KATEGORI : Education for Sustainable Development (ESD)

 

Kesadaran ilmuwan terhadap kerusakan lingkungan tidak muncul secara tiba tiba, melainkan tumbuh dari akumulasi bukti ilmiah dan realitas sosial yang makin terasa di sekitar kita. Ilmuwan, terutama dalam bidang kimia, berada pada posisi yang unik. Di satu sisi, kimia telah meningkatkan kualitas hidup melalui obat, air bersih, material baru, pertanian modern, dan teknologi energi. Di sisi lain, proses dan produk kimia juga berkontribusi pada pencemaran, perubahan iklim, penurunan biodiversitas, serta risiko kesehatan. Kontribusi positif seperti pemurnian air dan pengendalian polusi berjalan berdampingan dengan dampak negatif seperti plastik dan mikroplastik, emisi gas rumah kaca, hujan asam, serta toksisitas bahan kimia tertentu. Dari sinilah lahir kesadaran baru bahwa ilmuwan tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga harus memastikan pengetahuan tersebut mengurangi, bukan memperparah, krisis ekologis.

Konteks lingkungan di sekitar kita menunjukkan urgensi itu dengan jelas. Masalah sampah plastik, misalnya, terlihat dari tumpukan kemasan sekali pakai di sungai, selokan, dan tempat pembuangan. Ketika hujan, saluran tersumbat dan memicu genangan. Plastik yang terfragmentasi menjadi mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan dan air, sehingga persoalannya bukan hanya estetika, tetapi juga risiko ekologis dan kesehatan.

Kesadaran ilmuwan perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata yang sistemik, bukan sekadar keprihatinan. Langkah pertama adalah mengubah paradigma dari mengolah polusi setelah terjadi menjadi mencegah polusi sejak desain. Pengolahan limbah, penyaring emisi pabrik, dan katalis kendaraan membantu, tetapi sering bersifat hilir. Green chemistry mendorong langkah hulu. Prinsip utamanya adalah mencegah limbah, menurunkan toksisitas, meningkatkan efisiensi penggunaan bahan, dan menekan kebutuhan energi. Dalam konteks lokal, pendekatan ini dapat dimulai dari laboratorium pendidikan dan riset kampus. Praktik skala mikro dapat mengurangi volume limbah, substitusi reagen dan pelarut berbahaya dapat meningkatkan keselamatan, dan minimisasi limbah dapat dijadikan tujuan pembelajaran yang terukur.

Langkah kedua adalah memperkuat cara berpikir siklus hidup. Solusi yang tampak hijau pada satu tahap bisa bermasalah pada tahap lain. Bioplastik sering dianggap otomatis ramah lingkungan, padahal dampaknya bergantung pada sistem pemilahan dan fasilitas pengolahan yang tersedia. Karena itu, ilmuwan perlu menilai bukan hanya apakah bahan ini lebih aman, tetapi juga apakah sistem kita sanggup mengelolanya. Kesadaran ilmiah berarti mengakui keterbatasan konteks, kemudian merancang solusi yang realistis untuk diterapkan.

Langkah ketiga adalah mengarahkan riset pada masalah nyata di lingkungan sekitar dan memastikan ada mekanisme penerapan hasil riset di lapangan. Di lingkungan kita, ini dapat diwujudkan melalui kolaborasi kampus dengan pemerintah daerah, sekolah, dan komunitas. Program pemantauan kualitas air sungai, pengembangan adsorben murah berbasis biomassa lokal, atau teknologi filtrasi sederhana untuk skala rumah tangga dan usaha kecil dapat menjadi contoh nyata. Kuncinya adalah indikator yang terukur, misalnya perubahan COD dan BOD, kandungan logam, atau parameter kualitas air lainnya, sehingga intervensi bisa dievaluasi dan diperbaiki.

Langkah keempat adalah mendorong transformasi industri melalui penerapan prinsip green chemistry pada proses produksi. Dalam praktik, industri sering menghadapi kendala biaya awal dan kebiasaan proses lama. Di sini ilmuwan perlu hadir sebagai mitra transisi. Ilmuwan dapat membantu audit bahan kimia, melakukan substitusi bertahap, serta menunjukkan bahwa efisiensi energi dan pengurangan limbah sering menurunkan biaya jangka panjang. Kesadaran ilmuwan bukan hanya kemampuan menjelaskan, tetapi kemampuan mengubah praktik melalui data, desain proses, dan komunikasi yang dipahami pemangku kepentingan.

