Gap Pembelajaran Fisika: Antara Gaya Lama dan Modern, Kita Kehilangan Apa?
Dunia pendidikan fisika saat ini sedang berada dalam persimpangan menarik. Di satu sisi, pembelajaran semakin modern, humanis, dan berbasis teknologi. Di sisi lain, muncul kegelisahan: mengapa semakin banyak siswa merasa “paham konsep”, tetapi kesulitan saat berhadapan dengan soal numerik yang menantang? Fenomena ini ternyata mirip dengan perbedaan antara Taekwondo old school dan Taekwondo modern — satu keras dan membentuk ketangguhan, satu lagi ramah dan membangun partisipasi luas.
Pada masa lalu, pembelajaran fisika identik dengan latihan soal dalam jumlah besar, penurunan rumus, serta tuntutan ketelitian matematis tinggi. Siswa dilatih berpikir sistematis, cepat, dan tahan menghadapi kesulitan. Banyak lulusan dari sistem ini memiliki daya juang intelektual kuat dan keterampilan hitung yang tajam. Namun, tidak sedikit pula yang mengalami kelelahan mental, bahkan trauma terhadap fisika karena pembelajaran terasa kaku, menekan, dan jauh dari kehidupan nyata.
Sebaliknya, pembelajaran fisika modern hadir dengan wajah baru. Guru memanfaatkan simulasi digital, eksperimen kontekstual, diskusi kelompok, serta pendekatan berbasis masalah dan proyek. Siswa didorong untuk memahami makna di balik rumus, bukan sekadar menghafalnya. Hasilnya, minat belajar meningkat, kelas menjadi lebih hidup, dan fisika terasa lebih dekat dengan dunia sehari-hari. Namun, pendekatan ini juga menghadapi tantangan serius: sebagian siswa menjadi lemah dalam keterampilan matematis, kurang terlatih menyelesaikan soal kompleks, dan tidak terbiasa berpikir kuantitatif secara mendalam.
Inilah yang disebut sebagai gap pembelajaran fisika — jurang antara ketangguhan intelektual ala pendekatan lama dan kenyamanan serta keterlibatan ala pendekatan modern. Masalahnya bukan terletak pada mana yang benar atau salah, melainkan pada apa yang hilang ketika salah satu pendekatan berdiri sendiri. Fisika tidak cukup hanya dipahami secara konseptual; ia juga harus dikuasai secara matematis. Sebaliknya, fisika tidak seharusnya menjadi momok yang menakutkan hingga mematikan minat belajar siswa.
Pengalaman di ruang kelas menunjukkan bahwa banyak siswa hari ini mampu menjelaskan konsep secara lisan, tetapi kesulitan menuangkannya ke dalam persamaan matematis yang benar. Di sisi lain, sebagian siswa yang kuat secara hitungan justru lemah dalam memahami makna fisik dari rumus yang mereka gunakan. Ini menandakan adanya ketidakseimbangan dalam proses pembelajaran yang perlu segera diperbaiki.
Solusi yang paling relevan adalah pendekatan hibrida: menggabungkan kekuatan pembelajaran fisika old school dan modern. Pembelajaran dapat dimulai dengan eksplorasi fenomena nyata dan diskusi konsep menggunakan media visual atau simulasi. Setelah itu, siswa diarahkan pada latihan soal terstruktur dan bertahap untuk membangun ketangguhan berpikir matematis. Di tahap akhir, siswa ditantang menyelesaikan masalah kompleks dan proyek kontekstual agar pemahaman mereka semakin matang dan aplikatif.
Pendekatan ini tidak hanya membuat siswa “mengerti”, tetapi juga mampu “bertahan” dalam menghadapi persoalan fisika yang menantang. Mereka tidak sekadar hafal rumus, tetapi memahami makna, mampu menerapkannya, dan tidak mudah menyerah saat menemui kesulitan. Inilah karakter berpikir ilmiah yang sejatinya ingin dibangun oleh pendidikan sains.
Pada akhirnya, modernisasi pendidikan fisika bukanlah tentang meninggalkan masa lalu, melainkan tentang mengambil kekuatan terbaik darinya. Seperti dalam dunia olahraga bela diri, latihan yang efektif bukan hanya yang nyaman, tetapi juga yang membentuk mental, disiplin, dan ketangguhan. Demikian pula dalam pembelajaran fisika: masa depan pendidikan bukan memilih antara old school atau modern, melainkan meramu keduanya menjadi sistem pembelajaran yang utuh, bermakna, dan berdaya guna bagi generasi masa depan.
