KATEGORI : Informasi

Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial (terutama TikTok) dipenuhi video yang membuat kita tersenyum getir. Seorang siswa SMP dan SMA tidak mampu menjawab perkalian sederhana. Awalnya terasa lucu, lalu janggal, dan akhirnya mengkhawatirkan. Pertanyaannya bukan lagi “kok bisa?”, melainkan “apa yang sedang terjadi pada pendidikan kita?”. Fenomena ini bukan soal satu atau dua anak. Ia adalah potret kecil dari persoalan besar : melemahnya literasi dan numerasi sebagai kemampuan dasar belajar.

Literasi dan Numerasi: Bukan Sekadar Bisa Membaca dan Menghitung

Sering kali kita keliru memahami literasi dan numerasi. Literasi bukan sekadar bisa mengeja huruf, dan numerasi bukan hanya menghafal rumus atau perkalian. Keduanya adalah kemampuan berpikir : memahami informasi, menalar, dan mengambil keputusan berbasis data. Ketika anak tidak memahami soal cerita matematika, masalahnya bukan pada matematika semata, tetapi pada pemahaman bacaan. Ketika anak lupa perkalian dasar, itu bukan sekadar lupa, tetapi indikasi bahwa fondasi belajar tidak pernah benar-benar kokoh.

Mengapa Kemampuan Dasar Anak Semakin Lemah?

1. Pembelajaran yang Terlalu Cepat Meninggalkan Fondasi

Di ruang kelas, kita sering berlomba menuntaskan kurikulum. Materi terus berganti, target administrasi harus tercapai, sementara penguatan konsep dasar tertinggal. Anak naik kelas tanpa benar-benar menguasai prasyarat belajar. Dalam dunia akademik, ini dikenal sebagai learning loss, tetapi di ruang nyata, dampaknya sederhana dan nyata adalah anak tidak siap belajar pada jenjang berikutnya.

2. Budaya Hafalan Masih Dominan

Selama bertahun-tahun, sistem pembelajaran kita terlalu ramah pada hafalan dan terlalu kaku pada jawaban tunggal. Anak terbiasa mencari “jawaban benar”, bukan memahami proses berpikir. Akibatnya, ketika konteks soal sedikit berubah, mereka kehilangan pegangan. Literasi dan numerasi tumbuh dari latihan berpikir, bukan dari hafalan cepat yang mudah lupa.

3. Ketimpangan Kualitas Pembelajaran

Kita juga harus jujur: kualitas pendidikan di Indonesia tidak merata. Ada sekolah yang kaya sumber belajar, ada pula yang berjuang dengan keterbatasan guru, fasilitas, dan dukungan keluarga. Video viral di media sosial sering kali lahir dari konteks yang tidak pernah kita lihat secara utuh. Menertawakan anak dalam video itu mudah. Memahami latar belakangnya jauh lebih sulit dan jauh lebih penting.

4. Distraksi Digital Tanpa Pendampingan

Gawai bukan musuh, tetapi ketiadaan pendampingan adalah masalah. Anak-anak hidup dalam dunia serba cepat, visual, dan instan. Membaca teks panjang dan menyelesaikan soal bertahap terasa membosankan dibandingkan video 30 detik. Tanpa literasi digital yang baik, teknologi justru memperlemah ketekunan belajar.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Kembali ke Esensi: Menguatkan Fondasi

Pembelajaran tidak harus selalu cepat. Justru, perlambatlah pada konsep dasar. Lebih baik anak menguasai perkalian dengan pemahaman daripada menyelesaikan banyak materi tanpa makna. Pada level taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar perlu adanya materi dan pelatihan keterampilan halus (soft skill) dimana penekanannya adalah pada kemampuan seperti problem solving, critical thinking, teamwork dan keahlian halus lainnya yang diperlukan di era society 5.0.

2. Membaca sebagai Kebiasaan, Bukan Tugas

Literasi tidak tumbuh dari perintah “ayo membaca”, tetapi dari contoh dan kebiasaan. Anak yang melihat guru dan orang tuanya membaca akan lebih mudah menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.

3. Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Matematika tidak harus selalu ada di papan tulis. Menghitung kembalian, membaca grafik sederhana, atau membandingkan harga adalah bentuk numerasi yang nyata dan bermakna.

