Gorontalo, Indonesia – Dalam dunia pengobatan luka bakar, terutama luka bakar derajat kedua, penggunaan bahan alami semakin diminati karena sifatnya yang lebih aman dan ramah lingkungan. Salah satu bahan alami yang memiliki potensi besar dalam perawatan luka bakar adalah daun Pandanus amaryllifolius, atau yang lebih dikenal dengan pandan wangi. Tanaman ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional dan kini semakin mendapat perhatian dalam penelitian modern.

Apa Itu Pandanus Amaryllifolius?

Pandanus amaryllifolius, atau pandan wangi, adalah tanaman yang tumbuh di daerah tropis, termasuk Indonesia. Daun pandan ini dikenal memiliki aroma yang khas, dan dalam dunia herbal, daun pandan digunakan untuk berbagai tujuan pengobatan. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa bioaktif yang memiliki sifat antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri, menjadikannya bahan yang potensial dalam perawatan luka, termasuk luka bakar.

Mengapa Daun Pandan Potensial untuk Penyembuhan Luka?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak daun Pandanus amaryllifolius dapat mempercepat proses penyembuhan luka bakar. Daun pandan mengandung senyawa seperti flavonoid, tannin, alkaloid, dan polifenol, yang berperan penting dalam penyembuhan luka. Senyawa-senyawa ini bekerja dengan cara mengurangi peradangan, meningkatkan produksi kolagen, serta mempercepat proliferasi fibroblas  semua faktor yang sangat penting dalam regenerasi jaringan yang rusak akibat luka bakar.

Bagaimana Daun Pandan Membantu Penyembuhan Luka Bakar?

Penelitian menunjukkan bahwa gel yang mengandung ekstrak daun pandan dapat mempercepat penyembuhan luka bakar dengan cara-cara berikut:

  1. Sifat Antioksidan: Flavonoid dan polifenol dalam daun pandan membantu mengurangi stres oksidatif yang sering terjadi pada luka bakar, mempercepat regenerasi sel, dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada jaringan yang rusak.
  2. Sifat Anti-inflamasi: Tanin dan flavonoid yang terkandung dalam daun pandan juga memiliki sifat antiinflamasi, yang membantu meredakan peradangan yang muncul setelah luka bakar, sehingga mempercepat proses penyembuhan.
  3. Sifat Antibakteri: Ekstrak daun pandan terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap patogen yang sering menyebabkan infeksi pada luka bakar, seperti Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Ini sangat penting dalam mencegah infeksi yang dapat memperlambat proses penyembuhan.

Hasil Penelitian Terkini

Sebuah studi oleh Mohamad Aprianto Paneo dan Tim Peneliti dari Jurusan Farmasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo mengembangkan gel yang mengandung ekstrak daun pandan dengan konsentrasi etanol 70%. Gel ini diuji pada tikus dengan luka bakar derajat kedua dan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Formulasi dengan konsentrasi ekstrak daun pandan 40% menunjukkan penyembuhan luka yang lebih cepat dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan luka sembuh sepenuhnya dalam waktu 12 hari. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pandan, semakin cepat luka bakar dapat sembuh.

Keunggulan Daun Pandan dalam Perawatan Luka Bakar

Keunggulan utama dari penggunaan Pandanus amaryllifolius dalam perawatan luka bakar adalah keamanannya. Gel yang mengandung ekstrak daun pandan menunjukkan hasil yang aman dan efektif, tanpa menimbulkan iritasi atau efek samping pada kulit. Selain itu, penggunaan bahan alami ini jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan obat-obatan sintetis yang sering digunakan dalam perawatan luka bakar.

Kesimpulan

Dengan kandungan senyawa bioaktif yang melimpah, Pandanus amaryllifolius (daun pandan) memiliki potensi yang sangat besar dalam mempercepat penyembuhan luka bakar. Ekstrak daun pandan tidak hanya mempercepat penyembuhan luka tetapi juga membantu mencegah infeksi dan mengurangi peradangan. Pengembangan lebih lanjut dari gel berbasis daun pandan ini dapat menjadi alternatif alami yang efektif dan terjangkau untuk perawatan luka bakar, membawa harapan baru dalam pengobatan luka bakar yang lebih aman dan berbasis tanaman.

