Tugas Apoteker Angkatan 2 UNG : Penyelesaian masalah, pencatatan dan pelaporan
Soal Pilihan Ganda
1. Apa tujuan utama dari monitoring dalam penyelesaian masalah kefarmasian?
- A. Menilai efisiensi biaya terapi
- B. Menilai respons terapi dan mengidentifikasi masalah pengobatan
- C. Menentukan jenis obat yang digunakan
- D. Menghitung dosis obat yang tepat
2. Komponen apa yang harus dimonitor dalam terapi hipertensi?
- A. Kadar glukosa darah
- B. Tekanan darah
- C. Kadar kolesterol darah
- D. Kadar kreatinin darah
3. Apa tujuan dari evaluasi dalam penyelesaian masalah kefarmasian?
- A. Menilai apakah obat tersedia di apotek
- B. Menilai apakah hasil pengobatan tercapai dan jika terapi perlu diubah
- C. Menilai efektivitas biaya obat
- D. Menilai kualitas layanan apotek
4. Apa jenis pencatatan yang paling penting untuk menjamin keselamatan pasien selama pengobatan?
- A. Pencatatan pengobatan dan efek samping
- B. Pencatatan administrasi apotek
- C. Pencatatan jumlah obat yang dibeli
- D. Pencatatan riwayat penyakit pasien
5. Dalam pelaporan masalah kefarmasian, apa yang harus dilaporkan oleh apoteker terkait efek samping obat?
- A. Lokasi apotek
- B. Nama pasien
- C. Reaksi yang tidak diinginkan akibat pengobatan
- D. Jumlah obat yang terjual
6. Apa yang dimaksud dengan laporan efek samping obat?
- A. Laporan tentang keluhan pasien terhadap obat yang diberikan
- B. Laporan terkait jumlah obat yang terjual di apotek
- C. Laporan tentang biaya pengobatan pasien
- D. Laporan tentang kepuasan pasien
7. Apa komponen utama dalam monitoring obat untuk pasien dengan diabetes tipe 2?
- A. Tekanan darah dan berat badan
- B. Kadar glukosa darah dan kepatuhan pasien terhadap terapi
- C. Konsumsi kalori dan dosis obat
- D. Tindak lanjut pengobatan dengan antibiotik
8. Apa yang harus dilakukan apoteker jika pasien melaporkan efek samping berupa mual setelah mengonsumsi obat?
- A. Mengubah terapi pasien tanpa berdiskusi dengan dokter
- B. Membuat laporan efek samping dan berdiskusi dengan dokter
- C. Menghentikan pengobatan pasien secara langsung
- D. Memberikan obat anti-mual kepada pasien
9. Apa jenis pencatatan yang harus dilakukan oleh apoteker terkait penggunaan obat pada pasien?
- A. Pencatatan biaya obat
- B. Pencatatan dosis, frekuensi, dan cara pemberian obat
- C. Pencatatan riwayat keluarga pasien
- D. Pencatatan status pekerjaan pasien
10. Apa yang dimaksud dengan "pencatatan klinis" dalam praktik kefarmasian?
- A. Pencatatan laporan keuangan apotek
- B. Pencatatan tentang jenis terapi yang diberikan kepada pasien
- C. Pencatatan informasi medis tentang riwayat penyakit pasien dan hasil tes
- D. Pencatatan resep obat yang dimasukkan ke dalam sistem apotek
Soal Essay Studi Kasus
Kasus 1: Monitoring Tekanan Darah Seorang pasien berusia 60 tahun dengan hipertensi kronis sedang menjalani pengobatan dengan obat golongan ACE inhibitor. Setelah dua minggu, apoteker diminta untuk memantau tekanan darah pasien.
Tugas:
Sebutkan parameter apa saja yang perlu dipantau oleh apoteker selama terapi hipertensi.Apa langkah yang harus diambil jika tekanan darah pasien tidak menunjukkan perbaikan setelah dua minggu pengobatan?
