Pengantar

Perkembangan kecerdasan artifisial generatif atau generative artificial intelligence telah mengubah cara pelajar Indonesia mencari informasi, menyusun gagasan, dan menghasilkan tulisan akademik. Fenomena ini dapat disebut sebagai “menulis tanpa menulis”, yakni keadaan ketika pelajar mampu menghasilkan teks, esai, rangkuman, hingga jawaban tugas dengan bantuan sistem AI tanpa sepenuhnya menjalani proses berpikir, merancang, menulis, dan merevisi secara mandiri. Karangan ilmiah ini membahas penggunaan AI oleh pelajar Indonesia, manfaatnya bagi pembelajaran, risiko akademik yang muncul, serta strategi etis dalam pemanfaatannya. Kajian ini menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat bantu belajar yang produktif apabila digunakan untuk memperkuat pemahaman, bukan menggantikan proses berpikir. Namun, tanpa literasi AI, kebijakan sekolah, dan pembinaan integritas akademik, penggunaan AI berpotensi menurunkan kemandirian berpikir, kreativitas, dan kejujuran pelajar. Menulis merupakan salah satu keterampilan utama dalam pendidikan. Melalui kegiatan menulis, pelajar belajar menyusun gagasan, menguji argumen, memilih data, serta menyampaikan pemikiran secara runtut. Namun, kehadiran AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan berbagai aplikasi sejenis telah menggeser makna kegiatan menulis. Kini, seorang pelajar dapat meminta AI membuat pendahuluan makalah, merangkum artikel, menyusun kerangka esai, memperbaiki tata bahasa, bahkan menghasilkan tulisan utuh hanya dalam beberapa detik. Fenomena tersebut melahirkan istilah “menulis tanpa menulis”. Istilah ini bukan berarti pelajar sama sekali tidak terlibat dalam proses penulisan, melainkan menunjukkan adanya perubahan besar dalam praktik menulis. Aktivitas yang dahulu menuntut pembacaan, perenungan, penyusunan, dan revisi kini dapat dipercepat melalui perintah singkat atau prompt. Dalam konteks Indonesia, perubahan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya penggunaan gawai, internet, dan platform pembelajaran digital di kalangan pelajar. UNESCO menegaskan bahwa AI generatif dalam pendidikan perlu dikelola melalui pendekatan yang berpusat pada manusia, termasuk perlindungan privasi data, validasi etis, dan desain pedagogis yang sesuai usia. Panduan UNESCO juga menyebut bahwa banyak negara dan lembaga pendidikan belum sepenuhnya siap menghadapi kecepatan perkembangan AI generatif. Oleh karena itu, penggunaan AI oleh pelajar Indonesia perlu dikaji bukan hanya sebagai persoalan teknologi, tetapi juga sebagai persoalan pendidikan, etika, dan budaya belajar.

Pembahasan

1. AI sebagai Alat Bantu BelajarPada sisi positif, AI dapat membantu pelajar memahami materi pelajaran dengan cara yang lebih personal. Pelajar dapat meminta penjelasan ulang, contoh soal, rangkuman bacaan, terjemahan istilah asing, hingga simulasi dialog. Dalam pembelajaran bahasa, AI dapat membantu memperbaiki tata bahasa, memperkaya kosakata, dan memberi contoh struktur kalimat. Dalam pelajaran sains atau matematika, AI dapat digunakan untuk menjelaskan konsep secara bertahap. Penelitian tentang mahasiswa Indonesia menunjukkan bahwa niat menggunakan alat AI dalam pembelajaran mandiri dipengaruhi oleh norma sosial, sikap terhadap teknologi, persepsi kontrol, kegunaan, dan kondisi pendukung. Studi terhadap 322 mahasiswa Indonesia tersebut menempatkan AI sebagai bagian dari manajemen pembelajaran mandiri di pendidikan tinggi. Artinya, AI tidak hanya dipakai karena sedang populer, tetapi juga karena dianggap berguna, mudah diakses, dan didukung oleh lingkungan belajar. Dengan demikian, AI dapat menjadi “teman belajar” yang selalu tersedia. Bagi pelajar yang malu bertanya di kelas, AI dapat menjadi ruang awal untuk memahami materi. Bagi pelajar yang kesulitan memulai tulisan, AI dapat membantu membuat kerangka. Namun, manfaat ini hanya muncul apabila pelajar tetap berperan sebagai pengarah, pemeriksa, dan penanggung jawab akhir atas hasil belajarnya.

