A. Ringkasan

Tulisan Heddy Shri Ahimsa-Putra (2021)  dengan judul “Mendefinisikan Kembali Kebudayaan” menguraikan pemahaman Ahimsa-Putra terkait dengan kebudayaan. Pada bagian awal tulisan, Ahima-Putra (2021) merasa harus menyinggung pandangan Bapak Antropologi Indonesia Koentjaraningrat, yang menurut Ahimsa-Putra masih memiliki kekurangan pada pandangan Koentjaraningrat terkait konsep kebudayaan.  Oleh karena itu, dalam tulisan ini, Ahimsa Putra menawarkan sebuah konsepsi kebudayaan yang berbeda yang dapat diharapkan akan lebih dapat mengungkapkan seluk-beluk, pernik-pernik gejala kebudayaan yang selama ini belum terjamah oleh penelitian-penelitian yang menggunakan konsep kebudayaan dari Koentjaraningrat.

Dalam tulisan Ahimsa Putra ini terdiri atas beberapa pembahasan yakni paparan mengenai pandangan Koentjaraningrat tentang kebudayaan, telaah kritis atas pandangan tersebut, dan pendefinisian kembali oleh Ahimsa Putra mengenai konsep kebudayaan beserta penjelasannya, dan manfaat yang dapat dipetik dari penelitian dengan menggunakan konsep kebudayaan.

Dalam pandangan Koentjaraningrat kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat, yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Koentjaraningrat berpendapat bahwa kebudayaan mempunyai 3 wujud, yakni (a) wujud berupa “suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya; (b) wujud berupa ‘suatu kompleks’ aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan (c) wujud berupa “benda-benda hasil karya manusia.”(Ahimsa Putra, 2021: 3).

Pandangan Koentjaraningrat mengenai kebudayaan dinilai oleh Ahimsa Putra (2021: 4) memiliki kelebihan berupa rumusan lebih rinci dan jelas dan lebih terlihat sesuai dengan realitas kebudayaan, memahami kebudayaan perlu dilakukan dengan memecahnya ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil yaitu cultural items dan cultural traits. Konsepsi kebudayaan Koentjaraningrat relatif mudah dipahami dan diterapkan dalam penelitian karena nama-nama untuk unsur kebudayaan seperti kesenian, teknologi, bahasa, dan seterusnya merupakan istilah sehari-hari yang terasa jelas maknanya, dan kemudahan untuk dipahami sehingga mendorong penelitian-penelitian kebudayaan yang sangat banyak di Indonesia. Selain terdapat kelebihan, Ahimsa Putra (2021:4) menjelaskan terdapat beberapa kekurangan dalam konsep kebudayaan Koentjaraningrat yakni pada basis filosofis definisi tersebut, Koentjaraningrat mendefinisikan kebudayaan berangkat aspek keterwujudannya, aspek empirisnya, tanpa menjelaskan terlebih dahulu filsafat manusia seperti apa yang mendasari pendefinisian tersebut. Strategi tersebut menurut Ahimsa Putra tidaklah salah, tetapi kurang menguntungkan, karena dengan begitu landasan filosofis definisi tersebut  menjadi tidak kokoh sama sekali, atau bahkan terlupakan. Kekurangan selanjutnya terdapat pada penggunaan kata “wujud” dalam “wujud kebudayaan.” Koentjaraningrat menggunakan kata “wujud” yang tampaknya kurang diperhitungkan implikasinya terhadap konsepsi mengenai kebudayaan itu sendiri. Kata ‘wujud’ menyiratkan adanya sesuatu yang diwujudkan, sesuatu yang dinyatakan. Wujud kebudayaan menurut Koentjaramingrat ada tiga, yakni: (a) gagasan; (b) perilaku, dan (c) hasil perilaku. Untuk perilaku dan hasil perilaku katga wujud tidak menimbulkan masalah, karena keduanya dapat dipandang sebagai perwujudan dari sesuatu yang abstrak, yang tidak kelihatan, yakni gagasan, ide, pengetahuan, nilai-nilai dan sebagainya. Akan tetapi, Ketika kata “wujud” digunakan untuk gagasan, munculla masalah karena menurut Ahimsa-Putra gagasan adalah sesuatu yang abstrak, yang tidak kelihatan dan berada dalam pikiran manusia. Menurut Ahimsa Putra bahwa penggunaan istilah wujud kebudayaan oleh Koentjaraningrat sebenarnya kurang tepat, kurang sesuai, karena berlawanan dengan pandangan filosofis Koentjaraningrat yang positivistik (Ahimsa-Putra, 2021: 5). Kekurangan yang dipandang Ahimsa Putra dari konsep kebudayaan Koentjaraningrat adalah pandangan Koentjaraningrat yang universal (cultural universals) sehingga bagi Ahimsa Putra ternyata membingungkan dan ketidakjelasan kriteria klasifikasi unsur kebudayaan. Selanjutnya Ahimsa Putra menilai bahwa tujuh unsur budaya universal tersebut ternyata masih belum dapat mencakup keseluruhan gejala sosial budaya yang terdapat dalam sebuah kebudayaan. Kekurangan lainnya yang diuraikan oleh Ahimsa Putra adalah ditempatkannya ‘bahasa’ sebagai unsur, bukan sebagai dimensi. Ahims

Berdasarkan kekurangan yang diuraikan oleh Ahimsa Putra pada konsep kebudayaan Koentjaraningrat menjadi alasan untuk mengajukan sebuah pandangan kebudayaan yang berbeda, yang setidak-tidaknya tidak lagi mengandung berbagai kekurangan tersebut. Hal tersebut berarti bahwa konsepsi kebudayaan yang baru ini harus memenuhi beberapa persyaratan minimal, yaitu: (a) dibangun atas dasar pandangan filosofis tertentu mengenai manusia; (b) menggunakan konsep atau istilah secara tepat, dengan memperhitungkan berbagai macam implikasi teoritis dan metodologinya; (c) menggunakan kriteria yang jelas dalam membuat sebuah perangkat klasifikasi atau kategorisasi unsur kebudayaan; (d) kategorisasi unsur budaya bersifat ekslusif, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam paparannya.

Ahimsa Putra membuat batasan (definisi) sebuah konsep pokok dalam sebuah cabang ilmu pengetahuan tidak dapat dilakukan secara gegabah. Begitu pula halnya dalam mendefinisikan kata “kebudayaan” sebagai konsep terpenting dalam antropologi atau studi kebudayaan. Menurut Ahimsa Putra (2021:6-7) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum kita merumuskan sebuah definisi. Pertama, definisi tersebut tidak boleh mengandung atau mengulangi kata yang didefinisikannya. Jadi definisi kebudayaan misalnya, tidak boleh mengandung kata ‘kebudayaan’ atau ‘budaya’ di dalamnya. Kedua, sehubungan dengan definisi kebudayaan, definisi ini juga harus didasarkan pada filosofis tertentu mengenai manusia, karena kebudayaan tidak aka nada tanpa manusia. Ketiga, definisi kebudayaan tersebut sebaiknya juga mengandung pandangan tentang asal-mulanya atau pemerolehannya. Keempat, definisi tersebut sebaiknya juga menunjukkan fungsi, karena aspek fungsi tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Empat prasyarat tersebut mempunyai implikasi terhadap pandangan filosofis tentang kebudayaan, yaitu (a) bahwa kebudayaan adalah sebuah gejala yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia, karena kebudayaan merupakan ekspresi (perwujudan) dari kemanusiaan itu sendiri; (b) bahwa kebudayaan merupakan sebuah gejala yang mempunyai asal-muasal, yang tidak muncul atau hadir begitu saja dalam kehidupan manusia; dan (c) bahwa kebudayaan merupakan sebuah gejala yang memiliki fungsi tertentu di situ.

Berkaitan dengan kebudayaan, Ahimsa Putra (2021:8) menguraikan secara jelas terkait dengan manusia yang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh hewan yang lain, yakni kemampuan melakukan simbolisasi (pelambangan). Melalui lambang-lambang inilah manusia berkomunikasi yaitu menyampaikan pesan-pesan kepada sesamanya dan menanggapi lingkugannya. Dalam hal ini, bahasa merupakan perangkat simbol terpenting dalam kehidupan manusia. Bahasa sebagai bunyi-bunyi yang kita hasilkan melalui penggunaan organ mulut dan kerongkongan untuk menyampaikan pesan-pesan merupakan perangkat tanda dan lambing yang memungkinkan manusia membangun kehidupan bermasyarakat. Tanpa bahasa tidak akan muncul kehidupan sosial. Tanpa bahasa tidak akan lahir kebudayaan. Lebih lanjut Ahimsa Putra menjelaskan bahwa dengan kemampuan simbolisasinya manusia kemudian mampu melakukan abstraksi dan memproduksi gagasan-gagasan, pemikiran-pemikiran mengenai berbagai kenyataan yang dihadapinya. Gagasan-gagasan ini kemudian disampaikan kepada manusia-manusia lain dengan menggunakan bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh leher dan mulut, yang kemudian disebut aktivitas “komunikasi.” Dari aktivitas komunikasi inilah lahir kemudian kehidupan bersama yang kita sebut “masyarakat” dan hasil karya dari kehidupan bersama ini kita sebut sebagai “kebudayaan”.

Selanjutnya Ahimsa Putra menguraikan terkait simbol dan tanda. Menurut Ahimsa Putra (2021:9) simbol yang menjadi dasar terbangunnya kehidupan sosial adalah bahasa. Menurut Ahimsa Putra jika simbol adalah sesuatu yang dimaknai, maka dalam bahasa simbol ini tentunya berupa kata-kata, sebab kata-kata inilah yang merupakan unit  terkecil yang ‘bermakna’ atau dapat dimaknai atau mewakili sesuatu.  Dalam pandangan Saussure, sign merupakan unit yang terkecil dalam bahasa, dan ini memiliki dua sisi, yakni: sisi signified (tinanda) dan sisi signifier (penanda). ‘Tanda’ yang dicontohkan oleh de Saussure tidak lain adalah ‘kata’, sebab kata adalah unit terkecil bahasa yang memiliki aspek signified dan signifier. Namun menurut Ahimsa Putra unit terkecil bahasa ternyata bukanlah ‘kata’ sebagaimana diduga oleh Saussure, tetapi elemen lebih kecil yang membentuk kata tersebut yakni fonem (phoneme). Fonem adalah satuan bahasa terkecil yang membedakan arti. Sebuah fonem tidak mempunyai acuan apa-apa. Oleh karena itu sering dikatakan bahwa fonem itu “tidak bermakna”. Fonem sebagai sign tidak dapat dikatakan memiliki aspek penanda  (signifier) dan tinanda (signified). Ditemukannya fonem sebagai ‘tanda’ dalam bahasa menuntut kita kini membedakan antara symbol (lambang) dengan sign kini perlu diartikan sebagai simbol. Simbol mempunyai dua sisi, yakni simbol itu sendiri (syimbol/signifier) dan yang disimbolkan (syimbolized/ signified). Dalam bahasa, simbol ini adalah kata, sedang tanda (sign) adalah fonem.

Lebih lanjut Ahimsa Putra (2021:9) menegaskan bahwa tanda berbeda dengan lambang (syimbol). Tanda memang juga merupakan segala sesuatu yang dimaknai, namun ‘makna’ di sini bukanlah apa yang diacunya, tetapi ‘fungsinya’ dalam suatu sistem relasi tertentu.  Contoh yang paling mudah dan jelas dapat kita ambil dari bahasa. Unit bahasa terkecil adalah fonem. Perbedaan antara tanda dan simbol ini juga hanya ‘bermakna’ dalam konteks tertentu. Perbedaan lain antara tanda dan simbol adalah makna atau acuan pada sebuah simbol umumnya diketahui, disadari oleh penggunanya, sehingga dapat dinyatakan secara eksplisit, sedang makna atau nilai dari sebuah tanda tidak selalu disadari atau diketahui. Makna atau nilai tanda lebih bersifat nirsadar (tidak disadari).

Ahimsa Putra menjelaskan dimensi (wujud) dan unsur kebudayaan untuk meluruskan Kembali unsur-unsur kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Adapun menurut Ahimsa-Putra (2021: 13) bahwa dimensi kebudayaan memiliki (1) Dimensi fisik/material (Material Dimension of Culture); (2) Dimensi Perilaku (Behavioral of Culture); (3) Dimensi kebahasaan (Lingual Dimension of Culture; (4) Dimensi Pengetahuan (Ideational Dimension of Culture). Selain dimensi, Ahimsa Putra (2021:15) juga menguraikan unsur kebudayaan menjadi 10 unsur yakni () Unsur Perangkat Komunikasi: mengatasi masalah hubungan antar individu;; (2) Unsur Perangkat Klasifikasi: mengatasi masalah ketertataan (orderlyness); (3) Unsur Perangkat Organisasi: mengatasi masalah kerja sama dan reproduksi sosial; (4) Unsur Perangkat Ekonomi: mengatasi masalah kelangkaan pangan dan sandang; (5) Unsur Perangkat Kesehatan: mengatasi masalah reproduksi biologis; (6) Unsur Perangkat Kepercayaan: mengatasi masalah ketidakberdayaan; (7) Unsur Perangkat Pelestarian: mengatasi masalah kehilangan/kepunahan; (8) Unsur Perangkat Transportasi: mengatasi masalah pemindahan tempat; (9) Unsur Perangkat Permainan (Hiburan): mengatasi masalah kebosanan; (10) Unsur Perangkat Kesenian: mengatasi masalah ekspresi perasaan.

Dalam tulisan Ahimsa Putra (2021: 16-23) menguraikan secara jelas terkait dengan unsur-unsur budaya beserta dimensinya. Uraian unsur dan dimensi menurut Ahimsa Putra dijabarkan sebagai berikut.

(1) Unsur perangkat komunikasi mengatasi masalah hubungan antar individu memiliki dimensi pengetahuan yang terdiri atas gagasan-gagasan, pengetahuan, pandangan, norma, dan aturan dalam proses penyampaian pesan antar individu dalam kehidupan suatu masyarakat. Selain itu, dapat juga mencakup pengetahuan tentang penggunaan perangkat komunikasi itu sendiri.  Selanjutnya untuk dimensi kebahasaan mencakup berbagai istilah dan wacana tentang perangkat tersebut dan wacana tentang berbagai fenomena yang termasuk dalam unsur budaya komunikasi. Dimensi perilaku dalam unsur budaya komunikasi mencakup misalnya perilaku menerima tamu, sedangkan dimensi material berupa peralatan komunikasi yang terdapat dalam diri manusia dan di luar diri manusia.

(2) Unsur perangkat klasifikasi mengatasi masalah ketertataan (orderliness) memiliki dimensi pengetahuan dari perangkat klasifikasi ini berupa aturan-aturan untuk melakukan penghitungan, seperti yang terdapat pada matematika, fisika, dan ilmu statistik. Dimensi kebahasaan mencakup di dalamnya berbagai istilah yang digunakan untuk mengklasifikasi waktu, istilah-istilah untuk mengklasifikasi dimensi ruang, dan wacana tentang sistem klasifikasi tersebut. Dimensi perilaku berupa kegoatan belajar dan mengajar hitung-menghitung atau menjawab soal-soal matematik, fisika, dan statistik. Dimensi material dari perangkat klasifikasi adalah berbagai peralatan yang digunakan untuk kegiatan hitung-menghitung, mengklasifikasi, mengelompokkan, dan mengetahui jumlahnya.

(3) Unsur perangkat organisasi mengatasi masalah Kerjasama dan reproduksi sosial memiliki dimensi pengetahuan berupa segenap pandangan, pengetahuan nilai, norma, dan aturan-aturan yang menyangkut apa yang harus dan dapat diperoleh seseorang dari individu lain serta, apa yang harus dan dapat diperoleh seseorang dari individu lain serta, apa yang harus dan dapat dia berikan kepada yang lain, entah itu berupa barang atau jasa. Dimensi kebahasaan berupa berbagai istilah yang digunakan untuk membangun interaksi dan relasi sosial antar individu, berbagai istilah-istilah untuk individu, kelompok, atau satuan sosial dalam masyarakat, berbagai wacana mengenai interaksi dan relasi antar inividu atau antarkelompok. Dimensi perilaku berupa berbagai perilaku, Tindakan, interaksi sosial, dan kegiatan bersama untuk mengatur kegiatan bersama, misalnya hidup bersama sebagai sebuah keluarga, kegiatan mengasuh anak, pertemuan keluarga, pertemuan-pertmeuan kampung, rapat-rapat organisasi, dan sebagainya. Dimensi material dari perangkat organisasi ini antara lain adalah rumah, balai pertemuan, pos ronda, dan sebagainya, dengan berbagai peralatan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan di situ.

(4) Unsur perangkat ekonomi mengatasi masalah kelangkaan pangan dan sandang memiliki dimensi pengetahuan berupa pengetahuan, gagasan mengenai berbagai hal yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan, dan sandang serta berbagai cara, nilai, aturan yang perlui diikuti dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Dimensi kebahasaan berupa istilah dan wacana berkenaan dengan unsur-unsur perangkat simbolik tersebut, misalnya istilah-istilah untuk berbagai jenis ubi dan singkong, berbagai jenis sayuran, berbagai jenis serangga yang dapat dimakan, berbagai hewan yang dapat dipelihara, berbagai perbincangan mengenai tumbuh-tumbuhan yang dapat dikonsumsi untuk Kesehatan, perbincangan tentang cara beternak hewan-hewan tertentu, perbincangan tentang cara bercocok tanam sayuran, dan sebagainya. Dimensi perilaku berupa perilaku pedagang di pasar ketika menjajakan barang dagangannya, kegiatan sejumlah petanki bersama-sama mengolah sawah, kegiatan para petani memetic sayur di kebun, kegiatan tawar-menawar pembeli dengan pedagang di took, perilaku para pengemudi ojek online ketika menjawab pesan dari pelanggan atau ketika menelpon pelanggan, dan masih banyak lagi yang lain. Dimensi material perangkat budaya ekonomi ini antara lain berbagai peralatan yang digunakan dalam melakukan kegiatan ekonomi, seperti sepeda motor, helm, jaket, dan hp yang digunakan oleh pengemudi ojek online; cangkul; dan bajak yang digunakan untuk mengolah sawah;becak;andong; bentor;dan taxi yang digunakan oleh para pengemudinya untuk membawa penumpang;buah-buahan. Sayur-sayuran dan hasil bumi yang dijual oleh para petani di pasar; peralatan baku, timbangan, yang dipakai oleh para penjual buah dan sebagainya.

(5) Unsur perangkat kesehatan mengatasi masalah reproduksi biologis memiliki dimensi pengetahuan mengenai tubuh manusia serta kondisi sehat dan sakitnya. Dimensi kebahasaan berupa istilah atau nama mengenai bagian-bagian tubuh manusia, nama berbagai kondisi tubuh jika sehat dan sakit, nama berbagai jenis rauan untuk menjaga Kesehatan atau menyembuhkan sakit, istilah berbagai cara untuk mempertahankan kebugaran tubuh atau untuk mengobati.  Dimensi perilaku berupa perilaku menjaga Kesehatan seperti berolahraga, menghindari mengkonsumsi makanan tertentu, mengkonsumsi jenis makanan tertentu secara rutin, berbagai perilaku mengobati dan melakukan tindakan tertentu terhadap bagian tubuh yang sakit. Dimensi material berupa makanan, minuman, peralatan untuk mendapatkan atau membuatnya.

 (6) Unsur perangkat religi mengatasi masalah ketidakberdayaan memiliki dimensi pengetahuan berupa pandangan, kepercayaan, mengenai sebuah dunia selain dunia manusia. Dunia ini tidak tampak, tetapi dipercayai adanya. Dimensi kebahasaan berupa istilah, kata-kata, nama, ajaran, dan wacana mengenai makhluk-makhluk ghaib dengan berbagai kemampuan dan perilaku mereka, penggambaran mengenai keadaan di dunia ghaib tersebut, relasi mereka dengan manusia, serta berbagai doa dan mantra yang dilantunkan ketika manusia berupaya membangun relasi dengan makhluk-makhluk di situ. Dimensi perilaku berupa ritual-ritual keagamaan, dan dimensi material berupa aspek fisik dan material dari perangkat keagamaan misalnya masjid, mushola, langar, surau yang merupakan tempat-tempat untuk melakukan sholat secara bersama.

