KATEGORI : Learning Experience

Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi, media pembelajaranpun juga mengalami perubahan yang begitu cepat dan tak dapat dibendung kehadirannya. Perubahan besar yang terjadi dalam proses pembelajaran tersebut, ditandai dengan banyaknya bentuk inovasi pembelajaran yang melibatkan berbagai ragam teknologi belajar sebagai media untuk penyampaian pembelajaran. Salah satunya adalah penerapan pembelajaran daring (dalam jaringan). Pembelajaran daring dinilai memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman dan keterlibatan belajar peserta didik. Sebab desain dari pembelajaran ini, mampu mendesai ruang belajar baru bagi peserta didik yang sesuai dengan kondisi lingkungannya yang terintegrasi dengan media teknologi. Konsep belajar ini menciptakan bentuk interaksi baru bagi peserta didik dengan media digital sebagai ruang belajarnya.

Kehadiran media pembelajaran dapat berfungsi sebagi alat bantu pembelajaran yang dapat meningkat pemahaman dan kemampuan peserta didik. Dapat kita renungkan, jika seandainya seorang guru mengajar di sekolah dari menit awal sampai dengan menit akhir, guru menggunakan lesan (verbal) untuk menerangkan atau menjelaskan suatu materi pelajaran? Bagaimana reaksi peserta didik? Tentunya  akan cepat bosan, ngantuk dan  konsentrasi belajar mudah beralih ke hal lain. Media pembelajaran memiliki peran yang sangat urgen dalam memfokuskan perhatian, meningkatkan pemahaman, dan masih banyak aspek lain yang menguntungkan proses belajar peserta didik.

Namun, siapa sangka pemberlakuan pembelajaran dengan media pembelajaran digital dalam jangka panjang justru membawa ancaman baru. Seperti penerapan pembelajaran daring yang berlaku sejak Maret 2020 masih diterapkan disejumlah daerah di Indonesia hingga saat ini. Lebih dari 10 bulan diterapkan, pembelajaran daring membawa kekhawatiran akan terjadinya learning loss atau kehilangan kesempatan belajar di tanah air. Yang menjadi pertanyaan besar, apakah pembelajaran daring merupakan alasan terjadinya learning loss di tanah air? Dan apa yang dapat dilakukan pemerintah serta masyarakat Indonesia terutama para guru untuk membantu meminimalisir dampak dari learning loss ini?

Acaman ini sekiranya perlu untuk mewaspadai terjadinya mortalitas belajar. Kematian lonceng belajar merupakan suatu tanda muculnya gejala learning loss seperti di masa emergency pandemi Covid-19 pada beberapa waktu yang lalu. Kondisi ini dapat mempengaruhi ketertinggalan belajar, karena;

  1. Parameter keberhasilan belajar berubah.
  2. Beralihnya pusat belajar ke luar kurikulum terstruktur.
  3. Belajar hanya yang disukai (bukan dibutuhkan).
  4. Prosedur belajar mandiri (rapuhnya social skill untuk to live together).
  5. Kehilangan pengetahuan “aku ada di mana”, “dari mana mau ke mana”, “sudah sampai dimana”, “teman-temanku ada dimana”.
  6. Kehilangan penghayatan “di atas langit masih ada langit”, “di depan ada orang dan di belakang juga ada”.
  7. Kehilangan kesempatan belajar berbagi cipta-rasa-pelihara.

Gejala-gejala di atas patut untuk diwaspadai, maka setiap guru termasuk mahasiswa calon guru harus dapat menjawab tantangan ini. Jangan biarkan anak-anak bangsa berhenti mendengar lonceng belajar, waspadai gejala learning loss. Mengawali ini, terdapat beberapa pertanyaan dan catatan penting yang dapat menjadi acuan kita bersama.

