Pentingnya High Agency di Era Digitalisasi dan AI

Beberapa waktu lalu, saya sempat menyimak dua reels instagram. Pertama ada cuplikan workshop Prilly Latuconsina tentang penggunaan ChatGPT dan OpenAI dan juga tayangan reels milik Sabrina Anggraini tentang pentingnya softskill High Agency di era digital. Pada cuplikan Prilly yang diwawancarai oleh Najwa Shihab di sebuah workshop sebagai salah satu akademisi, ada satu kutipan yang sangat menarik yaitu maraknya penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa dan bagaimana Prilly menanggapinya. Prilly sebagai seorang Dosen mengatakan bahwa ketika mahasiswa membuat tugas dengan menggunakan ChatGPT, draf awal sudah tersedia dan itu tersusun rapi, sistematis, dan terlihat meyakinkan. Tetapi ketika Prilly membaca tugas mahasiswa tersebut, ada satu hal yang terasa kurang yaitu “suara” mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang benar-benar menulis tugas itu sendiri akan lebih menjelaskan "suaranya" yakni berupa pengalaman pribadi atau kesan terhadap sesuatu berdasarkan presepsi diri sendiri. ChatGPT sebagai produk teknologi menyusun teks berdasarkan logika komputer, walaupun rapi dan tersusun sistematis, namun rasa dari teks kaku dan hambar. Di situlah saya semakin sadar, teknologi bisa sangat cepat, tetapi arah, makna, dan tanggung jawab tetap harus datang dari manusia.
Kemudian, mari kita lanjut pada pembahasan tayangan milik Sabrina Anggraini tentang High Agency. Apa itu High Agency? High agency adalah kemampuan seseorang untuk mengambil kendali atas hidup, keputusan, dan tindakannya, alih-alih sekadar bereaksi terhadap keadaan. Orang dengan high agency tidak menunggu diperintah, tidak mudah menyalahkan situasi, dan tidak pasif terhadap perubahan. Ia sadar bahwa meskipun tidak semua hal bisa dikontrol, respons terhadap keadaan selalu bisa dipilih. Secara sederhana, high agency adalah sikap seperti : “Saya mungkin tidak bisa mengatur semuanya, tetapi saya bisa menentukan langkah saya.” Berikut Ciri-Ciri Orang dengan High Agency :
- Proaktif, bukan reaktif : Ia tidak menunggu peluang datang, tetapi menciptakan peluang. Jika ada masalah, ia bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”
- Bertanggung jawab atas pilihan : Tidak mudah menyalahkan sistem, teknologi, atau orang lain. Ia fokus pada kontribusi dan perbaikan diri.
- Berani mengambil keputusan : Tidak terjebak dalam keraguan berlebihan. Ia berani mencoba, belajar dari kesalahan, lalu memperbaiki.
- Adaptif terhadap perubahan : Ketika dunia berubah, misalnya karena digitalisasi dan AI seperti ChatGPT dari OpenAI, ia tidak panik. Ia belajar, menyesuaikan diri, dan memanfaatkan perubahan tersebut.
Untuk mempermudah pemahaman tentang High Agency, saya akan contoh berdasarkan konteks akademis. Contoh Sederhana dalam Kehidupan Sehari-hari, Mahasiswa dengan low agency yang akan berpendapat, “Soalnya susah, saya tidak mengerti, jadi saya tunggu saja penjelasan", sedangkan, Mahasiswa dengan high agency berpendapat, “Soalnya menantang. Saya coba cari referensi, diskusi dengan teman, atau bertanya langsung agar paham.” Atau dalam konteks dosen : Dosen dengan low agency mungkin berkata, “AI membuat mahasiswa malas", sedangkan Dosen dengan high agency akan berpikir, “Bagaimana saya mendesain tugas agar AI justru melatih berpikir kritis mahasiswa?”
Di era digitalisasi dan AI, kita membutuhkan skill high agency yaitu kemampuan untuk tetap memegang kendali, berpikir mandiri, dan bertindak secara sadar di tengah arus perubahan. Kenapa? Berikut berbagai alasannya :
1. Dari Pengguna Teknologi menjadi Pengarah Teknologi
Di era AI, orang yang hanya menjadi user memang akan mudah tergantikan. Teknologi akan selalu lebih cepat, lebih presisi, dan lebih efisien dalam tugas-tugas teknis. Namun individu dengan high agency tidak berhenti pada posisi sebagai pengguna. Ia memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti berpikir. Ia mengkritisi output teknologi, tidak langsung percaya, tetapi membaca ulang, membandingkan, dan memperbaiki. Ia juga mengintegrasikan AI untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas, bukan sekadar mempercepat pekerjaan.
