KATEGORI : Informasi terkini

Gorontalo, Indonesia – Dalam dunia pengobatan luka bakar, terutama luka bakar derajat kedua, penggunaan bahan alami semakin diminati karena sifatnya yang lebih aman dan ramah lingkungan. Salah satu bahan alami yang memiliki potensi besar dalam perawatan luka bakar adalah daun Pandanus amaryllifolius, atau yang lebih dikenal dengan pandan wangi. Tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional dan kini semakin mendapat perhatian dalam penelitian modern.

Apa Itu Pandanus Amaryllifolius?

Pandanus amaryllifolius, atau pandan wangi, adalah tanaman yang tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Daun pandan ini dikenal memiliki aroma yang khas, dan dalam dunia herbal, daun pandan digunakan untuk berbagai tujuan pengobatan. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri, menjadikannya bahan yang potensial dalam perawatan luka, termasuk luka bakar.

Mengapa Daun Pandan Potensial untuk Penyembuhan Luka?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak daun Pandanus amaryllifolius dapat mempercepat proses penyembuhan luka bakar. Daun pandan mengandung senyawa seperti flavonoid, tannin, alkaloid, dan polifenol, yang berperan penting dalam penyembuhan luka. Senyawa-senyawa ini bekerja dengan cara mengurangi peradangan, meningkatkan produksi kolagen, serta mempercepat proliferasi fibroblas  semua faktor yang sangat penting dalam regenerasi jaringan yang rusak akibat luka bakar.

Bagaimana Daun Pandan Membantu Penyembuhan Luka Bakar?

Penelitian menunjukkan bahwa gel yang mengandung ekstrak daun pandan dapat mempercepat penyembuhan luka bakar dengan cara-cara berikut:

  1. Sifat Antioksidan: Flavonoid dan polifenol dalam daun pandan membantu mengurangi stres oksidatif yang sering terjadi pada luka bakar, mempercepat regenerasi sel, dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada jaringan yang rusak.
  2. Sifat Anti-inflamasi: Tanin dan flavonoid yang terkandung dalam daun pandan juga memiliki sifat antiinflamasi, yang membantu meredakan peradangan yang muncul setelah luka bakar, sehingga mempercepat proses penyembuhan.
  3. Sifat Antibakteri: Ekstrak daun pandan terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap patogen yang sering menyebabkan infeksi pada luka bakar, seperti Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Ini sangat penting dalam mencegah infeksi yang dapat memperlambat proses penyembuhan.

Hasil Penelitian Terkini

Sebuah studi oleh Mohamad Aprianto Paneo dan Tim Peneliti dari Jurusan Farmasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo mengembangkan gel yang mengandung ekstrak daun pandan dengan konsentrasi etanol 70%. Gel ini diuji pada tikus dengan luka bakar derajat kedua dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Formulasi dengan konsentrasi ekstrak daun pandan 40% menunjukkan penyembuhan luka yang lebih cepat dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan luka sembuh sepenuhnya dalam waktu 12 hari. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pandan, semakin cepat luka bakar dapat sembuh.

Keunggulan Daun Pandan dalam Perawatan Luka Bakar

Keunggulan utama dari penggunaan Pandanus amaryllifolius dalam perawatan luka bakar adalah keamanannya. Gel yang mengandung ekstrak daun pandan menunjukkan hasil yang aman dan efektif, tanpa menimbulkan iritasi atau efek samping pada kulit. Selain itu, penggunaan bahan alami ini jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan obat-obatan sintetis yang sering digunakan dalam perawatan luka bakar.

Kesimpulan

Dengan kandungan senyawa bioaktif yang melimpah, Pandanus amaryllifolius (daun pandan) memiliki potensi yang sangat besar dalam mempercepat penyembuhan luka bakar. Ekstrak daun pandan tidak hanya mempercepat penyembuhan luka tetapi juga membantu mencegah infeksi dan mengurangi peradangan. Pengembangan lebih lanjut dari gel berbasis daun pandan ini dapat menjadi alternatif alami yang efektif dan terjangkau untuk perawatan luka bakar, membawa harapan baru dalam pengobatan luka bakar yang lebih aman dan berbasis tanaman.

