Mengapa Pendidikan Kita Gagal Membaca Siklus Kerusakan ?
Kerusakan lingkungan di negeri ini jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia bergerak dalam pola yang berulang dan nyaris selalu sama. Hutan dibuka, sumber daya dieksploitasi, keuntungan ekonomi dihasilkan, lalu sebagian keuntungan itu kembali berputar menjadi kekuatan kebijakan. Siklus ini terus berjalan, rapi, legal, dan sering kali dibungkus narasi pembangunan.
Ironisnya, meski pola tersebut terus berulang, pendidikan kita kerap gagal membacanya sebagai sebuah siklus. Kerusakan dipahami sebagai peristiwa terpisah (kasus per kasus), bukan sebagai konsekuensi dari sistem yang saling terkait antara ekonomi, kebijakan, dan cara pandang terhadap alam.
Di ruang kelas, isu lingkungan sering diajarkan secara normatif. Mahasiswa diajak peduli, diminta berhemat, dan diingatkan untuk menjaga alam. Namun pembelajaran jarang sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang diuntungkan, siapa yang menanggung dampak, dan mengapa pola yang sama terus diulang.
Di sinilah letak tantangan pendidikan berkelanjutan. Pendidikan tidak cukup hanya membentuk sikap, tetapi harus melatih kemampuan membaca keterhubungan bahwa kebijakan tidak berdiri sendiri, bahwa aktivitas ekonomi membawa konsekuensi ekologis, dan bahwa keputusan hari ini menentukan beban generasi berikutnya. Tanpa kemampuan berpikir seperti ini, kerusakan akan selalu tampak sebagai sesuatu yang wajar.
Sayangnya, pendidikan sains kita masih terlalu fokus pada penguasaan konsep dan pencapaian kognitif. Proses alam dipelajari di kelas dan laboratorium, tetapi sering dilepaskan dari realitas sosial di luar kampus. Akibatnya, lulusan kita mungkin memahami mekanisme ilmiah, namun kurang terlatih untuk mengaitkannya dengan persoalan nyata yang sedang dihadapi masyarakat.
Ketika pendidikan gagal membaca siklus kerusakan, pembangunan yang merusak akan terus dibenarkan. Kritik dianggap menghambat kemajuan, sementara keberlanjutan diperlakukan sebagai jargon. Padahal, tanpa perubahan cara berpikir, pembangunan hanya akan mempercepat kerusakan dengan wajah yang semakin rapi.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah kita memiliki cukup ilmu, tetapi apakah pendidikan kita cukup berani untuk mengajarkan tanggung jawab dan kesadaran jangka panjang. Pendidikan berkelanjutan seharusnya membantu generasi muda memahami bahwa kerusakan bukan takdir, melainkan hasil dari pilihan. Dan pilihan hanya bisa diubah jika kita mampu membacanya dengan jernih.