KATEGORI : Artikel

Kimia di Era Artificial Intelligence

04 January 2026 21:55:05 Dibaca : 41

Tujuan utama pengembangan teknologi sejak awal adalah untuk membebaskan manusia dari pekerjaan berat, meningkatkan kemampuan manusia dalam mengamati alam, serta memperluas kemampuan manusia dalam berkomunikasi. Selama ini, manusia diyakini sebagai satu-satunya makhluk yang mampu mengumpulkan pengetahuan, memberikan jawaban, dan mengambil keputusan. Dalam berbagai cerita fiksi ilmiah, manusia selalu digambarkan sebagai penguasa pengetahuan yang hampir tidak mungkin disaingi oleh mesin.

Namun, pandangan tersebut mulai berubah seiring dengan kebangkitan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Salah satu perkembangan AI yang paling mencolok adalah lahirnya ChatGPT, sebuah model bahasa berbasis AI yang mampu merespons permintaan manusia dengan cepat dan tampak “cerdas”. Kehadiran ChatGPT menimbulkan antusiasme sekaligus kekhawatiran di seluruh dunia, karena mesin kini dapat memberikan jawaban secara instan layaknya manusia. Diskusi tentang kelebihan dan kelemahan ChatGPT pun berkembang luas di media sosial dan literatur ilmiah.

Pada tahap saat ini, ChatGPT pada dasarnya berfungsi sebagai mitra dialog manusia, yang selalu siap merespons pertanyaan, meskipun jawabannya belum tentu benar secara ilmiah. Masa depan ChatGPT masih sulit diprediksi, namun ada kekhawatiran jika AI suatu hari dianggap sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Jika manusia berhenti berpikir dan sepenuhnya bergantung pada AI, hal tersebut justru dapat menyebabkan hilangnya kemampuan berpikir kritis dan bahkan mengancam esensi kemanusiaan itu sendiri. Perlu dipahami bahwa ChatGPT bekerja terutama berdasarkan pendapat dan informasi yang sudah ada, bukan berdasarkan penemuan ilmiah baru. Oleh karena itu, ChatGPT lebih tepat digunakan sebagai alat bantu awal untuk memperoleh gambaran umum atau sudut pandang tertentu, tetapi belum mampu menggantikan peran manusia dalam riset ilmiah yang inovatif.

Peran AI dalam Ilmu Kimia

Kekuatan utama AI terletak pada kemampuannya menangani masalah berdimensi tinggi, dan hal ini sangat sesuai dengan karakter ilmu kimia. Struktur molekul dan reaksi kimia sangat kompleks, sehingga selama ini penelitian kimia banyak mengandalkan pendekatan trial and error. Pendekatan ini wajar karena manusia hidup dan berpikir dalam dunia tiga dimensi, sehingga sulit memahami hubungan yang sangat kompleks secara langsung.

Pendekatan trial and error memang sering menghasilkan penemuan baru, tetapi memerlukan waktu dan tenaga yang besar. Di tengah tuntutan masyarakat yang semakin tinggi terhadap kecepatan dan efisiensi, pendekatan ini dianggap tidak lagi cukup. Oleh karena itu, penggunaan AI diharapkan dapat mempercepat proses penelitian kimia secara signifikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kemajuan AI di bidang kimia berkembang sangat pesat. Jumlah publikasi dan jurnal yang mengangkat topik AI dalam kimia meningkat tajam. Meski demikian, sebagian besar penelitian tersebut masih berada pada tahap awal, yaitu sekadar menunjukkan bahwa AI bisa digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kimia.

Walaupun begitu, AI telah memberikan dampak nyata, terutama dalam beberapa hal:

  • Percepatan perhitungan komputasi,
  • Pengembangan permukaan energi potensial, dan
  • Pemodelan sistem kimia kompleks.

Tantangan Data dan Konsep Precision Chemistry

AI sangat bergantung pada data besar (big data). Sayangnya, data eksperimen kimia yang lengkap dan konsisten sering kali sulit diperoleh. Oleh karena itu, perhitungan teoretis menjadi sumber data utama untuk melatih model AI dalam kimia. Saat ini sudah tersedia berbagai basis data kimia, tetapi masalah standarisasi, kualitas data, dan berbagi data masih menjadi tantangan besar. Data yang kurang akurat akan menghasilkan model AI yang tidak dapat diandalkan. Karena itu, dikembangkan strategi dengan cara membangun model AI awal dari data perhitungan teoretis. Kemudian mengkalibrasinya menggunakan data eksperimen yang presisi. Dalam konteks ini, konsep precision chemistry (kimia presisi) menjadi sangat penting, karena menuntut akurasi tinggi baik pada perhitungan teoretis maupun pengukuran eksperimen.

