Pekerjaan dan Skill Paling Dibutuhkan di Indonesia Tahun 2026

Tulisan ini disusun sebagai ringkasan riset dan refleksi akademik untuk membantu dosen dan mahasiswa memahami arah perubahan dunia kerja Indonesia menuju tahun 2026. Berbagai laporan nasional dan internasional menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja tidak lagi hanya ditentukan oleh ijazah, tetapi oleh relevansi keterampilan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Oleh karena itu, pemetaan pekerjaan dan skill yang paling dibutuhkan menjadi penting sebagai dasar perencanaan pembelajaran dan pengembangan diri.
1. Pekerjaan Paling Dibutuhkan di Indonesia 2026
Pasar tenaga kerja Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan semakin didominasi oleh pekerjaan berbasis digital, teknologi, dan manajemen strategis. Transformasi digital mendorong organisasi untuk mencari tenaga kerja yang mampu mengelola teknologi sekaligus memahami konteks bisnis dan sosial. Berdasarkan berbagai laporan media dan rekap industri, beberapa posisi berikut menjadi yang paling banyak dibutuhkan. Beberapa pekerjaan yang paling dibutuhkan :
- VP Artificial Intelligence : Posisi ini berperan strategis dalam perencanaan dan pengembangan teknologi AI di perusahaan. Selain kemampuan teknis, jabatan ini menuntut kepemimpinan dan pengambilan keputusan berbasis data.
- Software Engineer / Developer : Profesi ini tetap menjadi tulang punggung industri digital karena hampir semua sektor membutuhkan sistem dan aplikasi berbasis teknologi.
- Cybersecurity Specialist : Meningkatnya ancaman kejahatan siber menjadikan keamanan data sebagai prioritas utama perusahaan dan institusi publik.
- Cloud Computing Architect / Cloud Engineer : Posisi ini mendukung efisiensi dan skalabilitas sistem digital melalui pengelolaan infrastruktur berbasis cloud.
- Human Resources Tech & Talent Acquisition : HR modern dituntut tidak hanya memahami manusia, tetapi juga sistem digital dan analitik SDM.
- Finance & Fintech Specialist : Perkembangan teknologi finansial mendorong kebutuhan tenaga ahli yang memahami keuangan sekaligus teknologi.
- UX/UI Designer : Fokus pada pengalaman pengguna menjadi kunci keberhasilan produk digital di tengah persaingan pasar.
- Supply Chain & Digital Logistics : Digitalisasi rantai pasok meningkatkan efisiensi distribusi dan pengelolaan logistik.
Catatan: Daftar ini merupakan rangkuman dari laporan Talent Insider dan berbagai media nasional yang memetakan kebutuhan tenaga kerja Indonesia tahun 2026.
2. Tren Keterampilan yang Dibutuhkan di Tahun 2026
Selain jenis pekerjaan, aspek yang tidak kalah penting adalah keterampilan yang menyertainya. Dunia kerja masa depan menuntut kombinasi antara keterampilan teknis dan non-teknis agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat.
A. Hard Skills (Keterampilan Teknis)Keterampilan teknis menjadi fondasi utama dalam banyak profesi, khususnya yang berbasis teknologi.
- AI & Machine Learning – Kemampuan mengembangkan dan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendukung pengambilan keputusan.
- Cloud Computing & Cloud Security – Penguasaan sistem cloud serta aspek keamanannya untuk menjamin keberlanjutan layanan digital.
- Cybersecurity & Threat Management – Kemampuan melindungi sistem dan data dari berbagai ancaman digital.
- Data Analytics & Big Data – Keterampilan mengolah dan menganalisis data besar untuk menghasilkan insight bisnis.
- Software Development & Programming – Kemampuan pemrograman tetap menjadi skill inti di berbagai sektor.
B. Soft Skills (Keterampilan Non-Teknis)Di tengah kemajuan teknologi, keterampilan manusia justru semakin bernilai karena tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.
- Judgment & Decision-Making – Kemampuan menilai hasil analisis teknologi dan mengambil keputusan strategis.
- Critical Thinking & Problem-Solving – Kecakapan menganalisis masalah kompleks dan merumuskan solusi.
- Communication & Empathy – Kemampuan berkomunikasi secara efektif dan membangun hubungan kerja yang sehat.
