Peran Nilai Budaya Gorontalo sebagai Modal Sosial dalam Penguatan UMKM Lokal

Selain sebagai pedoman perilaku, nilai budaya Gorontalo juga memiliki potensi besar sebagai identitas produk UMKM. Nilai-nilai lokal dapat diintegrasikan ke dalam strategi branding melalui desain kemasan, penamaan produk, narasi usaha, dan promosi digital. Produk UMKM yang menonjolkan identitas budaya lokal memiliki keunikan dan nilai tambah di mata konsumen. Hal ini sekaligus mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Gorontalo. Identitas budaya menjadi pembeda yang memperkuat posisi UMKM di pasar yang semakin kompetitif. Beberapa nilai budaya Gorontalo yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan usaha :
1. Adati hula-hula’a to syara’, syara’ hula-hula’a to Qur’ani
Nilai ini menegaskan bahwa adat dan aktivitas sosial-ekonomi harus selaras dengan nilai agama. Dalam konteks UMKM, prinsip ini mendorong pelaku usaha untuk menjalankan bisnis secara jujur, amanah, dan beretika, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan yang tinggi menjadi modal sosial penting bagi keberlanjutan UMKM, khususnya usaha berbasis makanan, jasa, dan perdagangan. UMKM yang menjunjung nilai ini cenderung lebih dipercaya dan memiliki loyalitas pelanggan yang kuat.
2. Huyula (Gotong Royong)
Huyula merupakan nilai kebersamaan dan saling membantu dalam masyarakat Gorontalo. Nilai ini sangat relevan untuk mendorong kolaborasi antar pelaku UMKM, seperti berbagi bahan baku, pemasaran bersama, atau pembentukan koperasi. Melalui huyula, UMKM dapat menekan biaya produksi, memperluas jaringan usaha, dan memperkuat daya saing. Semangat gotong royong juga mendukung pengembangan klaster UMKM berbasis desa atau komunitas.
3. Tinepo (Kejujuran dan Ketulusan)
Tinepo secara harfiah memiliki arti "kebijaksanaan", mencerminkan sikap jujur, tulus, dan bertanggung jawab dalam bertindak. Dalam dunia UMKM, nilai ini mendorong pelaku usaha untuk menjaga kualitas produk, harga yang wajar, dan pelayanan yang baik. Kejujuran menjadi fondasi hubungan jangka panjang antara pelaku UMKM dan konsumen. UMKM yang konsisten menerapkan nilai tinepo akan lebih mudah berkembang karena memiliki reputasi positif.
4. Motolalo (Kerja Keras dan Ketekunan)
Motolalo menekankan pentingnya kerja keras, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Nilai ini sangat penting bagi pelaku UMKM yang sering menghadapi keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar. Dengan semangat motolalo, pelaku UMKM terdorong untuk terus berinovasi, meningkatkan keterampilan, dan bertahan dalam persaingan. Nilai ini juga mendukung terbentuknya mental wirausaha yang tangguh.
5. Bilohe (Kebersamaan dan Solidaritas Sosial)
Bilohe secara harfiah memiliki arti "pemantauan terhadap warga yang kekurangan" mencerminkan rasa kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan sosial. Dalam pengembangan UMKM, nilai ini mendorong terciptanya ekosistem usaha yang saling mendukung, baik antara pelaku usaha, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Solidaritas sosial memudahkan penyebaran informasi, akses pelatihan, dan dukungan moral bagi pelaku UMKM. Lingkungan sosial yang kondusif akan mempercepat pertumbuhan UMKM lokal.
6. Nilai Lokal sebagai Identitas Produk UMKM
Nilai budaya Gorontalo juga dapat diintegrasikan ke dalam branding dan diferensiasi produk UMKM, seperti pada desain kemasan, nama produk, cerita usaha, dan promosi digital. Produk UMKM yang menonjolkan identitas budaya lokal memiliki nilai tambah dan daya tarik tersendiri di pasar regional maupun nasional. Hal ini mendukung penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Gorontalo.
