Pembelajaran Blended

29 May 2023 09:36:14 Dibaca : 946

Pembelajaran blended merupakan bagaian dari bentuk e-learning yang memanfaatkan teknologi elektronik dalam menjalankan pembelajaran. E-learning merupakan keterampilan yang menawarkan ruang dan waktu fleksibilitas, dalam penggunaannya tidak hanya sebagai pengganti pembelajaran di kelas tetapi dapat menjadi pelengkap atau yang saling melengkapi (Ulfa, Bringula, dkk., 2020). Secara umum blended learning merupakan pembelajaran bauran yang memiliki kombinasi saling melengkapi antara pembelajaran tatap muka dan online. Menurut Howard, dkk. (2006) blended learning merupakan penggunaan kegiatan pembelajaran dari berbagai jenis dan tempat untuk secara sinergis mencapai tujuan pembelajaran. Selanjutnya Su (2019) menguatkan bahwa ruang lingkup pembelajaran blended merupakan kombinasi dari belajar tradisional secara offline dan belajar secara online dengan waktu yang lebih fleksibel.

Dalam pengertian yang lebih khusus, menurut Khan (2005) blended learning merupakan proses menggabungkan strategi pembelajaran langsung (sinkron), dan pembelajaran mandiri (asinkron) dengan berbagai media penyampaian yang tepat dalam format yang tepat untuk orang yang tepat pada saat yang tepat. Dua unsur kombinasi tersebut menciptakan kegiatan komunikatif berbasis kelas (komunikatif sinkron) dan kegiatan komunikatif yang didukung teknologi konvensional (komunikatif asinkron) (Littlejohn & Pegler, 2007). Pada hakikatnya lingkungan pembelajaran blended memerlukan aktivitas pembelajaran yang tepat untuk mengintegrasikan komponen sinkron dan asinkron (Garrison & Vaughan, 2008). Maka pembelajaran blended membutuhkan perpaduan yang paling tepat untuk pengaturan pembelajaran sinkronous dan asinkronous agar mempengaruhi pengalaman belajar yang optimal (Chaeruman, dkk., 2020). Perpaduan ini dapat dilandasi dari sumber terjadinya proses pembelajaran misalnya pada kondisi formal atau informal, di dalam kelas atau di luar kelas, secara individu atau sosial, media digital dan non-digital, serta lingkungan fisik atau virtual (Ulfa, Surahman, dkk., 2020).

Kerangka konseptual model blended learning (Nurrijal, dkk., 2023).

Kemampuan berpikir kritis dan berpikir kreatif ?

21 May 2023 13:48:44 Dibaca : 27931

Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan untuk kritis dan objektif mempertimbangkan informasi, argumen, dan bukti yang diberikan. Ini melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan dalam argumen atau bidang informasi tertentu, serta kemampuan untuk mengambil keputusan yang rasional dan terinformasi berdasarkan informasi dan bukti yang diberikan. Kemampuan berpikir kritis membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemauan untuk menggali lebih dalam dan mempertimbangkan semua informasi yang tersedia sebelum membuat keputusan atau mengekspresikan pandangan. Orang yang berpikir kritis juga sering mempertanyakan asumsi atau keyakinan yang terkait dengan masalah yang dipertimbangkan, dan cenderung melihat masalah dari berbagai sudut pandang sebelum sampai pada kesimpulan. Kemampuan berpikir kritis sangat penting di dunia profesional dan akademik, dan seringkali menjadi kualitas yang dicari dalam calon karyawan atau siswa yang potensial. Ini juga merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, memberi seseorang kemampuan untuk membuat keputusan yang baik dalam situasi pribadi dan profesional.

Parameter kemampuan berpikir kritis pada pembelajar dapat diukur dengan beberapa komponen atau aspek sebagai kriteria asessmen penting pada pembelajar (Zubaidah and Aloysius 2015). Sebagaimana lima aspek berpikir kritis yang diusulkan (Norris and Ennis 1989) antara lain:

  1. Elementary clarification: Memberikan penjelasan sederhana dengan memfokuskan pertanyaan, menganalisis argumen, bertanya dan menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan atau tantangan.
  2. Basic support: Membangun keterampilan dasar dengan mempertimbangkan kredibilitas sumber dan melakukan pertimbangan observasi.
  3. Inference: Menarik kesimpulan dengan menyusun dan mempertimbangkan deduksi, menyusun dan mempertimbangkan induksi, menyusun keputusan dan mempertimbangkan hasilnya.
  4. Advanced clarification: Memberikan penjelasan lanjut dengan mengidentifikasi istilah dan mempertimbangkan definisi, dan mengidentifikasi asumsi.
  5. Strategies and tactics: Menentukan suatu tindakan dan berinteraksi dengan orang lain.