Referensi:

Paneo, M. A., Thomas, N., Ramadhani, F. N., Latif, M. S., Moo, F. R., Puluhulawa, L. E., Nusi, I., & Ayuhastuti, A. (2026). Innovative Gel Formulation with 70% Ethanol Extract of Pandanus amaryllifolius Leaf for Accelerated Healing of Second-Degree Burn in Rats. Tropical Journal of Natural Product Research, 10(1), 6493-6503. https://doi.org/10.26538/tjnpr/v10i1.9

Para peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo telah mengembangkan sebuah inovasi terbaru dalam dunia pengobatan luka diabetes, yaitu gel semprot HulDerma Spray yang terbuat dari albumin ikan Hulu’u (Giuris margariticus). Gel ini menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan dalam mempercepat penyembuhan luka pada penderita diabetes, yang selama ini dikenal sulit untuk sembuh akibat gangguan sirkulasi dan neuropati.

Penelitian ini dipimpin oleh Mohamad Aprianto Paneo dari Departemen Farmasi, Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo, bersama dengan tim peneliti lainnya dari berbagai disiplin ilmu, termasuk ahli farmasi dan biomedik. Tim ini juga melibatkan kolaborasi dengan departemen perikanan, yang berperan dalam ekstraksi albumin ikan Hulu’u.

Penelitian ini dilakukan di Gorontalo, Indonesia, dengan menggunakan ikan Hulu’u yang hanya ditemukan di perairan Danau Limboto, Gorontalo. Ikan ini adalah spesies ikan air tawar endemik yang kaya akan protein dan senyawa bioaktif, menjadikannya bahan yang sangat potensial dalam pengobatan luka. Penelitian ini tidak hanya berfokus pada aspek ilmiah, tetapi juga mengusung nilai sosial-ekonomi, karena memanfaatkan sumber daya lokal yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Gel semprot HulDerma Spray ini pertama kali diuji pada tahun 2025 dan hasilnya diterbitkan pada Januari 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi dengan konsentrasi albumin 30% (F3) memberikan pengurangan diameter luka yang paling signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol, yang hanya menunjukkan penurunan yang lebih lambat.

Luka diabetes adalah salah satu komplikasi paling berbahaya dari diabetes mellitus, karena luka ini dapat menyebabkan infeksi serius, perawatan rumah sakit berkepanjangan, bahkan amputasi. Saat ini, pengobatan luka diabetes masih terbatas dan sering kali memerlukan waktu yang lama untuk sembuh. HulDerma Spray menawarkan solusi baru yang lebih cepat dan efektif dalam mempercepat penyembuhan luka, sekaligus memanfaatkan bahan alami yang ada di Indonesia.

Gel semprot HulDerma Spray bekerja dengan cara mengaplikasikan albumin ikan Hulu’u langsung ke area luka. Formulasi ini tidak hanya mempercepat proses regenerasi jaringan, tetapi juga memiliki sifat antibakteri yang membantu mencegah infeksi pada luka. Gel semprot ini dirancang untuk mudah digunakan, memiliki daya sebar yang optimal, dan cepat kering, yang membuatnya sangat nyaman untuk digunakan oleh pasien.

Meskipun hasil ini sangat menggembirakan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menguji keamanannya dalam jangka panjang dan memastikan efektivitasnya pada manusia. Penelitian lanjutan juga perlu memperhitungkan berbagai faktor biologis lainnya yang mungkin memengaruhi proses penyembuhan luka pada pasien manusia.Dengan adanya inovasi ini, diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan terapi luka yang lebih efektif dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Sumber:Paneo, M. A., Djuwarno, E. N., Habibie, S. A., Maulana, A. N., et al. (2026). Formulation and In Vivo Evaluation of Hulu’u Fish (Giuris margariticus) Albumin Spray Gel for Diabetic Wounds. Syifa Sciences and Clinical Research, 8(1), 59-78.

Soal Pilihan Ganda

1. Apa tujuan utama dari monitoring dalam penyelesaian masalah kefarmasian?

  • A. Menilai efisiensi biaya terapi
  • B. Menilai respons terapi dan mengidentifikasi masalah pengobatan
  • C. Menentukan jenis obat yang digunakan
  • D. Menghitung dosis obat yang tepat

2. Komponen apa yang harus dimonitor dalam terapi hipertensi?

  • A. Kadar glukosa darah
  • B. Tekanan darah
  • C. Kadar kolesterol darah
  • D. Kadar kreatinin darah

3. Apa tujuan dari evaluasi dalam penyelesaian masalah kefarmasian?

  • A. Menilai apakah obat tersedia di apotek
  • B. Menilai apakah hasil pengobatan tercapai dan jika terapi perlu diubah
  • C. Menilai efektivitas biaya obat
  • D. Menilai kualitas layanan apotek

