ARSIP BULANAN : January 2026

Evaluasi pembelajaran sering kali dipahami sebatas angka. nilai ujian, rata-rata kelas, atau persentase ketuntasan belajar. Padahal, di balik angka-angka tersebut tersembunyi persoalan yang lebih mendasar, yakni sejauh mana instrumen penilaian benar-benar mampu mengukur kemampuan peserta didik secara adil dan akurat. Di sinilah Rasch Model hadir sebagai pendekatan evaluasi modern yang tidak hanya fokus pada skor akhir, tetapi juga pada kualitas instrumen dan respons peserta didik.

Apa Itu Rasch Model?

Rasch Model merupakan bagian dari Item Response Theory (IRT) yang dikembangkan oleh Georg Rasch, seorang ahli statistik dari Denmark. Model ini digunakan untuk menganalisis hubungan antara kemampuan individu (ability) dan tingkat kesulitan butir soal (item difficulty) dalam satu skala pengukuran yang sama. Berbeda dengan pendekatan klasik yang bergantung pada nilai rata-rata dan distribusi skor, Rasch Model menempatkan peserta didik dan butir soal dalam satu peta logit, sehingga keduanya dapat dibandingkan secara objektif.

Dalam konteks evaluasi pembelajaran, Rasch Model membantu dosen memahami apakah suatu soal terlalu mudah, terlalu sulit, atau justru tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dengan demikian, penilaian tidak lagi sekadar menilai hasil belajar, tetapi juga mengevaluasi alat ukur itu sendiri.

Rasch Model dalam Evaluasi Pembelajaran

Penerapan Rasch Model dalam evaluasi pembelajaran memungkinkan dosen melakukan analisis yang lebih mendalam terhadap proses asesmen. Model ini dapat mengidentifikasi butir soal yang bias, tidak konsisten, atau tidak sesuai dengan tingkat kemampuan mahasiswa. Selain itu, Rasch Model juga mampu mendeteksi pola jawaban mahasiswa yang tidak wajar, seperti menebak atau menjawab secara asal.

Keunggulan lainnya adalah kemampuan Rasch Model dalam menghasilkan pengukuran yang lebih adil. Nilai mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh jumlah jawaban benar, tetapi juga oleh tingkat kesulitan soal yang berhasil dikerjakan. Hal ini menjadikan evaluasi pembelajaran lebih proporsional dan mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Mengapa Rasch Model Relevan bagi Dosen?

Di era pembelajaran berbasis outcome dan akreditasi berbasis mutu, dosen dituntut untuk menyusun instrumen evaluasi yang valid dan reliabel. Rasch Model memberikan kerangka ilmiah yang kuat untuk menjawab tuntutan tersebut. Dengan menggunakan Rasch Model, dosen dapat memperbaiki kualitas soal secara berkelanjutan, menyusun bank soal yang teruji, serta memastikan bahwa penilaian selaras dengan capaian pembelajaran mata kuliah.

Lebih dari itu, Rasch Model mendorong dosen untuk melihat evaluasi sebagai bagian dari proses refleksi pedagogik. Ketika hasil analisis menunjukkan adanya soal yang tidak berfungsi, hal tersebut bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan peluang untuk memperbaiki desain pembelajaran.

Tantangan dan Peluang Implementasi

Meski menawarkan banyak keunggulan, penerapan Rasch Model masih menghadapi tantangan, terutama terkait pemahaman statistik dan penggunaan perangkat lunak analisis seperti Winsteps atau R. Namun, tantangan ini justru membuka peluang peningkatan kompetensi dosen dalam literasi data dan evaluasi pembelajaran berbasis riset.

Dengan pelatihan yang tepat dan dukungan institusi, Rasch Model dapat menjadi alat strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi. Evaluasi tidak lagi menjadi momok bagi mahasiswa, melainkan sarana pembelajaran yang adil, transparan, dan bermakna.

Penutup

Rasch Model mengajak kita untuk melihat evaluasi pembelajaran dari perspektif yang lebih dalam dan manusiawi. Bukan sekadar siapa yang lulus dan siapa yang tidak, tetapi bagaimana proses belajar diukur secara adil dan bertanggung jawab. Bagi dosen, Rasch Model bukan hanya alat analisis, melainkan cermin kualitas pembelajaran yang terus dapat diperbaiki.

