ARSIP BULANAN : January 2026

Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial (terutama TikTok) dipenuhi video yang membuat kita tersenyum getir. Seorang siswa SMP dan SMA tidak mampu menjawab perkalian sederhana. Awalnya terasa lucu, lalu janggal, dan akhirnya mengkhawatirkan. Pertanyaannya bukan lagi “kok bisa?”, melainkan “apa yang sedang terjadi pada pendidikan kita?”. Fenomena ini bukan soal satu atau dua anak. Ia adalah potret kecil dari persoalan besar : melemahnya literasi dan numerasi sebagai kemampuan dasar belajar.

Literasi dan Numerasi: Bukan Sekadar Bisa Membaca dan Menghitung

Sering kali kita keliru memahami literasi dan numerasi. Literasi bukan sekadar bisa mengeja huruf, dan numerasi bukan hanya menghafal rumus atau perkalian. Keduanya adalah kemampuan berpikir : memahami informasi, menalar, dan mengambil keputusan berbasis data. Ketika anak tidak memahami soal cerita matematika, masalahnya bukan pada matematika semata, tetapi pada pemahaman bacaan. Ketika anak lupa perkalian dasar, itu bukan sekadar lupa, tetapi indikasi bahwa fondasi belajar tidak pernah benar-benar kokoh.

Mengapa Kemampuan Dasar Anak Semakin Lemah?

1. Pembelajaran yang Terlalu Cepat Meninggalkan Fondasi

Di ruang kelas, kita sering berlomba menuntaskan kurikulum. Materi terus berganti, target administrasi harus tercapai, sementara penguatan konsep dasar tertinggal. Anak naik kelas tanpa benar-benar menguasai prasyarat belajar. Dalam dunia akademik, ini dikenal sebagai learning loss, tetapi di ruang nyata, dampaknya sederhana dan nyata adalah anak tidak siap belajar pada jenjang berikutnya.

2. Budaya Hafalan Masih Dominan

Selama bertahun-tahun, sistem pembelajaran kita terlalu ramah pada hafalan dan terlalu kaku pada jawaban tunggal. Anak terbiasa mencari “jawaban benar”, bukan memahami proses berpikir. Akibatnya, ketika konteks soal sedikit berubah, mereka kehilangan pegangan. Literasi dan numerasi tumbuh dari latihan berpikir, bukan dari hafalan cepat yang mudah lupa.

3. Ketimpangan Kualitas Pembelajaran

Kita juga harus jujur: kualitas pendidikan di Indonesia tidak merata. Ada sekolah yang kaya sumber belajar, ada pula yang berjuang dengan keterbatasan guru, fasilitas, dan dukungan keluarga. Video viral di media sosial sering kali lahir dari konteks yang tidak pernah kita lihat secara utuh. Menertawakan anak dalam video itu mudah. Memahami latar belakangnya jauh lebih sulit dan jauh lebih penting.

4. Distraksi Digital Tanpa Pendampingan

Gawai bukan musuh, tetapi ketiadaan pendampingan adalah masalah. Anak-anak hidup dalam dunia serba cepat, visual, dan instan. Membaca teks panjang dan menyelesaikan soal bertahap terasa membosankan dibandingkan video 30 detik. Tanpa literasi digital yang baik, teknologi justru memperlemah ketekunan belajar.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Kembali ke Esensi: Menguatkan Fondasi

Pembelajaran tidak harus selalu cepat. Justru, perlambatlah pada konsep dasar. Lebih baik anak menguasai perkalian dengan pemahaman daripada menyelesaikan banyak materi tanpa makna. Pada level taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar perlu adanya materi dan pelatihan keterampilan halus (soft skill) dimana penekanannya adalah pada kemampuan seperti problem solving, critical thinking, teamwork dan keahlian halus lainnya yang diperlukan di era society 5.0.

2. Membaca sebagai Kebiasaan, Bukan Tugas

Literasi tidak tumbuh dari perintah “ayo membaca”, tetapi dari contoh dan kebiasaan. Anak yang melihat guru dan orang tuanya membaca akan lebih mudah menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.

3. Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Matematika tidak harus selalu ada di papan tulis. Menghitung kembalian, membaca grafik sederhana, atau membandingkan harga adalah bentuk numerasi yang nyata dan bermakna.

4. Berhenti Menertawakan, Mulai Mendampingi

Video viral seharusnya menjadi cermin refleksi, bukan bahan ejekan. Setiap anak yang kesulitan belajar adalah panggilan bagi sistem pendidikan untuk berbenah, bukan untuk mempermalukan.

Penutup: Pendidikan Bukan Tentang Cepat, Tapi Tepat

Rendahnya literasi dan numerasi anak Indonesia bukan kegagalan satu pihak. Ia adalah hasil dari sistem yang terlalu lama menomorsatukan capaian formal, dan terlalu jarang bertanya: apakah anak benar-benar memahami? Sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat, tugas kita bukan mengeluh atau menyalahkan, tetapi hadir, memahami, dan membangun kembali fondasi belajar dengan sabar. Karena pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling kuat melangkah.