Langkah kelima adalah kebijakan yang memandu dan memberi insentif. Di tingkat lokal, kebijakan dapat berbentuk penguatan pemilahan sampah, standar efluen yang realistis namun tegas, dukungan pada inovasi pengolahan limbah, dan edukasi publik yang konsisten. Ilmuwan dapat berkontribusi dengan menyediakan basis bukti. Data lingkungan, uji toksisitas, pemodelan risiko, hingga analisis biaya manfaat dapat membantu pemerintah mengambil keputusan berbasis sains.

Langkah keenam adalah membangun budaya ilmiah yang etis dan komunikatif. Banyak masalah lingkungan berkaitan dengan polutan yang tidak kasat mata, sehingga masyarakat butuh penjelasan berbasis bukti tanpa menakut nakuti, tetapi juga tanpa menyederhanakan. Karena itu, ilmuwan perlu aktif dalam literasi sains publik. Materi edukasi berbasis data lokal, pendampingan komunitas, dan pembiasaan pengambilan keputusan yang mempertimbangkan dampak lingkungan merupakan bagian dari solusi.

Pada akhirnya, kesadaran ilmuwan terhadap kerusakan lingkungan harus menjadi tanggung jawab desain. Setiap riset dan inovasi perlu dinilai bukan hanya dari efektivitas dan keuntungan, tetapi juga dari dampak ekologis dan sosialnya. Kimia dapat menjadi penyumbang masalah sekaligus mesin pemulihan. Jalan keluarnya bukan menolak ilmu, melainkan mengarahkan ilmu melalui green chemistry, pendekatan sirkular, kolaborasi lintas sektor, dan kebijakan yang kuat. Di lingkungan kita, perubahan dapat dimulai dari langkah langkah konkret. Laboratorium pendidikan yang minim limbah, riset terapan untuk sampah dan kualitas air, kemitraan kampus dengan industri untuk proses yang lebih bersih, serta edukasi publik yang konsisten akan membuat kesadaran baru tidak berhenti pada wacana, tetapi menjadi tindakan yang nyata dan terukur.

Mengapa Pendidikan Kita Gagal Membaca Siklus Kerusakan ?

27 January 2026 11:56:04 Dibaca : 20

Kerusakan lingkungan di negeri ini jarang terjadi secara tiba-tiba. Ia bergerak dalam pola yang berulang dan nyaris selalu sama. Hutan dibuka, sumber daya dieksploitasi, keuntungan ekonomi dihasilkan, lalu sebagian keuntungan itu kembali berputar menjadi kekuatan kebijakan. Siklus ini terus berjalan, rapi, legal, dan sering kali dibungkus narasi pembangunan.

Ironisnya, meski pola tersebut terus berulang, pendidikan kita kerap gagal membacanya sebagai sebuah siklus. Kerusakan dipahami sebagai peristiwa terpisah (kasus per kasus), bukan sebagai konsekuensi dari sistem yang saling terkait antara ekonomi, kebijakan, dan cara pandang terhadap alam.

Di ruang kelas, isu lingkungan sering diajarkan secara normatif. Mahasiswa diajak peduli, diminta berhemat, dan diingatkan untuk menjaga alam. Namun pembelajaran jarang sampai pada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang diuntungkan, siapa yang menanggung dampak, dan mengapa pola yang sama terus diulang.

Di sinilah letak tantangan pendidikan berkelanjutan. Pendidikan tidak cukup hanya membentuk sikap, tetapi harus melatih kemampuan membaca keterhubungan bahwa kebijakan tidak berdiri sendiri, bahwa aktivitas ekonomi membawa konsekuensi ekologis, dan bahwa keputusan hari ini menentukan beban generasi berikutnya. Tanpa kemampuan berpikir seperti ini, kerusakan akan selalu tampak sebagai sesuatu yang wajar.

Sayangnya, pendidikan sains kita masih terlalu fokus pada penguasaan konsep dan pencapaian kognitif. Proses alam dipelajari di kelas dan laboratorium, tetapi sering dilepaskan dari realitas sosial di luar kampus. Akibatnya, lulusan kita mungkin memahami mekanisme ilmiah, namun kurang terlatih untuk mengaitkannya dengan persoalan nyata yang sedang dihadapi masyarakat.

