Selain sebagai pedoman perilaku, nilai budaya Gorontalo juga memiliki potensi besar sebagai identitas produk UMKM. Nilai-nilai lokal dapat diintegrasikan ke dalam strategi branding melalui desain kemasan, penamaan produk, narasi usaha, dan promosi digital. Produk UMKM yang menonjolkan identitas budaya lokal memiliki keunikan dan nilai tambah di mata konsumen. Hal ini sekaligus mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Gorontalo. Identitas budaya menjadi pembeda yang memperkuat posisi UMKM di pasar yang semakin kompetitif. Beberapa nilai budaya Gorontalo yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam melakukan usaha :

1. Adati hula-hula’a to syara’, syara’ hula-hula’a to Qur’ani

Nilai ini menegaskan bahwa adat dan aktivitas sosial-ekonomi harus selaras dengan nilai agama. Dalam konteks UMKM, prinsip ini mendorong pelaku usaha untuk menjalankan bisnis secara jujur, amanah, dan beretika, sehingga meningkatkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan yang tinggi menjadi modal sosial penting bagi keberlanjutan UMKM, khususnya usaha berbasis makanan, jasa, dan perdagangan. UMKM yang menjunjung nilai ini cenderung lebih dipercaya dan memiliki loyalitas pelanggan yang kuat.

2. Huyula (Gotong Royong)

Huyula merupakan nilai kebersamaan dan saling membantu dalam masyarakat Gorontalo. Nilai ini sangat relevan untuk mendorong kolaborasi antar pelaku UMKM, seperti berbagi bahan baku, pemasaran bersama, atau pembentukan koperasi. Melalui huyula, UMKM dapat menekan biaya produksi, memperluas jaringan usaha, dan memperkuat daya saing. Semangat gotong royong juga mendukung pengembangan klaster UMKM berbasis desa atau komunitas.

3. Tinepo (Kejujuran dan Ketulusan)

Tinepo secara harfiah memiliki arti "kebijaksanaan", mencerminkan sikap jujur, tulus, dan bertanggung jawab dalam bertindak. Dalam dunia UMKM, nilai ini mendorong pelaku usaha untuk menjaga kualitas produk, harga yang wajar, dan pelayanan yang baik. Kejujuran menjadi fondasi hubungan jangka panjang antara pelaku UMKM dan konsumen. UMKM yang konsisten menerapkan nilai tinepo akan lebih mudah berkembang karena memiliki reputasi positif.

4. Motolalo (Kerja Keras dan Ketekunan)

Motolalo menekankan pentingnya kerja keras, ketekunan, dan tidak mudah menyerah. Nilai ini sangat penting bagi pelaku UMKM yang sering menghadapi keterbatasan modal, teknologi, dan akses pasar. Dengan semangat motolalo, pelaku UMKM terdorong untuk terus berinovasi, meningkatkan keterampilan, dan bertahan dalam persaingan. Nilai ini juga mendukung terbentuknya mental wirausaha yang tangguh.

5. Bilohe (Kebersamaan dan Solidaritas Sosial)

Bilohe secara harfiah memiliki arti "pemantauan terhadap warga yang kekurangan" mencerminkan rasa kebersamaan dan solidaritas dalam kehidupan sosial. Dalam pengembangan UMKM, nilai ini mendorong terciptanya ekosistem usaha yang saling mendukung, baik antara pelaku usaha, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Solidaritas sosial memudahkan penyebaran informasi, akses pelatihan, dan dukungan moral bagi pelaku UMKM. Lingkungan sosial yang kondusif akan mempercepat pertumbuhan UMKM lokal.

6. Nilai Lokal sebagai Identitas Produk UMKM

Nilai budaya Gorontalo juga dapat diintegrasikan ke dalam branding dan diferensiasi produk UMKM, seperti pada desain kemasan, nama produk, cerita usaha, dan promosi digital. Produk UMKM yang menonjolkan identitas budaya lokal memiliki nilai tambah dan daya tarik tersendiri di pasar regional maupun nasional. Hal ini mendukung penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Gorontalo.

Secara keseluruhan, nilai budaya Gorontalo tidak hanya berfungsi sebagai pedoman sosial, tetapi juga sebagai modal budaya dan modal sosial dalam penguatan UMKM lokal. Integrasi nilai religius, gotong royong, kejujuran, kerja keras, dan solidaritas sosial mampu memperkuat daya saing dan keberlanjutan usaha. UMKM yang berakar pada nilai budaya lokal memiliki karakter, kepercayaan, dan identitas yang kuat. Oleh karena itu, pengembangan UMKM berbasis nilai budaya Gorontalo perlu didukung melalui kebijakan, pendampingan, dan program pemberdayaan yang berkelanjutan.