4. Berhenti Menertawakan, Mulai Mendampingi

Video viral seharusnya menjadi cermin refleksi, bukan bahan ejekan. Setiap anak yang kesulitan belajar adalah panggilan bagi sistem pendidikan untuk berbenah, bukan untuk mempermalukan.

Penutup: Pendidikan Bukan Tentang Cepat, Tapi Tepat

Rendahnya literasi dan numerasi anak Indonesia bukan kegagalan satu pihak. Ia adalah hasil dari sistem yang terlalu lama menomorsatukan capaian formal, dan terlalu jarang bertanya: apakah anak benar-benar memahami? Sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat, tugas kita bukan mengeluh atau menyalahkan, tetapi hadir, memahami, dan membangun kembali fondasi belajar dengan sabar. Karena pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling kuat melangkah.

 

Oleh: Neva Lionitha Ibrahim, S.AB, M.Pd. (Dosen Pendidikan Ekonomi)

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat beraktivitas dan mengambil keputusan ekonomi. Saat ini, transaksi keuangan, investasi, hingga kegiatan jual beli semakin mudah diakses melalui gawai. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami risiko dan nilai ekonominya. Di sinilah pentingnya literasi ekonomi, yaitu kemampuan memahami konsep ekonomi dasar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Isu rendahnya literasi ekonomi menjadi perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2022, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68 persen. Artinya, masih banyak individu yang belum memahami pengelolaan keuangan secara bijak. Bagi dunia pendidikan, hal ini menjadi tantangan untuk memperkuat pendidikan ekonomi di berbagai jenjang, terutama dalam membentuk generasi yang melek finansial, kritis, dan adaptif terhadap perubahan.

Pendidikan ekonomi tidak hanya sebatas mengajarkan teori permintaan dan penawaran, tetapi juga harus membekali siswa dengan keterampilan berpikir ekonomi (economic reasoning). Guru perlu mengaitkan materi pembelajaran dengan fenomena ekonomi digital seperti e-commerce, dompet digital, dan investasi online. Dengan pendekatan kontekstual dan media pembelajaran interaktif, siswa akan lebih mudah memahami bagaimana teori ekonomi diterapkan dalam kehidupan nyata.

Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penguatan literasi ekonomi di sekolah mampu meningkatkan perilaku keuangan siswa. Penelitian oleh Lusardi dan Mitchell (2014) menemukan bahwa siswa dengan literasi ekonomi tinggi cenderung memiliki kemampuan pengambilan keputusan finansial yang lebih rasional dan terhindar dari perilaku konsumtif. Di Indonesia, studi oleh Rahmawati dan Yusuf (2022) juga menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran berbasis proyek dalam mata pelajaran ekonomi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep keuangan dan wirausaha. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran yang aktif dan berbasis pengalaman memiliki pengaruh signifikan terhadap literasi ekonomi.

Negara-negara maju seperti Finlandia, Korea Selatan, dan Australia telah lebih dahulu menerapkan strategi pendidikan ekonomi yang sistematis. Di Finlandia, metode phenomenon-based learning diterapkan, di mana siswa mempelajari konsep ekonomi melalui studi kasus nyata seperti pengelolaan keuangan keluarga atau kewirausahaan lokal. Korea Selatan menggunakan model financial capability framework dengan dukungan digital learning platform untuk membangun kebiasaan keuangan yang sehat sejak sekolah dasar. Sementara di Australia, literasi ekonomi diajarkan melalui curriculum integration approach, yakni menggabungkan aspek ekonomi dalam berbagai mata pelajaran seperti matematika, teknologi, dan sosial. Metode-metode tersebut berhasil meningkatkan kesadaran ekonomi masyarakat karena memadukan teori, praktik, dan teknologi secara harmonis.

Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pendekatan tersebut dengan menyesuaikannya pada konteks lokal. Pendidik ekonomi perlu memanfaatkan media pembelajaran digital yang relevan dengan kehidupan siswa, seperti simulasi pasar online, permainan edukatif ekonomi, atau proyek kewirausahaan sekolah. Selain itu, pelatihan literasi ekonomi bagi guru juga menjadi hal penting agar mereka mampu mengarahkan siswa berpikir kritis, rasional, dan produktif dalam menghadapi dinamika ekonomi digital.

