LABEL : peluangusahastreetfood

Pendahuluan

Beberapa tahun lalu mungkin masih terlintas di ingatan kita bahwa ada tren Food Court di Kota Gorontalo. Namun dengan berjalannya waktu hampir seluruh Food Court yang ada di Kota Gorontalo redup dan lenyap sati per satu. Sebagai gantinya, dalam beberapa tahun terakhir, fenomena streetfood atau kuliner kaki lima di Gorontalo menunjukkan perkembangan yang signifikan dan menjadi bagian penting dari lanskap ekonomi perkotaan. Kehadiran pedagang streetfood tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat dengan harga terjangkau, tetapi juga mencerminkan dinamika ekonomi informal yang hidup dan adaptif. Streetfood tumbuh seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat perkotaan, perubahan gaya hidup, serta keterbatasan daya beli sebagian konsumen terhadap kuliner formal seperti restoran dan kafe modern. Fenomena ini menunjukkan bahwa streetfood bukan sekadar aktivitas ekonomi sederhana, melainkan ruang sosial yang mempertemukan aspek budaya, ekonomi, dan interaksi masyarakat. Oleh karena itu, streetfood di Gorontalo layak dikaji sebagai fenomena ekonomi lokal yang memiliki peluang besar sekaligus tantangan struktural yang kompleks.

Streetfood sebagai Representasi Ekonomi Rakyat

Streetfood di Gorontalo didominasi oleh pelaku usaha mikro dengan skala modal yang relatif kecil dan pengelolaan yang masih sederhana. Bagi banyak masyarakat, khususnya kepala keluarga dan generasi muda, streetfood menjadi alternatif lapangan pekerjaan yang realistis di tengah keterbatasan kesempatan kerja formal. Aktivitas ini menunjukkan daya tahan ekonomi rakyat dalam menghadapi tekanan ekonomi, seperti kenaikan harga bahan pokok dan ketatnya persaingan kerja. Dengan demikian, keberadaan streetfood berkontribusi langsung terhadap sirkulasi ekonomi lokal yang berbasis komunitas.

Peluang Streetfood di Gorontalo

1. Pasar yang Alami dan Terbentuk Secara Organik

Pasar Sentral Gorontalo merupakan ruang ekonomi yang secara alami menghadirkan arus manusia dalam jumlah besar setiap hari. Aktivitas jual beli sejak pagi hingga malam menciptakan pasar potensial yang stabil bagi pelaku street food. Konsumen tidak perlu “dicari” karena keberadaan mereka sudah terbentuk oleh fungsi pasar itu sendiri. Kondisi ini menjadikan emperan jalan sekitar pasar sebagai lokasi strategis dengan tingkat visibilitas dan aksesibilitas yang tinggi. Dalam perspektif ekonomi mikro, kondisi ini menciptakan permintaan efektif yang relatif konstan.

2. Karakter Konsumen yang Beragam dan Loyal

Konsumen street food di kawasan Pasar Sentral berasal dari berbagai segmen, mulai dari pedagang pasar, buruh angkut, sopir bentor, pegawai toko, hingga mahasiswa dan masyarakat sekitar. Keberagaman ini membuat permintaan terhadap street food sangat variatif, baik dari sisi harga, porsi, maupun jenis menu. Konsumen umumnya memiliki tingkat loyalitas yang tinggi terhadap pedagang tertentu karena faktor rasa, kedekatan emosional, dan kebiasaan. Loyalitas ini menjadi modal sosial yang kuat bagi keberlanjutan usaha street food.

3. Sensitivitas Harga yang Menguntungkan Street Food

Sebagian besar konsumen Pasar Sentral memiliki karakter sensitif terhadap harga dan mengutamakan nilai guna. Street food mampu menjawab kebutuhan ini dengan menawarkan makanan yang terjangkau namun mengenyangkan. Dalam konteks ini, street food memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan usaha kuliner formal yang cenderung lebih mahal. Kombinasi antara harga murah, porsi besar, dan rasa yang familiar menjadikan street food sebagai pilihan rasional konsumen. Hal ini menciptakan pasar yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi.

4. Tren Konsumsi Praktis dan Cepat Saji

Perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan mendorong meningkatnya permintaan terhadap makanan yang praktis dan cepat disajikan. Konsumen Pasar Sentral umumnya memiliki keterbatasan waktu karena aktivitas ekonomi yang padat. Street food menawarkan solusi konsumsi instan tanpa prosedur yang rumit. Tren ini semakin memperkuat posisi street food sebagai bagian dari sistem pangan perkotaan. Ke depan, permintaan terhadap makanan cepat, sederhana, dan mudah diakses diperkirakan akan terus meningkat.

5. Konsumsi Berbasis Pengalaman Sosial

Street food di emperan jalan tidak hanya menawarkan makanan, tetapi juga pengalaman sosial. Konsumen menikmati suasana makan yang egaliter, informal, dan penuh interaksi sosial. Aktivitas makan sering kali menjadi ruang berbagi cerita, melepas lelah, dan membangun relasi sosial. Pengalaman ini sulit digantikan oleh restoran modern yang cenderung individualistis. Nilai pengalaman ini menjadi daya tarik tersendiri yang memperkuat posisi street food di mata konsumen.

6. Tren Kuliner Lokal dan Nostalgia Rasa

Meningkatnya minat masyarakat terhadap kuliner lokal menjadi peluang besar bagi street food Pasar Sentral. Konsumen mulai mencari cita rasa tradisional yang otentik dan dekat dengan memori kolektif mereka. Street food yang mempertahankan resep lokal memiliki keunggulan karena dianggap lebih “asli” dan jujur. Tren nostalgia rasa ini mendorong konsumen untuk kembali ke makanan sederhana yang sarat makna budaya. Hal ini memperluas pasar street food tidak hanya sebagai kebutuhan, tetapi juga sebagai identitas.