Pendahuluan

Beberapa tahun lalu mungkin masih terlintas di ingatan kita bahwa ada tren Food Court di Kota Gorontalo. Namun dengan berjalannya waktu hampir seluruh Food Court yang ada di Kota Gorontalo redup dan lenyap sati per satu. Sebagai gantinya, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena streetfood atau kuliner kaki lima di Gorontalo menunjukkan perkembangan yang signifikan dan menjadi bagian penting dari lanskap ekonomi perkotaan. Kehadiran pedagang streetfood tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dengan harga terjangkau, tetapi juga mencerminkan dinamika ekonomi informal yang hidup dan adaptif. Streetfood tumbuh seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat perkotaan, perubahan gaya hidup, serta keterbatasan daya beli sebagian konsumen terhadap kuliner formal seperti restoran dan kafe modern. Fenomena ini menunjukkan bahwa streetfood bukan sekadar aktivitas ekonomi sederhana, melainkan ruang sosial yang mempertemukan aspek budaya, ekonomi, dan interaksi masyarakat. Oleh karena itu, streetfood di Gorontalo layak dikaji sebagai fenomena ekonomi lokal yang memiliki peluang besar sekaligus tantangan struktural yang kompleks.

Streetfood sebagai Representasi Ekonomi Rakyat

Streetfood di Gorontalo didominasi oleh pelaku usaha mikro dengan skala modal yang relatif kecil dan pengelolaan yang masih sederhana. Bagi banyak masyarakat, khususnya kepala keluarga dan generasi muda, streetfood menjadi alternatif lapangan pekerjaan yang realistis di tengah keterbatasan kesempatan kerja formal. Aktivitas ini menunjukkan daya tahan ekonomi rakyat dalam menghadapi tekanan ekonomi, seperti kenaikan harga bahan pokok dan ketatnya persaingan kerja. Dengan demikian, keberadaan streetfood berkontribusi langsung terhadap sirkulasi ekonomi lokal yang berbasis komunitas.

Peluang Streetfood di Gorontalo

1. Pasar yang Alami dan Terbentuk Secara Organik

Pasar Sentral Gorontalo merupakan ruang ekonomi yang secara alami menghadirkan arus manusia dalam jumlah besar setiap hari. Aktivitas jual beli sejak pagi hingga malam menciptakan pasar potensial yang stabil bagi pelaku street food. Konsumen tidak perlu “dicari” karena keberadaan mereka sudah terbentuk oleh fungsi pasar itu sendiri. Kondisi ini menjadikan emperan jalan sekitar pasar sebagai lokasi strategis dengan tingkat visibilitas dan aksesibilitas yang tinggi. Dalam perspektif ekonomi mikro, kondisi ini menciptakan permintaan efektif yang relatif konstan.

2. Karakter Konsumen yang Beragam dan Loyal

Konsumen street food di kawasan Pasar Sentral berasal dari berbagai segmen, mulai dari pedagang pasar, buruh angkut, sopir bentor, pegawai toko, hingga mahasiswa dan masyarakat sekitar. Keberagaman ini membuat permintaan terhadap street food sangat variatif, baik dari sisi harga, porsi, maupun jenis menu. Konsumen umumnya memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap pedagang tertentu karena faktor rasa, kedekatan emosional, dan kebiasaan. Loyalitas ini menjadi modal sosial yang kuat bagi keberlanjutan usaha street food.

3. Sensitivitas Harga yang Menguntungkan Street Food

Sebagian besar konsumen Pasar Sentral memiliki karakter sensitif terhadap harga dan mengutamakan nilai guna. Street food mampu menjawab kebutuhan ini dengan menawarkan makanan yang terjangkau namun mengenyangkan. Dalam konteks ini, street food memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan usaha kuliner formal yang cenderung lebih mahal. Kombinasi antara harga murah, porsi besar, dan rasa yang familiar menjadikan street food sebagai pilihan rasional konsumen. Hal ini menciptakan pasar yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi.

4. Tren Konsumsi Praktis dan Cepat Saji

Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan mendorong meningkatnya permintaan terhadap makanan yang praktis dan cepat disajikan. Konsumen Pasar Sentral umumnya memiliki keterbatasan waktu karena aktivitas ekonomi yang padat. Street food menawarkan solusi konsumsi instan tanpa prosedur yang rumit. Tren ini semakin memperkuat posisi street food sebagai bagian dari sistem pangan perkotaan. Ke depan, permintaan terhadap makanan cepat, sederhana, dan mudah diakses diperkirakan akan terus meningkat.

