ARSIP BULANAN : February 2026

Pentingnya High Agency di Era Digitalisasi dan AI

23 February 2026 06:52:30 Dibaca : 12

Beberapa waktu lalu, saya sempat menyimak dua reels instagram. Pertama ada cuplikan workshop Prilly Latuconsina tentang penggunaan ChatGPT dan OpenAI dan juga tayangan reels milik Sabrina Anggraini tentang pentingnya softskill High Agency di era digital. Pada cuplikan Prilly yang diwawancarai oleh Najwa Shihab di sebuah workshop sebagai salah satu akademisi, ada satu kutipan yang sangat menarik yaitu maraknya penggunaan ChatGPT oleh mahasiswa dan bagaimana Prilly menanggapinya. Prilly sebagai seorang Dosen mengatakan bahwa ketika mahasiswa membuat tugas dengan menggunakan ChatGPT, draf awal sudah tersedia dan itu tersusun rapi, sistematis, dan terlihat meyakinkan. Tetapi ketika Prilly membaca tugas mahasiswa tersebut, ada satu hal yang terasa kurang yaitu “suara” mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang benar-benar menulis tugas itu sendiri akan lebih menjelaskan "suaranya" yakni berupa pengalaman pribadi atau kesan terhadap sesuatu berdasarkan presepsi diri sendiri. ChatGPT sebagai produk teknologi menyusun teks berdasarkan logika komputer, walaupun rapi dan tersusun sistematis, namun rasa dari teks kaku dan hambar. Di situlah saya semakin sadar, teknologi bisa sangat cepat, tetapi arah, makna, dan tanggung jawab tetap harus datang dari manusia.

Kemudian, mari kita lanjut pada pembahasan tayangan milik Sabrina Anggraini tentang High Agency. Apa itu High AgencyHigh agency adalah kemampuan seseorang untuk mengambil kendali atas hidup, keputusan, dan tindakannya, alih-alih sekadar bereaksi terhadap keadaan. Orang dengan high agency tidak menunggu diperintah, tidak mudah menyalahkan situasi, dan tidak pasif terhadap perubahan. Ia sadar bahwa meskipun tidak semua hal bisa dikontrol, respons terhadap keadaan selalu bisa dipilih. Secara sederhana, high agency adalah sikap seperti : “Saya mungkin tidak bisa mengatur semuanya, tetapi saya bisa menentukan langkah saya.” Berikut Ciri-Ciri Orang dengan High Agency :

  1. Proaktif, bukan reaktif : Ia tidak menunggu peluang datang, tetapi menciptakan peluang. Jika ada masalah, ia bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?
  2. Bertanggung jawab atas pilihan : Tidak mudah menyalahkan sistem, teknologi, atau orang lain. Ia fokus pada kontribusi dan perbaikan diri.
  3. Berani mengambil keputusan : Tidak terjebak dalam keraguan berlebihan. Ia berani mencoba, belajar dari kesalahan, lalu memperbaiki.
  4. Adaptif terhadap perubahan : Ketika dunia berubah, misalnya karena digitalisasi dan AI seperti ChatGPT dari OpenAI, ia tidak panik. Ia belajar, menyesuaikan diri, dan memanfaatkan perubahan tersebut.

Untuk mempermudah pemahaman tentang High Agency, saya akan contoh berdasarkan konteks akademis. Contoh Sederhana dalam Kehidupan Sehari-hari, Mahasiswa dengan low agency yang akan berpendapat, “Soalnya susah, saya tidak mengerti, jadi saya tunggu saja penjelasan",  sedangkan, Mahasiswa dengan high agency berpendapat, “Soalnya menantang. Saya coba cari referensi, diskusi dengan teman, atau bertanya langsung agar paham.” Atau dalam konteks dosen : Dosen dengan low agency mungkin berkata, “AI membuat mahasiswa malas", sedangkan Dosen dengan high agency akan berpikir, “Bagaimana saya mendesain tugas agar AI justru melatih berpikir kritis mahasiswa?”