Referensi:

Paneo, M. A., Thomas, N., Ramadhani, F. N., Latif, M. S., Moo, F. R., Puluhulawa, L. E., Nusi, I., & Ayuhastuti, A. (2026). Innovative Gel Formulation with 70% Ethanol Extract of Pandanus amaryllifolius Leaf for Accelerated Healing of Second-Degree Burn in Rats. Tropical Journal of Natural Product Research, 10(1), 6493-6503. https://doi.org/10.26538/tjnpr/v10i1.9

Para peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo telah mengembangkan sebuah inovasi terbaru dalam dunia pengobatan luka diabetes, yaitu gel semprot HulDerma Spray yang terbuat dari albumin ikan Hulu’u (Giuris margariticus). Gel ini menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan dalam mempercepat penyembuhan luka pada penderita diabetes, yang selama ini dikenal sulit untuk sembuh akibat gangguan sirkulasi dan neuropati.

Penelitian ini dipimpin oleh Mohamad Aprianto Paneo dari Departemen Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo, bersama dengan tim peneliti lainnya dari berbagai disiplin ilmu, termasuk ahli farmasi dan biomedik. Tim ini juga melibatkan kolaborasi dengan departemen perikanan, yang berperan dalam ekstraksi albumin ikan Hulu’u.

Penelitian ini dilakukan di Gorontalo, Indonesia, dengan menggunakan ikan Hulu’u yang hanya ditemukan di perairan Danau Limboto, Gorontalo. Ikan ini adalah spesies ikan air tawar endemik yang kaya akan protein dan senyawa bioaktif, menjadikannya bahan yang sangat potensial dalam pengobatan luka. Penelitian ini tidak hanya berfokus pada aspek ilmiah, tetapi juga mengusung nilai sosial-ekonomi, karena memanfaatkan sumber daya lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Gel semprot HulDerma Spray ini pertama kali diuji pada tahun 2025 dan hasilnya diterbitkan pada Januari 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi dengan konsentrasi albumin 30% (F3) memberikan pengurangan diameter luka yang paling signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol, yang hanya menunjukkan penurunan yang lebih lambat.

Luka diabetes adalah salah satu komplikasi paling berbahaya dari diabetes mellitus, karena luka ini dapat menyebabkan infeksi serius, perawatan rumah sakit berkepanjangan, bahkan amputasi. Saat ini, pengobatan luka diabetes masih terbatas dan sering kali memerlukan waktu yang lama untuk sembuh. HulDerma Spray menawarkan solusi baru yang lebih cepat dan efektif dalam mempercepat penyembuhan luka, sekaligus memanfaatkan bahan alami yang ada di Indonesia.

Gel semprot HulDerma Spray bekerja dengan cara mengaplikasikan albumin ikan Hulu’u langsung ke area luka. Formulasi ini tidak hanya mempercepat proses regenerasi jaringan, tetapi juga memiliki sifat antibakteri yang membantu mencegah infeksi pada luka. Gel semprot ini dirancang untuk mudah digunakan, memiliki daya sebar yang optimal, dan cepat kering, yang membuatnya sangat nyaman untuk digunakan oleh pasien.

Meskipun hasil ini sangat menggembirakan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji keamanannya dalam jangka panjang dan memastikan efektivitasnya pada manusia. Penelitian lanjutan juga perlu memperhitungkan berbagai faktor biologis lainnya yang mungkin memengaruhi proses penyembuhan luka pada pasien manusia.Dengan adanya inovasi ini, diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi luka yang lebih efektif dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Sumber:Paneo, M. A., Djuwarno, E. N., Habibie, S. A., Maulana, A. N., et al. (2026). Formulation and In Vivo Evaluation of Hulu’u Fish (Giuris margariticus) Albumin Spray Gel for Diabetic Wounds. Syifa Sciences and Clinical Research, 8(1), 59-78.