  (7) Unsur perangkat pelestarian mengatasi masalah kehilangan/kepunahan memiliki dimensi pengetahuan tentang cara melestarikan atau mengawetkan. Dimensi kebahasaan berupa kata-kata, istilah, ungkapan yang digunakan dalam proses melestarikan, mengawetkan, atau menyimpan unsur-unsur budaya tertentu. Dimensi perilaku berupa berbagai aktivitas atau kegiatan membuat p;erlatan atau bahan untuk menyimpan barang. Pendeknya segala unsur simbolik yang berfungsi untuk memyimpan atau melestarikan keberadaan suatu unsur budaya pada waktu dan ruang tertentu. DImensi material berupa berbagai tempat untuk menyimpan dan berbagai sarana untuk membuat sesuatu menjadi tetap ada.

 (8) Unsur perangkat transportasi mengatasi masalah pemindahan tempat memiliki dimensi pengetahuan berupa gagasan-gagasan, pemikiran, pengetahuan tentang pembuatan alat transportasi, tentang pembuatan sarana transportasi, tentang cara memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain dan sebagainya. Dimensi kebahasaan yakni berbagai istilah, nama, ungkapan, yang digunakan dalam kegiatan yang berkenaan dengan transportasi, berbagai istilah untuk aktivitas transportasi. Dimensi perilaku berupa kegiatan untuk membuat peralatan transportasi, membuat sarana untuk alat transportasi, mengepak dan mengirim berbagai barang. Memindah manusia dari satu tempat ke tempat yang lain, mengatur jadwal perjalanan mereka, memesan kendaraan untuk pemindahan tersebut, dan sebagainya, semuanya termasuk dalam kegiatan perangkat simbolik transportasi. Dimensi material berupa alat transportasi yang dapat membuat manusia berpindah tempat lebih cepat dan lebih nyaman. Berbagai macam kendaraan diciptakan oleh manusia seperti sepeda, sepeda motor, mobil, kereta api, pesawat terbang, dan sebagainya. Ini semua merupakan wujud material atau fisik dari perangkat transportasi.

 (9) Unsur perangkat permainan mengatasi masalah kebosanan memiliki dimensi pengetahuan berupa pandangan, pengetahuan, nilai, norma dan aturan, berkenaan dengan berbagai bentuk permainan yang ada. Dimensi kebahasaan berupa istilah, nama, atau ungkapan-ungkapan yang berkenaan dengan kegiatan hiburan. Dimensi perilaku berupa kegiatan bermain itu sendiri. Dimensi material dari perangkat permainan ini sekarang sudah banyak sekali dan seringkali memerlukan teknologi yang sangat canggih untuk membuatnya. Biasanya semakin canggih peralatan yang digunakan untuk bermain, semakin canggih pula fasilitas pendukung permainan tersebut, sebagaimana terlihat pada permainan balap mobil, balap motor, dan balap perahu.

(10) Unsur perangkat kesenian mengatasi masalah ekspresi perasaan memiliki dimensi pengetahuan tentang apa yang dapat dianggap indah dan tidak indah, simbol-simbol apa yang dapat mengekspresikan perasaan tertentu. Dimensi kebahasaan meliputi istilah yang ada dalam berbagai aktivitas dan perangkat ekspresi seperti tari-menari, Lukis-melukis, pahat-memahat, ukir-mengukir, bermusik, dan sebagainya. Dimensi perilaku dari perangkat simbolik ini misalnya adalah berbagai perilaku memainkan alat musik, seperti misalnya memukul, meniup, menggesek, memetik, atau perilaku belajar memainkan alat musik, perilaku menyajikan gerak tertentu, perilaku membuat sebuah sketsa sebuah bangunan bersejarah, perilaku memahat kayu untuk mewujudkan bentuk tertentu, perilaku merekam sebuah tarian untuk mengiringi sebuah lagu, perilaku merekam suara gitar, atau cello, atau gamelan, untuk mengiringi sebuah tarian dan sebagainya. Dimensi material berupa berbagai peralatan, benda atau material yang dapat digunakan untuk menyatakan perasaan dan gagasan, seperti bunyi (berupa suara, musik), gerak (berupa tari), garis dan warna (berupa lukisan, gambar, ukiran), suara (berupa nyanyian, senandung), film (film, foto), dan sebagainya. Wujud material ini ketika digunakan untuk mengekspresikan akan menjadi sebuah realitas yang lain lagi  misalnya saja bunyi.

Pada bagian penutup, Ahimsa Putra menegaskan bahwa pandangan mengenai kebudayaan ini diisebut sebagai sebuah model yang didasarkan pada asumsi filsofis yang jelas dan kuat tentang manusia yaitu manusia sebagai animal symbolicum. Kebudayaan sebagai perangkat simbol ditelaah lebih teliti wujud-wujud empiris atau realitas ontologis, sehingga diperoleh empat wujud atau empat dimensi kebudayaan, yaitu dimensi material, dimensi behavioral, dimensi lingual, dan dimensi ideational. Dengan empat dimensi tersebut, kita dapat membangun model kebudayaan berupa segitiga dengan sebuah titik tengah. Tiga titik segitiga merepresentasikan tiga dimensi kebudayaan yang berhubungan satu sama lainnamun tidak langsung karena itu digambarkan dengan garis-garis putus, namun ketiga titik tersebut terhubung secara langsung dengan dimensi kebudayaan, yang merupakan titik Tengah, dan merepresentasikan pusat dari kebudayaan. Bahasa di sni dianggap sebagau unsur budaya yang sangat menentukan proses terbentuknya dan pembentukan kebudayaan. Kebudayaan kemudian dapat dirinci menjadi sepuluh unsur budaya yang relative universal, dengan kriteria yang jelas, yaitu fungsinya. Dengan memandang kebudayaan sebagai sutau gejala empiris yang memiliki empat dimensi yang juga terbangun dari sepuluh unsur budaya universal, maka diperoleh model kebudayaan yang lebih sistematis dan sekaligus menjadi fenomena yang relatif mudah dipelajari dengan menggunakan metode-metode yang ada.

Ahimsa Putra pun menegaskan bahwa model kebudayaan yang ditawarkan lebih tepat digunakan untuk studi makro kebudayaan atau studi komparatif tentang kebudayaan, dengan rentang waktu yang cukup Panjang. Model tersebut dapat mengajak peneliti untuk lebih menaruh perhatian pada relasi-relasi dinamis antarunsur kebudayaan.  

B. Teori/Pandangan yang Muncul

            Tulisan ini lebih memperjelas terkait dengan konsep kebudayaan oleh Ahimsa Putra. Namun, konsep beliau merespon pandangan dari Bapak Antropologi Indonesia Koentjaraningrat, karena pandangan beliaulah yang paling populer di kalangan awam terpelajar damn ilmuwan sosial-budaya Indonesia. Ahimsa Putra menemukan sejumlah kekurangan pada pandangan Koentjaraningrat terutama pada 7 unsur-unsur kebudayaan Koentjaraningrat, sehingga Ahimsa Putra memberikan pandangan terkait dimensi (wujud) dan unsur kebudayaan untuk meluruskan kembali unsur-unsur kebudayaan yang dikemukakan oleh Koentjaraningrat. Adapun pandangan yang muncul terkait dimensi dan unsur kebudayaan menurut Ahimsa-Putra bahwa dimensi kebudayaan memiliki (1) Dimensi fisik/material (Material Dimension of Culture); (2) Dimensi Perilaku (Behavioral of Culture); (3) Dimensi kebahasaan (Lingual Dimension of Culture; (4) Dimensi Pengetahuan (Ideational Dimension of Culture). Selain dimensi, Ahimsa Putra juga menguraikan unsur kebudayaan menjadi 10 unsur yakni () Unsur Perangkat Komunikasi: mengatasi masalah hubungan antar individu;; (2) Unsur Perangkat Klasifikasi: mengatasi masalah ketertataan (orderlyness); (3) Unsur Perangkat Organisasi: mengatasi masalah kerja sama dan reproduksi sosial; (4) Unsur Perangkat Ekonomi: mengatasi masalah kelangkaan pangan dan sandang; (5) Unsur Perangkat Kesehatan: mengatasi masalah reproduksi biologis; (6) Unsur Perangkat Kepercayaan: mengatasi masalah ketidakberdayaan; (7) Unsur Perangkat Pelestarian: mengatasi masalah kehilangan/kepunahan; (8) Unsur Perangkat Transportasi: mengatasi masalah pemindahan tempat; (9) Unsur Perangkat Permainan (Hiburan): mengatasi masalah kebosanan; (10) Unsur Perangkat Kesenian: mengatasi masalah ekspresi perasaan.

            Pandangan selanjutnya berupa model kebudayaan yang didasarkan pada asumsi filosofis yang jelas dan kuat tentang manusia yaitu manusia sebagai animal symbolicum dari Ernst Cas-sirer (1945) sehingga dengan asumsi dasar ini dapat memandang kebudayaan sebagai perangkat simbol. Bagi Ahimsa Putra ini bukan pandangan yang baru dalam antropologi, karena Leslie White (1949) dan Clifford Geertz (1963) misalnya juga memiliki pandangan demikian. Namun, White dan Geertz dan ahli-ahli antropologi lainnya tidak menelusuri lebih lanjut implikasi penting dari pandangan tersebut, sehingga potensi teoretis dan praktis dari pandangan tersebut tidak mereka kembangkan. Oleh karena itu, Ahimsa Putra menaruh perhatian penuh pada pandangan kebudayaan melalui pendefinisian Kembali kebudayaan agar lebih dapat dengan jelas mengungkapkan seluk-beluk, pernik-pernik gejala kebudayaan serta dimensi dan unsur-unsur kebudayaan. 

 

 

 

 

C. Tanggapan Kritis

1. Pujian-Kelebihan

            Tulisan Ahimsa Putra dengan judul “Mendefinisikan Kembali Kebudayaan” memiliki kelebihan dalam penggunaan bahasa yang lugas sehingga mudah dipahami dengan jelas berkaitan dengan pandangan Ahimsa Putra terkait kebudayaan. Selain itu, Ahimsa Putra menjabarkan dengan detail konsep kebudayaan dengan memberikan gambaran awal terkait konsep kebudayaan Koentjaraningrat yang masih memiliki kekurangan. Pandangan Ahimsa Putra mengenai kebudayaan begitu utuh dan totalitas dalam menguraikan definisi budaya, dimensi (model), dan unsur kebudayaan. Setiap penjelasan disertai dengan contoh yang memudahkan pemahaman pembaca terkait dengan definisi budaya, dimensi serta unsur kebudayaan. Kesepuluh unsur budaya budaya dengan disertai empat dimensi secara jelas dan rinci dikemukakan oleh Ahimsa Putra, sehingga sangat tepat dipahami sebagai landasan dalam mempelajari dan melakukan penelitian terkait kebudayaan.

2. Kritik-Kekurangan

            Pada intinya apa yang diuraikan Ahimsa-Putra dalam tulisan ini sudah sangat jelas, namun kekuranganya pada penjelasan beberapa istilah yang memiliki dua diksi yang kadang membuat pembaca kurang jelas dalam memahaminya sehingga terkesan kurang konsistenn dalam menggunakan istilah. Hal tersebut Nampak pada kata dimensi dan wujud sehingga kadang uraian menggunakan istilah dimensi kadang menggunakan istilah wujud. Kedua istilah tersebut memang memiliki kesamaan makna, namun sebagai pembaca kadang merasa sulit ketika memahami hal tersebut dalam beberapa uraian. Dalam sub bab misalnya a. Dimensi Fisik, namun uraian di bawwahnya menjelaskan bahwa wujud material atau fisik merupakan wujud yang paling nyata dari kebudayaan. Tentunya ada dua istilah yang menurut Ahimsa bermakna sama, namun saya sebagai pembaca merasa bahwa kedua istilah justru akan mengurangsi konsentrasi dalam memahami istilah tersebut. Kekurangan selanjutnya pada beberapa contoh berkaitan dengan unsur budaya lebih banyak menggunakan istilah Jawa, sehingga kadang saya sebagai orang Gorontalo merasa kurang memahami secara langsung, melainkan memahaminya dengan seksama dan membaca berulang-ulang. Salah satunya pada penjelasan unsur perangkat komunikasi mengatasi masalah hubungan antar individu yang memiliki aspek pengetahuan, pada orang Jawa misalnya, pengetahuan mengenai norma-norma dan aturan-aturan untuk berkomunikasi ini termasuk di dalamnya pengetahuan mengenai aturan menggunakan bahasa Jawa krama inggil, krama madya, atau ngoko dalam berbicara dengan orang lain. Contoh ini membuat saya sebagai pembaca harus bertanya lagi sama teman yang di Jawa mengenai istilah krama inggil, krama madya atau ngako. Oleh karena itu, perlu kiranya istilah-istilah tersebut disertai contoh dalam bahasa Indonesia.

 

Daftar Pustaka

Ahimsa-Putra, H. S. 2021. Mendefinisikan Kembali Kebudayaan“. Lembaran Antropologi Budaya. 2:2-25. Yogyakarta.

A. Ringkasan

Heddy Shri Ahimsa-Putra melalui artikel berjudul “Structural Anthropology in America And France: A Comparison”  menguraikan tentang antropologi struktural Amerika dan Perancis yang ditulis dengan tujuan agar para ahli sosial dan budaya Indonesia dapat mengetahui dan memperoleh gambaran mengenai perkembangan salah satu paradigma yang paling penting dalam ilmu-ilmu sosial dan budaya pada abad ke 20, yaitu strukturalisme. Dalam tulisan Ahimsa Putra ini, hanya membahas antropologi struktural Perancis dan Antropologi struktural Amerika karena keduanya memiliki persamaan gagasan tentang kebudayaan dan bahasa.

Ahimsa Putra (2003: 239-240) menguraikan bahwa Werner dalam artikelnya tentang antropologi struktural (1972), membandingkan dan membahas struktural dalam etnosains dan strukturalisme Levi-Strauss. Judul artikel tersebut menunjukkan bahwa bagi Werner etnosains juga merupakan antropologi struktural. Dalam hal ini, ia memiliki pandangan yang sama dengan Scheffler (1966), yang menganggap “etnografi formal” atau The New Ethnograph -nama lain dari etnosains sebagai antropologi struktural. Scheffler membahas analisis kekerabatan dalam etnografi formal dan strukturalisme Levi-Strauss dan menyimpulkan bahwa perbedaan antara kedua antropologi struktural ini terletak pada metode dan kriteria yang sesuai untuk model yang mereka bangun, sementara persamaanya terletak pada pengadopsian metode-metode dari linguistik struktural.   

Lebih lanjut Ahimsa Putra (2003: 240) menguraikan bahwa Ward Goodenough, seorang pelopor

Antropologi struktural Amerika, menyatakan bahwa ahli antropologi mempelajari kebudayaan asing seperti ahli bahasa mempelajari bahasa asing. Dalam hal ini, Goodnough percaya bahwa salah satu masalah mendasar dari para antropolog adalah bagaimana mendeskripsikan kebudayaan tertentu kepada orang lain yang tidak terbiasa dengan kebudayaan tersebut. Masalah seperti itu tidak berbeda dengan yang dihadapi oleh para ahli bahasa dalam mendeskripsikan suatu bahasa. Tetapi di sini ahli bahasa lebih baik daripada ahli antropologi, karena mereka telah menetapkan seperangkat konsep dan simbol yang dengannya elemen-elemen suatu bahasa dapat dideskripsikan dan dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain. Goodnough menyarankan para ahli antropologi  untuk menggunakan metode linguistik sebagai model untuk mendeskripsikan kebudayaan. Langkah serupa juga dilakukan oleh Levi-Strauss dalam mempelajari sistem kekerabatan. Hal tersebut karena linguistik dalam pandangan Lévi-Strauss adalah ilmu sosial yang sudah berkembang, maka sangat tepat jika metode analisisinya diterapkan dalam studi antropologi.

              Baik The New Ethnography (Antropologi Struktural Amerika) dan analisis struktural Lévi-Strauss (Antropologi Struktural Perancis) mengadopsi metode dan teori fonologi dalam linguistik.Namun, keduanya dilakukan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan yang sudah pasti berbeda. Oleh karena itu, Ahimsa Putra berargumen bahwa perbedaan analisis dan hasil dari antropologi-antropologi struktural tersebut berasal dari perbedaan pandangan mereka tentang tujuan antropologi secara umum sebagai sebuah disiplin ilmu, pandangan mereka tentang masyarakat dan kebudayaan, tentang kriteria teori ilmiah, tentang konsep makna pengetahuan pada kehidupan, serta cara-cara memperolehnya. Hal tersebut membuat Ahimsa Putra untuk membandingkan dan mendiskusikan poin-poin penting dalam kedua antropologi struktural.

Melalui makalah ini, Ahimsa Putra (2003: 240) membahas kedua antropologi struktural menjadi beberapa bagian. Bagian pertama dan kedua tentang bagaimana The New Ethnography dan strukturalisme  Lévi-Strauss mengadopsi metode linguistik dalam analisis mereka. Bagian ketiga dan keempat membahas tentang asumsi dan pandangan mereka tentang objek yang mereka pelajari serta tujuan dari penelitian mereka. Bagian kelima dan keenam membahas tentang latar belakang espistemologis dari pendekatan-pendekatan tersebut.

Antropologi Struktural Amerika dan Linguistik

            Ahimsa Putra (2003: 240) menjelaskan bahwa salah satu masalah ilmiah dalam antropologi budaya adalah masalah dalam menjelaskan persamaan dan perbedaan kebudayaan dalam beragam masyarakat yang tersebar di dunia. Kebutuhan untuk menjelaskan fenomena-fenomena tersebut secara ilmiah dan sistematis tidak bisa diacuhkan lagi, sehingga ahli antropologi  terdorong untuk melakukan studi komparatif. Hal tersebut  tidak mengherankan jika antropologi budaya sejak awal telah dicirikan penekanannya pada pendekatan komparatif.

              Studi komparatif sistematis dipelopori oleh Edward B. Taylor, yang pada abad ke-19 menemukan metode perbandingan persilangan kebudayaan di seluruh dunia. Tylor mengumpukan informasi dengan mengambil sampel pada 350 masyarakat dari seluruh penjuru dunia dan menggunakan tes kemungkinan empiris untuk menemukan ada atau tidaknya hubungan di antara institusi sosial di bawah pertimbangan subjek untuk aturan hukum. Ketika hubungan antarvariabel membuktikan adanya signifikansi, Tylor menyebutnya dengan adhesi (pelekatan). Dalam matriks analisis kontemporer, studi komparatif Tylor dikenal R-mode anylsis (model analisis R), dimana peneliti menemukan bahwa variabel atau ciri kebudayaan sebagai kelompok sampling lebih baik daripada masyarakat atau kebudayaan (Ahimsa Putra, 2003: 241).

              Ada beberapa proposisi mengenai tempat dari bentuk kebudayaan dalam pengaturan sosial-budaya yang besar. Dua diantaranya yakni (1) proposisi yang berhubungan dengan pengaruh kondisi ekstra-kultural pada bentuk standar kebudayaan atau aturan, dan (2) kesungguhan prinsip kebudayaan sebagai sebab atau variabel independent (berdiri sendiri), dan kondisi ekstra-kultural sebagai akibat atau variabel dependen (bergantung). Data yang terekam pada masyarakat yang berbeda merupakan produk dari observasi mendetail terhadap apa yang orang-orang katakan dan lakukan, keadaan tindakan dan akibat dari aktivitas mereka. Gambaran pada orang yang sama menyajikan perbedaan penelitian untuk memastikan tingkat keberagaman satu dengan lainnya. Dalam membandingkan data yang terkumpul dari laporan yang berbeda, mengggunakan perbedaan metode dan untuk tujuan yang berbeda. Apabila data tidak dapat dibandingkan, maka tidak dapat dilakukan perbandingan persilangan kebudayaan. Apabila yang demikian itu diterapkan, kesimpulan akan selalu menjadi problematik. Untuk melakukan studi perbandingan, data harus diklasifikasi dan dipilah untuk mencocokan dengan tujuan penelitian. Artinya, perlu standar sistem dari klasifikasi untuk mengendalikan data mentah dan mereorganisasi atau mengubah data yang dipresentasikan untuk membuatnya sebanding satu sama lain (Ahimsa Putra, 2003: 241).