Di era digitalisasi dan AI, kita membutuhkan skill high agency yaitu kemampuan untuk tetap memegang kendali, berpikir mandiri, dan bertindak secara sadar di tengah arus perubahan. Kenapa? Berikut berbagai alasannya :

1. Dari Pengguna Teknologi menjadi Pengarah Teknologi

Di era AI, orang yang hanya menjadi user memang akan mudah tergantikan. Teknologi akan selalu lebih cepat, lebih presisi, dan lebih efisien dalam tugas-tugas teknis. Namun individu dengan high agency tidak berhenti pada posisi sebagai pengguna. Ia memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti berpikir. Ia mengkritisi output teknologi, tidak langsung percaya, tetapi membaca ulang, membandingkan, dan memperbaiki. Ia juga mengintegrasikan AI untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas, bukan sekadar mempercepat pekerjaan.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang mahasiswa yang menggunakan AI untuk menyusun esai. Hasilnya bagus secara struktur, tetapi ketika saya bertanya, “Bagian mana yang paling Anda yakini?” ia terdiam. Di situ terlihat jelas : tanpa agency, seseorang hanya menjadi OPERATOR. Dengan agency, ia tetap menjadi DECISION MAKER atau penentu arah dan makna.

2. Adaptif terhadap Disrupsi

Digitalisasi menciptakan disrupsi (kekacauan) pada pekerjaan, model bisnis, bahkan pola pembelajaran. Banyak profesi berubah, beberapa hilang, dan yang baru bermunculan.

Individu dengan high agency tidak menunggu arahan. Ia cepat belajar ulang (reskilling dan upskilling), mencari pelatihan, mencoba hal baru, dan membaca peluang. Ia tidak larut dalam kekhawatiran, tetapi bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan agar tetap relevan?”

Di lingkungan akademik maupun profesional, sikap ini sangat menentukan keberlanjutan karier. Mereka yang proaktif akan melihat AI sebagai mitra kolaborasi, bukan ancaman kompetisi.

3. Kritis dan Etis dalam Menggunakan AI

AI membawa potensi besar, tetapi juga risiko seperti, bias algoritma, misinformasi, bahkan ketergantungan kognitif seseorang. Tanpa kesadaran, kita bisa menerima jawaban instan tanpa proses evaluasi dan refleksi.

High agency membantu seseorang untuk memverifikasi informasi, menggunakan AI secara bertanggung jawab, dan menjaga integritas akademik maupun profesional.

Tanpa High agency, teknologi bisa mengendalikan perilaku manusia, mengarahkan opini, membentuk preferensi, bahkan memengaruhi keputusan. Dengan High agency, manusialah yang tetap memegang kendali.

4. Mendorong Kreativitas dan Inovasi

AI unggul dalam kecepatan dan pengolahan data. Namun manusia unggul dalam empati, nilai, intuisi, dan konteks sosial.

High agency mendorong individu memadukan dua kekuatan ini. Misalnya, menggunakan AI untuk mengolah data penelitian, tetapi tetap menginterpretasikan hasilnya dengan sensitivitas sosial dan etika. Atau memanfaatkan AI untuk merancang bahan ajar, tetapi menyesuaikannya dengan karakter mahasiswa dan kebutuhan lokal.

Inovasi yang berdampak lahir bukan dari teknologi semata, tetapi dari manusia yang sadar dan reflektif dalam menggunakannya.

5. Relevansi bagi Dunia Pendidikan dan Dosen

Dalam konteks pendidikan tinggi, High agency menjadi sangat penting terutama ketika kita berbicara tentang inovasi pembelajaran. Dosen tidak lagi hanya penyampai materi, tetapi harus menjadi learning designer. Mahasiswa tidak sekadar penerima informasi, tetapi dilatih menjadi pembelajar mandiri. AI dapat dijadikan mitra pedagogis, yaitu sebagai alat untuk eksplorasi, diskusi, dan refleksi, bukan pengganti proses berpikir.

Saya melihat perubahan ini ketika tugas mahasiswa tidak lagi hanya “buat makalah”, tetapi “bandingkan analisis Anda dengan hasil AI, lalu jelaskan di mana letak perbedaannya”. Di situ, AI justru menjadi alat untuk melatih kedalaman berpikir.

Oleh karena itu, di era digitalisasi dan AI, kompetensi teknis saja tidak cukup. Yang membedakan adalah kesadaran, keberanian mengambil inisiatif, dan tanggung jawab atas pilihan kita. High agency menjadikan manusia tetap relevan, kreatif, dan bermakna. High Agency menjadikan seseorang mandiri, dapat beradaptasi, berdampak dan tidak akan tergantikan oleh Teknologi. Teknologi akan terus berkembang, mungkin lebih cepat dari yang kita bayangkan. Namun selama manusia tetap memegang kendali atas arah dan nilai, digitalisasi tidak akan mengurangi peran kita. Justru sebaliknya, ia menjadi alat pemberdayaan.