Kasus 2: Evaluasi Penggunaan Insulin pada Pasien Diabetes Seorang pasien dengan diabetes tipe 1 yang menggunakan insulin melaporkan mengalami hipoglikemia beberapa kali seminggu. Apoteker diminta untuk mengevaluasi dosis insulin pasien.
Tugas:
Jelaskan langkah-langkah yang perlu diambil apoteker untuk mengevaluasi dosis insulin pasien.Apa saja faktor yang dapat menyebabkan hipoglikemia pada pasien ini dan bagaimana cara penyesuaian dosis insulin?
Kasus 3: Pencatatan Efek Samping Seorang pasien yang menggunakan obat antihipertensi mengalami batuk kering setelah dua minggu pengobatan. Pasien melaporkan efek samping ini kepada apoteker.
Tugas:
Apa yang harus dicatat oleh apoteker terkait efek samping yang dilaporkan oleh pasien?Bagaimana apoteker harus melaporkan efek samping tersebut kepada tim medis atau dokter?
Kasus 4: Pelaporan Masalah Kefarmasian Seorang pasien yang sedang menjalani terapi obat antibiotik melaporkan adanya reaksi alergi berupa ruam kulit. Apoteker diminta untuk membuat laporan terkait masalah ini.
Tugas:
Jelaskan proses pelaporan efek samping yang harus dilakukan oleh apoteker.Apa yang harus dicantumkan dalam laporan untuk memastikan informasi yang jelas dan lengkap?
Kasus 5: Monitoring Kepatuhan Pengobatan Pasien dengan penyakit jantung gagal untuk mengikuti terapi pengobatan yang telah disarankan oleh dokter.
Tugas:
Bagaimana apoteker dapat memonitor kepatuhan pasien terhadap terapi pengobatannya?Apa langkah yang harus diambil apoteker jika ditemukan masalah dalam kepatuhan pasien?
Kasus 6: Evaluasi Pengobatan pada Pasien Hipertensi Setelah satu bulan terapi dengan obat golongan beta blocker, pasien hipertensi melaporkan bahwa tekanan darahnya masih tinggi. Apoteker diminta untuk melakukan evaluasi pengobatan.
Tugas:
Apa indikator yang perlu dievaluasi oleh apoteker dalam kasus ini?Apa rekomendasi terapi yang bisa diberikan berdasarkan hasil evaluasi?
Kasus 7: Pencatatan Pengobatan pada Pasien Baru Seorang pasien baru datang ke apotek untuk mendapatkan obat untuk penyakit jantung. Apoteker memberikan informasi tentang dosis dan cara penggunaan obat.
Tugas:
Jelaskan jenis pencatatan apa yang harus dilakukan oleh apoteker terkait pengobatan pasien ini.Apa saja informasi penting yang harus dicatat untuk mencegah kesalahan dalam pemberian obat?
Kasus 8: Monitoring Efek Samping Obat pada Pasien Kanker Seorang pasien yang sedang menjalani kemoterapi mengalami mual dan muntah setelah pengobatan. Apoteker diminta untuk memonitor efek samping obat kemoterapi.
Tugas:
Apa yang harus dipantau oleh apoteker terkait efek samping obat kemoterapi pada pasien ini?Apa yang harus dilakukan jika efek samping yang lebih serius muncul?
Kasus 9: Evaluasi Terapi Pengobatan pada Pasien Lansia Seorang pasien lansia dengan banyak penyakit komorbid mulai menggunakan beberapa jenis obat. Apoteker diminta untuk mengevaluasi terapi pengobatan untuk menghindari interaksi obat.
Tugas:
Apa yang harus dievaluasi oleh apoteker terkait penggunaan obat pada pasien lansia?Bagaimana apoteker dapat mengidentifikasi dan mencegah potensi interaksi obat?