7. Pola Konsumsi Waktu Tertentu (Time-Based Demand)

Permintaan street food di Pasar Sentral sangat dipengaruhi oleh waktu, seperti pagi hari, jam istirahat siang, dan malam hari. Pola ini menciptakan peluang optimalisasi waktu jualan bagi pedagang. Dengan strategi menu dan jam operasional yang tepat, pelaku usaha dapat memaksimalkan pendapatan harian. Time-based demand ini juga memungkinkan diversifikasi menu sesuai kebutuhan konsumen pada waktu tertentu. Fleksibilitas ini menjadi keunggulan khas street food.

8. Potensi Ekspansi Pasar melalui Digitalisasi Sederhana

Meskipun berbasis emperan jalan, street food memiliki peluang memperluas pasar melalui digitalisasi sederhana. Konsumen mulai terbiasa memesan lewat pesan singkat, grup WhatsApp, atau aplikasi peta digital. Eksposur melalui media sosial juga memperluas segmen konsumen di luar pengunjung pasar. Digitalisasi ini tidak harus kompleks, tetapi cukup untuk meningkatkan keterjangkauan pasar. Dengan demikian, street food dapat memperluas permintaan tanpa kehilangan karakter lokalnya.

9. Ketahanan Permintaan di Tengah Perubahan Ekonomi

Street food di Pasar Sentral memiliki karakter pasar yang relatif tahan terhadap krisis ekonomi. Ketika daya beli menurun, konsumen cenderung beralih ke makanan yang lebih murah namun tetap mengenyangkan. Hal ini menjadikan street food sebagai “safety net consumption” bagi masyarakat. Ketahanan permintaan ini menjadikan street food sebagai usaha dengan risiko pasar yang relatif lebih rendah. Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini menunjukkan elastisitas permintaan yang menguntungkan.

Tantangan Streetfood di Gorontalo

1. Penataan Ruang dan Infrastruktur yang Terbatas

Salah satu tantangan utama streetfood di Gorontalo adalah keterbatasan penataan ruang publik. Banyak pedagang beroperasi di lokasi yang belum didukung fasilitas memadai, seperti sanitasi, tempat sampah, dan pencahayaan. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kenyamanan konsumen, tetapi juga memengaruhi citra streetfood secara keseluruhan. Ketidakteraturan lokasi berdagang sering kali menimbulkan konflik dengan pengguna ruang publik lainnya. Oleh karena itu, masalah infrastruktur menjadi isu mendasar yang perlu mendapat perhatian serius.

2. Regulasi dan Kepastian Usaha

Streetfood sering berada pada posisi rentan akibat lemahnya kepastian hukum dan regulasi yang belum berpihak sepenuhnya. Banyak pelaku usaha menghadapi ketidakpastian terkait izin usaha, relokasi, atau penertiban. Kondisi ini menciptakan rasa tidak aman dalam menjalankan usaha jangka panjang. Ketidaksinkronan kebijakan antara penataan kota dan pemberdayaan UMKM memperparah kerentanan tersebut. Tanpa regulasi yang jelas dan adil, potensi streetfood sulit berkembang secara berkelanjutan.

3. Kualitas Produk, Higiene, dan Keamanan Pangan

Isu kebersihan dan keamanan pangan masih menjadi tantangan serius bagi streetfood. Keterbatasan pengetahuan dan fasilitas membuat standar higiene belum diterapkan secara konsisten. Hal ini berisiko menurunkan kepercayaan konsumen, terutama wisatawan dan kelompok menengah ke atas. Dalam jangka panjang, masalah ini dapat menghambat upaya menjadikan streetfood sebagai bagian dari wisata kuliner unggulan. Oleh karena itu, peningkatan literasi higiene dan standar pangan menjadi kebutuhan mendesak.

4. Persaingan dan Keberlanjutan Usaha

Streetfood di Gorontalo juga menghadapi persaingan ketat, baik antar sesama pedagang maupun dengan usaha kuliner modern. Banyak pelaku usaha yang belum memiliki strategi diferensiasi produk dan manajemen usaha yang baik. Akibatnya, tidak sedikit usaha streetfood yang bertahan hanya dalam jangka pendek. Ketergantungan pada tren dan lokasi tanpa inovasi berkelanjutan menjadi faktor utama kegagalan usaha. Tantangan ini menuntut peningkatan kapasitas kewirausahaan pelaku streetfood.

Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi

Pengembangan streetfood di Gorontalo memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, akademisi, dan pelaku usaha. Pemerintah perlu menyediakan ruang usaha yang tertata, aman, dan higienis tanpa menghilangkan karakter informal streetfood. Akademisi dapat berperan melalui pendampingan, riset, dan pengabdian masyarakat untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha. Sementara itu, pelaku streetfood perlu didorong untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas layanan. Pendekatan kolaboratif ini penting agar streetfood tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh sebagai kekuatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Penutup

Fenomena streetfood di Gorontalo mencerminkan dinamika ekonomi rakyat yang adaptif dan berbasis budaya lokal. Di balik peluang besar yang dimiliki, terdapat tantangan struktural yang membutuhkan penanganan komprehensif dan berkelanjutan. Streetfood bukan sekadar persoalan kuliner, tetapi bagian dari strategi pembangunan ekonomi lokal yang inklusif. Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan lintas sektor, streetfood dapat menjadi simbol kemandirian ekonomi dan identitas kota Gorontalo di masa depan.