RINGKASAN

Dr. Ir. Jooudie N. Luntungan as (Team Leader) Mapping/GISDr. Ir. Edy Lengkong as Agronomy ExpertDr. Ir. Ellen C. Pakasi as Value Chain ExpertDr. Ir. Nordy Waney, Ms as Rural Socio-economics ExpertDr.Ir.Tiny Mananoma,MT.,IPM.,ASEAN Eng as Irrigation ExpertProf. Dr. Zetly Tamod, SP. M.Si as Environment ExpertDr. Ir. Adeleyda Lumingkewas, SP. M. Si as Ass. Agronomy ExpertDr. Ir. Sofia Wantasen, M.Si as Ass Environment ExpertProf. Dr. Nurdin, S.P, M.Si ( Ass.Mapping/Soil Science (Counterpart Universitas Negeri Gorontalo.Ir. Yani Kamagi, MP (Surveyor)Dr. Ir. Tommy Lolowong, MS (Surveyor)Surono, SP., M.Sc. (Surveyor)Frederick Djojosaputro, SP (Surveyor)Syafrizal Umaternate, ST (Surveyor)Roby Waworuntu, (Surveyor)

 

RINGKASAN EKSEKUTIF

Nurdin, Echan Adam, Rival Rahman, Silviana Arsyad

Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo

Kota Gorontalo, 2024

Provinsi Gorontalo merupakan salah satu sentra produksi pertanian yang secara konsisten membangun sektor pertanian, sehingga tampak nyata pada kontribusi sektor ini dalam pembentukan ekonomi wilayah (PDRB). meskipun tren peningkatan produksi dan produktivitas pertanian yang cenderung naik, tetapi seiring dengan pencapaian tersebut muncul permasalahan lain terutama karena banyaknya limbah pertanian yang dihasilkan dan belum tertangani secara optimal, terutama limbah pertanian di Kota Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk mengelola limbah pertanian dan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik padat dan cair yang bernilai ekonomi dan agronomis berbasis kawasan., memitigasi potensi pencemaran lingkungan akibat residu limbah pertanian dan limbah rumah tangga berbasis kawasan., dan merancang Kawasan Pertanian Organik Terintegrasi Ultra Low Cost. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi untuk kondisi pertanian dan potensi limbah pertanian di Kota Gorontalo. Selanjutnya untuk analisis keragaan pertumbuhan dan hasil tanaman caisin dan bayam menggunakan metode eksperintal desain mengikuti pola rancangan acak lengkap (RAL). Apabila F hitung > F tabel maka dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf uji 5%. Analisis selanjutnya menggunakan efektivitas agronomis relatif (RAE) dan efektivitas ekonomi pupuk (EFE).

  

Penentuan kawasan dan klaster pengembangan pertanian organik berdasarkan kriteria yang dianalisis secara komposit. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa potensi limbah pertanian sebagai bahan baku pupuk organik cukup banyak yang ditunjang oleh luas lahan pertanian, populasi ternak dan usaha pertanian baik skala perorangan maupun rumah tangga di Kota Gorontalo. Selanjutnya, pemberian pupuk organik secara nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil baik pada tanaman caisin maupun tanaman bayam. Pada tanaman caisin, taraf pemupukan terbaik sebanyak 5 ton/ha, sementara pada tanaman bayam taraf pemupukan terbaik sebanyak 10 ton/ha.

 

Efektivitas agronomis relatif (RAE) terbaik untuk tanaman caisin terdapat pada taraf pupuk organik sebanyak 5 ton/ha, demikian halnya dengan efektivitas ekonomi pupuk (EFE). Sementara efektivitas agronomis relatif (RAE) terbaik untuk tanaman bayam terdapat pada taraf pupuk organik sebanyak 10 ton/ha, demikian halnya dengan efektivitas ekonomi pupuk (EFE). Sedangkan klaster I pengembangan pertanian organik di Kota Gorontalo melingkupi Kecamatan Kota Utara, Kota Tengah dan Kecamatan Sipatana. Sementara Klaster II mencakup Kecamatan Kota Timur, Hulonthalangi dan Kecamatan Dumbo Raya. Sedangkan Klaster III mencakup Kecamatan Kota Barat, Dungingi dan Kecamatan Kota Selatan.

Peta klaster Pengembangan Pertanian Organik di Kota

Saran: (a) sebagai masukan bagi pemerintah daerah terutama Bapppeda Provinsi Gorontalo agar kiranya limbah pertanian yang begitu melimpah dapat dikelola dan dimanfaat sesegera mungkin., (b) pupuk organik yang telah dibuat dan diaplikasikan ke tanaman caisin dan bayam pada skala rumah kaca selanjutnya harus diuji cobakan pada lahan pertanian di lapangan, (c) nilai RAE untuk tanaman caisin dan bayam dapat ditingkatkan lagi dengan meningkatkan produksi melalui pengkayaan hara pupuk organik, sementara nilai EFE dapat ditingkatkan lagi melalui peningkatan harga komoditas caisin dan penurunan biaya produksi pupuk organik, (d) klaster pengembangan pertanian organik terintegrasi di Kota Gorontalo ini perlu dituangkan dalam roadmap dan action plan, sehingga program dan kegiatan di dalamnya dapat segera dilaksanakan secara optimal

Assalamualaikum Wr. Wb.