 

Penelitian : Neva Lionitha Ibrahim (2024)

Kurikulum Merdeka Belajar (KMB) merupakan kebijakan kurikulum yang digagas untuk memberi keleluasaan kepada guru dan sekolah dalam merancang pembelajaran yang lebih kontekstual, kreatif, dan sesuai kebutuhan peserta didik. Ide besar ini berupaya menjawab tantangan pembelajaran tradisional yang kaku dengan pendekatan yang lebih fleksibel dan fokus pada pengembangan kompetensi abad 21.

Namun demikian, dari berbagai kajian empiris, termasuk studi kasus di SMAN 1 Telaga Biru dan SMAN 3 Gorontalo, implementasi Kurikulum Merdeka Belajar tidak selalu berjalan mulus. Penelitian kualitatif yang dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap guru dan kepala sekolah mengungkap beberapa faktor yang menghambat proses penerapan KMB sehingga idealisme kurikulum belum sepenuhnya tercapai di lapangan. 

Faktor Internal: Sumber Hambatan dari Dalam Sekolah

1. Motivasi, Sikap, dan Minat Belajar Siswa Motivasi belajar siswa menjadi salah satu kendala utama internal. Di beberapa sekolah, siswa belum sepenuhnya antusias atau siap secara mental menghadapi pembelajaran yang lebih mandiri dan kontekstual. Faktor seperti minat yang belum konsisten dan sikap pasif dalam proses pembelajaran berdampak pada efektivitas pelaksanaan KMB. 

2. Kesiapan Guru Mengimplementasikan Pendekatan Baru Sebagai ujung tombak implementasi kurikulum, guru dituntut untuk mampu merancang dan menjalankan pembelajaran berdiferensiasi, memetakan kebutuhan individual siswa, serta menerapkan asesmen autentik. Namun, keterbatasan pemahaman dan kesiapan guru dalam menerjemahkan konsep KMB ke praktik pembelajaran menjadi hambatan tersendiri. 

Faktor Eksternal: Tantangan dari Lingkungan Sekolah

1. Fasilitas & Sarana Pembelajaran Kendala sarana prasarana masih menjadi isu signifikan. Akses terhadap teknologi, seperti koneksi internet yang stabil, proyektor, dan laboratorium komputer belum merata, sehingga pembelajaran inovatif yang mengandalkan adaptasi teknologi sulit dijalankan maksimal. 

2. Dukungan Orang Tua & Lingkungan Sosial Dukungan keluarga dan lingkungan turut mempengaruhi implementasi KMB. Orang tua yang kurang memahami filosofi kurikulum baru mungkin tidak mampu mendukung anaknya secara optimal di rumah, khususnya pada pembelajaran yang lebih mandiri dan berbasis proyek.

3. Kepemimpinan Sekolah Peran kepala sekolah sangat strategis dalam menggerakkan guru dan sumber daya sekolah untuk menjalankan kurikulum baru. Kekurangan sistem pendukung di tingkat manajemen sekolah dapat memperlambat proses adaptasi dan koordinasi implementasi KMB. 

Refleksi & Implikasi Pendidikan

Studi kasus di dua SMA di Gorontalo ini menunjukkan bahwa hambatan implementasi KMB bersifat kompleks, bukan hanya masalah teknis, tetapi juga bersumber dari manusia (human factor) dan konteks lingkungan sekolah. Untuk mengatasi hal ini, beberapa langkah urgensial dapat dipertimbangkan :

  • Penguatan Kompetensi Guru melalui pelatihan lanjut dan bimbingan intensif.
  • Peningkatan Infrastruktur Sekolah yang mendukung pembelajaran digital dan proyek.
  • Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah lewat sosialisasi strategi pembelajaran baru.
  • Pendampingan Kepemimpinan Sekolah agar menjadi motor perubahan yang efektif.

Penutup

Mengimplementasikan sebuah kurikulum baru seperti Kurikulum Merdeka Belajar bukan sekadar mengganti dokumen atau perangkat ajar, tetapi menuntut perubahan budaya sekolah, dari yang serba terstruktur dan seragam menuju pembelajaran yang lebih otonom, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Hambatan yang teridentifikasi di SMAN 1 Telaga Biru dan SMAN 3 Gorontalo memberi pelajaran bahwa keberhasilan implementasi sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, dukungan infrastruktur, dan kolaborasi semua pemangku kepentingan.

 

Membuat marketing plan bukan sekadar menulis rencana pemasaran, tetapi menyusun strategi yang logis, terukur, dan bisa diimplementasikan dalam bisnis nyata. Pada artikel ini, kita akan melihat langkah-langkah penyusunan marketing plan berbasis studi kasus produk kuliner rice bowl “Bowllicious” sebagai contoh nyata yang bisa dijadikan referensi baik oleh pelaku UMKM maupun mahasiswa. 

