Ketika Ramadhan Menjadi "Biaya Sosial" bagi Mahasiswa
Ramadhan di kampus selalu datang dengan suasana yang terasa sama. Spanduk kegiatan muncul di berbagai sudut, ajakan kajian berseliweran di grup, poster buka bersama tersebar dari satu lingkar pertemanan ke lingkar lain, dan daftar donasi hadir nyaris setiap pekan. Di satu sisi, semua itu menandakan hidupnya semangat kebersamaan. Di sisi lain, ada sesuatu yang jarang dibicarakan secara terang. Ramadhan di kampus tidak dialami secara setara. Ada yang menjalaninya dengan tenang dan lengkap. Ada pula yang menjalaninya sambil menanggung beban yang tak terlihat.
Kampus sering dianggap ruang meritokrasi. Siapa rajin belajar akan berhasil. Namun, dalam praktik sehari hari, kampus juga merupakan miniatur masyarakat dengan struktur kelasnya sendiri. Perbedaan ekonomi, akses transportasi, fleksibilitas waktu, dan jaringan sosial membentuk pengalaman berkuliah, dan itu makin tampak selama Ramadhan.
Mari mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu waktu dan energi. Mahasiswa yang hidupnya relatif aman, biaya kuliah, kos, dan makan terpenuhi, biasanya punya ruang untuk mengatur ritme puasa. Ia bisa memilih kapan belajar, kapan istirahat, kapan ikut tarawih, atau kapan menghadiri kajian. Sementara mahasiswa yang harus bekerja paruh waktu, mengajar les, menjadi pengemudi ojek online, atau membantu usaha keluarga, menjalani Ramadhan dengan dua giliran. Siang menahan lapar dan dahaga. Malam mengejar pekerjaan atau tugas. Puasa yang sama, tetapi tenaga yang tersisa berbeda. Ketika ada yang berkata, tinggal niat saja, sering kali yang terlewat adalah kenyataan bahwa niat juga memerlukan ruang.
Kemudian hadir budaya yang tampak remeh tetapi kuat, yaitu buka bersama. Bukber kampus pada mulanya adalah perayaan pertemanan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, bukber kerap berubah menjadi semacam kalender sosial. Siapa hadir di mana, bersama siapa, dan berapa kali. Bagi sebagian mahasiswa, ini sekadar agenda menyenangkan. Bagi sebagian yang lain, bukber adalah biaya sosial yang harus dibayar agar tidak terlempar dari lingkar pergaulan. Patungan sepuluh ribu rupiah mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi mahasiswa yang menghitung uang makan harian, itu berarti mengorbankan kebutuhan lain. Ada yang hadir dengan tersenyum, tetapi pulang sambil menghitung ulang. Besok makan apa.
Biaya sosial ini tidak selalu berupa uang. Ia juga berupa rasa sungkan, rasa takut dicap tidak kompak, atau rasa bersalah ketika tidak ikut sebuah agenda. Ramadhan yang idealnya menenangkan justru menjadi bulan yang membuat sebagian mahasiswa cemas. Cemas dianggap tidak berkontribusi. Cemas tidak terlihat aktif. Cemas tidak sesuai standar sosial kelompoknya. Di sinilah struktur kelas bekerja secara halus. Ia tidak memaksa dengan aturan tertulis, tetapi menekan melalui norma pergaulan.
Kegiatan organisasi juga bisa memperlihatkan dinamika serupa. Ramadhan adalah musim program. Bagi bagi takjil, santunan, penggalangan dana, hingga kajian tematik. Banyak kegiatan itu baik dan perlu. Namun, kita perlu bertanya, apakah solidaritas yang kita bangun betul betul memudahkan yang rentan, atau malah menambah beban mereka. Sering terjadi, mahasiswa yang paling tidak mampu justru menjadi panitia yang paling sibuk. Mengangkat galon, membungkus paket, membersihkan lokasi. Sementara kontribusi finansial yang kecil membuatnya merasa kurang. Kita lupa bahwa kerja tenaga sering kali tidak diberi penghargaan setara dengan kerja uang. Padahal, solidaritas sejati bukan lomba nominal, melainkan kemampuan saling meringankan.
Struktur kelas kampus juga terlihat di ruang ruang yang jarang dianggap penting. Kantin, pedagang takjil, dan pekerja layanan kampus. Saat Ramadhan, ritme konsumsi berubah. Ada pedagang yang bergantung pada keramaian sore. Ada pekerja kebersihan yang tetap bekerja saat orang lain berbuka. Kampus sering merayakan Ramadhan lewat agenda seremonial, tetapi lupa bahwa sebagian orang menjalani Ramadhan sebagai kerja, bukan sebagai acara. Jika kita sungguh memahami Ramadhan sebagai latihan empati, mestinya empati itu hadir dalam kebijakan kecil. Jam kerja yang manusiawi, ruang istirahat yang layak, dan penghargaan yang tidak sekadar ucapan terima kasih.
Lalu bagaimana seharusnya kampus menyikapi ini.
Pertama, kampus melalui organisasi mahasiswa, BEM, UKM, dan komunitas perlu menggeser orientasi Ramadhan dari acara menjadi akses. Agenda buka bersama misalnya, bisa dibuat lebih inklusif. Pilih lokasi yang terjangkau, menu sederhana, atau model potluck yang tidak memaksa nominal. Yang lebih penting, normalisasi kata tidak bisa tanpa stigma. Tidak ikut buka bersama bukan tanda tidak peduli.
Kedua, penggalangan dana bisa didesain tanpa rasa menghakimi. Beri opsi kontribusi non uang yang benar benar dihargai. Waktu, tenaga, keahlian. Transparansi juga penting agar donasi tidak menjadi panggung. Ramadhan bukan tentang siapa paling terlihat, melainkan siapa paling mampu menahan diri, termasuk menahan diri dari kebutuhan untuk diakui.
Ketiga, dosen dan pengelola pembelajaran bisa lebih peka terhadap realitas mahasiswa. Peka bukan berarti menurunkan standar akademik, tetapi memberi kelonggaran yang adil. Jadwal presentasi yang tidak menumpuk, tenggat yang manusiawi, serta pemahaman bahwa sebagian mahasiswa berpuasa sambil menanggung kerja dan perjalanan panjang. Empati akademik adalah bagian dari pendidikan karakter yang sering kita banggakan.
Akhirnya, Ramadhan di kampus seharusnya menjadi momen untuk menguji kualitas komunitas kita. Apakah kita mampu menciptakan suasana yang menenteramkan semua orang, atau hanya menyenangkan mereka yang punya lebih banyak akses. Jika kampus adalah ruang pembentukan warga negara dan ilmuwan masa depan, maka kepekaan terhadap struktur kelas bukan wacana tambahan. Ia adalah bagian dari etika hidup bersama.
Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar. Ia juga tentang menahan diri dari kecenderungan membuat orang lain merasa kurang. Kurang mampu, kurang hadir, kurang berkontribusi. Di kampus, latihan itu bisa dimulai dari hal kecil. Mengubah cara kita mengundang, cara kita menilai, dan cara kita merayakan kebersamaan. Karena solidaritas yang dewasa bukan yang paling ramai, melainkan yang paling inklusif.