  1. Teknologi media pembelajaran apa yang tepat untuk mewaspadai ancaman learning loss ?
  2. Perubahan apa yg terjadi di dunia belajar dan pembelajaran ? Apakah  perubahan itu sistemik dan membawa dampak sistemik ?
  3. Kebutuhan baru di era baru: apa saja, dan bagaimana memenuhinya ?
  4. Bagaimana peran guru ?
  5. Bagaimana dampaknya pada profesi guru ?
  6. Bagaimana peran sekolah ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas, mengarahkan adanya era normal baru. Namun, apa dan bagaimana konteks era normal baru tersebut ? Protokol Covid-19 SOCIAL/PHISICAL DINTANCING, cuci tangan, pakai masker berdampak pada hilangnya kebiasaan lama (disruptive new normal), atau disruptive culture. Serupa dengan disruptive technology di era Revolusi Teknologi 4.0. Pertanyaan: bagaimana penerapannya di dunia belajar ? Apa yang hilang di dunia belajar ? Pembelajaran tatap muka akan hilang, selanjutnya sekolah, dan profesi guru.

Dengan demikian diperlukan sebuah pembiasaan baru yang tak pernah diramalkan sebelumnya oleh siapapun. Terjadi karena munculnya makhluk mini tak terlihat mata. Apa jawabannya ? Ubah paradigma face to face ke online learning ! Namun ini, tak kunjung sampai disini. Sebab perubahan belajar ini, turut merubah konsep belajar dan pembelajaran. Apakah konsep-konsep yang ada dapat dipakai begitu saja untuk online learning ? TIDAK ! Karena konsep, teori, model dan media pembelajaran yang telah teruji sahih yang ada semua dikembangkan berbasis pembelajaran tatap muka, sedangkan yang berbasis online sedang dalam proses pengembangan dan pengujian.

Menyikapi berbagai perubahan pembelajaran dimasa kini dan masa depan, maka sangat membutuhkan terobosan baru melalui formulasi media pembelajaran digital yang terukur secara efektif berdampak terhadap peserta didik. Anda sebagai mahasiswa calon guru biologi, mempunyai peran yang sama untuk memberikan kontribusi pada keberhasilan belajar yang optimal terutama di situasi new normal saat ini. Selain itu, potensi learning loss patut menjadi perhatian kita bersama. Oleh karena itu, berdasarkan uraian ini cobalah anda menindaklanjutinya dengan melakukan studi terhadap potensi-potensi masalah yang dapat menurunkan performa belajar khususnya ancaman learning loss pada mata pelajaran biologi di sekolah pada masa new normal saat ini. Temukan ide kongkritnya yang dapat diformulasikan menjadi solusi tindakan yang tepat atas masalah-masalah tersebut.

Untuk memulai studi ini, Anda dapat secara kolaboratif dalam tim merencanakan sebuah kegiatan project pemecahan masalah yang dihadapi di lapangan (sekolah).

Bayangkan anda bekerja dalam satu kelompok desain pembelajaran ! Setiap tim tersebut diminta merancang media pembelajaran Biologi di Sekolah untuk pencapaian belajar peserta didik yang disesuaikan dengan silabus. Media pembelajaran tersebut dirancang dalam konteks tertentu dengan situasi dan kondisi tertentu. Sehingga media pembelajaran seperti apa yang menurut tim anda paling tepat ? Seperti apakah konteks dan karakteristik media pembelajaran yang sesuai dengan masalah pembelajaran yang dihadapi dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai ? Media pembelajaran apa saja yang paling relevan untuk digunakan ? Media dan teknologi belajar seperti apa yang paling sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah ?

Sumber:

Prof. Dr. I Nyoman Sudana Degeng, M.Pd. 2021. Teknologi Pembelajaran Universitas Negeri Malang. Webinar Nasional FKMA S3 TEP UM.

Prof. Dr. Mustaji, M.Pd. 2022. S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya.