              Goodneough dan sejumlah ahli antropologi mengkonsepkan masalah perbandingan kebudayaan menjadi serupa dalam prinsip seperti ahli bahasa ketika mereka ingin mendeskripsikan bunyi bahasa dari bahasa lain. Satu dari beberapa pendekatan dalam mendeskripsikan bahasa adalah analisis struktural Zellig Harris. Harris mengenalkan komponen gagasan dalam analisis strukturalnya, yaitu fonem dan morfem. Fonem merupakan kombinasi unik dari beberapa komponen. Dalam sebuah bahasa, fonem digunakan dalam kesatuan yang kompleks, yang memiliki arti tertentu. Dalam linguistik deskriptif, tugas untuk mengisolir dan mendeskripsikan bunyi bahasa dari sebagian bahasa disebut fonemik, dan transkripsinya merepresentasikan kategori bunyi yang membuat perbedaan makna dalam kepastian bahasa, dimana studi produksi bunyi dan pembangunan meta-bahasa dengan fonem dan ciri-ciri khusus dari sebuah bahasa yang dapat dideskripsikan disebut fonetik, dan transkripsinya adalah seperangkat konsep yang dibangun oleh ahli bahasa untuk mendeskripsikan bunyi bahasa (Ahimsa Putra, 2003: 242).

              Berdasarkan atas perbedaan antara fonetik dan fonemik, dapat dikatakan bahwa deskripsi secara sosial bermakna sistem tindakan merupakan sebuah emic sejauh itu berdasar pada elemen-elemen yang memiliki komponen suatu sistem, dan sebuah etic yang berdasar pada elemen-elemen konseptual yang tidak memiliki komponen suatu sistem. Beberapa ahli antropologi meyakini bahwa masalah dalam studi perbandingan dapat dipecahkan dengan mengaplikasikan metode deskripsi dan perbandingan linguistik. Ahli antropologi memiliki klasifikasi dan tipologi sendiri mengenai hal tersebut. Untuk mendeskripsikan dan membandingkan dengan klasifikasi miliknya, ahli antropologi menemukan seperangkat instrument konseptual yang akan digunakan untuk menggambarkan perbedaan sebaik mungkin. Asumsi dasarnya adalah bahwa ekspresi linguistik didesain oleh konsep-konsep kelas. Analogi eksplisit dari analisis semantik atau analisis kompensial dalam antropologi berdasar pada model fonologi komponensial. Ada beberapa asumsi mengenai analogi tersebut. Pertama, data dalam analisis semantik dipandang kurang lebih sepadan dengan produk dari analisis fonologikal. Kedua, dalam analisis komponensial, istilah domain semantik (seperti kekerabatan) membedakannya dari satu dengan yang lain melalui ciri-ciri khusus (Ahimsa Putra, 2003: 243).

              Ahimsa Putra (2003: 243) menguraikan bahwa beberapa antropolog percaya masalah mereka dalam studi komparatif dapat diselesaikan dengan menerapkan metode linguistik deskriptif dan perbandingan. Karena kedua bidang ini yaitu linguis dan antropolog memiliki masalah yang sama. Beberapa ahli antropologi berpandangan bahwa budaya sebenarnya adalah sebuah fenomena, seperti  bahasa, dan bahasa bagi mereka adalah seperangkat standar untuk perilaku manusia. Ahimsa Putra (2003: 244) dalam artikel ini menggunakan penerapan metode linguistik dalam antropologi dengan istilahThe New Ethnography yang didefinisikan sebagai studi atau deskripsi sistem konseptual masyarakat untuk mengungkap dunia konseptual suatu masyarakat melalui kategori-kategori linguistiknya. Salah satu metode analisis yang diambil dari ilmu linguistik dalam the New Ethnography adalah analisis komponensial atau analisis semantik. Dalam analisis ini, para linguis yang mendeskripsikan ujaran-ujaran linguistik harus mengacu pada peristiwa-peristiwa non-linguistik dan  mengambil makna yang berhubungan dengan hal-hal yang  di luar bahasa. Asumsi dasarnya adalah bahwa sebuah ekspresi linguistik menunjuk pada sebuah konsep.

Strukturalisme Lévi-Strauss dan Linguistik

Jika ahli antropologi Amerika mencari model dan metode dalam linguistik, untuk mengatasi masalah dalam mendeskripsikan dan membandingkan kebudayaan di dunia, Lévi-Strauss melakukan hal yang sama untuk tujuan berbeda. Tujuan Lévi-Strauss adalah menemukan jawaban atas permasalahan status keilmiahan ilmu sosial, khususnya antropologi. Lévi-Strauss menyarankan para ahli antropologi menggunakan analisis linguistik karena fenomena sosial memproses dua karakteristik pokok yang membuatnya cocok untuk analisis ilmiah. Pertama, banyak tindak lingustik merupakan produk dari ketidaksadaran pikiran manusia. Ketika orang berbicara, mereka tidak menyadari hukum sintaktik dan morfologikal bahasanya. Kedua, bahasa muncul lebih dulu dalam sejarah umat manusia. Bahasa merupakan fenomena sosial dan juga merupakan objek tepat untuk analisis matematika. Pengaplikasian analisis linguistik dalam studi sosial-budaya hanya mungkin dilakukan apabila terdapat perbedaan model masyarakat dan budaya, dan Lévi-Strauss menemukan cara baru untuk penelitian dengan memandang masyarakat atau budaya dalam hubungan teori komunikasi. Ada tiga macam komunikasi yang juga merupakan bentuk pertukaran, yang benar-benar berhubungan, karena pernikahan (komunikasi karena Wanita) berasosiasi dengan prestasi ekonomi (komunikasi karena barang dan jasa), dan bahasa memainkan peran yang signifikan pada semua level (Ahimsa Putra, 2003: 246-247).

Ada beberapa teori linguistik yang mempengaruhi pemikiran Lévi-Strauss, yaitu dari Troubetzkoy, Jakobson, dan Saussure. Troubetzkoy, mengenalkan empat revolusi prinsip metodologi dalam linguistik struktural. Pertama, linguistik struktural bergeser dari studi fenomena kesadaran linguistik ke studi ketidaksadaran infrastruktur. Kedua, linguistik struktural bukanlah ucapan yang menyenangkan sebagai kesatuan yang independen, yang justru mengambil sebagai dasar analisis relasi antara ucapan. Ketiga, linguistik struktural  mengenalkan konsep sistem. Keempat, linguistik struktural bermaksud menemukan hukum universal, baik induksi maupun deduksi. Teori linguistik kedua yang mempengaruhi pemikiran analisis Lévi-Strauss adalah teori fonem Roman Jakobson. Jakobson meyakini bahwa mustahil untuk mengevaluasi setiap elemen dengan baik dalam sistem bahasa jika tidak memandang hubungannya dengan eleman lain dalam sistem. Jakobson percaya bahwa fungsi utama bunyi bahasa adalah memungkinkan manusia membedakan kesatuan semantik, yang dilakukan dengan merasakan ciri-ciri khusus dari bunyi dan memisahkannya dari kekhususan lain dari bunyi. Poin penting dalam teori fonem Jakobson adalah pandangannya mengenai perbedaan fonem dari kesatuan linguistik lain (Ahimsa Putra, 2003: 247-248).

De Saussure menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem ucapan interdependen dimana nilai masing-masing ucapan merupakan hasil dari kehadiran simultan orang lain. Nilai dari setiap ucapan dalam bahasa dimaknai oleh lingkungan. Ada dua aspek dari bahasa menurut Saussure, yaitu bahasa dan jaminan. Bahasa menunjuk pada kode khusus (sistem pengetahuan teratur), yang mirip kemampuan pemikiran Chomsky. Ini merupakan Kumpulan fenomena yang hanya ada dalam ketidakmengertian dimana memungkinkan orang untuk berkomunikasi. Bahasa dalam kacamata Saussure juga merupakan relasi sistem. Ada dua macam relasi, yaitu distribusional dan integratif. Distribusional diartikan sebagai relasi antarelemen pada level yang sama, sedangkan integratif diartikan sebagai relasi antarelemen pada level yang berbeda. Seperti sistem fonemik, Lévi-Strauss menyatakan bahwa sistem kekerabatan merupakan sistem tindakan terstruktur melalui hukum ketidaksadaran, dan tindakan tersebut menjadi berarti hanya ketika mereka terintegrasi dalam sistem. Dalam mengaplikasikan analisis struktural dalam fenomena kekerabatan, Lévi-Strauss juga membuat perbedaan antara kekerabatan sebagai sistem terminologi dan sistem sikap. Lévi-Strauss setuju dengan yang kedua sebagai usahanya untuk menjelaskan sikap paman dari garis ibu atau kakak laki-laki dar ibu. Sejak kekerabatan dipandang sebagai suatu sistem, Lévi-Strauss percaya bahwa paman dari garis ibu merupakan bagian dari beberapa sistem kekerabatan. Untuk menganalisis sistem kekerabatan dalam hal ini perlu dilihat ciri ketidaksadaran dari sikap sebagai bagian dari sebuah sistem. Lévi-Strauss kemudian menarik kesimpulan bahwa “satu aspek dari sistem global terdiri dari empat tipe hubungan, yaitu saudara laki-laki/saudara Perempuan, suami/istri, ayah/anak laki-laki, dan kakak laki-laki dari ibu/anak laki-laki dari kakak Perempuan. Lévi-Strauss mengemukakan aturan umum bahwa dalam kebudayaan dimana hubungan antara kakak laki-laki dari ibu dan anak laki-laki dari kakak Perempuan adalah khusus “hubungan antara paman dari garis ibu dan kemenakan laki-laki adalah hubungan antara saudara laki-laki dan saudara Perempuan, sebagai hubungan antara ayah dan anak laki-laki juga antara suami dan istri (Ahimsa Putra, 2003: 249-252).

Asumsi Dasar Antropologi Struktural Amerika

The New Ethnography atau Antropologi Struktural Amerika menjelaskan kebudayaan manusia yang menghasilkan deskripsi lain yang sebanding dengan menggunakan metode atau pendekatan yang sama. Asumsi dasarnya di sini adalah kebudayaan manusia dipelihara agar fungsi macam-macam komponen terintegrasi dan berkaitan satu sama lain. Sebagai elemen baru yang ditemukan, mereka mencoba secara berkala sebelum adanya matriks kebudayaan. Perbandingan persilangan kebudayaan diprakarsai oleh G.P. Murdock. Kontribusi Murdock di lapangan antara lain: menggunakan kesimpulan statistik formal termasuk koefisien dan korelasi dan tes yang signifikan, membangun bibliografi etnografi continental secara sistematis dan yang lebih penting lagi menggunakan dalil logika yang formal, sebuah sistem dengan memberi alasan yang berasal dari doktrin alasan deduktif dan pemalsuan hipotesis Popper. Poin terakhir tersebut menunjukkan bahwa pendekatan persilangan kebudayaan menggunakan dasar epistemologi. Ilmu pengetahuan Popper adalah ilmu pengetahuan empiris yang menunjukkan “dunia nyata” atau pengalaman kita di dunia.  Sejak teori harus palsu, teruji, teori juga harus empiris, dan sistem teori empiris harus memenuhi beberapa syarat. Pertama, teori harus tiruan dalam Indera dan berisi pernyataan yang tidak bertentangan. Kedua, teori tidak harus menjadi metafisik, tetapi harus “menggambarkan dunia dari pengalaman yang masuk akal.” Ketiga, teori harus membedakan dari sistem lainnya, dan menjadi satu-satunya yang menggambarkan pengalaman dunia kita (Ahimsa Putra, 2003: 252-253).

Asumsi Dasar Strukturalisme Lévi-Strauss

Lévi-Strauss beranggapan bahwa bukan hanya naif, melainkan juga salah jika menggunakan penjelasan kesadaran tindakan nyata manusia untuk penelitian ilmiah. Pada pandangan Lévi-Strauss, fenomena kesadaran menutupi struktur ketidaksadaran. Tindakan dan penjelasan beberapa orang terkadang bertentangan dengan tindakan dan penjelasan orang lain. Keberadaan fenomena nyata tidak terlihat sebagai pemberian pada pengamat, tetapi lebih banyak pada level yang terdalam. Akibat dari pandangan ini sudah jelas, bahwa kita tidak dapat menjelaskan lebih banyak dalam mengartikan pemberian fenomena kebudayaan atau kebiasaan jika itu dipelajari terpisah.  Menurut Lévi-Strauss, struktur bukanlah gambaran ataupun pengganti realitas. Struktur merupakan realitas empiris yang menawan dalam organisasi rasional, dan tidak ada struktur yang terpisah dari isi atau sebaliknya. Dalam studi strukturnya, Lévi-Strauss memandang fenomena sosial sebagai “sistem objektivitas ide” yang digambarkan dengan simbol-simbol tertentu. Analisis struktural dapat menjadi ekonomi ilmiah, yang menggunakan angka terakhir dari aturan prinsip-prinsip untuk menjelaskan angka kemungkinan terbesar dari fenomena. Lévi-Strauss selalu mencoba mengkonstruksi model-model yang membuat fenomena sosial-budaya dapat dimengerti meskipun semakin kompleks  (Ahimsa Putra, 2003: 255).

Strukturalisme Amerika dan Perancis: Poin-poin Perbedaan

            Ahimsa Putra, (2003: 258-260 menjelaskan bahwa meskipun Antropologi Struktural Amerika dan Perancis sama-sama menggunakan metode linguistik sebagai model deskripsi kebudayaan dan analisis, hasil dari studi keduanya berbeda. Ada beberapa pandangan yang berbeda antara strukturalisme Amerika (The New Ethnography) dan Strukturalisme Perancis (strukturalisme Lévi-Strauss) di antaranya sebagai berikut.

1.     Perbedaan Tujuan

Strukturalisme Amerika lahir sebagai bentuk usaha beberapa ahli antropologi untuk menyaring metode deskripsi kebudayaan mereka dan menginginkan etnografi yang sebanding. Sedangkan strukturalisme Perancis berbanding terbalik dengan strukturalisme Amerika. Seperti studi perbandingan dalam linguistik, analisis antropologi didukung pula oleh sesuatu lebih dari klasifikasi atau kategorisasi belaka, yang dinamakan sebagai analisis nyata. Untuk memahami dan menjelaskan fenomena sosial-budaya, ahli antropologi membangun “efisien dan model yang terlalu hemat.”

2.     Perbedaan Konsep Kebudayaan/Gagasan Dasar

Strukturalisme Perancis memandang kebudayaan terdiri atas bermacam-macam aturan yang berada dalam sebuah struktur. Sedangkan strukturalisme Amerika (The New Ethnography atau studi persilangan kebudayaan) tidak menyangkal keberadaan struktur dalam kebudayaan, namun mereka memandang struktur sebagai sebuah sistem yang memiliki relasi fungsional antarelemen di dalamnya.

3.     Perbedaan Kriteria Teori Ilmiah

Menurut strukturalisme Amerika, ilmu pengetahuan yang tepat untuk tindakan manusia diuji dengan keterangan beberapa orang yang dalam banyak masyarakat. Sedangkan menurut strukturalisme Perancis, konsepsi ilmu pengetahuan dengan verifikasi penelitian secara teliti tidak berguna untuk analisis struktural.

4.     Perbedaan Konsepsi Makna

Strukturalisme Amerika menganggap bahwa makna ekspresi linguistik atau simbol adalah konsep-konsep kelas atau gambar yang dirancang atau ditunjukkan. Sedangkan strukturalisme Perancis menolak penunjukkan atau hubungan teori makna. Konsepsi makna dalam strukturalisme Lévi-Strauss mirip dengan ahli fonologi, berdasarkan pada makna fonem yang tidak dirancang dengan sengaja, namun posisinya berada di antara dua bahasa, yaitu sintakmatik dan paradigmatik.

5.     Perbedaan Latar Belakang Epsitemologi.

Posisi strukturalisme Amerika atau studi persilangan kebudayaan segaris dengan teori kebenaran korespondensi dimana bahan kajian tidak dapat diperkecil lagi dan dikenal sebagai “fakta”. Faktas diberikan observer, namun terpisah darinya. Sebaliknya, strukturalisme Perancis mengajurkan teori kebenaran koherensu (pertalian) dimana tidak ada pemisahan antara pikiran dan fenomena yang diamati. Fakta tidak diberikan, namun dibuat berdasarkan kehadiran observer.

B. Teori/Pandangan yang Muncul

            Berdasarkan uraian Ahimsa Putra dalam tulisan ini memberikan gambaran bahwa peneliti kebudayaan dalam penggunaan paradigmanya dipengaruhi oleh linguistik, memiliki pilihan-pilihan tertentu dalam pandangan-pandangannya. Menurut Ahimsa Putra ada dua pilihan bagi seorang peneliti kebudayaan yang berdasarkan pandangan-pandangan mengenai teks yang kemudian dapat diperlakukan sebagaimana halnya seorang ahli bahasa memperlakukan kalimat. Pertama, mengambil semantik differensial yang informal sebagai modelnya dan menerapkannya langsung pada teks-teks tertentu. Hal tersebut semakin memberikan pemahaman bagi saya bahwa pilihan pertama ini berlaku bagi paradigma etnosains. Kedua, mencoba menemukan semacam tatabahasa ala Chomsky atau fonologi ala Jakobson. Menurut Ahimsa Putra, Lévi-Strauss memilih yang kedua. Dengan demikian, sebagaimana yang dinyatakan Ahimsa Putra pilihan pertama yang diambil etnosains yaitu mengambil semantik differensial yang informal sebagai modelnya dan menerapkannya langsung pada pada teks-teks tertentu dan pilihan kedua yang diambil paradigma struktural Lévi-Strauss yaitu mencoba menemukan semacam tatabahasa ala Chomsky atau fonologi ala Jakobson sekaligus merupakan perbedaan penting dari paradigma strukturalisme dan etnosains yang sama-sama dipengaruhi oleh linguistik. Hal ini terlihat pada paradigma etnosains memilih pilihan pertama (mengambil semantik differensial yang informal sebagai modelnya dan menerapkannya langsung pada teks-teks tertentu).

C. Tanggapan Kritis

1. Pujian-Kelebihan

            Ulasan Ahimsa Putra dalam artikel yang berjudul “Structural Anthropology in America And France: A Comparison” merupakan tulisan yang memberikan pemahaman kepada pembaca terkait dengan jenis antropologi struktural yakni antropologi struktural Amerika dan antropologi struktural Perancis. Ahimsa Putra telah menguraikan dengan jelas terkait kedua jenis antropologi struktural yang meskipun keduanya menggunakan metode linguiistik sebagai model untuk deskripsi dan analisis budaya, namun hasil penelitian mereka sangat berbeda. Berbagai contoh yang diuraikan Ahimsa Putra dalam menjelaskan kedua jenis antropologi struktural tersebut semakin memperdalam wawasan pembaca dalam memahami antropologi struktural. Tulisan ini menunjukkan keilmuan Ahimsa sebagai penulis yang mampu menjabarkan secara detail epsitemologi dari antropologi struktural yang bersifat komparatif. Dengan kedalaman pengetahuan penulis, sehingga tulisan ini sangat tepat dijadikan referensi utama dalam memahami strukturalisme. 

2. Kritik-Kekurangan                                            

            Tulisan ini bersifat komparatif sehingga harus membutuhkan ketelitian dan pemahaman pembaca terhadap epistemologi struktural, antropologi, dan linguistik yang mendalam. Bagi saya, ketika mau membandingkan tentunya pendeskripsian artikel ini harus berlandaskan pada ketiga pengetahuan tersebut. Berangkat dari penulisnya yakni seorang professor yang menggeluti strukturalisme Lévi-Strauss, membuat tulisan ini sangat ilmiah dan mendalam, sehingga kadang saya sebagai pembaca merasa ada hal yang kurang dipahami terkait dengan kaidah keilmuan yang dijelaskan oleh penulis. Oleh karena itu, saya berusaha maksimal untuk memahami tulisan ini, sehingga perlunya penjabaran secara mendetail terkait konsep strukturalisme, antropologi, dan linguistic sebelum memasuki penjabaran mendetail terkait dengan perbandingan antropologi struktural Amerika dan Perancis.

