Kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif ?

21 May 2023 13:48:44 Dibaca : 74 Kategori : Umum

Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk kritis dan objektif mempertimbangkan informasi, argumen, dan bukti yang diberikan. Ini melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan dalam argumen atau bidang informasi tertentu, serta kemampuan untuk mengambil keputusan yang rasional dan terinformasi berdasarkan informasi dan bukti yang diberikan. Kemampuan berpikir kritis membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemauan untuk menggali lebih dalam dan mempertimbangkan semua informasi yang tersedia sebelum membuat keputusan atau mengekspresikan pandangan. Orang yang berpikir kritis juga sering mempertanyakan asumsi atau keyakinan yang terkait dengan masalah yang dipertimbangkan, dan cenderung melihat masalah dari berbagai sudut pandang sebelum sampai pada kesimpulan. Kemampuan berpikir kritis sangat penting di dunia profesional dan akademik, dan seringkali menjadi kualitas yang dicari dalam calon karyawan atau siswa yang potensial. Ini juga merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, memberi seseorang kemampuan untuk membuat keputusan yang baik dalam situasi pribadi dan profesional.

Parameter kemampuan berpikir kritis pada pembelajar dapat diukur dengan beberapa komponen atau aspek sebagai kriteria asessmen penting pada pembelajar (Zubaidah and Aloysius 2015). Sebagaimana lima aspek berpikir kritis yang diusulkan (Norris and Ennis 1989) antara lain:

  1. Elementary clarification: Memberikan penjelasan sederhana dengan memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan atau tantangan.
  2. Basic support: Membangun keterampilan dasar dengan mempertimbangkan kredibilitas sumber dan melakukan pertimbangan observasi.
  3. Inference: Menarik kesimpulan dengan menyusun dan mempertimbangkan deduksi, menyusun dan mempertimbangkan induksi, menyusun keputusan dan mempertimbangkan hasilnya.
  4. Advanced clarification: Memberikan penjelasan lanjut dengan mengidentifikasi istilah dan mempertimbangkan definisi, dan mengidentifikasi asumsi.
  5. Strategies and tactics: Menentukan suatu tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.

Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menghasilkan ide baru, solusi kreatif untuk masalah, dan membuat sesuatu yang bernilai dengan cara yang berbeda dan baru. Kemampuan ini melibatkan kemampuan untuk melihat masalah dari perspektif yang berbeda, mengembangkan gagasan baru, dan mengeksplorasi opsi alternatif untuk mencapai hasil yang lebih baik. Kemampuan berpikir kreatif diperlukan di berbagai bidang seperti seni, bisnis, teknologi, ilmu sosial, dan lain-lain. Beberapa teknik yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif adalah penggunaan " brainstorming " atau pemikiran asosiatif, mempertanyakan asumsi, pengembangan kemampuan imajinasi, dan pembelajaran berkelanjutan. Kemampuan berpikir kreatif sangat penting dalam menyelesaikan masalah kompleks atau menciptakan inovasi baru, dan dapat menjadi sumber kepuasan intelektual dan profesional yang besar. Seiring dengan kemajuan teknologi dan harapan masyarakat untuk lebih kreatif, kemampuan berpikir kreatif menjadi semakin penting dalam banyak bidang pekerjaan.

Menurut Treffinger (2002), ada lima aspek yang menjadi parameter kemampuan berpikir kreatif yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk dapat berpikir kreatif secara efektif. Kelima aspek tersebut adalah:

  1. Kefasihan (fluency): Kemampuan untuk menghasilkan banyak ide dalam waktu yang singkat. Individu yang memiliki kemampuan ini mampu menghasilkan ide yang banyak dan beragam tanpa terpaku pada satu konsep atau gagasan saja.
  2. Berpikir fleksibel (flexibility): Kemampuan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mempertimbangkan banyak jenis solusi. Individu yang fleksibel mampu melihat masalah dari berbagai konteks yang berbeda dan menghasilkan solusi yang tidak biasa.
  3. Elaborasi (elaboration): Kemampuan untuk mengembangkan ide menjadi gagasan yang lebih rinci dan nyata. Individu yang mampu mengelaborasi ide menjadi solusi konkrit dan berguna dalam situasi tertentu.
  4. Kebaruan (originality): Kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang unik dan baru. Individu yang mampu mengembangkan ide kreatif yang tidak biasa dan inovatif yang bisa berdampak positif pada lingkungan sekitarnya.
  5. Pemikiran metaforis (metaphorical thinking): Mengacu pada kemampuan untuk menggunakan perbandingan atau analogi untuk membuat koneksi baru. Pemikiran metaforis melibatkan pemikiran tentang bagaimana hal-hal yang berbeda menjadi sama dan kemudian memindahkan koneksi tersebut untuk menghasilkan atau menemukan kemungkinan hal yang baru.

Pemikiran metaforis adalah jenis pemikiran yang menggunakan metafora atau analogi untuk melihat hubungan antara dua hal yang pada dasarnya berbeda secara alami. Metafora adalah sebuah perumpamaan yang menunjukkan kesamaan atau kemiripan antara dua hal yang berbeda dan memungkinkan kita untuk melihat keterkaitan yang mungkin tidak terlihat. Pemikiran metaforis sering digunakan dalam seni, bahasa, dan sastra untuk membantu menggambarkan perasaan, pikiran, atau gagasan yang kompleks dan abstrak. Pemikiran metaforis juga sering digunakan dalam bidang-bidang seperti sains dan bisnis untuk membantu menjelaskan konsep yang kompleks. Misalnya, konsep "genetika" dapat dijelaskan sebagai "kode komputer kehidupan" atau "peta jalan kehidupan". Analogi semacam ini dapat membantu menyederhanakan ide yang kompleks dan menjadikannya lebih mudah dimengerti. Pemikiran metaforis juga dapat membantu memicu kreativitas dan meningkatkan kepribadian kreatif seseorang. Dengan membuka perspektif baru, membuat hubungan baru di antara hal-hal yang berbeda, dan melakukan pemetaan pemikiran yang tidak terduga, pemikiran metaforis dapat membantu individu mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dan menciptakan solusi yang lebih inovatif.

Berpikir kritis dan berpikir kreatif adalah dua hal yang berbeda. Berikut ini adalah perbedaan antara keduanya:

  1. Tujuan: Berpikir kritis dimaksudkan untuk menganalisis masalah atau situasi dengan tujuan memecahkan atau menyelesaikannya. Sedangkan berpikir kreatif dimaksudkan untuk menghasilkan ide-ide baru atau solusi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
  2. Proses: Berpikir kritis melibatkan proses analitis yang terpusat pada pembuktian, analisis, dan evaluasi fakta dan argumen yang telah dikumpulkan. Sedangkan berpikir kreatif melibatkan proses ekspansif yang seringkali terpusat pada pemikiran bebas dan berimajinasi.
  3. Jenis Pertanyaan: Berpikir kritis melibatkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan fakta dan logika, seperti "apa bukti yang membenarkan klaim ini?" atau "apa contoh kasus yang dapat memperkuat argumen ini?". Sedangkan berpikir kreatif melibatkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan ide dan konsep, seperti "bagaimana cara menghasilkan ide-ide baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya?".
  4. Pengambilan Keputusan: Berpikir kritis digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan dengan cara mengumpulkan informasi dan menganalisisnya secara kritis untuk menentukan solusi terbaik. Sedangkan berpikir kreatif digunakan untuk mengembangkan solusi baru dan inovatif yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.
  5. Tanggapan Emosional: Berpikir kritis seringkali berfokus pada fakta dan bukti, sehingga tanggapan emosional tidak selalu diperhitungkan. Sedangkan berpikir kreatif seringkali melibatkan emosi dan imajinasi, sehingga tanggapan emosional dapat memainkan peran penting dalam pengembangan ide dan solusi.