Brainstorming adalah teknik untuk pembuatan daftar ide dengan cara yang kreatif melalui ruang diskusi yang ramah dan terbuka. Tujuan dari brainstorming adalah untuk menghasilkan ide sebanyak mungkin dalam waktu singkat. Alat utama dalam brainstorming adalah "membuat jurnal,". Dengan membuat jurnal dapat menjadi cara yang efektif untuk merekam ide-ide yang dipikirkan secara spontan. Dengan membuat jurnal, dapat mengumpulkan pemikiran yang nantinya menjadi daftar sumber ide. Selama proses brainstorming, semua ide dicatat dan tidak ada ide yang diabaikan atau dikritik. Setelah daftar panjang ide dihasilkan, seseorang dapat kembali dan meninjau ide untuk mengkritisi kekurangan atau kelebihannya.

Apabila Anda ingin menghasilkan ide terbaik melalui brainstorming, sebaiknya terapkan beberapa tips berikut agar lebih maksimal.

  1. Hal paling penting untuk menemukan ide melalui metode ini adalah memiliki seseorang yang bertindak sebagai fasilitator yang mengkoordinator jalannya proses brainstorming.
  2. Tetapkan tujuan, hal paling pertama yang harus dilakukan dalam cara melakukan brainstorming adalah menentukan tujuan yang hendak dicapai. Pasalnya tanpa mengetahui tujuan, sesi brainstorming hanya berjalan tanpa arah. Tanyakan pada diri, untuk apa sesi brainstorming tersebut diadakan, masalah apa yang hendak diselesaikan, dan kendala apa yang dihadapi. Dengan menentukan tujuan dan menyampaikan hal tersebut sebelumnya, setiap peserta memiliki pemahaman yang sama terhadap masalah yang dihadapi saat brainstorming dimulai. 
  3. Tetapkan batas waktu, menetapkan waktu sangatlah penting dan hal ini biasanya tergantung pada kerumitan masalahnya . Normalnya, brainstorming dilakukan selama 15–60 menit.
  4. Mulailah dengan masalah/ringkasan target, anggota harus memiliki pertanyaan, rencana, atau tujuan yang jelas sesuai dengan topik.
  5. Menahan diri dari penilaian/kritik, seluruh peserta tidak boleh bersikap negatif dalam menanggapi ide dari peserta lain, meski hanya melalui bahasa tubuh.
  6. Dorong ide-ide aneh dan unik, bebaskanlah semua orang merasa untuk melontarkan ide (asalkan sesuai topik).
  7. Jangan mengikuti satu alur pemikiran terlalu lama, pastikan untuk menghasilkan banyak ide berbeda, dan jelajahi ide individu secara mendetail.
  8. Manfaatkan visual, gunakan diagram untuk membantu menghidupkan ide dan membantu orang lain melihat sesuatu dengan cara yang berbeda.
  9. Berikan waktu bagi anggota tim untuk memikirkan ide. Cara melakukan brainstroming lainnya dalam melakukan brainstorming adalah dengan memberikan waktu bagi setiap anggota tim untuk memikirkan ide dan konsep sebelum sesi berlangsung. Pasalnya, dengan memberikan waktu tersebut maka saat hadir dalam sesi brainstorming, masing-masing anggota sudah memiliki ide dan konsep yang hendak diajukan sehingga brainstorming pun dapat berjalan lebih produktif. Cara ini juga akan mendorong setiap anggota tim memiliki gagasan yang mandiri, bukan lagi hanya menyetujui ide orang lain saja. 
  10. Petakan ide, hal yang tidak boleh dilewatkan dalam cara melakukan brainstorming adalah mencatat ide-ide yang ada. Salah satu cara mudahnya adalah dengan memetakan ide ke dalam kerangka berpikir mind map. Gunakan papan tulis untuk membuat gambaran mind map atas pokok-pokok ide yang muncul selama brainstorming berlangsung. Lewat mind map, kamu dan tim tetap bisa fokus pada ide sentral sambil mengatur dan mengelompokkan ide-ide lain pada jenis yang tepat. Dengan begitu kamu pun dapat lebih mudah menemukan ide yang paling potensial terhadap permasalahan yang dihadapi. 
  11. Ciptakan ruang diskusi yang ramah dan terbuka, jika kamu berperan sebagai pemimpin dalam brainstorming ini, maka pastikan kamu telah menciptakan ruang diskusi yang ramah dan terbuka bagi setiap partisipan. Ramah dan terbuka dalam artian, kamu mendukung dan menyambut semua ide yang dilontarkan oleh partisipan. Brainstorming adalah zona di mana setiap ide diapresiasi. Dengan menciptakan ruang yang terbuka tersebut maka partisipan pun akan lebih percaya diri dan kreatif menggali ide. 

