Buku Farmasi Nuklir : Farmasi Nuklir : Radioisotop Dalam Ranah Kesehatan
Farmasi Nuklir : Radioisotop Dalam Ranah Kesehatan

PENULIS
DOSEN :
Mohamad Aprianto Paneo, La Ode Aman, Ishak Isa
MAHASISWA :
Moh. Abdul Ghali Saputra, Adinda Nur Maghfiroh, Irmayanti, Karmila Lihawa, Ni Wayan Selviani, Siti Ruqaiyah Lakoro, Maribby Zuhriah Thalib, Riyanti Djafar , Andini P. Lumabaeng, Fathina Aulia Paputungan, Farah Fauzia Nabila Idris, Syiefa Aulia Dai.
Pemanfaatan radioisotop dalam pelayanan kesehatan merupakan salah satu penerapan paling maju dari ilmu nuklir untuk kepentingan manusia. Dalam kedokteran modern, banyak penyakit tidak lagi cukup dinilai hanya berdasarkan perubahan anatomi, tetapi memerlukan pemahaman tentang fungsi, metabolisme, dan proses biokimia yang berlangsung di dalam tubuh. Kedokteran nuklir hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui penggunaan radioisotop sebagai penanda (tracer) biologis. Radioisotop yang digunakan dalam bidang kesehatan diformulasikan menjadi radiofarmaka, yaitu sediaan farmasi steril yang mengandung radionuklida dan diberikan kepada pasien dalam jumlah sangat kecil. Meskipun jumlahnya kecil, radiofarmaka mampu memberikan informasi diagnostik yang sangat bernilai atau efek terapeutik yang signifikan.
Dapatkan buku secara lengkap. email : apriyanto07@ung.ac.id
Buku Farmasi Nuklir
Farmasi Nuklir : Radiokimia, Radiofarmasi dan Radioisotop

DOSEN
- Mohamad Aprianto Paneo, M.Farm. Apt
- Dr. La Ode Aman, M.Si
- Prof. Dr. Ishak Isa, M.Si
MAHASISWA
- Nabbil Aditya Narayan
- Jhuandaniel Piator Pangaribuan
- Rayhan Firman Anasiru
- Muh. Zidna Al-Mafaza
- Yulianti Paris
- Selviana
- Diva Nur Anggraini
- Fiantika Ambadar Yahya
- Dela Salsabyla Aprilla Dukalang
- Sitti Khayrani A. Dalle
Radiofarmasi adalah cabang ilmu kefarmasian yang secara khusus mempelajari perancangan, pembuatan, formulasi, pengendalian mutu, hingga pemanfaatan sediaan radioaktif yang disebut radiofarmaka. Radiofarmaka merupakan produk farmasi yang mengandung radioisotop yang berfungsi sebagai penanda (tracer) untuk diagnosis atau sebagai agen terapeutik dalam pengobatan berbagai penyakit.
Dalam praktiknya, radiofarmasi menggabungkan prinsip kimia radioaktif (radiokimia), farmasetika, dan kedokteran nuklir. Beberapa karakteristik utama radiofarmaka meliputi:
- Mengandung radionuklida dengan aktivitas radiasi terukur. Harus memenuhi kriteria steril, apirogen, dan memiliki kemurnian radiokimia yang sesuai standar. Digunakan dalam jumlah mikro (mikrodosis), namun sangat informatif dalam menggambarkan fungsi organ tubuh. Radiofarmasi sangat berperan dalam mengembangkan agen untuk seperti Tc-99m MDP, FDG-F18, serta agen terapi seperti I-131 dan Lu-177. Setiap radiofarmaka harus dirancang agar aman, efektif, dan memiliki distribusi biologis yang sesuai target organ.
Lebih lengkap tentang buku
email : apriyanto07@ung.ac.id