Secara keseluruhan, nilai budaya Gorontalo tidak hanya berfungsi sebagai pedoman sosial, tetapi juga sebagai modal budaya dan modal sosial dalam penguatan UMKM lokal. Integrasi nilai religius, gotong royong, kejujuran, kerja keras, dan solidaritas sosial mampu memperkuat daya saing dan keberlanjutan usaha. UMKM yang berakar pada nilai budaya lokal memiliki karakter, kepercayaan, dan identitas yang kuat. Oleh karena itu, pengembangan UMKM berbasis nilai budaya Gorontalo perlu didukung melalui kebijakan, pendampingan, dan program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Cara Submit Jurnal di OJS dan Strategi Memilih Jurnal yang Tepat bagi Dosen dan Peneliti

Publikasi ilmiah saat ini bukan lagi sekadar kewajiban administratif bagi dosen, tetapi telah menjadi bagian penting dari pengembangan karier akademik, reputasi keilmuan, dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satu sistem yang paling banyak digunakan di Indonesia untuk publikasi jurnal adalah Open Journal Systems (OJS).
Namun, masih banyak dosen "terutama peneliti pemula" yang mengalami kendala, baik saat memilih jurnal yang tepat maupun ketika mengunggah artikel ke sistem OJS. Tulisan ini bertujuan memberikan panduan praktis dan sistematis agar proses publikasi dapat berjalan lebih efektif dan minim kesalahan.
Pentingnya Memilih Jurnal yang Tepat Sebelum Submit
Salah satu penyebab utama artikel ditolak bukan karena kualitas penelitian yang rendah, melainkan karena ketidaksesuaian antara naskah dan jurnal tujuan. Oleh karena itu, pemilihan jurnal harus dilakukan secara cermat.
1. Kesesuaian Fokus dan Ruang Lingkup
Langkah awal yang wajib dilakukan adalah membaca bagian Focus and Scope atau Aims and Scope pada website jurnal. Pastikan topik, pendekatan metodologis, dan konteks penelitian sesuai dengan karakter jurnal tersebut. Sebagai contoh, artikel tentang pendidikan literasi dan numerasi akan lebih tepat dikirim ke jurnal pendidikan, bukan jurnal ekonomi atau manajemen murni.
2. Akreditasi dan Reputasi Jurnal
Dosen perlu menyesuaikan jurnal dengan target akademik, baik untuk keperluan BKD, kenaikan jabatan fungsional, maupun hibah penelitian.
Beberapa rujukan penting :
- SINTA (1–6) : untuk jurnal nasional terakreditasi
- DOAJ : untuk jurnal internasional open access bereputasi
- Scopus/WoS : untuk publikasi internasional bereputasi tinggi
Pemilihan jurnal yang kredibel juga membantu menghindari jurnal predator yang merugikan penulis.
3. Memahami Author Guidelines
Setiap jurnal memiliki pedoman penulisan yang berbeda, mencakup:
- Struktur artikel
- Gaya sitasi
- Template penulisan
- Panjang artikel
- Artikel yang tidak mengikuti pedoman ini berpotensi langsung ditolak oleh editor (desk rejection).
4. Tahapan Upload Artikel Jurnal di OJS
Secara umum, tampilan OJS relatif seragam, terutama pada versi OJS 3.x. Berikut alur submit artikel yang lazim ditemui.
1. Registrasi dan Login
Penulis perlu membuat akun pada website jurnal dengan memilih peran sebagai Author. Disarankan menggunakan email institusi untuk meningkatkan kredibilitas akademik.
2. Memulai Submission Baru
Setelah login, pilih menu New Submission atau Make a Submission, lalu tentukan jenis artikel (artikel penelitian, review, atau konseptual).
3. Upload Naskah
Unggah file artikel sesuai format yang diminta jurnal. Pada tahap ini, penting memastikan :
- File sudah mengikuti template jurnal
- Identitas penulis dihapus jika jurnal menggunakan sistem blind review
4. Mengisi Metadata Artikel
Tahap ini sering dianggap sepele, padahal sangat menentukan. Metadata mencakup :
- Judul artikel
- Abstrak
- Kata kunci
- Identitas penulis dan afiliasi
- Metadata harus konsisten dan lengkap, karena akan digunakan untuk pengindeksan dan sitasi.
5. Konfirmasi dan Finalisasi
Setelah seluruh tahap selesai, penulis melakukan konfirmasi dan mengakhiri proses submission. Artikel selanjutnya akan diproses oleh editor jurnal.
