KATEGORI : Artikel

MENGANGKAT DAN MEMINDAHKAN PASIEN

03 March 2021 19:06:16 Dibaca : 6758

Mengangkat dan memindahkan pasien merupakan hal yang terpenting dalam evakuasi pasien baik di rumah sakit maupun di pra rumah sakit. Hal ini membutuhkan kekuatan fisik yang maksimal dan tenaga yang terlatih. Ada beberapa teknik dan hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan evakuasi pasien, yaitu :

Mekanika Tubuh

Mekanika tubuh merupakan suatu cara untuk mempertahankan keseimbangan tubuh dalam mengangkat, bergerak dan melakukan aktivitas. Pengangkatan dan pemindahan pasien dibutuhkan mekanika tubuh yang baik, dengan mempertahankan posisi tubuh tegak lurus, jarak kaki selebar bahu, kaki menjadi tumpuan utama, tidak menggunakan otot punggung untuk mengangkat, melainkan menggunakan  otot tungkai, otot panggul & otot perut (Anna, 2008).

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam mengangkat dan memindahkan pasien, yakni:

  1. Kenali kemampuan diri dan kemampuan tim penolong, pastikan jumlah penolong yang cukup
  2. Saling berkomunikasi antar tim penolong
  3. Saat mengangkat mempertahankan posisi punggung tetap lurus
  4. Menyediakan peralatan yang tepat
  5. Memperhatikan kondisi tempat atau pijakan saat mengangkat pasien

Memindahkan Pasien pada Kondisi  Emergensi

Kondisi emergensi adalah keadaan pasien dalam bahaya, yang harus dipindahkan segera sebelum dinilai kondisinya. Adapun contoh kondisi emergensi yakni :

  1. Adanya kebakaran atau ledakan
  2. Ketidakmampuan penolong menjaga pasien terhadap bahaya lingkungan sekitarnya
  3. Usaha mencapai pasien darurat lain, yang lebih urgen.

Apapun cara pemindahan pasien non emergensi, selalu memperhatikan dan menjaga adanya patah tulang leher (fraktur servikal), terutama pada pasien dengan trauma.

Memindahkan Pasien pada Kondisi Darurat Dan Tidak Darurat

Kondisi darurat adalah pergerakan yang mendesak diperlukan saat pasien harus segera dipindahkan untuk pengobatan ancaman kehidupan segera. Pergerakan yang mendesak dilakukan dengan mencegah terjadinya cedera tulang belakang. Adapun teknik memindahkan pasien pada kondisi darurat dan tidak darurat, yakni:

Pemindahan Darurat

a. Tarikan Selimut

Pemindahan pasien dillakukan dengan teknik log roll, memposisikan pasien ke arah penolong, menarik selimut diletakkan dibawah pasien, mengembalikan posisi pasien, menyelimuti pasien, memindahkan pasien dengan cara ditarik.

b. Tarikan Lengan

Pemindahan pasien dengan cara penolong berada dibelakang pasien, kedua lengan penolong dimasukkan dibawah ketiak pasien, memegang kedua lengan bawah pasien, kemudian pasien ditarik.

c. Tarikan Baju

Dalam keadaan darurat posisi pasien susah diangkat atau susah untuk menggapainya. Maka teknik terakhir adalah mengangkat pasien dengan menarik pakaian dikeraknya

Pemindahan Tidak Darurat

Kondisi tidak darurat adalah pergerakan yang tidak mendesak, kondisi pasien stabil dan tidak ada ancaman kehidupan

a. Mengangkat dan memindahkan secara langsung

Dilakukan oleh 2 atau 3 penolong. Penolong pertama memposisikan lengannya dibawah kepala pasien, penolong kedua memposisikan lengannya dibawah pinggang pasien, penolong ketiga memposisikan  lengannya dibawah kaki pasien. Saling berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya, mengangkat pasien ke lutut dan memiringkan pasien ke arah dada penolong, pindahkan pasien dengan satu gerakan. Tindakan ini tidak bisa dilakukan pada pasien yang dicurigai adanya trauma servikal.

b.  Mengangkat dan memindahkan memakai sprei

Pasien diangkat dan dipindahkan menggunakan sprei. Tindakan ini tidak dapat dilakukan pada pasien yang dicurigai adanya trauma servikal.