5. Konsumsi Berbasis Pengalaman Sosial

Street food di emperan jalan tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga pengalaman sosial. Konsumen menikmati suasana makan yang egaliter, informal, dan penuh interaksi sosial. Aktivitas makan sering kali menjadi ruang berbagi cerita, melepas lelah, dan membangun relasi sosial. Pengalaman ini sulit digantikan oleh restoran modern yang cenderung individualistis. Nilai pengalaman ini menjadi daya tarik tersendiri yang memperkuat posisi street food di mata konsumen.

6. Tren Kuliner Lokal dan Nostalgia Rasa

Meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner lokal menjadi peluang besar bagi street food Pasar Sentral. Konsumen mulai mencari cita rasa tradisional yang otentik dan dekat dengan memori kolektif mereka. Street food yang mempertahankan resep lokal memiliki keunggulan karena dianggap lebih “asli” dan jujur. Tren nostalgia rasa ini mendorong konsumen untuk kembali ke makanan sederhana yang sarat makna budaya. Hal ini memperluas pasar street food tidak hanya sebagai kebutuhan, tetapi juga sebagai identitas.

7. Pola Konsumsi Waktu Tertentu (Time-Based Demand)

Permintaan street food di Pasar Sentral sangat dipengaruhi oleh waktu, seperti pagi hari, jam istirahat siang, dan malam hari. Pola ini menciptakan peluang optimalisasi waktu jualan bagi pedagang. Dengan strategi menu dan jam operasional yang tepat, pelaku usaha dapat memaksimalkan pendapatan harian. Time-based demand ini juga memungkinkan diversifikasi menu sesuai kebutuhan konsumen pada waktu tertentu. Fleksibilitas ini menjadi keunggulan khas street food.

8. Potensi Ekspansi Pasar melalui Digitalisasi Sederhana

Meskipun berbasis emperan jalan, street food memiliki peluang memperluas pasar melalui digitalisasi sederhana. Konsumen mulai terbiasa memesan lewat pesan singkat, grup WhatsApp, atau aplikasi peta digital. Eksposur melalui media sosial juga memperluas segmen konsumen di luar pengunjung pasar. Digitalisasi ini tidak harus kompleks, tetapi cukup untuk meningkatkan keterjangkauan pasar. Dengan demikian, street food dapat memperluas permintaan tanpa kehilangan karakter lokalnya.

9. Ketahanan Permintaan di Tengah Perubahan Ekonomi

Street food di Pasar Sentral memiliki karakter pasar yang relatif tahan terhadap krisis ekonomi. Ketika daya beli menurun, konsumen cenderung beralih ke makanan yang lebih murah namun tetap mengenyangkan. Hal ini menjadikan street food sebagai “safety net consumption” bagi masyarakat. Ketahanan permintaan ini menjadikan street food sebagai usaha dengan risiko pasar yang relatif lebih rendah. Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini menunjukkan elastisitas permintaan yang menguntungkan.

Tantangan Streetfood di Gorontalo

1. Penataan Ruang dan Infrastruktur yang Terbatas

Salah satu tantangan utama streetfood di Gorontalo adalah keterbatasan penataan ruang publik. Banyak pedagang beroperasi di lokasi yang belum didukung fasilitas memadai, seperti sanitasi, tempat sampah, dan pencahayaan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan konsumen, tetapi juga memengaruhi citra streetfood secara keseluruhan. Ketidakteraturan lokasi berdagang sering kali menimbulkan konflik dengan pengguna ruang publik lainnya. Oleh karena itu, masalah infrastruktur menjadi isu mendasar yang perlu mendapat perhatian serius.

2. Regulasi dan Kepastian Usaha

Streetfood sering berada pada posisi rentan akibat lemahnya kepastian hukum dan regulasi yang belum berpihak sepenuhnya. Banyak pelaku usaha menghadapi ketidakpastian terkait izin usaha, relokasi, atau penertiban. Kondisi ini menciptakan rasa tidak aman dalam menjalankan usaha jangka panjang. Ketidaksinkronan kebijakan antara penataan kota dan pemberdayaan UMKM memperparah kerentanan tersebut. Tanpa regulasi yang jelas dan adil, potensi streetfood sulit berkembang secara berkelanjutan.