Publikasi ilmiah saat ini bukan lagi sekadar kewajiban administratif bagi dosen, tetapi telah menjadi bagian penting dari pengembangan karier akademik, reputasi keilmuan, dan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satu sistem yang paling banyak digunakan di Indonesia untuk publikasi jurnal adalah Open Journal Systems (OJS).

Namun, masih banyak dosen "terutama peneliti pemula" yang mengalami kendala, baik saat memilih jurnal yang tepat maupun ketika mengunggah artikel ke sistem OJS. Tulisan ini bertujuan memberikan panduan praktis dan sistematis agar proses publikasi dapat berjalan lebih efektif dan minim kesalahan.

Pentingnya Memilih Jurnal yang Tepat Sebelum Submit

Salah satu penyebab utama artikel ditolak bukan karena kualitas penelitian yang rendah, melainkan karena ketidaksesuaian antara naskah dan jurnal tujuan. Oleh karena itu, pemilihan jurnal harus dilakukan secara cermat.

1. Kesesuaian Fokus dan Ruang Lingkup

Langkah awal yang wajib dilakukan adalah membaca bagian Focus and Scope atau Aims and Scope pada website jurnal. Pastikan topik, pendekatan metodologis, dan konteks penelitian sesuai dengan karakter jurnal tersebut. Sebagai contoh, artikel tentang pendidikan literasi dan numerasi akan lebih tepat dikirim ke jurnal pendidikan, bukan jurnal ekonomi atau manajemen murni.

2. Akreditasi dan Reputasi Jurnal

Dosen perlu menyesuaikan jurnal dengan target akademik, baik untuk keperluan BKD, kenaikan jabatan fungsional, maupun hibah penelitian.

Beberapa rujukan penting :

  • SINTA (1–6)  : untuk jurnal nasional terakreditasi
  • DOAJ            : untuk jurnal internasional open access bereputasi
  • Scopus/WoS : untuk publikasi internasional bereputasi tinggi

Pemilihan jurnal yang kredibel juga membantu menghindari jurnal predator yang merugikan penulis.

3. Memahami Author Guidelines

Setiap jurnal memiliki pedoman penulisan yang berbeda, mencakup:

  • Struktur artikel
  • Gaya sitasi
  • Template penulisan
  • Panjang artikel
  • Artikel yang tidak mengikuti pedoman ini berpotensi langsung ditolak oleh editor (desk rejection).

4. Tahapan Upload Artikel Jurnal di OJS

Secara umum, tampilan OJS relatif seragam, terutama pada versi OJS 3.x. Berikut alur submit artikel yang lazim ditemui.

1. Registrasi dan Login

Penulis perlu membuat akun pada website jurnal dengan memilih peran sebagai Author. Disarankan menggunakan email institusi untuk meningkatkan kredibilitas akademik.

2. Memulai Submission Baru

Setelah login, pilih menu New Submission atau Make a Submission, lalu tentukan jenis artikel (artikel penelitian, review, atau konseptual).

3. Upload Naskah

Unggah file artikel sesuai format yang diminta jurnal. Pada tahap ini, penting memastikan :

  • File sudah mengikuti template jurnal
  • Identitas penulis dihapus jika jurnal menggunakan sistem blind review

4. Mengisi Metadata Artikel

Tahap ini sering dianggap sepele, padahal sangat menentukan. Metadata mencakup :

  • Judul artikel
  • Abstrak
  • Kata kunci
  • Identitas penulis dan afiliasi
  • Metadata harus konsisten dan lengkap, karena akan digunakan untuk pengindeksan dan sitasi.

5. Konfirmasi dan Finalisasi

Setelah seluruh tahap selesai, penulis melakukan konfirmasi dan mengakhiri proses submission. Artikel selanjutnya akan diproses oleh editor jurnal.

5. Setelah Submit: Sikap Akademik yang Perlu Dijaga

Publikasi ilmiah menuntut kesabaran dan etika akademik. Penulis perlu :

  • Memantau status artikel secara berkala
  • Merespons revisi reviewer dengan argumentasi ilmiah
  • Tidak mengirim artikel ke jurnal lain sebelum ada keputusan resmi

6. Kesalahan Umum dalam Submit Jurnal

Beberapa kesalahan yang sering terjadi antara lain:

  • Salah memilih jurnal
  • Tidak mengikuti template
  • Metadata tidak lengkap
  • Mengabaikan komentar reviewer
  • Kesalahan-kesalahan ini dapat diminimalkan dengan ketelitian dan kesiapan naskah sejak awal.

