LABEL : sdgs

Belajar Sains Tidak Cukup Pintar, Harus Peduli !

18 December 2025 08:56:00 Dibaca : 50

 

Selama ini, belajar sains sering dimaknai sebagai proses menjadi pintar. Pintar memahami konsep, pintar menghafal rumus, pintar melakukan eksperimen, dan pintar menjawab soal ujian. Ukuran keberhasilan pun kerap berhenti pada angka: nilai, IPK, atau kelulusan tepat waktu. Namun, di tengah berbagai krisis lingkungan dan sosial yang kita hadapi hari ini, muncul pertanyaan penting: apakah kepintaran saja sudah cukup?

Sains memiliki peran besar dalam membentuk dunia modern. Teknologi berbasis sains membantu manusia hidup lebih sehat, lebih produktif, dan lebih nyaman. Tapi di saat yang sama, kita juga menyaksikan polusi, kerusakan lingkungan, krisis iklim, hingga ketimpangan sosial yang tidak sedikit bersumber dari penerapan ilmu pengetahuan yang minim refleksi. Ini menunjukkan satu hal penting: sains tidak pernah benar-benar netral.

Di ruang kelas, sains sering diajarkan seolah-olah terpisah dari kehidupan nyata. Mahasiswa sibuk mempelajari teori dan prosedur, tetapi jarang diajak berdiskusi tentang dampak dari pengetahuan yang mereka pelajari. Padahal, setiap pengetahuan ilmiah memiliki konsekuensi. Setiap teknologi membawa risiko. Setiap inovasi memunculkan pertanyaan etis. Jika aspek ini diabaikan, pendidikan sains berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara teknis, tetapi kurang peka terhadap lingkungan dan masyarakat.

Pendidikan berkelanjutan hadir untuk mengingatkan bahwa tujuan belajar bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan membentuk kesadaran. Kesadaran bahwa sains digunakan untuk siapa, dengan cara apa, dan dengan dampak seperti apa. Organisasi seperti UNESCO menekankan bahwa pendidikan seharusnya membantu peserta didik berpikir kritis, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan, bukan hanya mengejar capaian akademik jangka pendek.

Dalam konteks global, semangat ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals yang menempatkan pendidikan sebagai kunci transformasi sosial. Pendidikan tidak lagi cukup jika hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi abai terhadap persoalan lingkungan dan keadilan sosial. Dunia membutuhkan individu yang mampu mengaitkan pengetahuan dengan nilai dan kepedulian.

Peran pendidik sains menjadi sangat penting di sini. Cara dosen atau guru membingkai materi, memilih contoh kasus, dan membuka ruang diskusi akan menentukan bagaimana peserta didik memandang sains. Ketika sains diajarkan dengan konteks kehidupan nyata seperti banjir, limbah, energi, kesehatan, dan pangan. Mahasiswa belajar bahwa ilmu bukan sekadar alat intelektual, melainkan juga sarana tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, belajar sains memang penting untuk menjadi pintar. Tetapi kepintaran tanpa kepedulian justru berisiko melahirkan masalah baru. Pendidikan sains yang bermakna adalah pendidikan yang menumbuhkan empati, kehati-hatian, dan tanggung jawab. Karena masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi oleh seberapa bijak kita menggunakan pengetahuan tersebut.

Ketika Pengetahuan Perlu Melangkah Lebih Dekat ke Kehidupan

16 December 2025 12:32:08 Dibaca : 33

Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menjawab tantangan besar yang dihadapi masyarakat saat ini. Di tengah krisis keberlanjutan—mulai dari persoalan lingkungan, akses sumber daya, hingga dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem kampus sering dipandang sebagai pusat lahirnya solusi berbasis pengetahuan. Namun, muncul pertanyaan reflektif: sejauh mana pengetahuan yang dihasilkan benar-benar hadir dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat?

Banyak persoalan keberlanjutan tidak berdiri sendiri. Ia melibatkan dimensi teknis, sosial, ekonomi, dan budaya sekaligus. Karena itu, pendekatan berbasis pengetahuan tidak cukup jika hanya berhenti pada penguasaan konsep atau pengembangan teknologi. Diperlukan proses pembelajaran yang memungkinkan pengetahuan tersebut dipahami, diterima, dan dijalankan secara berkelanjutan oleh masyarakat.

Menjembatani Kampus dan Realitas Sosial.

Dalam praktiknya, dunia akademik dan realitas sosial sering berjalan dengan ritme yang berbeda. Kampus bekerja dengan logika riset, kurikulum, dan publikasi, sementara masyarakat berhadapan langsung dengan persoalan nyata yang menuntut solusi praktis dan kontekstual. Perbedaan ini bukan untuk dipertentangkan, tetapi perlu dijembatani. Pendidikan memiliki peran strategis dalam proses ini. Pembelajaran tidak hanya berfungsi mentransfer pengetahuan, tetapi juga membantu peserta didik memahami relevansi ilmu dalam konteks sosial dan lingkungan. Ketika pembelajaran mampu mengaitkan teori dengan realitas, lulusan perguruan tinggi akan lebih siap berkontribusi secara bermakna di luar ruang kelas.

Dari Pengetahuan ke Tindakan Bersama.

Pengetahuan memiliki nilai yang lebih besar ketika ia mampu menggerakkan tindakan. Oleh karena itu, hasil riset dan kajian akademik perlu diterjemahkan ke dalam proses belajar bersama yang melibatkan berbagai pihak. Pendekatan ini menempatkan masyarakat bukan sebagai penerima pasif, melainkan sebagai mitra yang ikut memahami dan mengembangkan solusi sesuai konteksnya. Proses semacam ini memang tidak selalu sederhana. Ia membutuhkan waktu, dialog, dan kesediaan untuk belajar satu sama lain. Namun justru melalui proses itulah keberlanjutan dapat tumbuh, karena solusi tidak hanya datang dari luar, tetapi dibangun bersama.

Kolaborasi sebagai Kunci Keberlanjutan.

Upaya menjawab tantangan keberlanjutan menuntut kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Ketika kolaborasi berjalan dengan semangat saling belajar, pengetahuan dapat berfungsi sebagai bahasa bersama yang menyatukan berbagai kepentingan. Bagi dunia akademik, kolaborasi ini juga menjadi ruang refleksi: bagaimana pembelajaran dan riset dapat terus dikembangkan agar lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat, tanpa kehilangan kualitas dan integritas ilmiahnya.

Pembelajaran sebagai Fondasi Masa Depan.

Keberlanjutan bukanlah hasil instan dari satu proyek atau satu kebijakan. Ia merupakan proses jangka panjang yang bertumpu pada pembelajaran yang terus berkembang. Dengan menempatkan pembelajaran sebagai inti strategi, perguruan tinggi berkontribusi pada pembangunan kapasitas masyarakat untuk merawat dan mengembangkan solusi secara mandiri.

Menuju Indonesia 2045, tantangan kita bukan sekadar menghasilkan pengetahuan, tetapi memastikan pengetahuan tersebut hidup dan bermakna dalam kehidupan sosial. Kampus memiliki peluang besar untuk menjadi ruang temu antara ilmu dan realitas ruang di mana pembelajaran tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memberdayakan.