Oleh karena itu, keterbatasan saya pada epistemologi dalam tulisan ini membuat saya merasa kurang paham pada penjelasan yang terdapat pada keterbatasan pengujian hipotesis mengenai hubungan antara sistem kekerabatan dan ekologi dalam masyarakat. Dalam tulisan ini, keterkaitan antara sistem kekerabatan dan ekologi pada masyarakat belum dijelaskan secara mendalam terutama hubunganya pada kedua jenis antropologi struktural.

Selanjutnya Ward Goodenough mengemukakan bahwa antropolog mempelajari budaya asing sama seperti linguis mempelajari bahasa asing, sehingga hal ini berangkat dari masalah yang dihadapi oleh antropolog dan linguis. Dengan dasar ini, Goodenough menyarankan kepada antropolog untuk menggunakan metode linguistik sebagai model untuk mendeskripsikan kebudayaan. Pernyataan ini sebenarnya menjadi acuan dalam memahami antropologi struktural, namun ketika metode linguistik dijadikan sebagai dasar dalam memahami kebudayaan menjadi sebuah hal yang perlu untuk lebih ditelaah lagi agar dapat pembaca dapat memahami secara komprehensif maksud dari pernyataan tersebut dalam artikel ini. Hubungan kajian antropolog dan linguis baik asumsi, konsep, metode, hasil analisis dan representasinya perlu ada perbandingan khusus sehingga dapat lebih membantu pemahaman pembaca terkait dengan antropologi struktutral.  Oleh karena itu, sebagai pembaca merasa sangat membutuhkan pencerahan dari Prof. Dr.  Heddy Shri Ahimsa Putra sebagai penulis, agar kiranya bisa memberikan penjelasan detail terkait dengan espitemologi metode lingusitik yang dijadikan acuan oleh antropolog dalam memahami fenomena kebudayaan baik melalui antropologi struktural Amerika maupun Perancis. Hal ini dapat menjadi acuan saya dalam mengembangkan kelimuan sastra untuk memahami gejala kebudayaan dalam  sastra lisan dan tulisan. 

 

Daftar Pustaka

Ahimsa-Putra, H. S. 2003.  Structural Anthropology in America And France: A Comparison. Humaniora XV (3): 239-264.  

This study aims to describe the kinship system of Balinese from the novel Tarian Bumi by Oka Rusmini which uses literary anthropology approach. In analyzingthe cultural elements particularly the kinship system of the Balinesein the novel, this study uses descriptive,interpretative method by presenting it in description technique. The data were collectedfrom reading and note-taking technique,and these were further analyzedusing literary anthropology approach with content analysis model. Content analysis was donethrough inference, analysis, validity,and reliability. The results reveal that the Balinese practice the patrilineal and one-caste kinship system. This relationship is clearly illustratedby Telaga, a descendant ofBrahmin strata, who married to a Sudra man.The marriage brought in disgrace,and a catastrophefor the family. Telaga opposed the one-caste marriage systemby marrying a man who was not a descendant of the Brahmins. As a result, Telagawasexpelledfrom her‘Dadia’ (Brahmin’s family temple). Telaga followed her husband as a Sudra woman along with her descendants because of the patrilineal kinship system that governs the lives of the Balinese. In conclusion, the kinship system of the Balinese from the novel “Tarian Bumi” by Oka Rusmini is patrilineal, which turns to be a tradition for the Balinese in their marriage

Link:

https://jos.unsoed.ac.id/index.php/jli/article/view/252/317

A. Ringkasan

Tulisan ini membahas perjalanan pencarian identitas dalam puisi-puisi hitam di Amerika Serikat, yang menjadi gerakan sastra dominan setelah tahun 1900, terutama selama Perang Dunia Pertama—era 'pencarian', kehidupan mewah dan minuman keras—ketika orang Afrika Amerika mulai berjuang untuk mengidentifikasi diri dengan budaya massa hitam karena, seperti yang ditulis oleh Claude McKay, "Adalah orang-orang biasa... yang menyediakan tulang dan otot serta garam dari suatu ras atau bangsa" (McKay, 47). Keberadaan yang menyedihkan, kelemahan dan kemiskinan yang memilukan, penindasan mereka dan penolakan oleh masyarakat kulit putih yang bermusuhan serta lingkungannya merupakan bagian dari pengalaman umum mereka. Menurut McKay, "Ada paradigma rasial, yang terletak dalam sejarah masa lalu ras ini, ditemukan dalam gaya hidup orang miskin dan bahkan dalam eksistensi yang tidak pasti dipertahankan oleh kelas menengah hitam, terpaksa berjalan di atas tali keteguhan antara kebanggaan ras dan penerimaan kulit putih" (McKay, 49). Berdasarkan pada warna kulit, rasa dualitas itu datang "dari inti Kesadaran Amerika Hitam dan diulang, berulang kali, dalam berbagai cara, oleh penulis-penulis Negro Amerika" (McKay, 52). Gwendolyn Brooks dengan tepat mengatakan bahwa hanya karena dia hitam, dia tidak bisa menghindari memiliki hal-hal penting untuk dikatakan. Tubuhnya yang sederhana saja, bagaimanapun, adalah keindahan kata-kata. Langkah diamnya di jalan adalah pidato bagi orang-orang, adalah teguran, adalah permohonan, dan adalah sekolah. Menolak ras sebagai mitos dan konsep yang sedang mati, Redding, bagaimanapun, menerima bahwa ras "juga merupakan beban bagi semua orang, tetapi merupakan beban pribadi bagi Negro—beban rasa malu dan kemarahan yang diberikan padanya pada saat paling awal kesadarannya dan tidak pernah diangkat sampai mati, semua energinya, mental, emosional, spiritual, harus disimpan untuk memikulnya" (Brooks, 47).

Dilema penulis Amerika Afrika seperti yang dijelaskan oleh James Weldon Johnson di bawah judul serupa melibatkan tema kembaran, dua dunia, dua sudut pandang yang antagonis. Telah terlihat bahwa, sebagai hasil dari kesadaran baru itu, penulis hitam, mulai dari titik waktu itu, tidak punya pilihan selain untuk mengemban beban baru tersebut, atau dengan kata lain, melakukan tugas ganda. Pertama, dia telah mulai merujuk masyarakat kepada dirinya sendiri dan menciptakan seninya sambil menentang masyarakat tersebut. Kedua, dia tidak dapat jujur dengan dirinya sendiri atau dengan orang-orangnya tanpa memberikan dukungannya untuk pembentukan masyarakat baru yang menghormati martabat manusia, terlepas dari warna kulit atau penampilannya.

Transformasi unik dan radikal dari perbudakan menuju kebebasan, dari penurutan dan permohonan menjadi protes, dari ketiadaan menjadi identitas, dari gambaran diri berdasarkan pandangan orang kulit putih menjadi gambaran diri berdasarkan pengalaman pribadi, penderitaan bersama, dan kesulitan bersama, posisi sosial rendah, asal-usul rumah bersama, dan warisan bersama. "Penuh semangat" dengan psikologi baru, "semangat baru ini pada dasarnya adalah penyegaran dari rasa hormat diri dan kemandirian" (Brooks, 97). Alain Locke menyebutnya sebagai pembebasan spiritual bagi individu Hitam yang baru, yang terguncang oleh psikologi pembatasan dan inferioritas tersirat pada tahun 1920-an.

Tantangan yang dihadapi adalah pertanyaan yang sangat relevan: apakah ada yang disebut sebagai pengalaman Hitam. Karena orang Afrika Amerika di Amerika telah menjalani keberadaan yang didehumanisasi, baik pengalaman individu maupun kelompok, oleh karena itu, tidak memiliki makna dan signifikansi. Keduanya, berdasarkan kesadaran, tidak menghubungkan satu individu dengan individu lain atau kelompok apa pun. Interpretasi sosiologis dan psikologis ras cenderung mengabaikan elemen pengalaman pribadi penyair, yang menjelaskan keunikan mereka. Namun, memang benar bahwa setiap penulis selama periode krisis tidak bisa menjauh dari tekanan sosial-psikologis ras mereka. Countee Cullen, Claude McKay, dan Jean Toomer telah berupaya melampaui garis ras tetapi gagal mengatasi dorongan batin mereka untuk membawa ras ke dalam puisi mereka. Ini terutama karena pengalaman pribadi dan publik mereka telah bersatu. Tulisan otobiografi mereka, khususnya, adalah ungkapan dari penderitaan pribadi mereka, tetapi, pada saat yang sama, mereka mencerminkan kehidupan sebagian besar orang Afrika Amerika. Baik para penulis maupun para pembaca sangat akrab dengan situasi tersebut.

Hidup mereka yang terpencil di lingkungan getto, pekerjaan tidak bergengsi, seperti tukang angkut, pembantu rumah tangga, pegawai lift, buruh, atau penggosok sepatu, perilaku seksual mereka yang sembarangan, dan hierarki sosial dalam komunitas Hitam, yang terbagi menjadi subkelompok, adalah beberapa faktor signifikan yang menghambat perkembangan citra Amerika Afrika yang pantas dihormati atau citra Amerika yang otentik. Banyak dari mereka tidak memiliki kehidupan keluarga, status kelas tertentu, dan hubungan yang terstruktur secara spesifik untuk menetapkan tempat yang pasti dalam masyarakat atau kelompok. Mereka telah menjalani kehidupan dalam anonimitas.

Tradisi sastra keagamaan orang Afrika Amerika dalam bentuk spiritual, mitos tentang kesabaran dan ketahanan tak terbatas masyarakat, memori komunitas dan folklore, citra renaissance, dan mitos tentang orang Afrika Amerika baru sebagai Kristus Hitam Afrika, memberikan mereka saluran yang konkret untuk membangun identitas dan kesadaran memiliki masa lalu bersama dan takdir bersama. Dalam keadaan ini, dilema utama mereka adalah mengidentifikasi diri dengan Amerika atau Afrika, dengan orang kulit putih atau orang kulit hitam, untuk menerima budaya Anglo-Saxon kulit putih atau budaya hitam murni yang dikenal sebagai 'negritude.' Membedakan perbedaan antara dualisme budaya kulit putih dan kulit hitam Amerika, Saunders Redding mengamati bahwa perbedaannya lebih pada 'batang dan cabang.' Orang Afrika Amerika merasa kehilangan akar. Secara alami, mereka melihat ke belakang untuk mencari akar mereka di Afrika. Ralph Ellison, bagaimanapun, percaya bahwa orang Afrika Amerika telah dipaksa untuk berhubungan secara sadar dan imajinatif dengan latar belakang campuran mereka sebagai orang Afrika dan Amerika. Saunders Redding menemukan dalam sastra periode yang diteliti unsur-unsur yang bertentangan dan percaya bahwa orang Afrika Amerika adalah "asli dan canggih, elemen dan terlalu kritis, histeris dan sadar, ceroboh dan bermakna, sukacita bebas dan tetapi terjebak dalam perbudakan yang tak berharap" (Redding, 203). Dia menggambarkannya sebagai "periode katarsis yang benar-benar menggerus dan menggeliatkan" (Redding, 207). Seperti yang terungkap dalam penelitian, itu adalah periode gestasi bagi orang Afrika Amerika, karena mereka sedang mengalami tekanan dan beban yang besar. Identitas diri mereka yang terkurung perlahan-lahan bergerak menuju lahirnya citra diri yang baru.

Dalam keadaan ini, mereka tidak dapat mengembangkan objektivitas artistik. Para penyair terpaksa menghidupkan karya mereka dengan penderitaan mereka, sejarah mereka, beban mereka, dan pengakuan terhadap diri mereka sendiri dalam hal 'negritude' mereka. Dalam periode introspeksi, eksplorasi, dan ekspresi, kita menemukan bahwa orang Afrika Amerika berurusan dengan visi kompleks tentang diri mereka sendiri dan situasi mereka. Visi mereka telah manusiawi dan romantis, rasial, dan universal. Mereka telah mencoba untuk menyeberangi Sungai Mississippi, direndam dengan pertempuran ritualistik Hitam vs. putih. Jika, di satu sisi, mereka cenderung menggambarkan batas-batas citra diri mereka, mereka juga, pada saat yang sama, menghancurkan citra Anglo-Saxon kulit putih. Menolak konsep Kristen tentang Tuhan, mereka beralih ke sastra yang mencerminkan kualitas dewa Romawi dan Yunani, kuat, tangguh, dan mampu menghukum penindas sesuai dengan citra baru mereka sendiri. Citra baru tentang kemandirian diri telah dijadikan citra massa di mana semua orang Afrika Amerika bisa melihat diri mereka sendiri dengan memperoleh artefak budaya dan berbagai mitos. Mereka telah berada di jalan menuju definisi diri. Hal ini memberikan keunikan yang tidak bisa tenggelam dalam arus gerakan kelas pekerja. Atau hancur oleh holokaus dari Perang Dunia Kedua. Tetapi peristiwa-peristiwa ini tentu saja telah meredakan pahitnya rasial.

Pertumbuhan nasionalisme di Afrika dan pembentukan negara-negara bangsa yang telah mengguncang citra Afrika romantis mereka. Mereka menyadari kesenjangan budaya antara mereka dan orang Afrika. Mereka tiba-tiba menemukan bahwa mereka lebih erat terikat dengan 'neraka' budaya Amerika. Pengalaman Amerika mereka, dengan nuansa humanisme, universalisme, dan naturalisme, tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya Amerika yang luas. Mereka kembali pada pengalaman Amerika tetapi dengan perbedaan karena mereka telah siap untuk hidup di Amerika sebagai komunitas yang terpinggirkan, melayani peradaban dan budaya Amerika. Orang Afrika Amerika telah menempuh perjalanan yang panjang dari protes menuju keunikan, dari keunikan menuju tuntutan, dari tuntutan menuju penerimaan diri mereka sebagai orang Amerika, dengan kesetaraan hak dan status, dan dengan partisipasi yang sama dalam mewujudkan mimpi-mimpi mereka yang terpendam selama ini.

Jika ketidaksepakatan dengan otoritas besar seperti Saunders Redding dan Richard Wright tidak dilihat sebagai tanda kegilaan, dapat disarankan bahwa penggunaan frasa seperti "navel-gazing narzistik para seniman" (Wright, 184) atau 'level narzistik' untuk sikap sastra statis oleh para sarjana yang disebutkan di atas hanya menjelaskan sebagian dari kebenaran, bukan keseluruhan. Ini adalah pandangan yang sangat sempit dan penilaian yang konservatif. Selain itu, frasa 'level narzistik' digunakan di sini lebih dalam artian psikologi klinis dan bukan dalam arti kesadaran diri semata seperti yang ditunjukkan sebelumnya.

Berbeda dengan pendahulunya yang melakukan restart estetika ke dunia puisi dan merindukan kebebasan, akhirnya dalam kematian, DuBois optimis tentang "retakan tirai dalam kehidupan ini di mana lagu, keringat, dan semangat dari orang-orang Hitam dapat melewati pusaran dan kekacauan dari garis warna untuk membebaskan Negro Amerika yang dipenjara" (DuBois, 276). Dari semua bentuk seni, puisi adalah ungkapan artistik paling sabar dan efektif dari jiwa, dan penyair adalah antena ras dan bangsa, merefleksikan kondisi mereka sendiri dan kondisi orang-orang. Penulis yang kurang terdokumentasi telah mencoba mengintegrasikan fenomena internal dan eksternal berdasarkan kebanggaan ras, serta kesedihan atas ketidakadilan yang dialami. Mereka menggambarkan secara realistis dan estetis dunia orang Amerika Hitam dalam terminologi humanistik yang murni dan, kadang-kadang, holistik. Mereka telah membangun tradisi kesenian dan kebenaran serta kebanggaan menjadi orang Hitam. Mereka menyanyikan ikatan persaudaraan dan kebutuhan akan kebebasan dan kesetaraan. Alam keturunan, secara alami, mengikuti mereka. Tak heran para nabi dari mereka yang Hitam merunduk untuk menaklukkan dunia melalui lagu-lagu "dengan jiwa yang terbangun, bijaksana, dan kuat" (DuBois, 97).\

Para sarjana Hitam yang peka telah menghasilkan sastra yang dapat dijelaskan sebagai sastra "kehidupan yang dirasakan," untuk meminjam istilah Jamesian, atau sastra kebutuhan. Ini telah membantu mengintegrasikan diri dalam orang Amerika Hitam dengan fenomena eksternal, yang tidak dapat dihindari adalah Amerika dan bukan Afrika. Pengalaman Amerika mereka telah berkembang menjadi jenis sindrom rasa takut akan kebencian. Tetapi mereka tetap, meskipun Garveyism, bagian tak terpisahkan dari pengalaman Amerika. Betapa kompleksnya visi identitas mereka dapat diilustrasikan dengan perspektif yang berbeda yang dipegang oleh penulis Afrika Amerika.

W.E.B. DuBois adalah seorang sarjana besar dan juru bicara terkenal dari orang-orang kulit gelap di Amerika dan dunia, yang diakui oleh Henry James dan dihormati oleh James Weldon Johnson. DuBois adalah tokoh sastra besar yang tidak terjerumus ke dalam pesimisme, juga tidak menganggap subjek dengan seni simbolis yang sangat berkembang. Meskipun demikian, beberapa simbol seperti 'rawa' dan 'kapas' telah terbukti abadi. Sebagai bintang terang dari fajar puisi "New Negro", ia telah memperkenalkan era baru dalam sastra Afrika Amerika. DuBois adalah perintis. Ia telah menekankan pentingnya sastra dan seni sebagai media untuk mentransformasi citra diri orang Afrika Amerika yang telah banyak dieksploitasi. Selama bertahun-tahun, ia telah memungkinkan sesama orang Afrika Amerika untuk memahami kebangsawanan warisan mereka dan merasakan kembali rasa bangga rasial, basis utama bagi citra diri yang stabil dan positif. Menganggap setiap orang Afrika Amerika sebagai seniman, ia percaya bahwa keyakinan, ketegasan, dan ketekunan adalah sebuah kokon untuk melindungi mereka dan ras mereka dari materi putih, dari serangan spiritual dan budaya, bukan baju besi psikologis untuk melawan penindasan kulit putih dengan kondisi yang sama. Bagi DuBois, seni adalah propaganda, minatnya sejalan dengan aktivisme politiknya. Tulisannya yang jujur dan elok berfungsi sebagai cermin, menunjukkan dualisme psikis penonton. Ia juga telah mengusulkan strategi, baik sastra maupun lainnya, untuk menghapuskan dualisme psikis dan mengembangkan citra diri dan identitas diri yang terintegrasi berakar dalam tradisi Hitam.

DuBois adalah seorang pembangkit semangat dan pembuat mitos. Buku The Soul of the Black Folk-nya dianggap sebagai "pernyataan yang elok tentang kondisi dan aspirasi Negro" (DuBois, 64). Mungkin "pandangan yang paling otentik tentang kehidupan Negro" (DuBois, 76). Ia menginginkan untuk melawan dan menghapuskan citra seratus tahun dari puisi "New Negro", "Negro" sebagai gambaran jelek, ilusi kotor, komentar yang buruk, atau prediksi pesimis. DuBois, seorang perintis dan propagandis, mengamati bahwa orang Afrika Amerika, hingga pergantian abad ini, melihat diri mereka melalui mata dunia kulit putih. Menjadi Hitam dan Amerika berarti menderita dari dua-ness yang tak dapat dipulihkan, ambivalensi. "Dua jiwa, dua pikiran, dua usaha yang tak dapat disatukan, dua gagasan yang bertikai dalam satu tubuh yang gelap" (DuBois, 97) telah memberikannya kesadaran ganda. Namun, ada keinginan yang sangat kuat di antara orang Afrika Amerika "untuk mencapai kedewasaan diri yang sadar, untuk menyatukan diri dengan diri ganda mereka menjadi diri yang lebih baik dan lebih benar" (DuBois, 203). Formulasi DuBois tentang dilema seniman Hitam adalah salah satu yang paling awal dan mungkin masih yang paling jelas. Tulisannya merayakan budaya Hitam dan menyemangati kebanggaan dan kepercayaan diri orang Hitam. Tetapi pada saat yang sama, ia berusaha untuk mendamaikan idealisme universal persaudaraan internasional dengan kondisi Amerika di mana ia dianggap rendah. Sebagai seorang humanis, ia lebih peduli dengan masalah manusia daripada hal-hal, lebih dengan perubahan kondisi manusia daripada menerima batas-batasnya.