5. Setelah Submit: Sikap Akademik yang Perlu Dijaga
Publikasi ilmiah menuntut kesabaran dan etika akademik. Penulis perlu :
- Memantau status artikel secara berkala
- Merespons revisi reviewer dengan argumentasi ilmiah
- Tidak mengirim artikel ke jurnal lain sebelum ada keputusan resmi
6. Kesalahan Umum dalam Submit Jurnal
Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:
- Salah memilih jurnal
- Tidak mengikuti template
- Metadata tidak lengkap
- Mengabaikan komentar reviewer
- Kesalahan-kesalahan ini dapat diminimalkan dengan ketelitian dan kesiapan naskah sejak awal.
7. Penutup
Mengunggah artikel ke OJS bukan sekadar proses teknis, tetapi merupakan bagian dari literasi publikasi ilmiah dosen. Dengan memilih jurnal yang tepat dan memahami alur submission OJS, dosen dapat meningkatkan peluang publikasi sekaligus menjaga kualitas akademik karya ilmiah yang dihasilkan. Publikasi yang baik bukan hanya tentang diterima atau tidak, tetapi tentang kontribusi ilmiah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Dari Viral di TikTok hingga Ruang Kelas : Mengapa Literasi dan Numerasi Anak Indonesia Terus Melemah?

Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial (terutama TikTok) dipenuhi video yang membuat kita tersenyum getir. Seorang siswa SMP dan SMA tidak mampu menjawab perkalian sederhana. Awalnya terasa lucu, lalu janggal, dan akhirnya mengkhawatirkan. Pertanyaannya bukan lagi “kok bisa?”, melainkan “apa yang sedang terjadi pada pendidikan kita?”. Fenomena ini bukan soal satu atau dua anak. Ia adalah potret kecil dari persoalan besar : melemahnya literasi dan numerasi sebagai kemampuan dasar belajar.
Literasi dan Numerasi: Bukan Sekadar Bisa Membaca dan Menghitung
Sering kali kita keliru memahami literasi dan numerasi. Literasi bukan sekadar bisa mengeja huruf, dan numerasi bukan hanya menghafal rumus atau perkalian. Keduanya adalah kemampuan berpikir : memahami informasi, menalar, dan mengambil keputusan berbasis data. Ketika anak tidak memahami soal cerita matematika, masalahnya bukan pada matematika semata, tetapi pada pemahaman bacaan. Ketika anak lupa perkalian dasar, itu bukan sekadar lupa, tetapi indikasi bahwa fondasi belajar tidak pernah benar-benar kokoh.
Mengapa Kemampuan Dasar Anak Semakin Lemah?
1. Pembelajaran yang Terlalu Cepat Meninggalkan Fondasi
Di ruang kelas, kita sering berlomba menuntaskan kurikulum. Materi terus berganti, target administrasi harus tercapai, sementara penguatan konsep dasar tertinggal. Anak naik kelas tanpa benar-benar menguasai prasyarat belajar. Dalam dunia akademik, ini dikenal sebagai learning loss, tetapi di ruang nyata, dampaknya sederhana dan nyata adalah anak tidak siap belajar pada jenjang berikutnya.
2. Budaya Hafalan Masih Dominan
Selama bertahun-tahun, sistem pembelajaran kita terlalu ramah pada hafalan dan terlalu kaku pada jawaban tunggal. Anak terbiasa mencari “jawaban benar”, bukan memahami proses berpikir. Akibatnya, ketika konteks soal sedikit berubah, mereka kehilangan pegangan. Literasi dan numerasi tumbuh dari latihan berpikir, bukan dari hafalan cepat yang mudah lupa.
3. Ketimpangan Kualitas Pembelajaran
Kita juga harus jujur: kualitas pendidikan di Indonesia tidak merata. Ada sekolah yang kaya sumber belajar, ada pula yang berjuang dengan keterbatasan guru, fasilitas, dan dukungan keluarga. Video viral di media sosial sering kali lahir dari konteks yang tidak pernah kita lihat secara utuh. Menertawakan anak dalam video itu mudah. Memahami latar belakangnya jauh lebih sulit dan jauh lebih penting.
4. Distraksi Digital Tanpa Pendampingan
Gawai bukan musuh, tetapi ketiadaan pendampingan adalah masalah. Anak-anak hidup dalam dunia serba cepat, visual, dan instan. Membaca teks panjang dan menyelesaikan soal bertahap terasa membosankan dibandingkan video 30 detik. Tanpa literasi digital yang baik, teknologi justru memperlemah ketekunan belajar.
Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?
1. Kembali ke Esensi: Menguatkan Fondasi
Pembelajaran tidak harus selalu cepat. Justru, perlambatlah pada konsep dasar. Lebih baik anak menguasai perkalian dengan pemahaman daripada menyelesaikan banyak materi tanpa makna. Pada level taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar perlu adanya materi dan pelatihan keterampilan halus (soft skill) dimana penekanannya adalah pada kemampuan seperti problem solving, critical thinking, teamwork dan keahlian halus lainnya yang diperlukan di era society 5.0.
2. Membaca sebagai Kebiasaan, Bukan Tugas
Literasi tidak tumbuh dari perintah “ayo membaca”, tetapi dari contoh dan kebiasaan. Anak yang melihat guru dan orang tuanya membaca akan lebih mudah menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.
3. Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Matematika tidak harus selalu ada di papan tulis. Menghitung kembalian, membaca grafik sederhana, atau membandingkan harga adalah bentuk numerasi yang nyata dan bermakna.
4. Berhenti Menertawakan, Mulai Mendampingi
Video viral seharusnya menjadi cermin refleksi, bukan bahan ejekan. Setiap anak yang kesulitan belajar adalah panggilan bagi sistem pendidikan untuk berbenah, bukan untuk mempermalukan.
Penutup: Pendidikan Bukan Tentang Cepat, Tapi Tepat
Rendahnya literasi dan numerasi anak Indonesia bukan kegagalan satu pihak. Ia adalah hasil dari sistem yang terlalu lama menomorsatukan capaian formal, dan terlalu jarang bertanya: apakah anak benar-benar memahami? Sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat, tugas kita bukan mengeluh atau menyalahkan, tetapi hadir, memahami, dan membangun kembali fondasi belajar dengan sabar. Karena pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling kuat melangkah.
Belajar dari Beberapa Negara, Pentingnya Meningkatkan Literasi Ekonomi di Era Digital

Oleh: Neva Lionitha Ibrahim, S.AB, M.Pd. (Dosen Pendidikan Ekonomi)
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat beraktivitas dan mengambil keputusan ekonomi. Saat ini, transaksi keuangan, investasi, hingga kegiatan jual beli semakin mudah diakses melalui gawai. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu diiringi dengan kemampuan masyarakat dalam memahami risiko dan nilai ekonominya. Di sinilah pentingnya literasi ekonomi, yaitu kemampuan memahami konsep ekonomi dasar dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Isu rendahnya literasi ekonomi menjadi perhatian serius di Indonesia. Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2022, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68 persen. Artinya, masih banyak individu yang belum memahami pengelolaan keuangan secara bijak. Bagi dunia pendidikan, hal ini menjadi tantangan untuk memperkuat pendidikan ekonomi di berbagai jenjang, terutama dalam membentuk generasi yang melek finansial, kritis, dan adaptif terhadap perubahan.
Pendidikan ekonomi tidak hanya sebatas mengajarkan teori permintaan dan penawaran, tetapi juga harus membekali siswa dengan keterampilan berpikir ekonomi (economic reasoning). Guru perlu mengaitkan materi pembelajaran dengan fenomena ekonomi digital seperti e-commerce, dompet digital, dan investasi online. Dengan pendekatan kontekstual dan media pembelajaran interaktif, siswa akan lebih mudah memahami bagaimana teori ekonomi diterapkan dalam kehidupan nyata.
Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penguatan literasi ekonomi di sekolah mampu meningkatkan perilaku keuangan siswa. Penelitian oleh Lusardi dan Mitchell (2014) menemukan bahwa siswa dengan literasi ekonomi tinggi cenderung memiliki kemampuan pengambilan keputusan finansial yang lebih rasional dan terhindar dari perilaku konsumtif. Di Indonesia, studi oleh Rahmawati dan Yusuf (2022) juga menunjukkan bahwa integrasi pembelajaran berbasis proyek dalam mata pelajaran ekonomi dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep keuangan dan wirausaha. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran yang aktif dan berbasis pengalaman memiliki pengaruh signifikan terhadap literasi ekonomi.
