Pemertahanan Bahasa Bajo di Kabupaten Boalemo

20 April 2024 14:19:18 Dibaca : 265

Bahasa Bajo adalah satu di antara bahasa daerah yang ada di Provinsi Gorontalo khususnya yang terdapat di Desa Bajo Kec. Tilamuta Kab. Boalemo. Umum mata pencaharian Suku Bajo adalah nelayan tradisional. Suku Bajo pun mulai memiliki mata pencaharian bukan hanya sebagai nelayan, banyak di antara mereka yang profesi seperti guru, pedagang, petugas kesehatan, pegawai pemerintahan, dan lain lain. Dengan beragam profesi ini, berdampak pada penggunaan beragam bahasa pada masyarakat suku Bajo, namun penutur bahasa Bajo tetap memperlihatkan sikap positif sebagai upaya dalam pemertahanan bahasa Bajo. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pemertahanan bahasa Bajo di Kabupaten Boalemo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pemertahanan bahasa Bajo melalui sikap bahasa penutur bahasa Bajo di Desa Bajo Kec. Tilamuta Kab. Boalemo Provinsi Gorontalo. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah teknik angket dan wawancara. Data hasil penelitian yang diperoleh dari angket dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Berdasarkan hasil penelitian terkait penggunaan bahasa oleh masyarakat di desa Bajo, ditemukan bahwa masyarakat setempat lebih dominan menggunakan bahasa Bajo, hal ini karena masyarakat di desa Bajo tersebut mayoritas berlatar belakang suku Bajo, dibandingkan dengan suku Gorontalo atau suku lainya yang sangat minoritas di desa tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa yang lebih dominan digunakan oleh masyarakat di desa tersebut adalah bahasa Bajo (bahasa mayoritas). Penggunaan bahasa Bajo ditunjukkan melalu sikap masyarakat di Desa Bajo masih memiliki sikap positif. Hal ini ditandai oleh sejumlah ciri-ciri dari sikap bahasa, antara lain pemilihan, penggunaan dan pemertahanan bahasa. Selain itu, bahasa Bajo ini sangat mendominasi sehingga mengakibatkan adanya pergeseran bahasa daerah lainnya. Adanya pergeseran bahasa daerah lainnya mengindikasi pada adanya pemertahanan bahasa Bajo di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo

Masyarakat pengguna bahasa yang heterogen. Register muncul pada bidang pekerjaantertentu. Penggunaan variasi bahasa ini mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bahasayang digunakan oleh komunikasi lain. Masyarakat heterogen ini terdapat di kawasan pesisirDesa Bajo Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo. Selain masyarakatnya yangberpendudukan asli Bajo, terdapat juga etnis pendatang yakni etnis Buol, Makassar, Jawa, Palu,dan beberapa dari Gorontalo. Adanya etnis lain dalam masyarakat Bajo ini karena melaluipernikahan antara masyarakat Bajo dengan etnis tersebut, sehingga etnis selain Bajo hidupbersama dalam satu wilayah sehingga Desa Bajo terdapat masyarakat yang heterogen. Situasiinilah yang menjadi faktor terjadinya variasi bahasa dalam berbagai situasi sehingga adanyaberbagai register bahasa baik dari nelayan, pedagang, pendidikan, petani, dan lainnya.Masing-masing aktivitas masyarakat Bajo memiliki kekhasan bahasa yang digunakandalam keseharian masyarakat Bajo sehingga menarik untuk diteliti melalui aspekn registerbahasa khususnya pada masyarakat pesisir dengan beragam profesi. Fokus penelitian ini yaknimeneliti register bahasa khusunya pada register bahasa nelayan, pedagang, guru dan siswa.Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan fungsi registerbahasa nelayan, pedagang, guru, dan siswa di Desa Bajo Kecamatan Tilamuta.Metode pengumpulan data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metodesimak dan metode cakap. Melalui metode cakap didokumentasikan hasil temuan prosescakap, menyadap dan mentranskip data yang termasuk ke dalam kajian yang akan diteliti.Data yang telah ditranskip kemudian dimasukkan ke dalam kartu data dan dianalisis sesuaidengan teori yang mendasari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatanmasyarakat yang beragam, seperti dalam profesi nelayan, pedagang, dan dunia pendidikan,menghasilkan berbagai macam register yang digunakan dalam situasi yang berbeda. Registerberkaitan dengan penggunaan bahasa dalam konteks tertentu seperti situasi formal atauinformal, sementara dialek berkaitan dengan variasi bahasa yang digunakan oleh kelompoktertentu dari suatu wilayah atau komunitas. Masyarakat di Desa Bajo memiliki dialek yangberbeda, yang kemudian menghasilkan berbagai macam register dalam bidang-bidangkhusus, seperti dalam profesi nelayan, pedagang, dan dunia pendidikan. Penggunaan registerbahasa sangat penting dalam melestarikan budaya dan identitas suku Bajo, serta dalammemperkuat komunikasi dan interaksi dalam masyarakat mereka. Penggunaan registerbahasa Bajo tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi yang efektif, tetapi jugamerupakan bagian penting dari pelestarian identitas budaya dan memperkuat hubungansosial dalam komunitas Bajo.