- Adaptability & Lifelong Learning – Kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
- Kajian Bank Dunia juga menegaskan bahwa keterampilan dasar seperti menulis, berbicara, berpikir kritis, dan koordinasi tetap menjadi kebutuhan utama di berbagai jenis pekerjaan.
3. Konteks Pasar Kerja Indonesia 2026
Transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi nasional mendorong meningkatnya permintaan tenaga kerja dengan keterampilan teknologi tingkat lanjut. Profesi di bidang AI, cloud, dan keamanan siber bahkan menawarkan gaji di atas rata-rata karena keterbatasan talenta yang tersedia. Selain itu, sektor manajemen bisnis, pemasaran digital, dan SDM strategis juga berkembang karena perusahaan membutuhkan individu yang mampu menjembatani teknologi dengan pengambilan keputusan bisnis. Tren ini menunjukkan bahwa kompetensi kerja masa depan bersifat multidimensional.
4. Rekomendasi untuk Pengembangan SDM
Agar pengembangan sumber daya manusia lebih relevan dengan kebutuhan masa depan, beberapa hal berikut perlu menjadi perhatian.
- Fokus pada Skill Gap
Masih terdapat kesenjangan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri, khususnya pada keterampilan digital tingkat lanjut. Oleh karena itu, pendidikan vokasi dan perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dan metode pembelajaran.
- Lifelong Learning & Upskilling
Kemampuan untuk terus belajar menjadi kunci daya saing individu di pasar kerja 2026 dan seterusnya. Sikap terbuka terhadap pembelajaran baru harus ditanamkan sejak bangku kuliah.
- Peran Perguruan Tinggi & Kursus
Perguruan tinggi dan lembaga pelatihan memiliki peran strategis dalam menghubungkan kurikulum dengan kebutuhan industri, termasuk melalui integrasi materi AI, cloud, dan cybersecurity.
Daftar Pustaka
- CNBC Indonesia. (2026, Januari 6). 12 pekerjaan paling dibutuhkan di Indonesia 2026, segini gajinya. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260106142526-37-700038/12-pekerjaan-paling-dibutuhkan-di-indonesia-2026-segini-gajinya
- LinkedIn Talent Solutions. (2025). Jobs on the rise & skills outlook. https://economicgraph.linkedin.com/
- World Bank. (2021). Indonesia jobs outlook: Towards a resilient workforce. World Bank Group.
- World Economic Forum. (2023). The future of jobs report 2023. World Economic Forum.
Apakah Mahasiswa Harus Mendapat Nilai A di Semua Mata Kuliah ?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak.” Dalam sistem pendidikan tinggi, banyak mahasiswa merasa tidak mendapatkan nilai A adalah bencana. Nilai A memang dipandang sebagai capaian ideal dan sering diasosiasikan dengan kecerdasan, kedisiplinan, serta keberhasilan akademik. Namun, berbagai kajian pendidikan menunjukkan bahwa prestasi akademik bukan satu-satunya indikator keberhasilan mahasiswa, baik selama studi maupun setelah lulus (Keng, 2023; Ngo, 2024).
Dengan demikian, nilai A perlu dipahami sebagai salah satu tujuan, bukan tujuan tunggal dalam proses pendidikan.
1. Nilai A adalah Target yang Wajar, Bukan Kewajiban Mutlak
Berusaha mendapatkan nilai A mencerminkan sikap serius, tanggung jawab, dan komitmen mahasiswa terhadap proses belajar. Dalam konteks tertentu, seperti seleksi beasiswa, studi lanjut, dan jalur akademik, nilai akademik tinggi memang memiliki nilai strategis (Casali & Meneghetti, 2023). Nilai juga menjadi indikator penguasaan materi dan kemampuan berpikir analitis.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa tekanan untuk selalu meraih nilai tinggi dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan mahasiswa jika tidak diimbangi dengan dukungan psikologis dan fleksibilitas pembelajaran. Casali dan Meneghetti (2023) menemukan bahwa orientasi berlebihan pada nilai dapat meningkatkan stres akademik tanpa selalu meningkatkan kompetensi nyata mahasiswa. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah usaha maksimal dan proses belajar yang bermakna, bukan sekadar huruf A di akhir semester.
