Menunggu Semester, Waktu Jedanya Dosen dan Mahasiswa

Masa jeda antarsemester sering kali dianggap sebagai waktu kosong, padahal sejatinya ini adalah ruang bernapas yang jarang kita sadari nilainya. Setelah berbulan-bulan dikejar jadwal kuliah, tugas, dan target akademik, jeda ini menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, menata ulang energi, dan kembali mengingat alasan mengapa kita memilih dunia pendidikan. Bukan untuk berlomba tanpa henti, tetapi untuk tumbuh secara utuh sebagai manusia pembelajar.
Bagi dosen, masa menunggu semester bukan sekadar libur mengajar, melainkan momen refleksi. Ini saat yang tepat untuk membaca ulang catatan perkuliahan, mengevaluasi metode pembelajaran, dan bertanya pada diri sendiri : apakah kelas kemarin sudah cukup ramah bagi mahasiswa? Tak harus selalu produktif dalam arti besar, kadang menyusun satu RPS dengan lebih empatik atau membaca satu buku di luar disiplin ilmu justru memberi perspektif baru yang menyegarkan.
Sementara itu, mahasiswa sering kali merasa bimbang di masa jeda ini. Di satu sisi ingin istirahat, di sisi lain merasa bersalah jika tidak melakukan apa-apa. Padahal, menunggu semester juga bisa dimaknai sebagai proses mengenali diri. Mengikuti pelatihan singkat, belajar keterampilan baru, membantu orang tua di rumah, atau bahkan sekadar merapikan tujuan hidup adalah bagian dari pembelajaran yang tak tertulis di transkrip nilai.
Ada baiknya masa jeda ini juga dimanfaatkan untuk merawat kesehatan mental dan fisik. Tidur yang cukup, memperbaiki pola makan, berolahraga ringan, atau mengurangi waktu menatap layar adalah bentuk investasi jangka panjang bagi keberlangsungan studi dan karier akademik. Dunia kampus sering menuntut kita kuat secara intelektual, tetapi lupa bahwa pikiran yang jernih hanya lahir dari tubuh dan hati yang dijaga.
Yang tak kalah penting, masa menunggu semester adalah waktu untuk menjaga relasi. Dosen dapat memperkuat kolaborasi dengan kolega, berdiskusi santai tanpa tekanan deadline, atau menulis refleksi kecil untuk dibagikan ke publik. Mahasiswa pun bisa memperbaiki hubungan pertemanan, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Di sinilah nilai kemanusiaan pendidikan benar-benar hidup.
Pada akhirnya, menunggu semester bukan tentang berhenti bergerak, melainkan bergerak dengan lebih sadar. Tidak semua jeda harus diisi dengan ambisi, dan tidak semua waktu luang berarti kemunduran. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah waktu untuk kembali utuh, agar saat semester baru dimulai, kita datang bukan hanya sebagai dosen dan mahasiswa, tetapi sebagai manusia yang lebih siap dan lebih tenang.
Peran Nilai Budaya Gorontalo sebagai Modal Sosial dalam Penguatan UMKM Lokal

Selain sebagai pedoman perilaku, nilai budaya Gorontalo juga memiliki potensi besar sebagai identitas produk UMKM. Nilai-nilai lokal dapat diintegrasikan ke dalam strategi branding melalui desain kemasan, penamaan produk, narasi usaha, dan promosi digital. Produk UMKM yang menonjolkan identitas budaya lokal memiliki keunikan dan nilai tambah di mata konsumen. Hal ini sekaligus mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Gorontalo. Identitas budaya menjadi pembeda yang memperkuat posisi UMKM di pasar yang semakin kompetitif. Beberapa nilai budaya Gorontalo yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan usaha :
1. Adati hula-hula’a to syara’, syara’ hula-hula’a to Qur’ani
Nilai ini menegaskan bahwa adat dan aktivitas sosial-ekonomi harus selaras dengan nilai agama. Dalam konteks UMKM, prinsip ini mendorong pelaku usaha untuk menjalankan bisnis secara jujur, amanah, dan beretika, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan yang tinggi menjadi modal sosial penting bagi keberlanjutan UMKM, khususnya usaha berbasis makanan, jasa, dan perdagangan. UMKM yang menjunjung nilai ini cenderung lebih dipercaya dan memiliki loyalitas pelanggan yang kuat.
