CERPEN KETIKA PESTA USAI

09 January 2023 16:41:59 Dibaca : 928

KETIKA PESTA USAI

ADRIANSYAH A. KATILI

Malam itu sepasang suami istri itu sedang duduk termangu-mangu. Te Hasa sedang memegang undangan dari atasannya di kantor pemerintahan tempatnya bekerja. Undangan resepsi pernikahan anak sang bos. Undangan yang dirancang khusus, dengan kertas luks berwarna merah muda, tulisan berwarna emas mengkilat. Ada foto pre-wedding dengan lay out yang istimewa. Tulisan mengisyaratkan bahwa penerima undangan itu, suami istri diharapkan menghadiri dan memberikan doa restu pada pernikahan pengantin. Pengantin putri itu adalah anak dari bos si Hasa.

Bukanlah undangan itu yang membuat kedua suami istri penerima undangan itu menjadi sangat galau. Tapi pengirim undangan itu yang menjadi masalah. Sebagai bawahan di kantor, Hasa merasa dia dan istrinya harus menghadiri acara resepsi itu. Dia dan istrinya harus memberikan penghargaan yang tertinggi dibandingkan bila  pengundang itu adalah tetangga, sanak famili ataupun teman sejawat. Ini ada hubungannya dengan menyenangkan atasan yang diharapkan berimbas pada peningkatan kesejahteraan dalam bentuk perhatian sang bos. Siapa tahu bisa menjadi perantara promosi di kantor.

Nah, sumber kegalauan adalah istrinya Hasa, Habibah. Sebagaimana lazimnya perempuan Gorontalo, dan mungkin perempuan etnis lainnya, ingin tampil PD. Tampil PD di sini diartikan memiliki baju yang pantas bahkan mewah , bahkan kalau perlu asesoris yang mewah pula. Hal ini menjadi masalah besar bagi Hasa yang cuma pegawai rendahan dengan gaji yang rendahan pula. Mana cukup kalau harus membeli baju mewah dengan asesoris mewah. Seumur hidupnya, Hasa tidak pernah memegang baju dan asesoris seperti itu. Namun rengekan istri tercinta dan ancaman tidak akan ikut ke pesta membuat Hasa pusing 13 keliling. Dari mana dia bisa mendapat uang untuk pakaian dan asesoris semahal itu?

"Pokoknya, Kak, aku harus tampil prima di depan ibu bos dan ibu-ibu lainnya."

"Bagaimana caranya , Nou*. Gajiku  terlalu kecil untuk mencapait harganya."

"Pokoknya harus."

Malam itu mereka tidur dalam galau. Hasa galau karena tuntutan istrinya. Habibah galau karena keinginan untuk tampil prima di pesta bergengsi yang akan berlangsung lima hari lagi. Pesta resepsi pernikahan anak boss suaminya. Dia membayangkan ribuan pasang mata yang akan memandangnya dengan takjub. Ribuan pasang mata yang terkagum-kagum sehingga lupa berkedip. Hilang kepekaan rasa sehingga tak merasa bila ada serangga yang tersesat, mengira bahwa mata yang terbelalak kagum itu adalah cahaya terang sehingga dengan rela menempelkan badannya di balik kelopak mata itu. Mulut mereka akan ternganga sehingga setiap serangga akan mengira bahwa itu adalah sarang yang  nyaman. Dan istri boss yang tak akan lagi memandang enteng padanya karena ternyata bisa tampil prima. Pendek kata Habibah membayangkan yang sangat wah, melebihi ucapan wahnya sendiri setiap menerima tambahan gaji 13 setiap tahunnya.

Kegalauan Hasa juga tak lepas dari perkara yang sama. Antara gengsi sang istri dan kelemahan kantongnya. Setiap bulan  dia hanya mampu membawa penghasilan dari gaji yang tidak seberapa. Baju mewah bisa dimanipulasi dengan membelikan baju murah namun dengan penampilan yang mewah. Namun bagaimana dengan perhiasan yang mewah? Istrinya menginginkan perhiasan asesoris yang lain dari yang lain, yang menurut dia bisa menaikkan derajat mereka, menaikkan gengsi setinggi-tingginya. Melebihi derajat ketua tim penggerak PKK di desanya. Melebihi derajat ibu camat. Dan ini diyakini akan menaikkan gengsi suaminya.

Kepala Hasa pusing, bukan lagi tujuh keliling, tapi ribuan keliling. Dari mana dia bisa mendapatkan uang pembeli perhiasan itu? Kalung emas dua puluh empat karat seberat 5 gram. Bermata berlian.