Perlengkapan untuk Memindahkan Pasien

Beberapa perlengkapan yang digunakan untuk memindahkan pasien, yakni Tandu Ambulans (Wheeled stretcher), Tandu Sekop (Scoop stretcher), Long Spine Board, Tandu Basket (Stokes Basket), Flexible Strecher, Kursi Tangga (Stair chair) dan Portable Strecher. Berikut ini penjelasan perlengkapan tersebut.

1. Tandu Ambulans (Wheeled stretcher)

Alat yang terpasang dikendaraan Ambulans digunakan untuk mengangkat dan memindahkan pasien dari TKP ke ambulans yang kemudian dibawah ke rumah sakit. Bisa diturunkan dan dinaikkan, dilengkapi strap menjaga keamanan pasien saat proses pemindahan.

Cara penggunaan: Salah satu penolong berada dibelakang pasien memasukkan lengan ke bawah ketiak pasien dan satu penolongnya mengangkat dari kaki, saling berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya, pasien dipindahkan ke tandu ambulans. Setelah itu dipasangkan strap menjaga keamanan pasien dan ketika memindahkan pasien tetap berada ditandu tersebut tanpa harus menurunkannya

2. Tandu Sekop (Scoop stretcher)

Tandu sekop biasa digunakan untuk memindahkan pasien yang lokasinya memiliki akses yang terbatas dan bermanfaat untuk memindahkan pasien darurat, alat ini bisa dipisahkan perangkatnya dan dilengkapi strap untuk menahan posisi pasien saat proses pemindahan

Cara penggunaan: Tandu sekop dipisahkan kemudian ditempatkan dikedua sisi pasien dan menguncinya bersama-sama, dipasangkan strap kemudian pasien dipindahkan. Hal yang perlu diperhatikan alat ini tidak dapat digunakan pada pasien yang memiliki cedera servikal

3. Long Spine Board

Tandu yang digunakan selain untuk memindahkan pasien berfungsi sebagai alat fiksasi. Alat ini sangat baik digunakan pada pasien yang dicurigai adanya fraktur servikal.

Cara penggunaan: Pemindahan pasien ke atas long Spine Board dillakukan dengan teknik log roll, memposisikan pasien ke arah penolong. Satu penolong menyokong area kepala punggung pasien dan yang lainnya memeriksa bagian belakang pasien, long Spine Board didekatkan kearah pasien. Kemudian pasien diletakkan bersamaan dengan tandu tersebut secara perlahan-lahan. Dipasangkan pengaman yang diistilahkan tali laba-laba, melakukan fiksasi kepala dan kemudian pasien dipindahkan di tandu ambulans.

4. Tandu Basket (Stokes Basket)

Tandu basket berbentuk keranjang digunakan untuk memindahkan pasien dengan atau tanpa long spine board. Terdapat juga strap untuk mengamankan pasien ketika proses pemindahan. Alat ini sering kali digunakan dalam pencarian korban yang sulit dijangkau, misalnya pada daerah dengan dataran tinggi, terdapat tali pengangkut yang akan dikaitkan pada celah lubang yang ada pada sekeliling tandu basket

Cara penggunaan: Menempatkan pasien keatas permukaan tandu, lalu dipasangkan strapnya, kemudian pasien dipindahkan di tandu ambulans

5. Flexible Strecher

Tandu yang dapat digunakan untuk memindahkan pasien ditempat terbatas dan sempit. Dipakai pada pasien tanpa cedera servikal.

Cara penggunaan: Pemindahan pasien menggunakan flexible strecher dillakukan dengan teknik log roll, memposisikan pasien ke arah penolong, flexible strecher didekatkan kearah pasien, mengembalikan posisi pasien, kemudian mengangkat pasien dengan 4 orang penolong yang kemudian dipindahkan ke tandu ambulans

6. Kursi Tangga (Stair chair)

Alat yang dapat digunakan untuk memindahkan pasien yang bisa duduk atau berdiri namun sulit untuk bergerak. Biasanya digunakan untuk memindahkan pasien melalui tangga.

