Kembangkan Sistem Pembelajaran Daring (SPADA)

Posted on 21/04/2018 by Nurrijal

Dalam rangka mewujudkan visi pendidikan tinggi yang bermutu serta kemampuan IPTEK dan inovasi untuk mendukung daya saing bangsa, sejak tahun 2014 s/d 2015 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Direktorat Pembelajaran melakukan rintisan penerapan pembelajaran online melalui program Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT). Seiring dengan perkembangannya, dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018, Pembelajaran Daring Indonesia Terbuka dan Terpadu (PDITT) mengganti namanya menjadi Sistem Pembelajaran Daring Indonesia atau yang dikenal dengan SPADA Indonesia. Pada tahun ini, SPADA Indonesia akan menambah jumlah mata kuliah daring sebanyak 127 paket.

Menanggapi tantangan ke depan, FMIPA UNG selalu berusaha untuk mempersiapkan tenaga pendidik yang berkualifikasi dan memiliki komitmen terhadap perkembangan dunia pendidikan dengan mengedepankan pengembangan inovasi pembelajaran demi peningkatan kualitas dan output Program Studi di lingkunganFakultas MIPA UNG.Terwujudnya inovasi di atas tentunya harus didukung dengan peningkatan mutu pengelolaan pendidikanyang dilakukan dengan berbagai upaya melalui sistem informasi dan teknologi yang mutakhir.

Tahun ini, Jurusan-jurusan yang ada di lingkungan Fakultas MIPA akan mengembangkan sistem pembelajaran daring (SPADA) dengan diawali proses pendampingan pengelolaan SPADA. Pada tahun 2017 program ini telah dikembangkan pada Jurusan Biologi sebanyak 11 matakuliah. Kedepannya diharapkan dapat terus mewabah pada semua Jurusan yang ada di Universitas Negeri Gorontalo.

Berhubungan dengan mutu pendidikan, tentunya sudah seharusnya ada upaya dalam perbaikan pembelajaran guna mewujudkna Visi dan Misi Universitas Negeri Gorontalo yang menjadi Leading di Asia Tenggara. Upaya perbaikan pembelajaran yang dimaksudkan adalah perluasan akses belajar mahasiswa, di mana saja, dan kapan saja terhadap mata kuliah bermutu dari dosen bermutu, serta dalam menjawab tantangan di era globalisasi dan revolusi industri 4.0 untuk menyediakan layanan yang menggunakan teknologi digital atau online dalam pembelajaran sebagaimana menjadi program Direktorat Pembelajaran Ristekdikti. Untuk itu pada kesempatan ini, kami mengajukan program pendampingan pengelolaan pembelajaran Daring yang dapat ikut serta dalam program hibah Pengelolaan Sistem Pembelajaran Daring (Spada).

Posted in Uncategorize | Leave a comment

Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajaran Yang Literat

Posted on 06/04/2018 by Nurrijal

Menciptakan Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajaran Yang Literat Melalui Penilaian Portofolio Dalam Konteks Pembelajaran IPA di SMP Negeri 3 Wonosari Desa Sukamulya Kecamatan Wonosari Kabupaten Boalemo