Kasus 10: Pelaporan Masalah Kefarmasian pada Obat-Obatan Baru Seorang pasien baru memulai terapi dengan obat yang baru diluncurkan di pasar. Setelah beberapa hari, pasien melaporkan adanya efek samping yang tidak biasa.
Tugas:
Apa yang harus dilakukan oleh apoteker dalam hal pelaporan efek samping pada obat baru?Bagaimana pelaporan tersebut dapat membantu pihak-pihak terkait dalam mengambil tindakan lebih lanjut?
Jawaban dikirim melalui komentar dibawah ini.
Tuliskan Nama dan NIM.
Deadline pengerjaan tugas 25 Januari 2026.
MANFAAT KEMAJUAN TEKNOLOGI DALAM MEMPERLUAS AKSES PELAYANAN FARMASI

Kemajuan teknologi pada era digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di bidang kesehatan dan terutama farmasi. Kata teknologi sendiri berasal dari bahasa Prancis, “La Technique”, yang berarti proses atau cara rasional untuk mewujudkan suatu tujuan. Teknologi pada hakikatnya hadir sebagai sarana untuk memudahkan manusia dalam beraktivitas, meningkatkan efisiensi, serta memperluas peluang dalam berbagai sektor. Seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin bergantung pada teknologi, baik anak-anak maupun orang dewasa. Perubahan menuju era digital telah memaksa semua lapisan masyarakat untuk beradaptasi agar tetap relevan dan mampu bertahan, termasuk dalam memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan pelayanan farmasi.
Di tengah kemajuan dunia digital, teknologi memberikan berbagai manfaat mendasar, mulai dari komunikasi, akses informasi, hingga efisiensi bisnis. Namun, manfaat tersebut menjadi semakin penting ketika diterapkan pada sektor farmasi. Teknologi tidak hanya mempermudah pekerjaan tenaga kesehatan, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan farmasi yang aman, cepat, dan efektif.
Pertama, komunikasi yang lebih mudah menjadi faktor penting dalam pelayanan farmasi. Teknologi memungkinkan apoteker berkomunikasi dengan pasien melalui aplikasi konsultasi kesehatan, telefarmasi, atau pesan singkat. Pasien dapat berkonsultasi mengenai penggunaan obat, efek samping, hingga interaksi obat tanpa harus datang langsung ke apotek. Hal ini sangat membantu masyarakat yang tinggal di daerah terpencil atau pesisir, yang seringkali memiliki akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan.
Kedua, akses informasi yang semakin luas membantu apoteker dan masyarakat memperoleh pengetahuan yang akurat mengenai obat dan terapi. Internet menyediakan sumber informasi ilmiah, pedoman penggunaan obat, dan jurnal farmasi terbaru yang sangat berguna bagi tenaga kefarmasian dalam memberikan pelayanan berdasarkan bukti ilmiah (evidence-based). Bagi masyarakat, informasi yang mudah diakses membantu meningkatkan literasi kesehatan sehingga penggunaan obat menjadi lebih rasional.
Selanjutnya, teknologi juga mempermudah perdagangan dan distribusi obat. Platform digital memudahkan pemesanan obat secara daring melalui apotek online yang terverifikasi. Sistem pengiriman yang terintegrasi membuat obat dapat diterima pasien dengan cepat tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Kemudahan ini sangat menguntungkan masyarakat di wilayah yang minim fasilitas farmasi.
Kemajuan teknologi juga mendukung efisiensi proses bisnis di apotek. Penggunaan perangkat lunak manajemen apotek membantu dalam pencatatan stok obat, pemantauan tanggal kedaluwarsa, hingga pengelolaan keuangan. Dengan adanya otomasi, risiko kesalahan seperti medication error dapat dikurangi, dan pelayanan kepada pasien menjadi lebih cepat dan akurat. Tidak hanya itu, teknologi digital turut meningkatkan daya saing dan kualitas layanan farmasi. Apotek yang memanfaatkan teknologi seperti sistem antrean digital, layanan telekonsultasi, atau pembayaran elektronik mampu memberikan pelayanan yang lebih modern dan nyaman bagi masyarakat.