Soal Pilihan Ganda

1. Apa tujuan utama dari monitoring dalam penyelesaian masalah kefarmasian?

  • A. Menilai efisiensi biaya terapi
  • B. Menilai respons terapi dan mengidentifikasi masalah pengobatan
  • C. Menentukan jenis obat yang digunakan
  • D. Menghitung dosis obat yang tepat

2. Komponen apa yang harus dimonitor dalam terapi hipertensi?

  • A. Kadar glukosa darah
  • B. Tekanan darah
  • C. Kadar kolesterol darah
  • D. Kadar kreatinin darah

3. Apa tujuan dari evaluasi dalam penyelesaian masalah kefarmasian?

  • A. Menilai apakah obat tersedia di apotek
  • B. Menilai apakah hasil pengobatan tercapai dan jika terapi perlu diubah
  • C. Menilai efektivitas biaya obat
  • D. Menilai kualitas layanan apotek

4. Apa jenis pencatatan yang paling penting untuk menjamin keselamatan pasien selama pengobatan?

  • A. Pencatatan pengobatan dan efek samping
  • B. Pencatatan administrasi apotek
  • C. Pencatatan jumlah obat yang dibeli
  • D. Pencatatan riwayat penyakit pasien

5. Dalam pelaporan masalah kefarmasian, apa yang harus dilaporkan oleh apoteker terkait efek samping obat?

  • A. Lokasi apotek
  • B. Nama pasien
  • C. Reaksi yang tidak diinginkan akibat pengobatan
  • D. Jumlah obat yang terjual

6. Apa yang dimaksud dengan laporan efek samping obat?

  • A. Laporan tentang keluhan pasien terhadap obat yang diberikan
  • B. Laporan terkait jumlah obat yang terjual di apotek
  • C. Laporan tentang biaya pengobatan pasien
  • D. Laporan tentang kepuasan pasien

7. Apa komponen utama dalam monitoring obat untuk pasien dengan diabetes tipe 2?

  • A. Tekanan darah dan berat badan
  • B. Kadar glukosa darah dan kepatuhan pasien terhadap terapi
  • C. Konsumsi kalori dan dosis obat
  • D. Tindak lanjut pengobatan dengan antibiotik

8. Apa yang harus dilakukan apoteker jika pasien melaporkan efek samping berupa mual setelah mengonsumsi obat?

  • A. Mengubah terapi pasien tanpa berdiskusi dengan dokter
  • B. Membuat laporan efek samping dan berdiskusi dengan dokter
  • C. Menghentikan pengobatan pasien secara langsung
  • D. Memberikan obat anti-mual kepada pasien

9. Apa jenis pencatatan yang harus dilakukan oleh apoteker terkait penggunaan obat pada pasien?

  • A. Pencatatan biaya obat
  • B. Pencatatan dosis, frekuensi, dan cara pemberian obat
  • C. Pencatatan riwayat keluarga pasien
  • D. Pencatatan status pekerjaan pasien

10. Apa yang dimaksud dengan "pencatatan klinis" dalam praktik kefarmasian?

  • A. Pencatatan laporan keuangan apotek
  • B. Pencatatan tentang jenis terapi yang diberikan kepada pasien
  • C. Pencatatan informasi medis tentang riwayat penyakit pasien dan hasil tes
  • D. Pencatatan resep obat yang dimasukkan ke dalam sistem apotek

 

Soal Essay Studi Kasus

Kasus 1: Monitoring Tekanan Darah Seorang pasien berusia 60 tahun dengan hipertensi kronis sedang menjalani pengobatan dengan obat golongan ACE inhibitor. Setelah dua minggu, apoteker diminta untuk memantau tekanan darah pasien.

Tugas:

Sebutkan parameter apa saja yang perlu dipantau oleh apoteker selama terapi hipertensi.Apa langkah yang harus diambil jika tekanan darah pasien tidak menunjukkan perbaikan setelah dua minggu pengobatan?

 

Kasus 2: Evaluasi Penggunaan Insulin pada Pasien Diabetes Seorang pasien dengan diabetes tipe 1 yang menggunakan insulin melaporkan mengalami hipoglikemia beberapa kali seminggu. Apoteker diminta untuk mengevaluasi dosis insulin pasien.

Tugas:

Jelaskan langkah-langkah yang perlu diambil apoteker untuk mengevaluasi dosis insulin pasien.Apa saja faktor yang dapat menyebabkan hipoglikemia pada pasien ini dan bagaimana cara penyesuaian dosis insulin?

 

Kasus 3: Pencatatan Efek Samping Seorang pasien yang menggunakan obat antihipertensi mengalami batuk kering setelah dua minggu pengobatan. Pasien melaporkan efek samping ini kepada apoteker.