James Weldon Johnson, seorang kontemporer dari W.E.B. DuBois, adalah seorang penyair, diplomat, pengacara, lobbyist, dan penyanyi terkenal yang menggambarkan nilai-nilai konservatif lama berdasarkan status dan prestise. Berdasarkan bukunya The Autobiography of an Ex-colored Man (1912) dan Along This Way (1933), dapat dikatakan bahwa ia adalah seorang penulis yang akan berada di tengah-tengah antara Gargeyites dan van Vechtenites. Mengenai konsep identitas orang Afrika Amerika, ia tidak memuja warisan Afrika, juga tidak tradisi rakyat Afrika Amerika dan warisan budaya. Berbeda dengan DuBois, Langston Hughes, dan Claude McKay, ia tidak tegas memegang identitas Afrika. Menurutnya, Afrika adalah mitos yang orang Afrika Amerika miliki secara romantis dan tidak realistis

James Weldon Johnson menutup argumennya dengan menyatakan bahwa prasangka menindas baik orang kulit putih maupun orang Afrika Amerika. Pandangannya mengingatkan pada Pameran Atlanta Booker T. Washington. Johnson menekankan identitas Amerika dengan begitu yakinnya sehingga ia menyanyikan: Tanah ini milik kita karena hak lahir, Tanah ini milik kita karena hak kerja, Kami membantu mengolah tanahnya yang subur Keringat kami ada di dalam tanahnya yang produktif (McKay, 240). Dalam perspektif ini, ia mendorong anggota rasnya untuk mengembangkan identitas mereka sebagai warga Amerika modern beradab.

Berbeda dengan Johnson, Langston Hughes dengan tegas percaya bahwa identitas Afrika fundamental bagi orang Afrika Amerika. Sejalan dengan gagasan Marcus Garvey, ia menempatkan nilai tinggi pada tradisi Afrika, citra Afrika yang kuat untuk kelangsungan komunitas Afrika di Amerika dan untuk menghindari cengkeraman penyiksaan dari budaya kulit putih. Ia berdebat dengan George S. Schuyler yang menolak gagasan bahwa ada budaya Hitam yang berbeda. Schuyler menganggap rasisme sebagai hal tidak penting; pada dasarnya, sebuah kepercayaan takhayul. Schuyler menekankan perlunya menghilangkan dualisme di Amerika. Tetapi Hughes, seorang penganut kuat estetika Hitam yang memulai gerakan 'negritude,' dalam artikelnya The Negro Artist and the Racial Mountain, menegaskan bahwa orang Hitam harus mempertahankan identitas mereka di hadapan standarisasi Amerika dengan memegang teguh warisan budaya mereka. Mereka harus bangga dengan kulit mereka: “Saya seorang Negro dan cantik” (Hughes, 45). Ia menulis: “Kami, seniman Negro muda yang menciptakan sekarang, berniat untuk mengungkapkan diri kami yang berkulit gelap tanpa takut atau malu. Kami membangun kuil kami untuk esok hari, sekuat yang kami ketahui dan kami berdiri di puncak gunung dengan bebas di dalam diri kami sendiri” (Hughes, 90). Jauh dari rasa kasihan pada diri sendiri dan penolakan diri, ia mengenakan warna kulitnya tidak seperti “kain kafan tapi sebagai bendera bagi yang bangga seperti lagu yang mengudara tinggi” (Hughes, 71). Ia bukanlah seorang rasialis buta karena ia tahu bahwa rasnya tidak sepenuhnya luar biasa maupun sepenuhnya tercela: “kita tahu kita cantik dan buruk juga” (Hughes, 72).

Jika dibandingkan dengan perwakilan Harlem Renaissance lainnya, jelas bahwa ia mengambil posisi ekstrem pada saat itu dan menginginkan agar orang Afrika Amerika mengembangkan identitas Hitam yang berbeda di Amerika. Sebagai perwakilan sejati dan pengikut Nasionalisme Hitam, ia menginspirasi mereka untuk “Mengangkat tanganmu, anak berkulit gelap, ambillah sebuah bintang.”

Claude McKay, seorang Jamaika, senior dari Langston Hughes, memiliki "[s] bakat yang otentik, visi yang membangkitkan dari rincian yang membingungkan dari pengalaman dan membawa gambaran secara lengkap dengan kontur yang sempurna dan gradasi warna, dan diungkapkan dengan pasti oleh sang seniman yang pandai" (McKay, 96). Sebagai pengamat yang sensitif dan cerdas, ia terkejut oleh kekejaman yang tidak terhormat yang diberikan kepada anggota rasnya. Ia bereaksi seperti seekor panther yang terluka dan mengekspresikan dirinya dalam puisi dengan perayaan bangga, kemerdekaan pribadi, dan keceriaan luar biasa. Puisinya sangat indah sehingga ia dikenal sebagai seorang radikal estetika. Ia menunjukkan kelasnya dalam If We Must Die (McKay, 97). Bukan seorang perfeksionis besar dan seorang praktisi 'seni demi seni,' ia adalah seorang propagandis yang keras yang puisinya datang secara alami untuk mengungkapkan kemarahannya, penghinaannya, kesombongannya, dan tantangannya. Namun demikian, tujuan utama puisinya bukanlah untuk menggoyangkan, menangis, atau menghina tetapi untuk menolak sepenuhnya citra Amerika kulit putih mengenai orang Afrika Amerika.

Dengan sensualitas yang sangat halus, ia memusatkan perhatian pada lawan dari kebaikan dan kejahatan dalam kesadaran insting dan intelektual Afrika Amerika, dari gairah dan spiritualitas, namun ia sederhana, merdeka, dan tidak tercemar. Seperti Langston Hughes, ia mengagumi primitivisme dan benci pada peradaban Barat dan industrialisasi. Ia lebih efektif sebagai seorang penyair protes karena ia mengartikulasikan kemarahan, militansi, dan tantangan Hitam. Ia terlalu banyak bersifat individualis; ia tidak merasa terlibat secara mendalam dalam budaya Afrika Amerika. Sebagai seorang asing dan seorang pengembara yang kompulsif, ia berkelana di Eropa dan Afrika Utara, mencoba untuk menemukan gambaran yang sejati dari Afrika. Sebagai realis sosial, puisi dan fiksinya menyoroti penderitaan dan deprivasi orang Afrika di mana pun dan dari semua jenis, termasuk deskripsi tentang germo dan pelacur, perkebunan, pesta, dan pertemuan doa. Dalam hal ini, ia percaya pada persaudaraan Hitam universal. Citra diri yang diinginkannya agar orang Hitam miliki diungkapkan dalam baris terakhir puisinya Baptism, “Sebuah jiwa yang lebih kuat dalam bingkai yang lebih halus” (McKay, 94). Ia membayangkan sebuah dunia kesadaran Afrika Amerika yang bangkit.

Jean Toomer, seorang penulis keturunan campuran, adalah orang yang memberikan perlakuan artistik pada kehidupan orang Afrika Amerika untuk membuatnya menjadi bagian dari sastra Amerika yang otentik. Penulis terbesar dari para penulis Harlem Renaissance, ia memberikan kontribusi berlimpah dalam idiom, gambar, dan simbol Hitam yang sangat halus dan berkualitas tinggi. Ia juga memperkuat tradisi estetika Hitam yang berkembang. Jika salah satu penulis Harlem mendekati definisi puisi, itu adalah Jean Toomer. “Bukan autotelic,” puisinya “bergantung pada kejeniusan kreatif sang penulis dan dalam perlakuan terhadap materi subjek, mencapai lebih dari bentuk dan struktur dan berkomunikasi dengan setiap orang di mana saja” (Toomer, 471). Ia menunjukkan cinta yang tidak malu-malu dan tak terhambat pada ras, tanah, dan lingkungan. Secara realitas, respon Toomer sendiri tidak bersifat parokial. Dengan minat yang mengganggu pada kehidupan manusia, ia menyajikan harmonisasi dari berbagai strain warisan Amerika. Pandangannya terhadap manusia universal tidak memungkinkan ia untuk melepaskan pengaruh dari menjadi Hitam, karena dalam Cane ia menggambarkan orang Afrika Amerika, warisan mereka, penderitaan mereka, kegembiraan, dan melodi. Ia memberikan tema urban primitivisme yang berbeda. Ia menggunakan simbol 'Cane' untuk menggambarkan alienasi orang Afrika Amerika, yang dicabut dari tanah Afrika, ditanam di tanah Amerika yang tidak ramah. Namun menurutnya, alam telah melakukan percobaan di Amerika “selama tiga ratus tahun dan dengan jutaan darah yang bersilangan untuk menghasilkan satu orang” (Toomer, 408). Ia memproyeksikan orang Afrika Amerika sebagai bagian integral dari masyarakat Amerika. Seorang humanis yang komitmen, Toomer juga melihat orang Afrika Amerika sebagai komunitas, terintegrasi dengan Afrika dan ras-ras lain dari umat manusia. Berbeda dengan Emerson dan Whiteman, yang tujuannya adalah pemenuhan diri dengan membangun jiwa yang mandiri, Toomer ingin orang-orang memenuhi diri mereka sendiri untuk menjadi utuh. Perspektif identitasnya melampaui parameter rasial karena ia melihat orang Afrika Amerika sebagai salah satu dari tujuh aliran dari rakyat Amerika.

Countee Cullen adalah seorang sarjana besar dan penyair dalam tradisi Keats dan Shelley. Terobsesi dengan tema kematian, ia dianggap sebagai seorang penyair pesimis yang bisa menangis dan menjerit tetapi tidak bisa menggigit. Dia bertekad untuk tidak dianggap sebagai penyair khusus Afrika Amerika, dia mencoba untuk menghindari konfrontasi dengan realitas yang diimpos oleh zamannya dan rasnya padanya.

Cullen adalah menantu dari W.E.B. DuBois dan untuk waktu yang lama ia gagal mendapatkan pengakuan yang pantas dia terima. Meskipun karyanya terkesan turunan dalam kualitasnya, kurang orisinal dan alami dibandingkan Langston Hughes, dan ia konservatif dalam keyakinan politik dan sosialnya, ia berusaha untuk mengubah pandangan stereotip tentang orang Afrika Amerika. Meskipun sebagian besar puisinya non-rasial, ia menyoroti warna dengan menempatkan penerbitannya di bawah judul ini dan dalam setiap publikasi berikutnya, ada bagian tentang ‘warna’. Puisinya terutama menyentuh tragedi dan frustrasi orang Afrika Amerika dan warisan Afrika mereka yang berwarna. Tetapi dia berhasil menembus batas rasial dan membangun citra diri tragis orang Afrika Amerika. Pada dasarnya pesimis dalam pandangan, ia mengungkapkan penderitaan bangsa Hitam. Sebagai pengagum Afrika yang tekun, ia mempertanyakan apakah rekan-rekan kulit putihnya memiliki semangat dan nilai yang sama mulia seperti yang dimiliki oleh orang Hitam. Upaya nya untuk mengekspresikan kesedihan dan dukanya atas rasnya adalah semacam kemenangan spiritual seperti yang dikatakan dengan benar oleh Blanche E. Ferguson. Namun demikian, seperti Claude McKay dan berbeda dengan Toomer, James Weldon Johnson dan Langston Hughes dan penyair generasi muda lainnya yang menegaskan karakter dan gaya orang Hitam, Cullen menampilkan dorongan negatif. Tetapi beban dorongan negatifnya jauh lebih ringan oleh spiritualitasnya, yang bebas dari bentuk Kristen tetapi dilengkapi dengan komitmen mistis terhadap kehitaman dan cinta komunal.

Meskipun dengan sudut pandang yang berbeda, semua penyair ini meraba-raba dalam kegelapan dalam pencarian gambar. Mereka juga telah berjuang untuk menemukan gambaran Amerika dengan mana mereka bisa mengidentifikasi diri. Ini adalah gerakan pikiran, keyakinan yang dibagikan oleh mereka dan penyair lain yang mengekspresikan pengalaman mereka dalam pola bicara Hitam, idiom Hitam, dan irama Hitam. Tetapi jalan yang mereka ikuti melewati lorong-lorong rasisme dan penyembahan diri. Secara umum, klaim mereka untuk keunikan daripada pemisahan telah mengambil bentuk pencarian masa lalu metafisik, yang termanifestasi dalam upaya mereka untuk melampaui ras. Meskipun strategi operasional telah mengikuti pola perang ras, itu salah untuk membingungkan krisis budaya dengan perang ras.

Puisi orang Afrika Amerika telah melayani tujuan sosio-psikologis. Ia telah memberikan cermin kepada pembaca yang, saat melihat ke dalamnya, melihat diri mereka yang terpenjara, disiksa, ketidaksadaran mereka, masa lalu budaya mereka, saat ini, masa depan, kepercayaan mereka sendiri, yang percaya diri, ceria, dan kuat dalam kebanggaan, keindahan mereka. Seperti mitos Cane dan limbo budaya, orang Afrika Amerika sedang dalam perjalanan panjang dan berat untuk menemukan identitas dan akarnya, secara bertahap memperoleh visi baru, perasaan baru, ekstensi yang tak terbatas, dan kesatuan dengan seluruh komunitas Hitam. Jika sastra adalah indeks citra diri, para penulis Afrika Amerika, meminjam bentuk puisi Inggris, telah menyerap naturalisme Emile Zola, Frank Norris dan Dostoevsky, telah memperoleh persepsi Garvey dan telah minum dalam penuh pada sejarah dan budaya ras, menikmati campuran idealisme realistis dan humanisme “sebuah sintesis dari mana jiwa orang Hitam bisa muncul terangkat dan diperbesar.” Memang, ini adalah spektrum yang unik dan luar biasa, sebuah pelangi, menunjukkan fajar visi yang indah dari citra diri yang terintegrasi sepenuhnya dari orang Afrika Amerika, bahkan, dari Amerika yang baru.

 

B. Kesimpulan

Bab 8 dari karya "The Potent Voices of Selected African American Poems" oleh Dr. M.H. Mohamed Rafiq dan Tawhida Akhter menyoroti pengaruh yang kuat serta kekuatan yang dimiliki oleh puisi-puisi terpilih dalam sastra Afrika-Amerika. Dari analisis bab tersebut, terdapat beberapa kesimpulan yang dapat diambil. Pertama, puisi-puisi ini menjadi ekspresi yang sangat kuat mengenai budaya dan identitas Afrika-Amerika, menyajikan pengalaman yang unik dan perspektif yang mendalam, yang pada gilirannya memperkaya pemahaman akan sejarah, perjuangan, dan pencapaian komunitas tersebut. Kedua, puisi-puisi ini juga menyoroti tema resistensi terhadap penindasan dan diskriminasi rasial, serta memperkuat gagasan pemberdayaan dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut, menjadi suara yang mewakili perjuangan untuk kesetaraan dan keadilan. Selanjutnya, keindahan bahasa dan gaya sastra yang terpancar dalam karya-karya ini tidak hanya memperkuat pesan yang ingin disampaikan, tetapi juga menunjukkan kedalaman emosi dan pikiran yang tersirat dalam setiap kata dan bait. Analisis konteks sejarah dan sosial dari puisi-puisi ini juga memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai perubahan zaman dan perjalanan komunitas Afrika-Amerika dalam meraih hak-hak mereka. Terakhir, bab ini menegaskan peran penting puisi dalam menginspirasi perubahan sosial dan memberikan suara bagi mereka yang kurang terdengar dalam masyarakat, menjadi alat untuk menyuarakan aspirasi dan harapan yang tak terwakili. Secara keseluruhan, bab ini menekankan pentingnya puisi Afrika-Amerika dalam memperjuangkan pengalaman dan perjuangan komunitas, serta dampaknya yang kuat dalam membentuk narasi budaya dan sosial.

 

C. Tanggapan Kritis

1. Pujian-Kelebihan

Dalam bab 8 yang berjudul "The Potent Voices of Selected African American Poems" karya Dr. M.H. Mohamed Rafiq dan Tawhida Akhter, terdapat beberapa kelebihan yang dapat diuraikan. Pertama, analisis mereka memberikan pemahaman yang mendalam tentang kekuatan puisi-puisi Afrika-Amerika yang dipilih dalam menggambarkan budaya, identitas, dan pengalaman unik komunitas tersebut. Melalui puisi-puisi ini, pembaca dapat merasakan kedalaman emosi, keberanian, dan kekuatan dalam menghadapi tantangan sosial yang dihadapi oleh para penyair Afrika-Amerika. Kedua, bab ini menyoroti tema-tema penting seperti resistensi terhadap penindasan rasial dan upaya pemberdayaan, yang menjadi suara yang menginspirasi dan memberikan dorongan bagi pembaca untuk memperjuangkan kesetaraan dan keadilan. Ketiga, analisis keindahan bahasa dan gaya sastra dalam puisi-puisi ini mengungkapkan kepiawaian dan kecerdasan para penyair dalam menyampaikan pesan-pesan yang kompleks dengan menggunakan kata-kata yang indah dan berdaya ungkap. Keempat, bab ini mengaitkan puisi-puisi tersebut dengan konteks sejarah dan sosial yang memberikan latar belakang yang kaya tentang perjuangan komunitas Afrika-Amerika dalam mencapai hak-haknya. Terakhir, penekanan pada peran penting puisi dalam perubahan sosial menegaskan bahwa karya sastra ini tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga alat yang efektif dalam membangkitkan kesadaran dan menginspirasi aksi-aksi perubahan yang positif dalam masyarakat. Dengan demikian, bab ini memberikan kontribusi yang berharga dalam memperluas pemahaman kita tentang kekuatan dan relevansi puisi Afrika-Amerika dalam konteks budaya dan sosial.

2. Kritik-Kekurangan

            Dalam analisis bab 8 yang berjudul "The Potent Voices of Selected African American Poems" oleh Dr. M.H. Mohamed Rafiq dan Tawhida Akhter, terdapat beberapa kekurangan yang dapat diidentifikasi. Pertama, meskipun bab ini memberikan gambaran yang cukup baik tentang pengaruh dan kekuatan puisi-puisi Afrika-Amerika yang dipilih, namun beberapa karya yang mungkin juga memiliki kontribusi yang signifikan dalam konteks tersebut dapat saja tidak termasuk dalam analisis. Hal ini dapat mengurangi keberagaman perspektif yang disajikan dalam bab tersebut. Kedua, mungkin terdapat keterbatasan dalam analisis konteks historis dan sosial dari puisi-puisi yang dipilih, yang dapat membatasi pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana karya-karya tersebut merefleksikan perubahan zaman dan perjalanan komunitas Afrika-Amerika. Selain itu, walaupun ada penekanan pada pentingnya puisi dalam perubahan sosial, namun bab ini mungkin juga bisa mempertimbangkan aspek-aspek seperti pengaruh puisi terhadap pembentukan identitas individu dan kollektif dalam komunitas tersebut. Dengan demikian, sementara bab ini memberikan wawasan yang bermanfaat, terdapat ruang untuk pengembangan lebih lanjut dalam memperluas cakupan analisis dan mendalami berbagai aspek yang terkait dengan puisi Afrika-Amerika yang dipilih.

 

Daftar Pustaka

Rafiq, Mohamed dan Tawhida Akhter. 2022. Culture and Literature (Chapter 8, The Potent Voices of Selected African American Poems"). Newcastle Upon Tyne, Inggris. Cambridge Scholars Publishing.

 

A. Ringkasan

            Sastra fiksi sebagai jenis sastra yang paling berorientasi sosial karena ia menggambarkan masyarakat melalui kekacauan dan goncangan sejak awalnya dan telah mencapai tujuannya dalam membangkitkan kesadaran masyarakat. Novel-novel telah menggambarkan nilai-nilai sosial dan perasaan manusia serta telah menyajikan masyarakat sesuai dengan cara individu-individunya menciptakannya. Penulis novel yang baik adalah yang mencatat peristiwa-peristiwa ini dalam karya sastra yang merupakan senjatanya.