Belajar IPA Kini Lebih Manusiawi: Dosen UNG Buktikan Nilai Lokal Gorontalo Bisa Bikin Ilmu Pengetahuan Makin Masuk Akal!
Gorontalo — Kalau Anda berpikir pembelajaran IPA itu kaku, penuh angka, dan jauh dari kehidupan sehari-hari, bersiaplah terkejut. Sebuah penelitian terbaru yang dimuat di Jurnal Pendidikan IPA Indonesia (JPII, 2025) menunjukkan bahwa pembelajaran IPA justru makin efektif ketika dikawinkan dengan kearifan lokal Gorontalo: Huyula, plus media pembelajaran yang bervariasi.
Penelitian ini dilakukan oleh tim UNG yang diketuai Dr. A. H. Odja bersama dosen-dosen FMIPA UNG, termasuk Wahyu Mu’zizat Mohamad yakni dosen dari Pendidikan Fisika UNG.
Dan hasilnya? Tidak hanya berhasil… tapi sukses besar!
Belajar IPA Pakai Nilai Huyula? Kok Bisa?
Pertama-tama, mari jujur. Banyak siswa kalau dengar “IPA” langsung: “Duh… rumus lagi… otak panas lagi.”
Tapi ketika pembelajaran IPA dimasukkan nilai Huyula—nilai gotong royong, saling membantu, saling mendukung—hasilnya berubah total.
Siswa yang biasanya diam seperti batu bata, tiba-tiba jadi aktif. Siswa yang biasanya takut salah, sekarang malah saling bantu menjawab.
Dan lucunya, beberapa guru yang awalnya skeptis pun bilang:
“Ternyata benar… kalau dipadukan dengan budaya lokal, anak-anak lebih hidup!”
Hasil Penelitian: Tidak Main-Main
Penelitian ini dilakukan pada 323 siswa reguler dan 12 siswa berkebutuhan khusus dari 5 sekolah inklusif.
Hasilnya:
- Nilai siswa naik signifikan
- N-Gain rata-rata 0.74 (kategori tinggi!)
- Hasil uji Wilcoxon z = -15.84 — signifikan banget
- Efek ukuran (rank-biserial) = -1.00 — efeknya super kuat
Artinya, metode ini benar-benar berhasil, bukan coba-coba.
Bahkan siswa berkebutuhan khusus pun menunjukkan peningkatan kategori sedang, artinya pembelajaran ini inklusif beneran—bukan sekadar jargon.
Mengapa Ini Penting?Karena zaman sekarang, belajar tidak bisa lagi pakai metode “guru ceramah, siswa mengantuk”. Dunia berubah. Anak-anak berubah. Dan pendidikan pun harus berubah.
Pendekatan berbasis budaya lokal seperti Huyula membuat IPA terasa dekat, masuk akal, dan tidak menakutkan. Inilah pendidikan yang manusiawi, bukan hanya “mengajar rumus”.
Dan UNG sudah melakukannya.
Untuk Para Orang Tua: Ingin Anak Cerdas dan Berkarakter? Ini Tempatnya.Banyak orang tua bertanya: “Bagaimana agar anak saya pintar IPA tapi tetap punya karakter baik?”
Jawabannya sederhana: Pendidikan Fisika UNG.
Kenapa?
- Pembelajaran modern tapi tetap berakar pada kearifan lokal
- Dosen-dosennya aktif riset nasional dan internasional
- Prodi yang memperjuangkan pendidikan inklusif, bukan basa-basi
- Mahasiswa dilatih jadi guru masa depan yang kompeten dan peka sosial
Inilah kampus yang tidak hanya membentuk otak, tapi juga hati.
Untuk Calon Mahasiswa: Mau Kuliah yang Seru, Berfaedah, dan Penuh Makna?Kalau Anda hanya ingin kuliah demi ijazah, mungkin banyak kampus bisa. Tapi kalau Anda ingin kuliah yang:
- mengubah cara berpikir,
- membuat Anda ahli mengajar,
- dekat dengan budaya,
- dekat dengan teknologi,
- dan dibutuhkan sekolah-sekolah,
maka Pendidikan Fisika UNG adalah jawabannya.