Membangun Kelas Inovatif di Perguruan Tinggi

22 February 2026 11:32:09 Dibaca : 10

Perubahan zaman hari ini terasa sangat cepat. Revolusi digital, perkembangan kecerdasan buatan, hingga perubahan kebutuhan dunia kerja membuat perguruan tinggi tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama. Mahasiswa yang kita hadapi sekarang adalah generasi yang tumbuh bersama teknologi, terbiasa dengan informasi instan, dan membutuhkan pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata mereka.

Dalam situasi ini, dosen tidak cukup hanya hadir untuk menjelaskan materi. Dosen perlu berperan sebagai learning designer yang merancang pengalaman belajar, sebagai fasilitator yang membuka ruang diskusi, dan sebagai inspirator yang menumbuhkan semangat belajar mahasiswa. Inovasi pembelajaran menjadi kunci agar kelas tidak terasa monoton, tetapi hidup, dialogis, dan bermakna.

Sebagaimana ditekankan oleh UNESCO, pendidikan abad ke-21 harus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Artinya, pembelajaran tidak lagi berpusat pada dosen, tetapi pada mahasiswa (student-centered learning). Tugas dosen adalah menciptakan situasi yang membuat mahasiswa aktif membangun pengetahuannya sendiri.

1. Inovasi dalam Desain Pembelajaran

Inovasi dimulai dari cara kita merancang perkuliahan. Pembelajaran sebaiknya disusun berdasarkan capaian pembelajaran (CPL) yang jelas dan terukur. Pertanyaannya bukan lagi “apa yang akan saya jelaskan hari ini?”, tetapi “kompetensi apa yang harus mahasiswa miliki setelah pertemuan ini?”.

Pendekatan seperti project-based learning, case method, dan problem-based learning sangat relevan diterapkan.

Misalnya, dalam mata kuliah Ekonomi Pembangunan :

Mahasiswa dibagi dalam kelompok kecil.Setiap kelompok diminta menganalisis data kemiskinan daerah setempat.Mereka harus menyusun rekomendasi kebijakan berbasis data.Hasilnya dipresentasikan dan didiskusikan bersama.Dengan model ini, mahasiswa tidak sekadar menghafal teori pertumbuhan ekonomi, tetapi belajar membaca data, berdiskusi, berargumentasi, dan menawarkan solusi.

Contoh lain pada mata kuliah Kewirausahaan :

Mahasiswa diminta membuat rencana bisnis sederhana.Mereka melakukan survei pasar kecil di lingkungan sekitar.Produk diuji coba selama satu minggu.Hasil evaluasi dipresentasikan.Model seperti ini sejalan dengan konsep experiential learning yang dikembangkan oleh David Kolb, yang menekankan bahwa pengalaman langsung menjadi sumber belajar yang sangat kuat.

2. Integrasi Teknologi Digital

Teknologi bukan sekadar pelengkap, tetapi dapat menjadi sarana untuk memperkaya pembelajaran. Learning Management System (LMS), video pembelajaran, kuis interaktif, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dapat membuat kelas lebih fleksibel dan menarik.

Platform seperti Wayground, Google Classroom atau Moodle membantu dosen :

  • Mengunggah materi sebelum perkuliahan (model flipped classroom),
  • Memberikan kuis singkat sebagai pre-test,
  • Memberikan umpan balik cepat terhadap tugas mahasiswa,
  • Memantau keaktifan dan progres belajar.

Contoh praktis:Sebelum pertemuan, dosen mengunggah video penjelasan singkat 10 menit. Mahasiswa diminta menonton terlebih dahulu. Saat tatap muka, waktu kelas digunakan untuk diskusi kasus, bukan lagi ceramah panjang. Dengan cara ini, interaksi menjadi lebih mendalam. Namun, penting diingat: teknologi hanyalah alat. Tanpa strategi pedagogis yang tepat, kelas tetap bisa terasa membosankan. Kreativitas dosen dalam merancang aktivitaslah yang menentukan kualitas pembelajaran.

3. Pembelajaran Kontekstual dan Kolaboratif

Mahasiswa akan lebih mudah memahami materi ketika pembelajaran dikaitkan dengan realitas sekitar mereka. Karena itu, kolaborasi dengan mitra eksternal—industri, pemerintah daerah, atau komunitas, menjadi penting.

Konsep Triple Helix yang diperkenalkan oleh Henry Etzkowitz menekankan sinergi antara universitas, industri, dan pemerintah dalam mendorong inovasi.

