Agriland : Jurnal Ilmu Pertanian Vol 12, No 1 (2024) 

Ilyas Djuna, Nurdin Nurdin, Wawan Pembengo, Rival Rahman

Universitas Negeri Gorontalo

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil tanaman jagung komposit pada beberapa kelas lereng dan dosis pemupukan di Desa Payu Kabupaten Gorontalo. Waktu pelaksanaan mulai Oktober 2019 sampai Mei 2020. Metode Penelitian menggunakan Rancangan petak terpisah dengan petak utama adalah empat kelas lereng dan anak petak adalah dosis pemupukan dengan 3 perlakuan. Paremeter yang diamati adalah sampel tanah, tinggi tanaman, jumlah daun, umur berbunga jantan dan betina, panjang tongkol, jumlah biji dan berat biji. Analisis data diuji dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas lereng bergelombang (8-15%) dan pupuk NPK 50 kg/ha mempengaruhi pertumbuhan dan hasil jagung. Terdapat interaksi antara kelas lereng bergelombang (0-8%) dan tanpa pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung komposit.

Klik Disini

Etnis Jawa-Tondano (Jaton) merupakan entitas hasil pembauran para pengikut Kyai Modjo dengan perempuan etnis Minahasa di Tondano, Sulawesi Utara. Adalah Raden Ngabei Wiropati atau Kyai Sepoh Baderan atau Kyai Baderan II yang merupakan Kakak Kyai Modjo ketika diasingkan di Tondano tidak membawa istri, tetapi membawa 3 orang anak laki-lakinya dan menikah dengan perempuan Minahasa setempat, sehingga menghasilkan keturunan Jaton yang diperkirakan sudah generasi ke-7. Salah satu anaknya yang bernama Tumenggolo menikah dengan Nona Saronsong dan beroleh anak diantaranya Djalil K. Baderan yang ikut bermograsi ke Gorontalo (Kelurahan Yosonegoro saat ini) bersama rombongan yang dipimpin oleh Eyang Amal Modjo. Abdulah K. Baderan merupakan anak Djalil K. Baderan yang sudah bermukim di Gorontalo. Diaspora keturunannya sampai saat ini sudah tersebar di beberapa daerah, baik di Gorontalo, Sulawesi Tengah, Banten, Bengkulu, Maluku Utara dan lainnya. Kiprah keturunan Abdulah K. Baderan sudah cukup banyak baik dalam pemerintahan, pendidik dan akademisi, serta profesi lainnya. Keluarga Abdulah K. Baderan ini akan terus berkembang, sehingga pengkayaan buku ini akan terus dilakukan.

Klik Disini

 

Tanah vertisol mempunyai cadangan hara yang tinggi, tetapi sifat fisiknya sering menjadi kendala di dalam pemanfaatannya, sehingga perlu perbaikan melalui pemberian amelioran. Sumber bahan amelioran seyogianya berasal dari lokasi setempat, sehingga petani dapat melakukan upaya perbaikan dengan tingkat pengetahuan dan teknologi yang dikuasai serta lebih terjangkau.

Buku ini tak hanya mencoba memberikan bukti bahwa penggunaan bahan amelioran berupa pasir, sabut kepala, dan sabut batang pisang mampu memperbaiki kualitas tanah dan sekaligus meningkatkan produktivitas tanaman padi, tetapi sekaligus menjadi awal bahwa dengan teknologi pertanian sederhana, petani Indonesia mampu kembali berswasembada.

Buku ini terdiri dari beberapa Pembahasan, diantaranya:

Memaksimalkan Potensi Lahan Sawah Tadah HujanMengenal Ameliorasi Pada Tanah VertisolPerkembangan Tanah VertisolAmeliorasi pada Tanah VertisolPengaruh Pemberian Bahan Amelorian Terhadap Produktivitas Tanaman Padi Pada Tanah VertisolProsedur Pemberian Bahan Amelioran terhadap Tanah VertisolPengaruh Pemberian Bahan Amelioran terhadap Produktivitas Padi pada Endoaquert UsticPengaruh Pemberian Bahan Amelioran terhadap Produktivitas Padi pada Epiaquert UsticTanggap Tanaman Padi terhadap Pemupukan Kalium Pasca Pemberian Amelioran pada Endoaquert UsticPaket Teknologi Perbaikan Tanah Vertisol untuk Meningkatkan Hasil Padi Sawah

Klik Disini

Swasembada pangan merupakan keniscayaan yang harus segera dicapai, mengingat kebutuhan pangan terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara ketersediaan pangan cenderung fluktuatif. Maka eksplorasi lahan pertanian harus dilakukan, demi mencapai pemanfaatan yang optimal dan membuka potensi-potensi lainnya agar dapat diberikan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.

Klik Disini

Reklamasi dan Bioremidiasi Tanah

31 May 2024 10:11:09 Dibaca : 5899

Reklamasi dan bioremediasi tanah adalah dua strategi utama yang digunakan untuk memperbaiki dan memulihkan lingkungan yang telah terdegradasi akibat aktivitas manusia atau bencana alam. Kedua teknik ini memiliki tujuan yang sama yaitu memperbaiki kualitas tanah dan mengembalikan fungsi ekosistemnya, namun keduanya memiliki pendekatan yang berbeda.

Dalam praktiknya, kombinasi dari kedua metode ini seringkali diterapkan untuk mencapai hasil yang optimal dalam pemulihan lahan. Misalnya, reklamasi dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi fisik tanah, sementara bioremediasi dapat digunakan secara bersamaan atau bertahap untuk mengatasi kontaminasi kimia. Penggabungan kedua teknik ini memungkinkan pemulihan lingkungan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.

Buku ini membahas tentang:Bab 1 Prinsip Dasar Reklamasi Dan Bioremediasi TanahBab 2 Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Degradasi LahanBab 3 Dampak Pembangunan Terhadap Sifat LahanBab 4 Jenis Dan Sumber Kontaminasi TanahBab 5 Reklamasi Lahan KritisBab 6 Reklamasi Lahan Bekas TambangBab 7 Pencemaran LingkunganBab 8 Definisi Dan Ruang Lingkup BioremediasiBab 9 Teknik Bioremediasi Lahan Tercemar Limbah Organik Dan AnorganikBab 10 Bioremediasi Lahan Tercemar Minyak Bumi

Klik Disini