Hal ini sekaligus meningkatkan kepercayaan pasien dan mendorong perkembangan sektor farmasi di era global. Di sisi lain, teknologi juga membuka peluang dalam inovasi dan kreativitas di bidang farmasi. Misalnya, penggunaan perangkat lunak untuk merancangkemasan obat, pembuatan edukasi kesehatan berbasis video, dan pengembangan manajemen penggunaan obat bagi pasien penyakit kronis. Tenaga farmasi dapat berkolaborasi secara daring untuk berbagi ide dan menemukan solusi terhadap permasalahan kesehatan masyarakat.

Dalam dunia pendidikan, teknologi sangat membantu proses pembelajaran farmasi. Mahasiswa farmasi dapat mengakses jurnal ilmiah, mengikuti webinar, menggunakan simulasi laboratorium virtual, dan berkolaborasi melalui platform digital. Hal ini mempercepat penyebaran pengetahuan dan meningkatkan kualitas pendidikan farmasi di Indonesia. Secara keseluruhan, kemajuan teknologi telah memberikan dampak signifikan dalam memperluas akses pelayanan farmasi, baik untuk masyarakat maupun tenaga kesehatan. Teknologi membawa perubahan positif dalam cara konsultasi, pengelolaan obat, distribusi obat, pendidikan, serta peningkatan kualitas layanan.
Dengan pemanfaatan yang tepat dan bertanggung jawab, teknologi dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan pelayanan farmasi yang lebih merata, efisien, dan berbasis kebutuhan masyarakat di era digital.
Tulisan ini dibuat sebagai tugas literasi digital farmasi :
- SITI SUSANTI LANTAPA 08201325002
- AISA ABDULLAH HAMJATI 08201325003
- NIKMA DAENG BELLA 082013250010
- DIZYA RADISTI LALU 082013250012
- SRI AMELIA DJAFAR 082013250013
Kemajuan Teknologi Dalam Bidang Farmasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata teknologi mengandung arti metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, ilmu pengetahuan terapan atau keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Kemajuan teknologi dan pengaruhnya terhadap keberlangsungan kehidupan manusia merupakan hal yang tak dapat dihindari. Para ahli memiliki pengertian tersendiri mengenai teknologi. Ahli sosiologi berpendapat bahwa teknologi merupakan suatu kumpulan alat,aturan dan juga prosedur yang merupakan penerapan dari sebuah pengetahuan ilmiah terhadap sebuah pekerjaan tertentu dalam suatu kondisi yang dapat memungkinkan terjadinya pengulangan.
Saat ini, dinegara Indonesia kita dapat menyaksikan dan merasakan secara langsung dampak dari kemajuan teknologi ini. Kemajuan teknologi seperti pada televisi, smartphone, dll. Kini internet dapat digunakan tidak hanya pada masyarakat kota melainkan hingga ke pelosok negeri. Akibatnya yaitu segala bentuk informasi baik yang positif maupun negatif, dapat dengan mudah di akses oleh masyarakat. Dan di akui atau tidak, perlahan-lahan mulai mengubah pola hidup dan pola pemikiran masyarakat khususnya masyarakat pedesaan dengan segala image yang menjadi ciri khas mereka. Kemajuan teknologi dalam beberapa dekade terakhir telah merevolusi sistem penghantaran obat dengan memungkinkan pembuatan sediaan yang disesuaikan secara personal dan sesuai dengan kebutuhan usia.