Negara-negara maju seperti Finlandia, Korea Selatan, dan Australia telah lebih dahulu menerapkan strategi pendidikan ekonomi yang sistematis. Di Finlandia, metode phenomenon-based learning diterapkan, di mana siswa mempelajari konsep ekonomi melalui studi kasus nyata seperti pengelolaan keuangan keluarga atau kewirausahaan lokal. Korea Selatan menggunakan model financial capability framework dengan dukungan digital learning platform untuk membangun kebiasaan keuangan yang sehat sejak sekolah dasar. Sementara di Australia, literasi ekonomi diajarkan melalui curriculum integration approach, yakni menggabungkan aspek ekonomi dalam berbagai mata pelajaran seperti matematika, teknologi, dan sosial. Metode-metode tersebut berhasil meningkatkan kesadaran ekonomi masyarakat karena memadukan teori, praktik, dan teknologi secara harmonis.
Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pendekatan tersebut dengan menyesuaikannya pada konteks lokal. Pendidik ekonomi perlu memanfaatkan media pembelajaran digital yang relevan dengan kehidupan siswa, seperti simulasi pasar online, permainan edukatif ekonomi, atau proyek kewirausahaan sekolah. Selain itu, pelatihan literasi ekonomi bagi guru juga menjadi hal penting agar mereka mampu mengarahkan siswa berpikir kritis, rasional, dan produktif dalam menghadapi dinamika ekonomi digital.
Pada akhirnya, meningkatkan literasi ekonomi bukan hanya tanggung jawab guru ekonomi, tetapi seluruh pihak yang terlibat dalam proses pendidikan. Literasi ekonomi yang baik akan melahirkan generasi yang tidak mudah terjebak pada gaya hidup konsumtif, mampu mengelola sumber daya secara bijak, serta siap menghadapi tantangan ekonomi global. Dengan demikian, pendidikan ekonomi yang adaptif terhadap era digital menjadi kunci menuju masyarakat yang cerdas dan sejahtera secara finansial.
Mengapa Banyak Food Court di Gorontalo Tutup? Ini Analisisnya!

Oleh : Neva Lionitha Ibrahim
Dosen Pendidikan Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis – Universitas Negeri Gorontalo
Beberapa tahun terakhir, usaha kuliner di Gorontalo tumbuh dengan sangat pesat. Di berbagai sudut kota, bermunculan food court dengan konsep modern, kafe tematik, dan aneka UMKM kuliner yang menawarkan menu kreatif. Sayangnya, semangat ini tidak berlangsung lama. Kini, gerai tersebut mulai meredup. Banyak tempat makan tutup permanen, food court sepi pengunjung, bahkan fasilitas kuliner yang dibangun pemerintah pun tidak lagi beroperasi. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan kritis yakni apa yang sebenarnya sedang terjadi di sektor kuliner Gorontalo?
Gejala Penurunan Potret Sepi dari Lapangan. Berdasarkan observasi lapangan dan diskusi informal dengan pelaku usaha, ditemukan beberapa gejala mencolok yang menunjukkan kemunduran di sektor ini. Beberapa food court besar di Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango tampak kosong atau bahkan tutup total. Banyak UMKM kuliner melaporkan penurunan omzet drastis—bahkan lebih dari 50% sejak 2024. Masa hidup usaha baru juga makin pendek; rata-rata hanya bertahan 6 hingga 12 bulan.
Apa yang Salah? Fenomena tutupnya food court dan bangkrutnya UMKM kuliner tidak dapat dijelaskan oleh satu penyebab tunggal. Sebaliknya, kondisi ini merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor yang saling berkaitan dan mempercepat kemunduran sektor tersebut. Salah satu penyebab utama adalah pembangunan food court yang tidak didasarkan pada riset pasar yang memadai. Hal ini mengakibatkan overkapasitas, banyaknya tenant dengan produk serupa, serta pemilihan lokasi yang kurang strategis. Akibatnya, terjadi persaingan tidak sehat antarpenyewa yang justru merugikan keseluruhan ekosistem usaha.
Selain itu, perubahan pola konsumsi masyarakat pasca pandemi turut memengaruhi daya tarik food court. Konsumen kini cenderung lebih hemat dan memilih opsi pesan antar atau makanan siap saji ketimbang makan di tempat. Sayangnya, banyak pelaku usaha kuliner gagal membaca perubahan tren ini dan tetap bergantung pada kunjungan fisik pelanggan. Kurangnya adaptasi terhadap dinamika pasar ini membuat daya saing mereka terus menurun.