Fiksi Doris Lessing bersifat autobiografi, berdasarkan pengalaman-pengalaman pribadinya dalam hidupnya, mengambil dari kenangan-kenangan pahit masa kecilnya dan partisipasinya aktif dalam isu-isu sosial dan politik pada masanya. Ia menyoroti konflik antara budaya, ketimpangan rasial, dan perjuangan individu untuk bertahan hidup. Ia selalu mengatakan kebenaran-kebenaran yang tidak enak didengar dan berfungsi sebagai moralis untuk menulis tentang Afrika. Ia termasuk dalam penulis-penulis utama abad kedua puluh. Ia adalah penulis yang produktif; semua novelnya sangat teknis. Sebagian besar novelnya saling terhubung dengan tema tunggal, seperti alienasi, politik, penindasan, wanita, komunisme, dan fragmentasi individu. Tema-temanya terutama berkaitan dengan psikologi karakter, hubungan antara pria dan wanita, seksualitas mereka, pekerjaan, dan politik. Novel-novelnya adalah upaya untuk melanggar norma-norma sosial. Ia telah menggambarkan kekejaman dunia nyata melalui karya-karyanya yang fiktif. Ia telah membicarakan isu-isu yang penting bagi orang-orang di sekitarnya.

Tawhida Akhter, dalam makalah "Nation and Nationality: Africa in the Fiction of Doris Lessing," membahas bagaimana Lessing menggambarkan realitas masyarakatnya melalui fiksi-fiksinya. Ia menyatakan, "Tulisan-tulisan Doris Lessing sebagian besar berdasarkan hidupnya di Afrika. Tema-temanya menghantui dan mendominasi tulisannya. Tema penindasan, rasisme, kehidupan dalam pengasingan, dan efeknya terhadap karakter-karakter dalam karyanya menonjol dalam tulisannya" (Akhter, 6360). Lessing memecah keheningan tentang isu-isu wanita, bersuara untuk orang-orang kulit hitam, dan menulis tentang masyarakatnya yang penuh dengan gambaran kekejaman.

Lessing termasuk dalam penulis terbesar periode kontemporer yang telah menulis tentang isu-isu politik, sosial, spiritual, dan psikologis kehidupan saat ini, terutama fokus pada topik-topik seperti mistisisme, rasisme, dan feminisme. Ia telah mengamati penderitaan orang-orang sejak masa kecilnya yang telah menjadi korban perjuangan kelas dan sebagai penulis ia telah menyoroti isu-isu ini dalam karyanya. Para kritikus telah menyimpulkan dari tulisannya bahwa pengamatan-pengamatannya diambil dari pengalaman nyata yang ia amati sendiri.

Doris Lessing memulai karir sastranya pada tahun 1950-an dan menulis tentang tema-tema seperti alienasi, rasisme, diskriminasi kelas, dan bias gender, yang dihadapi sebagian besar protagonisnya. Sebagian besar fiksi Doris Lessing berfokus pada isu-isu politik pada masanya. Karyanya, seperti kumpulan cerpen African Stories dan novel-novel The Grass is Singing, The Golden Notebook, dan seri Children of Violence adalah contoh dengan perspektif komunis. Dalam karya-karya fiksi ini, Lessing menggunakan realitas dari masa hidupnya yang ia alami. Fiksi-fiksinya, yang diterbitkan puluhan tahun yang lalu, masih segar hingga hari ini seperti saat buku-buku itu pertama kali diterbitkan. Semua fiksinya mengekspresikan kekhawatirannya utama untuk masyarakat komunis yang seharusnya menyediakan kesetaraan, persaudaraan, dan keadilan bagi semua anggotanya. The Golden Notebook adalah novel yang rumit tentang seorang penulis bernama Anna. Novel ini memiliki beberapa unsur autobiografi di dalamnya. Anna hidup di dunia yang membingungkan dari politisi, kekasih, dan keinginannya untuk menjadi wanita yang bebas. Protagonis ini memiliki empat buku catatan untuk mencatat peristiwa-peristiwa dalam hidupnya. Dalam The Golden Notebook, Anna mengatakan: "Poinnya adalah ... bahwa sejauh yang saya lihat, segalanya retak" (Lessing, 25). Buku catatan ini memiliki empat warna yang berbeda dan keterlibatannya membuat buku itu kompleks dalam strukturnya. Buku catatan biru mencatat peristiwa-peristiwa sehari-hari dalam hidupnya, buku catatan hitam mencatat kehidupannya di Afrika dan kehidupannya sebagai penulis, buku catatan merah mencatat kehidupan politiknya dan politik pada masanya, dan buku catatan kuning mencatat ide-ide dan draf-draf untuk ceritanya yang ia gunakan sebagai penulis.

Lessing mengamati struktur politik dan sosial yang tidak memadai yang mengarah pada penindasan perempuan dan terutama orang-orang kulit hitam. Penindasan ini menyebabkan kehancuran banyak orang di sana. Alienas, fragmentasi, dan kekerasan ini terjadi karena hubungan antara individu-individu dan sistem sosial mereka. Tema ini kental dalam karya The Grass is Singing, di mana tokoh utama menjadi korban perjuangan kelas. Lessing selalu membicarakan perjuangan kelas antara orang kulit hitam dan orang kulit putih. Tawhida Akhter, dalam makalahnya "Language as A Means to Break the Gender Inequality in Doris Lessing's African Works," membahas peran yang dimainkan oleh Doris Lessing sebagai, "Doris Lessing adalah salah satu figur paling penting dalam Sastra Inggris Kontemporer. Ia termasuk dalam penulis realisik pada zamannya" (Akhter, 39). Sigmund Krancberg dalam artikelnya, "Karl Marx and Democracy," menunjukkan perjuangan kelas ini sebagai berikut:

Dalam novel The Grass is Singing, Mary Turner, menunjukkan perjuangan antara dirinya sendiri dan kekuatan sosial yang membentuk individualitasnya. Mary juga bersikap kapitalis dengan pelayan-pelayannya, membuktikan supremasinya atas orang kulit hitam. Pembunuhan Mary oleh tangan Moses mencerminkan kurangnya cinta dan kepercayaan antara orang kulit putih dan orang kulit hitam. Populasi kulit putih menghancurkan kebahagiaan dan kehidupan orang kulit hitam. Tulisan Doris Lessing memiliki berbagai aspek, termasuk horor fisik, sosial, dan mental, terutama apartheid di Afrika. Lessing, melalui tulisannya, menyajikan realitas masyarakat melalui imajinasi dan menjadikannya senjata untuk mengungkapkan wajah buruk masyarakat. Tulisan-tulisannya adalah contoh nyata dari sastra realistis. Doris Lessing, dalam percakapannya dengan Florence Howe, menyatakan bahwa: "Ia menulis dari sudut pandang perempuan tetapi pada dasarnya ia menulis tentang hak individu" (Howe 34). Karakter-karakter dalam novelnya terpengaruh secara psikologis karena sistem sosial dan politik pada zamannya. The Golden Notebook mengandung tema anti-perang dan anti-Stalinis serta tema Komunisme yang sepenuhnya membentuk kehidupan tokoh utama dan akhirnya mengarah pada kehancuran totalnya. Anna Wulf, protagonisnya, seperti Doris Lessing, adalah seorang penulis yang tinggal sendiri dengan putrinya yang memiliki empat buku catatan berbeda di mana ia mencatat pengalaman sosial, mental, dan politiknya dalam hidupnya. Keempat buku catatan tersebut memiliki warna yang berbeda; hitam, merah, biru, dan kuning. Warna yang dipilih untuk buku catatan tertentu terkait dengan latar belakangnya. Buku catatan hitam adalah tentang pengalaman hidupnya di Afrika, sebagian besar sebelum dan selama Perang Dunia II, dan mendorongnya untuk menulis novel pertamanya The Frontiers of War. Pengalaman politiknya terkunci di buku catatan merah, karena merah melambangkan Komunisme. Penulis tetap menjadi anggota aktif partai Komunis. Kemudian ada buku catatan kuning di mana ia menulis tentang kisah cintanya sendiri dalam bentuk novel. Buku catatan terakhir adalah buku catatan biru yang berisi kenangannya dan mimpinya yang ia tulis dalam bentuk diary. Keempat buku catatan ini memiliki tema ancaman perang nuklir, Perang Dingin, Komunisme, Marxisme, Stalinisme, dan perjuangan karakter-karakternya untuk pekerjaan, cinta, dan terutama tentang politik.

Doris Lessing dilarang mengunjungi Rhodesia dan Afrika karena ia menentang hukum-hukum kulit putih dan hanya diizinkan setelah kemerdekaan. Tahun-tahun yang dihabiskan Doris Lessing di Afrika memiliki pengaruh mendalam pada tulisannya, "Afrika milik orang Afrika, semakin cepat mereka mengambilnya kembali, semakin baik. Tetapi sebuah negara juga milik mereka yang merasa di rumah di sana" (Lessing, African Stories 11). Ia juga berbicara tentang cintanya untuk Afrika dalam Pidato Nobelnya: "Pikiran saya penuh dengan kenangan indah tentang Afrika yang bisa saya hidupkan kembali dan lihat kapan saja saya mau. Bagaimana dengan matahari terbenam, emas dan ungu dan jingga, merambat di langit saat senja. Bagaimana dengan kupu-kupu dan ngengat dan lebah di semak-semak aromatik Kalahari? . . . tetapi bagaimana dengan langit di malam hari, masih belum tercemar, hitam dan luar biasa, penuh bintang yang tak henti-hentinya" (Lessing, "Pidato Nobel 2007"). Novel-novel Lessing juga dibentuk di atas basis psikoanalitik. Novel-novelnya menggambarkan psikologi para karakternya. Karakter-karakternya menghadapi rasa sakit, penderitaan, alienasi, dan diskriminasi yang mengarah pada ketidakseimbangan psikologis mereka.

Penulis adalah saksi diskriminasi gender, konflik politik, dan konflik sosial lainnya yang mereka hadapi dari waktu ke waktu. Doris Lessing mengamati dan mempelajari masalah-masalah individu biasa dalam masyarakat mereka. Dalam fiksi Doris Lessing, pria dan wanita berjuang untuk identitas mereka. Mimpi, ketakutan, dan harapan mereka membuat mereka menghadapi pengalaman traumatis dalam hidup mereka. Dalam novel The Golden Notebook, Lessing berkomentar, "Bagiku, sejak saya bisa mengingat apa pun, hal nyata yang terjadi di dunia adalah kematian dan kehancuran. Bagiku, itu lebih kuat dari kehidupan" (Lessing, The

Dalam novel The Grass is Singing, Mary menghadapi konflik antara kehidupan pribadinya dan masyarakat yang bertanggung jawab atasnya. Sejak kecil, dia dibesarkan sebagai anak yang cacat dan tidak mendapat cinta dan kehangatan dari orangtuanya. Dia menderita dari hancurnya kesadarannya, alienasi, dan fragmentasi kepribadiannya. Rasa hampa dalam hidupnya sejak kecil menjadi katalisator dalam hidupnya dan meningkatkan rasa alienasi dan kecemasannya. Kehidupan pernikahannya juga gagal karena ketidakberhasilan suaminya yang juga gagal dalam hidupnya. Akhirnya, terjadi penurunan kepribadian yang disebabkan oleh tekanan yang menyebabkan kehilangan hidupnya. Dia akhirnya menjadi gila, akhirnya dramatis menggambarkan kehancuran totalnya. Seorang psikiater Inggris R. D. Laing, dalam bukunya The Divided Self, mengatakan hal berikut tentang kondisi mental seperti ini; keadaan pikiran Mary menyerupai pernyataan Laing:

Lessing telah menjelajahi dunia dalam diri tokoh-tokohnya; mereka sepanjang hidupnya merindukan identitas mereka. Novelnya hampir seperti bentuk-bentuk yang diperpanjang dari kilasan-kilasan, pertemuan finansial, pernikahan, dan sosial dari karakter-karakternya. Hubungan dalam kehidupan manusia membentuk dasar bagi kelangsungan hidup yang bermakna. Karakter-karakter Doris Lessing jatuh ke dalam masalah-masalah umum, sosial, pribadi, dan emosional yang menstabilkan identitas mereka sendiri. Seorang peneliti, K. A. Agalya, dalam karya penelitiannya tentang Peran Perempuan dalam Fiksi Anita Nair telah menunjukkan penindasan terhadap perempuan dalam cara ini: Keheningan adalah simbol penindasan, karakteristik kondisi subaltern, sementara bicara menandakan ekspresi diri dan pembebasan. Bab terakhir adalah ringkasan dari argumen-argumen dalam bab-bab sebelumnya. Bagi perempuan zaman sekarang, kehidupan adalah pernyataan dari individualitas, kemandirian dan menemukan suara. Bukan kehidupan eksternal yang selalu penting tetapi penderitaan internal dan pemulihan atau regenerasi dalam segala hal sangat penting bagi perempuan zaman sekarang (Agalya 245). Kita juga menemukan elemen-elemen penindasan, penekanan, dan alienasi dalam karya-karya Lessing. Karakter-karakter pusatnya selalu berjuang untuk membentuk identitas mereka. Mereka kecewa dengan kehidupan mereka dan mencari identitas.

Analisis ini menggali lebih dalam hubungan antara budak dan tuannya dalam novel, dengan fokus pada pandangan Mercy Famila terhadap novel-novel Doris Lessing dalam merombak masyarakat. Famila menggambarkan Lessing sebagai novelis abad ke-20 yang sangat berkomitmen untuk meyakinkan dan merombak masyarakat secara aktif. Dia berbicara tentang "rasa kewajiban" yang membuatnya bergabung dengan organisasi dan membela dukungannya terhadap Komunisme. Rasa tanggung jawab sosialnya mengarahkannya untuk mencari nilai-nilainya dan bahan sastra di kalangan kelas pekerja di London. Hal ini jelas menunjukkan bahwa Doris Lessing adalah salah satu novelis yang siap "berdiri dengan orang yang kurang beruntung" (Famila 3).

Kebencian Mary terhadap populasi kulit hitam mencapai puncaknya. Dia bahkan membenci anak-anak yang sebagian besar berusia tujuh atau delapan tahun. Baginya, mereka tidak lebih dari binatang, “Dia membenci tubuh hitam setengah telanjang mereka yang berotot tebal membungkuk dalam ritme kerja mereka yang tanpa pikiran. Dia membenci kesuraman mereka, mata yang berpaling saat berbicara padanya, keangkuhan yang tersembunyi: dan yang paling ia benci, dengan rasa jijik fisik yang keras, bau pedih yang panas, bau hewan yang asam (Lessing, The Grass is Singing 115). Hukum juga memungkinkan orang kulit putih untuk memperlakukan populasi kulit hitam sesuai keinginan mereka, “Mereka—para pembuat undang-undang dan Pelayanan Sipil—yang mengganggu hak alami petani kulit putih untuk memperlakukan buruhnya sesuai keinginan” (120). Selain itu, Lessing menunjukkan contoh-contoh orang yang berbeda hanya karena warna kulit, menjadi anggota aktif partai Komunis, dia merasa itu menjadi perhatiannya utama untuk melawan rasnya sendiri dan bekerja untuk menyuarakan hak ras yang tertindas dari penduduk asli Afrika dalam rangka membawa perubahan besar dalam masyarakat. Dia bermimpi tentang masyarakat tanpa kelas terlepas dari ras atau daerah mana pun. Lessing memberikan contoh-contoh rasialis dan sikap mereka yang tidak adil terhadap penduduk asli untuk membawa perubahan sosial. Mary tampaknya lebih rasialis daripada orang kulit putih lainnya, yang juga terbukti rasialis pada saat-saat tertentu. Tindakan rasialisnya ditunjukkan melalui berbagai contoh, dan salah satu contoh lainnya adalah: “Kemudian datang seorang pribumi ke pintu belakang, meminta pekerjaan. Dia ingin tujuh belas shilling sebulan. Dia menurunkan harganya dua, merasa senang dengan kemenangannya atasnya” (70).

Dari perilaku dan sikapnya, jelas bagaimana dia memperlakukan orang pribumi dengan memberinya uang yang kurang dari yang seharusnya dia terima. Lessing, dalam bukunya Under My Skin (1994), mengatakan bahwa orang Inggris takut pada orang asli ini karena mereka bisa melakukan kejahatan tanpa takut dihukum. Sikap pribumi terhadap hukuman mereka adalah: “‘Saya telah berbuat salah, dan saya tahu itu,’ mungkin dia berkata, ‘oleh karena itu biarkan saya dihukum.’ Nah, tradisi untuk menghadapi hukuman, dan sebenarnya ada sesuatu yang cukup bagus tentang itu” (Lessing, Under My Skin 6). Dalam novel The Grass is Singing, orang-orang kulit putih percaya bahwa penduduk asli mampu melakukan segala jenis kejahatan. Jadi ketika mereka mendengar tentang pembunuhan Mary Turner oleh tangan pelayan pribuminya, itu adalah hal yang normal bagi mereka. Perilaku orang kulit putih memaksa pribumi untuk melakukan kejahatan dan hal yang sama terjadi dalam kasus Mary Turner. Kebencian dan kebanggaan palsu Mary menjadi penyebab kehancurannya.

Lessing, melalui tulisannya, mengubah fokus pembaca dari plot menjadi karakter dan tenggelam khususnya ke dalam bawah sadar protagonisnya dengan menggambarkan sisi tergelap dari kehidupan mereka. Mary selalu bertindak dengan cara kapitalis terhadap pelayan-pelayannya dan orang lain di sekitarnya. Alienasi Mary karena kebanggaan palsunya menambah lebih banyak lagi. Elena dkk. menyatakan, “Penting untuk melihat bahwa benih-benih kehancuran Mary Turner akhirnya ditanam bertahun-tahun sebelumnya, dalam alienasi progresifnya dari dirinya sendiri. Ketidakmampuannya menghadapi pelayan kulit hitam—hubungan pria/wanita, di mana ketegangan peran hitam/putih ditambahkan” (Elena et al. 27).

Ini sangat jelas karena kontradiksi antara kehidupannya saat ini dan kehidupan yang ingin dia jalani. Dia hanya membayangkan kehidupan di kota dan merencanakan untuk tinggal di kota bersama Dick. Narator menyatakannya sebagai: “Dan dia mulai memikirkan, selama waktu-waktu yang membosankan itu, bagaimana keadaannya ketika Dick akhirnya mendapat uang dan mereka bisa pergi dan tinggal di kota lagi” (Lessing, The Grass is Singing 97). Tetapi Dick memiliki mentalitas yang benar-benar bertentangan. Hidupnya hanya di peternakan di mana dia adalah bos dan tidak perlu mengikuti perintah orang lain. Tetapi Mary bermimpi tentang kehidupannya yang mandiri di kota seperti sebelum pernikahannya.

Analisis ini menggali bagaimana Mary mengalami banyak periode yang memiliki dampak negatif pada psikenya selama bertahun-tahun pernikahan. Hal ini terjadi karena dia tidak bersedia untuk memodifikasi atau bahkan mengubah hidupnya. Kita telah melihat bahwa Mary suka membaca buku sebelum menikah tetapi setelah menikah dia menjadi enggan bahkan untuk memiliki buku di tangannya. Dia cukup sosial dan ekstrovert tetapi setelah menikah dia menjadi antisosial dan introvert, bahkan tidak bersedia untuk berkomunikasi dengan siapa pun. Dia mengisolasi dirinya dari orang lain dan menyimpan perasaannya sendiri dan perasaan yang direpresi ini merusak kehidupan psikologisnya. Pernikahan yang tidak berhasil, isolasi, dan sikap pesimistis menambah bahan-bahan lain ke dalam kehidupan psikis yang merusaknya. Dia terperangkap dalam masa depan yang gelap. Buyu mendefinisikan seluruh kronologi novel dan dampak negatifnya pada psikologi Mary, “Novel ini mulai menceritakan kehidupan Mary dalam urutan kronologis dengan fokus pada masa kecilnya yang tidak bahagia, dan kemudian hari-hari bahagia di kota, pernikahan putus asa pada usia tiga puluh tahun, datang ke desa sebagai akibat dari pernikahannya dengan Dick, ilusi yang hancur dari keduanya, perlakuan Mary yang kejam terhadap penduduk asli, kejatuhan ekonomi pasangan itu” (Buyu 23).