3. Kualitas Produk, Higiene, dan Keamanan Pangan

Isu kebersihan dan keamanan pangan masih menjadi tantangan serius bagi streetfood. Keterbatasan pengetahuan dan fasilitas membuat standar higiene belum diterapkan secara konsisten. Hal ini berisiko menurunkan kepercayaan konsumen, terutama wisatawan dan kelompok menengah ke atas. Dalam jangka panjang, masalah ini dapat menghambat upaya menjadikan streetfood sebagai bagian dari wisata kuliner unggulan. Oleh karena itu, peningkatan literasi higiene dan standar pangan menjadi kebutuhan mendesak.

4. Persaingan dan Keberlanjutan Usaha

Streetfood di Gorontalo juga menghadapi persaingan ketat, baik antar sesama pedagang maupun dengan usaha kuliner modern. Banyak pelaku usaha yang belum memiliki strategi diferensiasi produk dan manajemen usaha yang baik. Akibatnya, tidak sedikit usaha streetfood yang bertahan hanya dalam jangka pendek. Ketergantungan pada tren dan lokasi tanpa inovasi berkelanjutan menjadi faktor utama kegagalan usaha. Tantangan ini menuntut peningkatan kapasitas kewirausahaan pelaku streetfood.

Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi

Pengembangan streetfood di Gorontalo memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha. Pemerintah perlu menyediakan ruang usaha yang tertata, aman, dan higienis tanpa menghilangkan karakter informal streetfood. Akademisi dapat berperan melalui pendampingan, riset, dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Sementara itu, pelaku streetfood perlu didorong untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan. Pendekatan kolaboratif ini penting agar streetfood tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Penutup

Fenomena streetfood di Gorontalo mencerminkan dinamika ekonomi rakyat yang adaptif dan berbasis budaya lokal. Di balik peluang besar yang dimiliki, terdapat tantangan struktural yang membutuhkan penanganan komprehensif dan berkelanjutan. Streetfood bukan sekadar persoalan kuliner, tetapi bagian dari strategi pembangunan ekonomi lokal yang inklusif. Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan lintas sektor, streetfood dapat menjadi simbol kemandirian ekonomi dan identitas kota Gorontalo di masa depan.

Tulisan ini disusun sebagai ringkasan riset dan refleksi akademik untuk membantu dosen dan mahasiswa memahami arah perubahan dunia kerja Indonesia menuju tahun 2026. Berbagai laporan nasional dan internasional menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja tidak lagi hanya ditentukan oleh ijazah, tetapi oleh relevansi keterampilan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Oleh karena itu, pemetaan pekerjaan dan skill yang paling dibutuhkan menjadi penting sebagai dasar perencanaan pembelajaran dan pengembangan diri.

1. Pekerjaan Paling Dibutuhkan di Indonesia 2026

Pasar tenaga kerja Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan semakin didominasi oleh pekerjaan berbasis digital, teknologi, dan manajemen strategis. Transformasi digital mendorong organisasi untuk mencari tenaga kerja yang mampu mengelola teknologi sekaligus memahami konteks bisnis dan sosial. Berdasarkan berbagai laporan media dan rekap industri, beberapa posisi berikut menjadi yang paling banyak dibutuhkan. Beberapa pekerjaan yang paling dibutuhkan :

  1. VP Artificial Intelligence : Posisi ini berperan strategis dalam perencanaan dan pengembangan teknologi AI di perusahaan. Selain kemampuan teknis, jabatan ini menuntut kepemimpinan dan pengambilan keputusan berbasis data.
  2. Software Engineer / Developer : Profesi ini tetap menjadi tulang punggung industri digital karena hampir semua sektor membutuhkan sistem dan aplikasi berbasis teknologi.
  3. Cybersecurity Specialist : Meningkatnya ancaman kejahatan siber menjadikan keamanan data sebagai prioritas utama perusahaan dan institusi publik.
  4. Cloud Computing Architect / Cloud Engineer : Posisi ini mendukung efisiensi dan skalabilitas sistem digital melalui pengelolaan infrastruktur berbasis cloud.
  5. Human Resources Tech & Talent Acquisition : HR modern dituntut tidak hanya memahami manusia, tetapi juga sistem digital dan analitik SDM.
  6. Finance & Fintech Specialist  : Perkembangan teknologi finansial mendorong kebutuhan tenaga ahli yang memahami keuangan sekaligus teknologi.
  7. UX/UI Designer : Fokus pada pengalaman pengguna menjadi kunci keberhasilan produk digital di tengah persaingan pasar.
  8. Supply Chain & Digital Logistics : Digitalisasi rantai pasok meningkatkan efisiensi distribusi dan pengelolaan logistik.