Pada akhirnya, meningkatkan literasi ekonomi bukan hanya tanggung jawab guru ekonomi, tetapi seluruh pihak yang terlibat dalam proses pendidikan. Literasi ekonomi yang baik akan melahirkan generasi yang tidak mudah terjebak pada gaya hidup konsumtif, mampu mengelola sumber daya secara bijak, serta siap menghadapi tantangan ekonomi global. Dengan demikian, pendidikan ekonomi yang adaptif terhadap era digital menjadi kunci menuju masyarakat yang cerdas dan sejahtera secara finansial.

Oleh : Neva Lionitha Ibrahim

Dosen Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Negeri Gorontalo

Beberapa tahun terakhir, usaha kuliner di Gorontalo tumbuh dengan sangat pesat. Di berbagai sudut kota, bermunculan food court dengan konsep modern, kafe tematik, dan aneka UMKM kuliner yang menawarkan menu kreatif. Sayangnya, semangat ini tidak berlangsung lama. Kini, gerai tersebut mulai meredup. Banyak tempat makan tutup permanen, food court sepi pengunjung, bahkan fasilitas kuliner yang dibangun pemerintah pun tidak lagi beroperasi. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan kritis yakni apa yang sebenarnya sedang terjadi di sektor kuliner Gorontalo?

Gejala Penurunan Potret Sepi dari Lapangan. Berdasarkan observasi lapangan dan diskusi informal dengan pelaku usaha, ditemukan beberapa gejala mencolok yang menunjukkan kemunduran di sektor ini. Beberapa food court besar di Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango tampak kosong atau bahkan tutup total. Banyak UMKM kuliner melaporkan penurunan omzet drastis—bahkan lebih dari 50% sejak 2024. Masa hidup usaha baru juga makin pendek; rata-rata hanya bertahan 6 hingga 12 bulan. 

Apa yang Salah? Fenomena tutupnya food court dan bangkrutnya UMKM kuliner tidak dapat dijelaskan oleh satu penyebab tunggal. Sebaliknya, kondisi ini merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan dan mempercepat kemunduran sektor tersebut. Salah satu penyebab utama adalah pembangunan food court yang tidak didasarkan pada riset pasar yang memadai. Hal ini mengakibatkan overkapasitas, banyaknya tenant dengan produk serupa, serta pemilihan lokasi yang kurang strategis. Akibatnya, terjadi persaingan tidak sehat antarpenyewa yang justru merugikan keseluruhan ekosistem usaha.

Selain itu, perubahan pola konsumsi masyarakat pasca pandemi turut memengaruhi daya tarik food court. Konsumen kini cenderung lebih hemat dan memilih opsi pesan antar atau makanan siap saji ketimbang makan di tempat. Sayangnya, banyak pelaku usaha kuliner gagal membaca perubahan tren ini dan tetap bergantung pada kunjungan fisik pelanggan. Kurangnya adaptasi terhadap dinamika pasar ini membuat daya saing mereka terus menurun.

Stagnasi inovasi juga menjadi faktor krusial. Menu yang monoton, pelayanan standar, serta kurangnya kreativitas dalam kemasan dan penyajian menyebabkan konsumen cepat merasa bosan. UMKM kuliner yang tidak mampu menawarkan pengalaman baru atau nilai tambah pun semakin tersisih di tengah persaingan yang ketat. Strategi pemasaran yang lemah, terutama dalam aspek 4P (Product, Price, Place, Promotion), memperburuk keadaan. Banyak pelaku usaha tidak memperhatikan penyesuaian produk dengan preferensi konsumen, menentukan harga yang sesuai daya beli, memilih lokasi yang strategis, atau menjalankan promosi yang efektif.

Lebih lanjut, harga makanan di beberapa food court yang mengusung konsep UMKM justru dinilai terlalu mahal oleh pengunjung. Hal ini bertolak belakang dengan harapan bahwa segmen pasar UMKM mestinya menyasar kalangan menengah ke bawah. Ketidaksesuaian antara harga dan target pasar ini mempersempit basis pelanggan. Tak hanya itu, permasalahan manajerial turut mencuat. Dinas Pemuda dan Olahraga (Disporapar) Kabupaten Gorontalo bahkan pernah menyegel beberapa lapak food court akibat tunggakan biaya sewa atau operasional yang tidak terbayarkan oleh para penyewa.

Persaingan dengan brand nasional juga memberi tekanan besar. UMKM lokal harus menghadapi pemain besar yang memiliki kekuatan modal, branding, dan jaringan distribusi yang mapan. Sayangnya, banyak pelaku UMKM belum siap bersaing di level ini, terutama karena kurangnya pendampingan usaha, minim literasi digital, dan lemahnya strategi bisnis.