4. Apa jenis pencatatan yang paling penting untuk menjamin keselamatan pasien selama pengobatan?

  • A. Pencatatan pengobatan dan efek samping
  • B. Pencatatan administrasi apotek
  • C. Pencatatan jumlah obat yang dibeli
  • D. Pencatatan riwayat penyakit pasien

5. Dalam pelaporan masalah kefarmasian, apa yang harus dilaporkan oleh apoteker terkait efek samping obat?

  • A. Lokasi apotek
  • B. Nama pasien
  • C. Reaksi yang tidak diinginkan akibat pengobatan
  • D. Jumlah obat yang terjual

6. Apa yang dimaksud dengan laporan efek samping obat?

  • A. Laporan tentang keluhan pasien terhadap obat yang diberikan
  • B. Laporan terkait jumlah obat yang terjual di apotek
  • C. Laporan tentang biaya pengobatan pasien
  • D. Laporan tentang kepuasan pasien

7. Apa komponen utama dalam monitoring obat untuk pasien dengan diabetes tipe 2?

  • A. Tekanan darah dan berat badan
  • B. Kadar glukosa darah dan kepatuhan pasien terhadap terapi
  • C. Konsumsi kalori dan dosis obat
  • D. Tindak lanjut pengobatan dengan antibiotik

8. Apa yang harus dilakukan apoteker jika pasien melaporkan efek samping berupa mual setelah mengonsumsi obat?

  • A. Mengubah terapi pasien tanpa berdiskusi dengan dokter
  • B. Membuat laporan efek samping dan berdiskusi dengan dokter
  • C. Menghentikan pengobatan pasien secara langsung
  • D. Memberikan obat anti-mual kepada pasien

9. Apa jenis pencatatan yang harus dilakukan oleh apoteker terkait penggunaan obat pada pasien?

  • A. Pencatatan biaya obat
  • B. Pencatatan dosis, frekuensi, dan cara pemberian obat
  • C. Pencatatan riwayat keluarga pasien
  • D. Pencatatan status pekerjaan pasien

10. Apa yang dimaksud dengan "pencatatan klinis" dalam praktik kefarmasian?

  • A. Pencatatan laporan keuangan apotek
  • B. Pencatatan tentang jenis terapi yang diberikan kepada pasien
  • C. Pencatatan informasi medis tentang riwayat penyakit pasien dan hasil tes
  • D. Pencatatan resep obat yang dimasukkan ke dalam sistem apotek

 

Soal Essay Studi Kasus

Kasus 1: Monitoring Tekanan Darah Seorang pasien berusia 60 tahun dengan hipertensi kronis sedang menjalani pengobatan dengan obat golongan ACE inhibitor. Setelah dua minggu, apoteker diminta untuk memantau tekanan darah pasien.

Tugas:

Sebutkan parameter apa saja yang perlu dipantau oleh apoteker selama terapi hipertensi.Apa langkah yang harus diambil jika tekanan darah pasien tidak menunjukkan perbaikan setelah dua minggu pengobatan?

 

Kasus 2: Evaluasi Penggunaan Insulin pada Pasien Diabetes Seorang pasien dengan diabetes tipe 1 yang menggunakan insulin melaporkan mengalami hipoglikemia beberapa kali seminggu. Apoteker diminta untuk mengevaluasi dosis insulin pasien.

Tugas:

Jelaskan langkah-langkah yang perlu diambil apoteker untuk mengevaluasi dosis insulin pasien.Apa saja faktor yang dapat menyebabkan hipoglikemia pada pasien ini dan bagaimana cara penyesuaian dosis insulin?

 

Kasus 3: Pencatatan Efek Samping Seorang pasien yang menggunakan obat antihipertensi mengalami batuk kering setelah dua minggu pengobatan. Pasien melaporkan efek samping ini kepada apoteker.

Tugas:

Apa yang harus dicatat oleh apoteker terkait efek samping yang dilaporkan oleh pasien?Bagaimana apoteker harus melaporkan efek samping tersebut kepada tim medis atau dokter?

 

Kasus 4: Pelaporan Masalah Kefarmasian Seorang pasien yang sedang menjalani terapi obat antibiotik melaporkan adanya reaksi alergi berupa ruam kulit. Apoteker diminta untuk membuat laporan terkait masalah ini.

Tugas:

Jelaskan proses pelaporan efek samping yang harus dilakukan oleh apoteker.Apa yang harus dicantumkan dalam laporan untuk memastikan informasi yang jelas dan lengkap?