2. Huyula (Gotong Royong)
Huyula merupakan nilai kebersamaan dan saling membantu dalam masyarakat Gorontalo. Nilai ini sangat relevan untuk mendorong kolaborasi antar pelaku UMKM, seperti berbagi bahan baku, pemasaran bersama, atau pembentukan koperasi. Melalui huyula, UMKM dapat menekan biaya produksi, memperluas jaringan usaha, dan memperkuat daya saing. Semangat gotong royong juga mendukung pengembangan klaster UMKM berbasis desa atau komunitas.
3. Tinepo (Kejujuran dan Ketulusan)
Tinepo secara harfiah memiliki arti "kebijaksanaan", mencerminkan sikap jujur, tulus, dan bertanggung jawab dalam bertindak. Dalam dunia UMKM, nilai ini mendorong pelaku usaha untuk menjaga kualitas produk, harga yang wajar, dan pelayanan yang baik. Kejujuran menjadi fondasi hubungan jangka panjang antara pelaku UMKM dan konsumen. UMKM yang konsisten menerapkan nilai tinepo akan lebih mudah berkembang karena memiliki reputasi positif.
4. Motolalo (Kerja Keras dan Ketekunan)
Motolalo menekankan pentingnya kerja keras, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Nilai ini sangat penting bagi pelaku UMKM yang sering menghadapi keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar. Dengan semangat motolalo, pelaku UMKM terdorong untuk terus berinovasi, meningkatkan keterampilan, dan bertahan dalam persaingan. Nilai ini juga mendukung terbentuknya mental wirausaha yang tangguh.
5. Bilohe (Kebersamaan dan Solidaritas Sosial)
Bilohe secara harfiah memiliki arti "pemantauan terhadap warga yang kekurangan" mencerminkan rasa kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan sosial. Dalam pengembangan UMKM, nilai ini mendorong terciptanya ekosistem usaha yang saling mendukung, baik antara pelaku usaha, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Solidaritas sosial memudahkan penyebaran informasi, akses pelatihan, dan dukungan moral bagi pelaku UMKM. Lingkungan sosial yang kondusif akan mempercepat pertumbuhan UMKM lokal.
6. Nilai Lokal sebagai Identitas Produk UMKM
Nilai budaya Gorontalo juga dapat diintegrasikan ke dalam branding dan diferensiasi produk UMKM, seperti pada desain kemasan, nama produk, cerita usaha, dan promosi digital. Produk UMKM yang menonjolkan identitas budaya lokal memiliki nilai tambah dan daya tarik tersendiri di pasar regional maupun nasional. Hal ini mendukung penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Gorontalo.
Secara keseluruhan, nilai budaya Gorontalo tidak hanya berfungsi sebagai pedoman sosial, tetapi juga sebagai modal budaya dan modal sosial dalam penguatan UMKM lokal. Integrasi nilai religius, gotong royong, kejujuran, kerja keras, dan solidaritas sosial mampu memperkuat daya saing dan keberlanjutan usaha. UMKM yang berakar pada nilai budaya lokal memiliki karakter, kepercayaan, dan identitas yang kuat. Oleh karena itu, pengembangan UMKM berbasis nilai budaya Gorontalo perlu didukung melalui kebijakan, pendampingan, dan program pemberdayaan yang berkelanjutan.
Cara Submit Jurnal di OJS dan Strategi Memilih Jurnal yang Tepat bagi Dosen dan Peneliti

Publikasi ilmiah saat ini bukan lagi sekadar kewajiban administratif bagi dosen, tetapi telah menjadi bagian penting dari pengembangan karier akademik, reputasi keilmuan, dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satu sistem yang paling banyak digunakan di Indonesia untuk publikasi jurnal adalah Open Journal Systems (OJS).