2. Nilai Tidak Selalu Mewakili Kompetensi Utuh
Nilai akademik pada umumnya mengukur aspek kognitif, seperti kemampuan mengingat, memahami, dan menganalisis materi. Padahal, keberhasilan mahasiswa di dunia nyata juga sangat ditentukan oleh kompetensi non-kognitif, seperti komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, dan pengendalian emosi (Mwita et al., 2024).
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan IPK sedang, tetapi memiliki soft skills yang baik, justru lebih adaptif dan kompetitif di dunia kerja dibandingkan mereka yang hanya unggul secara akademik (Ngo, 2024). Hal ini menegaskan bahwa nilai A tidak selalu identik dengan kesiapan profesional atau kesuksesan jangka panjang.
3. Belajar Bukan Perlombaan, tetapi Proses Bertumbuh
Teori perkembangan belajar menekankan bahwa setiap individu memiliki latar belakang, kapasitas, dan ritme belajar yang berbeda. Pendekatan growth mindset yang diperkenalkan oleh Dweck (2006) menyatakan bahwa keberhasilan belajar lebih ditentukan oleh kemauan untuk bertumbuh dan belajar dari kesalahan, bukan oleh hasil instan semata.
Dalam konteks mahasiswa yang memiliki tanggung jawab tambahan, seperti bekerja sambil kuliah atau mengurus keluarga, standar tunggal “harus A” justru berpotensi melahirkan kecemasan akademik dan kelelahan mental. Yang lebih penting adalah progres personal, yakni apakah mahasiswa berkembang dari waktu ke waktu, bukan sekadar bagaimana ia dibandingkan dengan orang lain.
4. Perspektif Kebiasaan : Konsisten Lebih Penting dari Sempurna
James Clear dalam Atomic Habits menegaskan bahwa keberhasilan jangka panjang dibentuk oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bukan oleh pencapaian besar yang sesekali terjadi (Clear, 2018). Prinsip ini sangat relevan dalam konteks pendidikan tinggi.
Mahasiswa yang membangun kebiasaan belajar teratur, aktif berdiskusi, membaca secara konsisten, dan merefleksikan proses belajarnya cenderung mengalami perkembangan akademik dan personal yang lebih stabil. Penelitian Keng (2023) menunjukkan bahwa kebiasaan belajar dan keterampilan non-kognitif berkontribusi signifikan terhadap capaian akademik dan kesiapan karier. Dalam hal ini, nilai A bisa menjadi hasil sampingan, tetapi kebiasaan baik adalah bekal jangka panjang.
5. Jadi, Apa yang Sebaiknya Dikejar Mahasiswa?
Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian, mahasiswa sebaiknya :
- Berfokus pada pemahaman materi, bukan sekadar lulus ujian
- Menjaga integritas akademik sebagai bagian dari pembentukan karakter
- Mengembangkan soft skills seiring dengan capaian akademik
- Menjadikan nilai sebagai alat evaluasi pembelajaran, bukan sumber harga diri
Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pendidikan tinggi, yaitu membentuk lulusan yang kompeten secara intelektual sekaligus matang secara sosial dan emosional.
Penutup
Mahasiswa boleh dan sah menargetkan nilai A. Namun, mahasiswa tidak dapat disebut gagal hanya karena memperoleh nilai B atau C, selama ia belajar dengan sungguh-sungguh dan terus bertumbuh. Penelitian dan teori pendidikan menegaskan bahwa kesuksesan mahasiswa merupakan hasil interaksi antara kemampuan akademik, soft skills, kebiasaan belajar, dan konteks kehidupan yang dijalani. Pendidikan tinggi seharusnya melahirkan manusia pembelajar, bukan sekadar pengumpul huruf di transkrip nilai.
Daftar Pustaka :
- Casali, N., & Meneghetti, C. (2023). Soft skills and study-related factors: Direct and indirect associations with academic achievement and general distress in university students. Education Sciences, 13(6), 612. https://doi.org/10.3390/educsci13060612
- Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. New York: Avery.
- Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York: Random House.