Sumber:

https://faculty.washington.edu/ezent/imdt.htm

https://www.ekrut.com/media/cara-melakukan-brainstorming

https://www.orami.co.id/magazine/brainstorming

Kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh sumber daya manusia yang dihasilkan dari sebuah proses pendidikan dan pembelajaran bermutu yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga pendidikan guru atau Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang hebat dan bermutu. Tuntutan terhadap lulusan lembaga pendidikan yang bermutu semakin dirasakan mendesak karena semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang memungkinkan peluang lembaga pendidikan (termasuk perguruan tinggi asing) membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan antar lembaga pendidikan akan semakin berat.Mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat dan tantangan yang semakin besar serta kompleks, tiada jalan lain bagi LPTK untuk mengupayakan cara-cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik lainnya, antara lain dicapai melalui revitalisasi LPTK. LPTK adalah perguruan tinggi yang diberi tugas oleh Pemerintah untuk menyelenggarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan atau pendidikan menengah, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan non-kependidikan. LPTK berperan sebagai lembaga pendidikan prajabatan dan dalam jabatan. Sebagai lembaga pendidikan prajabatan, LPTK berperan: (1) menghasilkan guru yang berkualitas (kualifikasi, kompetensi, berkarakter kuat dan berjiwa pendidik); (2) menghasilkan calon guru dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan untuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang memenuhi standar di setiap satuan pendidikan untuk berbagai jalur, jenis dan jenjang pendidikan. Selain itu, LPTK berperan dalam pembinaan guru dalam jabatan, antara lain: (1) melaksanakan sertifikasi guru dalam jabatan, (2) membantu kemendikbud dalam pembinaan guru berkelanjutan, (3) melaksanakan penilaian kompetensi dan kinerja guru secara terus menerus, serta (4) menghasilkan berbagai inovasi pendidikan dan pembelajaran di sekolah untuk peningkatan mutu pendidikan.