Sampai ayam jantan berkokok bersahut-sahutan mengucapkan selamat datang kepada sang surya sekaligus mengingat kepada umat bahwa sudah tiba saatnya menghadap sang Maha Boss yang menguasai hidup dan matinya alam semesta beserta seluruh isinya.

Di kantor, Hasa tidak sepenuhnya berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Beberapa kali dia mendapat teguran dari atasan langsung karena tidak menjawab pertanyaan atasaan dengan tepat.

"Hasa, sudah kau ketik naskah surat?"

"Iya, Pak. Perhiasan itu penting bagi istri saya." Jawabnya ngelantur.

"Apa? Emas?" tanya atasannya bingung.

"Hasa, kau baik-baik saja?"

"Iya, Pak. Saya harus menyediakannya."

Sang atasan tambah bingung. Ada apa dengan te Hasa? Jangan-jangan dia lagi kesurupan syetan kredit yang lagi ramai berkeliaran. Syetan itu memiliki berbagai nama, namun secara umum dikelompokkan pada dua group besar--Group Mas dan Group Daeng.

Begitulah keadaan Hasa. Semakin mendekati hari H semakin menjadi-jadi. Semakin uring-uringan. Habibah istrinya semakin galau. Semakin sering membayangkan ribuan pasang mata yang membelalak karena penampilan dirinya di pesta nanti.

Saat makan siang, butiran nasi terlihat seperti butiran emas berlian. Ketika sedang duduk istirahat di rumahnya, dia akan terbangun hanya karena radio tetangga memutarkan lagu yang dinyanyikan Berlian Hutauruk. Pantatnya terangkat dari kursi demi mendengar nama Berlian diucapkan penyiar. Dikiranya ada pengumuman obral berlian dengan harga yang super murah.

Bila ada tetangga yang kedatangan tamu, sejenis tukang kredit dari group mas, dan memanggil Mas dengan suara keras, dia akan terbangun dari pembaringan. Dia mengira ada penjualan emas keliling dengan harga murah. Pernah dia berlari ke jalan karena ada tetangga berteriak Mas. Dia mengira itu semacam pengumuman bahwa ada penjualan mas secara obral. Alangkah kecewanya dia. Ternyata yang itu hanya panggilan bagi penjual es krim. Sambil bersungut-sungut dia akan kembali ke pembaringan, melanjutkan acara berpikir bagaimana caranya mencari berlian ataupun emas.

Bila dia bosan, dia akan duduk di bawah pohon jambu di halaman depan rumahnya. Memandangi ayam-ayam yang berkeliaran. Timbul hayalannya, seandainya kotoran ayam itu berbentuk butiran emas atau butiran berlian. Memandangi buah-buah jambu yang bergelantungan. Lalu menghayalkan buah jambu yang berbentuk emas ataupun berlian. Dia akan mengumpulkan kotoran ayam yang berbentuk emas ataupun berlian, memetik buah jambu berbentuk emas ataupun berlian. Lalu dia akan mempersembahkannya bagi sang istri. Dengan persembahan ala bangsawan Inggris yang mencium punggung tangan sang kekasih. Istrinya akan memeluknya dan menciuminya sebagai suami yang penuh cinta.

Bila malam dia akan duduk di halaman depan, memandangi bintang gemintang dan membayangkan satu bintang saja jatuh dalam bentuk emas ataupun berlian.

Di waktu lain dia tidur dan bermimpi menjadi milyarder yang pulang bertualang naik jet pribadi. Pulang membawakan oleh-oleh berlian dari luar negeri, yang dibelinya di pusat shopping Singapuran. Dan istrinya menyambut dengan penuh cinta.

Hasa sudah tingkat sakit jiwa yang parah. Menyamai sakit jiwanya mereka yang gagal dalam PILKADA karena sudah habis-habisan dalam mentraktir calon pemilih namun pada hari pencoblosan ditinggalkan mereka yang sudah menikmati kemurahan hati yang semu.

Keadaan ini sudah sangat mengkhawatirkan seandainya Hasa tidak teringat sesuatu. Dia ingat istrinya memiliki seorang teman yang memiliki banyak perhiasan. Baik dari emas maupun dari berlian ataupun perak.

Bergegas dia mendatangi istrinya yang lagi melamun.

"Nou, kau ingat temanmu bernama Hadijah?"

"Iya, Kak. Ada apa?"

"Dia memiliki banyak perhiasan yang indah. Kau bisa pinjam satu malam saja."

