KATEGORI : Refleksi

 

Menjadi guru dan dosen kerap diposisikan sebagai pekerjaan panggilan jiwa. Ungkapan ini terdengar luhur, tetapi sering kali menyimpan konsekuensi yang tidak ringan. Atas nama pengabdian, ketimpangan kesejahteraan, beban administratif yang menumpuk, serta tuntutan profesional yang terus meningkat dianggap sebagai sesuatu yang wajar untuk diterima, bukan untuk dipersoalkan.

Dalam realitas pendidikan hari ini, tantangan yang dihadapi guru dan dosen tidak semakin sederhana. Target kinerja bertambah, laporan semakin kompleks, ekspektasi publik meninggi, sementara sistem pendukung sering tertatih. Ironisnya, di tengah tekanan yang makin berat itu, bertahan justru jarang dipandang sebagai prestasi. Ia dianggap bagian dari kewajiban, bukan capaian.

Bertahan pun kerap disederhanakan maknanya menjadi sekadar pengabdian. Seolah kelelahan, konsistensi, dan kompetensi adalah sesuatu yang “memang seharusnya”, sehingga tidak layak disebut pencapaian. Padahal, tidak semua orang mampu bertahan di tengah sistem yang belum sepenuhnya adil tanpa kehilangan profesionalisme dan integritas.

Bertahan bukan sekadar hadir di ruang kelas atau menyelesaikan kewajiban administratif. Bertahan berarti tetap profesional di tengah keterbatasan, terus belajar ketika sistem berjalan tidak ideal, dan tetap mendidik ketika apresiasi sering tertinggal jauh di belakang tuntutan. Ia menuntut keteguhan sikap, bukan sekadar ketahanan fisik.

Dalam banyak kasus, yang paling menguras energi bukan hanya beban kerja, tetapi perasaan bahwa usaha yang dilakukan seolah tidak pernah cukup. Ketika segala sesuatu diukur lewat angka jam mengajar, publikasi, dan luaran lainnya. Sementara hal-hal yang tidak mudah diukur seperti kejujuran, kepedulian, dan konsistensi justru mudah diabaikan.

Karena itu, memaknai bertahan hanya sebagai pengabdian justru mereduksi nilainya. Profesionalisme dalam pendidikan bukan soal pengorbanan tanpa batas, melainkan tentang menjaga mutu, etika, dan tanggung jawab di tengah kondisi yang tidak selalu mendukung. Bertahan, dalam pengertian ini, adalah sikap aktif, bukan pasif.

Di tengah carut-marut sistem pendidikan, memilih tetap menjadi guru dan dosen adalah keputusan sadar. Ia bukan pilihan yang selalu menjanjikan kenyamanan, tetapi pilihan yang menuntut keteguhan. Maka, bertahan dengan tetap menjaga integritas adalah pencapaian yang layak diakui, karena tidak semua orang sanggup melakukannya.

Dalam Riset, Kedekatan Tidak Selalu Berarti Dukungan

20 December 2025 13:16:53 Dibaca : 25

Menyebarkan angket sering dianggap sebagai urusan teknis dalam penelitian. Buat instrumen, sebar tautan, tunggu respons. Selesai. Namun, di balik proses yang tampak sederhana itu, ada pengalaman emosional yang jarang dibicarakan.

Saya pernah berada pada situasi ketika harus meminta tolong teman dekat untuk membantu membagikan angket penelitian. Harapannya wajar: karena sudah saling mengenal, urusan berbagi tautan mestinya lebih mudah. Kenyataannya, respons yang datang justru biasa saja. Tidak diabaikan, tetapi juga tidak segera ditindaklanjuti. Kalimat “nanti ya” menjadi jawaban yang paling sering muncul.

Yang menarik, ketika angket yang sama dibagikan oleh rekan yang tidak terlalu dekat secara personal, respons justru lebih banyak. Tanpa sungkan, tanpa basa-basi. Angket diperlakukan sebagaimana mestinya: sebagai permintaan akademik yang perlu direspons.

Pengalaman ini perlahan menyadarkan saya bahwa kedekatan sosial tidak selalu berbanding lurus dengan dukungan praktis. Teman dekat sering kali berada dalam situasi yang kompleks seperti kesibukan, rasa sungkan, atau asumsi bahwa permintaan tersebut tidak mendesak. Sebaliknya, relasi yang lebih berjarak justru memungkinkan sikap yang lebih profesional dan langsung.

