LABEL : guru

 

Menjadi guru dan dosen kerap diposisikan sebagai pekerjaan panggilan jiwa. Ungkapan ini terdengar luhur, tetapi sering kali menyimpan konsekuensi yang tidak ringan. Atas nama pengabdian, ketimpangan kesejahteraan, beban administratif yang menumpuk, serta tuntutan profesional yang terus meningkat dianggap sebagai sesuatu yang wajar untuk diterima, bukan untuk dipersoalkan.

Dalam realitas pendidikan hari ini, tantangan yang dihadapi guru dan dosen tidak semakin sederhana. Target kinerja bertambah, laporan semakin kompleks, ekspektasi publik meninggi, sementara sistem pendukung sering tertatih. Ironisnya, di tengah tekanan yang makin berat itu, bertahan justru jarang dipandang sebagai prestasi. Ia dianggap bagian dari kewajiban, bukan capaian.

Bertahan pun kerap disederhanakan maknanya menjadi sekadar pengabdian. Seolah kelelahan, konsistensi, dan kompetensi adalah sesuatu yang “memang seharusnya”, sehingga tidak layak disebut pencapaian. Padahal, tidak semua orang mampu bertahan di tengah sistem yang belum sepenuhnya adil tanpa kehilangan profesionalisme dan integritas.

Bertahan bukan sekadar hadir di ruang kelas atau menyelesaikan kewajiban administratif. Bertahan berarti tetap profesional di tengah keterbatasan, terus belajar ketika sistem berjalan tidak ideal, dan tetap mendidik ketika apresiasi sering tertinggal jauh di belakang tuntutan. Ia menuntut keteguhan sikap, bukan sekadar ketahanan fisik.

Dalam banyak kasus, yang paling menguras energi bukan hanya beban kerja, tetapi perasaan bahwa usaha yang dilakukan seolah tidak pernah cukup. Ketika segala sesuatu diukur lewat angka jam mengajar, publikasi, dan luaran lainnya. Sementara hal-hal yang tidak mudah diukur seperti kejujuran, kepedulian, dan konsistensi justru mudah diabaikan.

Karena itu, memaknai bertahan hanya sebagai pengabdian justru mereduksi nilainya. Profesionalisme dalam pendidikan bukan soal pengorbanan tanpa batas, melainkan tentang menjaga mutu, etika, dan tanggung jawab di tengah kondisi yang tidak selalu mendukung. Bertahan, dalam pengertian ini, adalah sikap aktif, bukan pasif.

Di tengah carut-marut sistem pendidikan, memilih tetap menjadi guru dan dosen adalah keputusan sadar. Ia bukan pilihan yang selalu menjanjikan kenyamanan, tetapi pilihan yang menuntut keteguhan. Maka, bertahan dengan tetap menjaga integritas adalah pencapaian yang layak diakui, karena tidak semua orang sanggup melakukannya.