KATEGORI : Evaluasi Kurikulum

Penelitian : Neva Lionitha Ibrahim (2024)

Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) merupakan kebijakan kurikulum yang digagas untuk memberi keleluasaan kepada guru dan sekolah dalam merancang pembelajaran yang lebih kontekstual, kreatif, dan sesuai kebutuhan peserta didik. Ide besar ini berupaya menjawab tantangan pembelajaran tradisional yang kaku dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan fokus pada pengembangan kompetensi abad 21.

Namun demikian, dari berbagai kajian empiris, termasuk studi kasus di SMAN 1 Telaga Biru dan SMAN 3 Gorontalo, implementasi Kurikulum Merdeka Belajar tidak selalu berjalan mulus. Penelitian kualitatif yang dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap guru dan kepala sekolah mengungkap beberapa faktor yang menghambat proses penerapan KMB sehingga idealisme kurikulum belum sepenuhnya tercapai di lapangan. 

Faktor Internal: Sumber Hambatan dari Dalam Sekolah

1. Motivasi, Sikap, dan Minat Belajar Siswa Motivasi belajar siswa menjadi salah satu kendala utama internal. Di beberapa sekolah, siswa belum sepenuhnya antusias atau siap secara mental menghadapi pembelajaran yang lebih mandiri dan kontekstual. Faktor seperti minat yang belum konsisten dan sikap pasif dalam proses pembelajaran berdampak pada efektivitas pelaksanaan KMB. 

2. Kesiapan Guru Mengimplementasikan Pendekatan Baru Sebagai ujung tombak implementasi kurikulum, guru dituntut untuk mampu merancang dan menjalankan pembelajaran berdiferensiasi, memetakan kebutuhan individual siswa, serta menerapkan asesmen autentik. Namun, keterbatasan pemahaman dan kesiapan guru dalam menerjemahkan konsep KMB ke praktik pembelajaran menjadi hambatan tersendiri. 

Faktor Eksternal: Tantangan dari Lingkungan Sekolah

1. Fasilitas & Sarana Pembelajaran Kendala sarana prasarana masih menjadi isu signifikan. Akses terhadap teknologi, seperti koneksi internet yang stabil, proyektor, dan laboratorium komputer belum merata, sehingga pembelajaran inovatif yang mengandalkan adaptasi teknologi sulit dijalankan maksimal. 

2. Dukungan Orang Tua & Lingkungan Sosial Dukungan keluarga dan lingkungan turut mempengaruhi implementasi KMB. Orang tua yang kurang memahami filosofi kurikulum baru mungkin tidak mampu mendukung anaknya secara optimal di rumah, khususnya pada pembelajaran yang lebih mandiri dan berbasis proyek.

3. Kepemimpinan Sekolah Peran kepala sekolah sangat strategis dalam menggerakkan guru dan sumber daya sekolah untuk menjalankan kurikulum baru. Kekurangan sistem pendukung di tingkat manajemen sekolah dapat memperlambat proses adaptasi dan koordinasi implementasi KMB. 

Refleksi & Implikasi Pendidikan

Studi kasus di dua SMA di Gorontalo ini menunjukkan bahwa hambatan implementasi KMB bersifat kompleks, bukan hanya masalah teknis, tetapi juga bersumber dari manusia (human factor) dan konteks lingkungan sekolah. Untuk mengatasi hal ini, beberapa langkah urgensial dapat dipertimbangkan :

  • Penguatan Kompetensi Guru melalui pelatihan lanjut dan bimbingan intensif.
  • Peningkatan Infrastruktur Sekolah yang mendukung pembelajaran digital dan proyek.
  • Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah lewat sosialisasi strategi pembelajaran baru.
  • Pendampingan Kepemimpinan Sekolah agar menjadi motor perubahan yang efektif.

Penutup

Mengimplementasikan sebuah kurikulum baru seperti Kurikulum Merdeka Belajar bukan sekadar mengganti dokumen atau perangkat ajar, tetapi menuntut perubahan budaya sekolah, dari yang serba terstruktur dan seragam menuju pembelajaran yang lebih otonom, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Hambatan yang teridentifikasi di SMAN 1 Telaga Biru dan SMAN 3 Gorontalo memberi pelajaran bahwa keberhasilan implementasi sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, dukungan infrastruktur, dan kolaborasi semua pemangku kepentingan.