Tegasnya Begini…Kalau Anda ingin pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya—bukan robot rumus— maka Anda harus mempertimbangkan UNG.
Dan kalau Anda guru, peneliti, atau pemerhati pendidikan: ini saatnya belajar dari penelitian UNG tentang nilai budaya dalam pembelajaran.
Ingin Baca Artikel Aslinya?Langsung klik (akses) di sini: Jurnal Pendidikan IPA Indonesia (JPII) https://journal.unnes.ac.id/journals/jpii
Ketika Gadget Jadi Kawan Belajar: Inovasi Dosen UNG yang Mengubah Kebiasaan Mahasiswa
Di era ketika hampir setiap orang menggenggam gadget lebih dari empat jam sehari, muncul satu kekhawatiran besar: apakah teknologi membuat generasi muda semakin kurang fokus belajar?
Namun, seorang dosen Pendidikan Fisika Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Wahyu Mu’zizat Mohamad, justru melihat peluang di balik masalah itu. Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa gadget bukan hanya sumber gangguan—gadget justru bisa menjadi mesin percepatan belajar jika digunakan dengan cara yang tepat.
Melalui tesisnya, ia mengembangkan perangkat pembelajaran berbasis Google Classroom dan simulasi PhET untuk mata kuliah Fisika Dasar. Hasilnya mengejutkan: mahasiswa menjadi lebih tertib mengumpulkan tugas, lebih aktif berdiskusi, dan — yang paling penting — hasil belajar mereka meningkat secara nyata.
Belajar Fisika Lewat Simulasi “Hidup”
Selama ini, banyak pelajar menganggap fisika sulit karena hanya bertemu dengan rumus dan angka. Padahal, fisika adalah ilmu tentang fenomena sehari-hari.
Simulasi PhET yang digunakan dalam penelitian ini menghadirkan konsep-konsep fisika dalam bentuk visual interaktif:
- Gerak benda,
- Gaya,
- Gelombang,
- hingga Konsep listrik dan energi.
Mahasiswa bisa menggeser benda virtual, mengubah kondisi percobaan, dan langsung melihat efeknya secara real-time di layar gadget mereka. Ini membuat fisika terasa seperti permainan, bukan beban.
Google Classroom: Dari “Gangguan” Menjadi Pengingat Belajar
Penelitian ini menunjukkan bahwa notifikasi pada gadget — yang biasanya membuat mahasiswa terdistraksi — dapat disulap menjadi pemicu belajar. Setiap tugas, pengumuman, dan materi baru langsung muncul di layar mereka. Hasilnya:
- Mahasiswa lebih disiplin,
- Interaksi dosen–mahasiswa meningkat,
- Pembelajaran jadi lebih fleksibel dan tidak terikat ruang kelas.
Hasil Penelitian: Valid, Praktis, dan Efektif
Instrumen pembelajaran yang dikembangkan telah dinilai oleh para ahli dan diuji langsung di lapangan. Kesimpulannya jelas:
- Valid — layak digunakan secara akademik
- Praktis — mudah dipakai baik oleh dosen maupun mahasiswa
- Efektif — meningkatkan hasil belajar, minat, dan partisipasi mahasiswa
Dengan kata lain, fisika bisa diajarkan lebih menyenangkan, dan teknologi dapat menjadi jembatan, bukan hambatan.
Mengapa Ini Penting bagi Orang Tua dan Calon Mahasiswa?
Penelitian ini memberi pesan sederhana:
“Jika gadget tidak bisa dihindari, maka jadikanlah ia alat untuk membangun masa depan.”
Program S1 dan S2 Pendidikan Fisika UNG konsisten mengembangkan inovasi seperti ini. Para mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga:
- Praktik mengajar modern,
- Teknologi pembelajaran terkini,
- Penelitian berbasis kebutuhan lapangan,
- dan Pendekatan yang dekat dengan dunia milenial.
Bagi orang tua, ini adalah kesempatan agar anak Anda belajar di lingkungan yang akademis, kreatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Bagi calon mahasiswa, Pendidikan Fisika UNG bukan hanya tempat belajar fisika — tetapi tempat membentuk diri sebagai pendidik masa depan yang inovatif dan dibutuhkan bangsa.