Namun, masih banyak dosen "terutama peneliti pemula" yang mengalami kendala, baik saat memilih jurnal yang tepat maupun ketika mengunggah artikel ke sistem OJS. Tulisan ini bertujuan memberikan panduan praktis dan sistematis agar proses publikasi dapat berjalan lebih efektif dan minim kesalahan.
Pentingnya Memilih Jurnal yang Tepat Sebelum Submit
Salah satu penyebab utama artikel ditolak bukan karena kualitas penelitian yang rendah, melainkan karena ketidaksesuaian antara naskah dan jurnal tujuan. Oleh karena itu, pemilihan jurnal harus dilakukan secara cermat.
1. Kesesuaian Fokus dan Ruang Lingkup
Langkah awal yang wajib dilakukan adalah membaca bagian Focus and Scope atau Aims and Scope pada website jurnal. Pastikan topik, pendekatan metodologis, dan konteks penelitian sesuai dengan karakter jurnal tersebut. Sebagai contoh, artikel tentang pendidikan literasi dan numerasi akan lebih tepat dikirim ke jurnal pendidikan, bukan jurnal ekonomi atau manajemen murni.
2. Akreditasi dan Reputasi Jurnal
Dosen perlu menyesuaikan jurnal dengan target akademik, baik untuk keperluan BKD, kenaikan jabatan fungsional, maupun hibah penelitian.
Beberapa rujukan penting :
- SINTA (1–6) : untuk jurnal nasional terakreditasi
- DOAJ : untuk jurnal internasional open access bereputasi
- Scopus/WoS : untuk publikasi internasional bereputasi tinggi
Pemilihan jurnal yang kredibel juga membantu menghindari jurnal predator yang merugikan penulis.
3. Memahami Author Guidelines
Setiap jurnal memiliki pedoman penulisan yang berbeda, mencakup:
- Struktur artikel
- Gaya sitasi
- Template penulisan
- Panjang artikel
- Artikel yang tidak mengikuti pedoman ini berpotensi langsung ditolak oleh editor (desk rejection).
4. Tahapan Upload Artikel Jurnal di OJS
Secara umum, tampilan OJS relatif seragam, terutama pada versi OJS 3.x. Berikut alur submit artikel yang lazim ditemui.
1. Registrasi dan Login
Penulis perlu membuat akun pada website jurnal dengan memilih peran sebagai Author. Disarankan menggunakan email institusi untuk meningkatkan kredibilitas akademik.
2. Memulai Submission Baru
Setelah login, pilih menu New Submission atau Make a Submission, lalu tentukan jenis artikel (artikel penelitian, review, atau konseptual).
3. Upload Naskah
Unggah file artikel sesuai format yang diminta jurnal. Pada tahap ini, penting memastikan :
- File sudah mengikuti template jurnal
- Identitas penulis dihapus jika jurnal menggunakan sistem blind review
4. Mengisi Metadata Artikel
Tahap ini sering dianggap sepele, padahal sangat menentukan. Metadata mencakup :
- Judul artikel
- Abstrak
- Kata kunci
- Identitas penulis dan afiliasi
- Metadata harus konsisten dan lengkap, karena akan digunakan untuk pengindeksan dan sitasi.
5. Konfirmasi dan Finalisasi
Setelah seluruh tahap selesai, penulis melakukan konfirmasi dan mengakhiri proses submission. Artikel selanjutnya akan diproses oleh editor jurnal.
5. Setelah Submit: Sikap Akademik yang Perlu Dijaga
Publikasi ilmiah menuntut kesabaran dan etika akademik. Penulis perlu :
- Memantau status artikel secara berkala
- Merespons revisi reviewer dengan argumentasi ilmiah
- Tidak mengirim artikel ke jurnal lain sebelum ada keputusan resmi
6. Kesalahan Umum dalam Submit Jurnal
Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:
- Salah memilih jurnal
- Tidak mengikuti template
- Metadata tidak lengkap
- Mengabaikan komentar reviewer
- Kesalahan-kesalahan ini dapat diminimalkan dengan ketelitian dan kesiapan naskah sejak awal.