2. Fenomena “Menulis tanpa Menulis”Istilah “menulis tanpa menulis” menggambarkan keadaan ketika produk tulisan lebih menonjol daripada proses berpikir. Pelajar dapat menghasilkan teks yang tampak rapi, akademik, dan meyakinkan, tetapi belum tentu memahami isi tulisan tersebut. Di sinilah letak persoalan utama: AI dapat membuat pelajar terlihat mampu menulis, padahal kemampuan berpikir kritisnya belum tentu berkembang. Dalam praktiknya, “menulis tanpa menulis” dapat muncul dalam beberapa bentuk. Pertama, pelajar menggunakan AI untuk membuat seluruh tugas tanpa membaca sumber. Kedua, pelajar menyalin jawaban AI tanpa memeriksa kebenaran informasi. Ketiga, pelajar memakai AI untuk memoles tulisan agar tampak ilmiah, tetapi argumennya tidak berasal dari pemahaman pribadi. Keempat, pelajar bergantung pada AI setiap kali diminta berpikir, menulis, atau menyelesaikan masalah. Penelitian pada siswa SMP di Majalengka menunjukkan bahwa siswa sudah memiliki kesadaran tinggi terhadap alat AI generatif, tetapi cenderung menggunakannya untuk memperoleh jawaban instan, bukan untuk pembelajaran mendalam. Studi tersebut juga menyoroti ketegangan antara efisiensi belajar dan risiko ketergantungan kognitif. Temuan ini relevan dengan kondisi pelajar Indonesia secara umum, terutama ketika tugas sekolah lebih menekankan hasil akhir daripada proses.

3. Risiko Akademik dan EtikaPenggunaan AI dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari persoalan etika. Risiko paling jelas adalah plagiarisme atau pengakuan karya AI sebagai karya pribadi. Meskipun teks AI tidak selalu menyalin sumber tertentu secara langsung, pelajar yang menyerahkan hasil AI tanpa pengakuan tetap melakukan pelanggaran integritas akademik. Masalah lain adalah informasi keliru, referensi palsu, bias, dan hilangnya kemampuan menilai sumber. Sebuah studi terhadap mahasiswa Desain Komunikasi Visual di Universitas Negeri Makassar menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa telah menggunakan AI dalam pembelajaran; 54% melaporkan penggunaan jarang, 40% sering, dan hanya 3% tidak pernah menggunakan AI. Studi yang sama mencatat beberapa dampak negatif, seperti menurunnya interaksi sosial, meningkatnya kemalasan intelektual, berkurangnya kreativitas, risiko plagiarisme, serta hambatan terhadap berpikir inovatif dan analitis. Risiko tersebut menunjukkan bahwa persoalan AI bukan sekadar “boleh atau tidak boleh digunakan”. Larangan total sering kali tidak realistis karena AI sudah menjadi bagian dari ekosistem digital pelajar. Sebaliknya, membiarkan penggunaan AI tanpa aturan juga berbahaya. Sekolah dan perguruan tinggi perlu membedakan antara penggunaan AI sebagai alat bantu dan penggunaan AI sebagai pengganti kerja akademik.

4. Tantangan bagi Pelajar IndonesiaPelajar Indonesia menghadapi tantangan khusus dalam penggunaan AI. Pertama, terdapat kesenjangan akses digital. Tidak semua pelajar memiliki perangkat, koneksi internet stabil, atau kemampuan menggunakan teknologi secara kritis. Kedua, literasi informasi masih menjadi persoalan. Banyak pelajar belum terbiasa memverifikasi sumber, membandingkan informasi, atau mengenali bias dalam teks. Ketiga, budaya tugas di sekolah kadang masih berorientasi pada produk akhir, bukan proses berpikir. Dalam situasi seperti ini, AI dapat memperlebar kesenjangan. Pelajar dengan akses internet, perangkat baik, dan kemampuan bahasa yang memadai akan lebih mudah memanfaatkan AI. Sementara itu, pelajar yang kurang memiliki akses berpotensi tertinggal. Di sisi lain, pelajar yang terlalu bergantung pada AI dapat kehilangan kesempatan untuk melatih daya nalar, ketekunan membaca, dan keberanian mengemukakan pendapat sendiri. Tantangan lainnya adalah bahasa. Banyak sistem AI bekerja lebih kuat dalam bahasa Inggris dibandingkan bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Akibatnya, pelajar dapat menerima jawaban yang secara bahasa tampak benar, tetapi kurang sesuai dengan konteks sosial, budaya, atau kurikulum Indonesia. Karena itu, peran guru tetap penting sebagai penafsir, pembimbing, dan pengarah penggunaan AI.