Menulis merupakan cara yang dapat digunakan masyarakat untuk menjawab persoalan global saat ini. Kemampuan tersebut akan menjadi adaptasi diri dengan berbagai perkembangan IPTEK oleh karena itu kemampuan tersebut penting untuk mendorong kehidupan masyarakat yang lebih demokratis berdasarkan hukum, sosial dan religius. Dalam konteks ini, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dapat memberikan perannya dalam menjawab tantangan tersebut.Pada tahun 2015 pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memberikan rekomendasi kepada setiap sekolah di seluruh Indonesia untuk dapat melaksanakan dan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah. Lebih lanjut kanjian pemerintah bahwa dasar pelaksanaan program tersebut dianggap penting karena mengingat pada; 1) Faktanya bahwa hasil survei internasional (PIRLS 2011, PISA 2009 & 2012) yang mengukur keterampilan membaca peserta didik, Indonesia menduduki peringkat bawah, 2) Tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 adalah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan re¬ektif, 3) Pembelajaran di sekolah belum mampu mengajarkan kompetensi abad 21, 4) Kegiatan membaca di sekolah perlu dikuatkan dengan pembiasaan membaca di keluarga dan masyarakat.Gerakan literasi sekolah atau disingkat GLS merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang melibatkan seluruh warganya berbudaya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Konteks pembelajaran yang literat dengan pelibatan publik merupakan kondisi yang membuat warga sekolahnya menyenangkan dan ramah anak dimana semua warganya memiliki kepedulian, rasa ingin tahu dan mampu berkomunikasi atau berinteraksi sosial pada semua warga sekolah baik guru, peserta didik maupun orang tua.Literasi adalah kemampuan membaca dan menulis dalam konteks mampu dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Dalam pengertian luas, literasi meliputi juga kemampuan berbicara, menyimak, dan berpikir sebagai elemen di dalamnya (Cooper, 1993). Seseorang disebut literat apabila ia memiliki pengetahuan dan kemampuan yang benar untuk digunakan dalam setiap kegiatan yang menuntut fungsi literasi secara efektif dalam masyarakat; dan keliteratan yang diperolehnya melalui membaca, menulis, dan aritmetika itu memungkinkan untuk dimanfaatkan bagi dirinya sendiri dan perkembangan masyarakatnya (Baynham, 1995).Dalam kegiatan pembelajaran ada beberapa faktor yang berperan dalam pembelajaran yaitu faktor guru, siswa, buku ajar, dan evaluasi hasil belajar. Pertama faktor guru, kempetensi guru pada dasarnya sudah memadai tetapi dalam melaksanakan pembelajaran dan evaluasi untuk peningkatan prestasi belajar masih perlu ditingkatkan. Kedua faktor siswa, kemampuan dalam mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas berdampak negatif pada proses pembelajaran, antara lain siswa lebih cenderung menemukan informasi secara instan seperti melalui internet yang tidak selektif. Ketiga faktor fasilitas ruang baca dan buku bacaan, ketersediaan fasiltas dan buku bacaan tidak terpenuhi untuk kebutuhan belajar siswa mengakibatkan proses pembelajaran di kelas kurang kreatif dan siswa tidak memiliki peluang yang cukup untuk belajar mandiri. Keempat budaya membaca dan menulis peserta didik sangat rendah. Kelima faktor evaluasi hasil belajar, kecenderungan penilaian guru masih mengacu pada evaluasi belajar lewat tes.Pada hasil orientasi awal tempat pelaksanaan kegiatan di SMP Negeri 3 Wonosari didapat permasalahan dalam pengelolaan proses pembelajaran sebagaimana yang diuraikan di atas, yaitu bagaimana meningkatkan profesionalisme guru melalui perbaikan proses pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu permasalahan yang lebih cenderung mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu minat membaca dan menulis atau buadaya literasi bagi peserta didik yang sangat rendah. Hal ini dipengaruhi oleh pengelolaan pembelajaran di SMP Negeri 3 Wonosari belum mengimplementasikan dan mengembangkan strategi Gerakan Litersi Sekolah (GLS) dalam konteks pembelajaran. Pelaksanaan program ini perlu adanya komitmen seluruh warga sekolah serta pemahaman tentang konsep dan kegiatan dalam Gerakan Literasi Sekolah. Sekolah memiliki peran yang amat penting dalam menanamkan budaya literat pada anak didik. Untuk itu, setiap sekolah tanpa terkecuali harus memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan literasi. Budaya literasi yang tinggi di sekolah, peserta didik akan cenderung lebih berhasil dan guru lebih bersemangat mengajar.Agar sekolah mampu menjadi garis depan dalam pengembangan budaya literat, Beers, dkk. (2009) dalam buku A Principal’s Guide to Literacy Instruction menyampaikan beberapa strategi untuk menciptakan budaya literasi yang positif di sekolah anatara lain:

  1. Mengondisikan lingkungan fisik ramah literasi. Lingkungan fisik adalah hal pertama yang dilihat dan dirasakan warga sekolah. Oleh karena itu, lingkungan fisik perlu terlihat ramah dan kondusif untuk pembelajaran. Sekolah yang mendukung pengembangan budaya literasi sebaiknya memajang karya peserta didik dipajang di seluruh area sekolah, termasuk koridor, kantor kepala sekolah dan guru. Selain itu, karya-karya peserta didik diganti secara rutin untuk memberikan kesempatan kepada semua peserta didik.
  2. Mengupayakan lingkungan sosial yang afektif sebagai model komunikasi maupun interaksi yang literat. Lingkungan sosial dan afektif dibangun melalui model komunikasi dan interaksi seluruh komponen sekolah. Hal itu dapat dikembangkan dengan pengakuan atas capaian peserta didik sepanjang tahun. Pemberian penghargaan dapat dilakukan saat upacara bendera setiap minggu untuk menghargai kemajuan peserta didik di semua aspek. Prestasi yang dihargai bukan hanya akademik, tetapi juga sikap dan upaya peserta didik.
  3. Mengupayakan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat. Lingkungan fisik, sosial, dan afektif berkaitan erat dengan lingkungan akademik. Ini dapat dilihat dari perencanaan dan pelaksanaan gerakan literasi di sekolah. Sekolah sebaiknya memberikan alokasi waktu yang cukup banyak untuk pembelajaran literasi. Salah satunya dengan menjalankan kegiatan membaca dalam hati dan guru membacakan buku dengan nyaring selama 15 menit sebelum pelajaran berlangsung.

Permasalahan tersebut di atas, sangatlah perlu membutuhkan pembinaan untuk membangun pembelajaran yang lebih inovatif serta bersinergis di dalam lingkungan sekolah. Sinergis dimaksudkan agar memberikan kesempatan kepada warga sekolah antara guru dan peserta didik dapat mengaktualisasikan perannya masing-masing, sehingga tantangan tersebut dapat beroleh efek positif dalam pembelajaran. Apabila dikaji lebih jauh langkah awal yang perlu diatasi adalah bagaimana meningkatkan minat membaca dan menulis secara dini kepada peserta didik dengan memahami informasi secara analitis, kritis, dan kreaktif. Terkait pembiasaan dini untuk membaca, pemerintah telah menginstrusikan penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (Permendikbud No. 23 tahun 2015).

Lesson Study Tingkatkan Kemampuan Mengajar Calon Guru

Posted on 02/08/2014 by Nurrijal

                         

Penerapan pembelajaran melalui program lesson study yang sesuai dengan prosedur dapat meningkatkan pencapaian keterampilan dasar mengajar guru pada PPL-1. Pelaksanaan kegiatan lesson study pada PPL-1 menunjukkan adanya perubahan siginifikan pada pencapaian penguasaan 8 (delapan) indikator keterampilan dasar mengajar guru pada mahasiswa calon guru biologi Fakultas MIPA UNG,

Lesson study dapat meningkatkan penguasaan 8 (delapan) keterampilan dasar mengajar guru pada pelaksanaan PPL-1 dengan pertimbangan bahwa; lesson study merupakan suatu pendekatan yang efektif dapat memudahkan proses pembimbingan dosen dan aktivitas belajar mahasiswa. Oleh karena itu, hal yang dapat diperhatikan; pertama, pengembangan lesson study pada pelaksanaan PPL-1 didasari perencanaan yang matang dari berbagai pengetahuan profesional yang berlandaskan pada pedoman PPL, praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan oleh dosen. Kedua, pelaksanaan siklus tindakan lesson study (Plan, Do dan See) PPL-1 dibagi pada 2 (dua) tahap pembelajaran. Tahap pertama; latihan mengajar terbimbing, selanjutnya tahap kedua; latihan mengajar mandiri. Ketiga, komitmen pada pengamatan terhadap keterampilan dasar mengajar guru serta keterlaksanaan kegiatan lesson study pada pelaksanaan PPL-1 untuk setiap tahap PPL-1 sesuai dengan indikator pencapaian. Sehingga dapat diketahui seberapa keterlaksanaan atau perubahan-perubahan yang telah terjadi dari tindakan perbaikan pembelajaran yang dilakukan. Selanjutnya dari hasil pengamatan ini akan dijadikan evaluasi sehingga menjadi acuan untuk melakukan analisi dan refleksi. Keempat, refleksi kegiatan yaitu membuat kesimpulan terhadap semua hasil observasi yang diperoleh melalui pelaksanaan tindakan. Hasil observasi atau pengamatan akan disimpulkan dengan membandingkan antara target yang diharapkan dengan hasil pencapaian yang sebenarnya. Sehingga dari hasil refleksi ini diketahui hasil yang dicapai dan akan menjadi dasar untuk merencanakan tahapan selanjutnya untuk perbaikan pembelajaran.