Cara penggunaan: Penolong pertama berada dibelakang pasien dan penolong lainnya berada didepan pasien yang akan memandu untuk menuruni tangga, dengan memperhatikan posisi tubuh dalam mengangkat dan berkomunikasi satu sama lain. Setelah itu membantu pasien untuk pindah ke tandu ambulans

7. Portable Strecher

Alat yang digunakan untuk memindahkan pasien dari satu tempat ke tampat yang lain. Terdapat juga strap untuk mengamankan pasien ketika proses pemindahan.

Cara penggunaan: Setelah pasien berada ditandu portable, menggunakan teknik yang benar saat mengangkat, memperhatikan keseimbangan tubuh tetap tegak lurus dan saling berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya

Berdasarkan uraian tersebut transportasi pasien merupakan komponen penting dalam penyediaan layanan kesehatan. Komunikasi, kesesuaian personil, keamanan dan efisiensi dalam mengangkat dan memindahkan pasien merupakan kunci utama untuk kualitas dan keamanan transportasi pasien (Hains, Marks, Georgiou, & Westbrook, 2011). Selain itu memperhatikan keselamatan penyedia EMS, berdasarkan penelitian oleh (Maguire & Smith, 2013), didapatkan paramedis memiliki tingkat cedera sekitar tiga kali untuk semua pekerjaan, sebagian korban jiwa merupakan akibat dari insiden terkait transportasi. Sehingga perlu adanya pengembangan teknologi peralatan dan penelitian terkait teknik maupun metode pemindahan dan pengangkatan pasien yang tepat dan aman mengingat pentingnya keselamatan penolong dan pasien pra rumah sakit (Eglitis, Corrigan, Sweeney, Pierce, & Stoy, 2017).

 Daftar Pustaka

Anna. (2008). Lifting and Moving Patients. from http://emt-training.org/lifting-moving.php

Eglitis, N, Corrigan, E, Sweeney, M, Pierce, J, & Stoy, W.A. (2017). Fresh Perspectives on Safer Patient Lifting and Moving. Journal of Emergency Medical Service.

Hains, I.M, Marks, A, Georgiou, A, & Westbrook, J.I. (2011). Non emergency patient transport: what are the quality and safety issues? A systematic review. International Journal for Quality in Health Care, 23(1), 68-75. doi: 10.1093/intqhc/mzq076

Maguire, B.J, & Smith, S. (2013). Injuries and fatalities among emergency medical technicians and paramedics in the United States. Prehosp Disaster Med, 28(4), 376-382. doi: 10.1017/S1049023X13003555

 

 

PEMBELAJARAN CASE METHOD PASIEN COPD

03 March 2021 18:57:26 Dibaca : 46

Kasus COPD

The emergency department contacts you to say that a 60 year-old woman has brought in by ambulance from home. Mrs Sinha is a lifelong smoker and has a long history of chronic obstructive pulmonary disease (COPD), with many previous admission to hospital. Mrs Sinha had been more breathless than normal over the past few days with a cough, producing green sputum. In the early hours of the morning, Mrs Sinha became acutely short of breath. She tried using her nebuliser at home, but did not improve and dialled 999. The paramedic crew gave Mrs Sinha a further salbutamol and ipratropium bromide nebuliser, and 15 L of oxygen via a non-rebreath mask. The referring doctor believes that this illness represents an exacerbation of COPD. On your arrival Mrs Sinha is drowsy and disoriented but responding to voice and obeying commands. Mrs Sinha’s respiratory rate 8 breath/min, with a prolonged expiratoryphase and ‘purs lip’ breathing. Saturation read 97% on 15 L of oxygen via non-rebreathing mask. Mrs Sinha’s heart rate is 130 beat/min, with a blood pressure of 130/70 mmHg and she is aprexial. Auscultation of the lung fields reveals generally poor air entry throught with a few scattered wheezes but no other added sounds.

Buatlah analisis kasus diatas menggunakan dasar literatur baik buku maupun jurnal penelitian

 

Analisis Kasus COPD oleh Zulkifli B.Pomalango

1.    What is exacerbation of chronic obstructive pulmonary disease (COPD)?

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit yang umum, dapat dicegah dan dapat diobati yang ditandai dengan gejala pernapasan yang persisten dan pembatasan aliran udara yang disebabkan oleh kelainan jalan napas yang biasanya disebabkan oleh paparan partikel atau gas berbahaya. Gejala pernafasan yang paling umum adalah dyspnea, batuk dan atau tanpa produksi sputum. Faktor risiko utama COPD adalah kebiasan merokok, paparan bahan bakar biomassa dan polusi udara.