Hal ini ditunjukkan oleh narator sebagai, “Dia membiarkan segala sesuatu tergelincir, kecuali apa yang dipaksakan perhatiannya. Cakrawalanya telah menyempit menjadi rumah. Ayam mulai mati; dia berbisik tentang penyakit; dan kemudian memahami bahwa dia telah lupa memberi makan mereka selama seminggu” (Lessing, The Grass is Singing 149). Menjadi sendirian selama beberapa hari, Mary berubah menjadi keruntuhan psikologis. Perilakunya berubah total. Dia hanya ingin tidur untuk melarikan diri dari hidupnya. Hidupnya menjadi tidak berarti. Pesimisme ini membuka jalan menuju depresinya. Ketidakberartian hidupnya dijelaskan melalui kutipan ini oleh V. Mikluc: “Kebisingan alam, yaitu eros, menyebabkan sakit kepala dan keberatan di anggota tubuhnya. Langit panas, rendah, berat dan leher yang panas, menyakitkan yang akan patah pada akhir kisahnya adalah gambaran yang membuat kebisingan yang berdenyut menjadi lebih keras. Segera sebelum kematiannya, Mary berlari dengan panik ke semua tempat yang menjadi koordinat perjalanannya yang tidak berhasil melalui hidup” (Mikluc 212).

Ada berbagai faktor di baliknya dan, seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, pernikahan buruknya juga merupakan salah satu faktor di dalamnya. Faktor-faktor lainnya adalah stabilitas ekonomi yang buruk, ketidakcocokannya dengan pelayan aslinya, kebencian terhadap penduduk asli dan kehadiran serta dominasi Moses yang menjadi penyebab semua kehancurannya. Moses menjadi penyebab utama depresi dan kehancuran Mary. Hal ini ditunjukkan oleh narator, “Dia tegang dan terkendali di hadapannya; dia terus mempekerjakannya sebanyak mungkin, tanpa ampun atas setiap serpihan debu dan setiap gelas atau piring yang tidak berada pada tempatnya yang dia perhatikan” (148). Konflik internal dan eksternal ini dalam diri Mary disebabkan oleh kewajiban individu terhadap masyarakat mereka. Dia begitu sibuk dengan pikirannya sehingga dia melupakan segala hal lain.

Keadaan mental yang sangat terganggu dan terjepit yang dialami oleh karakter dalam novel tersebut. Di sini, karakter perempuan mengalami kesulitan berfokus dan seringkali lupa akan apa yang akan dia katakan. Hal ini tercermin dari kalimat-kalimat yang dia mulai namun tidak selesai, serta wajahnya yang menjadi kosong dan hampa, kemudian dia terdiam tanpa melanjutkan perkataannya. Karakter ini juga mengalami gangguan psikologis yang lebih dalam, seperti berbicara dengan dirinya sendiri secara keras namun juga merasa takut dengan pelayannya yang dianggap sebagai penyebab dari kekacauan mentalnya. Ada kecemasan dan ketakutan yang mendalam yang membuatnya sulit untuk mengungkapkan perasaannya kepada orang lain. Selain itu, ada juga gambaran tentang depresi yang dia alami, yang terlihat dari tindakan tertawa tanpa alasan yang jelas. Gangguan psikologis yang dialaminya juga mencapai tingkat di mana dia memerlukan bantuan dari pelayannya untuk berpakaian, dan hal ini menjadi perhatian dari karakter lain dalam cerita yang merasa terganggu dengan situasi tersebut.

Novel "The Golden Notebook" karya Doris Lessing ini dipuji oleh sebagian besar kritikus karena dianggap sebagai salah satu karya terbaik Lessing yang menggabungkan kebenaran, eksperimentalisme, dan ketertarikan dalam penyusunan narasi yang menarik. Lessing memilih topik-topik kontroversial pada zamannya, membuat novel ini dianggap sebagai mahakarya yang mengeksplorasi breakdown sosial dan mental protagonisnya serta menganalisis pendekatan komunis dari penulis tersebut dari tahun 1930-an hingga 1950-an. Novel ini menyentuh isu feminis pada zamannya. Cerita dimulai dengan kunjungan Anna Wulf kepada temannya Molly Jacobs setelah berpisah dalam waktu yang cukup lama. Keduanya hidup mandiri di London, Anna sebagai penulis dan Molly sebagai aktris, menganggap diri mereka sebagai wanita bebas yang tidak terikat oleh konvensi sosial atau personal.

Kisah ini juga memperkenalkan karakter-karakter lain seperti Richard Portman, mantan suami Molly, yang khawatir tentang putranya Tommy. Tommy dipengaruhi oleh filosofi idealis ibunya dan Anna, yang aktif dalam Partai Komunis Inggris. Ada juga perbincangan tentang blokade penulis yang dialami Anna, yang membuatnya menulis dalam catatan harian yang tidak terlihat oleh orang lain.

Novel ini mengambil struktur naratif yang kompleks dengan penggunaan berbagai catatan berwarna yang merekam pengalaman hidup Anna dalam konteks yang berbeda, seperti kehidupannya di Afrika dan pengalaman komunis selama Perang Dunia II. Terdapat juga cerita dalam bentuk novel di buku catatan kuning yang menggambarkan hubungan antara Anna dan Paul, serta perjalanan emosional mereka. Secara keseluruhan, pembahasan ini memberikan gambaran yang cukup komprehensif tentang tema, struktur, dan karakter-karakter utama dalam novel "The Golden Notebook" karya Doris Lessing. Novel ini mengeksplorasi berbagai tema penting seperti breakdown emosional dan mental, Perang Dingin, politik, perjuangan wanita, cinta, dan peran ibu. Salah satu tema utama dalam novel ini adalah fragmentasi, yang tercermin melalui karakter protagonisnya, Anna Wulf, yang bahkan membagi tulisannya ke dalam berbagai buku catatan berwarna yang berbeda.

Dalam buku catatan biru, Anna mencatat hubungannya dengan Max (Willi), mantan suaminya dan ayah dari Janet. Dia juga mencatat pengalamannya dengan Mrs. Marks, seorang terapis psikoanalisis dengan siapa Anna menceritakan kenangan-kenangan tentang perang, perdamaian, dan Perang Dingin. Terapisnya mendorongnya untuk menulis lagi untuk meluapkan perasaannya yang telah mematikan kehidupannya. Pembahasan ini juga menyoroti kesulitan Anna dalam mengekspresikan dirinya sepenuhnya dengan kata-kata, yang menjadi penyebab utama dari blokade penulis yang dia alami. Selain itu, keintiman emosional yang kurang dalam hubungan-hubungan romantisnya juga menjadi salah satu faktor penyebab breakdown-nya.

Seri novel "Children of Violence" yang terdiri dari lima novel yang diterbitkan antara tahun 1952 dan 1969. Seri ini pertama kali diterbitkan oleh Michael Joseph dan MacGibbon and Kee di Inggris. Novel pertama dalam seri ini adalah "Martha Quest" yang diterbitkan pada tahun 1952, diikuti oleh "A Proper Marriage" pada tahun 1954, "A Ripple from the Storm" pada tahun 1958, "Landlocked" pada tahun 1965, dan novel terakhir "The Four-Gated City" pada tahun 1969. Edisi Amerika pertama kali diterbitkan pada tahun 1964, 1966, dan 1969 oleh Simon and Schuster dan Alfred A. Knopf dalam urutan tiga, dengan "Martha Quest" dan "A Proper Marriage" diikuti oleh "A Ripple from the Storm" dan "Landlocked", dan akhirnya "The Four-Gated City".

Semua novel dalam seri ini mengikuti urutan kehidupan protagonisnya, Martha Quest, dari masa kecilnya hingga remaja dan bahkan kematian. Ini adalah seri yang menggambarkan perjalanan hidup Martha Quest secara kronologis, memperlihatkan perkembangan dan pengalaman hidupnya dari awal hingga akhir. Novel "Martha Quest" karya Doris Lessing yang diterbitkan pada tahun 1952 oleh Michael Joseph di Inggris. Novel ini merupakan bagian pertama dari seri "Children of Violence" dan mengisahkan tentang protagonisnya, Martha Quest, yang merupakan sosok pemberontak sepanjang cerita. Novel ini mengambil latar belakang tahun 1934 hingga 1938 dan menggambarkan Martha sebagai seorang gadis cerdas yang mengamati segala sesuatu dengan penuh ketajaman. Dia tinggal di Afrika bersama orangtuanya yang bekerja di pertanian Afrika. Martha penuh gairah, berkeinginan untuk mengenal dirinya sendiri, namun seringkali terasa pahit dan sempit dalam pikirannya. Sebagai seorang pemberontak, Martha memutuskan untuk meninggalkan rumahnya dan pindah ke kota untuk bekerja sebagai tukang ketik. Di kota, dia mengalami kehidupan yang selama ini ia cari. Kisah Martha memiliki nuansa autobiografi yang mirip dengan pengalaman Lessing sendiri di Afrika, menggambarkan kehidupan di padang rumput, atmosfer dangkal diskriminasi rasial, dan kecanggihan kehidupan di kota. Novel ini juga menggambarkan keterlibatan Lessing dalam politik dan keprihatinan sosialnya, terutama dalam hal penindasan penduduk asli Afrika oleh penjajah kulit putih dan kebutuhan mereka untuk mendominasi dengan budaya mereka sendiri. Martha juga menyadari perbedaan antara apa yang dikatakan oleh orang kulit putih dengan apa yang mereka maksudkan, serta sikap mereka terhadap penduduk asli Afrika yang membuatnya merasa tidak bahagia dan terpinggirkan. Salah satu hal yang membantu Martha adalah literatur, di mana dia menemukan dukungan spiritual bagi jiwanya. Dia menggunakan buku-buku tersebut untuk membentuk teori dunianya sendiri

Novel kedua dalam seri "Children of Violence", yaitu "A Proper Marriage" (1954) karya Doris Lessing yang diterbitkan oleh Michael Joseph di Inggris. Novel ini mengisahkan lanjutan kehidupan Martha setelah dia menikah dengan Knowell Douglas. Dalam novel ini, Martha menjadi kecewa dengan kehidupan di kota dan kemudian menikahi Knowell Douglas. Dia meninggalkan pekerjaannya di kota dan menjadi istri yang berdedikasi, serta semakin sibuk dengan kedatangan bayi dalam hidupnya. Seiring berjalannya waktu, Martha merasa dirinya harus menyerah pada harapan, impian, dan idealisme sebagai individu. Dia merasa berubah karena pernikahan tersebut, namun tetap menunjukkan sifat pemberontaknya terhadap kehidupan barunya.

Martha menjadi kecewa dengan pernikahannya dan, dengan kedatangan bayi dalam hidup mereka, merasa kebebasannya terancam. Novel ini juga menggambarkan pecahnya perang dan kepergian Douglas dengan tentara. Martha kesulitan mengurus bayinya, Caroline. Setelah setahun, Douglas kembali dari perang dengan sakit maag. Keluarga kemudian pindah ke sebuah bungalow besar dengan pelayan. Pembahasan juga menyoroti sikap Martha terhadap pelayan kulit hitam, yang dia perlakukan dengan baik sesuai dengan pandangan komunisnya tentang kesetaraan. Namun, dia mendapat kritik dari ibunya yang menganggapnya tidak tahu bagaimana mengurus pelayan kulit hitam dengan baik. Martha bergabung dengan kelompok komunis dan memberikan ceramah tentang kesetaraan dan perjuangan kelas, dan akhirnya meninggalkan Douglas. Dalam novel ini, Martha ingin melarikan diri dari pernikahan, suaminya, dan anaknya untuk meraih kebebasan tanpa ikatan apapun. Dia gagal sebagai istri dan ibu, namun berhasil memenangkan pertarungan untuk hidup mandiri dan independen untuk dirinya sendiri.

Novel ketiga dalam seri "Children of Violence", yaitu "A Ripple from the Storm" (1958) karya Doris Lessing yang diterbitkan oleh Michael Joseph di Inggris, dan edisi Amerikanya diterbitkan oleh Simon and Schuster pada tahun 1966. Novel ini fokus pada bagaimana sebuah kelompok Komunis muncul di sebuah kota kecil di Afrika. Novel ini memperlihatkan bagaimana kelompok Komunis tersebut terbentuk sebagai hasil dari pengaruh Uni Soviet pada tahun 1942, 1943, dan 1944. Martha menjadi anggota aktif dalam kelompok tersebut dan, setelah bercerai dari pernikahannya yang pertama, kemudian menikahi seorang pengungsi Jerman bernama Anton Hesse yang menjadi pemimpin kelompok tersebut. Lessing melalui novel ini menggambarkan psikologi sebuah kelompok yang menentang masyarakatnya sendiri, sekaligus psikologi individu yang bertindak secara komunal. Seiring berjalannya waktu, kita melihat bagaimana kelompok tersebut gagal dan juga gagal dalam mengimplementasikan ideologi mereka. Novel ini membuka babak baru dalam kehidupan Martha, dengan cerai dari Douglas dan pernikahannya dengan Anton Hesse. Namun, perubahan ini tidak disambut baik oleh masyarakat sekitarnya. Martha terus sibuk dan menjadi lemah karena tidak memperhatikan kesehatannya. Sikap ibunya membuatnya merasa sakit, dan orang-orang sering bertanya bagaimana perasaannya setelah meninggalkan putrinya Caroline, meskipun Martha tidak ingin mengingat masa lalunya yang sulit. Dia tidak menyukai peran sebagai ibu, yang dia inginkan hanyalah kebebasan. Martha tetap sibuk dengan aktivitas Komunis, masyarakat, perbedaan antara orang kulit putih dan kulit hitam, serta bagaimana situasi tersebut dapat diperbaiki.

Novel keempat dalam seri "Children of Violence", yaitu "Landlocked" (1965) karya Doris Lessing yang diterbitkan oleh MacGibbon and Kee di Inggris, dan edisi Amerikanya diterbitkan oleh Simon and Schuster pada tahun 1966. Novel ini merupakan penutup dari seri yang berlatar di Afrika.

Novel ini menggambarkan bulan-bulan terakhir Perang Dunia II yang menghancurkan Eropa namun juga mengandung pesan kesetaraan di antara manusia. Kisah Martha sebagai seorang pejuang melawan penindasannya terus berlanjut. Dia semakin terlibat secara politik dengan kelompok Komunis dan berjuang untuk hak-hak orang Afrika. Putrinya Caroline tumbuh dewasa dan percaya bahwa istri kedua Douglas adalah ibunya. Martha berpikir bahwa suatu hari nanti putrinya akan berterima kasih padanya karena membiarkannya bebas dalam hidupnya. Novel ini juga menggambarkan kisah cinta Martha dengan Thomas, di mana mereka hidup bersama dan berbagi tempat tidur. Thomas adalah seorang Yahudi Polandia yang sudah menikah dan memiliki anak-anak. Melalui hubungan ini, Martha menyadari sisi baru dari dirinya sendiri dan mulai menikmati tubuhnya dan sentuhan Thomas. Namun, dia juga sadar bahwa hubungan ini bisa berakhir kapan saja. Latar belakang novel ini adalah Perang Dunia II dan perjuangan antara negara-negara yang mengubah peta dunia. Martha dan teman-temannya merupakan pendukung Komunisme dan penentang kapitalisme. Sebagai perang berakhir, Martha memutuskan untuk meninggalkan Afrika dan pergi ke Britania, menginginkan kebebasan dan petualangan baru dalam hidupnya.

Novel terakhir dalam seri "Children of Violence", yaitu "The Four-Gated City" (1969) karya Doris Lessing yang diterbitkan oleh MacGibbon and Kee di Inggris, dan edisi Amerikanya diterbitkan oleh Alfred A. Knopf pada tahun 1969. Novel ini berlatar di Britania Raya setelah Perang Dunia II.

Novel ini menggambarkan London pasca-perang dan Martha sebagai bagian dari Perang Dingin, Swinging London, dan Aldermaston Marches. Novel ini menggambarkan kemiskinan yang dialami masyarakat akibat perang, wawasan yang menyakitkan dari orang-orang, dan anarki sosial. Kisahnya meliputi sepanjang abad ke-20 dan berakhir dengan ilusi bahwa dunia berada dalam genggaman Perang Dunia III. Pada tahun 1997, Martha meninggal di sebuah pulau di Skotlandia. Dengan latar belakang sejarah yang kuat, novel ini memberikan gambaran yang mendalam tentang kondisi sosial dan politik pasca-perang, serta memberikan pandangan kritis terhadap masa itu. Lessing berhasil menggambarkan atmosfer pascaperang yang penuh dengan ketidakpastian dan perubahan yang cepat di Britania Raya.

Seri "Children of Violence" karya Doris Lessing, yang berpusat pada analisis diri protagonisnya, Martha Quest. Martha Quest mengalami proses yang kompleks dalam pencarian jati dirinya. Sebagian besar novel dalam seri ini berlatar di Afrika dan menggambarkan penderitaan dan kesengsaraan orang-orang Afrika. Tema utamanya meliputi Komunisme, feminisme, dan psikoanalisis untuk penemuan diri. Doris Lessing melalui tulisannya mencakup banyak aspek, seperti sosiologi, psikologi, dan politik. Seri ini menggambarkan evolusi Martha Quest dari masa remajanya di Afrika hingga dewasa dan akhirnya kematiannya pada tahun 1997 di Skotlandia. Celine menjelaskan seri Children of Violence sebagai "Novel-novel ini mengungkapkan kehidupan Martha Quest dari tahun 1936 hingga 1997, membawa kita melalui masa remajanya yang gelisah, dewasa yang penuh peristiwa, dan kematiannya yang dijuluki sebagai holokaus nuklir pada tahun 1997, yang menghancurkan seluruh dunia" (Celine 38). Selama siklus ini, Martha mengubah nama dan identifikasinya, misalnya dia menjadi Matty di kota, setelah pernikahan pertamanya dia menjadi Nyonya Knowell, dan kemudian pada pernikahan keduanya dia menjadi Nyonya Hesse, tanpa memiliki identitas yang jelas. Sepanjang seri ini, dia berjuang untuk mendapatkan identitasnya sendiri dan juga untuk identitas orang-orang asli.

Tema-tema realistis yang diangkat oleh Doris Lessing dalam karyanya, dengan fokus pada gambaran yang jelas tentang masyarakat dan individu-individu di dalamnya. Karya fiksinya sebagian besar bersifat autobiografis, muncul dari pengalaman pribadinya di Afrika. Seri lima novel "Children of Violence" berkisah tentang pertumbuhan kesadaran tokoh utamanya, Martha. Nancy Ferro dalam penelitiannya tentang Doris Lessing menyatakan bahwa motif Lessing di balik seri ini adalah untuk membawa pembaca masuk ke dalam kehidupan dalam dan luar seorang wanita bernama Martha. Martha digambarkan sebagai individu yang banyak mirip dengan banyak dari kita—mengalami masa kecil yang tidak bahagia, pernikahan awal yang merugikan diri sendiri, aktivitas di partai komunis, pencarian akan dirinya sendiri, dan keterlibatan yang jujur dengan dunia. Martha, seperti kita semua, adalah seorang anak dari kekerasan. Pengalaman-pengalaman Martha mencerminkan masa pertumbuhan yang dipengaruhi oleh ketegangan dan ketakutan di era 1920-an dan 1930-an, serta Perang Dunia II yang membawa Martha dan dunia modern ke kedewasaan.

Doris Lessing membandingkan Martha dengan setiap individu yang menderita di tangan masyarakat mereka. E. Celine dalam penelitiannya tentang "Marxism in the Novels of Doris Lessing" menyatakan bahwa semangat penulisan Lessing dalam seri "Children of Violence" mencoba untuk mengekspresikan pengalaman-pengalamannya di Afrika, serta pertumbuhan dan pemahamannya tentang kehidupan yang kompleks melalui tokoh otobiografisnya, Martha Quest. Lessing berbagi dengan Martha pencariannya akan kebebasan, kebencian terhadap penindasan, kepekaan pikiran, dan semangat yang visioner. Secara keseluruhan, bagian ini memberikan gambaran yang mendalam tentang tema-tema penting yang diangkat oleh Lessing dalam seri "Children of Violence" dan mencerminkan perjalanan pribadi serta kesadaran Martha sebagai tokoh utama.