Menuju Kajian Ilmiah, Peluang Riset untuk Mahasiswa dan Akademisi. Fenomena ini membuka ruang luas untuk dijadikan objek riset mikroekonomi terapan. Beberapa tema yang layak dieksplorasi antara lain: analisis kegagalan usaha kuliner di Gorontalo menggunakan pendekatan SWOT dan Business Model Canvas, studi tentang kepuasan dan perilaku konsumen terhadap food court lokal atau menguji pengaruh inovasi produk terhadap keberlangsungan usaha kuliner. Riset-riset ini dapat menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif—misalnya survei kepada konsumen dan wawancara dengan pelaku usaha atau pengelola kawasan kuliner.

Saran Strategis dan Harus Berbuat Apa? Untuk pemerintah daerah, penting untuk meninjau ulang rencana pendirian food court. Pembangunan perlu didasarkan pada studi kelayakan dan analisis pasar yang matang. Selain itu, program pendampingan UMKM harus lebih sistematis, dengan pelatihan seputar branding, digitalisasi keuangan, dan manajemen usaha. Pemerintah juga bisa mendorong kolaborasi antara UMKM lokal dan platform digital agar lebih kompetitif.

Bagi pelaku UMKM, saatnya berhenti meniru usaha sebelah dan mulai membangun differentiation strategy. Produk harus punya keunikan dari sisi rasa, kemasan, atau pengalaman pelanggan. Pemanfaatan media sosial secara profesional, serta penggunaan e-wallet atau sistem kasir digital, dapat menjadi keunggulan kompetitif.

Dari sisi akademisi dan kampus, penting untuk turun tangan melalui program inkubasi bisnis, pengabdian masyarakat, dan tugas akhir berbasis studi kasus lokal. Kampus bisa menjadi penghubung antara pelaku usaha, pemerintah, dan mahasiswa untuk bersama-sama membangun ekosistem kuliner yang sehat dan berdaya saing.

Penutup. Tingginya angka penutupan food court dan matinya UMKM kuliner di Gorontalo bukan semata akibat produk yang kurang laku. Masalahnya jauh lebih dalam yaitu minim inovasi, tidak membaca pasar, dan kurangnya adaptasi dengan perubahan zaman. Ke depan, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan lingkungan bisnis yang lebih adaptif dan inovatif.

Bagi pelaku UMKM, bisa masak enak saja tidak cukup. Di era persaingan modern, bertahan hidup berarti harus mampu membaca tren, beradaptasi cepat, dan berpikir strategis. Dunia usaha hari ini bukan tentang siapa yang besar, tapi siapa yang paling siap berubah.

 

   

UMKM bukan sekadar sektor penopang, melainkan denyut nadi perekonomian Indonesia. Data terbaru dari Kementerian Koperasi dan UKM (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 65 juta unit UMKM aktif beroperasi di berbagai sektor, menyumbang sekitar 61% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan menyerap 97% tenaga kerja nasional. Namun, di balik angka yang impresif ini, terdapat tantangan besar yang masih harus dihadapi yaitu lemahnya kemampuan manajerial dan minimnya penggunaan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan usaha.

Sebagai dosen yang aktif di bidang ekonomi dan manajemen, saya melihat bahwa penerapan ekonomi manajerial merupakan kebutuhan mendesak bagi UMKM, bukan lagi sekadar pilihan. Ekonomi manajerial mengajarkan bagaimana konsep-konsep ekonomi, seperti elastisitas permintaan, efisiensi biaya, analisis risiko, dan optimasi keuntungan, dapat diterapkan dalam praktik manajemen usaha sehari-hari. Ini bukan teori belaka namun perlu dijadikan panduan praktis yang dapat menyelamatkan banyak UMKM dari keputusan keliru.

Pentingnya Ekonomi Manajerial untuk UMKM

Pertama, ekonomi manajerial membantu pelaku usaha memahami bagaimana pasar bekerja. Dalam banyak kasus, pemilik UMKM menetapkan harga produk hanya berdasarkan biaya produksi dan ‘tebakan’ keuntungan, tanpa mempertimbangkan elastisitas permintaan atau harga pesaing. Padahal, dengan sedikit pelatihan dan pendekatan analisis, mereka bisa menetapkan harga yang lebih strategis dan kompetitif.