Contoh implementasi :

  • Menghadirkan pelaku UMKM sebagai narasumber di kelas.
  • Mengajak mahasiswa melakukan observasi lapangan.
  • Memberikan tugas analisis terhadap program pemerintah daerah.
  • Menyusun proyek kolaboratif dengan mitra sekolah atau desa binaan.
  • Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi melihat langsung bagaimana konsep diterapkan dalam kehidupan nyata. Pengalaman seperti ini membentuk kompetensi profesional sekaligus karakter : tanggung jawab, empati, dan kemampuan bekerja dalam tim.

4. Evaluasi dan Refleksi Berkelanjutan

Inovasi tidak berhenti pada pelaksanaan. Dosen perlu melakukan refleksi :

  • Apakah metode ini efektif?
  • Apakah mahasiswa benar-benar memahami materi?
  • Apa yang perlu diperbaiki pada pertemuan berikutnya?

Evaluasi bisa dilakukan melalui :

  • Kuesioner umpan balik sederhana,
  • Diskusi reflektif di akhir semester,
  • Analisis hasil tugas dan ujian,
  • Catatan refleksi pribadi dosen setelah perkuliahan.
  • Budaya refleksi ini menunjukkan profesionalisme dan komitmen terhadap mutu pembelajaran.

Inovasi pembelajaran bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk tanggung jawab akademik dan moral dosen. Kelas yang inovatif adalah kelas yang membuat mahasiswa berpikir, bertanya, mencoba, bahkan berani salah dan belajar dari kesalahan.

Dengan desain pembelajaran yang terencana, pemanfaatan teknologi yang tepat, kolaborasi dengan dunia nyata, serta refleksi berkelanjutan, pembelajaran di perguruan tinggi tidak lagi sekadar proses transfer ilmu. Ia menjadi proses transformasi, membentuk mahasiswa yang adaptif, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Karena pada akhirnya, kelas yang hidup lahir dari dosen yang mau terus belajar dan berinovasi.

Bagi banyak dosen dan mahasiswa, teknologi sering terasa jauh karena dianggap rumit. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, teknologi justru bisa menjadi alat belajar yang ramah dan menyenangkan. Canva AI adalah salah satu contoh platform yang dapat digunakan untuk mengenalkan logika coding secara sederhana, tanpa harus memahami bahasa pemrograman.

Cara Menggunakan Canva AI dalam Pembelajaran

Menggunakan Canva AI sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menyampaikan instruksi kepada seseorang. Kuncinya ada pada kejelasan perintah. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah masuk ke akun Canva, lalu memilih fitur berbasis AI seperti Magic Design, Magic Write, atau Text to Image. Setelah itu, pengguna cukup menuliskan kebutuhan atau tujuan yang ingin dicapai.

Misalnya, dosen ingin membuat materi presentasi tentang literasi keuangan. Dosen tinggal menuliskan deskripsi materi, sasaran audiens, dan gaya penyajian yang diinginkan. Canva AI kemudian akan menampilkan beberapa alternatif desain atau teks yang bisa dipilih dan disesuaikan.

Proses ini dapat diulang. Jika hasil pertama belum sesuai, instruksi dapat diperbaiki. Inilah bagian penting dari pembelajaran: mencoba, mengevaluasi, lalu memperbaiki.

Dosen Juga Bisa Membuat Game Kuis dan Platform Interaktif

Pembelajaran yang baik tidak selalu harus serius dan kaku. Mahasiswa justru sering lebih cepat memahami materi ketika suasana kelas dibuat interaktif dan menyenangkan. Di sinilah Canva AI dapat dimanfaatkan oleh dosen untuk membuat game kuis sederhana maupun media pembelajaran interaktif, tanpa perlu kemampuan coding yang rumit. Canva menyediakan berbagai template dan fitur interaktif yang bisa diolah menjadi media belajar berbasis permainan (game-based learning).

Membuat Game Kuis Interaktif dengan Canva

Dosen dapat memulai dengan memilih template presentasi atau kuis yang sudah tersedia di Canva. Banyak template yang dirancang khusus untuk kuis, tebak gambar, pilihan ganda, hingga permainan berbasis poin.

Langkah penggunaannya cukup sederhana: dengan membuat prompt sederhana 

Membuat Platform Interaktif Sederhana

Selain kuis, Canva juga memungkinkan dosen membuat media pembelajaran interaktif yang menyerupai platform mini. Misalnya:

  • Slide dengan tombol “klik di sini” untuk berpindah topik
  • Materi bercabang sesuai pilihan mahasiswa
  • Modul interaktif yang menggabungkan teks, gambar, video, dan refleksi
  • Dengan fitur link antar slide, dosen bisa membuat alur pembelajaran yang tidak linear. Mahasiswa dapat memilih materi sesuai kebutuhan atau minatnya, sehingga pembelajaran terasa lebih personal.