7. Penutup
Mengunggah artikel ke OJS bukan sekadar proses teknis, tetapi merupakan bagian dari literasi publikasi ilmiah dosen. Dengan memilih jurnal yang tepat dan memahami alur submission OJS, dosen dapat meningkatkan peluang publikasi sekaligus menjaga kualitas akademik karya ilmiah yang dihasilkan. Publikasi yang baik bukan hanya tentang diterima atau tidak, tetapi tentang kontribusi ilmiah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Label dan Kemasan Zaman Now: Bukan Sekadar Bungkus, tetapi Strategi Produk

Pendahuluan
Di era digital seperti sekarang, kemasan dan label produk tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pembungkus atau pelindung barang. Kemasan telah bertransformasi menjadi identitas, media komunikasi, bahkan alat pemasaran yang sangat menentukan keputusan konsumen. Dalam hitungan detik, konsumen bisa memutuskan apakah sebuah produk layak dibeli atau dilewatkan hanya dari tampilan kemasannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsep label dan kemasan “zaman now” menjadi sangat penting untuk dipahami, terutama oleh pelaku UMKM dan mahasiswa sebagai calon pelaku ekonomi kreatif.
Kemasan sebagai Identitas dan Pembentuk Kesan Awal
Kemasan yang menarik bukan berarti harus mahal atau berlebihan. Tren saat ini justru menunjukkan bahwa desain yang sederhana, jujur, dan bermakna lebih disukai konsumen. Prinsip less is more menjadi kunci utama dalam perancangan kemasan modern. Label dengan teks singkat, warna yang konsisten, dan visual yang bersih mampu memberikan kesan profesional sekaligus mudah diingat. Konsumen modern cenderung menyukai kemasan yang tidak “ramai”, tetapi jelas menyampaikan pesan utama produk.
Kemasan dalam Perspektif Perilaku Konsumen dan Storytelling
Dari sudut pandang teori perilaku konsumen, kemasan berperan besar dalam membentuk first impression. Konsumen hanya membutuhkan beberapa detik untuk menilai sebuah produk, baik di rak toko maupun marketplace digital. Kemasan harus mampu menarik perhatian (attention), menimbulkan ketertarikan (interest), membangun keinginan (desire), dan mendorong tindakan pembelian (action) sebagaimana dijelaskan dalam teori AIDA. Selain itu, kemasan zaman now tidak bisa dilepaskan dari unsur cerita atau storytelling. Informasi sederhana tentang asal produk, proses pembuatan, atau keterlibatan UMKM lokal mampu menambah nilai emosional dan kedekatan dengan konsumen.
Visual, Digitalisasi, dan Kesadaran Lingkungan
Aspek visual menjadi elemen dominan dalam kemasan modern. Pemilihan warna, jenis huruf, dan ilustrasi harus disesuaikan dengan target pasar karena masing-masing memiliki makna psikologis. Di sisi lain, kemasan zaman now juga harus ramah digital, yaitu menarik saat difoto dan tetap terbaca di layar ponsel. Penambahan QR Code yang terhubung ke media sosial atau cerita usaha semakin memperkuat peran kemasan sebagai penghubung dunia fisik dan digital. Tidak kalah penting, meningkatnya kesadaran lingkungan membuat kemasan ramah lingkungan menjadi nilai tambah yang memengaruhi kepercayaan dan loyalitas konsumen.
Elemen Wajib Label Zaman Now
Secara teori & regulasi :
- Nama produk
- Logo/merek
- Tagline singkat
- Komposisi
- Berat bersih
- Tanggal kedaluwarsa
- Legalitas (PIRT / Halal / BPOM)
- Kontak & media sosial
- QR Code (opsional tapi sangat “zaman now”)
Inovasi Kemasan Zaman Now
a.Eco-Friendly Packaging, tujuan konsumen modern peduli keberlanjutan.
- Kertas daur ulang
- Kemasan biodegradable
- Kampanye ramah lingkungan
b. Smart Packaging, QR Code berisi :
- Video proses produksi
- Cerita UMKM
- Testimoni konsumen
c. Custom & Limited Edition, meningkatkan sense of exclusivity.