- Keng, S. H. (2023). The effect of soft skills on academic outcomes. The B.E. Journal of Economic Analysis & Policy, 24(1). https://doi.org/10.1515/bejeap-2022-0342
- Mwita, K., Mwilongo, N., & Mwamboma, I. (2024). The role of soft skills, technical skills and academic performance on graduate employability. International Journal of Research in Business and Social Science, 13(5), 767–776. https://doi.org/10.20525/ijrbs.v13i5.3457
- Ngo, T. T. A. (2024). The importance of soft skills for academic performance and career development from the perspective of university students. International Journal of Engineering Pedagogy, 14(3), 53–68. https://doi.org/10.3991/ijep.v14i3.45425
Nilai Akademik vs Soft Skills : Mana yang Lebih Menentukan Kesuksesan?

Dalam dunia pendidikan tinggi, nilai akademik sering dijadikan tolok ukur utama keberhasilan mahasiswa. IPK tinggi dianggap sebagai simbol kecerdasan, kedisiplinan, dan kesiapan menghadapi dunia kerja. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan individu tidak selalu berjalan lurus dengan angka di transkrip nilai. Banyak lulusan dengan prestasi akademik tinggi justru menghadapi kesulitan dalam beradaptasi, berkomunikasi, atau bekerja dalam tim di lingkungan profesional (Ngo, 2024; Mwita et al., 2024). Di titik inilah peran soft skills menjadi semakin relevan dan tak terpisahkan dari pembahasan tentang kesuksesan.
Tulisan ini mengajak kita melihat secara lebih utuh bagaimana nilai akademik dan soft skills saling berkontribusi terhadap keberhasilan individu, baik dalam konteks studi maupun kehidupan profesional.
1. Nilai Akademik : Fondasi Kognitif yang Tetap Penting
Nilai akademik merepresentasikan penguasaan pengetahuan, kemampuan berpikir logis, serta ketekunan mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran formal. Dalam konteks tertentu, seperti seleksi beasiswa, studi lanjut, dan profesi akademik, capaian akademik masih menjadi indikator penting dan sering digunakan sebagai syarat administratif utama (Keng, 2023). Nilai juga mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep, menganalisis masalah, serta menyelesaikan tugas secara sistematis.
Namun demikian, penelitian menunjukkan bahwa nilai akademik lebih dominan mengukur aspek kognitif dan belum sepenuhnya merepresentasikan kemampuan non-teknis mahasiswa. Casali dan Meneghetti (2023) menemukan bahwa prestasi akademik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan sosial, regulasi emosi, dan ketahanan psikologis mahasiswa. Oleh karena itu, nilai akademik sebaiknya dipahami sebagai fondasi intelektual, bukan satu-satunya penentu keberhasilan jangka panjang.
2. Soft Skills : Kompetensi Tak Tertulis yang Menentukan Daya Tahan
Soft skills mencakup kemampuan komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, berpikir kritis, kreativitas, serta pengendalian emosi. Sejumlah studi internasional menunjukkan bahwa soft skills memiliki pengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja dan keberhasilan karier lulusan perguruan tinggi (Mwita et al., 2024). Bahkan, dalam banyak kasus, soft skills menjadi faktor pembeda utama antara lulusan yang cepat beradaptasi dan mereka yang mengalami stagnasi karier.
Dalam kehidupan mahasiswa, soft skills terbentuk melalui proses yang sering kali tidak formal, seperti diskusi kelas, organisasi kemahasiswaan, kerja kelompok, dan cara menghadapi kegagalan akademik. Ngo (2024) menegaskan bahwa mahasiswa dengan soft skills yang baik cenderung memiliki kepercayaan diri lebih tinggi dan kesiapan transisi yang lebih baik dari dunia kampus ke dunia kerja. Sayangnya, karena tidak selalu tercatat dalam sistem penilaian formal, soft skills kerap dipandang sebelah mata, padahal justru menjadi modal utama di dunia nyata.