Namun kenyataannya kehadiran lebih dari 400 LPTK di Indonesia, belum mampu menyelesaikan permasalahan guru Indonesia yang sangat kompleks, antara lain; (1) kekurangan guru, terutama guru pada daerah-daerah khusus; (2)distribusi tidak proporsional; (3) ketidakcocokan (mismatched) antara latar belakang pendidikan dan tugas yang diampu; (4) kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagian berada di bawah standar; (5) disparitas kualitas atau kompetensi; (6) kesejahteraan guru belum merata; (7) tata kelola dan sistem insentif yang tidak adil dan tidak disesuaikan dengan prestasi kerja; dan (8) kinerja dan prestasi guru rendah, karena insentif tidak efektif meningkatkan kinerja guru. Pada saat ini LPTK mengalami berbagai masalah, antara lain: (1) belum semua LPTK memenuhi standar; (2) disparitas kualitas akibat kurangnya pengendalian jumlah dan kualitas LPTK; (3) over supply lulusan pendidikan akademik sarjana, sehingga banyak LPTK menghasilkan penggangguran terdidik; dan (4) diperlukan perhatian pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintahan daerah terhadap LPTK yang masih kurang itu.Memperhatikan berbagai permasalahan tersebut, maka LPTK di Indonesia perlu direvitalisasi. Pada tahun 2016 dan 2017 Universitas Negeri Gorontalo beroleh program revitalisasi LPTK pada 4 Prodi di Fakultas MIPA. Melalui program tersebut telah menghasilkan beberapa dokumen diantaranya pedoman pengelolaan akademik, kurikulum yang berstandar Nasional Dikti yang berorientasi pada KKNI selain itu dihasilkan pula RPS dan perangkat pengembangan pembelajaran. Hasil revitalisasi tersebut merupakan salah satu penguatan lembaga yang memiliki peran signifikan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masyarakat yang sejahtera. Dalam mewujudkan visi Universitas Negeri Gorontalo menjadi “Leading University dalam pengembangan kebudayaan dan inovasi berbasis potensi regional di kawasan Asia Tenggara”, UNG bertekad turut membangun negeri dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas, baik pendidik, tenaga kependidikan, tenaga profesional, maupun tenaga lainnya. Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, maka kurikulum yang merupakan salah satu instrument penting dalam proses pendidikan.Di dalam Permenristekdikti No. 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, Standar proses pembelajaran merupakan kriteria minimal tentang pelaksanaan pembelajaran pada program studi untuk memperoleh capaian pembelajaran lulusan. Dengan demikian, tercapai tidaknya tujuan pendidikan akan sangat tergantung dari pelaksanaan pembelajaran yang diterapkan. Salah satunya adalah penyesuaian perangkat pembelajaran dengan kebutuhan pengguna lulusan, dalam hal ini adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan ajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tinggi.Pengembangan perangkat pembelajaran merupakan wujud implementasi dari KKNI sebagai kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di berbagai sektor (Perpres nomor 8 tahun 2012). KKNI yang terdiri atas sembilan jenjang memiliki implikasi terhadap kurikulum perguruan tinggi. Setiap lulusan perguruan tinggi, termasuk UNG harus mencapai jenjang tertentu dari KKNI. Lulusan program studi jenjang S-1 harus mencapai KKNI level 6.

Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2015 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi Pasal 4 menyebutkan bahwa Standar Nasional Pendidikan terdiri atas, (a) standar kompetensi lulusan, (b) standar isi pembelajaran, (c) standar proses pembelajaran, (d) standar penilaian pembelajaran, (e) standar dosen dan tenaga kependidikan, (f) standar sarana dan prasarana pembelajaran, (g) standar pengelolaan pembelajaran, dan (h) standar pembiayaan pembelajaran. Dengan diterbitkannya Permen Ristek Dikti Nomor 44 tahun 2015 tersebut maka diperlukan penyesuaian beberapa rujukan akademik termasuk didalamnya penyesuaian kurikulum. Khusus dalam standar pengelolaan pembelajaran perguruan tinggi hendaknya; (1) menyusun kebijakan, rencana strategis, dan operasional terkait dengan pembelajaran yang dapat diakses oleh sivitas akademika dan pemangku kepentingan, serta dapat dijadikan pedoman bagi program studi dalam melaksanakanprogram pembelajaran, (2) menyelenggarakan pembelajaran sesuai dengan jenis dan program pendidikan yang selaras dengan capaian pembelajaran lulusan, (3) menjaga dan meningkatkan mutu pengelolaan program studi dalam melaksanakan program pembelajaran secara berkelanjutan dengan sasaran yang sesuai dengan visi dan misi perguruan tinggi, (4) melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kegiatan program studi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, (5) memiliki panduan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengawasan, penjaminan mutu, dan pengembangan kegiatan pembelajaran dan dosen, dan (6) menyampaikan laporan kinerja program studi dalam menyelenggarakan program pembelajaran paling sedikit melalui pangkalan data pendidikan tinggi.