1. Ringkasan Eksekutif (Executive Summary)

   Ringkasan eksekutif adalah bagian pembuka yang menjelaskan secara singkat siapa pelaku usaha, apa produk yang ditawarkan, serta tujuan utama penyusunan marketing plan. Pada Bowllicious, ringkasan ini mencakup gambaran produk rice bowl praktis dan sehat yang menyasar pelajar, mahasiswa, dan pekerja muda dengan gaya hidup sibuk. 

Tips untuk dosen/mahasiswa :Buat ringkasan dalam 1–5 paragraf yang langsung menangkap esensi usaha dan peluang pasar, serta mengapa rencana ini penting.

2. Analisis Situasi (Situation Analysis)

    Analisis situasi meliputi tinjauan internal dan eksternal usaha. Komponen pentingnya :

  • Analisis Pasar : memetakan tren konsumsi (misalnya tren rice bowl) dan karakteristik pasar (misalnya gaya hidup urban yang menyukai makanan praktis).
  • Analisis Kompetitor: mengidentifikasi pesaing utama, keunggulan serta kelemahannya dibanding usaha Anda.
  • Analisis SWOT: kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats). Strength : bahan segar, harga terjangkauWeakness : brand awareness masih rendahOpportunities : tren makanan cepat saji sehat meningkatThreats : banyak kompetitor sejenis

Kenapa penting? Analisis ini membantu kita memahami konteks usaha sehingga strategi yang dibuat relevan dengan kondisi nyata pasar.

3. Segmentasi, Targeting, dan Positioning (STP)     

    STP merupakan inti dari marketing plan:

  • Segmentasi: mengelompokkan pasar berdasarkan demografis, geografis, psikografis, dan perilaku konsumen.
  • Targeting: memilih kelompok yang paling potensial untuk dilayani, misalnya mahasiswa dan pekerja muda.
  • Positioning: menentukan bagaimana produk ingin dipersepsikan, misalnya rice bowl sehat, cepat, dan terjangkau untuk gaya hidup aktif. 

     Tips: Gunakan data riset sederhana (misalnya survei kecil, observasi langsung, atau data dari aplikasi pesan antar) untuk memperkuat STP Anda.

4. Tujuan Pemasaran (Marketing Objectives)   

     Tentukan tujuan yang spesifik, terukur, realistis, relevan, dan berbatas waktu (SMART):

     Contoh tujuan jangka pendek :

  • Meningkatkan brand awareness di area kampus
  • Menambah jumlah pelanggan baru hingga n persen dalam 3 bulan

      Contoh tujuan jangka panjang:

  • Ekspansi outlet baru dalam 1–2 tahun
  • Meningkatkan repeat order pelanggan tetap ResearchGate
  • Tujuan ini jadi arah bagi seluruh strategi pemasaran Anda.

5. Strategi Marketing Mix (4P)   

    Strategi ini menguraikan marketing mix atau bauran pemasaran:

  1. Product (Produk)Tentukan atribut produk yang akan ditawarkan: Varian menu, Bahan berkualitas, Kemasan yang praktis, Nilai tambah (misalnya pilihan level kepedasan, menu musiman)
  2. Price (Harga)Harga harus kompetitif namun tetap memberi margin: Pertimbangkan daya beli target pasar dan gunakan pendekatan harga berbasis nilai (value for money)
  3. Place (Tempat/Distribusi)Pilih saluran distribusi yang efisien: Penjualan langsung di lokasi strategis, Kerjasama dengan aplikasi ojek online, Pre-order melalui media sosial.
  4. Promotion (Promosi)Promosi mencakup kombinasi offline dan digital: Konten di Instagram/TikTok, Promo launching, diskon early bird, Kolaborasi dengan food influencer, Strategi promotion semakin penting di era digital, karena dapat menjangkau konsumen lebih luas secara lebih ekonomis. 

6. Timeline dan Anggaran   

     Setelah strategi dirumuskan, buat jadwal pelaksanaan dan hitung bujet pemasaran, contoh jadwal:

  • Bulan 1: persiapan konten digital & soft launching
  • Bulan 2–3: kampanye promo dan evaluasi awal

   Anggaran mencakup:

  • Biaya iklan berbayar
  • Pengelolaan media sosial
  • Promo diskon/loyalty program

7. Pengukuran & Evaluasi   

     Tanpa evaluasi, plan tidak dapat dikatakan berhasil. Ukur hasil dengan Key Performance Indicators (KPI) seperti:

  • Jumlah pelanggan baru
  • Pertumbuhan penjualan
  • Engagement di media sosial

     Evaluasi ini berguna untuk menyesuaikan strategi selanjutnya agar lebih efektif. 

PenutupMenyusun marketing plan yang baik membantu usaha kuliner, baik start-up UMKM maupun mahasiswa yang ingin belajar pemasaran, berpikir terstruktur dan pragmatis. Kasus Bowllicious menunjukkan bahwa dengan pemahaman pasar yang tepat, strategi pemasaran yang relevan, serta evaluasi berkala, sebuah usaha sederhana bisa direncanakan secara profesional.contoh marketing plan klik disini