 

Kasus 5: Monitoring Kepatuhan Pengobatan Pasien dengan penyakit jantung gagal untuk mengikuti terapi pengobatan yang telah disarankan oleh dokter.

Tugas:

Bagaimana apoteker dapat memonitor kepatuhan pasien terhadap terapi pengobatannya?Apa langkah yang harus diambil apoteker jika ditemukan masalah dalam kepatuhan pasien?

 

Kasus 6: Evaluasi Pengobatan pada Pasien Hipertensi Setelah satu bulan terapi dengan obat golongan beta blocker, pasien hipertensi melaporkan bahwa tekanan darahnya masih tinggi. Apoteker diminta untuk melakukan evaluasi pengobatan.

Tugas:

Apa indikator yang perlu dievaluasi oleh apoteker dalam kasus ini?Apa rekomendasi terapi yang bisa diberikan berdasarkan hasil evaluasi?

 

Kasus 7: Pencatatan Pengobatan pada Pasien Baru Seorang pasien baru datang ke apotek untuk mendapatkan obat untuk penyakit jantung. Apoteker memberikan informasi tentang dosis dan cara penggunaan obat.

Tugas:

Jelaskan jenis pencatatan apa yang harus dilakukan oleh apoteker terkait pengobatan pasien ini.Apa saja informasi penting yang harus dicatat untuk mencegah kesalahan dalam pemberian obat?

 

Kasus 8: Monitoring Efek Samping Obat pada Pasien Kanker Seorang pasien yang sedang menjalani kemoterapi mengalami mual dan muntah setelah pengobatan. Apoteker diminta untuk memonitor efek samping obat kemoterapi.

Tugas:

Apa yang harus dipantau oleh apoteker terkait efek samping obat kemoterapi pada pasien ini?Apa yang harus dilakukan jika efek samping yang lebih serius muncul?

 

Kasus 9: Evaluasi Terapi Pengobatan pada Pasien Lansia Seorang pasien lansia dengan banyak penyakit komorbid mulai menggunakan beberapa jenis obat. Apoteker diminta untuk mengevaluasi terapi pengobatan untuk menghindari interaksi obat.

Tugas:

Apa yang harus dievaluasi oleh apoteker terkait penggunaan obat pada pasien lansia?Bagaimana apoteker dapat mengidentifikasi dan mencegah potensi interaksi obat?

 

Kasus 10: Pelaporan Masalah Kefarmasian pada Obat-Obatan Baru Seorang pasien baru memulai terapi dengan obat yang baru diluncurkan di pasar. Setelah beberapa hari, pasien melaporkan adanya efek samping yang tidak biasa.

Tugas:

Apa yang harus dilakukan oleh apoteker dalam hal pelaporan efek samping pada obat baru?Bagaimana pelaporan tersebut dapat membantu pihak-pihak terkait dalam mengambil tindakan lebih lanjut?

 

Jawaban dikirim melalui komentar dibawah ini.

Tuliskan Nama dan NIM.

Deadline pengerjaan tugas 25 Januari 2026. 

Tugas Profesi Apoteker Angkatan 2 Regulasi Industri Farmasi

29 December 2025 13:42:35 Dibaca : 411

TUGAS PROFESI APOTEKER UNG ANGKATAN 2

 - Berikan dalam bentuk resume CPOB dalam industri farmasi minimal 150 kata

- Review UUD kesehatan yang terbaru

- Kenapa produk seperti minyak kayu putih, minyak balur tidak butuh SP

- Apa beda CEO dan COO dalam industri farmasi

 Jawablah dengan Tuliskan Nama dan NIM pada Kolom Komentar.

 

Kemajuan teknologi pada era digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk di bidang kesehatan dan terutama farmasi. Kata teknologi sendiri berasal dari bahasa Prancis, “La Technique”, yang berarti proses atau cara rasional untuk mewujudkan suatu tujuan. Teknologi pada hakikatnya hadir sebagai sarana untuk memudahkan manusia dalam beraktivitas, meningkatkan efisiensi, serta memperluas peluang dalam berbagai sektor. Seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin bergantung pada teknologi, baik anak-anak maupun orang dewasa. Perubahan menuju era digital telah memaksa semua lapisan masyarakat untuk beradaptasi agar tetap relevan dan mampu bertahan, termasuk dalam memanfaatkan perkembangan teknologi untuk meningkatkan pelayanan farmasi.