Kedua, konsep biaya marginal dan analisis break-even dapat digunakan untuk menentukan titik balik keuntungan usaha. Banyak pelaku UMKM belum memahami bahwa penambahan produksi tidak selalu membawa keuntungan jika tidak dihitung dengan cermat. Dengan penerapan analisis manajerial, pelaku usaha dapat mengetahui kapasitas produksi optimal dan meminimalisasi pemborosan.

Ketiga, dalam konteks yang lebih luas, ekonomi manajerial memberikan alat untuk perencanaan jangka panjang. Melalui teknik forecasting dan evaluasi investasi (NPV dan IRR), UMKM dapat merancang ekspansi usaha, diversifikasi produk, atau masuk ke pasar digital dengan pertimbangan yang matang dan berbasis data.

Tantangan Literasi Manajerial

Namun, tantangan terbesar dalam penerapan ekonomi manajerial di sektor UMKM adalah rendahnya literasi ekonomi dan manajemen. Survei LPEM FEB UI (2021) menyebutkan bahwa hanya 25% UMKM yang memiliki pencatatan keuangan yang layak, apalagi menggunakan proyeksi atau perencanaan bisnis formal. Banyak pelaku usaha yang masih mengandalkan pengalaman dan intuisi tanpa didukung data yang memadai.

Di sinilah peran kita sebagai akademisi dan pendidik sangat penting. Melalui pengabdian masyarakat, pelatihan, kuliah kewirausahaan, hingga kerjasama riset terapan, kita dapat menjembatani kesenjangan ini. Mahasiswa pun dapat dilibatkan dalam kegiatan magang, pendampingan digitalisasi UMKM, atau proyek konsultasi sederhana sebagai bagian dari implementasi Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Refleksi dan Harapan

Penerapan ekonomi manajerial bukan hanya membantu UMKM bertahan, tetapi juga tumbuh dan berdaya saing dalam pasar yang semakin kompleks. Dunia usaha saat ini bergerak cepat, ditandai oleh transformasi digital, perubahan preferensi konsumen, dan tuntutan efisiensi tinggi. Tanpa pendekatan ilmiah dan rasional dalam pengelolaan usaha, UMKM akan sulit berkembang secara berkelanjutan.

Sebagai dosen, saya percaya bahwa tugas kita tidak hanya mencetak sarjana, tetapi juga menciptakan dampak nyata di masyarakat. Menyebarluaskan pemahaman ekonomi manajerial kepada pelaku UMKM, baik secara langsung maupun melalui kurikulum yang aplikatif, adalah salah satu bentuk kontribusi nyata dalam pembangunan ekonomi nasional.

Mari kita dorong lebih banyak kolaborasi antara dunia kampus dan UMKM. Bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bersama dalam menjawab tantangan zaman.

Provinsi Gorontalo tidak dapat lari dari isu dunia pendidikan saat ini. Dimana berdasarkan hasil kajian dari beberapa riset tentang pendidikan di Provinsi menunjukkan adanya beberapa permasalahan baik dari aspek teknis, peserta didik maupun pendidik. Permasalahan pendidikan di Provinsi Gorontalo menjadi sorotan penting dalam beberapa tahun terakhir. Anak putus sekolah masih menjadi isu utama di beberapa daerah, seperti di Kelurahan Tomulabutao Selatan dan Desa Talumopatu (Wahyuni, 2023; Syarif, 2023). Faktor ekonomi keluarga, rendahnya aksesibilitas, dan kurangnya motivasi belajar menjadi penyebab utama permasalahan ini. Selain itu, tantangan dalam penggunaan buku cetak di SMP 1 Limboto menambah deretan permasalahan yang memerlukan perhatian serius (Aulia, 2023). Permasalahan-permasalahan tersebut perlu segera ditangani untuk mencapai pemerataan pendidikan yang berkualitas.

Di samping itu, penggunaan media pembelajaran interaktif di daerah tertinggal Gorontalo Utara masih menghadapi kendala. Guru dan siswa mengalami keterbatasan akses teknologi dan belum maksimalnya pelatihan penggunaan media (Rahman, 2023). Kondisi ini berdampak pada efektivitas pembelajaran yang masih rendah di beberapa sekolah dasar wilayah 3T. Penggunaan bahasa Gorontalo juga semakin menurun di kalangan anak muda di Desa Rumbia, yang memicu kekhawatiran akan punahnya bahasa daerah (Laode, 2023). Hal ini menjadi tantangan penting dalam menjaga identitas budaya melalui pendidikan.