Kemampuan berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menghasilkan ide baru, solusi kreatif untuk masalah, dan membuat sesuatu yang bernilai dengan cara yang berbeda dan baru. Kemampuan ini melibatkan kemampuan untuk melihat masalah dari perspektif yang berbeda, mengembangkan gagasan baru, dan mengeksplorasi opsi alternatif untuk mencapai hasil yang lebih baik. Kemampuan berpikir kreatif diperlukan di berbagai bidang seperti seni, bisnis, teknologi, ilmu sosial, dan lain-lain. Beberapa teknik yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif adalah penggunaan " brainstorming " atau pemikiran asosiatif, mempertanyakan asumsi, pengembangan kemampuan imajinasi, dan pembelajaran berkelanjutan. Kemampuan berpikir kreatif sangat penting dalam menyelesaikan masalah kompleks atau menciptakan inovasi baru, dan dapat menjadi sumber kepuasan intelektual dan profesional yang besar. Seiring dengan kemajuan teknologi dan harapan masyarakat untuk lebih kreatif, kemampuan berpikir kreatif menjadi semakin penting dalam banyak bidang pekerjaan.

Menurut Treffinger (2002), ada lima aspek yang menjadi parameter kemampuan berpikir kreatif yang harus dimiliki oleh setiap individu untuk dapat berpikir kreatif secara efektif. Kelima aspek tersebut adalah:

  1. Kefasihan (fluency): Kemampuan untuk menghasilkan banyak ide dalam waktu yang singkat. Individu yang memiliki kemampuan ini mampu menghasilkan ide yang banyak dan beragam tanpa terpaku pada satu konsep atau gagasan saja.
  2. Berpikir fleksibel (flexibility): Kemampuan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mempertimbangkan banyak jenis solusi. Individu yang fleksibel mampu melihat masalah dari berbagai konteks yang berbeda dan menghasilkan solusi yang tidak biasa.
  3. Elaborasi (elaboration): Kemampuan untuk mengembangkan ide menjadi gagasan yang lebih rinci dan nyata. Individu yang mampu mengelaborasi ide menjadi solusi konkrit dan berguna dalam situasi tertentu.
  4. Kebaruan (originality): Kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang unik dan baru. Individu yang mampu mengembangkan ide kreatif yang tidak biasa dan inovatif yang bisa berdampak positif pada lingkungan sekitarnya.
  5. Pemikiran metaforis (metaphorical thinking): Mengacu pada kemampuan untuk menggunakan perbandingan atau analogi untuk membuat koneksi baru. Pemikiran metaforis melibatkan pemikiran tentang bagaimana hal-hal yang berbeda menjadi sama dan kemudian memindahkan koneksi tersebut untuk menghasilkan atau menemukan kemungkinan hal yang baru.

Pemikiran metaforis adalah jenis pemikiran yang menggunakan metafora atau analogi untuk melihat hubungan antara dua hal yang pada dasarnya berbeda secara alami. Metafora adalah sebuah perumpamaan yang menunjukkan kesamaan atau kemiripan antara dua hal yang berbeda dan memungkinkan kita untuk melihat keterkaitan yang mungkin tidak terlihat. Pemikiran metaforis sering digunakan dalam seni, bahasa, dan sastra untuk membantu menggambarkan perasaan, pikiran, atau gagasan yang kompleks dan abstrak. Pemikiran metaforis juga sering digunakan dalam bidang-bidang seperti sains dan bisnis untuk membantu menjelaskan konsep yang kompleks. Misalnya, konsep "genetika" dapat dijelaskan sebagai "kode komputer kehidupan" atau "peta jalan kehidupan". Analogi semacam ini dapat membantu menyederhanakan ide yang kompleks dan menjadikannya lebih mudah dimengerti. Pemikiran metaforis juga dapat membantu memicu kreativitas dan meningkatkan kepribadian kreatif seseorang. Dengan membuka perspektif baru, membuat hubungan baru di antara hal-hal yang berbeda, dan melakukan pemetaan pemikiran yang tidak terduga, pemikiran metaforis dapat membantu individu mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dan menciptakan solusi yang lebih inovatif.