Di tengah kemajuan dunia digital, teknologi memberikan berbagai manfaat mendasar, mulai dari komunikasi, akses informasi, hingga efisiensi bisnis. Namun, manfaat tersebut menjadi semakin penting ketika diterapkan pada sektor farmasi. Teknologi tidak hanya mempermudah pekerjaan tenaga kesehatan, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan farmasi yang aman, cepat, dan efektif.

Pertama, komunikasi yang lebih mudah menjadi faktor penting dalam pelayanan farmasi. Teknologi memungkinkan apoteker berkomunikasi dengan pasien melalui aplikasi konsultasi kesehatan, telefarmasi, atau pesan singkat. Pasien dapat berkonsultasi mengenai penggunaan obat, efek samping, hingga interaksi obat tanpa harus datang langsung ke apotek. Hal ini sangat membantu masyarakat yang tinggal di daerah terpencil atau pesisir, yang seringkali memiliki akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan.

Kedua, akses informasi yang semakin luas membantu apoteker dan masyarakat memperoleh pengetahuan yang akurat mengenai obat dan terapi. Internet menyediakan sumber informasi ilmiah, pedoman penggunaan obat, dan jurnal farmasi terbaru yang sangat berguna bagi tenaga kefarmasian dalam memberikan pelayanan berdasarkan bukti ilmiah (evidence-based). Bagi masyarakat, informasi yang mudah diakses membantu meningkatkan literasi kesehatan sehingga penggunaan obat menjadi lebih rasional.

Selanjutnya, teknologi juga mempermudah perdagangan dan distribusi obat. Platform digital memudahkan pemesanan obat secara daring melalui apotek online yang terverifikasi. Sistem pengiriman yang terintegrasi membuat obat dapat diterima pasien dengan cepat tanpa harus menempuh perjalanan jauh. Kemudahan ini sangat menguntungkan masyarakat di wilayah yang minim fasilitas farmasi.

Kemajuan teknologi juga mendukung efisiensi proses bisnis di apotek. Penggunaan perangkat lunak manajemen apotek membantu dalam pencatatan stok obat, pemantauan tanggal kedaluwarsa, hingga pengelolaan keuangan. Dengan adanya otomasi, risiko kesalahan seperti medication error dapat dikurangi, dan pelayanan kepada pasien menjadi lebih cepat dan akurat. Tidak hanya itu, teknologi digital turut meningkatkan daya saing dan kualitas layanan farmasi. Apotek yang memanfaatkan teknologi seperti sistem antrean digital, layanan telekonsultasi, atau pembayaran elektronik mampu memberikan pelayanan yang lebih modern dan nyaman bagi masyarakat.

Hal ini sekaligus meningkatkan kepercayaan pasien dan mendorong perkembangan sektor farmasi di era global. Di sisi lain, teknologi juga membuka peluang dalam inovasi dan kreativitas di bidang farmasi. Misalnya, penggunaan perangkat lunak untuk merancangkemasan obat, pembuatan edukasi kesehatan berbasis video, dan pengembangan manajemen penggunaan obat bagi pasien penyakit kronis. Tenaga farmasi dapat berkolaborasi secara daring untuk berbagi ide dan menemukan solusi terhadap permasalahan kesehatan masyarakat.

Dalam dunia pendidikan, teknologi sangat membantu proses pembelajaran farmasi. Mahasiswa farmasi dapat mengakses jurnal ilmiah, mengikuti webinar, menggunakan simulasi laboratorium virtual, dan berkolaborasi melalui platform digital. Hal ini mempercepat penyebaran pengetahuan dan meningkatkan kualitas pendidikan farmasi di Indonesia. Secara keseluruhan, kemajuan teknologi telah memberikan dampak signifikan dalam memperluas akses pelayanan farmasi, baik untuk masyarakat maupun tenaga kesehatan. Teknologi membawa perubahan positif dalam cara konsultasi, pengelolaan obat, distribusi obat, pendidikan, serta peningkatan kualitas  layanan.

Dengan pemanfaatan yang tepat dan bertanggung jawab, teknologi dapat menjadi jembatan untuk mewujudkan pelayanan farmasi yang lebih merata, efisien, dan berbasis kebutuhan masyarakat di era digital.

 

Tulisan ini dibuat sebagai tugas literasi digital farmasi :

  1. SITI SUSANTI LANTAPA 08201325002
  2. AISA ABDULLAH HAMJATI 08201325003
  3. NIKMA DAENG BELLA 082013250010
  4. DIZYA RADISTI LALU 082013250012
  5. SRI AMELIA DJAFAR 082013250013