KATEGORI : Refleksi

Ketika Ramadhan Menjadi "Biaya Sosial" bagi Mahasiswa

28 February 2026 14:44:50 Dibaca : 32

Ramadhan di kampus selalu datang dengan suasana yang terasa sama. Spanduk kegiatan muncul di berbagai sudut, ajakan kajian berseliweran di grup, poster buka bersama tersebar dari satu lingkar pertemanan ke lingkar lain, dan daftar donasi hadir nyaris setiap pekan. Di satu sisi, semua itu menandakan hidupnya semangat kebersamaan. Di sisi lain, ada sesuatu yang jarang dibicarakan secara terang. Ramadhan di kampus tidak dialami secara setara. Ada yang menjalaninya dengan tenang dan lengkap. Ada pula yang menjalaninya sambil menanggung beban yang tak terlihat.

Kampus sering dianggap ruang meritokrasi. Siapa rajin belajar akan berhasil. Namun, dalam praktik sehari hari, kampus juga merupakan miniatur masyarakat dengan struktur kelasnya sendiri. Perbedaan ekonomi, akses transportasi, fleksibilitas waktu, dan jaringan sosial membentuk pengalaman berkuliah, dan itu makin tampak selama Ramadhan.

Mari mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu waktu dan energi. Mahasiswa yang hidupnya relatif aman, biaya kuliah, kos, dan makan terpenuhi, biasanya punya ruang untuk mengatur ritme puasa. Ia bisa memilih kapan belajar, kapan istirahat, kapan ikut tarawih, atau kapan menghadiri kajian. Sementara mahasiswa yang harus bekerja paruh waktu, mengajar les, menjadi pengemudi ojek online, atau membantu usaha keluarga, menjalani Ramadhan dengan dua giliran. Siang menahan lapar dan dahaga. Malam mengejar pekerjaan atau tugas. Puasa yang sama, tetapi tenaga yang tersisa berbeda. Ketika ada yang berkata, tinggal niat saja, sering kali yang terlewat adalah kenyataan bahwa niat juga memerlukan ruang.

Kemudian hadir budaya yang tampak remeh tetapi kuat, yaitu buka bersama. Bukber kampus pada mulanya adalah perayaan pertemanan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, bukber kerap berubah menjadi semacam kalender sosial. Siapa hadir di mana, bersama siapa, dan berapa kali. Bagi sebagian mahasiswa, ini sekadar agenda menyenangkan. Bagi sebagian yang lain, bukber adalah biaya sosial yang harus dibayar agar tidak terlempar dari lingkar pergaulan. Patungan sepuluh ribu rupiah mungkin kecil bagi sebagian orang, tetapi bagi mahasiswa yang menghitung uang makan harian, itu berarti mengorbankan kebutuhan lain. Ada yang hadir dengan tersenyum, tetapi pulang sambil menghitung ulang. Besok makan apa.

Biaya sosial ini tidak selalu berupa uang. Ia juga berupa rasa sungkan, rasa takut dicap tidak kompak, atau rasa bersalah ketika tidak ikut sebuah agenda. Ramadhan yang idealnya menenangkan justru menjadi bulan yang membuat sebagian mahasiswa cemas. Cemas dianggap tidak berkontribusi. Cemas tidak terlihat aktif. Cemas tidak sesuai standar sosial kelompoknya. Di sinilah struktur kelas bekerja secara halus. Ia tidak memaksa dengan aturan tertulis, tetapi menekan melalui norma pergaulan.

Kegiatan organisasi juga bisa memperlihatkan dinamika serupa. Ramadhan adalah musim program. Bagi bagi takjil, santunan, penggalangan dana, hingga kajian tematik. Banyak kegiatan itu baik dan perlu. Namun, kita perlu bertanya, apakah solidaritas yang kita bangun betul betul memudahkan yang rentan, atau malah menambah beban mereka. Sering terjadi, mahasiswa yang paling tidak mampu justru menjadi panitia yang paling sibuk. Mengangkat galon, membungkus paket, membersihkan lokasi. Sementara kontribusi finansial yang kecil membuatnya merasa kurang. Kita lupa bahwa kerja tenaga sering kali tidak diberi penghargaan setara dengan kerja uang. Padahal, solidaritas sejati bukan lomba nominal, melainkan kemampuan saling meringankan.