Tugas:

Apa yang harus dicatat oleh apoteker terkait efek samping yang dilaporkan oleh pasien?Bagaimana apoteker harus melaporkan efek samping tersebut kepada tim medis atau dokter?

 

Kasus 4: Pelaporan Masalah Kefarmasian Seorang pasien yang sedang menjalani terapi obat antibiotik melaporkan adanya reaksi alergi berupa ruam kulit. Apoteker diminta untuk membuat laporan terkait masalah ini.

Tugas:

Jelaskan proses pelaporan efek samping yang harus dilakukan oleh apoteker.Apa yang harus dicantumkan dalam laporan untuk memastikan informasi yang jelas dan lengkap?

 

Kasus 5: Monitoring Kepatuhan Pengobatan Pasien dengan penyakit jantung gagal untuk mengikuti terapi pengobatan yang telah disarankan oleh dokter.

Tugas:

Bagaimana apoteker dapat memonitor kepatuhan pasien terhadap terapi pengobatannya?Apa langkah yang harus diambil apoteker jika ditemukan masalah dalam kepatuhan pasien?

 

Kasus 6: Evaluasi Pengobatan pada Pasien Hipertensi Setelah satu bulan terapi dengan obat golongan beta blocker, pasien hipertensi melaporkan bahwa tekanan darahnya masih tinggi. Apoteker diminta untuk melakukan evaluasi pengobatan.

Tugas:

Apa indikator yang perlu dievaluasi oleh apoteker dalam kasus ini?Apa rekomendasi terapi yang bisa diberikan berdasarkan hasil evaluasi?

 

Kasus 7: Pencatatan Pengobatan pada Pasien Baru Seorang pasien baru datang ke apotek untuk mendapatkan obat untuk penyakit jantung. Apoteker memberikan informasi tentang dosis dan cara penggunaan obat.

Tugas:

Jelaskan jenis pencatatan apa yang harus dilakukan oleh apoteker terkait pengobatan pasien ini.Apa saja informasi penting yang harus dicatat untuk mencegah kesalahan dalam pemberian obat?

 

Kasus 8: Monitoring Efek Samping Obat pada Pasien Kanker Seorang pasien yang sedang menjalani kemoterapi mengalami mual dan muntah setelah pengobatan. Apoteker diminta untuk memonitor efek samping obat kemoterapi.

Tugas:

Apa yang harus dipantau oleh apoteker terkait efek samping obat kemoterapi pada pasien ini?Apa yang harus dilakukan jika efek samping yang lebih serius muncul?

 

Kasus 9: Evaluasi Terapi Pengobatan pada Pasien Lansia Seorang pasien lansia dengan banyak penyakit komorbid mulai menggunakan beberapa jenis obat. Apoteker diminta untuk mengevaluasi terapi pengobatan untuk menghindari interaksi obat.

Tugas:

Apa yang harus dievaluasi oleh apoteker terkait penggunaan obat pada pasien lansia?Bagaimana apoteker dapat mengidentifikasi dan mencegah potensi interaksi obat?

 

Kasus 10: Pelaporan Masalah Kefarmasian pada Obat-Obatan Baru Seorang pasien baru memulai terapi dengan obat yang baru diluncurkan di pasar. Setelah beberapa hari, pasien melaporkan adanya efek samping yang tidak biasa.

Tugas:

Apa yang harus dilakukan oleh apoteker dalam hal pelaporan efek samping pada obat baru?Bagaimana pelaporan tersebut dapat membantu pihak-pihak terkait dalam mengambil tindakan lebih lanjut?

 

Jawaban dikirim melalui komentar dibawah ini.

Tuliskan Nama dan NIM.

Deadline pengerjaan tugas 25 Januari 2026. 

Deskripsi Mata Kuliah :

Mata kuliah Regulasi Industri Farmasi ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang regulasi yang mengatur produksi, distribusi, dan pengawasan produk farmasi. Mahasiswa akan mempelajari tentang peran dan tanggung jawab badan regulasi nasional seperti BPOM, serta badan internasional seperti FDA dan EMA. Selain itu, mata kuliah ini juga mencakup topik penting lainnya seperti manajemen mutu, pengelolaan SDM dalam industri farmasi, standar bangunan dan fasilitas, serta pengawasan mutu yang sangat relevan dengan praktik apoteker.