Bukan berarti teman dekat tidak peduli. Justru sering kali karena kedekatan itulah muncul kelonggaran yang berujung pada penundaan. Di sisi lain, jarak menghadirkan kejelasan: apa yang diminta, dan apa yang perlu dilakukan.

Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar satu hal penting dalam dunia akademik: kedekatan emosional bukan selalu modal dalam riset. Kadang, ia justru menghadirkan harapan yang terlalu tinggi. Dan belajar menurunkan ekspektasi adalah bagian dari kedewasaan sebagai peneliti.

Pada akhirnya, data tetap terkumpul, penelitian tetap berjalan, dan kita pun belajar memahami dinamika manusia dengan lebih jernih, termasuk diri kita sendiri.

Apakah Sains itu Netral?

19 December 2025 23:47:25 Dibaca : 38

 

 

Pertanyaan “apakah sains itu netral?” terdengar sederhana, tetapi jawabannya justru membawa kita pada perdebatan panjang dalam filsafat ilmu, pendidikan, dan praktik riset modern. Selama bertahun-tahun, kita dibiasakan untuk memandang sains sebagai aktivitas objektif, bebas nilai, dan berdiri di atas fakta semata. Data adalah data. Angka adalah angka. Alam berbicara apa adanya, tanpa campur tangan manusia.

Namun, benarkah demikian?

Pandangan tentang netralitas sains berakar kuat pada tradisi positivisme dan rasionalisme modern. Dalam kerangka ini, sains dipahami sebagai upaya menemukan kebenaran objektif melalui metode yang ketat, terukur, dan dapat direplikasi. Bahkan pemikir seperti Max Weber pernah menekankan pentingnya value neutrality, bahwa ilmuwan seharusnya memisahkan fakta dari nilai agar pengetahuan tidak tercemar oleh kepentingan pribadi atau ideologi.

Masalahnya, sains tidak pernah hidup di ruang hampa.

Pilihan topik penelitian, sumber pendanaan, metode yang digunakan, hingga bagaimana hasil riset diterapkan dalam kebijakan atau teknologi, semuanya melibatkan keputusan manusia. Dan setiap keputusan manusia selalu membawa nilai. Mengapa riset energi fosil jauh lebih masif daripada energi terbarukan selama puluhan tahun? Mengapa beberapa penyakit mendapat perhatian riset besar, sementara penyakit lain yang menimpa kelompok marjinal sering terabaikan? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa sains bergerak dalam lanskap sosial, politik, dan ekonomi tertentu.

Di sinilah kritik terhadap mitos netralitas sains mulai menguat. Dalam pendidikan sains, Derek Hodson secara tegas mengingatkan bahwa mengajarkan sains seolah-olah bebas nilai justru berbahaya. Ketika mahasiswa hanya diajak menguasai konsep dan teknik, tanpa diajak merefleksikan dampak sosial dan etisnya, sains berisiko menjadi alat yang efisien, tetapi tidak bijaksana.

Lebih jauh lagi, pemikir seperti Bruno Latour menunjukkan bahwa fakta ilmiah tidak hanya “ditemukan”, tetapi juga dikonstruksi melalui jejaring laboratorium, instrumen, institusi, dan konsensus komunitas ilmiah. Ini bukan berarti sains fiktif atau sembarangan, melainkan menegaskan bahwa objektivitas sains selalu dicapai melalui proses sosial yang kompleks, bukan melalui kemurnian absolut.

Lalu, jika sains tidak sepenuhnya netral, apakah itu berarti sains menjadi tidak ilmiah?

Justru sebaliknya. Mengakui bahwa sains mengandung nilai adalah langkah menuju sains yang lebih bertanggung jawab. Netralitas bukan dihapus, tetapi diredefinisi. Objektivitas tidak lagi dipahami sebagai ketiadaan nilai, melainkan sebagai keterbukaan terhadap kritik, transparansi metode, dan kesadaran akan dampak sosial dari pengetahuan yang dihasilkan.

Dalam konteks pendidikan, pertanyaan “apakah sains itu netral?” seharusnya tidak dijawab dengan ya atau tidak secara hitam-putih. Pertanyaan ini lebih tepat dijadikan pintu refleksi: nilai apa yang sedang kita bawa ketika mengajarkan sains? Untuk siapa pengetahuan ini bekerja? Dan dampak apa yang mungkin muncul dari praktik ilmiah kita?