Berpikir kritis dan berpikir kreatif adalah dua hal yang berbeda. Berikut ini adalah perbedaan antara keduanya:

  1. Tujuan: Berpikir kritis dimaksudkan untuk menganalisis masalah atau situasi dengan tujuan memecahkan atau menyelesaikannya. Sedangkan berpikir kreatif dimaksudkan untuk menghasilkan ide-ide baru atau solusi yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.
  2. Proses: Berpikir kritis melibatkan proses analitis yang terpusat pada pembuktian, analisis, dan evaluasi fakta dan argumen yang telah dikumpulkan. Sedangkan berpikir kreatif melibatkan proses ekspansif yang seringkali terpusat pada pemikiran bebas dan berimajinasi.
  3. Jenis Pertanyaan: Berpikir kritis melibatkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan fakta dan logika, seperti "apa bukti yang membenarkan klaim ini?" atau "apa contoh kasus yang dapat memperkuat argumen ini?". Sedangkan berpikir kreatif melibatkan pertanyaan-pertanyaan terkait dengan ide dan konsep, seperti "bagaimana cara menghasilkan ide-ide baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya?".
  4. Pengambilan Keputusan: Berpikir kritis digunakan untuk membantu dalam pengambilan keputusan dengan cara mengumpulkan informasi dan menganalisisnya secara kritis untuk menentukan solusi terbaik. Sedangkan berpikir kreatif digunakan untuk mengembangkan solusi baru dan inovatif yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.
  5. Tanggapan Emosional: Berpikir kritis seringkali berfokus pada fakta dan bukti, sehingga tanggapan emosional tidak selalu diperhitungkan. Sedangkan berpikir kreatif seringkali melibatkan emosi dan imajinasi, sehingga tanggapan emosional dapat memainkan peran penting dalam pengembangan ide dan solusi.

 

Apa saja gaya kognitif pada pembelajar ?

21 May 2023 13:27:10 Dibaca : 3186

Gaya kognitif adalah cara individu memproses dan mengorganisir informasi dalam menghadapi tugas kognitif tertentu. Gaya kognitif berkaitan dengan preferensi individu dalam memproses informasi, seperti melalui gambar, teks, jangka pendek dan jangka panjang, serta bagaimana individu menilai informasi dalam pemecahan masalah. Terdapat beberapa jenis gaya kognitif, seperti visual, auditorial, kinestetik, reflektif, dan berpikir global. Gaya kognitif dapat memengaruhi cara individual dalam belajar, memahami, dan mengambil keputusan. Dengan demikian, pada dasarnya gaya kognitif merujuk pada kemampuan individu dalam memproses informasi dan cara mereka mengorganisasikan, menyimpan, dan menggunakan informasi tersebut untuk memahami dunia di sekitarnya. Ada beberapa gaya kognitif yang berbeda, termasuk:

  1. Visual-Spatial: orang yang memiliki gaya kognitif ini cenderung berpikir dalam gambar dan membutuhkan representasi visual dari informasi untuk memahaminya.
  2. Verbal-Linguisitic: orang yang memiliki gaya kognitif ini cenderung berpikir dalam kata-kata dan mengandalkan bahasa untuk memproses informasi.
  3. Logis-Matematis: orang dengan gaya kognitif ini cenderung berpikir secara logis dan mampu memecahkan masalah matematika.
  4. Kinestetik: orang dengan gaya kognitif ini cenderung belajar dengan melakukan atau mencoba hal-hal secara langsung.
  5. Interpersonal: orang dengan gaya kognitif ini cenderung belajar dengan berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain.
  6. Intrapersonal: orang dengan gaya kognitif ini cenderung memahami solusi dan masalah dalam diri mereka sendiri.

Setiap orang mungkin memiliki kombinasi dari beberapa gaya kognitif ini. Memahami gaya kognitif Anda dan gaya kognitif orang lain dapat membantu Anda berkomunikasi dan belajar secara lebih efektif.

Dalam konteks pembelajaran, peserta didik memiliki dua gaya kognitif yang selalu hadir mampu menguatkan bahkan melemahkan pencapaian tujuan pembelajaran. Gaya kognitif tersebut yaitu gaya kognitif FI (Field Independent) dan FD (Field Dependent) kedua gaya kognitif ini sering digunakan dalam psikologi kognitif. Gaya kognitif FI mengacu pada kecenderungan individu untuk menyelesaikan tugas dan masalah dengan memusatkan perhatian pada detail-detail kecil dan mendeteksi hubungan di antara mereka. Orang dengan gaya kognitif FI cenderung lebih mandiri dan fleksibel, dengan kecenderungan untuk berfokus pada informasi visual dan memisahkan persepsi secara logis. Sementara itu, FD terlibat dalam menyelesaikan tugas dengan memperhatikan elemen keseluruhan, mencari hubungan antara komponen dan melihat gambaran besar daripada detail kecil. Individu dengan orientasi kognitif FD cenderung lebih kooperatif dan tergantung pada keadaan sosial, keterampilan verbal dan emosional, serta menggunakan pesan visual dan verbal.