Saya pernah berdiskusi dengan seorang mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyusun esai. Hasilnya bagus secara struktur, tetapi ketika saya bertanya, “Bagian mana yang paling Anda yakini?” ia terdiam. Di situ terlihat jelas : tanpa agency, seseorang hanya menjadi OPERATOR. Dengan agency, ia tetap menjadi DECISION MAKER atau penentu arah dan makna.
2. Adaptif terhadap Disrupsi
Digitalisasi menciptakan disrupsi (kekacauan) pada pekerjaan, model bisnis, bahkan pola pembelajaran. Banyak profesi berubah, beberapa hilang, dan yang baru bermunculan.
Individu dengan high agency tidak menunggu arahan. Ia cepat belajar ulang (reskilling dan upskilling), mencari pelatihan, mencoba hal baru, dan membaca peluang. Ia tidak larut dalam kekhawatiran, tetapi bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar tetap relevan?”
Di lingkungan akademik maupun profesional, sikap ini sangat menentukan keberlanjutan karier. Mereka yang proaktif akan melihat AI sebagai mitra kolaborasi, bukan ancaman kompetisi.
3. Kritis dan Etis dalam Menggunakan AI
AI membawa potensi besar, tetapi juga risiko seperti, bias algoritma, misinformasi, bahkan ketergantungan kognitif seseorang. Tanpa kesadaran, kita bisa menerima jawaban instan tanpa proses evaluasi dan refleksi.
High agency membantu seseorang untuk memverifikasi informasi, menggunakan AI secara bertanggung jawab, dan menjaga integritas akademik maupun profesional.
Tanpa High agency, teknologi bisa mengendalikan perilaku manusia, mengarahkan opini, membentuk preferensi, bahkan memengaruhi keputusan. Dengan High agency, manusialah yang tetap memegang kendali.
4. Mendorong Kreativitas dan Inovasi
AI unggul dalam kecepatan dan pengolahan data. Namun manusia unggul dalam empati, nilai, intuisi, dan konteks sosial.
High agency mendorong individu memadukan dua kekuatan ini. Misalnya, menggunakan AI untuk mengolah data penelitian, tetapi tetap menginterpretasikan hasilnya dengan sensitivitas sosial dan etika. Atau memanfaatkan AI untuk merancang bahan ajar, tetapi menyesuaikannya dengan karakter mahasiswa dan kebutuhan lokal.
Inovasi yang berdampak lahir bukan dari teknologi semata, tetapi dari manusia yang sadar dan reflektif dalam menggunakannya.
5. Relevansi bagi Dunia Pendidikan dan Dosen
Dalam konteks pendidikan tinggi, High agency menjadi sangat penting terutama ketika kita berbicara tentang inovasi pembelajaran. Dosen tidak lagi hanya penyampai materi, tetapi harus menjadi learning designer. Mahasiswa tidak sekadar penerima informasi, tetapi dilatih menjadi pembelajar mandiri. AI dapat dijadikan mitra pedagogis, yaitu sebagai alat untuk eksplorasi, diskusi, dan refleksi, bukan pengganti proses berpikir.
Saya melihat perubahan ini ketika tugas mahasiswa tidak lagi hanya “buat makalah”, tetapi “bandingkan analisis Anda dengan hasil AI, lalu jelaskan di mana letak perbedaannya”. Di situ, AI justru menjadi alat untuk melatih kedalaman berpikir.
Oleh karena itu, di era digitalisasi dan AI, kompetensi teknis saja tidak cukup. Yang membedakan adalah kesadaran, keberanian mengambil inisiatif, dan tanggung jawab atas pilihan kita. High agency menjadikan manusia tetap relevan, kreatif, dan bermakna. High Agency menjadikan seseorang mandiri, dapat beradaptasi, berdampak dan tidak akan tergantikan oleh Teknologi. Teknologi akan terus berkembang, mungkin lebih cepat dari yang kita bayangkan. Namun selama manusia tetap memegang kendali atas arah dan nilai, digitalisasi tidak akan mengurangi peran kita. Justru sebaliknya, ia menjadi alat pemberdayaan.
Membangun Kelas Inovatif di Perguruan Tinggi

Perubahan zaman hari ini terasa sangat cepat. Revolusi digital, perkembangan kecerdasan buatan, hingga perubahan kebutuhan dunia kerja membuat perguruan tinggi tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama. Mahasiswa yang kita hadapi sekarang adalah generasi yang tumbuh bersama teknologi, terbiasa dengan informasi instan, dan membutuhkan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata mereka.