Peran Canva AI dalam Proses Ini

Canva AI membantu dosen dalam mempercepat proses pembuatan konten. Dosen cukup menjelaskan kebutuhan, lalu AI membantu menyusun desain, teks pendukung, atau ilustrasi awal. Dosen tetap memegang kendali penuh terhadap isi dan arah pembelajaran. Dengan kata lain, AI bukan menggantikan peran dosen, melainkan menjadi asisten yang membantu pekerjaan teknis agar dosen bisa fokus pada substansi materi.

Manfaat bagi Dosen dan Mahasiswa

Penggunaan game kuis dan platform interaktif memberikan banyak manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan partisipasi mahasiswa di kelas
  • Membuat evaluasi pembelajaran terasa lebih ringan
  • Melatih daya pikir kritis dan reflektif mahasiswa
  • Menciptakan suasana belajar yang lebih hidup

Bagi dosen, media ini juga bisa menjadi bagian dari inovasi pembelajaran dan portofolio pengembangan profesional.

Mengapa Instruksi Sangat Menentukan?

Dalam coding, satu perintah yang kurang tepat dapat menghasilkan output yang keliru. Prinsip ini juga berlaku di Canva AI. Semakin jelas dan terstruktur instruksi yang diberikan, semakin mendekati hasil yang diharapkan. Untuk membantu pengguna menyusun instruksi yang baik, dikenal sebuah pendekatan sederhana bernama Prompt SCOPE.

Mengenal Prompt SCOPE

Prompt SCOPE adalah panduan praktis untuk menulis instruksi agar mudah dipahami oleh sistem AI. Pendekatan ini juga sangat cocok diajarkan kepada mahasiswa karena melatih cara berpikir sistematis.

Berikut penjelasan tiap komponennya:

  • S – Situation (Situasi), menjelaskan konteks atau latar belakang kebutuhan.Contohnya: materi atau games interaktif digunakan untuk perkuliahan, seminar, atau media edukasi.
  • C – Context (Konteks), menjelaskan siapa sasaran pengguna atau pembaca. Misalnya: mahasiswa semester awal, siswa SMA, atau masyarakat umum
  • O – Objective (Tujuan), menjelaskan hasil yang ingin dicapai. Apakah untuk menjelaskan konsep, meningkatkan pemahaman, atau menarik minat belajar.
  • P – Process (Proses), menjelaskan bentuk atau cara penyajian yang diinginkan. Misalnya: slide presentasi, infografis, bahasa sederhana, atau poin-poin ringkas.
  • E – Expectation (Harapan), menjelaskan standar atau hasil akhir yang diharapkan. Misalnya: tampilan rapi, warna akademik, mudah dipahami, dan tidak terlalu ramai.

Contoh Prompt SCOPE di Canva AI

Sebagai contoh, dosen ingin membuat presentasi perkuliahan. Prompt yang digunakan bisa berbunyi:

Saya ingin membuat presentasi dan games interaktif perkuliahan tentang literasi keuangan untuk mahasiswa semester dua. Tujuannya agar mahasiswa memahami konsep dasar pengelolaan keuangan pribadi. Materi disajikan dalam bentuk slide sederhana, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dengan tampilan formal dan akademik disertai games kuis sebagai media untuk memperoleh penilaian.”

Prompt seperti ini membantu Canva AI memahami kebutuhan secara utuh, bukan sekadar potongan perintah.

Mengaitkan Prompt SCOPE dengan Pembelajaran Coding

Pendekatan SCOPE sejatinya melatih dosen berpikir seperti saat menulis kode : menentukan konteks, tujuan, langkah, dan hasil akhir. Inilah esensi coding yang sebenarnya, bukan hafalan sintaks, melainkan ketepatan berpikir. Dengan membiasakan menulis prompt secara terstruktur, dosen sedang menanamkan dasar computational thinking yang akan berguna di berbagai bidang.

Penutup

Canva AI bukan sekadar alat desain. Ia bisa menjadi media belajar yang mengajarkan cara berpikir runtut, teliti, dan reflektif. Melalui penggunaan yang tepat dan penerapan prompt SCOPE, dosen dan mahasiswa dapat belajar teknologi dengan cara yang manusiawi, tanpa merasa asing atau tertekan oleh istilah teknis.