Eksaserbasi PPOK merupakan periode gejala perburukan PPOK akut, kondisi klinis pasien dengan keluhan batuk meningkat, produksi sputum bertambah dan terjadi sesak. Eksaserbasi PPOK memberikan dampak perburukan terhadap kondisi pasien, mempercepat tingkat penurunan fungsi paru, meningkatkan morbiditas dan mortalitas secara signifikan (Agusti, Decramer, Celli, 2017)

 2.    What immediate management is required?

Berdasarkan kasus diatas, pasien sudah mengalami eksaserbasi dan indikasi terjadi penurunan kesadaran karena pasien mengalami disorientasi. Sehingga pasien dilakukan mobilisasi ke ruang Intensive Care unit (Agusti, Decramer, Celli, 2017). Selain itu terapi yang segera diberikan kepada pasien mengalami eksaserbasi berupa pemberian broncodilator yaitu salbutamol, sebagai antiinflamasi diberikan ipratropium bromide nebuliser (MacIntyre, 2008)

 3.    Why is patient drowsy/ confused?

Pasien mengalami ngantuk dan bingung dikarenakan kurangnya suplai oksigen ke otak. Hal ini disebabkan pada kasus PPOK terjadi inflamasi kronik, yang menyebabkan gangguan pertukaran oksigen pada paru, sehingga paru tidak mampu menyuplai oksigen yang cukup ke seluruh sel terutama ke otak. Ketidakadekuatan oksigen ke otak yang menyebabkan pasien ngantuk dan bisa sampai terjadi penurunan kesadaran (Brill, Wedzicha, & Jadwiga, 2014).

4.    How can narcosis be corrected?

Karbondioksida narcosis dapat dikoreksi dengan pemeriksaan analisis gas darah. Analisis gas darah merupakan pemeriksaan yang mengukur derajat keasaman (pH) dan jumlah oksigen (O2) serta karbondioksida (CO2) dalam darah. Pada pemeriksaan ini akan didapatkan nilai tekanan karbondioksida di dalam pembuluh darah arteri tinggi (PaCO2).

 5.    What further information is required?

Informasi yang perlu dikaji lebih lanjut yakni faktor pencetus dari masalah yang dialami oleh pasien dan faktor yang dapat memperparah keadaan pasien. Mengkaji riwayat sebelumnya, terutama riwayat gangguan pernafasan, riwayat keluarga yang mengidap penyakit yang sama, riwayat penyakit yang mendasari. Hal ini dapat berhubungan dengan intervensi apa yang dapat diberikan.

 6.    What further investigation is required?

Penatalaksanaan yang perlu dilakukan :

a)    Pemeriksaan analisis gas darah

b)    Pemeriksaan darah lengkap untuk mengetahui adanya infeksi.

c)    Pemeriksaan sputum purulen sebagai indikasi perlu pemberian terapi antibiotik

d)    EKG untuk pemeriksaan kelainan pada jantung, membantu dalam mengkaji riwayat penyakit yang mendasari

e)    Foto Thorax untuk membedakan diagnose PPOK dengan penyakit paru yang lainnya.

 7.    What is the causes of this exacerbation?

Exacerbasi PPOK dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Penyebab yang paling sering adalah infeksi saluran pernafasan baik yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Selain itu memiliki kebiasaan merokok dan kondisi terdapat penyakit yang mendasari diantaranya pneumonia, emboli paru, efusi pleura dan penyakit jantung kongestif.

 8.    Why Mrs Sinha deteriorated and what action should be taken?

Keadaan pasien semakin memburuk dikarenakan adanya faktor yang memperburuk atau yang dapat menyebabkan eksaserbasi PPOK, yakni pasien sudah lanjut usia, memiliki riwayat merokok, memiliki masalah jantung dan eksaserbasi yang berulang.