Dalam situasi ini, dosen tidak cukup hanya hadir untuk menjelaskan materi. Dosen perlu berperan sebagai learning designer yang merancang pengalaman belajar, sebagai fasilitator yang membuka ruang diskusi, dan sebagai inspirator yang menumbuhkan semangat belajar mahasiswa. Inovasi pembelajaran menjadi kunci agar kelas tidak terasa monoton, tetapi hidup, dialogis, dan bermakna.
Sebagaimana ditekankan oleh UNESCO, pendidikan abad ke-21 harus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Artinya, pembelajaran tidak lagi berpusat pada dosen, tetapi pada mahasiswa (student-centered learning). Tugas dosen adalah menciptakan situasi yang membuat mahasiswa aktif membangun pengetahuannya sendiri.
1. Inovasi dalam Desain Pembelajaran
Inovasi dimulai dari cara kita merancang perkuliahan. Pembelajaran sebaiknya disusun berdasarkan capaian pembelajaran (CPL) yang jelas dan terukur. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang akan saya jelaskan hari ini?”, tetapi “kompetensi apa yang harus mahasiswa miliki setelah pertemuan ini?”.
Pendekatan seperti project-based learning, case method, dan problem-based learning sangat relevan diterapkan.
Misalnya, dalam mata kuliah Ekonomi Pembangunan :
Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil.Setiap kelompok diminta menganalisis data kemiskinan daerah setempat.Mereka harus menyusun rekomendasi kebijakan berbasis data.Hasilnya dipresentasikan dan didiskusikan bersama.Dengan model ini, mahasiswa tidak sekadar menghafal teori pertumbuhan ekonomi, tetapi belajar membaca data, berdiskusi, berargumentasi, dan menawarkan solusi.
Contoh lain pada mata kuliah Kewirausahaan :
Mahasiswa diminta membuat rencana bisnis sederhana.Mereka melakukan survei pasar kecil di lingkungan sekitar.Produk diuji coba selama satu minggu.Hasil evaluasi dipresentasikan.Model seperti ini sejalan dengan konsep experiential learning yang dikembangkan oleh David Kolb, yang menekankan bahwa pengalaman langsung menjadi sumber belajar yang sangat kuat.
2. Integrasi Teknologi Digital
Teknologi bukan sekadar pelengkap, tetapi dapat menjadi sarana untuk memperkaya pembelajaran. Learning Management System (LMS), video pembelajaran, kuis interaktif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dapat membuat kelas lebih fleksibel dan menarik.
Platform seperti Wayground, Google Classroom atau Moodle membantu dosen :
- Mengunggah materi sebelum perkuliahan (model flipped classroom),
- Memberikan kuis singkat sebagai pre-test,
- Memberikan umpan balik cepat terhadap tugas mahasiswa,
- Memantau keaktifan dan progres belajar.
Contoh praktis:Sebelum pertemuan, dosen mengunggah video penjelasan singkat 10 menit. Mahasiswa diminta menonton terlebih dahulu. Saat tatap muka, waktu kelas digunakan untuk diskusi kasus, bukan lagi ceramah panjang. Dengan cara ini, interaksi menjadi lebih mendalam. Namun, penting diingat: teknologi hanyalah alat. Tanpa strategi pedagogis yang tepat, kelas tetap bisa terasa membosankan. Kreativitas dosen dalam merancang aktivitaslah yang menentukan kualitas pembelajaran.
3. Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif
Mahasiswa akan lebih mudah memahami materi ketika pembelajaran dikaitkan dengan realitas sekitar mereka. Karena itu, kolaborasi dengan mitra eksternal—industri, pemerintah daerah, atau komunitas, menjadi penting.
Konsep Triple Helix yang diperkenalkan oleh Henry Etzkowitz menekankan sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah dalam mendorong inovasi.
Contoh implementasi :
- Menghadirkan pelaku UMKM sebagai narasumber di kelas.
- Mengajak mahasiswa melakukan observasi lapangan.
- Memberikan tugas analisis terhadap program pemerintah daerah.
- Menyusun proyek kolaboratif dengan mitra sekolah atau desa binaan.
- Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi melihat langsung bagaimana konsep diterapkan dalam kehidupan nyata. Pengalaman seperti ini membentuk kompetensi profesional sekaligus karakter : tanggung jawab, empati, dan kemampuan bekerja dalam tim.
4. Evaluasi dan Refleksi Berkelanjutan
Inovasi tidak berhenti pada pelaksanaan. Dosen perlu melakukan refleksi :
- Apakah metode ini efektif?
- Apakah mahasiswa benar-benar memahami materi?
- Apa yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya?
Evaluasi bisa dilakukan melalui :
- Kuesioner umpan balik sederhana,
- Diskusi reflektif di akhir semester,
- Analisis hasil tugas dan ujian,
- Catatan refleksi pribadi dosen setelah perkuliahan.