Lesson study memberikan konstribusi berupa pelajaran yang bermakna bagi terciptanya proses kerjasama yang terjadi antar dosen pembimbing dan mahasiswa dalam pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan (PPL-1) melalui proses pengembangan rencana pembelajaran, keterlibatan pimpinan jurusan atau lembaga, proses pembelajaran, proses observasi PPL-1, refleksi terhadap hasil pembelajaran sebelumnya, bahan rekomendasi setelah implementasi pembelajaran, serta dampak yang dapat dirasakan baik oleh mahasiswa, dosen pembimbing dan pimpinan jurusan serta lembaga institut yang menaunginya. Lesson study mengarahkan pada perbaikan pembelajaran yang diperoleh dari hasil analisis menjadi balikan bagi yang terlibat dalam kaitannya dengan aspek efektivitas proses kegiatan lesson study (plan, do dan see). Hasil dari balikan tersebut menjadi acuan untuk melakukan perbaikan pembelajaran pada tahapan berikutnya akan menjadi lebih berkualitas serta efektif tercapai pada sasaran yang diharapkan.

Saran Rekomendasi Peneliti:

Lesson study merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan pencapaian pelaksanaan PPL-1 melalui pengkajian pembelajaran 8 (delapan) indikator keterampilan dasar mengajar guru secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. Hal ini, karena melalui lesson study kolaborator (mahasiswa dan dosen pembimbing) dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana aspek-aspek keterampilan dasar mengajar guru dapat diterapkan pada pembelajaran biologi. Oleh karena itu beberapa saran dan rekomendasi penelitian ini adalah:

  1. Pembelajaran lesson study dapat diterapkan selanjutnya pada pelaksanaan PPL-2. Pada tahap implementasinya perlu memperhatikan kesiapan perangkat-perangkat lesson study yang akan digunakan sebagai monitoring keterlaksanaannya.
  2. Lesson study dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesionalisme baik dosen maupun mahasiswa sebagai calon guru. Secara prakteknya dapat meningkatkan keterampilan dasar mengajar guru khususnya pada mahasiswa peserta PPL-1 Jurusan Biologi. Oleh karena itu dapat diterapkan pada Jurusan atau program studi lainnya yang lulusannya sebagai tenaga pendidik. Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan lesson study yaitu; a) Secara kelembagaan khususnya Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) UNG dapat membantu dalam memonitoring dan mengobservasi serta mengkritisi hasil pembelajaran. b) Meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran serta mampu mengimplementasikan 8 (delapan) keterampilan dasar mengajar guru. c) Membantu dosen dalam melaksanakan proses pembimbingan PPL menjadi lebih maksimal. (d) Menciptakan terjadinya kolaborasi dan interakasi sesama mahasiswa serta memberikan kemudahan belajar bagi mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan tentang pemahaman menjadi calon guru. e) Dapat melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan sesama teman sejawat atau koleganya.
  3. Selain itu, melihat kolegialitas maupun kreatifitas pada profesionalisme guru, hasil penelitian ini dapat dikembangkan pada pelaksanaan supervisi klinis untuk peningkatan kemampuan mengajar guru pada setiap tingkat satuan pendidikan. Disarankan kepada Kepala Sekolah, agar melakukan supervisi secara cermat kepada guru-gur baru di sekolahnya melalui pendekatan lesson study, yang memberikan kesempatan kepada guru baru untuk mengemukakan kesulitan-kesulitan dalam mengajar dan menemukan cara pemecahan terhadap kesulitan yang dihadapinya agar lebih professional dalam menjalankan tugas mengajar.