3. Kesuksesan sebagai Proses, Bukan Sekadar Hasil
Kesuksesan tidak hadir secara instan, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan kebiasaan, konsistensi, dan kemampuan mengelola diri. Dalam konteks ini, pemikiran James Clear dalam buku Atomic Habits menjadi relevan. Clear (2018) menekankan bahwa perubahan besar dalam hidup dan karier seseorang berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Bagi mahasiswa, kebiasaan sederhana seperti membaca secara rutin, mengelola waktu belajar, berani menyampaikan pendapat, dan belajar mendengarkan orang lain merupakan bentuk investasi soft skills jangka panjang. Penelitian Keng (2023) menunjukkan bahwa kebiasaan belajar yang konsisten dan kemampuan non-kognitif berkontribusi terhadap peningkatan hasil akademik sekaligus kesiapan profesional. Dengan demikian, kesuksesan akademik dan pengembangan soft skills sejatinya berjalan beriringan melalui proses kebiasaan yang berkelanjutan.
4. Peran Dosen : Menjembatani Akademik dan Kemanusiaan
Dosen tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pembentukan karakter dan kompetensi holistik mahasiswa. Model pembelajaran yang memberi ruang diskusi, refleksi, kerja kolaboratif, dan pemecahan masalah kontekstual terbukti efektif dalam mengembangkan soft skills tanpa mengorbankan kedalaman akademik (Casali & Meneghetti, 2023).
Pendekatan pembelajaran yang humanis, yang menghargai proses, kesalahan, dan perbedaan cara berpikir, akan melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial dan emosional. Di sinilah peran dosen menjadi strategis dalam menyeimbangkan tuntutan akademik dan pengembangan kemanusiaan mahasiswa.
5. Menuju Pendidikan Tinggi yang Lebih Seimbang
Alih-alih mempertentangkan nilai akademik dan soft skills, pendidikan tinggi perlu memposisikan keduanya sebagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Nilai akademik memberikan legitimasi intelektual dan disiplin berpikir, sementara soft skills memastikan keberlanjutan dan relevansi individu dalam kehidupan profesional dan sosial (Mwita et al., 2024).
Kesuksesan sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang diraih, tetapi tentang seberapa mampu seseorang bertumbuh, beradaptasi, dan memberi makna dalam peran yang dijalani. Di titik inilah pendidikan menemukan tujuan paling manusiawinya: membentuk insan pembelajar sepanjang hayat.
Daftar Pustaka :
- Casali, N., & Meneghetti, C. (2023). Soft skills and study-related factors: Direct and indirect associations with academic achievement and general distress in university students. Education Sciences, 13(6), 612. https://doi.org/10.3390/educsci13060612
- Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. New York: Avery.
- Keng, S. H. (2023). The effect of soft skills on academic outcomes. The B.E. Journal of Economic Analysis & Policy, 24(1). https://doi.org/10.1515/bejeap-2022-0342
- Mwita, K., Mwilongo, N., & Mwamboma, I. (2024). The role of soft skills, technical skills and academic performance on graduate employability. International Journal of Research in Business and Social Science, 13(5), 767–776. https://doi.org/10.20525/ijrbs.v13i5.3457
- Ngo, T. T. A. (2024). The importance of soft skills for academic performance and career development from the perspective of university students. International Journal of Engineering Pedagogy, 14(3), 53–68. https://doi.org/10.3991/ijep.v14i3.45425
Peran Nilai Budaya Gorontalo sebagai Modal Sosial dalam Penguatan UMKM Lokal

Selain sebagai pedoman perilaku, nilai budaya Gorontalo juga memiliki potensi besar sebagai identitas produk UMKM. Nilai-nilai lokal dapat diintegrasikan ke dalam strategi branding melalui desain kemasan, penamaan produk, narasi usaha, dan promosi digital. Produk UMKM yang menonjolkan identitas budaya lokal memiliki keunikan dan nilai tambah di mata konsumen. Hal ini sekaligus mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Gorontalo. Identitas budaya menjadi pembeda yang memperkuat posisi UMKM di pasar yang semakin kompetitif. Beberapa nilai budaya Gorontalo yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan usaha :
1. Adati hula-hula’a to syara’, syara’ hula-hula’a to Qur’ani
Nilai ini menegaskan bahwa adat dan aktivitas sosial-ekonomi harus selaras dengan nilai agama. Dalam konteks UMKM, prinsip ini mendorong pelaku usaha untuk menjalankan bisnis secara jujur, amanah, dan beretika, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan yang tinggi menjadi modal sosial penting bagi keberlanjutan UMKM, khususnya usaha berbasis makanan, jasa, dan perdagangan. UMKM yang menjunjung nilai ini cenderung lebih dipercaya dan memiliki loyalitas pelanggan yang kuat.