Uraian di atas telah menggambarkan penting pengelolaan mutu lulusan yang sebagai calon guru yang mampu berdaya saing di pasar kerja. Oleh karena itu, perlunya terobosan dalam mengelola calon guru yang berpengalaman dalam bidang pembelajaran di sekolah. Salah satu upaya yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan pengalaman para calon guru di sekolah yaitu dosen LPTK juga harus menjadi model bagi mahasiswa calon guru. Hal ini sebagaimana yang dituangkan dalam Permenristekdikti No. 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru: (S1) Sarjana Pendidikan dan Pendidikan Profesi Guru. Capaian pembelajaran lulusan program sarjana pendidikan harus memiliki; 1) Kompetensi pemahaman peserta didik; 2) Kompetensi pembelajaran yang mendidik; 3) Kompetensi penguasaan bidang keilmuan dan atau keahlian; dan 4) Kompetensi sikap dan kepribadian. Untuk mencapai hal tersebut dalam prosesnya harus memiliki; 1) Karakteristik proses pembelajaran; 2) Perencanaan proses pembelajaran; 3) Pelaksanaan proses pembelajaran; dan 4) Beban belajar mahasiswa. Sehingga tercapainya proses pembelajaran tersebut Program Sarjana Pendidikan mampu menerapkan prinsip dosen sebagai model yang dimaknai sebagai panutan bagi mahasiswa calon pendidik; dan sebagai pengalaman otentik dimaknai bahwa mahasiswa calon pendidik memperoleh pengalaman pembelajaran langsung sedini mungkin dalam situasi nyata di satuan pendidikan. Oleh karenanya, dosen harus mampu memberikan contoh baik bagi mahasiswa calon guru, dalam melaksanakan tugas keprofesiannya, termasuk bagaimana melaksanakan pembelajaran di kelas. Agar dosen LPTK pada saat melaksanakan tugas pembelajaran mampu menghadirkan pengalaman nyata bagaimana melaksanakan pembelajaran yang baik, yang relevan dengan tuntutan mutu proses pembelajaran di sekolah, maka dosen harus mengalami langsung bagaimana menjadi “guru” melalui suatu program diployment atau penugasan dosen di sekolah (PDS). PDS merupakan kegiatan yang memberikan dampak positif baik bagi LPTK maupun bagi Sekolah Laboratorium dan atau Sekolah mitra. Program PDS membutuhkan komitmen dosen untuk mengalami dan menjadi guru di Sekolah Laboratorium dan atau Sekolah mitra.

Melalui penguatan kemitraan antara LPTK dengan sekolah laboratorium atau sekolah mitra merupakan wujud dari tujuan revitalisasi yang telah dilaksanakan, Fakultas MIPA dalam hal ini prodi-prodi yang telah terlibat dalam program revitalisasi sangat berpotensi untuk membangun dan mengembangkan penguatan kemitraan dengan pihak-pihak mitra baik sekolah laboratorium maupun sekolah mitra yang sudah terjalin kerjasama melalui MOU. Dalam program kemitraan ini, dosen LPTK akan ditugas ke sekolah laboratorium atau sekolah mitra untuk bekerjasama dalam memperbaiki bentuk-bentuk pengutan pada mutu pembelajaran. Bentuk penguatan kemitraan dijalankan pada beberapa program yang bersinegris baik pihak LPTK maupun mitradengan indikator keberhasilan; 1) Terlaksanannya PDS melalui penyusunan perangkat pembelajaran kolaboratif antara dosen dan guru mitra, pembelajaran kolaboratif yang dibuktikan dengan rekaman audio visual proses pembelajaran kolaboratif, dan diperolehnya pengalaman baik dan terlaporkan menjadi tulisan pengalaman baikprogram PDS. 2) Terlaksananya pendampingan pencapaian kualitas pembelajaran melalui PDS dengan iklim pembelajaran yang semakin baik, dihasilkannya perangkat pembelajaran yang semakin berkualitas, dan meningkatnya prestasi belajar peserta didik. 3) Terciptanya kemitraan sejati antara dosen LPTK dan guru Sekolah Laboratorium dan/atau Sekolah Mitra, yang ditandai dengan program-program tindak lanjut dalam peningkatan kualitas pembelajaran dalam berbagai bentuk dan berkelanjutan, serta menguatkan kemitraan dalam pelaksanaan PLP dan PPL.