Kedua gaya kognitif ini memiliki implikasi penting dalam pendidikan dan karir, di mana orang dengan gaya kognitif FI lebih mendapatkan manfaat dari instruksi berorientasi pada masalah, grafis visual, dan tugas-tugas analitis, sedangkan orang dengan gaya kognitif FD lebih mendapat manfaat dari instruksi verbal, tugas-tugas berkolaborasi dan pengalaman belajar. Secara umum, gaya kognitif FI mengacu pada individu yang lebih terampil dalam pemecahan masalah dan menarik kesimpulan secara mandiri, sedangkan FD cenderung mengandalkan konteks dan pengalaman sosial untuk memproses informasi. Dalam konteks pendidikan, gaya kognitif FI dapat dianggap sebagai kelebihan dalam situasi pengerjaan tugas mandiri dan ujian, sedangkan FD dapat bermanfaat dalam situasi belajar kolaboratif dan analisis konteks sosial. Gaya kognitif FI (Field Independent) dan gaya kognitif FD (Field Dependent) adalah dua jenis gaya kognitif yang berbeda dalam cara seseorang memproses informasi dan memahami dunia di sekitar mereka. Beberapa perbedaan antara keduanya adalah sebagai berikut:

  1. FI cenderung lebih analitis dan objektif dalam memahami informasi, sementara FD cenderung lebih holistik dan lebih dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.
  2. Individu dengan gaya kognitif FI bersifat mandiri dan selalu mampu memecahkan masalah sendiri, sementara individu dengan gaya FD lebih bergantung pada lingkungan sekitarnya dan lebih cenderung membutuhkan bantuan dari orang lain dalam memecahkan masalah.
  3. Individu dengan gaya kognitif FI lebih fokus pada detail, sementara individu dengan gaya FD lebih fokus pada keseluruhan gambar atau konteks yang lebih besar.
  4. Individu dengan gaya kognitif FI cenderung lebih suka bekerja sendiri, sementara individu dengan gaya FD lebih suka bekerja dalam kelompok.
  5. Dalam hal belajar, individu dengan gaya kognitif FI lebih suka belajar melalui informasi tertulis atau visual, sementara individu dengan gaya FD lebih suka belajar melalui pengalaman langsung.
  6. Individu dengan gaya kognitif FI lebih suka menyelesaikan tugas secara berurutan, sementara individu dengan gaya FD lebih suka mengerjakan tugas dengan cara yang lebih holistik, melibatkan banyak aspek sekaligus.

Jadi, meskipun keduanya memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, gaya kognitif FI dan FD berbeda dalam cara mereka memproses informasi dan memahami dunia di sekitar mereka.

Alur pembelajaran daring dengan PEDATI ?

21 May 2023 13:09:48 Dibaca : 440

Menurut Uwes Anis Chaeruman (2017: 17) PEDATI adalah kependekan dari PElajari – DAlami – Terapkan dan evaluasI, yang merupakan siklus alur pembelajaran yang ditawarkan dalam sistem pembelajaran blended. Desain pedati sama dengan desain sistem pembelajaran blended. Pedati sebagai desain pembelajaran menggambarkan suatu prosedur kerja yang sistematis dan logis, serta memiliki komponen yang jelas dan saling berhubungan.

PELAJARI; mempelajari materi, seperti membaca melalui teks, melihat/memperhatikan melalui visual, mendengarkan melalui audio, menonton melalui video dan atau animasi, mencoba dan mempraktekan melalui simulasi dan games, dan lain-lain. Semua itu, harus disediakan dalam aneka ragam jenis dan bentuk media digital. Media digital inilah yang disebut dengan obyek belajar (learning object).

DALAMI; artinya, memperdalam apa yang telah dipelajari dengan dengan berpartisipasi aktif dalam forum diskusi daring. Forum diskusi ini daring ini juga merupakan salah satu bentuk asesmen dalam pembelajaran asinkron. Karena baik partisipasi maupun kualitas respon yang diberikan dalam diskusi tersebut dijadikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari penilaian hasil belajar secara keseluruhan.

TERAPKAN; artinya, mencoba menerapkan apa yang telah dipelajari dengan dengan mengerjakan tugas daring yang diberikan. Sama halnya dengan forum diskusi, penugasan daring inipun, merupakan salah satu bentuk asesmen dalam pembelajaran asinkron.