2. Huyula (Gotong Royong)
Huyula merupakan nilai kebersamaan dan saling membantu dalam masyarakat Gorontalo. Nilai ini sangat relevan untuk mendorong kolaborasi antar pelaku UMKM, seperti berbagi bahan baku, pemasaran bersama, atau pembentukan koperasi. Melalui huyula, UMKM dapat menekan biaya produksi, memperluas jaringan usaha, dan memperkuat daya saing. Semangat gotong royong juga mendukung pengembangan klaster UMKM berbasis desa atau komunitas.
3. Tinepo (Kejujuran dan Ketulusan)
Tinepo secara harfiah memiliki arti "kebijaksanaan", mencerminkan sikap jujur, tulus, dan bertanggung jawab dalam bertindak. Dalam dunia UMKM, nilai ini mendorong pelaku usaha untuk menjaga kualitas produk, harga yang wajar, dan pelayanan yang baik. Kejujuran menjadi fondasi hubungan jangka panjang antara pelaku UMKM dan konsumen. UMKM yang konsisten menerapkan nilai tinepo akan lebih mudah berkembang karena memiliki reputasi positif.
4. Motolalo (Kerja Keras dan Ketekunan)
Motolalo menekankan pentingnya kerja keras, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Nilai ini sangat penting bagi pelaku UMKM yang sering menghadapi keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar. Dengan semangat motolalo, pelaku UMKM terdorong untuk terus berinovasi, meningkatkan keterampilan, dan bertahan dalam persaingan. Nilai ini juga mendukung terbentuknya mental wirausaha yang tangguh.
5. Bilohe (Kebersamaan dan Solidaritas Sosial)
Bilohe secara harfiah memiliki arti "pemantauan terhadap warga yang kekurangan" mencerminkan rasa kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan sosial. Dalam pengembangan UMKM, nilai ini mendorong terciptanya ekosistem usaha yang saling mendukung, baik antara pelaku usaha, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Solidaritas sosial memudahkan penyebaran informasi, akses pelatihan, dan dukungan moral bagi pelaku UMKM. Lingkungan sosial yang kondusif akan mempercepat pertumbuhan UMKM lokal.
6. Nilai Lokal sebagai Identitas Produk UMKM
Nilai budaya Gorontalo juga dapat diintegrasikan ke dalam branding dan diferensiasi produk UMKM, seperti pada desain kemasan, nama produk, cerita usaha, dan promosi digital. Produk UMKM yang menonjolkan identitas budaya lokal memiliki nilai tambah dan daya tarik tersendiri di pasar regional maupun nasional. Hal ini mendukung penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Gorontalo.
Secara keseluruhan, nilai budaya Gorontalo tidak hanya berfungsi sebagai pedoman sosial, tetapi juga sebagai modal budaya dan modal sosial dalam penguatan UMKM lokal. Integrasi nilai religius, gotong royong, kejujuran, kerja keras, dan solidaritas sosial mampu memperkuat daya saing dan keberlanjutan usaha. UMKM yang berakar pada nilai budaya lokal memiliki karakter, kepercayaan, dan identitas yang kuat. Oleh karena itu, pengembangan UMKM berbasis nilai budaya Gorontalo perlu didukung melalui kebijakan, pendampingan, dan program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Cara Submit Jurnal di OJS dan Strategi Memilih Jurnal yang Tepat bagi Dosen dan Peneliti

Publikasi ilmiah saat ini bukan lagi sekadar kewajiban administratif bagi dosen, tetapi telah menjadi bagian penting dari pengembangan karier akademik, reputasi keilmuan, dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satu sistem yang paling banyak digunakan di Indonesia untuk publikasi jurnal adalah Open Journal Systems (OJS).
Namun, masih banyak dosen "terutama peneliti pemula" yang mengalami kendala, baik saat memilih jurnal yang tepat maupun ketika mengunggah artikel ke sistem OJS. Tulisan ini bertujuan memberikan panduan praktis dan sistematis agar proses publikasi dapat berjalan lebih efektif dan minim kesalahan.
