LABEL : danaulimboto

 

Bicara keberlanjutan di Gorontalo sebetulnya tidak perlu jauh-jauh. Kita hidup di wilayah dengan laut yang kaya, pegunungan yang hijau, dan budaya masyarakat yang kuat. Namun justru di ruang yang dekat inilah, keberlanjutan sering diuji bukan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi oleh kebiasaan yang kita anggap wajar.

Setiap musim hujan, banjir datang lagi di titik-titik yang hampir sama. Setiap tahun, Danau Limboto semakin dangkal, dipenuhi sedimentasi dan eceng gondok. Kita sering menyebutnya sebagai “bencana alam”, padahal alam jarang bekerja sendirian. Ada pembukaan lahan di hulu, pengelolaan sampah yang belum selesai, dan tata ruang yang kompromistis semuanya akumulasi keputusan manusia.

Di pesisir, ceritanya tidak jauh berbeda. Laut yang menjadi sumber hidup nelayan kini harus berbagi ruang dengan sampah plastik dan limbah domestik. Kita tahu dampaknya. Kita sering membicarakannya di seminar, rapat, atau diskusi kampus. Tetapi dalam keseharian, kantong plastik tetap dipakai, sampah tetap dibuang ke selokan, dan sungai tetap dianggap “tempat hilangnya masalah”.

Masalah keberlanjutan di Gorontalo bukan soal kurang riset atau kurang data. Laporan, kajian, dan rekomendasi sudah banyak. Tantangannya justru terletak pada jarak antara pengetahuan dan tindakan. Kita paham bahwa lingkungan rusak akan kembali ke kita, tetapi tetap berharap dampaknya tidak terjadi sekarang atau tidak menimpa kita langsung.

Di dunia pendidikan lokal, ironi ini terasa jelas. Kita mengajarkan mahasiswa tentang pembangunan berkelanjutan, ekosistem, dan tanggung jawab sosial. Namun lingkungan belajar sering terpisah dari realitas sekitar. Danau Limboto dibahas sebagai studi kasus, bukan sebagai ruang hidup masyarakat yang sedang terancam. Banjir disebut sebagai contoh, bukan pengalaman kolektif yang perlu direspons bersama.

Keberlanjutan di Gorontalo seharusnya tidak berhenti pada program atau jargon. Ia perlu berangkat dari keberanian untuk jujur: bahwa masalah lingkungan di daerah ini adalah cermin dari cara kita hidup, mengelola ruang, dan memandang alam apakah sebagai mitra kehidupan, atau sekadar sumber yang bisa terus diambil.

Kabar baiknya, Gorontalo punya modal besar. Ikatan sosial masyarakat masih kuat. Skala wilayah memungkinkan kolaborasi yang nyata antara kampus, pemerintah daerah, dan komunitas. Perubahan kecil seperti pengelolaan sampah berbasis komunitas, pendidikan kontekstual, atau praktik hidup yang lebih sadar bisa memberi dampak yang terasa.

Keberlanjutan di Gorontalo bukan mimpi besar yang abstrak. Ia hadir di keputusan sederhana: bagaimana kita memperlakukan sungai, danau, laut, dan ruang hidup bersama. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita tahu, tetapi apakah kita bersedia berubah sebelum alam kembali “mengingatkan” dengan cara yang lebih keras.