Terkait dengan hal tersebut maka dipandang perlu adanya program PDS melalui penguatan kemitraan dengan sekolah laboratorium maupun sekolah mitra. Melalui program ini, Universitas Negeri Gorontalo memprioritaskan 5 (lima) Prodi yang akan diikutkan dalam program dimaksud. Kelima prodi dimaksud adalah; (1) Prodi Pendidikan Biologi, (2) Prodi Pendidikan Kimia, (4) Prodi Pendidikan Fisika, dan (4) Prodi Pendidikan Geografi serta (5) Prodi Pendidikan Matematika.

Harapan dari program tersebut adalah untuk mewujudkan Indonesia yang Unggul dalam penyelenggaraan dan pembangunan pendidikan nasional yang harus dikelola oleh tenaga pendidik yang unggul, dalam mengahasilkan guru yang unggul tentunya peran LPTK dalam mengelola dan meluluskan alumninya sebagai calon guru yang memiliki daya saing. Untuk mewujudkan hal tersebut akan terimplementasi melalui program Penugasan Dosen di Sekolah (PDS) pada awal semester Ganjil Tahun Ajaran Baru melalui kemitraan dengan Sekolah mitra. Tujuan Penugasan Dosen di Sekolah adalah untuk membangun kemitraan yang sejati secara kolaboratif antara dosen dan guru yang memiliki manfaat bersama dalam mendesain pembelajaran, penelitian dan publikasi, penyusunan buku ajar dan media serta sebagai wadah terselenggaranya program PLP dan PPL. Dari bentuk kemitraan ini akan memberikan pengaruh positif kepada sekolah dalam hal pencapaian kualitas pembelajaran seperti terciptanya iklim pembelajaran yang semakin baik, dihasilkannya perangkat pembelajaran yang semakin berkualitas, dan meningkatnya prestasi belajar peserta didik.

Lesson Study Tingkatkan Kemampuan Mengajar Calon Guru

02 August 2014 12:04:39 Dibaca : 2682

                         

Penerapan pembelajaran melalui program lesson study yang sesuai dengan prosedur dapat meningkatkan pencapaian keterampilan dasar mengajar guru pada PPL-1. Pelaksanaan kegiatan lesson study pada PPL-1 menunjukkan adanya perubahan siginifikan pada pencapaian penguasaan 8 (delapan) indikator keterampilan dasar mengajar guru pada mahasiswa calon guru biologi Fakultas MIPA UNG,

Lesson study dapat meningkatkan penguasaan 8 (delapan) keterampilan dasar mengajar guru pada pelaksanaan PPL-1 dengan pertimbangan bahwa; lesson study merupakan suatu pendekatan yang efektif dapat memudahkan proses pembimbingan dosen dan aktivitas belajar mahasiswa. Oleh karena itu, hal yang dapat diperhatikan; pertama, pengembangan lesson study pada pelaksanaan PPL-1 didasari perencanaan yang matang dari berbagai pengetahuan profesional yang berlandaskan pada pedoman PPL, praktik dan hasil pengajaran yang dilaksanakan oleh dosen. Kedua, pelaksanaan siklus tindakan lesson study (Plan, Do dan See) PPL-1 dibagi pada 2 (dua) tahap pembelajaran. Tahap pertama; latihan mengajar terbimbing, selanjutnya tahap kedua; latihan mengajar mandiri. Ketiga, komitmen pada pengamatan terhadap keterampilan dasar mengajar guru serta keterlaksanaan kegiatan lesson study pada pelaksanaan PPL-1 untuk setiap tahap PPL-1 sesuai dengan indikator pencapaian. Sehingga dapat diketahui seberapa keterlaksanaan atau perubahan-perubahan yang telah terjadi dari tindakan perbaikan pembelajaran yang dilakukan. Selanjutnya dari hasil pengamatan ini akan dijadikan evaluasi sehingga menjadi acuan untuk melakukan analisi dan refleksi. Keempat, refleksi kegiatan yaitu membuat kesimpulan terhadap semua hasil observasi yang diperoleh melalui pelaksanaan tindakan. Hasil observasi atau pengamatan akan disimpulkan dengan membandingkan antara target yang diharapkan dengan hasil pencapaian yang sebenarnya. Sehingga dari hasil refleksi ini diketahui hasil yang dicapai dan akan menjadi dasar untuk merencanakan tahapan selanjutnya untuk perbaikan pembelajaran.

