KATEGORI : Project 2024

RINGKASAN

Dr. Ir. Jooudie N. Luntungan as (Team Leader) Mapping/GIS; Dr. Ir. Edy Lengkong as Agronomy Expert; Dr. Ir. Ellen C. Pakasi as Value Chain Expert; Dr. Ir. Nordy Waney, Ms as Rural Socio-economics Expert; Dr.Ir.Tiny Mananoma,MT.,IPM.,ASEAN Eng as Irrigation Expert; Prof. Dr. Zetly Tamod, SP. M.Si as Environment Expert; Dr. Ir. Adeleyda Lumingkewas, SP. M. Si as Ass. Agronomy Expert; Dr. Ir. Sofia Wantasen, M.Si as Ass Environment Expert; Prof. Dr. Nurdin, S.P, M.Si ( Ass.Mapping/Soil Science (Counterpart Universitas Negeri Gorontalo); Ir. Yani Kamagi, MP (Surveyor); Dr. Ir. Tommy Lolowong, MS (Surveyor); Surono, SP., M.Sc. (Surveyor); Frederick Djojosaputro, SP (Surveyor); Syafrizal Umaternate, ST (Surveyor); Roby Waworuntu, (Surveyor)

 Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Minahasa Selatan, Tahun 2024

Pengembangan Pisang Gapi di Kabupaten Gorontalo sebagai berikut: Investasi Infrastruktur: Alokasi anggaran untuk pembangunan jalan akses (Rp 525 juta), terasering lahan (Rp 120 juta), pompa & pipa (Rp 120 juta), serta reservoir air pertanian (Rp 200 juta) menunjukkan fokus pada peningkatan aksesibilitas dan penyediaan sumber air yang vital untuk mendukung aktivitas pertanian. Produksi dan Pengelolaan Pertanian: Pengadaan bahan ajir (Rp 140 juta), bibit pisang (Rp 812,5 juta), pupuk organik cair (Rp 41,25 juta), serta pupuk padat/kandang (Rp 437,5 juta) menunjukkan fokus pada peningkatan hasil panen dengan metode organik. Alokasi alat-alat pertanian seperti cultivator, banana cutter, handsprayer, dan gergaji mesin (total Rp 247 juta) mendukung mekanisasi untuk efisiensi operasional. Dukungan Logistik dan Penyimpanan: Pembangunan warehouse (Rp 500 juta) dan kube warehouse (Rp 41,2 juta) menunjukkan langkah untuk memperbaiki sistem penyimpanan hasil panen, sehingga dapat mengurangi kerusakan atau kehilangan hasil. Dukungan Keuangan Mikro: Alokasi dana sebesar Rp 296,25 juta untuk akses ke pembiayaan mikro menandakan upaya pemberdayaan petani dalam mengelola modal dan investasi usaha tani. Skala dan Total Anggaran: Dengan total anggaran sebesar Rp 4,861 miliar, program ini menunjukkan skala yang besar dan menyeluruh, mencakup peningkatan infrastruktur, produktivitas, dan keberlanjutan pertanian. Optimalisasi Infrastruktur: Pastikan kualitas pembangunan jalan akses, reservoir air, dan terasering sesuai dengan spesifikasi teknis agar infrastruktur dapat bertahan lama dan mendukung aktivitas pertanian secara maksimal. Tambahkan evaluasi kebutuhan reservoir tambahan jika cakupan irigasi untuk lahan luas masih kurang. Efisiensi Alat dan Material Pertanian: Pastikan distribusi alat pertanian seperti banana cutter, handsprayer, dan cultivator sesuai dengan kebutuhan di lapangan untuk menghindari underutilization. Tinjau kembali kebutuhan bahan ajir untuk memastikan jumlah sesuai dengan total area tanam dan jenis tanaman.Optimalisasi.  Penggunaan Pupuk Organik: Lakukan pelatihan bagi petani tentang cara aplikasi pupuk organik yang tepat untuk meningkatkan hasil panen sekaligus menjaga kesuburan tanah. Perkuat monitoring terhadap penggunaan pupuk untuk memastikan efisiensi biaya. Dukungan Keuangan Mikro: Tingkatkan sosialisasi program akses keuangan mikro untuk mendorong lebih banyak petani memanfaatkannya. Berikan pelatihan manajemen keuangan kepada petani untuk memastikan dana yang diperoleh dimanfaatkan secara produktif. Peningkatan Penyimpanan dan Distribusi: Pastikan warehouse dan fasilitas penyimpanan lainnya dilengkapi dengan teknologi penyimpanan yang memadai untuk menjaga kualitas hasil panen. Rencanakan sistem distribusi yang lebih baik, termasuk penyediaan armada logistik tambahan jika diperlukan. Keberlanjutan dan Pengawasan: Tetapkan indikator kinerja utama (KPI) untuk mengevaluasi keberhasilan program secara berkala. Libatkan petani lokal dalam perencanaan dan pelaksanaan program untuk meningkatkan rasa memiliki dan keberlanjutan proyek.