7. Penutup

Mengunggah artikel ke OJS bukan sekadar proses teknis, tetapi merupakan bagian dari literasi publikasi ilmiah dosen. Dengan memilih jurnal yang tepat dan memahami alur submission OJS, dosen dapat meningkatkan peluang publikasi sekaligus menjaga kualitas akademik karya ilmiah yang dihasilkan. Publikasi yang baik bukan hanya tentang diterima atau tidak, tetapi tentang kontribusi ilmiah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

 

Pendahuluan

Di era digital seperti sekarang, kemasan dan label produk tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pembungkus atau pelindung barang. Kemasan telah bertransformasi menjadi identitas, media komunikasi, bahkan alat pemasaran yang sangat menentukan keputusan konsumen. Dalam hitungan detik, konsumen bisa memutuskan apakah sebuah produk layak dibeli atau dilewatkan hanya dari tampilan kemasannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa konsep label dan kemasan “zaman now” menjadi sangat penting untuk dipahami, terutama oleh pelaku UMKM dan mahasiswa sebagai calon pelaku ekonomi kreatif.

Kemasan sebagai Identitas dan Pembentuk Kesan Awal

Kemasan yang menarik bukan berarti harus mahal atau berlebihan. Tren saat ini justru menunjukkan bahwa desain yang sederhana, jujur, dan bermakna lebih disukai konsumen. Prinsip less is more menjadi kunci utama dalam perancangan kemasan modern. Label dengan teks singkat, warna yang konsisten, dan visual yang bersih mampu memberikan kesan profesional sekaligus mudah diingat. Konsumen modern cenderung menyukai kemasan yang tidak “ramai”, tetapi jelas menyampaikan pesan utama produk.

Kemasan dalam Perspektif Perilaku Konsumen dan Storytelling

Dari sudut pandang teori perilaku konsumen, kemasan berperan besar dalam membentuk first impression. Konsumen hanya membutuhkan beberapa detik untuk menilai sebuah produk, baik di rak toko maupun marketplace digital. Kemasan harus mampu menarik perhatian (attention), menimbulkan ketertarikan (interest), membangun keinginan (desire), dan mendorong tindakan pembelian (action) sebagaimana dijelaskan dalam teori AIDA. Selain itu, kemasan zaman now tidak bisa dilepaskan dari unsur cerita atau storytelling. Informasi sederhana tentang asal produk, proses pembuatan, atau keterlibatan UMKM lokal mampu menambah nilai emosional dan kedekatan dengan konsumen.

Visual, Digitalisasi, dan Kesadaran Lingkungan

Aspek visual menjadi elemen dominan dalam kemasan modern. Pemilihan warna, jenis huruf, dan ilustrasi harus disesuaikan dengan target pasar karena masing-masing memiliki makna psikologis. Di sisi lain, kemasan zaman now juga harus ramah digital, yaitu menarik saat difoto dan tetap terbaca di layar ponsel. Penambahan QR Code yang terhubung ke media sosial atau cerita usaha semakin memperkuat peran kemasan sebagai penghubung dunia fisik dan digital. Tidak kalah penting, meningkatnya kesadaran lingkungan membuat kemasan ramah lingkungan menjadi nilai tambah yang memengaruhi kepercayaan dan loyalitas konsumen.

Elemen Wajib Label Zaman Now

Secara teori & regulasi :

  • Nama produk
  • Logo/merek
  • Tagline singkat
  • Komposisi
  • Berat bersih
  • Tanggal kedaluwarsa
  • Legalitas (PIRT / Halal / BPOM)
  • Kontak & media sosial
  • QR Code (opsional tapi sangat “zaman now”)

Inovasi Kemasan Zaman Now

a.Eco-Friendly Packaging, tujuan konsumen modern peduli keberlanjutan. 

  • Kertas daur ulang
  • Kemasan biodegradable
  • Kampanye ramah lingkungan

b. Smart Packaging, QR Code berisi :

  • Video proses produksi
  • Cerita UMKM
  • Testimoni konsumen

c. Custom & Limited Edition, meningkatkan sense of exclusivity.