Struktur kelas kampus juga terlihat di ruang ruang yang jarang dianggap penting. Kantin, pedagang takjil, dan pekerja layanan kampus. Saat Ramadhan, ritme konsumsi berubah. Ada pedagang yang bergantung pada keramaian sore. Ada pekerja kebersihan yang tetap bekerja saat orang lain berbuka. Kampus sering merayakan Ramadhan lewat agenda seremonial, tetapi lupa bahwa sebagian orang menjalani Ramadhan sebagai kerja, bukan sebagai acara. Jika kita sungguh memahami Ramadhan sebagai latihan empati, mestinya empati itu hadir dalam kebijakan kecil. Jam kerja yang manusiawi, ruang istirahat yang layak, dan penghargaan yang tidak sekadar ucapan terima kasih.

Lalu bagaimana seharusnya kampus menyikapi ini.

Pertama, kampus melalui organisasi mahasiswa, BEM, UKM, dan komunitas perlu menggeser orientasi Ramadhan dari acara menjadi akses. Agenda buka bersama misalnya, bisa dibuat lebih inklusif. Pilih lokasi yang terjangkau, menu sederhana, atau model potluck yang tidak memaksa nominal. Yang lebih penting, normalisasi kata tidak bisa tanpa stigma. Tidak ikut buka bersama bukan tanda tidak peduli.

Kedua, penggalangan dana bisa didesain tanpa rasa menghakimi. Beri opsi kontribusi non uang yang benar benar dihargai. Waktu, tenaga, keahlian. Transparansi juga penting agar donasi tidak menjadi panggung. Ramadhan bukan tentang siapa paling terlihat, melainkan siapa paling mampu menahan diri, termasuk menahan diri dari kebutuhan untuk diakui.

Ketiga, dosen dan pengelola pembelajaran bisa lebih peka terhadap realitas mahasiswa. Peka bukan berarti menurunkan standar akademik, tetapi memberi kelonggaran yang adil. Jadwal presentasi yang tidak menumpuk, tenggat yang manusiawi, serta pemahaman bahwa sebagian mahasiswa berpuasa sambil menanggung kerja dan perjalanan panjang. Empati akademik adalah bagian dari pendidikan karakter yang sering kita banggakan.

Akhirnya, Ramadhan di kampus seharusnya menjadi momen untuk menguji kualitas komunitas kita. Apakah kita mampu menciptakan suasana yang menenteramkan semua orang, atau hanya menyenangkan mereka yang punya lebih banyak akses. Jika kampus adalah ruang pembentukan warga negara dan ilmuwan masa depan, maka kepekaan terhadap struktur kelas bukan wacana tambahan. Ia adalah bagian dari etika hidup bersama.

Ramadhan, pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan lapar. Ia juga tentang menahan diri dari kecenderungan membuat orang lain merasa kurang. Kurang mampu, kurang hadir, kurang berkontribusi. Di kampus, latihan itu bisa dimulai dari hal kecil. Mengubah cara kita mengundang, cara kita menilai, dan cara kita merayakan kebersamaan. Karena solidaritas yang dewasa bukan yang paling ramai, melainkan yang paling inklusif.

     

 

     Kalau kita melihat kondisi sekitar, kerusakan lingkungan itu terasa dekat dan nyata. Kita menemukannya pada selokan yang mudah tersumbat saat hujan, sungai yang dipenuhi sampah plastik, kualitas air yang menurun, sampai cuaca yang makin sulit diprediksi. Situasi ini membuat peran ilmuwan menjadi penting, bukan hanya sebagai penghasil pengetahuan, tetapi sebagai pihak yang ikut memastikan pengetahuan itu membawa perbaikan.

      Di sinilah kesadaran ilmuwan, terutama ilmuwan kimia, diuji. Kimia memang banyak memberi manfaat besar bagi kehidupan, mulai dari obat, bahan sanitasi, pengolahan air, hingga teknologi pertanian dan energi. Tetapi di waktu yang sama, proses dan produk kimia juga bisa ikut menyumbang masalah, seperti polusi air dan udara, emisi gas rumah kaca, serta sampah plastik dan mikroplastik. Karena itu, kesadaran ilmuwan tidak cukup berhenti pada penemuan dan publikasi. Kesadaran itu harus berkembang menjadi tanggung jawab untuk mengurangi risiko dan dampak lingkungan sejak awal.

      Langkah yang diperlukan dimulai dari perubahan cara pandang. Selama ini kita sering bergerak setelah masalah terjadi, misalnya membangun sistem pengolahan limbah atau membersihkan sungai ketika sudah tercemar. Itu penting, tetapi sifatnya hilir. Yang lebih mendasar adalah pencegahan. Prinsip green chemistry memberi arah yang jelas: merancang bahan dan proses kimia agar lebih aman, lebih hemat energi, dan menghasilkan limbah seminimal mungkin. Jika pencegahan menjadi kebiasaan sejak desain, maka beban lingkungan bisa turun secara signifikan.

