau Limboto saat intensitas hujan tinggi.

Efektivitas kebijakan perlindungan dan penegakan hukum kehutanan di Provinsi Gorontalo masih menghadapi tantangan kelembagaan yang serius. Fenomena ini diindikasikan oleh maraknya konversi lahan ilegal untuk komoditas jagung yang telah mengintrusi batas-batas kawasan lindung, serta pelaksanaan proyek pembangunan infrastruktur yang tercatat mengonversi setidaknya 315 hektar kawasan hutan lindung (Mokodongan dkk., 2025). Deforestasi legal maupun ilegal ini secara simultan melipatgandakan pasokan sedimentasi ke wilayah hilir dan mempercepat penurunan kualitas hidrologi DAS secara sistemik. Kelemahan ini kian diperparah oleh absennya sistem pemantauan dinamika spasial yang terintegrasi dan berbasis data real-time, sehingga respons kebijakan dan mitigasi dari pihak otoritas selalu terlambat (lagging) dalam mengantisipasi kerusakan lingkungan yang sedang berjalan.

5. REKOMENDASI KEBIJAKAN

5.1 Reformasi Pola Tanam Berbasis Konservasi

Tata kelola lanskap pada wilayah DAS yang memiliki karakteristik biofisik ekstrem—seperti rerata kemiringan lereng mencapai 40% serta intensitas curah hujan tahunan yang tinggi mensyaratkan adanya transformasi radikal pada sektor hulu. Kebijakan agro-ekologi harus diarahkan untuk menggeser praktik budidaya tanaman semusim intensif menuju pengembangan vegetasi tahunan permanen, atau adopsi sistem usahatani kombinasi (agroforestri), yang diintegrasikan dengan pembangunan infrastruktur pemanenan air seperti embung konservasi. Berdasarkan cetak biru pengelolaan wilayah tersebut, intervensi teknis yang direkomendasikan secara spesifik meliputi langkah-langkah berikut (Slideshare DAS Limboto, 2011):

a.    Implementasi Sistem Agroforestri Strategis:

Mewajibkan integrasi antara tanaman jagung dengan tanaman tahunan berkayu (woody perennials) di kawasan tangkapan air hulu DAS Limboto. Pendekatan agroforestri ini secara empiris terbukti mampu mempertahankan fungsi hidrologi bentang alam melalui penguatan struktur perakaran dalam dan peningkatan intersepsi tajuk terhadap air hujan.

b.    Aplikasi Vegetasi Penutup Tanah dan Mulsa Mulia:

 

Menetapkan regulasi wajib terkait penanaman tanaman penutup tanah (cover crop) atau aplikasi mulsa organik dengan dosis minimal 4 ton/hektar pada lahan budidaya jagung yang memiliki kemiringan lereng di atas 15%. Intervensi agronomi ini terbukti secara ilmiah mampu mereduksi volume aliran permukaan hingga tersisa 3,5%, serta menekan laju erosi tanah hingga ambang batas aman sebesar 0,5 ton/hektar.

c.     Diversifikasi melalui Pola Tumpang Sari:

Mendorong peralihan dari sistem monokultur ke pola tumpang sari (intercropping) antara jagung dengan komoditas penutup barisan lainnya. Penerapan pemanfaatan ruang vertikal ini pada lahan dengan kelerengan minimal 5% teridentifikasi mampu menurunkan koefisien limpasan permukaan dari 43% menjadi 33% jika dibandingkan dengan model pertanian monokultur konvensional.

6. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, studi ini menyimpulkan bahwa praktik pola tanam komoditas semusim—khususnya sistem monokultur jagung yang dieksploitasi pada lahan miring di kawasan hulu—merupakan faktor determinan utama yang secara struktural mengeskalasi intensitas bencana banjir bandang di Provinsi Gorontalo. Secara mekanis, kontribusi kerusakan biofisik ini digerakkan oleh empat rantai kausalitas hidrologi berikut:

1.    Degradasi Kapasitas Infiltrasi: Ketiadaan strata tutupan vegetasi yang rapat dan permanen menyebabkan hilangnya kemampuan tanah dalam menyerap air curah hujan ke dalam profil tanah secara optimal.

2.    Eskalasi Koefisien Aliran Permukaan: Penurunan infiltrasi memicu lonjakan koefisien run-off, sehingga mempercepat waktu respons hidrologi DAS (time to peak) dalam merespons curah hujan ekstrem menjadi debit puncak.

3.    Erosi Lahan Intensif: Karakteristik lereng curam tanpa tindakan konservasi memicu erosi masif, yang bertindak sebagai pemasok utama material sedimen lepas ke dalam jaringan sungai penangkap air.

4.    Reduksi Kapasitas Retensi Danau: Akumulasi sedimen tersebut bermuara pada pendangkalan Danau Limboto secara progresif, yang secara drastis menyusutkan volume tampung efektif danau dalam memosisikan dirinya sebagai reservoir penyangga banjir (flood buffer zone).