  • Edisi khusus hari besar
  • Desain musiman
  • Nama konsumen di label

Kesalahan yang Harus Dihindari

  • Terlalu ramai desain
  • Informasi tidak jelas
  • Warna tidak kontras
  • Label mudah rusak
  • Tidak sesuai target pasar

Rumus Praktis Kemasan Zaman Now : Menarik + Jujur + Fungsional + Estetis + Digital-Friendly

Penutup

Label dan kemasan yang baik pada era zaman now bukan sekadar bungkus produk, tetapi wajah yang pertama kali menyapa konsumen. Kemasan yang jujur, fungsional, estetis, dan mampu bercerita akan meningkatkan daya saing produk. Bagi pelaku UMKM dan generasi muda, kemasan adalah investasi strategis, bukan sekadar biaya produksi. Sebagai dosen dan pendidik, memperkenalkan konsep ini menjadi bagian penting dalam membekali mahasiswa menghadapi dunia usaha dan ekonomi kreatif. Di sanalah nilai, identitas, dan harapan sebuah produk bertemu dengan keputusan pembeli.

Setiap kali kita berbicara tentang masa depan Indonesia, kata pendidikan selalu menjadi pusat perbincangan. Pendidikan dianggap sebagai jalan keluar dari kemiskinan, ketertinggalan, dan ketimpangan. Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang sering terlewat: apakah pendidikan kita sudah benar-benar milik semua anak?

Di ruang-ruang kelas, masih ada anak yang datang dengan rasa takut, bukan karena pelajaran yang sulit, tetapi karena lingkungan belajar yang belum siap menerima perbedaan. Anak dengan kebutuhan khusus, anak dari keluarga prasejahtera, hingga mereka yang tinggal di daerah terpencil sering kali harus berjuang lebih keras hanya untuk duduk di bangku sekolah. Padahal, setiap anak berhak merasa aman, diterima, dan dihargai di tempat mereka belajar.

Pendidikan inklusif sejatinya bukan sekadar tentang jalur kursi roda, buku braille, atau teknologi canggih. Pendidikan inklusif adalah tentang cara pandang. Tentang bagaimana kita melihat anak sebagai manusia utuh, bukan sekadar angka di rapor atau objek kebijakan. Di kelas yang inklusif, perbedaan bukan dianggap sebagai masalah, melainkan sebagai kekayaan yang mengajarkan empati, toleransi, dan kemanusiaan.

Sebagai dosen, saya sering melihat betapa besarnya peran guru dalam menciptakan ruang belajar yang ramah. Guru bukan hanya pengajar materi, tetapi juga penjaga rasa aman di kelas. Ketika guru memahami bahwa setiap anak belajar dengan cara dan ritme yang berbeda, maka proses belajar berubah menjadi pengalaman yang memerdekakan. Anak tidak lagi merasa “tertinggal”, tetapi sedang “bertumbuh”.

Tantangan memang tidak kecil. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas memadai, tidak semua guru pernah mendapatkan pelatihan pendidikan inklusif, dan tidak semua daerah memiliki akses teknologi yang sama. Namun, di balik keterbatasan itu, ada harapan besar. Teknologi yang semakin manusiawi, semangat kolaborasi, serta kepedulian generasi muda membuka peluang baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adil dan adaptif.

Pendidikan inklusif juga mengajarkan kita satu hal penting: belajar menjadi manusia. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan inklusif tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang kuat. Mereka belajar menghargai perbedaan sejak dini, sebuah bekal penting untuk hidup di masyarakat yang beragam.

Menuju Indonesia Emas 2045, kita tidak hanya membutuhkan generasi yang pintar, tetapi juga generasi yang berempati, berkarakter, dan berani merangkul sesama. Pendidikan inklusif adalah salah satu jalan menuju ke sana. Ia bukan proyek jangka pendek, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran, komitmen, dan kerja bersama.

Pada akhirnya, pendidikan yang baik bukan tentang siapa yang paling cepat memahami pelajaran, tetapi tentang siapa yang tidak ditinggalkan. Ketika sekolah mampu menjadi rumah yang ramah bagi semua anak, di situlah pendidikan menjalankan maknanya yang paling manusiawi.

Beberapa waktu terakhir, linimasa media sosial (terutama TikTok) dipenuhi video yang membuat kita tersenyum getir. Seorang siswa SMP dan SMA tidak mampu menjawab perkalian sederhana. Awalnya terasa lucu, lalu janggal, dan akhirnya mengkhawatirkan. Pertanyaannya bukan lagi “kok bisa?”, melainkan “apa yang sedang terjadi pada pendidikan kita?”. Fenomena ini bukan soal satu atau dua anak. Ia adalah potret kecil dari persoalan besar : melemahnya literasi dan numerasi sebagai kemampuan dasar belajar.