Ketika pendidikan gagal membaca siklus kerusakan, pembangunan yang merusak akan terus dibenarkan. Kritik dianggap menghambat kemajuan, sementara keberlanjutan diperlakukan sebagai jargon. Padahal, tanpa perubahan cara berpikir, pembangunan hanya akan mempercepat kerusakan dengan wajah yang semakin rapi.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah kita memiliki cukup ilmu, tetapi apakah pendidikan kita cukup berani untuk mengajarkan tanggung jawab dan kesadaran jangka panjang. Pendidikan berkelanjutan seharusnya membantu generasi muda memahami bahwa kerusakan bukan takdir, melainkan hasil dari pilihan. Dan pilihan hanya bisa diubah jika kita mampu membacanya dengan jernih.

 

Bicara keberlanjutan di Gorontalo sebetulnya tidak perlu jauh-jauh. Kita hidup di wilayah dengan laut yang kaya, pegunungan yang hijau, dan budaya masyarakat yang kuat. Namun justru di ruang yang dekat inilah, keberlanjutan sering diuji bukan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi oleh kebiasaan yang kita anggap wajar.

Setiap musim hujan, banjir datang lagi di titik-titik yang hampir sama. Setiap tahun, Danau Limboto semakin dangkal, dipenuhi sedimentasi dan eceng gondok. Kita sering menyebutnya sebagai “bencana alam”, padahal alam jarang bekerja sendirian. Ada pembukaan lahan di hulu, pengelolaan sampah yang belum selesai, dan tata ruang yang kompromistis semuanya akumulasi keputusan manusia.

Di pesisir, ceritanya tidak jauh berbeda. Laut yang menjadi sumber hidup nelayan kini harus berbagi ruang dengan sampah plastik dan limbah domestik. Kita tahu dampaknya. Kita sering membicarakannya di seminar, rapat, atau diskusi kampus. Tetapi dalam keseharian, kantong plastik tetap dipakai, sampah tetap dibuang ke selokan, dan sungai tetap dianggap “tempat hilangnya masalah”.

Masalah keberlanjutan di Gorontalo bukan soal kurang riset atau kurang data. Laporan, kajian, dan rekomendasi sudah banyak. Tantangannya justru terletak pada jarak antara pengetahuan dan tindakan. Kita paham bahwa lingkungan rusak akan kembali ke kita, tetapi tetap berharap dampaknya tidak terjadi sekarang atau tidak menimpa kita langsung.

Di dunia pendidikan lokal, ironi ini terasa jelas. Kita mengajarkan mahasiswa tentang pembangunan berkelanjutan, ekosistem, dan tanggung jawab sosial. Namun lingkungan belajar sering terpisah dari realitas sekitar. Danau Limboto dibahas sebagai studi kasus, bukan sebagai ruang hidup masyarakat yang sedang terancam. Banjir disebut sebagai contoh, bukan pengalaman kolektif yang perlu direspons bersama.

Keberlanjutan di Gorontalo seharusnya tidak berhenti pada program atau jargon. Ia perlu berangkat dari keberanian untuk jujur: bahwa masalah lingkungan di daerah ini adalah cermin dari cara kita hidup, mengelola ruang, dan memandang alam apakah sebagai mitra kehidupan, atau sekadar sumber yang bisa terus diambil.

Kabar baiknya, Gorontalo punya modal besar. Ikatan sosial masyarakat masih kuat. Skala wilayah memungkinkan kolaborasi yang nyata antara kampus, pemerintah daerah, dan komunitas. Perubahan kecil seperti pengelolaan sampah berbasis komunitas, pendidikan kontekstual, atau praktik hidup yang lebih sadar bisa memberi dampak yang terasa.

Keberlanjutan di Gorontalo bukan mimpi besar yang abstrak. Ia hadir di keputusan sederhana: bagaimana kita memperlakukan sungai, danau, laut, dan ruang hidup bersama. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita tahu, tetapi apakah kita bersedia berubah sebelum alam kembali “mengingatkan” dengan cara yang lebih keras.

Hampir semua orang hari ini setuju bahwa keberlanjutan itu penting. Isu lingkungan sudah masuk ke ruang publik, dibicarakan di kampus, kantor, hingga media sosial. Mulai dari perubahan iklim, krisis air, sampai sampah plastik. Kesadarannya ada.

Masalahnya, kesadaran itu sering berhenti di level wacana.

Di kehidupan sehari-hari, kita masih akrab dengan lampu yang menyala di ruangan kosong, kran air yang dibiarkan mengalir, atau kebiasaan mencetak dokumen yang sebenarnya bisa dibaca di layar. Hal-hal kecil, nyaris tak terasa dampaknya, tapi terjadi berulang kali.