- Budaya refleksi ini menunjukkan profesionalisme dan komitmen terhadap mutu pembelajaran.
Inovasi pembelajaran bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk tanggung jawab akademik dan moral dosen. Kelas yang inovatif adalah kelas yang membuat mahasiswa berpikir, bertanya, mencoba, bahkan berani salah dan belajar dari kesalahan.
Dengan desain pembelajaran yang terencana, pemanfaatan teknologi yang tepat, kolaborasi dengan dunia nyata, serta refleksi berkelanjutan, pembelajaran di perguruan tinggi tidak lagi sekadar proses transfer ilmu. Ia menjadi proses transformasi, membentuk mahasiswa yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Karena pada akhirnya, kelas yang hidup lahir dari dosen yang mau terus belajar dan berinovasi.
Coding Tanpa Ribet? Mengenal Canva AI sebagai Gerbang Awal Literasi Coding untuk Pembelajaran

Bagi banyak dosen dan mahasiswa, teknologi sering terasa jauh karena dianggap rumit. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, teknologi justru bisa menjadi alat belajar yang ramah dan menyenangkan. Canva AI adalah salah satu contoh platform yang dapat digunakan untuk mengenalkan logika coding secara sederhana, tanpa harus memahami bahasa pemrograman.
Cara Menggunakan Canva AI dalam Pembelajaran
Menggunakan Canva AI sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menyampaikan instruksi kepada seseorang. Kuncinya ada pada kejelasan perintah. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah masuk ke akun Canva, lalu memilih fitur berbasis AI seperti Magic Design, Magic Write, atau Text to Image. Setelah itu, pengguna cukup menuliskan kebutuhan atau tujuan yang ingin dicapai.
Misalnya, dosen ingin membuat materi presentasi tentang literasi keuangan. Dosen tinggal menuliskan deskripsi materi, sasaran audiens, dan gaya penyajian yang diinginkan. Canva AI kemudian akan menampilkan beberapa alternatif desain atau teks yang bisa dipilih dan disesuaikan.
Proses ini dapat diulang. Jika hasil pertama belum sesuai, instruksi dapat diperbaiki. Inilah bagian penting dari pembelajaran: mencoba, mengevaluasi, lalu memperbaiki.
Dosen Juga Bisa Membuat Game Kuis dan Platform Interaktif
Pembelajaran yang baik tidak selalu harus serius dan kaku. Mahasiswa justru sering lebih cepat memahami materi ketika suasana kelas dibuat interaktif dan menyenangkan. Di sinilah Canva AI dapat dimanfaatkan oleh dosen untuk membuat game kuis sederhana maupun media pembelajaran interaktif, tanpa perlu kemampuan coding yang rumit. Canva menyediakan berbagai template dan fitur interaktif yang bisa diolah menjadi media belajar berbasis permainan (game-based learning).
Membuat Game Kuis Interaktif dengan Canva
Dosen dapat memulai dengan memilih template presentasi atau kuis yang sudah tersedia di Canva. Banyak template yang dirancang khusus untuk kuis, tebak gambar, pilihan ganda, hingga permainan berbasis poin.
Langkah penggunaannya cukup sederhana: dengan membuat prompt sederhana
Membuat Platform Interaktif Sederhana
Selain kuis, Canva juga memungkinkan dosen membuat media pembelajaran interaktif yang menyerupai platform mini. Misalnya:
- Slide dengan tombol “klik di sini” untuk berpindah topik
- Materi bercabang sesuai pilihan mahasiswa
- Modul interaktif yang menggabungkan teks, gambar, video, dan refleksi
- Dengan fitur link antar slide, dosen bisa membuat alur pembelajaran yang tidak linear. Mahasiswa dapat memilih materi sesuai kebutuhan atau minatnya, sehingga pembelajaran terasa lebih personal.
Peran Canva AI dalam Proses Ini
Canva AI membantu dosen dalam mempercepat proses pembuatan konten. Dosen cukup menjelaskan kebutuhan, lalu AI membantu menyusun desain, teks pendukung, atau ilustrasi awal. Dosen tetap memegang kendali penuh terhadap isi dan arah pembelajaran. Dengan kata lain, AI bukan menggantikan peran dosen, melainkan menjadi asisten yang membantu pekerjaan teknis agar dosen bisa fokus pada substansi materi.
Manfaat bagi Dosen dan Mahasiswa
Penggunaan game kuis dan platform interaktif memberikan banyak manfaat, antara lain:
- Meningkatkan partisipasi mahasiswa di kelas
- Membuat evaluasi pembelajaran terasa lebih ringan
- Melatih daya pikir kritis dan reflektif mahasiswa
- Menciptakan suasana belajar yang lebih hidup
Bagi dosen, media ini juga bisa menjadi bagian dari inovasi pembelajaran dan portofolio pengembangan profesional.