5. Strategi Penggunaan AI yang EtisAgar AI tidak menjadikan pelajar sekadar “operator perintah”, diperlukan strategi penggunaan yang etis. Pertama, pelajar harus memahami bahwa AI adalah alat bantu, bukan penulis utama. AI boleh digunakan untuk mencari ide, membuat kerangka, memperbaiki bahasa, atau memberi contoh, tetapi gagasan utama, analisis, dan kesimpulan harus berasal dari pelajar. Kedua, penggunaan AI perlu dinyatakan secara jujur. Misalnya, pelajar dapat mencantumkan keterangan bahwa AI digunakan untuk membantu menyusun kerangka atau memeriksa tata bahasa. Ketiga, guru dapat merancang tugas yang menuntut proses, seperti jurnal belajar, catatan sumber, presentasi lisan, refleksi pribadi, dan diskusi kelas. Tugas semacam ini lebih sulit diserahkan sepenuhnya kepada AI karena menuntut pengalaman dan pemahaman nyata. Keempat, sekolah perlu mengajarkan literasi AI. Literasi AI mencakup kemampuan membuat pertanyaan yang baik, mengevaluasi jawaban AI, memeriksa sumber, memahami bias, menjaga privasi data, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Kelima, guru perlu mengubah penilaian dari sekadar menilai hasil tulisan menjadi menilai proses berpikir. Dengan demikian, AI tidak diposisikan sebagai musuh pendidikan, tetapi sebagai alat yang harus dikendalikan secara sadar.

Fenomena “menulis tanpa menulis” menunjukkan bahwa AI telah mengubah cara pelajar Indonesia belajar dan menghasilkan karya tulis. AI memberi banyak manfaat, seperti membantu memahami materi, menyusun ide, memperbaiki bahasa, dan mendukung pembelajaran mandiri. Namun, AI juga membawa risiko serius, terutama plagiarisme, ketergantungan, penurunan kreativitas, dan melemahnya kemampuan berpikir kritis. Karena itu, persoalan utama bukanlah apakah pelajar boleh menggunakan AI, melainkan bagaimana AI digunakan. Pelajar perlu diarahkan agar tidak menyerahkan proses berpikir kepada mesin. Guru dan lembaga pendidikan perlu membangun aturan yang jelas, adil, dan mendidik. AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan kejujuran, nalar, dan kreativitas pelajar. Dengan literasi AI yang baik, pelajar Indonesia dapat memanfaatkan teknologi ini sebagai sarana belajar yang produktif, etis, dan relevan dengan tuntutan zaman.

 

Referensi

Darmono, Setiawan, R. J., & Ma’ruf, K. (2025). Determining factors influencing Indonesian higher education students’ intention to adopt artificial intelligence tools for self-directed learning management. European Journal of Educational Research, 14(3), 805–828.

Kresnandya, T. F., & Rizaldi, A. A. (2025). Generative AI Adoption in Indonesian Secondary Education: A Case Study of SMP Negeri 1 Dawuan Majalengka Regency. Journal on Smart Learning Technologies, 1(2), 98–108.

Sukarman, B. (2025). An Analysis of Artificial Intelligence Integration Among Students: Usage, Impacts, and Educational Implications. EDUKASIA Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran.

UNESCO. (2023). Guidance for generative AI in education and research.

Tes Mengenal dan Memahami Diri Sendiri

07 January 2024 15:54:01 Dibaca : 366

“Mengenal diri dan tidak salah tentang citra diri sangat membantu bagi setiap orang yang ingin bekerja sama dengan orang lain” demikian orang Bijak berpendapat. Mungkin anda juga sependapat dengan hal tersebut diatas bukan? Pilihlah satu jawaban dari setiap pasangan pernyataan-pernyataan di bawah ini, yang Anda rasakan sesuai dengan keadaan diri Anda! Pilih secara spontan, karena dalam pilihan ini tidak ada salah ataupun benar, manapun pilihan Anda!

(Nomor 1 dan 2 adalah berpasangan, 3 dan 4 demikian juga, dan seterusnya)

 

LANGKAH PERTAMA

Lingkarilah nomor-nomor yang merupakan pilihan Anda !