  

Pengembangan kentang di Kabupaten Minahasa Selatan sebagai berikut: Investasi Infrastruktur Lahan dan Air: Alokasi anggaran sebesar Rp 300 juta untuk pembangunan 2 unit pompa dan pipa (deep wells) menunjukkan fokus pada penyediaan air untuk area seluas 20 ha, bukan pada “deep wells”nya. Pembangunan jalan akses pertanian sepanjang 2 km dianggarkan Rp 700 juta, memberikan dukungan transportasi logistik hasil panen. Produksi dan Pengelolaan Pertanian: Pengeluaran terbesar dialokasikan untuk input produksi, seperti benih, pupuk, dan pestisida awal (Rp 4,8 miliar untuk 120 ha). Pengadaan benih unggul (G0 dan G2) dengan alokasi total Rp 470 juta menunjukkan langkah untuk mendukung produktivitas jangka panjang. Pengadaan alat pertanian seperti cultivator (Rp 30 juta) dan penyemprot (Rp 1,6 miliar) menunjukkan komitmen terhadap mekanisasi, meskipun volume alat yang dibeli mungkin perlu diperiksa apakah mencukupi kebutuhan. Skala dan Target Volume 2025: Target pengelolaan 120 ha menunjukkan skala yang cukup besar untuk mendukung ketahanan pangan local dan regional. Penyediaan 4 unit alat untuk mendukung proses pertanian menandakan pendekatan bertahap dalam meningkatkan efisiensi operasional. Optimalisasi Infrastruktur Air: Evaluasi kembali kebutuhan unit pompa dan pipa untuk memastikan cakupan air yang memadai. Jika memungkinkan, tambahkan unit untuk mendukung lebih banyak area lahan. Efisiensi Pengelolaan Input Pertanian: Pastikan alokasi benih, pupuk, dan pestisida sesuai dengan kondisi tanah dan cuaca lokal untuk menghindari pemborosan.Lakukan pelatihan bagi petani untuk meningkatkan efisiensi penggunaan input pertanian. Peningkatan Mekanisasi: Dengan hanya 2 cultivator dan 2 hand sprayers, evaluasi apakah jumlah alat ini cukup untuk mengelola 120 ha secara optimal. Tambahkan unit jika perlu untuk mengurangi waktu kerja dan meningkatkan produktivitas. Pembangunan Jalan Akses: Pantau pembangunan jalan akses untuk memastikan efisiensi logistik distribusi hasil panen. Jika jalan sudah dibangun, tambahkan dukungan logistik seperti kendaraan pengangkut. Pengelolaan Anggaran: Pastikan bahwa seluruh anggaran yang dialokasikan benar-benar digunakan secara efektif untuk kegiatan yang direncanakan. Lakukan audit rutin untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas anggaran. Monitoring dan Evaluasi: Tetapkan indikator kinerja utama (KPI) untuk mengukur keberhasilan setiap kegiatan, seperti peningkatan hasil panen per hektar dan efisiensi penggunaan alat. Keberlanjutan Program: Rencanakan strategi untuk mengintegrasikan petani lokal dalam pengelolaan program agar proyek ini memiliki dampak jangka panjang. Infrastruktur: Sistem irigasi yang dapat diterapkan di Lokasi Target yaitu desa Kakenturan disesuaikan dengan ketersediaan sumber air yaitu air permukaan dan juga mata air lokal. Dengan demikian memungkinkan untuk menerapkan sistem  Pumping and pipe (Deep wells).

