LABEL : liburakademik

Menunggu Semester, Waktu Jedanya Dosen dan Mahasiswa

10 January 2026 21:32:52 Dibaca : 7

Masa jeda antarsemester sering kali dianggap sebagai waktu kosong, padahal sejatinya ini adalah ruang bernapas yang jarang kita sadari nilainya. Setelah berbulan-bulan dikejar jadwal kuliah, tugas, dan target akademik, jeda ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, menata ulang energi, dan kembali mengingat alasan mengapa kita memilih dunia pendidikan. Bukan untuk berlomba tanpa henti, tetapi untuk tumbuh secara utuh sebagai manusia pembelajar.

Bagi dosen, masa menunggu semester bukan sekadar libur mengajar, melainkan momen refleksi. Ini saat yang tepat untuk membaca ulang catatan perkuliahan, mengevaluasi metode pembelajaran, dan bertanya pada diri sendiri : apakah kelas kemarin sudah cukup ramah bagi mahasiswa? Tak harus selalu produktif dalam arti besar, kadang menyusun satu RPS dengan lebih empatik atau membaca satu buku di luar disiplin ilmu justru memberi perspektif baru yang menyegarkan.

Sementara itu, mahasiswa sering kali merasa bimbang di masa jeda ini. Di satu sisi ingin istirahat, di sisi lain merasa bersalah jika tidak melakukan apa-apa. Padahal, menunggu semester juga bisa dimaknai sebagai proses mengenali diri. Mengikuti pelatihan singkat, belajar keterampilan baru, membantu orang tua di rumah, atau bahkan sekadar merapikan tujuan hidup adalah bagian dari pembelajaran yang tak tertulis di transkrip nilai.

Ada baiknya masa jeda ini juga dimanfaatkan untuk merawat kesehatan mental dan fisik. Tidur yang cukup, memperbaiki pola makan, berolahraga ringan, atau mengurangi waktu menatap layar adalah bentuk investasi jangka panjang bagi keberlangsungan studi dan karier akademik. Dunia kampus sering menuntut kita kuat secara intelektual, tetapi lupa bahwa pikiran yang jernih hanya lahir dari tubuh dan hati yang dijaga.

Yang tak kalah penting, masa menunggu semester adalah waktu untuk menjaga relasi. Dosen dapat memperkuat kolaborasi dengan kolega, berdiskusi santai tanpa tekanan deadline, atau menulis refleksi kecil untuk dibagikan ke publik. Mahasiswa pun bisa memperbaiki hubungan pertemanan, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Di sinilah nilai kemanusiaan pendidikan benar-benar hidup.

Pada akhirnya, menunggu semester bukan tentang berhenti bergerak, melainkan bergerak dengan lebih sadar. Tidak semua jeda harus diisi dengan ambisi, dan tidak semua waktu luang berarti kemunduran. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah waktu untuk kembali utuh, agar saat semester baru dimulai, kita datang bukan hanya sebagai dosen dan mahasiswa, tetapi sebagai manusia yang lebih siap dan lebih tenang.