Sebagai mahasiswa farmasi, memahami kemajuan teknologi berarti menyadari bahwa nanti kita akan bekerja di bidang yang sangat mengandalkan ketelitian dan informasi yang akurat. Teknologi membantu kita belajar lebih efisien, mulai dari mencari jurnal ilmiah, menonton animasi proses kerja obat, sampai mengikuti simulasi pembuatan obat yang dilakukan secara digital. Teknologi membuat kita tidak hanya memahami teori, tetapi juga bisa melihat langsung penerapannya. Namun, memahami teknologi tidak hanya soal memakainya, tetapi juga tahu kapan dan bagaimana menggunakannya dengan benar. Dalam farmasi, kesalahan kecil bisa berdampak besar, jadi kemampuan menggunakan teknologi secara tepat sangat penting. Selain mendukung pembelajaran, kemajuan teknologi juga membuka banyak peluang untuk mahasiswa farmasi. Sekarang kita bisa belajar tentang bioteknologi, farmasi klinis, hingga pengembangan vaksin dengan cara yang lebih mudah diakses.
Kita bisa mengikuti kursus online, belajar dari penelitian paling baru, atau melihat langsung bagaimana industri farmasi bekerja melalui video dan simulasi. Hal ini membuat kita semakin sadar bahwa farmasi bukan hanya soal meracik obat, tetapi juga soal berpikir ilmiah, memecahkan masalah, dan ikut berkontribusi pada kesehatan masyarakat. Pada akhirnya, memahami kemajuan teknologi bagi mahasiswa farmasi berarti siap menghadapi dunia kerja yang terus berubah dan berkembang. Teknologi akan menjadi bagian dari setiap langkah yang kita ambil, mulai dari belajar di kampus sampai bekerja nanti. Karena itu, penting bagi kita untuk terbuka terhadap perkembangan baru, mau belajar, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk menjadi tenaga kesehatan yang lebih kompeten.
Dengan begitu, kita bukan hanya mengikuti perubahan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari generasi yang mendorong kemajuan dunia farmasi ke arah yang lebih baik.
Tulisan ini dibuat sebagai tugas literasi digital kefarmasian
Mahasiswa angkatan 2025 Farmasi UNG
- Siti Mutia Pado (08201325004)
- Siti Nurrizqia Pakaya (08201325005)
- Tri Wulandi Muhsadi (08201325008)
- Faras Esta lamaga (08201325015)
- Rahma M. Solag (08201325018)
- Fahriyanto Usman (08201325021)
Modul 1 Mata Kuliah Regulasi Industri Farmasi, Manajemen Mutu, Personalia, Bangunan, dan Pengawasan Mutu
Deskripsi Mata Kuliah :
Mata kuliah Regulasi Industri Farmasi ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang regulasi yang mengatur produksi, distribusi, dan pengawasan produk farmasi. Mahasiswa akan mempelajari tentang peran dan tanggung jawab badan regulasi nasional seperti BPOM, serta badan internasional seperti FDA dan EMA. Selain itu, mata kuliah ini juga mencakup topik penting lainnya seperti manajemen mutu, pengelolaan SDM dalam industri farmasi, standar bangunan dan fasilitas, serta pengawasan mutu yang sangat relevan dengan praktik apoteker.
Modul pertama akan fokus pada pengenalan dasar regulasi industri farmasi, pentingnya pengawasan kualitas dan keselamatan produk, serta memahami proses pendaftaran produk farmasi di berbagai lembaga pengawas. Pemahaman tentang regulasi ini sangat penting untuk memastikan produk farmasi yang aman, efektif, dan berkualitas tinggi, yang pada akhirnya mendukung praktik profesi apoteker dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.
Dengan mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan dapat memiliki pengetahuan yang kuat mengenai prinsip dasar regulasi, serta mampu menerapkannya dalam konteks industri farmasi yang lebih luas.
MATERI KULIAH :
Mater kuliah dapat di akses melalui link berikut : Materi

MODUL :
Modul 1: Regulasi Industri Farmasi :
Sub-Bagian 1: Pengantar Regulasi Industri Farmasi
Tujuan Pembelajaran:
- Mahasiswa memahami dasar-dasar regulasi dalam industri farmasi.