Di tengah krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan sosial, sains yang berpura-pura netral justru berisiko abai. Sebaliknya, sains yang sadar nilai tanpa kehilangan ketelitian ilmiahnyadapat menjadi kekuatan transformasi. Bukan hanya membuat kita lebih pintar, tetapi juga lebih bertanggung jawab sebagai manusia.

Dan mungkin, di situlah tugas terbesar sains hari ini.

Ketika Pengetahuan Perlu Melangkah Lebih Dekat ke Kehidupan

16 December 2025 12:32:08 Dibaca : 33

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjawab tantangan besar yang dihadapi masyarakat saat ini. Di tengah krisis keberlanjutan—mulai dari persoalan lingkungan, akses sumber daya, hingga dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem kampus sering dipandang sebagai pusat lahirnya solusi berbasis pengetahuan. Namun, muncul pertanyaan reflektif: sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan benar-benar hadir dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat?

Banyak persoalan keberlanjutan tidak berdiri sendiri. Ia melibatkan dimensi teknis, sosial, ekonomi, dan budaya sekaligus. Karena itu, pendekatan berbasis pengetahuan tidak cukup jika hanya berhenti pada penguasaan konsep atau pengembangan teknologi. Diperlukan proses pembelajaran yang memungkinkan pengetahuan tersebut dipahami, diterima, dan dijalankan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Menjembatani Kampus dan Realitas Sosial.

Dalam praktiknya, dunia akademik dan realitas sosial sering berjalan dengan ritme yang berbeda. Kampus bekerja dengan logika riset, kurikulum, dan publikasi, sementara masyarakat berhadapan langsung dengan persoalan nyata yang menuntut solusi praktis dan kontekstual. Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, tetapi perlu dijembatani. Pendidikan memiliki peran strategis dalam proses ini. Pembelajaran tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik memahami relevansi ilmu dalam konteks sosial dan lingkungan. Ketika pembelajaran mampu mengaitkan teori dengan realitas, lulusan perguruan tinggi akan lebih siap berkontribusi secara bermakna di luar ruang kelas.

Dari Pengetahuan ke Tindakan Bersama.

Pengetahuan memiliki nilai yang lebih besar ketika ia mampu menggerakkan tindakan. Oleh karena itu, hasil riset dan kajian akademik perlu diterjemahkan ke dalam proses belajar bersama yang melibatkan berbagai pihak. Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sebagai penerima pasif, melainkan sebagai mitra yang ikut memahami dan mengembangkan solusi sesuai konteksnya. Proses semacam ini memang tidak selalu sederhana. Ia membutuhkan waktu, dialog, dan kesediaan untuk belajar satu sama lain. Namun justru melalui proses itulah keberlanjutan dapat tumbuh, karena solusi tidak hanya datang dari luar, tetapi dibangun bersama.

Kolaborasi sebagai Kunci Keberlanjutan.

Upaya menjawab tantangan keberlanjutan menuntut kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Ketika kolaborasi berjalan dengan semangat saling belajar, pengetahuan dapat berfungsi sebagai bahasa bersama yang menyatukan berbagai kepentingan. Bagi dunia akademik, kolaborasi ini juga menjadi ruang refleksi: bagaimana pembelajaran dan riset dapat terus dikembangkan agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tanpa kehilangan kualitas dan integritas ilmiahnya.

Pembelajaran sebagai Fondasi Masa Depan.

Keberlanjutan bukanlah hasil instan dari satu proyek atau satu kebijakan. Ia merupakan proses jangka panjang yang bertumpu pada pembelajaran yang terus berkembang. Dengan menempatkan pembelajaran sebagai inti strategi, perguruan tinggi berkontribusi pada pembangunan kapasitas masyarakat untuk merawat dan mengembangkan solusi secara mandiri.

Menuju Indonesia 2045, tantangan kita bukan sekadar menghasilkan pengetahuan, tetapi memastikan pengetahuan tersebut hidup dan bermakna dalam kehidupan sosial. Kampus memiliki peluang besar untuk menjadi ruang temu antara ilmu dan realitas ruang di mana pembelajaran tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memberdayakan.