Digitalisasi tanpa midset yang tepat hanyalah pemborosan anggaran

25 February 2026 10:55:31 Dibaca : 5 Kategori : Pendidikan

Transformasi digital di sekolah sering kali dipahami sebagai persoalan penyediaan perangkat, jaringan internet, atau aplikasi pembelajaran. Namun, penelitian klasik Davis (1989) melalui Technology Acceptance Model (TAM) menegaskan bahwa sikap seseorang terhadap teknologi bukan semata-mata ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, melainkan oleh dua keyakinan utama, yaitu perceived usefulness (manfaat yang dirasakan) dan perceived ease of use (kemudahan yang dirasakan). Dalam konteks pendidikan, sikap guru terhadap teknologi pada dasarnya dipengaruhi oleh sejauh mana guru meyakini bahwa teknologi tersebut benar-benar meningkatkan kinerja profesionalnya dan sejauh mana teknologi itu mudah digunakan tanpa menambah beban kerja.

Keyakinan pertama, yaitu manfaat yang dirasakan, merujuk pada tingkat kepercayaan guru bahwa penggunaan teknologi akan meningkatkan efektivitas pembelajaran, mempercepat administrasi, memperkaya metode evaluasi, atau meningkatkan hasil belajar siswa. Jika guru melihat bahwa penggunaan platform digital membantu mereka menyusun RPP lebih efisien, mengelola penilaian secara otomatis, atau memvisualisasikan konsep abstrak secara lebih jelas, maka sikap terhadap teknologi akan cenderung positif. Sebaliknya, jika teknologi hanya dipandang sebagai tuntutan administratif atau tren sesaat yang tidak berdampak nyata pada kualitas pembelajaran, resistensi akan muncul secara alami.

Keyakinan kedua adalah kemudahan yang dirasakan. Guru akan lebih terbuka terhadap teknologi apabila sistem yang digunakan intuitif, tidak rumit, serta didukung pelatihan yang memadai. Teknologi yang kompleks, sering mengalami gangguan, atau membutuhkan waktu adaptasi yang panjang dapat menimbulkan kecemasan digital (technostress), yang pada akhirnya membentuk sikap negatif. Dalam banyak kasus, kegagalan integrasi teknologi di sekolah bukan karena guru tidak mau berubah, melainkan karena mereka merasa teknologi tersebut sulit dan berisiko mengganggu stabilitas proses belajar mengajar.

Bagi kepala sekolah, pemahaman terhadap dua keyakinan ini memiliki implikasi strategis. Kepemimpinan digital tidak cukup dengan membuat kebijakan penggunaan aplikasi atau membeli perangkat baru. Kepala sekolah perlu membangun budaya yang menunjukkan manfaat nyata teknologi melalui praktik baik, berbagi pengalaman antar guru, serta memberikan ruang refleksi terhadap dampak penggunaannya. Selain itu, dukungan teknis, pelatihan berkelanjutan, dan pendampingan personal menjadi kunci untuk meningkatkan persepsi kemudahan penggunaan.

Dengan demikian, sikap guru terhadap teknologi bukanlah persoalan kesiapan generasi atau usia, melainkan persoalan keyakinan yang dibentuk oleh pengalaman dan dukungan lingkungan kerja. Ketika guru merasakan manfaat yang konkret dan kemudahan yang realistis, penerimaan teknologi akan tumbuh secara organik. Di sinilah peran kepala sekolah menjadi sentral: bukan hanya sebagai pengambil kebijakan, tetapi sebagai arsitek budaya digital yang menumbuhkan keyakinan, bukan sekadar kepatuhan.

Referensi: Fred D. Davis - Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and User Acceptance of Information Technology