Stagnasi inovasi juga menjadi faktor krusial. Menu yang monoton, pelayanan standar, serta kurangnya kreativitas dalam kemasan dan penyajian menyebabkan konsumen cepat merasa bosan. UMKM kuliner yang tidak mampu menawarkan pengalaman baru atau nilai tambah pun semakin tersisih di tengah persaingan yang ketat. Strategi pemasaran yang lemah, terutama dalam aspek 4P (Product, Price, Place, Promotion), memperburuk keadaan. Banyak pelaku usaha tidak memperhatikan penyesuaian produk dengan preferensi konsumen, menentukan harga yang sesuai daya beli, memilih lokasi yang strategis, atau menjalankan promosi yang efektif.
Lebih lanjut, harga makanan di beberapa food court yang mengusung konsep UMKM justru dinilai terlalu mahal oleh pengunjung. Hal ini bertolak belakang dengan harapan bahwa segmen pasar UMKM mestinya menyasar kalangan menengah ke bawah. Ketidaksesuaian antara harga dan target pasar ini mempersempit basis pelanggan. Tak hanya itu, permasalahan manajerial turut mencuat. Dinas Pemuda dan Olahraga (Disporapar) Kabupaten Gorontalo bahkan pernah menyegel beberapa lapak food court akibat tunggakan biaya sewa atau operasional yang tidak terbayarkan oleh para penyewa.
Persaingan dengan brand nasional juga memberi tekanan besar. UMKM lokal harus menghadapi pemain besar yang memiliki kekuatan modal, branding, dan jaringan distribusi yang mapan. Sayangnya, banyak pelaku UMKM belum siap bersaing di level ini, terutama karena kurangnya pendampingan usaha, minim literasi digital, dan lemahnya strategi bisnis.
Menuju Kajian Ilmiah, Peluang Riset untuk Mahasiswa dan Akademisi. Fenomena ini membuka ruang luas untuk dijadikan objek riset mikroekonomi terapan. Beberapa tema yang layak dieksplorasi antara lain: analisis kegagalan usaha kuliner di Gorontalo menggunakan pendekatan SWOT dan Business Model Canvas, studi tentang kepuasan dan perilaku konsumen terhadap food court lokal atau menguji pengaruh inovasi produk terhadap keberlangsungan usaha kuliner. Riset-riset ini dapat menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif—misalnya survei kepada konsumen dan wawancara dengan pelaku usaha atau pengelola kawasan kuliner.
Saran Strategis dan Harus Berbuat Apa? Untuk pemerintah daerah, penting untuk meninjau ulang rencana pendirian food court. Pembangunan perlu didasarkan pada studi kelayakan dan analisis pasar yang matang. Selain itu, program pendampingan UMKM harus lebih sistematis, dengan pelatihan seputar branding, digitalisasi keuangan, dan manajemen usaha. Pemerintah juga bisa mendorong kolaborasi antara UMKM lokal dan platform digital agar lebih kompetitif.
Bagi pelaku UMKM, saatnya berhenti meniru usaha sebelah dan mulai membangun differentiation strategy. Produk harus punya keunikan dari sisi rasa, kemasan, atau pengalaman pelanggan. Pemanfaatan media sosial secara profesional, serta penggunaan e-wallet atau sistem kasir digital, dapat menjadi keunggulan kompetitif.
Dari sisi akademisi dan kampus, penting untuk turun tangan melalui program inkubasi bisnis, pengabdian masyarakat, dan tugas akhir berbasis studi kasus lokal. Kampus bisa menjadi penghubung antara pelaku usaha, pemerintah, dan mahasiswa untuk bersama-sama membangun ekosistem kuliner yang sehat dan berdaya saing.
Penutup. Tingginya angka penutupan food court dan matinya UMKM kuliner di Gorontalo bukan semata akibat produk yang kurang laku. Masalahnya jauh lebih dalam yaitu minim inovasi, tidak membaca pasar, dan kurangnya adaptasi dengan perubahan zaman. Ke depan, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan lingkungan bisnis yang lebih adaptif dan inovatif.
Bagi pelaku UMKM, bisa masak enak saja tidak cukup. Di era persaingan modern, bertahan hidup berarti harus mampu membaca tren, beradaptasi cepat, dan berpikir strategis. Dunia usaha hari ini bukan tentang siapa yang besar, tapi siapa yang paling siap berubah.