Catatan: Daftar ini merupakan rangkuman dari laporan Talent Insider dan berbagai media nasional yang memetakan kebutuhan tenaga kerja Indonesia tahun 2026.

2. Tren Keterampilan yang Dibutuhkan di Tahun 2026

Selain jenis pekerjaan, aspek yang tidak kalah penting adalah keterampilan yang menyertainya. Dunia kerja masa depan menuntut kombinasi antara keterampilan teknis dan non-teknis agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat.

A. Hard Skills (Keterampilan Teknis)Keterampilan teknis menjadi fondasi utama dalam banyak profesi, khususnya yang berbasis teknologi.

  1. AI & Machine Learning – Kemampuan mengembangkan dan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendukung pengambilan keputusan.
  2. Cloud Computing & Cloud Security – Penguasaan sistem cloud serta aspek keamanannya untuk menjamin keberlanjutan layanan digital.
  3. Cybersecurity & Threat Management – Kemampuan melindungi sistem dan data dari berbagai ancaman digital.
  4. Data Analytics & Big Data – Keterampilan mengolah dan menganalisis data besar untuk menghasilkan insight bisnis.
  5. Software Development & Programming – Kemampuan pemrograman tetap menjadi skill inti di berbagai sektor.

B. Soft Skills (Keterampilan Non-Teknis)Di tengah kemajuan teknologi, keterampilan manusia justru semakin bernilai karena tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh mesin.

  1. Judgment & Decision-Making – Kemampuan menilai hasil analisis teknologi dan mengambil keputusan strategis.
  2. Critical Thinking & Problem-Solving – Kecakapan menganalisis masalah kompleks dan merumuskan solusi.
  3. Communication & Empathy – Kemampuan berkomunikasi secara efektif dan membangun hubungan kerja yang sehat.
  4. Adaptability & Lifelong Learning – Kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perubahan teknologi.
  5. Kajian Bank Dunia juga menegaskan bahwa keterampilan dasar seperti menulis, berbicara, berpikir kritis, dan koordinasi tetap menjadi kebutuhan utama di berbagai jenis pekerjaan.

3. Konteks Pasar Kerja Indonesia 2026

Transformasi digital dan pertumbuhan ekonomi nasional mendorong meningkatnya permintaan tenaga kerja dengan keterampilan teknologi tingkat lanjut. Profesi di bidang AI, cloud, dan keamanan siber bahkan menawarkan gaji di atas rata-rata karena keterbatasan talenta yang tersedia. Selain itu, sektor manajemen bisnis, pemasaran digital, dan SDM strategis juga berkembang karena perusahaan membutuhkan individu yang mampu menjembatani teknologi dengan pengambilan keputusan bisnis. Tren ini menunjukkan bahwa kompetensi kerja masa depan bersifat multidimensional.

4. Rekomendasi untuk Pengembangan SDM

Agar pengembangan sumber daya manusia lebih relevan dengan kebutuhan masa depan, beberapa hal berikut perlu menjadi perhatian.

  • Fokus pada Skill Gap

Masih terdapat kesenjangan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri, khususnya pada keterampilan digital tingkat lanjut. Oleh karena itu, pendidikan vokasi dan perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulum dan metode pembelajaran.

  • Lifelong Learning & Upskilling

Kemampuan untuk terus belajar menjadi kunci daya saing individu di pasar kerja 2026 dan seterusnya. Sikap terbuka terhadap pembelajaran baru harus ditanamkan sejak bangku kuliah.

  • Peran Perguruan Tinggi & Kursus

Perguruan tinggi dan lembaga pelatihan memiliki peran strategis dalam menghubungkan kurikulum dengan kebutuhan industri, termasuk melalui integrasi materi AI, cloud, dan cybersecurity.

Daftar Pustaka

  • CNBC Indonesia. (2026, Januari 6). 12 pekerjaan paling dibutuhkan di Indonesia 2026, segini gajinya. https://www.cnbcindonesia.com/tech/20260106142526-37-700038/12-pekerjaan-paling-dibutuhkan-di-indonesia-2026-segini-gajinya
  • LinkedIn Talent Solutions. (2025). Jobs on the rise & skills outlook. https://economicgraph.linkedin.com/
  • World Bank. (2021). Indonesia jobs outlook: Towards a resilient workforce. World Bank Group.
  • World Economic Forum. (2023). The future of jobs report 2023. World Economic Forum.