Tindakan yang perlu dilakukan, yakni :

a.    Kolaborasi pemberian terapi pengobatan, pemberian alat bantu pernafasan jika kondisi pasien tidak membaik, pemberian terapi oksigen dengan memperhatikan hasil analisa gas darah untuk mencegah terjadinya retensi karbondioksida

b.    Jika kondisi pasien tidak membaik, terjadi sesak yang semakin berat, terjadi penurunan kesadaran, perubahan status hemodinamik yang tidak stabil, maka pasien perlu mendapat pengobatan dan perawatan lebih intensive di ruang Instalasi Care Unit (ICU)

9.    What assessment should be taken at prehospital? (describe your assessment: scene size-up, primary, history taking, secondary, reassessment, and mergency medical care)

a)  Scene size-up

  • ­Pemasangan Alat Proteksi Diri (APD) berupa sarung tangan dan masker
  • Memastikan keamaan lingkungan bagi pasien dan petugas.
  • Triase awal yaitu jumlah pasien satu orang dengan keluhan sulit bernafas dan dikategorikan label merah.
  • Peralatan yang dibutuhkan yaitu : Alat pemeriksaan TTV, IV Line set, Oksigen, Nebulizer, Nasal Kanul, NRBM,  Obat-obatan berupa Bronkodilator atau Ekspektoran

b)  Primary

  • Airway : Klien tampak sesak, adanya sumbatan jalan nafas akibat penumpukan sputum. Suara nafas terdengar wheezing

Tindakan yang diberikan : Berikan posisi semifowler dan kolaborasi pemberian Salbutamol dan ipratropium bromide nebulizer

  • ­Breathing : RR 8x/min dengan fase ekspirasi memanjang, tampak bernafas menggunakan pernafasan mulut.      

Tindakan yang diberikan : Pemberiaan oksigen dengan NRBM 15 l/m

  • ­Circulation : Tekanan Darah 130/70 mmhg, Nadi 130x/min, BP 130/70 mmhg, tampak sedikit sianosis.
  • ­Disability: Pasien  disorientasi, namun pasien dapat memberikan respon terhadap suara yang diberikan dan mengikuti perintah.
  • Exposure & environment

c)  History taking

Alergi          : Tidak didapatkan riwayat alergi

Medicine     : Obat untuk Nebulizer

Past Illnes : PPOK berulang

Last meal   : Tidak terkaji

Event         : Keluhan batuk dan sesak nafas sebelum masuk rumah sakit dan memiliki riwayat kebiasaan meroko yang cukup lama

d)  Secondary Assessment

Pemeriksaan Fisik : Head to toe

Spesifik pemeriksaan pada bagian thorax

e)  Reassessment

Reassessment dilakukan untuk mengevaluasi kembali pengkajian primer dari kondisi pasien, didapatkan :      Jalan napas pasien belum paten. TTV: TD : 130/70 mmhg, Nadi 130x/menit, Sp02 97%. Kesadaran tampak bingung dan mengantuk.

f)    Emergency medical care

  • Pemberian posisi yang nyaman : Semifowler atau Fowler
  • ­Pemberian Oksigen yang adekuat : NRBM 15 l/m
  • ­Pemberian obat Salbutamol dan Nebulizeripratropium bromide
  • ­Pemasangan IV line sekaligus pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan penunjang
  • ­Melakukan observasi kondisi pasien selama perjalanan ke RS

Daftar Pustaka

Agusti, A, Decramer, B, Celli, M. 2017. Pocket guide to COPD diagnosis, management, and prevention. Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease

Brill, S.E, Wedzicha, Jadwiga, A. 2014. Oxygen therapy in acute exacerbations of chronic obstructive pulmonary disease. international Journal of COPD

MacIntyre, N.H, Yuh, C. 2008. Acute Exacerbations and Respiratory Failure in Chronic Obstructive Pulmonary Disease. Atsjournal. 5.530-535

 

REGISTRASI

Berikut adalah Langkah-langkah untuk melakukan registrasi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

  1. Pada halaman utama website Merdeka Belajar - Kampus Merdeka klik tombol “Login”
  2. Selanjutnya akan muncul halaman Login seperti berikut, Klik “Belum Punya Akun? Register” untuk melanjutkan ke halaman Registrasi
  3. Isikan data dengan lengkap:
    • Nama Lengkap Dosen
    • Tanggal Lahir Dosen
    • Email Dosen
    • Re-email Dosen
    • Memilih Register SebagaI “Dosen Pembimbing”
    • Klik ”Daftar” untuk melakukan proses pendaftaran