Lesson study memberikan konstribusi berupa pelajaran yang bermakna bagi terciptanya proses kerjasama yang terjadi antar dosen pembimbing dan mahasiswa dalam pelaksanaan Program Pengalaman Lapangan (PPL-1) melalui proses pengembangan rencana pembelajaran, keterlibatan pimpinan jurusan atau lembaga, proses pembelajaran, proses observasi PPL-1, refleksi terhadap hasil pembelajaran sebelumnya, bahan rekomendasi setelah implementasi pembelajaran, serta dampak yang dapat dirasakan baik oleh mahasiswa, dosen pembimbing dan pimpinan jurusan serta lembaga institut yang menaunginya. Lesson study mengarahkan pada perbaikan pembelajaran yang diperoleh dari hasil analisis menjadi balikan bagi yang terlibat dalam kaitannya dengan aspek efektivitas proses kegiatan lesson study (plan, do dan see). Hasil dari balikan tersebut menjadi acuan untuk melakukan perbaikan pembelajaran pada tahapan berikutnya akan menjadi lebih berkualitas serta efektif tercapai pada sasaran yang diharapkan.

Saran Rekomendasi Peneliti:

Lesson study merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan pencapaian pelaksanaan PPL-1 melalui pengkajian pembelajaran 8 (delapan) indikator keterampilan dasar mengajar guru secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning. Hal ini, karena melalui lesson study kolaborator (mahasiswa dan dosen pembimbing) dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana aspek-aspek keterampilan dasar mengajar guru dapat diterapkan pada pembelajaran biologi. Oleh karena itu beberapa saran dan rekomendasi penelitian ini adalah:

  1. Pembelajaran lesson study dapat diterapkan selanjutnya pada pelaksanaan PPL-2. Pada tahap implementasinya perlu memperhatikan kesiapan perangkat-perangkat lesson study yang akan digunakan sebagai monitoring keterlaksanaannya.
  2. Lesson study dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dan profesionalisme baik dosen maupun mahasiswa sebagai calon guru. Secara prakteknya dapat meningkatkan keterampilan dasar mengajar guru khususnya pada mahasiswa peserta PPL-1 Jurusan Biologi. Oleh karena itu dapat diterapkan pada Jurusan atau program studi lainnya yang lulusannya sebagai tenaga pendidik. Manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan lesson study yaitu; a) Secara kelembagaan khususnya Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) UNG dapat membantu dalam memonitoring dan mengobservasi serta mengkritisi hasil pembelajaran. b) Meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran serta mampu mengimplementasikan 8 (delapan) keterampilan dasar mengajar guru. c) Membantu dosen dalam melaksanakan proses pembimbingan PPL menjadi lebih maksimal. (d) Menciptakan terjadinya kolaborasi dan interakasi sesama mahasiswa serta memberikan kemudahan belajar bagi mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan tentang pemahaman menjadi calon guru. e) Dapat melakukan refleksi terhadap pengajaran yang dilaksanakannya berdasarkan pandangan sesama teman sejawat atau koleganya.
  3. Selain itu, melihat kolegialitas maupun kreatifitas pada profesionalisme guru, hasil penelitian ini dapat dikembangkan pada pelaksanaan supervisi klinis untuk peningkatan kemampuan mengajar guru pada setiap tingkat satuan pendidikan. Disarankan kepada Kepala Sekolah, agar melakukan supervisi secara cermat kepada guru-gur baru di sekolahnya melalui pendekatan lesson study, yang memberikan kesempatan kepada guru baru untuk mengemukakan kesulitan-kesulitan dalam mengajar dan menemukan cara pemecahan terhadap kesulitan yang dihadapinya agar lebih professional dalam menjalankan tugas mengajar.