 

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak.” Dalam sistem pendidikan tinggi, banyak mahasiswa merasa tidak mendapatkan nilai A adalah bencana. Nilai A memang dipandang sebagai capaian ideal dan sering diasosiasikan dengan kecerdasan, kedisiplinan, serta keberhasilan akademik. Namun, berbagai kajian pendidikan menunjukkan bahwa prestasi akademik bukan satu-satunya indikator keberhasilan mahasiswa, baik selama studi maupun setelah lulus (Keng, 2023; Ngo, 2024).

Dengan demikian, nilai A perlu dipahami sebagai salah satu tujuan, bukan tujuan tunggal dalam proses pendidikan.

1. Nilai A adalah Target yang Wajar, Bukan Kewajiban Mutlak

Berusaha mendapatkan nilai A mencerminkan sikap serius, tanggung jawab, dan komitmen mahasiswa terhadap proses belajar. Dalam konteks tertentu, seperti seleksi beasiswa, studi lanjut, dan jalur akademik, nilai akademik tinggi memang memiliki nilai strategis (Casali & Meneghetti, 2023). Nilai juga menjadi indikator penguasaan materi dan kemampuan berpikir analitis.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa tekanan untuk selalu meraih nilai tinggi dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan mahasiswa jika tidak diimbangi dengan dukungan psikologis dan fleksibilitas pembelajaran. Casali dan Meneghetti (2023) menemukan bahwa orientasi berlebihan pada nilai dapat meningkatkan stres akademik tanpa selalu meningkatkan kompetensi nyata mahasiswa. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah usaha maksimal dan proses belajar yang bermakna, bukan sekadar huruf A di akhir semester.

2. Nilai Tidak Selalu Mewakili Kompetensi Utuh

Nilai akademik pada umumnya mengukur aspek kognitif, seperti kemampuan mengingat, memahami, dan menganalisis materi. Padahal, keberhasilan mahasiswa di dunia nyata juga sangat ditentukan oleh kompetensi non-kognitif, seperti komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, dan pengendalian emosi (Mwita et al., 2024).

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan IPK sedang, tetapi memiliki soft skills yang baik, justru lebih adaptif dan kompetitif di dunia kerja dibandingkan mereka yang hanya unggul secara akademik (Ngo, 2024). Hal ini menegaskan bahwa nilai A tidak selalu identik dengan kesiapan profesional atau kesuksesan jangka panjang.

3. Belajar Bukan Perlombaan, tetapi Proses Bertumbuh

Teori perkembangan belajar menekankan bahwa setiap individu memiliki latar belakang, kapasitas, dan ritme belajar yang berbeda. Pendekatan growth mindset yang diperkenalkan oleh Dweck (2006) menyatakan bahwa keberhasilan belajar lebih ditentukan oleh kemauan untuk bertumbuh dan belajar dari kesalahan, bukan oleh hasil instan semata.

Dalam konteks mahasiswa yang memiliki tanggung jawab tambahan, seperti bekerja sambil kuliah atau mengurus keluarga, standar tunggal “harus A” justru berpotensi melahirkan kecemasan akademik dan kelelahan mental. Yang lebih penting adalah progres personal, yakni apakah mahasiswa berkembang dari waktu ke waktu, bukan sekadar bagaimana ia dibandingkan dengan orang lain.

4. Perspektif Kebiasaan : Konsisten Lebih Penting dari Sempurna

James Clear dalam Atomic Habits menegaskan bahwa keberhasilan jangka panjang dibentuk oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bukan oleh pencapaian besar yang sesekali terjadi (Clear, 2018). Prinsip ini sangat relevan dalam konteks pendidikan tinggi.

Mahasiswa yang membangun kebiasaan belajar teratur, aktif berdiskusi, membaca secara konsisten, dan merefleksikan proses belajarnya cenderung mengalami perkembangan akademik dan personal yang lebih stabil. Penelitian Keng (2023) menunjukkan bahwa kebiasaan belajar dan keterampilan non-kognitif berkontribusi signifikan terhadap capaian akademik dan kesiapan karier. Dalam hal ini, nilai A bisa menjadi hasil sampingan, tetapi kebiasaan baik adalah bekal jangka panjang.