4. Pastikan Email yang digunakan untuk mendaftar "AKTIF" dan dapat menerima email dengan baik dan Pastikan Email dan tanggal lahir yang digunakan terdaftar didalam Database PDDIKTI, untuk memastikan silahkan hubungi Admin PDDIKTI di masing-masing Perguruan Tinggi

5. Setelah melakukan pendaftaran akun, silahkan cek pada email yang sudah didaftarkan

6. Klik tombol “AKTIFKAN AKUN” yang dilingkari merah pada gambar diatas, selanjutnya akan muncul halaman Login dengan keterangan ”Perhatian, Akun anda sudah aktif”

ROADMAP PENELITIAN BIDANG KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

13 February 2021 19:16:34 Dibaca : 240

Penelitian bidang keilmuan keperawatan gawat darurat, terbagi dalam tiga bidang garap, yaitu keperawatan gawat darurat, keperawatan kritis, dan keperawatan bencana. Berikut adalah penjelasan dalam bentuk roadmap untuk masing-masing bidang garap :

1. Keperawatan Gawat Darurat

Bidang garap penelitian pada keperawatan gawat darurat dapat diarahkan kepada kondisi kegawatan pre hospital dan intra hospital. Area pre hospital, penelitian dapat diarahkan kepada proses triage saat terjadi kondisi gawat darurat, respon time perawat pada saat melakukan tindakan pasien dengan kondisi gawat darurat, dan juga pelayanan ambulan (ambulance service) termasuk di dalamnya adalah stabilisasi dan transportasi pada pasien gawat darurat yang disebabkan karena trauma maupun non trauma. Bidang garap juga dapat diarahkan pada kondisi intra hospital yang meliputi beberapa aspek diantaranya aspek fisik, psikososial, codeblue, dan juga ethical consideration pada kondisi kegawatdaruratan. Berbagai topik penelitian pada aspek fisik dapat diarahkan pada kondisi kegawatan jalan nafas (airway), misalnya pada pasien dengan sumbatan jalan nafas dan juga tindakan yang berkaitan dengan pembebasan jalan nafas, pada kondisi kegawatan pernapasan (breathing), arah penelitian dapat difokuskan pada pengkajian dan intervensi pada pasien dengan tension pneumothorax atau pada pasien dengan gangguan oksigenasi. Aspek fisik juga dapat meliputi kondisi kegawatan pada sirkulasi (circulation) dimana penelitian dapat diarahkan pada pasien dengan syok hipovolemik, juga dapat diarahkan pada disabilitas pasien (disability) yang terkait dengan pasien yang mengalami penurunan kesadaran dan PTIK serta kondisi pasien terkait lingkungan (environment) yang dapat menyebabkan kondisi gawat darurat seperti hipotermia

2. Keperawatan Kritis

Keperawatan kritis lebih berkaitan pada perawatan pasien dalam fase intensif. Penelitan pada area ini dapat difokuskan pada aspek fisik, psikososiospiritual, dan juga ethical consideration dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan kondisi kritis. Pada aspek fisik, topik penelitian dapat diarahkan pada masalah dan intervensi yang dapat dilakukan terkait kondisi fisiologis pasien, seperti masalah pada sistem pernafasan: Fisioterapi nafas & suction, VAP, dan setting ventilator, pada sistem kardiovaskuler : masalah hemodinamik, perubahan vaskular, DVT, pada sistem persarafan: tingkat kesadaran, agitasi, disorientasi, sistem perkemihan: CAUTI (catheter assosiated urinary tract infection) , incontinensia, pada sistem pencernaan: masalah nutrisi, pola BAB, pada sistem muskuloskeletal: dekubitus, disuse sindrom (kontraktur, atropi). Pada aspek psikososiospiritual, topik penelitian dapat diarahkan pada kondisi yang biasa terjadi pada pasien dan keluarga seperti distress, lonelyness, resiliensi keluarga, kebutuhan informasi, dan keputusasaan serta intervensi yang dapat dilakukan perawat untuk mengatasi masalah tersebut.