Oleh karena itu, penyelesaian krisis hidrometeorologi ini membutuhkan pergeseran paradigma menuju pendekatan pengelolaan DAS terpadu yang mengintegrasikan sektor pertanian, kehutanan, tata ruang, dan mitigasi bencana secara lintas-sektoral. Dalam implementasinya, komunitas petani lokal tidak boleh diposisikan sebagai agen perusak lingkungan (biang masalah). Sebaliknya, petani harus ditempatkan sebagai mitra konservasi strategis di tingkat tapak. Peran aktif mereka perlu diakselerasi melalui pemberian insentif ekonomi yang adil (seperti skema imbal jasa lingkungan), transfer pengetahuan teknik konservasi, serta dukungan regulasi yang menjamin keseimbangan antara pemulihan ekosistem hulu DAS dan keberlanjutan kesejahteraan ekonomi masyarakat agraris di Gorontalo.

DAFTAR PUSTAKA

Asdak, C. (2010). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Edisi ke-5). Gadjah Mada University Press.

Bahua, M. I. (2024). Bencana banjir dan dampaknya pada kerusakan lahan pertanian di Provinsi Gorontalo [Laporan Sektoral Lapangan]. Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo.

Cahyono, Y. E., dkk. (2025). Analisis perubahan tutupan lahan di DAS Limboto. Jambura Riset dan Pengabdian Interdisipliner (JRPI), 2(3), 145–158.

Forest Watch Indonesia. (2024). Kebun energi IGL, proyek HTE yang mendorong deforestasi hutan Gorontalo [Briefing Paper]. Forest Watch Indonesia.

Hasim, Koniyo, Y., & Tuiyo, R. (2017). Analisis daya dukung lingkungan perairan Danau Limboto, Provinsi Gorontalo. Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan, 1(2), 72–85.

Indrayati, A., dkk. (2018). Analisis kapasitas infiltrasi dan pemadatan tanah akibat alih fungsi lahan. Jurnal Geografi: Media Informasi Pengembangan Ilmu dan Profesi Kegeografian, 15(2), 112–121.

Indrayati, A., dkk. (2020). Pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap debit puncak aliran permukaan di DAS Beringin, Jawa Tengah. Jurnal Hidrologi Indonesia, 6(1), 45–56.

Inhides. (2024). Laporan data bencana banjir Gorontalo 2024: Analisis kerugian dan dampak sosial [Laporan Teknis]. Institute for Human Development Studies.

Kompas.com. (2024, Juli). Banjir bandang Gorontalo: Belasan ribu warga terdampak, 6 kecamatan terendam. Kompas Regional.

Kompas Makassar. (2024, Juli). Danau Limboto menyusut drastis, terancam hilang akibat pendangkalan. Kompas Nusantara.

Mado, I., & Firmansyah, A. P. (2024). Pengaruh kemiringan lahan pada kesuburan tanah dan hasil jagung. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), 29(1), 88–97.

Mamangkay, J., dkk. (2023). Perubahan tutupan hutan menjadi lahan tanaman monokultur jagung di wilayah UPT SP3, Desa Saritani Kabupaten Boalemo periode 2013–2022. Jambura Edu Biosfer Journal, 5(1), 12–23.

Mokodongan, R., Katili, A. Y., Djaba, M., & Masaguni, O. S. (2025). Efektivitas kebijakan perlindungan hutan di Provinsi Gorontalo: Studi kasus PSN Bulango Ulu. Jurnal Kebijakan Publik & Ilmu Administrasi, 1(1), 32–52.

Nurdin. (2011, September). Penggunaan lahan kering di DAS Limboto [Slide Presentasi]. SlideShare. https://www.slideshare.net/slideshow/penggunaan-lahan-kering-di-das-limboto-sept-2011/250172973

Project Multatuli. (2024, Oktober). Hulu rusak, danau kritis: Merunut penyebab banjir tahunan di Gorontalo [Laporan Investigasi]. https://projectmultatuli.org/

Purnomo, H., dkk. (2021). Simulasi hidrodinamika aliran balik (backwater) sistem sungai Bone-Bolango-Limboto. Jurnal Teknik Hidraulik, 12(2), 105–118.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. (2021). Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional. Lembaran Negara RI Tahun 2021. Sekretariat Negara.

Surono. (2018). Karakteristik geomorfologi dan tingkat kemiringan lereng kawasan hulu Provinsi Gorontalo. Jurnal Sains dan Tekno Kegeografian, 3(2), 67–74.

Syam, Z., dkk. (2019). Ekspansi jagung monokultur dan dampaknya terhadap erosi tanah di Daerah Aliran Sungai (DAS) Limboto. Jurnal Agroteknologi Tropika, 8(2), 210–222.

Walhi Gorontalo. (2024). Simpul WALHI Gorontalo: Gorontalo darurat bencana.

 

Penulis :  Syenyantri N Mboto,

Editor :  Zulzain Ilahude

Kategori

  • Masih Kosong

Arsip

Blogroll

  • Masih Kosong