      Perubahan ini bisa dimulai dari lingkungan pendidikan. Laboratorium kampus dan sekolah adalah tempat paling strategis untuk menanamkan kebiasaan ilmiah yang bertanggung jawab. Praktikum dapat dirancang dengan skala mikro agar penggunaan bahan dan produksi limbah lebih kecil. Reagen atau pelarut yang berbahaya dapat diganti dengan alternatif yang lebih aman. Pengelolaan limbah laboratorium juga harus menjadi budaya yang disiplin, bukan sekadar formalitas. Ketika mahasiswa terbiasa berpikir seperti ini sejak awal, mereka akan membawa cara pandang tersebut ke dunia kerja dan masyarakat.

       Namun, pencegahan tidak cukup jika solusi tidak cocok dengan kondisi lokal. Banyak inovasi terlihat ramah lingkungan di atas kertas, tetapi sulit diterapkan karena sistem pendukungnya belum ada. Karena itu, ilmuwan perlu berpikir siklus hidup, yaitu menilai dampak dari tahap produksi, penggunaan, hingga pembuangan. Misalnya, alternatif material atau kemasan baru akan efektif bila ada pemilahan sampah dan fasilitas pengolahan yang memadai. Tanpa itu, solusi hanya berpindah bentuk, bukan menyelesaikan masalah. Kesadaran ilmuwan berarti menyadari batasan konteks, lalu merancang langkah yang realistis.

        Selanjutnya, riset perlu lebih dekat dengan kebutuhan lapangan. Banyak persoalan lingkungan di sekitar kita bersifat praktis, seperti pencemaran air, sampah yang menumpuk, dan limbah dari usaha kecil. Ilmuwan bisa berperan lewat riset terapan yang bisa langsung digunakan, misalnya teknologi filtrasi sederhana, pengembangan bahan penyerap polutan dari sumber lokal, atau pendekatan bioremediasi untuk menurunkan beban pencemar. Yang penting, semua program harus terukur dan bisa dievaluasi. Tanpa indikator yang jelas, upaya perbaikan mudah berhenti sebagai proyek sesaat.

       Peran ilmuwan juga penting dalam mendorong perubahan industri. Banyak industri sebenarnya ingin lebih bersih, tetapi terbentur biaya awal dan kebiasaan proses lama. Di sini ilmuwan dapat menjadi mitra transisi dengan membantu audit bahan, memberi rekomendasi substitusi yang lebih aman, serta mengoptimalkan proses agar lebih efisien dan lebih sedikit menghasilkan limbah. Menariknya, efisiensi energi dan pengurangan limbah sering justru menghemat biaya jangka panjang. Jadi, agenda lingkungan tidak harus diposisikan sebagai beban, tetapi sebagai strategi perbaikan sistem produksi.

       Agar perubahan bergerak lebih luas, kebijakan dan literasi publik juga harus menguat. Regulasi pembatasan plastik sekali pakai, standar pembuangan limbah, serta insentif teknologi hijau akan lebih kuat jika didukung data ilmiah. Di sisi lain, masyarakat perlu pemahaman yang sederhana dan relevan agar pilihan konsumsi dan kebiasaan sehari hari ikut berubah. Ilmuwan dapat membantu menjembatani ini melalui komunikasi berbasis bukti yang mudah dipahami, sehingga publik tidak hanya diberi peringatan, tetapi juga ditunjukkan langkah yang bisa dilakukan.

        Pada akhirnya, kesadaran ilmuwan terhadap kerusakan lingkungan harus bermuara pada aksi yang konsisten. Aksi itu tidak selalu berupa hal besar, tetapi serangkaian langkah yang saling menguatkan, mulai dari pencegahan sejak desain, pendidikan yang membentuk kebiasaan hijau, riset terapan yang sesuai konteks lokal, kolaborasi dengan industri, dukungan kebijakan berbasis data, hingga penguatan literasi publik. Jika semua itu berjalan, ilmu tidak berhenti menjadi wacana, tetapi menjadi alat yang benar benar memperbaiki lingkungan di sekitar kita.