  

 

RINGKASAN EKSEKUTIF

Nurdin, Echan Adam, Rival Rahman, Silviana Arsyad

Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo

Pekerjaan Swakelola Kerjasama Bapppeda Provinsi Gorontalo dengan Universitas Negeri Gorontalo, Tahun 2024

Provinsi Gorontalo merupakan salah satu sentra produksi pertanian yang secara konsisten membangun sektor pertanian, sehingga tampak nyata pada kontribusi sektor ini dalam pembentukan ekonomi wilayah (PDRB). meskipun tren peningkatan produksi dan produktivitas pertanian yang cenderung naik, tetapi seiring dengan pencapaian tersebut muncul permasalahan lain terutama karena banyaknya limbah pertanian yang dihasilkan dan belum tertangani secara optimal, terutama limbah pertanian di Kota Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk mengelola limbah pertanian dan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik padat dan cair yang bernilai ekonomi dan agronomis berbasis kawasan., memitigasi potensi pencemaran lingkungan akibat residu limbah pertanian dan limbah rumah tangga berbasis kawasan., dan merancang Kawasan Pertanian Organik Terintegrasi Ultra Low Cost. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi untuk kondisi pertanian dan potensi limbah pertanian di Kota Gorontalo. Selanjutnya untuk analisis keragaan pertumbuhan dan hasil tanaman caisin dan bayam menggunakan metode eksperintal desain mengikuti pola rancangan acak lengkap (RAL). Apabila F hitung > F tabel maka dilanjutkan dengan uji DMRT pada taraf uji 5%. Analisis selanjutnya menggunakan efektivitas agronomis relatif (RAE) dan efektivitas ekonomi pupuk (EFE).

  

Penentuan kawasan dan klaster pengembangan pertanian organik berdasarkan kriteria yang dianalisis secara komposit. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa potensi limbah pertanian sebagai bahan baku pupuk organik cukup banyak yang ditunjang oleh luas lahan pertanian, populasi ternak dan usaha pertanian baik skala perorangan maupun rumah tangga di Kota Gorontalo. Selanjutnya, pemberian pupuk organik secara nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil baik pada tanaman caisin maupun tanaman bayam. Pada tanaman caisin, taraf pemupukan terbaik sebanyak 5 ton/ha, sementara pada tanaman bayam taraf pemupukan terbaik sebanyak 10 ton/ha.

   

Efektivitas agronomis relatif (RAE) terbaik untuk tanaman caisin terdapat pada taraf pupuk organik sebanyak 5 ton/ha, demikian halnya dengan efektivitas ekonomi pupuk (EFE). Sementara efektivitas agronomis relatif (RAE) terbaik untuk tanaman bayam terdapat pada taraf pupuk organik sebanyak 10 ton/ha, demikian halnya dengan efektivitas ekonomi pupuk (EFE). Sedangkan klaster I pengembangan pertanian organik di Kota Gorontalo melingkupi Kecamatan Kota Utara, Kota Tengah dan Kecamatan Sipatana. Sementara Klaster II mencakup Kecamatan Kota Timur, Hulonthalangi dan Kecamatan Dumbo Raya. Sedangkan Klaster III mencakup Kecamatan Kota Barat, Dungingi dan Kecamatan Kota Selatan.

Peta klaster Pengembangan Pertanian Organik di Kota

Saran: (a) sebagai masukan bagi pemerintah daerah terutama Bapppeda Provinsi Gorontalo agar kiranya limbah pertanian yang begitu melimpah dapat dikelola dan dimanfaat sesegera mungkin., (b) pupuk organik yang telah dibuat dan diaplikasikan ke tanaman caisin dan bayam pada skala rumah kaca selanjutnya harus diuji cobakan pada lahan pertanian di lapangan, (c) nilai RAE untuk tanaman caisin dan bayam dapat ditingkatkan lagi dengan meningkatkan produksi melalui pengkayaan hara pupuk organik, sementara nilai EFE dapat ditingkatkan lagi melalui peningkatan harga komoditas caisin dan penurunan biaya produksi pupuk organik, (d) klaster pengembangan pertanian organik terintegrasi di Kota Gorontalo ini perlu dituangkan dalam roadmap dan action plan, sehingga program dan kegiatan di dalamnya dapat segera dilaksanakan secara optimal