5. Jadi, Apa yang Sebaiknya Dikejar Mahasiswa?

Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian, mahasiswa sebaiknya :

  • Berfokus pada pemahaman materi, bukan sekadar lulus ujian
  • Menjaga integritas akademik sebagai bagian dari pembentukan karakter
  • Mengembangkan soft skills seiring dengan capaian akademik
  • Menjadikan nilai sebagai alat evaluasi pembelajaran, bukan sumber harga diri

Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pendidikan tinggi, yaitu membentuk lulusan yang kompeten secara intelektual sekaligus matang secara sosial dan emosional.

Penutup

Mahasiswa boleh dan sah menargetkan nilai A. Namun, mahasiswa tidak dapat disebut gagal hanya karena memperoleh nilai B atau C, selama ia belajar dengan sungguh-sungguh dan terus bertumbuh. Penelitian dan teori pendidikan menegaskan bahwa kesuksesan mahasiswa merupakan hasil interaksi antara kemampuan akademik, soft skills, kebiasaan belajar, dan konteks kehidupan yang dijalani. Pendidikan tinggi seharusnya melahirkan manusia pembelajar, bukan sekadar pengumpul huruf di transkrip nilai.

Daftar Pustaka :

  • Casali, N., & Meneghetti, C. (2023). Soft skills and study-related factors: Direct and indirect associations with academic achievement and general distress in university students. Education Sciences, 13(6), 612. https://doi.org/10.3390/educsci13060612
  • Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. New York: Avery.
  • Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York: Random House.
  • Keng, S. H. (2023). The effect of soft skills on academic outcomes. The B.E. Journal of Economic Analysis & Policy, 24(1). https://doi.org/10.1515/bejeap-2022-0342
  • Mwita, K., Mwilongo, N., & Mwamboma, I. (2024). The role of soft skills, technical skills and academic performance on graduate employability. International Journal of Research in Business and Social Science, 13(5), 767–776. https://doi.org/10.20525/ijrbs.v13i5.3457
  • Ngo, T. T. A. (2024). The importance of soft skills for academic performance and career development from the perspective of university students. International Journal of Engineering Pedagogy, 14(3), 53–68. https://doi.org/10.3991/ijep.v14i3.45425

 

Dalam dunia pendidikan tinggi, nilai akademik sering dijadikan tolok ukur utama keberhasilan mahasiswa. IPK tinggi dianggap sebagai simbol kecerdasan, kedisiplinan, dan kesiapan menghadapi dunia kerja. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan individu tidak selalu berjalan lurus dengan angka di transkrip nilai. Banyak lulusan dengan prestasi akademik tinggi justru menghadapi kesulitan dalam beradaptasi, berkomunikasi, atau bekerja dalam tim di lingkungan profesional (Ngo, 2024; Mwita et al., 2024). Di titik inilah peran soft skills menjadi semakin relevan dan tak terpisahkan dari pembahasan tentang kesuksesan.

Tulisan ini mengajak kita melihat secara lebih utuh bagaimana nilai akademik dan soft skills saling berkontribusi terhadap keberhasilan individu, baik dalam konteks studi maupun kehidupan profesional.

1. Nilai Akademik : Fondasi Kognitif yang Tetap Penting

Nilai akademik merepresentasikan penguasaan pengetahuan, kemampuan berpikir logis, serta ketekunan mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran formal. Dalam konteks tertentu, seperti seleksi beasiswa, studi lanjut, dan profesi akademik, capaian akademik masih menjadi indikator penting dan sering digunakan sebagai syarat administratif utama (Keng, 2023). Nilai juga mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam memahami konsep, menganalisis masalah, serta menyelesaikan tugas secara sistematis.

Namun demikian, penelitian menunjukkan bahwa nilai akademik lebih dominan mengukur aspek kognitif dan belum sepenuhnya merepresentasikan kemampuan non-teknis mahasiswa. Casali dan Meneghetti (2023) menemukan bahwa prestasi akademik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan sosial, regulasi emosi, dan ketahanan psikologis mahasiswa. Oleh karena itu, nilai akademik sebaiknya dipahami sebagai fondasi intelektual, bukan satu-satunya penentu keberhasilan jangka panjang.