 

Menjadi guru dan dosen kerap diposisikan sebagai pekerjaan panggilan jiwa. Ungkapan ini terdengar luhur, tetapi sering kali menyimpan konsekuensi yang tidak ringan. Atas nama pengabdian, ketimpangan kesejahteraan, beban administratif yang menumpuk, serta tuntutan profesional yang terus meningkat dianggap sebagai sesuatu yang wajar untuk diterima, bukan untuk dipersoalkan.

Dalam realitas pendidikan hari ini, tantangan yang dihadapi guru dan dosen tidak semakin sederhana. Target kinerja bertambah, laporan semakin kompleks, ekspektasi publik meninggi, sementara sistem pendukung sering tertatih. Ironisnya, di tengah tekanan yang makin berat itu, bertahan justru jarang dipandang sebagai prestasi. Ia dianggap bagian dari kewajiban, bukan capaian.

Bertahan pun kerap disederhanakan maknanya menjadi sekadar pengabdian. Seolah kelelahan, konsistensi, dan kompetensi adalah sesuatu yang “memang seharusnya”, sehingga tidak layak disebut pencapaian. Padahal, tidak semua orang mampu bertahan di tengah sistem yang belum sepenuhnya adil tanpa kehilangan profesionalisme dan integritas.

Bertahan bukan sekadar hadir di ruang kelas atau menyelesaikan kewajiban administratif. Bertahan berarti tetap profesional di tengah keterbatasan, terus belajar ketika sistem berjalan tidak ideal, dan tetap mendidik ketika apresiasi sering tertinggal jauh di belakang tuntutan. Ia menuntut keteguhan sikap, bukan sekadar ketahanan fisik.

Dalam banyak kasus, yang paling menguras energi bukan hanya beban kerja, tetapi perasaan bahwa usaha yang dilakukan seolah tidak pernah cukup. Ketika segala sesuatu diukur lewat angka jam mengajar, publikasi, dan luaran lainnya. Sementara hal-hal yang tidak mudah diukur seperti kejujuran, kepedulian, dan konsistensi justru mudah diabaikan.

Karena itu, memaknai bertahan hanya sebagai pengabdian justru mereduksi nilainya. Profesionalisme dalam pendidikan bukan soal pengorbanan tanpa batas, melainkan tentang menjaga mutu, etika, dan tanggung jawab di tengah kondisi yang tidak selalu mendukung. Bertahan, dalam pengertian ini, adalah sikap aktif, bukan pasif.

Di tengah carut-marut sistem pendidikan, memilih tetap menjadi guru dan dosen adalah keputusan sadar. Ia bukan pilihan yang selalu menjanjikan kenyamanan, tetapi pilihan yang menuntut keteguhan. Maka, bertahan dengan tetap menjaga integritas adalah pencapaian yang layak diakui, karena tidak semua orang sanggup melakukannya.

Dalam Riset, Kedekatan Tidak Selalu Berarti Dukungan

20 December 2025 13:16:53 Dibaca : 52

Menyebarkan angket sering dianggap sebagai urusan teknis dalam penelitian. Buat instrumen, sebar tautan, tunggu respons. Selesai. Namun, di balik proses yang tampak sederhana itu, ada pengalaman emosional yang jarang dibicarakan.

Saya pernah berada pada situasi ketika harus meminta tolong teman dekat untuk membantu membagikan angket penelitian. Harapannya wajar: karena sudah saling mengenal, urusan berbagi tautan mestinya lebih mudah. Kenyataannya, respons yang datang justru biasa saja. Tidak diabaikan, tetapi juga tidak segera ditindaklanjuti. Kalimat “nanti ya” menjadi jawaban yang paling sering muncul.

Yang menarik, ketika angket yang sama dibagikan oleh rekan yang tidak terlalu dekat secara personal, respons justru lebih banyak. Tanpa sungkan, tanpa basa-basi. Angket diperlakukan sebagaimana mestinya: sebagai permintaan akademik yang perlu direspons.

Pengalaman ini perlahan menyadarkan saya bahwa kedekatan sosial tidak selalu berbanding lurus dengan dukungan praktis. Teman dekat sering kali berada dalam situasi yang kompleks seperti kesibukan, rasa sungkan, atau asumsi bahwa permintaan tersebut tidak mendesak. Sebaliknya, relasi yang lebih berjarak justru memungkinkan sikap yang lebih profesional dan langsung.

Bukan berarti teman dekat tidak peduli. Justru sering kali karena kedekatan itulah muncul kelonggaran yang berujung pada penundaan. Di sisi lain, jarak menghadirkan kejelasan: apa yang diminta, dan apa yang perlu dilakukan.

Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar satu hal penting dalam dunia akademik: kedekatan emosional bukan selalu modal dalam riset. Kadang, ia justru menghadirkan harapan yang terlalu tinggi. Dan belajar menurunkan ekspektasi adalah bagian dari kedewasaan sebagai peneliti.

Pada akhirnya, data tetap terkumpul, penelitian tetap berjalan, dan kita pun belajar memahami dinamika manusia dengan lebih jernih, termasuk diri kita sendiri.

Apakah Sains itu Netral?

19 December 2025 23:47:25 Dibaca : 87

 

 

Pertanyaan “apakah sains itu netral?” terdengar sederhana, tetapi jawabannya justru membawa kita pada perdebatan panjang dalam filsafat ilmu, pendidikan, dan praktik riset modern. Selama bertahun-tahun, kita dibiasakan untuk memandang sains sebagai aktivitas objektif, bebas nilai, dan berdiri di atas fakta semata. Data adalah data. Angka adalah angka. Alam berbicara apa adanya, tanpa campur tangan manusia.

Namun, benarkah demikian?

Pandangan tentang netralitas sains berakar kuat pada tradisi positivisme dan rasionalisme modern. Dalam kerangka ini, sains dipahami sebagai upaya menemukan kebenaran objektif melalui metode yang ketat, terukur, dan dapat direplikasi. Bahkan pemikir seperti Max Weber pernah menekankan pentingnya value neutrality, bahwa ilmuwan seharusnya memisahkan fakta dari nilai agar pengetahuan tidak tercemar oleh kepentingan pribadi atau ideologi.

Masalahnya, sains tidak pernah hidup di ruang hampa.

Pilihan topik penelitian, sumber pendanaan, metode yang digunakan, hingga bagaimana hasil riset diterapkan dalam kebijakan atau teknologi, semuanya melibatkan keputusan manusia. Dan setiap keputusan manusia selalu membawa nilai. Mengapa riset energi fosil jauh lebih masif daripada energi terbarukan selama puluhan tahun? Mengapa beberapa penyakit mendapat perhatian riset besar, sementara penyakit lain yang menimpa kelompok marjinal sering terabaikan? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa sains bergerak dalam lanskap sosial, politik, dan ekonomi tertentu.

Di sinilah kritik terhadap mitos netralitas sains mulai menguat. Dalam pendidikan sains, Derek Hodson secara tegas mengingatkan bahwa mengajarkan sains seolah-olah bebas nilai justru berbahaya. Ketika mahasiswa hanya diajak menguasai konsep dan teknik, tanpa diajak merefleksikan dampak sosial dan etisnya, sains berisiko menjadi alat yang efisien, tetapi tidak bijaksana.

Lebih jauh lagi, pemikir seperti Bruno Latour menunjukkan bahwa fakta ilmiah tidak hanya “ditemukan”, tetapi juga dikonstruksi melalui jejaring laboratorium, instrumen, institusi, dan konsensus komunitas ilmiah. Ini bukan berarti sains fiktif atau sembarangan, melainkan menegaskan bahwa objektivitas sains selalu dicapai melalui proses sosial yang kompleks, bukan melalui kemurnian absolut.

Lalu, jika sains tidak sepenuhnya netral, apakah itu berarti sains menjadi tidak ilmiah?

Justru sebaliknya. Mengakui bahwa sains mengandung nilai adalah langkah menuju sains yang lebih bertanggung jawab. Netralitas bukan dihapus, tetapi diredefinisi. Objektivitas tidak lagi dipahami sebagai ketiadaan nilai, melainkan sebagai keterbukaan terhadap kritik, transparansi metode, dan kesadaran akan dampak sosial dari pengetahuan yang dihasilkan.

Dalam konteks pendidikan, pertanyaan “apakah sains itu netral?” seharusnya tidak dijawab dengan ya atau tidak secara hitam-putih. Pertanyaan ini lebih tepat dijadikan pintu refleksi: nilai apa yang sedang kita bawa ketika mengajarkan sains? Untuk siapa pengetahuan ini bekerja? Dan dampak apa yang mungkin muncul dari praktik ilmiah kita?

Di tengah krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial, sains yang berpura-pura netral justru berisiko abai. Sebaliknya, sains yang sadar nilai tanpa kehilangan ketelitian ilmiahnyadapat menjadi kekuatan transformasi. Bukan hanya membuat kita lebih pintar, tetapi juga lebih bertanggung jawab sebagai manusia.

Dan mungkin, di situlah tugas terbesar sains hari ini.