  1. Bagi saya yang penting adalah “bertindak”
  2. Saya selalu berusaha memecahkan persoalan dengan cara yang sistematis
  3. Saya yakin bahwa kerja dalam tim adalah lebih efektif dibandingkan dengan kerja secara individu
  4. Saya sangat senang terhadap setiap usaha pembaharuan (inovasi)
  5. Saya lebih senang berorientasi ke masa depan dari pada masa lalu
  6. Saya senang bekerja dengan orang lain
  7. Saya senang bila menghadiri pertemuan (rapat) kelompok yang terorganisasi dengan rapi
  8. Bagi saya kepastian kapan batas waktu sesuatu pekerjaan harus selesai adalah penting sekali
  9. Saya tidak senang terhadap penundan pekerjaan
  10. Saya percaya bahwa ide baru harus diuji terlebih dahulu sebelum diterapkan
  11. Saya senang terhadap stimulai (rangsangan, dorongan) yang berasal dari interaksi dengan orang lain
  12. Saya selalu mencari kemungkinan-kemungkinan baru dalam menghadapi suatu persoalan
  13. Saya ingin menentukan tujuan saya sendiri
  14. Bila saya mulai dengan suatu usaha, saya tidak akan berhenti sebelum segala sesuatunya selesai secara tuntas
  15. Pada dasarnya saya selalu mencoba untuk memahami emosi dan perasaan orang lain
  16. Saya senang mengukur kemampuan diri dengan “mengadu kebolehan” dengan orang-orang di sekeliling saya
  17. Saya selalu ingin memperoleh tanggapan (feed back) dari hasil kerja yang saya perbuat
  18. Saya berkesimpulan bahwa pendekatan langkah demi langkah dalam pemecahan masalah adalah efektif
  19. Saya yakin bahwa saya dapat membaca pikiran dan perasaan orang lain
  20. Saya sangat senang dengan pemecahan masalah yang dikerjakan secara efektif
  21. Saya selalu membuat proyeksi-proyeksi dari persoalan-persoalan yang saya hadapi
  22. Saya adalah orang yang peka dengan apa yang dibutuhkan orang lain
  23. Perencanaan adalah kunci kesuksesan
  24. Saya tidak sabar dengan hal-hal yang berkepanjangan
  25. Biasanya saya tetap tinggal tenang meskipun mendapat tekanan
  26. Saya sangat menghargai pengalaman seseorang
  27. Saya selalu berusaha mendengarkan pendapat orang lain
  28. Banyak orang bilang bahwa saya adalah seorang yang cepat berpikir
  29. Kerja sama adalah kunci bagi keberhasilan saya
  30. Saya menggunakan pikiran dan logika saya dalam menguji berbagai alternatif pemecahan masalah
  31. Saya senang menangani beberapa pekerjaan (tugas) dalam waktu yang bersamaan
  32. Saya selalu bertanya pada diri sendiri
  33. Saya belajar dengan cara mengerjakannya
  34. Saya yakin bahwa pikiran saya lebih kuat dibandingkan dengn perasaan saya
  35. Saya biasanya dapat menduga bagaimana reaksi seseorang terhadap suatu aksi (tindakan)
  36. Saya tidak senang dengan yang detail (rinci)
  37. Analisis selalu harus mendahului setiap tindakan seseorang
  38. Saya mampu memperkirakan “dinamika” yang ada dalam suatu kelompok
  39. Saya ada kecenderungan untuk memulai suatu pekerjaan, meskipun tidak saya selesaikan pada saat itu juga
  40. Saya merasa bahwa diri saya adalah seorang yang tegas dalam mengambil keputusan
  41. Saya selalu mencari tugas-tugas yang bersifat menantang
  42. Saya selalu menggantungkan pada hasil observasi dan data yang ada
  43. Saya dapat mengutarakan perasaan saya secara terbuka
  44. Saya senang merancang proyek-proyek baru
  45. Saya sangat senang membaca
  46. Saya merasa bahwa diri saya adalah seorang “fasilitator” (pemandu kerja sama kelompok) yang baik
  47. Saya senang memusatkan pembicaraan pada satu pokok persoalan saja untuk setiap tahap pembahasan
  48. Saya senang untuk selalu berusaha mencapai apa yang saya inginkan
  49. Saya senang mempelajari tentang orang lain
  50. Pada dasarnya saya senang “variasi”
  51. Fakta selalu bisa bicara dengan sendirinya
  52. Saya menggunakan sebanyak mungkin imajinasi saya
  53. Saya tidak sabar dengan penugasan yang bersifat lama dan lambat
  54. Saya merasa bahwa pikiran saya tidak pernah berhenti
  55. Keputusan-keputusan yang penting harus dibuat secara teliti dan strategis
  56. Saya percaya sepenuhnya bahwa setiap orang saling membutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan
  57. Biasanya saya membuat keputusan tanpa berpikir terlalu banyak
  58. Emosi hanya akan menimbulkan permasalahan
  59. Saya mengharapkan agar saya disenangi oleh orang banyak
  60. Saya dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sangat cepat
  61. Saya selalu menguji ide baru yang saya miliki kepada orang lain
  62. Saya percaya dengan pendekatan ilmiah dalam pemecahan masalah
  63. Saya senang agar setiap pekerjaan dapat diselesaikan
  64. Hubungan baik dengan pihak lain adalah hal yang sangat penting
  65. Saya ingin menyelesaikan pekerjaan dengan segera
  66. Saya dapat menerima perbedaan-perbedaan yang terdapat pada individu-individu yang bekerja sama dengan saya
  67. Komunikasi pada dasarnya adalah tujuan akhir interaksi kita dengan orang lain
  68. Saya senang diajak untuk berbincang-bincang secara intelektual (ilmiah)
  69. Saya senang mengorganisir (mengarahkan secara teratur)
  70. Saya biasanya menikmati bila harus loncat dari satu tugas ke tugas yang lain
  71. Berbicara dan bekerja dengan orang lain adalah suatu tindakan yang kreatif
  72. Mengembangkan diri adalah suatu hal yang saya pandang penting
  73. Saya senang berbincang-bincang dalam rangka bertukar ide
  74. Saya tidak senang memboroskan waktu
  75. Saya senang mengerjakan pekerjaan yang memang benar-benar cocok dengan saya
  76. Saya banyak belajar melalui interaksi dengan orang lain
  77. Saya menganggap berkhayal adalah menyenangkan dan ada nikmatnya
  78. Saya bisa sabar dengan persoalan yang bersifat detail
  79. Saya senang dengan pernyataan yang singkat (to the point)
  80. Saya merasa yakin pada kemampuan diri sendiri