- Edisi khusus hari besar
- Desain musiman
- Nama konsumen di label
Kesalahan yang Harus Dihindari
- Terlalu ramai desain
- Informasi tidak jelas
- Warna tidak kontras
- Label mudah rusak
- Tidak sesuai target pasar
Rumus Praktis Kemasan Zaman Now : Menarik + Jujur + Fungsional + Estetis + Digital-Friendly
Penutup
Label dan kemasan yang baik pada era zaman now bukan sekadar bungkus produk, tetapi wajah yang pertama kali menyapa konsumen. Kemasan yang jujur, fungsional, estetis, dan mampu bercerita akan meningkatkan daya saing produk. Bagi pelaku UMKM dan generasi muda, kemasan adalah investasi strategis, bukan sekadar biaya produksi. Sebagai dosen dan pendidik, memperkenalkan konsep ini menjadi bagian penting dalam membekali mahasiswa menghadapi dunia usaha dan ekonomi kreatif. Di sanalah nilai, identitas, dan harapan sebuah produk bertemu dengan keputusan pembeli.
Pendidikan Inklusif : Ketika Sekolah Menjadi Rumah Bagi Semua Anak

Setiap kali kita berbicara tentang masa depan Indonesia, kata pendidikan selalu menjadi pusat perbincangan. Pendidikan dianggap sebagai jalan keluar dari kemiskinan, ketertinggalan, dan ketimpangan. Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang sering terlewat: apakah pendidikan kita sudah benar-benar milik semua anak?
Di ruang-ruang kelas, masih ada anak yang datang dengan rasa takut, bukan karena pelajaran yang sulit, tetapi karena lingkungan belajar yang belum siap menerima perbedaan. Anak dengan kebutuhan khusus, anak dari keluarga prasejahtera, hingga mereka yang tinggal di daerah terpencil sering kali harus berjuang lebih keras hanya untuk duduk di bangku sekolah. Padahal, setiap anak berhak merasa aman, diterima, dan dihargai di tempat mereka belajar.
Pendidikan inklusif sejatinya bukan sekadar tentang jalur kursi roda, buku braille, atau teknologi canggih. Pendidikan inklusif adalah tentang cara pandang. Tentang bagaimana kita melihat anak sebagai manusia utuh, bukan sekadar angka di rapor atau objek kebijakan. Di kelas yang inklusif, perbedaan bukan dianggap sebagai masalah, melainkan sebagai kekayaan yang mengajarkan empati, toleransi, dan kemanusiaan.
Sebagai dosen, saya sering melihat betapa besarnya peran guru dalam menciptakan ruang belajar yang ramah. Guru bukan hanya pengajar materi, tetapi juga penjaga rasa aman di kelas. Ketika guru memahami bahwa setiap anak belajar dengan cara dan ritme yang berbeda, maka proses belajar berubah menjadi pengalaman yang memerdekakan. Anak tidak lagi merasa “tertinggal”, tetapi sedang “bertumbuh”.
Tantangan memang tidak kecil. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas memadai, tidak semua guru pernah mendapatkan pelatihan pendidikan inklusif, dan tidak semua daerah memiliki akses teknologi yang sama. Namun, di balik keterbatasan itu, ada harapan besar. Teknologi yang semakin manusiawi, semangat kolaborasi, serta kepedulian generasi muda membuka peluang baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adil dan adaptif.
Pendidikan inklusif juga mengajarkan kita satu hal penting: belajar menjadi manusia. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan inklusif tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang kuat. Mereka belajar menghargai perbedaan sejak dini, sebuah bekal penting untuk hidup di masyarakat yang beragam.
Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang berempati, berkarakter, dan berani merangkul sesama. Pendidikan inklusif adalah salah satu jalan menuju ke sana. Ia bukan proyek jangka pendek, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, komitmen, dan kerja bersama.
Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan tentang siapa yang paling cepat memahami pelajaran, tetapi tentang siapa yang tidak ditinggalkan. Ketika sekolah mampu menjadi rumah yang ramah bagi semua anak, di situlah pendidikan menjalankan maknanya yang paling manusiawi.
Arsip
Blogroll
- Masih Kosong