ARSIP BULANAN : February 2026

Bagi banyak dosen dan mahasiswa, teknologi sering terasa jauh karena dianggap rumit. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, teknologi justru bisa menjadi alat belajar yang ramah dan menyenangkan. Canva AI adalah salah satu contoh platform yang dapat digunakan untuk mengenalkan logika coding secara sederhana, tanpa harus memahami bahasa pemrograman.

Cara Menggunakan Canva AI dalam Pembelajaran

Menggunakan Canva AI sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menyampaikan instruksi kepada seseorang. Kuncinya ada pada kejelasan perintah. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah masuk ke akun Canva, lalu memilih fitur berbasis AI seperti Magic Design, Magic Write, atau Text to Image. Setelah itu, pengguna cukup menuliskan kebutuhan atau tujuan yang ingin dicapai.

Misalnya, dosen ingin membuat materi presentasi tentang literasi keuangan. Dosen tinggal menuliskan deskripsi materi, sasaran audiens, dan gaya penyajian yang diinginkan. Canva AI kemudian akan menampilkan beberapa alternatif desain atau teks yang bisa dipilih dan disesuaikan.

Proses ini dapat diulang. Jika hasil pertama belum sesuai, instruksi dapat diperbaiki. Inilah bagian penting dari pembelajaran: mencoba, mengevaluasi, lalu memperbaiki.

Dosen Juga Bisa Membuat Game Kuis dan Platform Interaktif

Pembelajaran yang baik tidak selalu harus serius dan kaku. Mahasiswa justru sering lebih cepat memahami materi ketika suasana kelas dibuat interaktif dan menyenangkan. Di sinilah Canva AI dapat dimanfaatkan oleh dosen untuk membuat game kuis sederhana maupun media pembelajaran interaktif, tanpa perlu kemampuan coding yang rumit. Canva menyediakan berbagai template dan fitur interaktif yang bisa diolah menjadi media belajar berbasis permainan (game-based learning).

Membuat Game Kuis Interaktif dengan Canva

Dosen dapat memulai dengan memilih template presentasi atau kuis yang sudah tersedia di Canva. Banyak template yang dirancang khusus untuk kuis, tebak gambar, pilihan ganda, hingga permainan berbasis poin.

Langkah penggunaannya cukup sederhana: dengan membuat prompt sederhana 

Membuat Platform Interaktif Sederhana

Selain kuis, Canva juga memungkinkan dosen membuat media pembelajaran interaktif yang menyerupai platform mini. Misalnya:

  • Slide dengan tombol “klik di sini” untuk berpindah topik
  • Materi bercabang sesuai pilihan mahasiswa
  • Modul interaktif yang menggabungkan teks, gambar, video, dan refleksi
  • Dengan fitur link antar slide, dosen bisa membuat alur pembelajaran yang tidak linear. Mahasiswa dapat memilih materi sesuai kebutuhan atau minatnya, sehingga pembelajaran terasa lebih personal.

Peran Canva AI dalam Proses Ini

Canva AI membantu dosen dalam mempercepat proses pembuatan konten. Dosen cukup menjelaskan kebutuhan, lalu AI membantu menyusun desain, teks pendukung, atau ilustrasi awal. Dosen tetap memegang kendali penuh terhadap isi dan arah pembelajaran. Dengan kata lain, AI bukan menggantikan peran dosen, melainkan menjadi asisten yang membantu pekerjaan teknis agar dosen bisa fokus pada substansi materi.

Manfaat bagi Dosen dan Mahasiswa

Penggunaan game kuis dan platform interaktif memberikan banyak manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan partisipasi mahasiswa di kelas
  • Membuat evaluasi pembelajaran terasa lebih ringan
  • Melatih daya pikir kritis dan reflektif mahasiswa
  • Menciptakan suasana belajar yang lebih hidup

Bagi dosen, media ini juga bisa menjadi bagian dari inovasi pembelajaran dan portofolio pengembangan profesional.

Mengapa Instruksi Sangat Menentukan?

Dalam coding, satu perintah yang kurang tepat dapat menghasilkan output yang keliru. Prinsip ini juga berlaku di Canva AI. Semakin jelas dan terstruktur instruksi yang diberikan, semakin mendekati hasil yang diharapkan. Untuk membantu pengguna menyusun instruksi yang baik, dikenal sebuah pendekatan sederhana bernama Prompt SCOPE.

Mengenal Prompt SCOPE

Prompt SCOPE adalah panduan praktis untuk menulis instruksi agar mudah dipahami oleh sistem AI. Pendekatan ini juga sangat cocok diajarkan kepada mahasiswa karena melatih cara berpikir sistematis.

Berikut penjelasan tiap komponennya:

  • S – Situation (Situasi), menjelaskan konteks atau latar belakang kebutuhan.Contohnya: materi digunakan untuk perkuliahan, seminar, atau media edukasi.
  • C – Context (Konteks), menjelaskan siapa sasaran pengguna atau pembaca. Misalnya: mahasiswa semester awal, siswa SMA, atau masyarakat umum
  • O – Objective (Tujuan), menjelaskan hasil yang ingin dicapai. Apakah untuk menjelaskan konsep, meningkatkan pemahaman, atau menarik minat belajar.
  • P – Process (Proses), menjelaskan bentuk atau cara penyajian yang diinginkan. Misalnya: slide presentasi, infografis, bahasa sederhana, atau poin-poin ringkas.
  • E – Expectation (Harapan), menjelaskan standar atau hasil akhir yang diharapkan. Misalnya: tampilan rapi, warna akademik, mudah dipahami, dan tidak terlalu ramai.

Contoh Prompt SCOPE di Canva AI

Sebagai contoh, dosen ingin membuat presentasi perkuliahan. Prompt yang digunakan bisa berbunyi:

Saya ingin membuat presentasi perkuliahan tentang literasi keuangan untuk mahasiswa semester dua. Tujuannya agar mahasiswa memahami konsep dasar pengelolaan keuangan pribadi. Materi disajikan dalam bentuk slide sederhana, menggunakan bahasa yang mudah dipahami, dengan tampilan formal dan akademik.”Prompt seperti ini membantu Canva AI memahami kebutuhan secara utuh, bukan sekadar potongan perintah.

Mengaitkan Prompt SCOPE dengan Pembelajaran Coding

Pendekatan SCOPE sejatinya melatih mahasiswa berpikir seperti saat menulis kode : menentukan konteks, tujuan, langkah, dan hasil akhir. Inilah esensi coding yang sebenarnya, bukan hafalan sintaks, melainkan ketepatan berpikir. Dengan membiasakan mahasiswa menulis prompt secara terstruktur, dosen sedang menanamkan dasar computational thinking yang akan berguna di berbagai bidang.

Penutup

Canva AI bukan sekadar alat desain. Ia bisa menjadi media belajar yang mengajarkan cara berpikir runtut, teliti, dan reflektif. Melalui penggunaan yang tepat dan penerapan prompt SCOPE, dosen dan mahasiswa dapat belajar teknologi dengan cara yang manusiawi, tanpa merasa asing atau tertekan oleh istilah teknis.