Tema kekerasan bukanlah solusi dan masyarakat seharusnya hidup dalam harmoni satu sama lain. Melalui karakter Martha, Lessing menunjukkan peran-peran yang ditetapkan oleh masyarakat padanya sebagai seorang putri, istri, dan ibu. Awalnya, Martha mencoba memenuhi semua tanggung jawab tersebut namun kemudian menolak semua peran tradisional itu untuk menemukan identitasnya sendiri. Mrs. Carson, dalam novel "A Ripple from the Storm," menjadi contoh sikap penjajah kulit putih terhadap penduduk asli. Narator menggambarkannya sebagai:"Kehidupan janda Carson adalah drama panjang yang dimainkan melawan fantasi tentang pelayannya. Dia tidak pernah mempertahankan satu orang pun lebih dari sebulan; mereka pergi kebanyakan dalam keadaan bingung. . . Mrs Carson, larut malam, berdiri diam di bawah pohon jacaranda besar di gerbang, memperhatikan rumah. Dia tenggelam dalam mimpi tentang penyerbu hitam yang masuk ke rumah meskipun penuh dengan penghalang dan menemukannya kosong. Sedangkan Martha, dia tidur seperti biasa dengan jendela dan pintu terbuka" (Lessing, A Ripple from the Storm 31-32).

Lessing membuat perbandingan antara dua orang dalam masyarakat yang sama, di mana satu percaya pada kesetaraan individu sementara yang lain merupakan lambang ketidakadilan. Mrs. Carson selalu memiliki niat jahat dan hanya memperlakukan penduduk asli sebagai penjahat. Sudut pandang realistis Martha membuatnya berperilaku adil terhadap semua individu, tanpa memandang ras atau warna kulit.

Martha, sebagai gadis yang cerdas, bingung dengan mimpi dan keinginannya. Keinginannya hanyalah untuk meninggalkan rumah dan mendapatkan pekerjaan di kota. Penelitian Mohammad Kaosar Ahmed dalam "A Psychoanalytic-Feminist Reading of Martha’s 'Battle' with Mrs Quest in Doris Lessing’s Martha Quest" menjelaskan kepribadian Miss Martha sebagai:

"Martha Quest dari Lessing, volume pertama seri Children of Violence, mempersembahkan remaja Inggris yang biasa saja, Martha Quest, yang haus akan pengetahuan dan berontak, tumbuh dewasa di latar belakang yang penuh warna dari lanskap Afrika" (Ahmed 33).

Martha dihadapkan pada keinginannya untuk membebaskan diri dari rumah dan veld, mencerminkan perjuangan identitasnya dalam menentukan jalan hidupnya sendiri. Ia ingin mengeksplorasi potensinya dan pengetahuannya, serta membebaskan diri dari pengaruh dan penindasan sosial yang menghantuinya. Martha mewakili peradaban manusia yang bermimpi tentang kebebasan. Namun, Martha juga menghadapi konflik dengan pengaruh ibunya yang selalu mengintai dan membuatnya gelisah. Martha merasa terganggu dengan pengaruh ibunya bahkan ketika dia pindah ke kota dan ibunya mengubah pengaturan ruangannya sesuai selera sendiri. Martha, sebagai pendatang kulit putih yang hidup di koloni yang berbeda dari tanah airnya, merasakan diskriminasi rasial, perasaan pengasingan, dan ketidaknyamanan, yang menghasilkan perasaan asing di dalam dirinya.

Penelitian Celine membandingkan Martha dengan Lessing, yang mengekspos seorang pahlawan wanita yang memberontak terhadap struktur masyarakat kapitalis yang memperbudak dan mendiskriminasi baik orang kulit hitam maupun kelompok lemah lainnya. Martha juga berjuang untuk hak-hak orang kulit hitam di Afrika sebagai anggota kelompok Komunis. Pendekatan kelompok Komunis dapat dipahami ketika semua anggota berdiskusi dalam pertemuan mereka. Mereka membicarakan pertemanan mereka yang bersifat subordinate terhadap Revolusi, yang melampaui batas-batas negara. Lessing, melalui Children of Violence, menggambarkan studi tentang nurani individu dalam hubungannya dengan kolektif.

Doris Lessing yang memiliki perhatian yang besar terhadap isu sosial, yang kemudian menjadi motif utama dalam hidupnya. Untuk mencapai hal ini, ia menjadikan menulis sebagai senjata dan pengetahuan sebagai kekuatannya. Meskipun Lessing tidak memiliki pendidikan yang lebih tinggi, ia terus membaca dan meningkatkan pengetahuannya tentang dunia. Lessing membaca bukan hanya untuk kesenangan pribadi, tetapi untuk mendapatkan pengetahuan yang mendukung tujuan-tujuannya. Ia terutama mempelajari sastra abad kesembilan belas dan karya-karya politik kontemporer yang membentuk kekhawatiran etikanya.

Dalam esainya "The Small Personal Voice," Lessing mengungkapkan preferensinya terhadap sastra, "Bagi saya, puncak tertinggi sastra adalah novel abad kesembilan belas, karya-karya Tolstoy, Stendhal, Dostoevsky, Balzac, Turgenev, Chekhov; karya-karya realis besar" (Lessing, The Small Personal Voice 4). Dalam novel Landlocked, Anton Hesse, suami kedua Martha, dan kekasihnya Thomas merupakan orang asing di negara Afrika. Lingkaran mereka hanya terdiri dari sekelompok kecil kolonialis kulit putih yang menentang rasisme. Mereka memiliki banyak impian dan gagasan untuk menyelamatkan penduduk asli, tetapi identitas mereka sebagai kolonialis kulit putih menghentikan rencana dan tindakan mereka untuk rakyat Afrika.

Seri novel Children of Violence memiliki tema kompleks yang menjelajahi psikosis budaya yang merupakan hasil langsung dari kolonisasi. Lessing berjuang untuk kebebasan orang-orang sepanjang seri novel tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Celine: "ia juga merindukan pembebasan orang-orang kulit hitam, yang tidak seperti orang-orang kulit putih lainnya, ia anggap sebagai manusia. Ia merasakan penindasan dan isolasi mereka dan membayangkan sebuah tanah di mana mereka akan bebas dan diperlakukan sebagai manusia yang setara" (Celine 59).

Martha, sepanjang hidupnya, memainkan peran sebagai seorang anak perempuan yang pemberontak, seorang istri, seorang ibu, dan juga seorang kawan Partai Komunis. Namun, dia baru benar-benar menyadari dirinya sendiri setelah dia pergi ke London dan mengikuti sesi psikiatri untuk memahami identitasnya. Pada akhirnya, Martha mengembangkan visi untuk bekerja bagi semua golongan masyarakat, tanpa memandang warna kulit, dan percaya pada dunia kemanusiaan. Keseluruhan perjalanan hidup Martha menggambarkan perjuangan dalam mencari identitas dan menemukan kedamaian dalam bingkai ketidakpastian dunia yang terus berubah.

Karya-karya Doris Lessing yang terkumpul dalam volume African Stories, yang terbit pertama kali pada tahun 1973 oleh Michael Joseph di Britania Raya. Volume pertama adalah This Was The Old Chief’s Country dan volume kedua adalah The Sun Between Their Feet. Kedua volume ini dikenal sebagai African Stories. Lessing, yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di Afrika, terkesan dengan keindahan alam benua yang gelap—landskapnya, serigala liar, babi, dan makhluk-makhluk lainnya memberikan kesan yang mendalam padanya sepanjang hidupnya. Pengalaman ini sangat terlihat dalam tulisannya tentang Afrika, yang dipenuhi dengan kesedihan yang dirasakannya untuk orang-orang Afrika dan kepahitan terhadap penjajah kulit putih yang menindas penduduk asli.

Doris Lessing adalah salah satu penulis yang berpengaruh pada abadnya. Ia termasuk dalam lingkaran penulis realis dan mengeksplorasi aspek-aspek sosial, moral, dan politik yang memengaruhi psikologi karakter-karakternya. Karyanya sering mengangkat tema-tema rasisme, feminisme, dan komunisme, yang menjadi kekhawatiran utamanya untuk bekerja demi keadilan dan kesetaraan manusia, tanpa memandang kasta, warna kulit, agama, atau jenis kelamin. Dalam sebagian besar cerita Afrikanya, Lessing menyoroti tema-tema alienasi, rasisme, ketidakadilan, dan penindasan.

Koleksi cerita pendek ini mencakup segala cerita tentang Afrika dan memuat kegembiraan, kesedihan, dan kompleksitas kehidupan Afrika yang digambarkan oleh Lessing. Ia memadukan semua karyanya yang luar biasa dalam koleksi-koleksi ini. Dalam perjalanan hidupnya, Lessing sadar akan rasisme di Afrika dan berjuang untuk keadilan orang-orang yang tertindas, khususnya penduduk asli. Visinya adalah untuk membawa perhatian dunia terhadap ketidakadilan yang terjadi, yang ia alami sendiri saat hidup di Afrika.

Lessing secara tajam menggambarkan bagaimana penjajah kulit putih telah merampas tanah-tanah dari penduduk asli Afrika dengan kekerasan dan ancaman, menyebabkan penderitaan dan pengasingan. Karya-karyanya mencerminkan penderitaan dan rasa bersalah yang ia rasakan terhadap perlakuan tidak adil ini. Ia memilih Southern Rhodesia sebagai latar belakang utama dalam tulisannya tentang Afrika karena di sanalah ia mengalami semua kekejaman yang dilakukan oleh penjajah kulit putih terhadap penduduk asli. Keseluruhan karya Lessing, termasuk African Stories, mengungkapkan pengalaman hidupnya yang autobiografis dan perjuangannya melawan ketidakadilan di Afrika.

Dalam cerita berjudul The Old Chief Mshlanga, penindasan oleh orang kulit putih terhadap orang Afrika terlihat dengan jelas. Lessing ingin membuat dunia sadar akan penindasan dan ketidakadilan yang dialami orang hanya karena satu ras manusia menganggap dirinya superior dibandingkan ras lainnya. Cerita dimulai dengan narator, seorang gadis kulit putih yang ayahnya, seperti orang Inggris lainnya, memiliki sebuah peternakan besar yang tidak digunakan. Orang Afrika diharuskan melayani penjajah kulit putih. Terdapat kesenjangan antara populasi orang Afrika dan kulit putih, bahkan anak-anak pun diajarkan tentang ketidakadilan ini. Narator menyebutnya sebagai, "Orang-orang kulit hitam di peternakan itu sejauh orang-orang Afrika hitam dan batu-batu. Mereka adalah massa hitam yang tak berbentuk, bergabung dan menipis dan bergerombol seperti katak, tanpa wajah, yang hanya ada untuk melayani, mengatakan 'Ya, Bapak,' mengambil uang mereka dan pergi" (Lessing 14).

Lessing berhasil mengangkat isu-isu hangat di Afrika pada masanya. Ia menulis untuk mengubah masyarakat. E. Celine menulis tentang hal ini dalam risetnya yang berjudul "Marxism in the novels of Doris Lessing", "Doris Lessing tampaknya telah mendengarkan Afrika seperti tidak ada penulis lain yang dapat lakukan. Afrika adalah tempat yang mengajarkan kebutuhan akan perubahan dalam masyarakat dan mendorongnya untuk mencari jawaban melalui politik kiri" (Celine 5).

Meskipun berasal dari penjajah kulit putih, cerita-cerita Lessing memfokuskan pada kehidupan orang-orang miskin yang tinggal di Afrika. Protagonisnya mewakili penjajah kulit putih di Afrika dan pandangan serta perilaku mereka terhadap orang Afrika asli.

Lessing selalu menjadi penulis yang mendefinisikan dirinya sendiri karena Afrika memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi kemungkinan pertumbuhan spiritual untuk pembangunan sosial dan politik. Orang Afrika dieksploitasi oleh penjajah kulit putih selama periode yang panjang. Lessing ingin membawa perubahan, yang terlihat dalam karya-karya Afrikanya. Ia mengungkap rasisme dan ketidakadilan terhadap orang-orang asli di negara mereka sendiri. Dalam ceritanya, Lessing menggunakan narator yang menjadi korban ketidakadilan ini. Ia menggambarkan pengalaman pribadinya melalui cerita-cerita ini di tempat di mana ia pernah tinggal dan telah menjadi bagian penting dari hidupnya. Masyarakat Afrika dibagi menjadi berbagai ras hanya karena perbedaan warna kulit. Orang-orang Afrika ditolak hak-hak dasarnya hanya karena warna kulit mereka yang hitam dan bukan putih. Hukum-hukum orang kulit putih sangat keras bagi orang-orang Afrika. Jika kejahatan yang sama dilakukan oleh dua orang, satu kulit putih dan satu kulit hitam, hukumannya berbeda untuk keduanya. Pekerjaan tetap untuk orang Afrika adalah bekerja sebagai pembantu di rumah-rumah orang kulit putih atau di tambang. Kekhawatiran Lessing adalah membuat dunia sadar akan ketidakadilan berdasarkan ras, wilayah, dan warna kulit.

Doris Lessing sebagai seorang penulis yang menggambarkan pengalaman pribadinya melalui karya-karyanya. Lessing memiliki niat untuk menyatukan berbagai aspek yang biasanya terpisah dalam kehidupan. Tulisannya mengangkat tema-tema seperti fiksi versus fakta, individu versus kolektif, dan stagnasi versus perubahan, dan sebagainya. Penulis adalah produk dari zamannya, dan masyarakat menjadi subjek utama dalam karyanya. Dengan menempatkan fiksi Lessing pada tanah yang lembut di mana keseimbangan antara manusia dan masyarakat hilang, ia menggambarkan individu dalam interaksi tak henti-hentinya dengan kekuatan sosial dan politik. Karya-karya seperti The Grass is Singing, The Golden Notebook, dan Children of Violence menggambarkan perjuangan epik protagonis melawan berbagai kelompok sampai mereka belajar menghadapi prasangka sempit mereka dan mengembangkan pandangan yang manusiawi. Melalui pengamatan yang cermat terhadap tulisannya, Lessing adalah seorang penulis dengan motif yang kuat. Fiksi-fiksinya dengan tajam mempertanyakan moralitas dan spiritualitas kita sebagai manusia.

Salah satu pengaruh penting dalam tulisan Lessing adalah kondisi mengerikan dan menyedihkan dari orang-orang di Afrika. Tempat ini adalah tempat di mana ia tumbuh dewasa. Ia melihat bagaimana populasi penduduk asli kulit hitam diperlakukan oleh penjajah kulit putih dan bagaimana mereka didiskriminasi dan dieksploitasi. Diskriminasi ini berdasarkan warna kulit membuatnya memiliki ketidaksukaan yang kuat terhadap rasisme dan kolonialisme. Hal ini membuatnya merasa simpati terhadap orang kulit hitam dan peduli dengan perbaikan keadaan untuk mereka. Tawhida Akhter membicarakan peran penulis, "Jadi penulis seperti mereka mengangkat isu-isu wanita kontemporer seperti hubungan antara pria dan wanita, penindasan terutama penindasan yang mereka hadapi di dalam dan di luar rumah. Penulis-penulis ini menjadikan sastra sebagai senjata mereka untuk melawan isu-isu ini dalam masyarakat mereka" (Akhter, 2233). Lessing melampaui kategori-kategori yang telah ditentukan seperti kelas, ras, ideologi, dan gender, untuk memahami totalitas proses mental manusia dan kesadaran kolektif.

Doris Lessing yang dalam novel-novel yang dipilihnya membahas tentang perjalanan diri, dari kehidupan di pedalaman ke kehidupan di pertanian, dari kota ke kota besar, dari masa remaja ke pernikahan dan kemudian menjadi seorang ibu. Para protagonisnya berjuang keras untuk menemukan identitas mereka sendiri. Semua protagonis seperti Mary, Anna, dan Martha memiliki pertanyaan tentang identitas mereka dan motif pencarian diri mereka. Meskipun mereka mungkin belum menemukan identitas mereka, namun setiap peristiwa dalam kehidupan mereka membantu mereka sedikit memahami diri mereka sendiri. Lessing memiliki posisi yang istimewa dalam sastra Inggris periode pasca-perang. Keunikan, cakupan luas, jumlah, dan beragamnya karya-karyanya memberikan posisi yang unik di antara penulis-penulis abad ke-20. Ia telah menulis lebih dari tiga puluh buku dalam berbagai genre mulai dari realisme sosial hingga fiksi luar angkasa, dari otobiografi hingga mistisisme dan filsafat. Karya sastranya menawarkan wawasan yang sangat tajam, meskipun kritis, terhadap situasi sosial, politik, dan budaya dunia pasca-1950-an. 'Seni sastra' Lessing memberikan wawasan yang dalam kepada pembaca tentang psikologi karakter dan perilaku emosional. Dalam tulisannya, ia menyajikan tiga tingkat eksplorasi utama. Pertama, tingkat "individu" - analisis diri karakter individu. Kedua, tingkat "antarpersonal" - hubungan antara dua individu yang berbeda, dan yang terakhir, tingkat "hubungan sosial" yang memfokuskan pada sikap protagonis terhadap konvensi sosial secara keseluruhan. Kebebasan adalah salah satu elemen yang paling signifikan dalam tulisannya.

B. Kesimpulan

Chapter 6 membahas tentang sastra dan budaya Afrika dengan referensi khusus pada karya-karya Doris Lessing. Penulisnya, Tawhida Akhter dan M. H. Mohamed Rafiq, menguraikan hubungan antara sastra Afrika dan budayanya dengan fokus pada karya-karya Doris Lessing. Dalam kesimpulannya, penulis mungkin menyimpulkan bahwa karya-karya Lessing merupakan cerminan dari kompleksitas budaya dan sosial Afrika, serta menyelidiki tema-tema seperti identitas, politik, dan perubahan sosial dalam konteks Afrika. Penulis juga mungkin menyoroti kontribusi Lessing terhadap pemahaman dunia sastra Afrika dan pengaruhnya terhadap penulisan dan pembacaan karya sastra di Afrika.

C. Tanggapan Kritis

1. Pujian-Kelebihan

Tulisan ini memberikan fokus yang jelas pada hubungan antara sastra Afrika dan budayanya dengan mengacu khusus pada karya-karya Doris Lessing. Dengan demikian, membantu pembaca untuk lebih mendalam memahami kontribusi Lessing dalam konteks budaya dan sosial Afrika.

Penulis, Tawhida Akhter dan M. H. Mohamed Rafiq, melakukan analisis yang komprehensif terhadap karya-karya Lessing, termasuk tema-tema seperti identitas, politik, dan perubahan sosial dalam konteks Afrika. Hal ini memberikan wawasan yang mendalam tentang kompleksitas budaya dan sosial di Afrika.

Kesimpulan yang mungkin disampaikan oleh penulis, bahwa karya-karya Lessing merupakan cerminan dari kompleksitas budaya dan sosial Afrika, merupakan kesimpulan yang mendasar dan penting. Hal ini memungkinkan pembaca untuk menarik hubungan yang lebih dalam antara karya sastra dengan realitas sosial dan budaya di Afrika.

Tulisan ini memberikan kontribusi yang berarti dalam memahami hubungan antara sastra dan budaya Afrika, dengan fokus yang khusus dan analisis yang mendalam terhadap karya-karya Doris Lessing.

2. Kritik-Kekurangan

            Tulisan ini tampaknya terbatas pada karya-karya Doris Lessing dalam konteks sastra dan budaya Afrika. Hal ini dapat menjadi keterbatasan karena sastra Afrika memiliki beragam penulis dan karya yang juga memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman budaya dan sosial di Afrika.

Meskipun tulisan menguraikan hubungan antara karya-karya Lessing dengan budaya dan sosial Afrika, namun belum jelas sejauh mana analisis tersebut dilakukan dengan kedalaman yang memadai. Misalnya, apakah ada analisis spesifik terhadap elemen-elemen budaya Afrika yang tercermin dalam karya-karya Lessing atau bagaimana pengaruh Lessing terhadap perkembangan sastra Afrika secara lebih mendalam.

Daftar Pustaka

Akhter, Tawhida. M. H. Mohamed Rafiq. 2022. Culture and Literature (Chapter 6, African Literature And Culture with  Special Reference to Doris Lessing’s Works). Newcastle Upon Tyne, Inggris. Cambridge Scholars Publishing.