- Mengetahui pentingnya regulasi dalam memastikan kualitas, keamanan, dan efektivitas produk farmasi.
Definisi Regulasi:
Regulasi adalah aturan atau peraturan yang dibuat oleh badan yang berwenang untuk mengontrol dan mengawasi produksi, distribusi, dan penggunaan produk farmasi, guna menjamin kualitas dan keselamatan konsumen.Pentingnya Regulasi:
Keamanan dan Kesehatan Masyarakat: Menghindari produk yang berbahaya atau tidak efektif.
Kualitas Produk: Menjamin bahwa produk farmasi yang beredar memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan.Kepatuhan Industri: Membantu industri farmasi mengikuti standar internasional untuk meningkatkan daya saing global.
Tujuan Regulasi:
- Memastikan produk farmasi aman untuk digunakan.
- Menjamin efektivitas dan kualitas produk yang beredar di pasar.
- Menjaga standar yang tinggi dalam pembuatan, pengujian, dan distribusi produk farmasi.
TUGAS :
Tugas Terstruktur Modul 1: Regulasi Industri Farmasi dalam Menerbitkan Izin Produk
Judul Tugas: Analisis Regulasi Penerbitan Izin Obat, Obat Tradisional, Kosmetik, dan Alat Kesehatan
Deskripsi Tugas: Mahasiswa diminta untuk menganalisis proses regulasi yang diterapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam penerbitan izin edar untuk obat, obat tradisional, kosmetik, dan alat kesehatan. Tugas ini bertujuan untuk memahami tahapan dan syarat yang harus dipenuhi oleh produsen dalam mengajukan izin edar produk di Indonesia.
Langkah-Langkah Penyelesaian Tugas:
BUATLAH MENJADI 4 KELOMPOK BESAR :
Kelompok 1 : Absen Nomor 1-10 : Memilih Produk Obat
Kelompok 2 : Absen Nomor 11-20 : Memilih Produk Obat Tradisional
Kelompok 3 : Absen Nomor 21-30 : Memilih Produk Obat Kosmetik
Kelompok 4 : Absen Nomor 31-40 : Memilih Alat Kesehatan
Pengenalan Produk yang Dipilih
Pilih salah satu jenis produk farmasi berikut untuk dianalisis proses regulasi penerbitan izinnya:
- Obat: Produk farmasi yang digunakan untuk pengobatan penyakit atau kondisi medis tertentu.
- Obat Tradisional: Produk yang berasal dari bahan alam, digunakan untuk tujuan pengobatan atau pencegahan penyakit.
- Kosmetik: Produk yang digunakan untuk perawatan tubuh atau kecantikan tanpa mengklaim efek pengobatan.
- Alat Kesehatan: Produk yang digunakan untuk diagnosis, pencegahan, atau pengobatan kondisi medis, seperti alat medis (contoh: termometer, alat uji diagnostik)
TUGAS 1. Proses Penerbitan Izin untuk Masing-Masing Produk
Obat (misalnya: Paracetamol)
- Jelaskan proses yang harus dilalui oleh produsen untuk mendapatkan izin edar obat di BPOM Indonesia!
- Apa saja syarat yang diperlukan dalam pengajuan izin edar obat, seperti uji klinis, data keamanan, dan efektivitas produk?
- Apa saja pengujian yang dilakukan BPOM untuk memastikan obat aman dan efektif?
Obat Tradisional (misalnya: Jamu Kunyit Asam)
- Jelaskan proses yang harus dilalui untuk pendaftaran obat tradisional di BPOM.
- Apa perbedaan regulasi obat tradisional dengan obat pada umumnya dalam hal uji keamanan dan efektivitas?
- Proses sertifikasi dan izin edar yang diperlukan untuk obat tradisional.