3. Keperawatan Bencana

Fokus penelitian pada keperawatan bencana dibagi menjadi tiga area, yaitu pada fase pra bencana, fase terjadi bencana (impact), dan pasca bencana. Pada fase pra bencana, topik penelitian lebih dikaitkan dengan upaya pencegahan dan persiapan jika terjadi bencana dalam upaya mitigasi dan preparedness. Penelitian pada area ini dapat dilakukan pada petugas kesehatan, dan juga masyarakat (awam terlatih maupun tidak terlatih). Topik-topik penelitian yang dapa dieksplorasi adalah terkait edukasi, sistem peringatan dini bencana, drilling, dan berbagai hal terkait infrastruktur untuk mencegah terjadinya bencana. Pada fase akut atau impact, topik penelitian dapat dikaitkan dengan kondisi saat terjadi bencana, seperti bagaimana melakukan triage saat terjadi bencana, bagaimana melakukan upaya penyelamatan pada saat terjadi bencana, serta penanganan korban saat terjadi bencana yang dapat meliputi evakuasi dan transportasi. Pada fase pasca bencana, penelitian dapat difokuskan pada rekonstruksi dan rehabilitasi. Topik penelitian dapat dikaitkan dengan kondisi psikologis pasca terjadinya bencana seperti trauma, depresi, dan bagaimana perawat mengatasi masalah tersebut. Selain itu, topik penelitian juga dapat dikaitkan dengan upaya pencegahan terjadinya bencana lanjutan (second disaster).

CARA MENCARI JURNAL UNTUK SKRIPSI DAN TESIS

12 February 2021 17:22:12 Dibaca : 17671

Cara mencari jurnal untuk bahan penulisan skripsi dan tesis, dapat diperoleh melalui beberapa situs berikut yang merupakan database jurnal dapa diakses dengan bebas (Open access) dan dapat didownload versi PDF melalui link yang ada.

1. Google Cendekia

Google Scholar diluncurkan pada tahun 2004, dan indeks Google Scholar mencakup jurnal online yang didedikasikan untuk publikasi ilmiah di Indonesia dan dunia. Untuk mencari jurnal, makalah, skripsi dan karya ilmiah di Google Scholar, apa yang kita butuhkan untuk menulis bahan referensi sangatlah mudah. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  • Cari alamat resmi Google Cendikia https://scholar.google.co.id/
  • Ketik kata kunci yang kamu inginkan sesuai variabel penelitian, lalu klik search atau enter
  • Silahkan anda pilih jika sudah menemukan apa yang anda cari. Anda dapat mengklik langsung pada bagian kanan untuk file PDFnya. Anda juga dapat mencari berdasarkan waktu dan rentang tertentu

2. DOAJ (Directory of Open Access Journals)

DOAJ (Directory of Open Access Journals) adalah situs penyedia layanan artikel ilmiah. Di situs ini terdapat berbagai jenis artikel ilmiah yang layak dipercaya, karena sudah memenuhi standar penulisan jurnal bertaraf International. Langkah-langkahnya sebagai berikut :

  • Buka situs DOAJ dihttps://doaj.org/
  • Ketik kata kunci yang kamu inginkan sesuai variabel penelitian, bisa menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris untuk menemukan jurnal International lalu klik search atau enter
  • Pilih jurnal yang akan anda gunakan
  • Pilih full text untuk mendownload jurnal yang anda pilih, tapi sebelumnya jangan lupa install idm anda terlebih dahulu.

3. Emerald Insight

Emerald Insight merupakan data base jurnal Internasional Bereputasi yang bisa digunakan untuk mendukung tugas akhir perkuliahan maupun sebuah penelitian, khususnya tesis maupun disertasi. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  • Buka situs https://www.emerald.com/insight/
  • Masukan kata kunci sesuai variabel penelitian anda pada kolom advanced search sesuai dengan kebutuhan. Kata kunci yang digunakan adalah menggunakan Bahasa Inggris, bukan Bahasa Indonesia.
  • Kliklah pada salah satu judul penelitian yang sesuai dengan judul penelitian anda. Untuk memudahkan dalam memahami inti dari judul penelitian yang akan anda pilih, sebelumnya anda dapat menerjemahkan halaman web dengan cara klik kanan lalu klik translate to Indonesia
  • Setelah membuka salah satu judul penelitian, Anda bisa membacanya terlebih dahulu baru kemudian mengunduhnya. Kemudian untuk mengunduh dokumen tersebut, Anda dapat menyalin nomor DOI pada jurnal tersebut
  • Selanjutnya bukalah https://sci-hub.se/, salinlah nomor DOI tersebut pada kolom search sci hub 
  • Klik save untuk mulai mengunduh