Wisata religi Bongo memiliki destinasi yang menyediakan fasilitas dan layanan pariwisata halal sesuai dengan kebutuhan wisatawan muslim dan syariat Islam. Selain itu, masyarakat Bongo menekankan prinsip syariah dalam pengelolaan wisata dan pelayanan yang santun dan ramah kepada seluruh wisatawan. Desa Bongo sebagai Desa Wisata Religi sangat dekat dengan branding Pariwisata Halal. Potensi Desa wisata religi menggambarkan potensi pariwisata halal yang pelru dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, namun masih banyak wisatawan yang belum mengenal berbagai objek wisata yang ada di dalam Desa Bongo sendiri. Solusi yang ditawarkan dari masingmasing permasalahan diantaranya (1) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam hal pengembangan desa wisata religi melalui kegiatan pengelolaan Desa Wisata berdasarkan sistem klaster, (2) Membangun kemitraan antara masyarakat (dengan Pemerintah Desa dan Pemerintah Daerah dalam mewujudkan program untuk pengembangan desa wisata religi dengan menyatukan semua sumber daya yang ada sehingga mempercepat proses pengembangan desa wisata, (3) Menata kembali insfrastruktur Destinasi Wisata Religi Bongo dengan konsep Desa Wisata Halal agar lokasi wisata tertata baik, religious, kondusif, edukatif, sehingga berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.Target luaran dari pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM): (1) panduan penggunaan aplikasi e-commerce; (2) inovasi dalam pelaksanaan PMMadalah dari sisi pemanfaatan IT untuk pembuatan aplikasi e-commerce dan pelatihan penggunaan aplikasi online dalam pengembangan pariwisata halal berbasis kearifan lokal dan e-commerce (3) peningkatan partisipasi masyarakat mitra dan peningkatan pengetahuan dan keterampilan mitra dalam manajemen pengembangan pariwisata digital; (4) Artikel hasil kegiatan akan dipublikasikan di Jurnal Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dan dipublikasikan melalui media berita digital dan media Kompas TV; 4) Video Kegiatan, (5) Seminar dan Prosiding, dan (7) Hak Kekayaan Intelektual.Hasil pelaksanaan PMM dapat membantu menyelesaikan masalah destinasi wisata rleigi Bongo. Dalam hal ini, ikon Desa Bongo sebagai Desa Wisata Religi yang perlu untuk dikembangkan menjadi pusat pariwisata halal di Provinsi Gorontalo. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan baik sosialisasi, workshop, pelatihan, dan pendampingan bagi Kelompok Sadar Wisata dan Kelompok UMKM. Semua tahapan berjalan dengan lancar dan didikung oleh berbagai pihak terutama Pemerintah Daerah, Dinas Pariwisata dan Dinas Kominfotik Provinsi Gorontalo, Pemerintah Desa, dan Mitra Pelaksanaan PMM. Setiap tahapan kegiatan, terlihat antusias masyarakat peserta terutama dari pengurus Kelompok Sadar Wisata dan Kelompok UMKM yang begitu antusias mengikuti berbagai kegiatan sampai tahap akhir. Mereka membutuhkan sentuhan ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam meningkatkan usaha mereka melalui pengemasan yang menarik dan pemasaran melalui website. Hasil pelatihan membuat mereka terlatih dalam mengembangkan destinasi wisata serta produk mereka melalui desain dan kemasan yang menarik serta terlatih menggunakan website dan media sosial dalam pemasaran.

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong