Kajian Kelayakan Pengembangan Usahatani Konservasi Terintegrasi Berbasis Teras Sering di Kabupaten boalemo.

23 March 2026 13:51:33 Dibaca : 1 Kategori : Project 2025

RINGKASAN EKSEKUTIF

Nurdin, Fauzan Zakaria, Agustinus Moonti, Rival Rahman.

Pekerjaan Swakelola Kerjasama Bapppeda Kabupaten Boalemo dengan Universitas Negeri Gorontalo, Tahun 2025. 

Kajian ini bertujuan menganalisis karakteristik dan kualitas lahan sebagai dasar usahatani konservasi terintegrasi berbasis terasering, potensi erosi tanah akibat usahatani konvensional, kemampuan dan kesesuaian lahan komoditas usahatani konservasi terintegrasi, kelayakan penerapan teknik konservasi tanah dan air berbasis terasering, kelayakan ekonomi usahatani konservasi terintegrasi, kebutuhan fisik minimum dan kehidupan yang layak, serta menganalisis skenario implementasi usahatani konservasi terintegrasi berbasis terasering. Metode kajian yang digunakan untuk analisis karakteristik dan kualitas lahan adalah metode survei dan observasi lahan, sementara analisis potensi erosi tanah menggunakan metode USLE, dan erosi yang dapat ditoleransi, analisis kemampuan lahan menggunakan metode USDA dan kesesuaian lahan komoditas usahatani konservasi terintegrasi menggunakan kerangka kerja evauasi lahan menurut FAO (1976), analisis kelayakan penerapan teknik konservasi tanah berbasis terasering berdasarkan tingkat kekritisan lahan, erosi dan kemampuan lahan, analisis kelayakan usahatani konservasi terintegrasi menggunakan keunggulan komparatif, kompetitif, dan analisis finansial, analisis kebutuhan fisik minimum dan kehidupan yang layak menggunakan metode komparasi, serta analisis skenario implementasi usahatani konservasi terintegrasi berbasis terasering menggunakan metode paduserasi.

 

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kelas kemampuan lahan di Kabupaten Boalemo didominasi kelas III sampai Kelas VI dengan faktor pembatas dominan berupa lereng dan erosi tanah. Sementara kelas kesesuaian lahan aktual untuk semua komoditas pertanian yang dinilai didominasi kelas tidak sesuai (N) dengan faktor pembatas bahaya erosi yang dapat diperbaiki dengan pembuatan terasering, sehingga kelas kesesuaian potensial menjadi sesuai marjinal (S3) dan cukup sesuai (S1). Tingkat bahaya erosi lebih besar dari erosi yang dapat ditoleransi, sehingga tingkat kekritisan lahan di Kabupaten Boalemo didominasi kelas agak kritis. Disain teknik konservasi tanah dan air yang layak di wilayah Kabupaten Boalemo adalah teras datar, teras gulud, teras kredit dan teras bangku. Kebutuhan hidup layak di Kabupaten Boalemo sebanyak Rp. 41.818.857,14/tahun atau Rp. 3.484.905/bulan. Skenario implementasi sistem usahatani konservasi secara monokultur: Skenario I = Durian + Teras dan Pala + Teras; Skenario II = Kakao + Teras, Bambu + Teras, dan Mete + Teras; Skenario III = Sawit + Teras (dengan perbaikan input produksi). Sementara secara polikultur, yaitu: Skenario I = Pala - Kakao - Durian + Teras; Skenario II = Jagung - Kakao - Durian + Teras, Bambu Petung - Pala - Jagung + Teras; dan Skenario III = Bambu Petung - Mete - Sawit + Teras; Kelapa - Jagung - Kakao + Teras.

 

Saran yang diberikan yaitu: pada lahan dengan lereng 0 - 15% tetap diterapkan teknik konservasi tanah dan air mengingat laju erosi tanah dan tingkat kekritisan lahan menunjukkan tren terus meningkat, diantaranya dengan teknik: SPA: saluran pembuangan air, Sra: sumur resapan, Bi: biopori, Rr: rorak. Pada lahan dengan lereng >15% diterapkan teknik konservasi tanah dan air dengan terasering, tetapi harus dipaduserasikan dengan karakteristik dan kualitas lahan, seperti kedalaman solum tanah, vegetasi eksisting dan kondisi usahatani petani itu sendiri.

 

Rekomendasi Kebijakan yang diajukan adalah pemilihan komoditas usahatani dengan pola tanam monokultur, baik non subsidi maupun subsidi (pembangunan teras, bibit) direkomendasikan yang memiliki nilai net profit sebanyak lebih dari Rp. 3.484.905/bulan atau mampu memenuhi kebutuhan hidup layak di Kabupaten Boalemo. Pemilihan komoditas usahatani dengan pola tanam polikultur, baik non subsidi maupun subsidi (pembangunan teras, bibit) direkomendasikan juga yang memiliki nilai net profit sebanyak lebih dari Rp. 3.484.905/bulan atau mampu memenuhi kebutuhan hidup layak di Kabupaten Boalemo. Program usahatani konservasi terintegrasi ini merupakan terobosan yang inovatif oleh Pemerintah Kabupaten Boalemo, sehingga membutuhkan penanganan serius dan dukungan semua pihak yang terkait, melalui: (1) Sosialisasi secara intens kepada semua pihak yang akan terlibat di dalamnya dari aspek hulu sampai hilir., (2) Pendampingan dan pemberdayaan secara berkelanjutan terhadap semua pihak yang terlibat., (3) Percepatan realisasi program dan kegiatan, terutama subsidi terasering dan bibit tanaman kepada petani dan pekebun., (4) Monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap kemajuan dan capaian program ini setiap tahunnya., (5) Pelibatan para pihak dan mitra dalam program ini secara kolaboratif, baik dengan pihak kementrian, perguruan tinggi, Ngo dan masyarakat lainnya yang strategis. Perlu didorong pemberian reward bagi petani, kelompok tani, masyarakat dan NGo yang berhasil melaksanakan program dan kegiatan ini, diantaranya: pemberian bantuan sapi untuk mengoptimalkan potensi pakan dari usahatani konservasi, keringanan retribusi usaha, atau bentuk lainnya. Sementara petani yang tetap bertani di lahan berlereng tanpa menerapkan terasering dan menimbulkan bencana longsor setempat perlu diberi punishment, baik ganti rugi lingkungan maupun sanksi pidana sebagaimana UU No. No. 37 Tahun 2014 tentang Konservasi Tanah dan Air.