Perkenankan kami sekeluarga mengucapkan:

Selamat Hari Raya Indul Fitri, 1 Syawal 1447 H, Tahun 2026

Mohon maaf lahir n batin

Taqobbalallahu minna wa minkum, siyamana wa siyamakum

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Prof. Dr. Ir. Nurdin, SP, MSi & Keluarga

Nurdin1, Rival Rahman2*, Silvana Apriliani2

1Program Studi Magister S2 Agroteknologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Gorontao. nurdin@ung.ac.id

2Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Negeri Gorontalo. Jl. Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, Moutong Kabupaten Bone Bolango, 96554. rival@ung.ac.id; silvana@ung.ac,id

*) Penulis korespondensi

Diterima 04 Oktober 2024; Disetujui 7 Januari 2025

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran spasial tingkat kesesuaian lahan tanaman pangan pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) di kawasan Teluk Tomini Kabupaten Boalemo. Data dianalisis dengan teknik  pemadanan antara karakteristik dan kualitas lahan dengan kriteria kesesuaian lahan tanaman pangan berdasarkan kerangka kerja FAO serta menggunakan software ArcGis dengan metode maching. Hasil analisis menunjukkan kesesuaian lahan potensial komoditas pangan masing -masing untuk padi sawah kelas S2 (cukup sesuai) seluas 2,368.16 ha (14.37%) dan kelas S3 seluas 14,114.03 (85.63%), jagung kelas S2 seluas 10,338.40 (62%) dan kelas S3  seluas 6,143.80 ha (37.28%), kedelai kelas S2 seluas 13,712.13 (83.19%) dan kelas S3 seluas 2,770.07 ha (16.81%). Ubi kayu kelas S2 (cukup sesuai) seluas 3,901.42 ha (23.67%), kelas S3 seluas 2,532.34 ha (15.36%) dan kelas N seluas 10,048.44 (60.97%). Hasil analisis menyimpulkan bahwa setiap komoditas tanaman pangan di wilayah penelitian didominasi oleh kelas (S3) 85.63% untuk padi sawah,  kedelai cukup sesuai (S2) 83.19%, jagung cukup sesuai (S2) 62%, serta kelas tidak sesuai (N) 60.97% untuk komoditas ubi kayu. Sebaran pengembangan komoditas tanaman pangan di wilayah penelitian paling luas diarahkan untuk komoditas jagung dan kedelai dengan luas  54.17%, kedelai seluas 20.95%, jagung kedelai dan ubi kayu 20.07%, kedelai dan ubi 1.97% serta jagung 0.38%.

Klik Disini

Klik Disini

 

Hendrikus Demon Tukan (Faculty of Agriculture and Animal Science, Catholic University of Indonesia Saint Paul Ruteng)

Nautus Stivano Dalle (Faculty of Animal Science, Marine and Fisheries, University of Nusa Cendana)

Nurdin (Faculty of Agriculture, Gorontalo State University)

Juni Sumarmono (Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University)

Aleksius Arwandi Jeramat (Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University)

Elisabeth Yulia Nugraha (Faculty of Agriculture and Animal Science, Catholic University of Indonesia Saint Paul Ruteng)

Abstract

The aim of this study is to analyze the density of buffalo livestock in the southern coastal area of Greater Manggarai based on the calculation of Location Quotient (LQ), to analyze the factors that influence farmers in the existence of buffalo livestock. This research was conducted from December 2024 to May 2025 in the southern coastal area of Greater Manggarai spread across 7 sub-districts, namely: Lembor, South Lembor, Satar Mese, West Satar Barat, Borong, Komba City, and North Komba sub-districts. The research method used in this study was livestock density calculation, LQ analysis, and influence factor analysis using multiple linear regression with SSPS 18 as a tool. The results of the study indicate that the majority of the southern region of the Greater Manggarai area is not a base for buffalo livestock, but in terms of potential and topography, the region is very supportive from the economic, socio-cultural and traditional aspects. The results of the analysis of the potential and condition of the region and the density of buffalo livestock can be symbolized that the priority for buffalo livestock development is in the Kota Komba and Lembor Selatan sub-districts, followed by Lembor and Borong sub-districts. For the specific development of buffalo livestock commodities, based on the results of the LQ analysis, the potential base for buffalo livestock development is in the Lembor Selatan and Kota Komba sub-districts. The most dominant influencing factor in the analysis of the potential and condition of the buffalo livestock development area in the southern region of the Greater Manggarai area is the socio-cultural factor.

Klik Disini