Ironisnya, banyak dari kita sebenarnya sudah tahu. Kita paham pentingnya hemat energi dan air. Kita mengerti bahwa sumber daya tidak tak terbatas. Namun, antara tahu dan bertindak, ada jarak yang tidak selalu mudah dijembatani.

Keberlanjutan sering dibayangkan sebagai sesuatu yang besar dan kompleks. Seolah harus dimulai dari kebijakan, teknologi mahal, atau perubahan sistem skala nasional. Padahal, persoalan besar justru ditopang oleh kebiasaan kecil yang terus direproduksi.

Tulisan ini bukan untuk menunjuk siapa yang salah. Kita semua, termasuk penulis, masih berada di dalam lingkaran itu. Boros bukan selalu karena tidak peduli, tetapi karena sudah terlalu terbiasa.

Keberlanjutan pada akhirnya bukan soal menjadi paling benar, paling hijau, atau paling sadar lingkungan. Ia soal kesediaan untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini benar-benar perlu?

Jika pertanyaan sederhana itu mulai sering muncul sebelum kita menyalakan listrik, membuka kran, atau menekan tombol print, mungkin di situlah perubahan mulai bekerja. Pelan, tidak dramatis, tapi nyata.

Dan mungkin memang seperti itu cara keberlanjutan bertahan: bukan lewat slogan besar, melainkan lewat kebiasaan kecil yang konsisten.

Belajar Sains Tidak Cukup Pintar, Harus Peduli !

18 December 2025 08:56:00 Dibaca : 73

 

Selama ini, belajar sains sering dimaknai sebagai proses menjadi pintar. Pintar memahami konsep, pintar menghafal rumus, pintar melakukan eksperimen, dan pintar menjawab soal ujian. Ukuran keberhasilan pun kerap berhenti pada angka: nilai, IPK, atau kelulusan tepat waktu. Namun, di tengah berbagai krisis lingkungan dan sosial yang kita hadapi hari ini, muncul pertanyaan penting: apakah kepintaran saja sudah cukup?

Sains memiliki peran besar dalam membentuk dunia modern. Teknologi berbasis sains membantu manusia hidup lebih sehat, lebih produktif, dan lebih nyaman. Tapi di saat yang sama, kita juga menyaksikan polusi, kerusakan lingkungan, krisis iklim, hingga ketimpangan sosial yang tidak sedikit bersumber dari penerapan ilmu pengetahuan yang minim refleksi. Ini menunjukkan satu hal penting: sains tidak pernah benar-benar netral.

Di ruang kelas, sains sering diajarkan seolah-olah terpisah dari kehidupan nyata. Mahasiswa sibuk mempelajari teori dan prosedur, tetapi jarang diajak berdiskusi tentang dampak dari pengetahuan yang mereka pelajari. Padahal, setiap pengetahuan ilmiah memiliki konsekuensi. Setiap teknologi membawa risiko. Setiap inovasi memunculkan pertanyaan etis. Jika aspek ini diabaikan, pendidikan sains berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, tetapi kurang peka terhadap lingkungan dan masyarakat.

Pendidikan berkelanjutan hadir untuk mengingatkan bahwa tujuan belajar bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan membentuk kesadaran. Kesadaran bahwa sains digunakan untuk siapa, dengan cara apa, dan dengan dampak seperti apa. Organisasi seperti UNESCO menekankan bahwa pendidikan seharusnya membantu peserta didik berpikir kritis, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan, bukan hanya mengejar capaian akademik jangka pendek.

Dalam konteks global, semangat ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals yang menempatkan pendidikan sebagai kunci transformasi sosial. Pendidikan tidak lagi cukup jika hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi abai terhadap persoalan lingkungan dan keadilan sosial. Dunia membutuhkan individu yang mampu mengaitkan pengetahuan dengan nilai dan kepedulian.

Peran pendidik sains menjadi sangat penting di sini. Cara dosen atau guru membingkai materi, memilih contoh kasus, dan membuka ruang diskusi akan menentukan bagaimana peserta didik memandang sains. Ketika sains diajarkan dengan konteks kehidupan nyata seperti banjir, limbah, energi, kesehatan, dan pangan. Mahasiswa belajar bahwa ilmu bukan sekadar alat intelektual, melainkan juga sarana tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, belajar sains memang penting untuk menjadi pintar. Tetapi kepintaran tanpa kepedulian justru berisiko melahirkan masalah baru. Pendidikan sains yang bermakna adalah pendidikan yang menumbuhkan empati, kehati-hatian, dan tanggung jawab. Karena masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi oleh seberapa bijak kita menggunakan pengetahuan tersebut.