Mengapa Instruksi Sangat Menentukan?
Dalam coding, satu perintah yang kurang tepat dapat menghasilkan output yang keliru. Prinsip ini juga berlaku di Canva AI. Semakin jelas dan terstruktur instruksi yang diberikan, semakin mendekati hasil yang diharapkan. Untuk membantu pengguna menyusun instruksi yang baik, dikenal sebuah pendekatan sederhana bernama Prompt SCOPE.
Mengenal Prompt SCOPE
Prompt SCOPE adalah panduan praktis untuk menulis instruksi agar mudah dipahami oleh sistem AI. Pendekatan ini juga sangat cocok diajarkan kepada mahasiswa karena melatih cara berpikir sistematis.
Berikut penjelasan tiap komponennya:
- S – Situation (Situasi), menjelaskan konteks atau latar belakang kebutuhan.Contohnya: materi atau games interaktif digunakan untuk perkuliahan, seminar, atau media edukasi.
- C – Context (Konteks), menjelaskan siapa sasaran pengguna atau pembaca. Misalnya: mahasiswa semester awal, siswa SMA, atau masyarakat umum
- O – Objective (Tujuan), menjelaskan hasil yang ingin dicapai. Apakah untuk menjelaskan konsep, meningkatkan pemahaman, atau menarik minat belajar.
- P – Process (Proses), menjelaskan bentuk atau cara penyajian yang diinginkan. Misalnya: slide presentasi, infografis, bahasa sederhana, atau poin-poin ringkas.
- E – Expectation (Harapan), menjelaskan standar atau hasil akhir yang diharapkan. Misalnya: tampilan rapi, warna akademik, mudah dipahami, dan tidak terlalu ramai.
Contoh Prompt SCOPE di Canva AI
Sebagai contoh, dosen ingin membuat presentasi perkuliahan. Prompt yang digunakan bisa berbunyi:
“Saya ingin membuat presentasi dan games interaktif perkuliahan tentang literasi keuangan untuk mahasiswa semester dua. Tujuannya agar mahasiswa memahami konsep dasar pengelolaan keuangan pribadi. Materi disajikan dalam bentuk slide sederhana, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dengan tampilan formal dan akademik disertai games kuis sebagai media untuk memperoleh penilaian.”
Prompt seperti ini membantu Canva AI memahami kebutuhan secara utuh, bukan sekadar potongan perintah.
Mengaitkan Prompt SCOPE dengan Pembelajaran Coding
Pendekatan SCOPE sejatinya melatih dosen berpikir seperti saat menulis kode : menentukan konteks, tujuan, langkah, dan hasil akhir. Inilah esensi coding yang sebenarnya, bukan hafalan sintaks, melainkan ketepatan berpikir. Dengan membiasakan menulis prompt secara terstruktur, dosen sedang menanamkan dasar computational thinking yang akan berguna di berbagai bidang.
Penutup
Canva AI bukan sekadar alat desain. Ia bisa menjadi media belajar yang mengajarkan cara berpikir runtut, teliti, dan reflektif. Melalui penggunaan yang tepat dan penerapan prompt SCOPE, dosen dan mahasiswa dapat belajar teknologi dengan cara yang manusiawi, tanpa merasa asing atau tertekan oleh istilah teknis.
Rasch Model dan Evaluasi Pembelajaran, Mengukur yang Tidak Terlihat dalam Proses Belajar

Evaluasi pembelajaran sering kali dipahami sebatas angka. nilai ujian, rata-rata kelas, atau persentase ketuntasan belajar. Padahal, di balik angka-angka tersebut tersembunyi persoalan yang lebih mendasar, yakni sejauh mana instrumen penilaian benar-benar mampu mengukur kemampuan peserta didik secara adil dan akurat. Di sinilah Rasch Model hadir sebagai pendekatan evaluasi modern yang tidak hanya fokus pada skor akhir, tetapi juga pada kualitas instrumen dan respons peserta didik.
Apa Itu Rasch Model?
Rasch Model merupakan bagian dari Item Response Theory (IRT) yang dikembangkan oleh Georg Rasch, seorang ahli statistik dari Denmark. Model ini digunakan untuk menganalisis hubungan antara kemampuan individu (ability) dan tingkat kesulitan butir soal (item difficulty) dalam satu skala pengukuran yang sama. Berbeda dengan pendekatan klasik yang bergantung pada nilai rata-rata dan distribusi skor, Rasch Model menempatkan peserta didik dan butir soal dalam satu peta logit, sehingga keduanya dapat dibandingkan secara objektif.