"Kenapa harus pinjam, Kak?"

"Aku tak punya uang cukup untuk membeli. Sudahlah, pinjam saja. Yang pentingkan tampil beda. Tidak ada yang tahu bahwa perhiasanmu itu hanya pinjaman."

"Ia, Kak. Tapi apa dia mau meminjamkan?"

"Dicoba dulu. Dia kan teman terbaikmu sejak kecil."                         

Singkat kata, merekapun pergi ke rumah Hadijah. Hadijah setuju meminjamkan perhiasannya. Dia mengeluarkan satu kotak berisi beraneka perhiasan. Mata Habibah terbelalak lebar melihat aneka jenis perhiasan. Dia belum pernah melihat perhiasan sebanyak itu, dengan beraneka bentuk dan jenis. Ada cincin yang terbuat dari emas dan bertahtakan berlian. Ada kalung emas bermata belian ataupun permata.

"Silahkan pilih mana yang kau sukai."

"Aku pilih ini saja, ya?" Habibah mengambil sebuah kalung berlian yang paling mahal. Sebuah kalung berlian yang sangat indah. Dia mencobanya dan Hasapun terpesona melihat istrinya mencoba kalung itu. Betul-betul cantik. Sukar dibandingkan dengan artis tenar sekalipun. Habibah yang memang cantik terlihat semakin cantik dengan kalung itu.

Hari pernikahanpun tibalah. Malam itu mereka berdua pergi menghadiri resepsi pernikahan anak sang bos. Pesta yang meriah. Dihadiri para pejabat. Dari eselon tertinggi sampai eselon terendah. Para bapak dengan pakaian yang terbaik. Para ibu dengan pakaian tercantik. Dilengkapi dengan asesoris.

Isti Hasa tampil paling prima. Baju yang kelihatannya termahal dipadu dengan kalung yang juga terlihat sangat mahal. Cita-cita Habibah untuk membuat dirinya menjadi pusat perhatian tercapai. Semua pasang mata memperhatikan kalung itu. Kalung yang terlihat paling mahal.

Ketika dia diminta menyumbangkan sebuah lagu, dia tidak menolak. Habibah yang pada dasarnya pintar menyanyi, menyanyi dengan sangat merdu. Namun para hadirin bukan menyimak lagu. Mereka lebih menikmati kalung itu. Dengan pemakainya yang anggun.

Dan Hasa beserta istrinya mendapat kehormatan berfoto bersama pengantin. Didampingi oleh boss dan istrinya. Suatu kehormatan bagi pegawai rendahan. Ini sesuatu hal yang luar biasa, karena biasanya yang diundang foto bersama pengantin adalah orang-orang terhormat.

Demikianlah pasangan suami istri dari kelas sederhana itu. Malam itu mereka menikmati keadaan naik kelas menjadi kelas atas. Siapa yang tidak bahagia, naik peringkat dari orang yang tidak diperhitungkan, menjadi orang yang diperhitungkan?

Sepasang hati yang berbunga-bunga itupun pulang ke rumah setelah pesta usai. Sepanjang perjalanan pulang mereka membicarakan kejadian di pesta. Bagi mereka itu adalah hal yang spektakuler. Sampai di rumah, topik pembicaraan masih tetap pesta yang spektakuler.

"Aku bangga, Bang. Baru kali ini aku dianggap berkelas. Semuanya berkat kalung mahal ini." Kata Habiba sambil meraba dadanya, meraba kalungnya.

"Kak!!," tiba-tiba Habiba berteriak panik.

"Ada, apa? Apa yang terjadi?"  Tanya Hasa kaget dengan teriakan panik istrinya.

"Kalung, kalung."

"Ada apa dengan kalung itu?"

"Kalungnya hilang."

"Apa? Kalungnya hilang"

"Iya, kalungnya hilang." Kata Habiba dengan panik, tangannya gemetar meraba seluruh dadanya, lehernya, seluruh tubuhnya mencari kalung itu.

"Ya Allah, hilang? Kau tidak salah, Nou? Masak hilang?

"YaKak, hilang. Aduh, bagaimana ini. Kalung mahal pinjaman. Aduh."

"Coba periksan lagi."

Habiba meraba seluruh tubuhnya, namun tak ada seuntai kalungpun yang ditemukannya. Tangannya semakin gemetar, cemasnya semakin menjadi-jadi, pucat wajahnya semakin pias, dan gugupnya semakin menyiksanya.