Kimia Otomatis dan Robot Kimia

Kimia sering dipersepsikan sebagai bidang yang melelahkan, membutuhkan jam kerja panjang dan ketelitian tinggi. Hal ini menjadi salah satu hambatan dalam menarik minat generasi muda untuk belajar kimia. Sebagai solusi, dikembangkan mesin kimia otomatis dan robot kimia berbasis AI. Beberapa contoh kemajuan terbaru meliputi: Chemputer, sistem otomatis yang mampu membaca literatur, merancang prosedur, melakukan sintesis, dan karakterisasi senyawa. Robot kimia, yang dapat melakukan eksperimen lebih cepat dari manusia dan memilih katalis secara optimal menggunakan pendekatan statistik. Bahkan, kini telah dikembangkan laboratorium kimia berbasis AI yang mampu merumuskan hipotesis ilmiah, melakukan eksperimen lengkap (sintesis, karakterisasi, dan uji performa), membangun model prediktif dari gabungan data teori dan eksperimen. Robot AI kimia ini berpotensi menemukan solusi yang bahkan melampaui ruang eksperimen manusia.[]

Sumber: Luo Y. (2023). Chemistry in the Era of Artificial Intelligence. Precision chemistry, 1(2), 127–128. https://doi.org/10.1021/prechem.3c00038

Putar Balik

02 January 2026 14:23:23 Dibaca : 61

Kita baru saja melangkah di tahun baru 2026. Meninggalkan berbagai kenangan. Manis, pahit dan berbagai rasa di tahun sebelumnya. Resolusi yang dibuat di tahun 2025, ada yang tercapai, tertunda bahkan gagal direalisasikan. Semua sudah berlalu. Hanya menyisakan kenangan di momen yang akan datang. Rasa menyesal pasti ada. Namun kita tidak bisa putar balik ke masa itu lagi.

Sekarang, kita akan menatap hari-hari yang baru. Resolusi pun dibuat sedemikian apik. Ada yang tertulis. Ada yang sebatas ingatan yang mudah lenyap. Intinya, 2026 harus lebih baik dari 2025. Kita perlu menyadari, hari-hari yang akan kita lalui, sama dengan hari-hari yang pernah kita jalani sebelumnya, senin hingga ahad. Matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Sehari 24 jam. Jika hidup di Indonesia, kita masih akan merasakan hujan dan panas terik matahari.

Sebagai muslim. Harus optimis dalam menatap masa depan. Mengisi setiap momen dengan kebaikan. Resolusi terbaik bagi muslim adalah menjaga konsistensi takwa,

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.” [Terjemahan Q.S. Al Baqarah: 197].

Takwa adalah seruan untuk orang yang berakal. Imam Ath-Thabari rahimahullahu dalam menafsirkan ayat ini dengan, "Allah mengkhususkan pembicaraan dalam ayat ini kepada orang-orang yang berakal karena mereka adalah orang-orang yang mampu membedakan antara yang haq dengan yang batil. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pemikiran yang shahih dan pengetahuan tentang hakikat sesuatu yang hanya dengan akal ia diketahui dan dengan pemikiran ia dipahami. Allah tidak menjadikan bagian darinya untuk selain mereka atau dari kalangan orang-orang bodoh."

Bekal ini harus selalu disiapkan dan dibawa serta pergi. Kapan pun dan dimana pun kita berada. Sebagai pejabat atau bawahan. Kaya atau miskin. Dosen atau mahasiswa. Guru atau murid. Takwa harus melekat dalam diri. Bersemayam dalam darah dan daging. Jangan sampai lepas.

Menghadapi masa depan kita harus optimis. Meskipun bertebaran halang rintang yang siap mengganjal langkah kaki. Mengisi waktu dengan hal baik. Karena waktu merupakan satu dari dua hal yang banyak orang lalai darinya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

”Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang” [H.R. Bukhari]

Tentu kita tidak ingin masuk dalam kelompok orang-orang yang tertipu karena lalai dalam mengisi waktu dengan perkara baik. Kita juga tidak ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menyesal dikemudian hari. Dan hanya bisa berandai-andai akan masa yang telah berlalu.

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, (mereka berkata), “Wahai Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia. Kami akan mengerjakan amal shaleh. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin [Terjemahan QS. As-Sajdah: 12]

Dalam surah Al-Fajr ayat 23-24 yang artinya:“Dan pada hari itu (neraka) Jahanam datang, sadarlah manusia pada hari itu juga. Akan tetapi, bagaimana bisa kesadaran itu bermanfaat baginya? Ia berkata, “Oh, seandainya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini!” 

Dan juga dalam surah Al-Munafiqun ayat 10 yang diterjemahkan:“Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Ia lalu berkata (sambil menyesal), “Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.”

Ayat-ayat di atas menunjukan penyesalan hamba-hamba-Ny pada beberapa kondisi setelah melihat janji Allah subhanahu wa ta'ala . Sangat menyesal dan meminta kepada-Nya untuk dikembalikan di dunia agar dapat berbuat baik. Meskipun itu mustahil.

Mengambil ibrah dari beberapa ayat di atas. Jangan menunda untuk berbuat baik. Lakukan sekarang. Karena kita tidak bisa memutar balik waktu.[]

 

Serambi Masjid Kampus UGM, Jumat 12 Rajab 1447 H/02 Januari 2026 M