Dalam konteks evaluasi pembelajaran, Rasch Model membantu dosen memahami apakah suatu soal terlalu mudah, terlalu sulit, atau justru tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan demikian, penilaian tidak lagi sekadar menilai hasil belajar, tetapi juga mengevaluasi alat ukur itu sendiri.
Rasch Model dalam Evaluasi Pembelajaran
Penerapan Rasch Model dalam evaluasi pembelajaran memungkinkan dosen melakukan analisis yang lebih mendalam terhadap proses asesmen. Model ini dapat mengidentifikasi butir soal yang bias, tidak konsisten, atau tidak sesuai dengan tingkat kemampuan mahasiswa. Selain itu, Rasch Model juga mampu mendeteksi pola jawaban mahasiswa yang tidak wajar, seperti menebak atau menjawab secara asal.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan Rasch Model dalam menghasilkan pengukuran yang lebih adil. Nilai mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh jumlah jawaban benar, tetapi juga oleh tingkat kesulitan soal yang berhasil dikerjakan. Hal ini menjadikan evaluasi pembelajaran lebih proporsional dan mencerminkan kemampuan sebenarnya.
Mengapa Rasch Model Relevan bagi Dosen?
Di era pembelajaran berbasis outcome dan akreditasi berbasis mutu, dosen dituntut untuk menyusun instrumen evaluasi yang valid dan reliabel. Rasch Model memberikan kerangka ilmiah yang kuat untuk menjawab tuntutan tersebut. Dengan menggunakan Rasch Model, dosen dapat memperbaiki kualitas soal secara berkelanjutan, menyusun bank soal yang teruji, serta memastikan bahwa penilaian selaras dengan capaian pembelajaran mata kuliah.
Lebih dari itu, Rasch Model mendorong dosen untuk melihat evaluasi sebagai bagian dari proses refleksi pedagogik. Ketika hasil analisis menunjukkan adanya soal yang tidak berfungsi, hal tersebut bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan peluang untuk memperbaiki desain pembelajaran.
Tantangan dan Peluang Implementasi
Meski menawarkan banyak keunggulan, penerapan Rasch Model masih menghadapi tantangan, terutama terkait pemahaman statistik dan penggunaan perangkat lunak analisis seperti Winsteps atau R. Namun, tantangan ini justru membuka peluang peningkatan kompetensi dosen dalam literasi data dan evaluasi pembelajaran berbasis riset.
Dengan pelatihan yang tepat dan dukungan institusi, Rasch Model dapat menjadi alat strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Evaluasi tidak lagi menjadi momok bagi mahasiswa, melainkan sarana pembelajaran yang adil, transparan, dan bermakna.
Penutup
Rasch Model mengajak kita untuk melihat evaluasi pembelajaran dari perspektif yang lebih dalam dan manusiawi. Bukan sekadar siapa yang lulus dan siapa yang tidak, tetapi bagaimana proses belajar diukur secara adil dan bertanggung jawab. Bagi dosen, Rasch Model bukan hanya alat analisis, melainkan cermin kualitas pembelajaran yang terus dapat diperbaiki.
Fenomena Streetfood di Gorontalo : Peluang dan Tantangan dalam Perspektif Ekonomi Lokal

Pendahuluan
Beberapa tahun lalu mungkin masih terlintas di ingatan kita bahwa ada tren Food Court di Kota Gorontalo. Namun dengan berjalannya waktu hampir seluruh Food Court yang ada di Kota Gorontalo redup dan lenyap sati per satu. Sebagai gantinya, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena streetfood atau kuliner kaki lima di Gorontalo menunjukkan perkembangan yang signifikan dan menjadi bagian penting dari lanskap ekonomi perkotaan. Kehadiran pedagang streetfood tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dengan harga terjangkau, tetapi juga mencerminkan dinamika ekonomi informal yang hidup dan adaptif. Streetfood tumbuh seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat perkotaan, perubahan gaya hidup, serta keterbatasan daya beli sebagian konsumen terhadap kuliner formal seperti restoran dan kafe modern. Fenomena ini menunjukkan bahwa streetfood bukan sekadar aktivitas ekonomi sederhana, melainkan ruang sosial yang mempertemukan aspek budaya, ekonomi, dan interaksi masyarakat. Oleh karena itu, streetfood di Gorontalo layak dikaji sebagai fenomena ekonomi lokal yang memiliki peluang besar sekaligus tantangan struktural yang kompleks.
