Benarkah Minum Teh dapat Menurunkan Berat Badan

Hidup dengan berat badan berlebih itu memang sangat merisaukan. Sulit untuk bergerak dan beraktivitas. Itulah yang saya alami selama kurang lebih satu dua tahun terakhir ini. Kelebihan berat badan ini saya peroleh pasca saya menikah. (Kadang ke kerabat saya beralasan ‘maklum sudah ada yang masakkan”)

Lambat laun kerisauan ini semakin jenuh, hingga akhirnya saya memutuskan untuk bisa megembalikan berat badan ideal saya yang dulu di rentan 53- 55 Kg (saat ini masih 72 Kg). Dalam tuilisan sederhana ini, sebenarnya saya tidak akan fokus bagaimana proses saya melakukan penurunan berat badan, namun saya akan fokus pada judul dari tulisan ini. 

Benarkah teh dapat menurunkan berat badan?

Kenapa saya fokus pada teh (Camellia sinensis. L), karena dari sekian banyak iklan produk penurun berat badan, yang cukup sering saya temukan iklannya adalah teh. Jenis teh yang dipromosikan didominasi  teh hijau (bukan berarti teh hitam tidak memilki khasiat). Sebenarnya bagaimana cara teh ini bekerja sehingga dapat menurunkan berat badan. Hingga akhirnya saya menemukan artikel yang berjudul “The effects of green tea on weight loss and weight maintenance”. Artikel ini dipublikasikan di Nature. Bisa didownload disini.

Saya memilih artikel ini karena artikel ini mereview 15 journal yang mengkaji tentang efek teh terhadap obesitas. Yang menarik dari kelimabelas journal yang direview  adalah penelitian dengan latar belakang yang menghubungkan efek konsumsi teh dari beragam ras yang ada. Dalam review tersebut dijelaskan bahwa diduga senyawa aktif yang berperan dalam menurunkan berat badan adalah senyawa fenolik golongan flavonoid diantaranya Catechin dan Epigallocatechin Gallate (EGCG). Studi ini melihat pola konsumsi teh dari ras Asian dan ras kaukasia (kulit putih) terhadap efek penurunan berat badan. Berikut beberapa senyawa yang terkandung di dalam teh hijau :

Dari hasil review, memperlihatkan penelitian yang dilakukan pad ras Asian cenderung mengkonsumsi teh dengan konsentrasi caffeine dibawah 300 mg/hari. Berbeda dengan ras kaukasia, yang cendrung caffein holic, mereka cenderung mengkonsumsi teh dengan kadar caffeine diatas 300 mg/hari. Hal ini terkonfirmasi dari tabel di bawah ini.

 

Dari hasil studi tersebut memperlihatkan penelitian yang dilakukan pada ras Asian dan kaukasia masing-masing memperlihatkan ada potensi penurunan berat badan. Dari 11 penelitian kelompok etnis Asian, ada 8 kelompok yang mengkonfirmasi penurunan berat badan. Yang menarik Justru pada kelompok Kaukasia, dari 4 penelitian kelompok Kaukasia, memperlihatkan hanya satu kelompok yang memiliki penurunan berat badan signifikan, mengapa hal ini bisa terjadi?

Pendekatan teoritis yang bisa dilakukan adalah, dari ketiga kelompok ras kaukasia, sebagian besar mengkonsumsi caffeine dengan jumlah berlebih (diatas 300mg/hari). Hal ini memperlihatkan adanya potensi resistensi terhadap caffeine. Karena sudah seringnya kelompok tersebut mengkonsumsi caffeine dalam jumlah berlebih, sehingga sensitifitas terhadap enzim phosporilase menjadi berkurang. Hal ini terkonfirmasi dengan salah satu kelompok kaukasia yang mengkonsumsi caffeine dibawah 300mg/hari, justru memberikan efek penurunan berat badan. Selain dari pada itu, Efek terhadap pemberian katekin (teh) maupun Placebo sama-sama memberikan efek penurunan berat badan. Hal ini belum bisa dijelaskan lebih jauh.

Bagaimana mekanisme senyawa aktif yang terkandung di dalam teh, sehingga dapat menurunkan berat badan?

Kuat dugaan salah satu senyawa yang terkandung dalam teh, yakni katekin menghambat kerja dari catekol metil tranferase (COMT) yang berperan dalam proses penguraian (metabolisme) Norefinerin. Bahasa sederhanya, saat norefinefrin ini tidak diurai menjadi bentuk metilnya, maka akan menstimulasi kita untuk terus aktif beraktifitas. Seperti dijelaskan dalam gambar dibawah ini.

Selain itu pula Cafeein yang diduga berkompetisi dengan ligand yang mengaktivasi enzim Phosporilase, Hal ini akan mengakibatkan respon berupa sinyal untuk meregulasi cadangan makanan yang ada di dalam tubuh berupa Glikogen. Glikogen ini merupakan gugusan rantai panjang (polimer) gula yang akan diubah menjadi bentuk monomernya berupa satu gugus gula. Bisa dilihat melalui gambar dibawah ini :

Respon dilisisnya poliemer gula tadi akan bermuara pada proses pemecahan gula menjadi asetil KOA yang terlebih dahulu menjadi piruvat (akan lebih mudah dipahami jika melalui pendekatan struktrur kimia), sehingga produk dari penguraian tersebetut, menghasilkan energi yang dikonfirmasi dalam bentuk ATP (Adenosine Triphosphate). Proses ini familiar dengan sebutan Krebs Cycle (Siklus Krebs). Untuk memperdalam pemahaman, bisa di lihat pada gambar dibawah ini:

Jadi dari uraian diatas, ada baiknya bagi yang sedang melakukan program diet, sebaiknya lebih mengontrol kuantitas dari jumlah caffeine yang kita konsumsi (baik bagi penikmat teh maupun penikmat kopi). Kasus inipun berlaku bagi mereka yang senang mengkonsumsi teh maupun kopi meskipun tidak terpapar obesitas. Karena ada potensi sensitifitas terhadap enzim phosporilase berkurang, sehingga caffeine tidak memberikan efek untuk memotong rantai gula dari cadangan makannya. Jika hal ini terjadi maka penumpukan-penumpukan cadangan makanan kita akan terus berlangsung, dan berakibat pada obesitas.

Jadi konklusinya, jika melihat peranan dari senyawa aktif yang terkandung didalam teh, muaranya adalah proses glikolis. Melalui proses sederhana inilah hingga akhirnya menstimulasi kita untuk terus beraktifitas, sehingga, produk cadangan makanan kita berupa glikogen (Glikolipid) ini akan dibakar menjadi energi. Sehingga kita akan mengalami penurunan cadangan makanan, sehingga pada akhirnya kita mendapat predikat KURUS.

Posted in Uncategorize
Leave a Reply


Name


Website


Comment


Chapta
jbmjgf






Categories

  • Buah Pikir


  • Archives

  • April 2019 (3)
  • March 2019 (1)