EVALUASI; dengan mengerjakan asesmen dalam tes bentuk tes obyektif seperti pilihan ganda, benar/salah, mencocokan, jawaban pendek dan lain-lain.

Abstract

The Creative Problem Solving (CPS) process is a conceptual model that focuses on using higher-order thinking skills in order to overcome authentic problems during learning. The CPS process offers a structured methodology to enhance every learner's solid critical, creative, and innovative thinking skill. The application of the CPS method has been growing, including its implementation in the blended learning environment in universities. However, its application still requires a strategic framework that is by the blended learning conceptual model to facilitate the CPS process. Properly organized instructional design is an important element in maintaining the success of the CPS process in blended learning to encourage and promote learner creativity to solve problems. The application of the CPS method in the context of blended learning is integrated through synchronous and asynchronous patterns facilitated by the Moodle LMS-based e-Learning facility. This research aims to produce a CPS process instructional design in a blended learning context that is valid, practical, and effective and can systematically guide instructors or lecturers in facilitating students to be skilled in critical thinking and creative thinking in problem-solving processes. This development process is based on the incorporation of ideas related to the conceptual model of blended learning with the principles of the CPS process design strategy that has been developed. Instructional design was developed by applying the Research and Development (R&D) method, which implements several stages between Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The validity of the resulting model product was measured using a validation sheet of learning design experts, learning technology, media, materials, and linguists with the title of professor. Questionnaire responses from lecturers and students measured the product's practicality, and the product's effectiveness was measured by conducting testing of critical and creative thinking skills. The research data were analyzed using descriptive statistics to provide a quality score on the resulting instructional design. Based on the results of the study, it can be concluded that this learning design is valid, practical, and effective in improving the thinking skills of prospective teacher students. This proves that the instructional design developed has the feasibility to be used in learning, which can effectively improve the creative problem-solving process in the context of blended learning.

Copyright (c) 2023 Nurrijal, Punaji Setyosari, Dedi Kuswandi, Saida Ulfa

DOI: https://doi.org/10.34190/ejel.21.2.2653/

Ide awal proses pemecahan masalah kreatif atau CPS pertama kali digagas Osborn (1953) dengan tiga prosedur utama dalam proses pemecahan masalah kreatif yaitu: pencarian fakta, penemuan ide, dan menemukan solusi. Menurut Van Hooijdonk, dkk. (2020) pencarian fakta, pencarian masalah, dan pencarian solusi termasuk dalam tugas pemecahan masalah yang kreatif. Menurut Treffinger (1995) CPS adalah kerangka kerja yang dapat digunakan individu atau kelompok untuk merumuskan masalah, peluang atau tantangan, menghasilkan dan menganalisis banyak ragam pilihan ide dan merencanakan proses tindaklanjut yang efektif dari solusi yang dihasilkan.

Dalam perkembangannya CPS mengalami beberapa perubahan salah satunya yang diusulkan oleh Treffinger, dkk. (2010) yaitu CPS sebagai acuan dasar dalam menggunakan kemampuan berpikir kreatif dan kritis secara harmonis, baik individu atau kelompok dengan memahami tantangan dan peluang, menghasilkan ide, dan mengembangkan rencana yang efektif untuk memecahkan masalah dan mengelola perubahan. Sedangkan menurut Lim & Han (2020) CPS dianggap sebagai metode representatif untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah kreatif, yang efektif merangsang pemikiran divergen dan konvergen peserta didik sambil mendukung pendekatan sistematis untuk menemukan solusi kreatif dan memungkinkan pembelajaran bermakna dengan memanfaatkan alat pendukungnya. Oleh karena itu Cancer, dkk. (2022) menyarankan bahwa proses menuju pemecahan masalah kreatif perlu melibatkan dua langkah implementasi alat berpikir yang berurutan yaitu; (a) fase divergen dan (b) fase konvergen. Pada fase pertama, aktivitas menghasilkan sejumlah ragam opsi idea yang berbeda yang dihasilkan dengan cepat dan terlepas dari kesesuaian masalah. Pada fase kedua, aktivitas untuk mempersempit idea dari banyaknya idea yang ditawarkan melalui kontrol tertentu untuk menemukan solusi unik yang tepat untuk pemecahan masalah.

Kesimpulan:

CPS merupakan metode terpolarisasi dalam mendukung proses pemecahan masalah kreatif yaitu; mulai dari pencarian fakta, penemuan ide, dan menemukan solusi.