Mereka mencoba menelusur jalan ke tempat pesta tadi. Mencari jangan-jangan kalung itu jatuh di jalan. Sebuah usaha yang sia-sia. Mereka kempali ke rumah dengan badan capek dan peluh menyelimuti badan.

Maka meledaklah tangisnya. Tangis ketakutan. Dia telah berjanji akan mengembalikan kalung itu segera setelah pesta usai karena akan dipakai pemiliknya. Te Hasa tambah galau. Galau memikirkan kalung mahal yang hilang. Galau melihat istrinya menangis. Dia tak sempat memperhatikan lunturnya make up istrinya karena air mata bercampur peluh.

Malam itu juga mereka keluar, mencari toko perhiasan yang masih buka. Setelah berkeliling, mereka menemukan sebuah toko dan toko itu menjual kalung yang sama persis dengan kalung yang hilang itu.

"Berapa harganya?" Tanya Hasa

"Lima belas juta  rupiah."

Setelah negosiasi, terjadi kesepakatan bahwa kalung itu tidak akan dijual kepada orang lain. Namun Hasa diberi kesempatan sampai besok hari jam dua belas siang. Tiada pilihan lain. Hasa harus berpacu dengan waktu, mencari pinjaman sebesar lima puluh juta  rupiah.

Besoknya, pagi-pagi sekali, te Hasa bertandang kepada tetangganya. Tetangga yang terkenal suka meminjamkan uang dengan bunga yang cukup mencekik sampai peminjam susah bernapas meskipun tidak sampai mencapai titik game over. Terjadilah kesepakatan yang berlanjut dengan transaksi. Te hasa memperoleh pinjaman sebesar lima belas juta . Dan dia harus mengembalikan pinjaman itu dengan cara mencicil dengan tambahan sebesar 5 persen. Tambahan itu diberi nama yang sangat memikat: bunga. Te Hasa sering memanggil istrinya dengan sebuta Bunga Hatiku. Tapi kali ini dia berhubungan dengan bunga pinjaman yang tentu saja tidak memiliki suara yang mendayu-dayu. Bunga yang bisu tapi membuat napas sesak.

Kalung itupun dibeli dan dibawa kepada Hadijah. Syukurlah Hadijah tidak tahu bahwa kalung itu sudah bertukar karena sama persis dengan kalung yang hilang.

Sejak saat itu mereka berhemat demi membayar hutang kepada si rentenir, baik hutang maupun bunganya. Te Hasa bekerja keras. Setelah pulang kantor dia berkerja extra mencari tambahan uang. Dia bekerja apa saja asal menghasilkan uang. Habibah berhemat. Bila biasanya makan tiga kali sehari, kali ini cukup makan dua atau satu kali sehari. Menunyapun mengalami proses minimalisasi. Bila biasanya lengkap dengan lauk dan sayur, kini cukup nasi dan garam. Bila beras sudah menipis sementara uang sudah habis, dia akan membuat bubur agar beras itu mencukupi.

Lama kelamaan penampilan tubuh mereka mengalami penurunan. Badan menjadi kurus secara drastis. Tubuh menjadi tua di usia yang masih muda. Sampai akhirnya setelah berlangsung selama dua tahun, maka lunaslah hutang itu.

Suatu saat Habibah bertemu hadijah di taman kota, ketika sedang bersantai. Dia ketemu Hadijah.

"Hai" sapanya.

Hadijah tidak bisa mengenalinya.

"Aku Habibah"

"Ya Allah. Mengapa kau jadi begini?"

"Yah, beginilah aku sekarang. Ini berawal dari kalung yang kau pinjamkan dulu."

"Maksudmu?"

"Kalung itu hilang, Hadijah. Yang aku berikan padamu itu adalah tukarannya. Kubeli yang sama persis dan harganya mahal, sekitar lima belas juta rupiah. Dan suamiku harus bekerja keras melunasi hutang pada rentenir dengan bunga yang sangat mencekik leher. Namun semuanya sudah berakhir. Hutang itu sudah lunas. Dan aku sudah mengembalikan kalung itu padamu."

"Ya Allah. Bodohnya kau, Habibah. Kenapa kau tukar dengan kalung berlian asli. Itu Cuma kalung imitasi."

 

Gorontalo 28 Januari 2016

Catatan: Cerpen ini disadur dari cerpen The Diamond Necklace karya Guy de Maupassant (Satrawan Spanyol). Diolah kembali disesuaikan dengan kondisi lokal Gorontalo.

 

Kategori

  • Masih Kosong

Blogroll

  • Masih Kosong