Pentingnya Memilih Jurnal yang Tepat Sebelum Submit
Salah satu penyebab utama artikel ditolak bukan karena kualitas penelitian yang rendah, melainkan karena ketidaksesuaian antara naskah dan jurnal tujuan. Oleh karena itu, pemilihan jurnal harus dilakukan secara cermat.
1. Kesesuaian Fokus dan Ruang Lingkup
Langkah awal yang wajib dilakukan adalah membaca bagian Focus and Scope atau Aims and Scope pada website jurnal. Pastikan topik, pendekatan metodologis, dan konteks penelitian sesuai dengan karakter jurnal tersebut. Sebagai contoh, artikel tentang pendidikan literasi dan numerasi akan lebih tepat dikirim ke jurnal pendidikan, bukan jurnal ekonomi atau manajemen murni.
2. Akreditasi dan Reputasi Jurnal
Dosen perlu menyesuaikan jurnal dengan target akademik, baik untuk keperluan BKD, kenaikan jabatan fungsional, maupun hibah penelitian.
Beberapa rujukan penting :
- SINTA (1–6) : untuk jurnal nasional terakreditasi
- DOAJ : untuk jurnal internasional open access bereputasi
- Scopus/WoS : untuk publikasi internasional bereputasi tinggi
Pemilihan jurnal yang kredibel juga membantu menghindari jurnal predator yang merugikan penulis.
3. Memahami Author Guidelines
Setiap jurnal memiliki pedoman penulisan yang berbeda, mencakup:
- Struktur artikel
- Gaya sitasi
- Template penulisan
- Panjang artikel
- Artikel yang tidak mengikuti pedoman ini berpotensi langsung ditolak oleh editor (desk rejection).
4. Tahapan Upload Artikel Jurnal di OJS
Secara umum, tampilan OJS relatif seragam, terutama pada versi OJS 3.x. Berikut alur submit artikel yang lazim ditemui.
1. Registrasi dan Login
Penulis perlu membuat akun pada website jurnal dengan memilih peran sebagai Author. Disarankan menggunakan email institusi untuk meningkatkan kredibilitas akademik.
2. Memulai Submission Baru
Setelah login, pilih menu New Submission atau Make a Submission, lalu tentukan jenis artikel (artikel penelitian, review, atau konseptual).
3. Upload Naskah
Unggah file artikel sesuai format yang diminta jurnal. Pada tahap ini, penting memastikan :
- File sudah mengikuti template jurnal
- Identitas penulis dihapus jika jurnal menggunakan sistem blind review
4. Mengisi Metadata Artikel
Tahap ini sering dianggap sepele, padahal sangat menentukan. Metadata mencakup :
- Judul artikel
- Abstrak
- Kata kunci
- Identitas penulis dan afiliasi
- Metadata harus konsisten dan lengkap, karena akan digunakan untuk pengindeksan dan sitasi.
5. Konfirmasi dan Finalisasi
Setelah seluruh tahap selesai, penulis melakukan konfirmasi dan mengakhiri proses submission. Artikel selanjutnya akan diproses oleh editor jurnal.
5. Setelah Submit: Sikap Akademik yang Perlu Dijaga
Publikasi ilmiah menuntut kesabaran dan etika akademik. Penulis perlu :
- Memantau status artikel secara berkala
- Merespons revisi reviewer dengan argumentasi ilmiah
- Tidak mengirim artikel ke jurnal lain sebelum ada keputusan resmi
6. Kesalahan Umum dalam Submit Jurnal
Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:
- Salah memilih jurnal
- Tidak mengikuti template
- Metadata tidak lengkap
- Mengabaikan komentar reviewer
- Kesalahan-kesalahan ini dapat diminimalkan dengan ketelitian dan kesiapan naskah sejak awal.
7. Penutup
Mengunggah artikel ke OJS bukan sekadar proses teknis, tetapi merupakan bagian dari literasi publikasi ilmiah dosen. Dengan memilih jurnal yang tepat dan memahami alur submission OJS, dosen dapat meningkatkan peluang publikasi sekaligus menjaga kualitas akademik karya ilmiah yang dihasilkan. Publikasi yang baik bukan hanya tentang diterima atau tidak, tetapi tentang kontribusi ilmiah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Arsip
Blogroll
- Masih Kosong