KATEGORI : Pendidikan

Transformasi digital di sekolah sering kali dipahami sebagai persoalan penyediaan perangkat, jaringan internet, atau aplikasi pembelajaran. Namun, penelitian klasik Davis (1989) melalui Technology Acceptance Model (TAM) menegaskan bahwa sikap seseorang terhadap teknologi bukan semata-mata ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, melainkan oleh dua keyakinan utama, yaitu perceived usefulness (manfaat yang dirasakan) dan perceived ease of use (kemudahan yang dirasakan). Dalam konteks pendidikan, sikap guru terhadap teknologi pada dasarnya dipengaruhi oleh sejauh mana guru meyakini bahwa teknologi tersebut benar-benar meningkatkan kinerja profesionalnya dan sejauh mana teknologi itu mudah digunakan tanpa menambah beban kerja.

Keyakinan pertama, yaitu manfaat yang dirasakan, merujuk pada tingkat kepercayaan guru bahwa penggunaan teknologi akan meningkatkan efektivitas pembelajaran, mempercepat administrasi, memperkaya metode evaluasi, atau meningkatkan hasil belajar siswa. Jika guru melihat bahwa penggunaan platform digital membantu mereka menyusun RPP lebih efisien, mengelola penilaian secara otomatis, atau memvisualisasikan konsep abstrak secara lebih jelas, maka sikap terhadap teknologi akan cenderung positif. Sebaliknya, jika teknologi hanya dipandang sebagai tuntutan administratif atau tren sesaat yang tidak berdampak nyata pada kualitas pembelajaran, resistensi akan muncul secara alami.

Keyakinan kedua adalah kemudahan yang dirasakan. Guru akan lebih terbuka terhadap teknologi apabila sistem yang digunakan intuitif, tidak rumit, serta didukung pelatihan yang memadai. Teknologi yang kompleks, sering mengalami gangguan, atau membutuhkan waktu adaptasi yang panjang dapat menimbulkan kecemasan digital (technostress), yang pada akhirnya membentuk sikap negatif. Dalam banyak kasus, kegagalan integrasi teknologi di sekolah bukan karena guru tidak mau berubah, melainkan karena mereka merasa teknologi tersebut sulit dan berisiko mengganggu stabilitas proses belajar mengajar.

Bagi kepala sekolah, pemahaman terhadap dua keyakinan ini memiliki implikasi strategis. Kepemimpinan digital tidak cukup dengan membuat kebijakan penggunaan aplikasi atau membeli perangkat baru. Kepala sekolah perlu membangun budaya yang menunjukkan manfaat nyata teknologi melalui praktik baik, berbagi pengalaman antar guru, serta memberikan ruang refleksi terhadap dampak penggunaannya. Selain itu, dukungan teknis, pelatihan berkelanjutan, dan pendampingan personal menjadi kunci untuk meningkatkan persepsi kemudahan penggunaan.

Dengan demikian, sikap guru terhadap teknologi bukanlah persoalan kesiapan generasi atau usia, melainkan persoalan keyakinan yang dibentuk oleh pengalaman dan dukungan lingkungan kerja. Ketika guru merasakan manfaat yang konkret dan kemudahan yang realistis, penerimaan teknologi akan tumbuh secara organik. Di sinilah peran kepala sekolah menjadi sentral: bukan hanya sebagai pengambil kebijakan, tetapi sebagai arsitek budaya digital yang menumbuhkan keyakinan, bukan sekadar kepatuhan.

Referensi: Fred D. Davis - Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, and User Acceptance of Information Technology

Framing merupakan pendekatan strategis dalam pendidikan yang berfungsi membentuk cara pandang dan interpretasi pemangku kepentingan terhadap isu, kebijakan, dan praktik pendidikan. Dalam konteks transformasi digital pendidikan di Indonesia, framing menjadi instrumen penting untuk mendukung implementasi teknologi yang menunjang pembelajaran mendalam (deep learning). Penelitian ini bertujuan mengembangkan model framing yang dapat memperkuat adopsi teknologi pendidikan di sekolah, dengan fokus pada peningkatan keterampilan teknologi guru dan efektivitas komunikasi strategis di lingkungan pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka berbasis analisis isi terhadap literatur dan penelitian terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model framing yang efektif terdiri dari tiga tahapan utama, yaitu diagnostic framing untuk mengidentifikasi tantangan integrasi teknologi, prognostic framing untuk merumuskan solusi pedagogis berbasis teknologi, serta motivational framing untuk membangun komitmen kolektif dalam transformasi digital sekolah. Temuan ini menegaskan bahwa strategi framing mampu meningkatkan kesadaran kolektif, memperkuat kolaborasi, dan mendorong implementasi pembelajaran mendalam yang inovatif dan berkelanjutan. Model ini diharapkan menjadi referensi praktis bagi kepala sekolah, guru, dan pengambil kebijakan dalam mendukung transformasi digital pendidikan di Indonesia.

Selengkapnya di https://ejurnal.stkip-pessel.ac.id/index.php/jmp/article/view/380 / DOI: https://doi.org/10.34125/jmp.v10i1.380

Bernalar dengan pendekatan induksi

25 January 2025 19:17:04 Dibaca : 786

Dalam metodologi penelitian seringkali kita mendengar istilah “penalaran induksi”, apa sebenarnya penalaran induksi itu?

Penalaran induksi merupakan cara bernalar dengan cara  menarik kesimpulan umum terhadap sesuatu yang didasarkan pada pola yang kita bentuk dari kasus atau fakta yang spesifik. Dengan kata lain, kita memulai penalaran ini dari data-data yang sifatnya khusus kemudian mencari generalisasi yang dapat diterapkan secara luas.

di antara ciri penalaran induksi yaitu: (1) dimulai dari kasus spesifik. Mengamati kejadian-kejadian tertentu, (2) melakukan generalisasi. Mencari pola, prinsip, dan aturan umum dari data atau fakta yang dipelajari, (3) Kesimpulan yang dihasilkan tidak 100% benar. Hasil generalisasi sifatnya probabilistik karena didasarkan pada pengamatan terbatas.

Contoh penalaran Induksi, misal seseorang -berdasarkan pengamatannya- menyatakan bahwa burung merpati bisa terbang, burang elang bisa terbang, begitu pula burung gagak. Kemudian ia menemukan pola bahwa semua burung bisa terbang. Kesimpulan seperti ini disebut penalaran induksi.

Kesimpulan dari penalaran induksi bisa saja salah, karena nyatanya ada burung yang tidak bisa terbang seperti burung unta dan penguin sehingga diketahui bahwa penalaran induksi sifatnya tidak mutlak, melainkan hanya memberi kemungkinan besar (probable).

Jadi, meskipun generalisasi yang dihasilkan dari penalaran induksi tidak selalu menghasilkan kepastian, namun penalaran ini berguna untuk membuat prediksi dan mengembangkan teori baru.

 

*Semua tulisan yang ada di sini berasal dari media saya yang lain

Bismillah

13 January 2025 11:07:46 Dibaca : 860

Hello World!