Anak berkebutuhan khusus di SLB Dungingi Kota Gorontalo juga masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan metode pembelajaran. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ilmiah sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan belajar mereka (Usman, 2023). Sementara itu, pengelolaan pendidikan anak usia dini di Kota Gorontalo masih menghadapi tantangan dalam pengembangan kurikulum dan keterlibatan orang tua (Liyana, 2023). Peningkatan kualitas pendidikan di tingkat PAUD harus menjadi prioritas agar anak-anak mendapatkan fondasi yang kuat sejak dini. Hal ini akan berdampak positif bagi pembangunan SDM jangka panjang di Gorontalo. Permasalahan lain muncul dari kasus tiga dosa besar di dunia pendidikan: perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. SDN 25 Kota Gorontalo menjadi salah satu sekolah yang berupaya melakukan pencegahan melalui kegiatan sosialisasi intensif (Maulana, 2023).

Hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Penguatan peran orang tua dan guru dalam pembentukan karakter anak usia dini di TK Negeri Pembina Kota Timur juga menjadi langkah penting (Yusran, 2023). Kerja sama semua pihak sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung perkembangan anak. Secara keseluruhan, upaya perbaikan permasalahan pendidikan di Provinsi Gorontalo masih memerlukan sinergi dari berbagai pihak. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat harus bahu-membahu menyelesaikan masalah yang ada. Program pelatihan guru, perbaikan infrastruktur pendidikan, dan pemberdayaan keluarga menjadi kunci utama. Selain itu, pelestarian bahasa daerah dan pembentukan karakter spiritual anak perlu menjadi perhatian dalam kurikulum pendidikan. Dengan langkah konkret dan terukur, cita-cita mewujudkan pendidikan berkualitas di Provinsi Gorontalo akan semakin nyata.

Referensi :

  • Aulia, R. (2023). Kesulitan Peserta Didik dalam Memanfaatkan Buku Cetak Sebagai Sumber Belajar Tajwid di SMP 1 Limboto Kabupaten Gorontalo. Jurnal Konstruktivisme, 5(3). Retrieved from https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/konstruktivisme/article/view/3662
  • Laode, S. (2023). Penggunaan Bahasa Gorontalo Pada Anak Muda di Desa Rumbia. Jurnal Pendidikan Terbaru, 7(2). Retrieved from https://pendidikan.e-jurnal.web.id/index.php/terbaru/article/view/110
  • Liyana, F. (2023). Pola Pengelolaan Pendidikan Anak Usia Dini di Kota Gorontalo. Jurnal Obsesi, 4(1). Retrieved from https://obsesi.or.id/index.php/obsesi/article/view/481
  • Maulana, T. (2023). Upaya Pencegahan Tiga Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan melalui Kegiatan Sosialisasi di SDN 25 Kota Gorontalo. Jurnal Teknologi Pendidikan Indonesia, 2(2). Retrieved from https://jurnal.ypkpasid.org/index.php/jtpi/article/view/88
  • Rahman, S. (2023). Analisis Penggunaan Media Pembelajaran Interaktif di Sekolah Dasar Wilayah 3T Kabupaten Gorontalo Utara. Jurnal IDEAS, 3(2). Retrieved from https://jurnal.ideaspublishing.co.id/index.php/ideas/article/view/1896
  • Syarif, D. (2023). Kajian Anak Putus Sekolah Berdasarkan Aksesibilitas dan Kondisi Sosial Ekonomi di Desa Talumopatu, Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo. Swarna Journal, 6(1). Retrieved from https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/swarna/article/view/6673
  • Usman, N. (2023). Kebutuhan Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Dungingi Kota Gorontalo: Pendekatan Ilmiah dan Implikasinya. Jurnal Nasional, 2(1). Retrieved from https://ejurnal.pps.ung.ac.id/index.php/JN/article/view/2555
  • Wahyuni, S. (2023). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anak Putus Sekolah di Kelurahan Tomulabutao Selatan Kota Gorontalo. Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 3(1). Retrieved from https://www.jiip.stkipyapisdompu.ac.id/jiip/index.php/JIIP/article/view/1812
  • Yusran, F. (2023). Peran Orang Tua dan Guru dalam Pembentukan Karakter Spiritual Anak Usia Dini di TK Negeri Pembina Kota Timur Kota Gorontalo. Jurnal Pendas, 2(3). Retrieved from https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/18581