Modul pertama akan fokus pada pengenalan dasar regulasi industri farmasi, pentingnya pengawasan kualitas dan keselamatan produk, serta memahami proses pendaftaran produk farmasi di berbagai lembaga pengawas. Pemahaman tentang regulasi ini sangat penting untuk memastikan produk farmasi yang aman, efektif, dan berkualitas tinggi, yang pada akhirnya mendukung praktik profesi apoteker dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

Dengan mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat memiliki pengetahuan yang kuat mengenai prinsip dasar regulasi, serta mampu menerapkannya dalam konteks industri farmasi yang lebih luas.

MATERI KULIAH :

Mater kuliah dapat di akses melalui link berikut : Materi

 

 

MODUL :

Modul 1: Regulasi Industri Farmasi :

Sub-Bagian 1: Pengantar Regulasi Industri Farmasi

Tujuan Pembelajaran:

  • Mahasiswa memahami dasar-dasar regulasi dalam industri farmasi.
  • Mengetahui pentingnya regulasi dalam memastikan kualitas, keamanan, dan efektivitas produk farmasi.

Definisi Regulasi:

Regulasi adalah aturan atau peraturan yang dibuat oleh badan yang berwenang untuk mengontrol dan mengawasi produksi, distribusi, dan penggunaan produk farmasi, guna menjamin kualitas dan keselamatan konsumen.Pentingnya Regulasi:

Keamanan dan Kesehatan Masyarakat: Menghindari produk yang berbahaya atau tidak efektif.

Kualitas Produk: Menjamin bahwa produk farmasi yang beredar memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.Kepatuhan Industri: Membantu industri farmasi mengikuti standar internasional untuk meningkatkan daya saing global.

Tujuan Regulasi:

  • Memastikan produk farmasi aman untuk digunakan.
  • Menjamin efektivitas dan kualitas produk yang beredar di pasar.
  • Menjaga standar yang tinggi dalam pembuatan, pengujian, dan distribusi produk farmasi.

 

TUGAS :

Tugas Terstruktur Modul 1: Regulasi Industri Farmasi dalam Menerbitkan Izin Produk

Judul Tugas: Analisis Regulasi Penerbitan Izin Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, dan Alat Kesehatan

Deskripsi Tugas: Mahasiswa diminta untuk menganalisis proses regulasi yang diterapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam penerbitan izin edar untuk obat, obat tradisional, kosmetik, dan alat kesehatan. Tugas ini bertujuan untuk memahami tahapan dan syarat yang harus dipenuhi oleh produsen dalam mengajukan izin edar produk di Indonesia.

 

Langkah-Langkah Penyelesaian Tugas:

BUATLAH MENJADI 4 KELOMPOK BESAR : 

Kelompok 1 : Absen Nomor 1-10 : Memilih Produk Obat

Kelompok 2 : Absen Nomor 11-20 : Memilih Produk Obat Tradisional

Kelompok 3 : Absen Nomor 21-30 : Memilih Produk Obat Kosmetik

Kelompok 4 : Absen Nomor 31-40 : Memilih Alat Kesehatan

 

Pengenalan Produk yang Dipilih

Pilih salah satu jenis produk farmasi berikut untuk dianalisis proses regulasi penerbitan izinnya:

  • Obat: Produk farmasi yang digunakan untuk pengobatan penyakit atau kondisi medis tertentu.
  • Obat Tradisional: Produk yang berasal dari bahan alam, digunakan untuk tujuan pengobatan atau pencegahan penyakit.
  • Kosmetik: Produk yang digunakan untuk perawatan tubuh atau kecantikan tanpa mengklaim efek pengobatan.
  • Alat Kesehatan: Produk yang digunakan untuk diagnosis, pencegahan, atau pengobatan kondisi medis, seperti alat medis (contoh: termometer, alat uji diagnostik)

 

TUGAS 1. Proses Penerbitan Izin untuk Masing-Masing Produk

Obat (misalnya: Paracetamol)

  1. Jelaskan proses yang harus dilalui oleh produsen untuk mendapatkan izin edar obat di BPOM Indonesia!
  2. Apa saja syarat yang diperlukan dalam pengajuan izin edar obat, seperti uji klinis, data keamanan, dan efektivitas produk?
  3. Apa saja pengujian yang dilakukan BPOM untuk memastikan obat aman dan efektif?