2. Soft Skills : Kompetensi Tak Tertulis yang Menentukan Daya Tahan

Soft skills mencakup kemampuan komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, berpikir kritis, kreativitas, serta pengendalian emosi. Sejumlah studi internasional menunjukkan bahwa soft skills memiliki pengaruh signifikan terhadap kesiapan kerja dan keberhasilan karier lulusan perguruan tinggi (Mwita et al., 2024). Bahkan, dalam banyak kasus, soft skills menjadi faktor pembeda utama antara lulusan yang cepat beradaptasi dan mereka yang mengalami stagnasi karier.

Dalam kehidupan mahasiswa, soft skills terbentuk melalui proses yang sering kali tidak formal, seperti diskusi kelas, organisasi kemahasiswaan, kerja kelompok, dan cara menghadapi kegagalan akademik. Ngo (2024) menegaskan bahwa mahasiswa dengan soft skills yang baik cenderung memiliki kepercayaan diri lebih tinggi dan kesiapan transisi yang lebih baik dari dunia kampus ke dunia kerja. Sayangnya, karena tidak selalu tercatat dalam sistem penilaian formal, soft skills kerap dipandang sebelah mata, padahal justru menjadi modal utama di dunia nyata.

3. Kesuksesan sebagai Proses, Bukan Sekadar Hasil

Kesuksesan tidak hadir secara instan, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan kebiasaan, konsistensi, dan kemampuan mengelola diri. Dalam konteks ini, pemikiran James Clear dalam buku Atomic Habits menjadi relevan. Clear (2018) menekankan bahwa perubahan besar dalam hidup dan karier seseorang berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Bagi mahasiswa, kebiasaan sederhana seperti membaca secara rutin, mengelola waktu belajar, berani menyampaikan pendapat, dan belajar mendengarkan orang lain merupakan bentuk investasi soft skills jangka panjang. Penelitian Keng (2023) menunjukkan bahwa kebiasaan belajar yang konsisten dan kemampuan non-kognitif berkontribusi terhadap peningkatan hasil akademik sekaligus kesiapan profesional. Dengan demikian, kesuksesan akademik dan pengembangan soft skills sejatinya berjalan beriringan melalui proses kebiasaan yang berkelanjutan.

4. Peran Dosen : Menjembatani Akademik dan Kemanusiaan

Dosen tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pembentukan karakter dan kompetensi holistik mahasiswa. Model pembelajaran yang memberi ruang diskusi, refleksi, kerja kolaboratif, dan pemecahan masalah kontekstual terbukti efektif dalam mengembangkan soft skills tanpa mengorbankan kedalaman akademik (Casali & Meneghetti, 2023).

Pendekatan pembelajaran yang humanis, yang menghargai proses, kesalahan, dan perbedaan cara berpikir, akan melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara sosial dan emosional. Di sinilah peran dosen menjadi strategis dalam menyeimbangkan tuntutan akademik dan pengembangan kemanusiaan mahasiswa.

5. Menuju Pendidikan Tinggi yang Lebih Seimbang

Alih-alih mempertentangkan nilai akademik dan soft skills, pendidikan tinggi perlu memposisikan keduanya sebagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Nilai akademik memberikan legitimasi intelektual dan disiplin berpikir, sementara soft skills memastikan keberlanjutan dan relevansi individu dalam kehidupan profesional dan sosial (Mwita et al., 2024).

Kesuksesan sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang diraih, tetapi tentang seberapa mampu seseorang bertumbuh, beradaptasi, dan memberi makna dalam peran yang dijalani. Di titik inilah pendidikan menemukan tujuan paling manusiawinya: membentuk insan pembelajar sepanjang hayat.

Daftar Pustaka :

  • Casali, N., & Meneghetti, C. (2023). Soft skills and study-related factors: Direct and indirect associations with academic achievement and general distress in university students. Education Sciences, 13(6), 612. https://doi.org/10.3390/educsci13060612
  • Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. New York: Avery.
  • Keng, S. H. (2023). The effect of soft skills on academic outcomes. The B.E. Journal of Economic Analysis & Policy, 24(1). https://doi.org/10.1515/bejeap-2022-0342
  • Mwita, K., Mwilongo, N., & Mwamboma, I. (2024). The role of soft skills, technical skills and academic performance on graduate employability. International Journal of Research in Business and Social Science, 13(5), 767–776. https://doi.org/10.20525/ijrbs.v13i5.3457
  • Ngo, T. T. A. (2024). The importance of soft skills for academic performance and career development from the perspective of university students. International Journal of Engineering Pedagogy, 14(3), 53–68. https://doi.org/10.3991/ijep.v14i3.45425