Mengapa Ilmuwan Harus Turun Tangan Menyelamatkan Lingkungan ?

26 February 2026 12:52:44 Dibaca : 4 Kategori : Refleksi

     

 

     Kalau kita melihat kondisi sekitar, kerusakan lingkungan itu terasa dekat dan nyata. Kita menemukannya pada selokan yang mudah tersumbat saat hujan, sungai yang dipenuhi sampah plastik, kualitas air yang menurun, sampai cuaca yang makin sulit diprediksi. Situasi ini membuat peran ilmuwan menjadi penting, bukan hanya sebagai penghasil pengetahuan, tetapi sebagai pihak yang ikut memastikan pengetahuan itu membawa perbaikan.

      Di sinilah kesadaran ilmuwan, terutama ilmuwan kimia, diuji. Kimia memang banyak memberi manfaat besar bagi kehidupan, mulai dari obat, bahan sanitasi, pengolahan air, hingga teknologi pertanian dan energi. Tetapi di waktu yang sama, proses dan produk kimia juga bisa ikut menyumbang masalah, seperti polusi air dan udara, emisi gas rumah kaca, serta sampah plastik dan mikroplastik. Karena itu, kesadaran ilmuwan tidak cukup berhenti pada penemuan dan publikasi. Kesadaran itu harus berkembang menjadi tanggung jawab untuk mengurangi risiko dan dampak lingkungan sejak awal.

      Langkah yang diperlukan dimulai dari perubahan cara pandang. Selama ini kita sering bergerak setelah masalah terjadi, misalnya membangun sistem pengolahan limbah atau membersihkan sungai ketika sudah tercemar. Itu penting, tetapi sifatnya hilir. Yang lebih mendasar adalah pencegahan. Prinsip green chemistry memberi arah yang jelas: merancang bahan dan proses kimia agar lebih aman, lebih hemat energi, dan menghasilkan limbah seminimal mungkin. Jika pencegahan menjadi kebiasaan sejak desain, maka beban lingkungan bisa turun secara signifikan.

      Perubahan ini bisa dimulai dari lingkungan pendidikan. Laboratorium kampus dan sekolah adalah tempat paling strategis untuk menanamkan kebiasaan ilmiah yang bertanggung jawab. Praktikum dapat dirancang dengan skala mikro agar penggunaan bahan dan produksi limbah lebih kecil. Reagen atau pelarut yang berbahaya dapat diganti dengan alternatif yang lebih aman. Pengelolaan limbah laboratorium juga harus menjadi budaya yang disiplin, bukan sekadar formalitas. Ketika mahasiswa terbiasa berpikir seperti ini sejak awal, mereka akan membawa cara pandang tersebut ke dunia kerja dan masyarakat.

       Namun, pencegahan tidak cukup jika solusi tidak cocok dengan kondisi lokal. Banyak inovasi terlihat ramah lingkungan di atas kertas, tetapi sulit diterapkan karena sistem pendukungnya belum ada. Karena itu, ilmuwan perlu berpikir siklus hidup, yaitu menilai dampak dari tahap produksi, penggunaan, hingga pembuangan. Misalnya, alternatif material atau kemasan baru akan efektif bila ada pemilahan sampah dan fasilitas pengolahan yang memadai. Tanpa itu, solusi hanya berpindah bentuk, bukan menyelesaikan masalah. Kesadaran ilmuwan berarti menyadari batasan konteks, lalu merancang langkah yang realistis.

        Selanjutnya, riset perlu lebih dekat dengan kebutuhan lapangan. Banyak persoalan lingkungan di sekitar kita bersifat praktis, seperti pencemaran air, sampah yang menumpuk, dan limbah dari usaha kecil. Ilmuwan bisa berperan lewat riset terapan yang bisa langsung digunakan, misalnya teknologi filtrasi sederhana, pengembangan bahan penyerap polutan dari sumber lokal, atau pendekatan bioremediasi untuk menurunkan beban pencemar. Yang penting, semua program harus terukur dan bisa dievaluasi. Tanpa indikator yang jelas, upaya perbaikan mudah berhenti sebagai proyek sesaat.

       Peran ilmuwan juga penting dalam mendorong perubahan industri. Banyak industri sebenarnya ingin lebih bersih, tetapi terbentur biaya awal dan kebiasaan proses lama. Di sini ilmuwan dapat menjadi mitra transisi dengan membantu audit bahan, memberi rekomendasi substitusi yang lebih aman, serta mengoptimalkan proses agar lebih efisien dan lebih sedikit menghasilkan limbah. Menariknya, efisiensi energi dan pengurangan limbah sering justru menghemat biaya jangka panjang. Jadi, agenda lingkungan tidak harus diposisikan sebagai beban, tetapi sebagai strategi perbaikan sistem produksi.

       Agar perubahan bergerak lebih luas, kebijakan dan literasi publik juga harus menguat. Regulasi pembatasan plastik sekali pakai, standar pembuangan limbah, serta insentif teknologi hijau akan lebih kuat jika didukung data ilmiah. Di sisi lain, masyarakat perlu pemahaman yang sederhana dan relevan agar pilihan konsumsi dan kebiasaan sehari hari ikut berubah. Ilmuwan dapat membantu menjembatani ini melalui komunikasi berbasis bukti yang mudah dipahami, sehingga publik tidak hanya diberi peringatan, tetapi juga ditunjukkan langkah yang bisa dilakukan.

        Pada akhirnya, kesadaran ilmuwan terhadap kerusakan lingkungan harus bermuara pada aksi yang konsisten. Aksi itu tidak selalu berupa hal besar, tetapi serangkaian langkah yang saling menguatkan, mulai dari pencegahan sejak desain, pendidikan yang membentuk kebiasaan hijau, riset terapan yang sesuai konteks lokal, kolaborasi dengan industri, dukungan kebijakan berbasis data, hingga penguatan literasi publik. Jika semua itu berjalan, ilmu tidak berhenti menjadi wacana, tetapi menjadi alat yang benar benar memperbaiki lingkungan di sekitar kita.