Kosmetik (misalnya: Sabun Mandi Cair)
- Jelaskan tahapan yang diperlukan untuk pendaftaran produk kosmetik di BPOM.
- Apa saja peraturan yang berlaku untuk memastikan bahan-bahan kosmetik aman untuk digunakan?
- Apakah uji klinis diperlukan untuk kosmetik? Jelaskan perbedaannya dengan obat dalam hal pengujian.
Alat Kesehatan (misalnya: Alat Tes Diagnostik)
- Jelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh produsen untuk mendapatkan izin edar alat kesehatan di BPOM.
- Apa saja persyaratan yang dibutuhkan untuk alat kesehatan? Misalnya, pengujian fungsionalitas, keamanan, dan klaim medis.
- Bagaimana pengawasan terhadap alat kesehatan yang beredar di pasar untuk memastikan kualitas dan keselamatan?
TUGAS 2 . Regulasi yang Diterapkan dalam Penerbitan Izin
- Jelaskan regulasi dan standar yang diterapkan BPOM dalam proses penerbitan izin edar produk farmasi yang Anda pilih, baik itu obat, obat tradisional, kosmetik, atau alat kesehatan.
- Good Manufacturing Practices (GMP): Apa itu GMP dan bagaimana standar ini diterapkan pada masing-masing produk (obat, obat tradisional, kosmetik, alat kesehatan)?
- Kontrol Kualitas dan Keamanan: Bagaimana BPOM mengontrol kualitas produk dan menjamin bahwa produk yang beredar aman untuk digunakan oleh masyarakat?
- Pengawasan Pasca-Izin: Jelaskan bagaimana BPOM melakukan pengawasan terhadap produk setelah mendapatkan izin edar untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang ada.
TUGAS 1 : Dalam bentuk PowerPoint (Maksimal 15 Slide)
TUGAS 2 : Dalam bentuk Video Penjelasan Singkat (Maksimal 5 Menit) - Video WAJIB Memuat Wajah pada saat penjelasan!. (Untuk bentuk penjelasan dibuat semenarik mungkin)
FORMULIR PENGISIAN/UPLOAD Tugas : Upload Tugas Klik Disini
BATAS PENGUMPULAN TUGAS : Selasa, 02 September 2025
Penerapan Proses Teknologi Analitikal (PAT) dalam Industri Farmasi: Meningkatkan Kualitas dan Efisiensi Produksi
Penerapan Proses Teknologi Analitikal (PAT) dalam Industri Farmasi: Meningkatkan Kualitas dan Efisiensi Produksi

PENULIS
Lisa Efriani PuluhulawaMohamad Aprianto PaneoNurain ThomasRobert TungadiMultiani S LatifFaradila Ratu Cindana MooYuliyanti ParisSelvianaMoh Abdul GhaliIntan Nur Alifia
Buku ini mengupas secara komprehensif konsep dan penerapan Process Analytical Technology (PAT) dalam industri farmasi modern. Dalam duniayang menuntut efisiensi tinggi dan kualitas tanpa kompromi, PAT hadir sebagai solusi strategis untuk memonitor dan mengendalikan proses produksi secara real-time. Disusun dengan pendekatan praktis dan berbasis kebutuhan industri, buku ini menjelaskan metode,alat, dan aplikasi PAT yang dapat diimplementasikan pada berbagai tahap produksi obat. Pembaca akan diajak memahami bagaimana teknologi ini tidak hanya mampu meminimalkan risiko produk cacat, tetapi juga mendorong produktivitas secara signifikan.
Didedikasikan untuk profesional, akademisi, dan praktisi industri farmasi, buku ini menjadi sumber referensi penting dalam upaya meningkatkanstandar mutu serta efisiensi operasional di sektor farmasi.
Buku dapat dibaca melalui link berikut : https://drive.google.com/file/d/1cooSxTh4afa75j0hyiUu8T95p5-ad1VL/view?usp=drivesdk