LABEL : nilaiAmahasiswa

 

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak.” Dalam sistem pendidikan tinggi, banyak mahasiswa merasa tidak mendapatkan nilai A adalah bencana. Nilai A memang dipandang sebagai capaian ideal dan sering diasosiasikan dengan kecerdasan, kedisiplinan, serta keberhasilan akademik. Namun, berbagai kajian pendidikan menunjukkan bahwa prestasi akademik bukan satu-satunya indikator keberhasilan mahasiswa, baik selama studi maupun setelah lulus (Keng, 2023; Ngo, 2024).

Dengan demikian, nilai A perlu dipahami sebagai salah satu tujuan, bukan tujuan tunggal dalam proses pendidikan.

1. Nilai A adalah Target yang Wajar, Bukan Kewajiban Mutlak

Berusaha mendapatkan nilai A mencerminkan sikap serius, tanggung jawab, dan komitmen mahasiswa terhadap proses belajar. Dalam konteks tertentu, seperti seleksi beasiswa, studi lanjut, dan jalur akademik, nilai akademik tinggi memang memiliki nilai strategis (Casali & Meneghetti, 2023). Nilai juga menjadi indikator penguasaan materi dan kemampuan berpikir analitis.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa tekanan untuk selalu meraih nilai tinggi dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan mahasiswa jika tidak diimbangi dengan dukungan psikologis dan fleksibilitas pembelajaran. Casali dan Meneghetti (2023) menemukan bahwa orientasi berlebihan pada nilai dapat meningkatkan stres akademik tanpa selalu meningkatkan kompetensi nyata mahasiswa. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah usaha maksimal dan proses belajar yang bermakna, bukan sekadar huruf A di akhir semester.

2. Nilai Tidak Selalu Mewakili Kompetensi Utuh

Nilai akademik pada umumnya mengukur aspek kognitif, seperti kemampuan mengingat, memahami, dan menganalisis materi. Padahal, keberhasilan mahasiswa di dunia nyata juga sangat ditentukan oleh kompetensi non-kognitif, seperti komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, dan pengendalian emosi (Mwita et al., 2024).

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa dengan IPK sedang, tetapi memiliki soft skills yang baik, justru lebih adaptif dan kompetitif di dunia kerja dibandingkan mereka yang hanya unggul secara akademik (Ngo, 2024). Hal ini menegaskan bahwa nilai A tidak selalu identik dengan kesiapan profesional atau kesuksesan jangka panjang.

3. Belajar Bukan Perlombaan, tetapi Proses Bertumbuh

Teori perkembangan belajar menekankan bahwa setiap individu memiliki latar belakang, kapasitas, dan ritme belajar yang berbeda. Pendekatan growth mindset yang diperkenalkan oleh Dweck (2006) menyatakan bahwa keberhasilan belajar lebih ditentukan oleh kemauan untuk bertumbuh dan belajar dari kesalahan, bukan oleh hasil instan semata.

Dalam konteks mahasiswa yang memiliki tanggung jawab tambahan, seperti bekerja sambil kuliah atau mengurus keluarga, standar tunggal “harus A” justru berpotensi melahirkan kecemasan akademik dan kelelahan mental. Yang lebih penting adalah progres personal, yakni apakah mahasiswa berkembang dari waktu ke waktu, bukan sekadar bagaimana ia dibandingkan dengan orang lain.

4. Perspektif Kebiasaan : Konsisten Lebih Penting dari Sempurna

James Clear dalam Atomic Habits menegaskan bahwa keberhasilan jangka panjang dibentuk oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, bukan oleh pencapaian besar yang sesekali terjadi (Clear, 2018). Prinsip ini sangat relevan dalam konteks pendidikan tinggi.

Mahasiswa yang membangun kebiasaan belajar teratur, aktif berdiskusi, membaca secara konsisten, dan merefleksikan proses belajarnya cenderung mengalami perkembangan akademik dan personal yang lebih stabil. Penelitian Keng (2023) menunjukkan bahwa kebiasaan belajar dan keterampilan non-kognitif berkontribusi signifikan terhadap capaian akademik dan kesiapan karier. Dalam hal ini, nilai A bisa menjadi hasil sampingan, tetapi kebiasaan baik adalah bekal jangka panjang.

5. Jadi, Apa yang Sebaiknya Dikejar Mahasiswa?

Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian, mahasiswa sebaiknya :

  • Berfokus pada pemahaman materi, bukan sekadar lulus ujian
  • Menjaga integritas akademik sebagai bagian dari pembentukan karakter
  • Mengembangkan soft skills seiring dengan capaian akademik
  • Menjadikan nilai sebagai alat evaluasi pembelajaran, bukan sumber harga diri

Pendekatan ini sejalan dengan tujuan pendidikan tinggi, yaitu membentuk lulusan yang kompeten secara intelektual sekaligus matang secara sosial dan emosional.

Penutup

Mahasiswa boleh dan sah menargetkan nilai A. Namun, mahasiswa tidak dapat disebut gagal hanya karena memperoleh nilai B atau C, selama ia belajar dengan sungguh-sungguh dan terus bertumbuh. Penelitian dan teori pendidikan menegaskan bahwa kesuksesan mahasiswa merupakan hasil interaksi antara kemampuan akademik, soft skills, kebiasaan belajar, dan konteks kehidupan yang dijalani. Pendidikan tinggi seharusnya melahirkan manusia pembelajar, bukan sekadar pengumpul huruf di transkrip nilai.

Daftar Pustaka :

  • Casali, N., & Meneghetti, C. (2023). Soft skills and study-related factors: Direct and indirect associations with academic achievement and general distress in university students. Education Sciences, 13(6), 612. https://doi.org/10.3390/educsci13060612
  • Clear, J. (2018). Atomic habits: An easy & proven way to build good habits & break bad ones. New York: Avery.
  • Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. New York: Random House.
  • Keng, S. H. (2023). The effect of soft skills on academic outcomes. The B.E. Journal of Economic Analysis & Policy, 24(1). https://doi.org/10.1515/bejeap-2022-0342
  • Mwita, K., Mwilongo, N., & Mwamboma, I. (2024). The role of soft skills, technical skills and academic performance on graduate employability. International Journal of Research in Business and Social Science, 13(5), 767–776. https://doi.org/10.20525/ijrbs.v13i5.3457
  • Ngo, T. T. A. (2024). The importance of soft skills for academic performance and career development from the perspective of university students. International Journal of Engineering Pedagogy, 14(3), 53–68. https://doi.org/10.3991/ijep.v14i3.45425