 

LANGKAH KEDUA

Setelah Anda selesai dengan pilihan-pilihan Anda, teruskan kerja Anda dengan memindahkan lingkaran-lingkaran yang Anda buat pada nomor-nomor pilihan ke dalam pengelompokan di bawah ini, dan selanjutnya jumlahkan lingkaran-lingkaran tersebut untuk masing-masing pengelompokan ( Kelompok 1 , 2 , 3 dan 4 )

1 : 1-8-9-13-17-24-26-31-33-40-41-48-50-53-57-63-65-70-74-79 = ………..

2 : 2-7-10-14-18-23-25-30-34-37-42-47-51-55-58-62-66-69-75-78 = ………..

3 : 3-6-11-15-19-22-27-29-35-38-43-46-49-56-59-64-67-71-76-80 = ………..

4 : 4-5-12-16-20-21-28-32-36-39-44-45-52-54-60-61-68-72-73-77 = ………..

(Perhatikan, jumlah lingkaran paling banyak untuk satu kelompok adalah 20 dan jumlah lingkaran untuk keempat kelompok tidak akan lebih dari 40).

 

Sumber: kajianpsikologi.guru-indonesia.net

 

Congratulation

07 January 2024 15:41:33 Dibaca : 160

Selamat kepada seluruh pembaca artikel ini, artinya Anda semakin peduli terhadap literasi. Semakin banyak membaca semakin luas pemikiran Anda, dan menjadikan diri pribadi semakin mampu dalam menggapai cita-cita. Perkenalkan saya Ilham Khairi Siregar, merupakan petugas kampus yang peran nya sebagai pendidik di kampus di Jurusan Bimbingan dan Konseling. Saat ini Bimbingan dan Konseling itu seperti primadona dibutuhkan seluruh lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik seperti pengembangan diri di bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir. Bersyukur bisa menjadi bagian dari perkembangan Bimbingan dan Konseling meskipun masih di lingkup perguruan tinggi, dan bersyukur pula bisa menjadi bagian dari bahan literasi Anda sebagai pembaca Blog ini. Selamat untuk Anda karena sudah memulai dari membaca hal sederhana ini dan menjadikan Anda sebagai individu yang siap untuk menghadapi perkembangan zaman, dengan literasi Anda semakin berisi kemampuan berpikirnya dan menghasilkan karya-karya inovatif bermanfaat bagi pribadi dan orang banyak. Congrats...