Streetfood sebagai Representasi Ekonomi Rakyat
Streetfood di Gorontalo didominasi oleh pelaku usaha mikro dengan skala modal yang relatif kecil dan pengelolaan yang masih sederhana. Bagi banyak masyarakat, khususnya kepala keluarga dan generasi muda, streetfood menjadi alternatif lapangan pekerjaan yang realistis di tengah keterbatasan kesempatan kerja formal. Aktivitas ini menunjukkan daya tahan ekonomi rakyat dalam menghadapi tekanan ekonomi, seperti kenaikan harga bahan pokok dan ketatnya persaingan kerja. Dengan demikian, keberadaan streetfood berkontribusi langsung terhadap sirkulasi ekonomi lokal yang berbasis komunitas.
Peluang Streetfood di Gorontalo
1. Pasar yang Alami dan Terbentuk Secara Organik
Pasar Sentral Gorontalo merupakan ruang ekonomi yang secara alami menghadirkan arus manusia dalam jumlah besar setiap hari. Aktivitas jual beli sejak pagi hingga malam menciptakan pasar potensial yang stabil bagi pelaku street food. Konsumen tidak perlu “dicari” karena keberadaan mereka sudah terbentuk oleh fungsi pasar itu sendiri. Kondisi ini menjadikan emperan jalan sekitar pasar sebagai lokasi strategis dengan tingkat visibilitas dan aksesibilitas yang tinggi. Dalam perspektif ekonomi mikro, kondisi ini menciptakan permintaan efektif yang relatif konstan.
2. Karakter Konsumen yang Beragam dan Loyal
Konsumen street food di kawasan Pasar Sentral berasal dari berbagai segmen, mulai dari pedagang pasar, buruh angkut, sopir bentor, pegawai toko, hingga mahasiswa dan masyarakat sekitar. Keberagaman ini membuat permintaan terhadap street food sangat variatif, baik dari sisi harga, porsi, maupun jenis menu. Konsumen umumnya memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap pedagang tertentu karena faktor rasa, kedekatan emosional, dan kebiasaan. Loyalitas ini menjadi modal sosial yang kuat bagi keberlanjutan usaha street food.
3. Sensitivitas Harga yang Menguntungkan Street Food
Sebagian besar konsumen Pasar Sentral memiliki karakter sensitif terhadap harga dan mengutamakan nilai guna. Street food mampu menjawab kebutuhan ini dengan menawarkan makanan yang terjangkau namun mengenyangkan. Dalam konteks ini, street food memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan usaha kuliner formal yang cenderung lebih mahal. Kombinasi antara harga murah, porsi besar, dan rasa yang familiar menjadikan street food sebagai pilihan rasional konsumen. Hal ini menciptakan pasar yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi.
4. Tren Konsumsi Praktis dan Cepat Saji
Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan mendorong meningkatnya permintaan terhadap makanan yang praktis dan cepat disajikan. Konsumen Pasar Sentral umumnya memiliki keterbatasan waktu karena aktivitas ekonomi yang padat. Street food menawarkan solusi konsumsi instan tanpa prosedur yang rumit. Tren ini semakin memperkuat posisi street food sebagai bagian dari sistem pangan perkotaan. Ke depan, permintaan terhadap makanan cepat, sederhana, dan mudah diakses diperkirakan akan terus meningkat.
5. Konsumsi Berbasis Pengalaman Sosial
Street food di emperan jalan tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga pengalaman sosial. Konsumen menikmati suasana makan yang egaliter, informal, dan penuh interaksi sosial. Aktivitas makan sering kali menjadi ruang berbagi cerita, melepas lelah, dan membangun relasi sosial. Pengalaman ini sulit digantikan oleh restoran modern yang cenderung individualistis. Nilai pengalaman ini menjadi daya tarik tersendiri yang memperkuat posisi street food di mata konsumen.
6. Tren Kuliner Lokal dan Nostalgia Rasa
Meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner lokal menjadi peluang besar bagi street food Pasar Sentral. Konsumen mulai mencari cita rasa tradisional yang otentik dan dekat dengan memori kolektif mereka. Street food yang mempertahankan resep lokal memiliki keunggulan karena dianggap lebih “asli” dan jujur. Tren nostalgia rasa ini mendorong konsumen untuk kembali ke makanan sederhana yang sarat makna budaya. Hal ini memperluas pasar street food tidak hanya sebagai kebutuhan, tetapi juga sebagai identitas.
7. Pola Konsumsi Waktu Tertentu (Time-Based Demand)
Permintaan street food di Pasar Sentral sangat dipengaruhi oleh waktu, seperti pagi hari, jam istirahat siang, dan malam hari. Pola ini menciptakan peluang optimalisasi waktu jualan bagi pedagang. Dengan strategi menu dan jam operasional yang tepat, pelaku usaha dapat memaksimalkan pendapatan harian. Time-based demand ini juga memungkinkan diversifikasi menu sesuai kebutuhan konsumen pada waktu tertentu. Fleksibilitas ini menjadi keunggulan khas street food.