Obat Tradisional (misalnya: Jamu Kunyit Asam)

  1. Jelaskan proses yang harus dilalui untuk pendaftaran obat tradisional di BPOM.
  2. Apa perbedaan regulasi obat tradisional dengan obat pada umumnya dalam hal uji keamanan dan efektivitas?
  3. Proses sertifikasi dan izin edar yang diperlukan untuk obat tradisional.

Kosmetik (misalnya: Sabun Mandi Cair)

  1. Jelaskan tahapan yang diperlukan untuk pendaftaran produk kosmetik di BPOM.
  2. Apa saja peraturan yang berlaku untuk memastikan bahan-bahan kosmetik aman untuk digunakan?
  3. Apakah uji klinis diperlukan untuk kosmetik? Jelaskan perbedaannya dengan obat dalam hal pengujian.

Alat Kesehatan (misalnya: Alat Tes Diagnostik)

  1. Jelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh produsen untuk mendapatkan izin edar alat kesehatan di BPOM.
  2. Apa saja persyaratan yang dibutuhkan untuk alat kesehatan? Misalnya, pengujian fungsionalitas, keamanan, dan klaim medis.
  3. Bagaimana pengawasan terhadap alat kesehatan yang beredar di pasar untuk memastikan kualitas dan keselamatan?

TUGAS 2 . Regulasi yang Diterapkan dalam Penerbitan Izin

  1. Jelaskan regulasi dan standar yang diterapkan BPOM dalam proses penerbitan izin edar produk farmasi yang Anda pilih, baik itu obat, obat tradisional, kosmetik, atau alat kesehatan.
  2. Good Manufacturing Practices (GMP): Apa itu GMP dan bagaimana standar ini diterapkan pada masing-masing produk (obat, obat tradisional, kosmetik, alat kesehatan)?
  3. Kontrol Kualitas dan Keamanan: Bagaimana BPOM mengontrol kualitas produk dan menjamin bahwa produk yang beredar aman untuk digunakan oleh masyarakat?
  4. Pengawasan Pasca-Izin: Jelaskan bagaimana BPOM melakukan pengawasan terhadap produk setelah mendapatkan izin edar untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang ada.

 

TUGAS 1 : Dalam bentuk PowerPoint (Maksimal 15 Slide)

TUGAS 2 : Dalam bentuk Video Penjelasan Singkat (Maksimal 5 Menit) - Video WAJIB Memuat Wajah pada saat penjelasan!. (Untuk bentuk penjelasan dibuat semenarik mungkin)

 

FORMULIR PENGISIAN/UPLOAD Tugas : Upload Tugas Klik Disini

BATAS PENGUMPULAN TUGAS  : Selasa, 02 September 2025

Sistem Mutu dan Pengelolaan Sumber Daya dalam Industri Farmasi: Panduan Praktis untuk Personalia, Fasilitas, dan Peralatan

 

PENULIS :

Faradila Ratu Cindana MooMohamad Aprianto PaneoNurain ThomasRobert TungadiMultiani S. LatifLisa Efriani PuluhulawaMohammad Agil R. IsmailNazwa Zaharani Yusuf FariedJihan R. GubaliNabila Natasya Sumaga

Industri farmasi memegang peran vital dalam menjamin ketersediaan obat yang aman, efektif, dan berkualitas. Untuk mencapai standar tersebut, diperlukan pemahaman yang mendalam dan aplikatif mengenai sistem mutu serta pengelolaan sumber daya secara menyeluruh.

Buku ini disusun sebagai panduan praktis bagi para praktisi, akademisi, serta pihak-pihak yang terlibat dalam industri farmasi. Dengan pendekatan yang sistematis dan berbasis praktik, buku ini membahas prinsip-prinsip mutu serta strategi pengelolaan personalia, fasilitas, dan peralatan secara efektif.

Ditujukan bagi profesional dan mahasiswa di bidang farmasi, buku ini diharapkan dapat menjadi referensi terpercaya dalam upaya meningkatkan kualitas dan efisiensi operasional industri farmasi di Indonesia.

Buku dapat didownload pada link berikut : https://drive.google.com/file/d/1hfo8j9nAsHInPupqnV_oWHs52fOhGTyd/view?usp=drivesdk