Literasi dan Numerasi: Bukan Sekadar Bisa Membaca dan Menghitung

Sering kali kita keliru memahami literasi dan numerasi. Literasi bukan sekadar bisa mengeja huruf, dan numerasi bukan hanya menghafal rumus atau perkalian. Keduanya adalah kemampuan berpikir : memahami informasi, menalar, dan mengambil keputusan berbasis data. Ketika anak tidak memahami soal cerita matematika, masalahnya bukan pada matematika semata, tetapi pada pemahaman bacaan. Ketika anak lupa perkalian dasar, itu bukan sekadar lupa, tetapi indikasi bahwa fondasi belajar tidak pernah benar-benar kokoh.

Mengapa Kemampuan Dasar Anak Semakin Lemah?

1. Pembelajaran yang Terlalu Cepat Meninggalkan Fondasi

Di ruang kelas, kita sering berlomba menuntaskan kurikulum. Materi terus berganti, target administrasi harus tercapai, sementara penguatan konsep dasar tertinggal. Anak naik kelas tanpa benar-benar menguasai prasyarat belajar. Dalam dunia akademik, ini dikenal sebagai learning loss, tetapi di ruang nyata, dampaknya sederhana dan nyata adalah anak tidak siap belajar pada jenjang berikutnya.

2. Budaya Hafalan Masih Dominan

Selama bertahun-tahun, sistem pembelajaran kita terlalu ramah pada hafalan dan terlalu kaku pada jawaban tunggal. Anak terbiasa mencari “jawaban benar”, bukan memahami proses berpikir. Akibatnya, ketika konteks soal sedikit berubah, mereka kehilangan pegangan. Literasi dan numerasi tumbuh dari latihan berpikir, bukan dari hafalan cepat yang mudah lupa.

3. Ketimpangan Kualitas Pembelajaran

Kita juga harus jujur: kualitas pendidikan di Indonesia tidak merata. Ada sekolah yang kaya sumber belajar, ada pula yang berjuang dengan keterbatasan guru, fasilitas, dan dukungan keluarga. Video viral di media sosial sering kali lahir dari konteks yang tidak pernah kita lihat secara utuh. Menertawakan anak dalam video itu mudah. Memahami latar belakangnya jauh lebih sulit dan jauh lebih penting.

4. Distraksi Digital Tanpa Pendampingan

Gawai bukan musuh, tetapi ketiadaan pendampingan adalah masalah. Anak-anak hidup dalam dunia serba cepat, visual, dan instan. Membaca teks panjang dan menyelesaikan soal bertahap terasa membosankan dibandingkan video 30 detik. Tanpa literasi digital yang baik, teknologi justru memperlemah ketekunan belajar.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Kembali ke Esensi: Menguatkan Fondasi

Pembelajaran tidak harus selalu cepat. Justru, perlambatlah pada konsep dasar. Lebih baik anak menguasai perkalian dengan pemahaman daripada menyelesaikan banyak materi tanpa makna. Pada level taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar perlu adanya materi dan pelatihan keterampilan halus (soft skill) dimana penekanannya adalah pada kemampuan seperti problem solving, critical thinking, teamwork dan keahlian halus lainnya yang diperlukan di era society 5.0.

2. Membaca sebagai Kebiasaan, Bukan Tugas

Literasi tidak tumbuh dari perintah “ayo membaca”, tetapi dari contoh dan kebiasaan. Anak yang melihat guru dan orang tuanya membaca akan lebih mudah menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan kewajiban.

3. Numerasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Matematika tidak harus selalu ada di papan tulis. Menghitung kembalian, membaca grafik sederhana, atau membandingkan harga adalah bentuk numerasi yang nyata dan bermakna.

4. Berhenti Menertawakan, Mulai Mendampingi

Video viral seharusnya menjadi cermin refleksi, bukan bahan ejekan. Setiap anak yang kesulitan belajar adalah panggilan bagi sistem pendidikan untuk berbenah, bukan untuk mempermalukan.

Penutup: Pendidikan Bukan Tentang Cepat, Tapi Tepat

Rendahnya literasi dan numerasi anak Indonesia bukan kegagalan satu pihak. Ia adalah hasil dari sistem yang terlalu lama menomorsatukan capaian formal, dan terlalu jarang bertanya: apakah anak benar-benar memahami? Sebagai pendidik, orang tua, dan masyarakat, tugas kita bukan mengeluh atau menyalahkan, tetapi hadir, memahami, dan membangun kembali fondasi belajar dengan sabar. Karena pendidikan sejatinya bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling kuat melangkah.