8. Potensi Ekspansi Pasar melalui Digitalisasi Sederhana
Meskipun berbasis emperan jalan, street food memiliki peluang memperluas pasar melalui digitalisasi sederhana. Konsumen mulai terbiasa memesan lewat pesan singkat, grup WhatsApp, atau aplikasi peta digital. Eksposur melalui media sosial juga memperluas segmen konsumen di luar pengunjung pasar. Digitalisasi ini tidak harus kompleks, tetapi cukup untuk meningkatkan keterjangkauan pasar. Dengan demikian, street food dapat memperluas permintaan tanpa kehilangan karakter lokalnya.
9. Ketahanan Permintaan di Tengah Perubahan Ekonomi
Street food di Pasar Sentral memiliki karakter pasar yang relatif tahan terhadap krisis ekonomi. Ketika daya beli menurun, konsumen cenderung beralih ke makanan yang lebih murah namun tetap mengenyangkan. Hal ini menjadikan street food sebagai “safety net consumption” bagi masyarakat. Ketahanan permintaan ini menjadikan street food sebagai usaha dengan risiko pasar yang relatif lebih rendah. Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini menunjukkan elastisitas permintaan yang menguntungkan.
Tantangan Streetfood di Gorontalo
1. Penataan Ruang dan Infrastruktur yang Terbatas
Salah satu tantangan utama streetfood di Gorontalo adalah keterbatasan penataan ruang publik. Banyak pedagang beroperasi di lokasi yang belum didukung fasilitas memadai, seperti sanitasi, tempat sampah, dan pencahayaan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan konsumen, tetapi juga memengaruhi citra streetfood secara keseluruhan. Ketidakteraturan lokasi berdagang sering kali menimbulkan konflik dengan pengguna ruang publik lainnya. Oleh karena itu, masalah infrastruktur menjadi isu mendasar yang perlu mendapat perhatian serius.
2. Regulasi dan Kepastian Usaha
Streetfood sering berada pada posisi rentan akibat lemahnya kepastian hukum dan regulasi yang belum berpihak sepenuhnya. Banyak pelaku usaha menghadapi ketidakpastian terkait izin usaha, relokasi, atau penertiban. Kondisi ini menciptakan rasa tidak aman dalam menjalankan usaha jangka panjang. Ketidaksinkronan kebijakan antara penataan kota dan pemberdayaan UMKM memperparah kerentanan tersebut. Tanpa regulasi yang jelas dan adil, potensi streetfood sulit berkembang secara berkelanjutan.
3. Kualitas Produk, Higiene, dan Keamanan Pangan
Isu kebersihan dan keamanan pangan masih menjadi tantangan serius bagi streetfood. Keterbatasan pengetahuan dan fasilitas membuat standar higiene belum diterapkan secara konsisten. Hal ini berisiko menurunkan kepercayaan konsumen, terutama wisatawan dan kelompok menengah ke atas. Dalam jangka panjang, masalah ini dapat menghambat upaya menjadikan streetfood sebagai bagian dari wisata kuliner unggulan. Oleh karena itu, peningkatan literasi higiene dan standar pangan menjadi kebutuhan mendesak.
4. Persaingan dan Keberlanjutan Usaha
Streetfood di Gorontalo juga menghadapi persaingan ketat, baik antar sesama pedagang maupun dengan usaha kuliner modern. Banyak pelaku usaha yang belum memiliki strategi diferensiasi produk dan manajemen usaha yang baik. Akibatnya, tidak sedikit usaha streetfood yang bertahan hanya dalam jangka pendek. Ketergantungan pada tren dan lokasi tanpa inovasi berkelanjutan menjadi faktor utama kegagalan usaha. Tantangan ini menuntut peningkatan kapasitas kewirausahaan pelaku streetfood.
Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi
Pengembangan streetfood di Gorontalo memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha. Pemerintah perlu menyediakan ruang usaha yang tertata, aman, dan higienis tanpa menghilangkan karakter informal streetfood. Akademisi dapat berperan melalui pendampingan, riset, dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Sementara itu, pelaku streetfood perlu didorong untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan. Pendekatan kolaboratif ini penting agar streetfood tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Penutup
Fenomena streetfood di Gorontalo mencerminkan dinamika ekonomi rakyat yang adaptif dan berbasis budaya lokal. Di balik peluang besar yang dimiliki, terdapat tantangan struktural yang membutuhkan penanganan komprehensif dan berkelanjutan. Streetfood bukan sekadar persoalan kuliner, tetapi bagian dari strategi pembangunan ekonomi lokal yang inklusif. Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan lintas sektor, streetfood dapat menjadi simbol kemandirian ekonomi dan identitas kota Gorontalo di masa depan.